image


Kenapa di dunia ini mesti ada abjad sialan itu? Bayangkan saja jika tak ada, pasti hidup ini akan lebih indah. Tak ada lagi pihak yang di-bully akibat tak bisa mengucapkan alfabet itu. Kita pasti aman-aman saja ketika komunikasi dengan siapapun tanpa ada kecemasan. Ah, tapi kenapa hal ini bisa menimpaku?

Jika saja bisa, maka aku akan lebih memilih untuk menjadi penduduk Cina. Di sana enak, tidak ada yang namanya alfabet itu. Sehingga tak akan ada lagi yang di-bully akibat sulit pengucapan. Tentunya aku sangat bahagia. Apalagi banyak benda-benda buatan Cina. Jika tinggal di sana, tentu tidak membutuhkan uang banyak untuk membelinya. Dan bonusnya adalah cewek-ceweknya itu, cantik, putih, dan sangat menggoda.

Tapi aku mesti tabah. Sebagai penduduk asli Indonesia yang cadel, aku mesti bisa memanfaatkannya. Jangan hanya mengeluh dan mengutuki keadaan. Sudah saatnya kaum yang senasib ini bangkit.

Kata mama, lidahku ini pendek, jadi sulit mengucapkannya. Padahal, lidahku biasa saja ketika dicek. Tak ada yang aneh. Mungkinkah dia hanya menenangkan kegundahanku, ataukah mau menggodaku? Ah semakin pusing.

Bahkan temanku yang suka membual itu mengatakan kalau lidahku mesti digosok menggunakan cincin, supaya nantinya tidak cadel lagi. Ah! Sangat mustahil!

"Jadi lo cadel sejak kapan, Juf?" tanya temanku dengan nada mengejek.

"Ah, lo ke mana aja sih, Coeg?! Kenal gue udah tahunan juga! Jangan sok polos gitu, deh!" sahutku cuek.

Tawanya meledak, "Ya nama lo kan ada hu ...."

PLAAAK!

Telapak tangan ini langsung melayang ke mulut temanku yang menyebalkan itu, sebelum dia melanjutkan kata-katanya. Walaupun aku belum tahu apa yang akan diucapkannya, tapi mencegah lebih baik.

"Udah gue bilangin, jangan ngucapin abjad itu di depan gue, Coeg!" bentakku.

Temanku mengaduh kesakitan. Tak disangka telapak tanganku memiliki kekuatan. Lagipula, dia tidak kapok-kapok menjahiliku. Jadi, begitulah akibatnya. Bagaikan makan sambal tapi hampa.

"Lo jahat banget sih, Juf!" keluhnya, "lagian gue ha- ... eh, mesti manggil lo gimana? Soalnya gue mangfil lo Juf Juf melulu. Takutnya keceplosan," tanyanya.

Aku layangkan senyuman sinis, "Lo bisa manggil gue MJ."

"MJ? Ceweknya Spi- ...."

PLAAAK!!

Lagi-lagi tanganku melayang ke mulutnya yang suka membual. Entah ini sudah ke sekian kalinya kulakukan hai itu. Namun dia tidak kapok-kapok juga.

"Maaf, maaf. Gue lupa," lanjutnya sambil mengusap-usap mulutnya.

Mataku melotot, "MJ itu inisial nama gue. Lo jangan bayangin MJ yang itu, atau MJ Michael Jackson atau Michelle Judith, Coeg!"

"Lo seenaknya manggil gue Coeg, sedangkan gue dipaksa manggil lo MJ yang bagus. Kagak adil banget!" keluhnya.

Aku membusungkan dada, "Inilah yang namanya keadilan. Saat gue punya kelemahan, maka gue akan manfaatin supaya kagak ada yang bisa nginjek-nginjek gue."

Temanku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Mungkin saja dengan keadaan ini, dia tak bisa lagi mem-bully-ku. Sudah saatnya kaum lemah bangkit dan menindas.

Jika si Coeg satu ini bisa ditaklukkan dengan mudah, maka bukan hal mustahil jika aku bisa menaklukkan teman-teman yang lain yang selalu mem-bully. Sudah saatnya melawan pem-bully-an di dunia ini.

Bahkan kalau bisa, aku ingin membentuk sebuah komunitas untuk menaungi kaum cadel. Sebut saja namanya KOCI alias Komunitas Cadel Indonesia. Dengan begini, aku sebagai ketua bisa membuat sesuatu yang mencengangkan demi anggota. Misalnya, menulis tanpa ada abjad sialan itu sama sekali. Ada juga puisi, lagu, dan lain-lain. Ah, sungguh indahnya.

Dan kalau bisa, aku ingin mengganti namaku ini ke Catatan Sipil. Inisial tetap MJ, tapi bukan Michael Jackson, Mang Juned, apalagi ceweknya manusia laba-laba itu. Yang pasti maunya tetap bagus.

Dengan wajah puas, aku pun pulang. Kini tinggal mama yang belum ditaklukkan. Ah, tapi tak apa-apa juga. Lagipula dia adalah ibuku. Tak mungkin bisa menindasku lebih jauh.

"Kakak, kamu ke mana saja, sih? Tuh adeknya minta bantuin bikin tugas sekolah. Dia nangis melulu," ucap mama di pintu depan. Untung saja dia memanggilku kakak, bukan nama.

Ah, walau sudah ibu-ibu, dia masih tetap cantik. Untung saja papa bisa menikahinya, sehingga bisa menghasilkan anak yang ganteng ini.

Aku lumayan cukup lega juga, sebab tadi ucapan mama tidak mengandung alfabet sialan itu. Memang tidak biasa, sih. Mungkin dia sudah bisa memahamiku. Aku pun lantas masuk ke dalam.

"Memang tugas apa, Ma?" tanyaku.

"Bahasa Indonesia," sahutnya sambil melanjutkan membaca majalah gosip.

Aku lantas mendekati adik yang usianya masih 5 tahun. Dia masih belum begitu bisa membaca, sehingga selalu meminta bantuanku atau mama. Mungkin mama sudah lelah sehingga memintaku membantu adik.

"Ada yang susah, Dek?" tanyaku.

"Ini, Kak. Ini bacanya gimana?" tanyanya sambil menunjuk buku tulisnya.

Mataku membelalak. Sialan! Pantas saja ada aneh sejak tadi. Ini pasti ....

"Bacain sih, Kak!" pinta adik laki-lakiku itu.

"Kakak, bantuin adek, dong," ucap mama dengan pandangan tetap ke majalah.

Aku agak kebingungan. Jika tidak membantu adik, dia akan menangis sejadi-jadinya dan mama akan mengamuk. Tapi jika kulakukan, aku akan .... Ah, semakin pusing! Dunia memang tak adil jika aku sudah pulang.

"E ... E ... yang Subukh si penggali kubukh yang ngefans sama Tkhio Ubukh-Ubukh sedang jemukh kasukh di dapukh dekat sumukh sambil makan bubukh sayukh mayukh dan semukh jamukh," ucapku sambil membaca buku tulis adik. Tak salah lagi, ini tulisan mama.

Tawa mama dan adik meledak. Sialan! Aku dijahili lagi untuk kesekian kalinya! Awas saja! Tunggu pembalasanku!

-tamat-



image

Kisah Si Cadel


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image


Kenapa di dunia ini mesti ada abjad sialan itu? Bayangkan saja jika tak ada, pasti hidup ini akan lebih indah. Tak ada lagi pihak yang di-bully akibat tak bisa mengucapkan alfabet itu. Kita pasti aman-aman saja ketika komunikasi dengan siapapun tanpa ada kecemasan. Ah, tapi kenapa hal ini bisa menimpaku?

Jika saja bisa, maka aku akan lebih memilih untuk menjadi penduduk Cina. Di sana enak, tidak ada yang namanya alfabet itu. Sehingga tak akan ada lagi yang di-bully akibat sulit pengucapan. Tentunya aku sangat bahagia. Apalagi banyak benda-benda buatan Cina. Jika tinggal di sana, tentu tidak membutuhkan uang banyak untuk membelinya. Dan bonusnya adalah cewek-ceweknya itu, cantik, putih, dan sangat menggoda.

Tapi aku mesti tabah. Sebagai penduduk asli Indonesia yang cadel, aku mesti bisa memanfaatkannya. Jangan hanya mengeluh dan mengutuki keadaan. Sudah saatnya kaum yang senasib ini bangkit.

Kata mama, lidahku ini pendek, jadi sulit mengucapkannya. Padahal, lidahku biasa saja ketika dicek. Tak ada yang aneh. Mungkinkah dia hanya menenangkan kegundahanku, ataukah mau menggodaku? Ah semakin pusing.

Bahkan temanku yang suka membual itu mengatakan kalau lidahku mesti digosok menggunakan cincin, supaya nantinya tidak cadel lagi. Ah! Sangat mustahil!

"Jadi lo cadel sejak kapan, Juf?" tanya temanku dengan nada mengejek.

"Ah, lo ke mana aja sih, Coeg?! Kenal gue udah tahunan juga! Jangan sok polos gitu, deh!" sahutku cuek.

Tawanya meledak, "Ya nama lo kan ada hu ...."

PLAAAK!

Telapak tangan ini langsung melayang ke mulut temanku yang menyebalkan itu, sebelum dia melanjutkan kata-katanya. Walaupun aku belum tahu apa yang akan diucapkannya, tapi mencegah lebih baik.

"Udah gue bilangin, jangan ngucapin abjad itu di depan gue, Coeg!" bentakku.

Temanku mengaduh kesakitan. Tak disangka telapak tanganku memiliki kekuatan. Lagipula, dia tidak kapok-kapok menjahiliku. Jadi, begitulah akibatnya. Bagaikan makan sambal tapi hampa.

"Lo jahat banget sih, Juf!" keluhnya, "lagian gue ha- ... eh, mesti manggil lo gimana? Soalnya gue mangfil lo Juf Juf melulu. Takutnya keceplosan," tanyanya.

Aku layangkan senyuman sinis, "Lo bisa manggil gue MJ."

"MJ? Ceweknya Spi- ...."

PLAAAK!!

Lagi-lagi tanganku melayang ke mulutnya yang suka membual. Entah ini sudah ke sekian kalinya kulakukan hai itu. Namun dia tidak kapok-kapok juga.

"Maaf, maaf. Gue lupa," lanjutnya sambil mengusap-usap mulutnya.

Mataku melotot, "MJ itu inisial nama gue. Lo jangan bayangin MJ yang itu, atau MJ Michael Jackson atau Michelle Judith, Coeg!"

"Lo seenaknya manggil gue Coeg, sedangkan gue dipaksa manggil lo MJ yang bagus. Kagak adil banget!" keluhnya.

Aku membusungkan dada, "Inilah yang namanya keadilan. Saat gue punya kelemahan, maka gue akan manfaatin supaya kagak ada yang bisa nginjek-nginjek gue."

Temanku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Mungkin saja dengan keadaan ini, dia tak bisa lagi mem-bully-ku. Sudah saatnya kaum lemah bangkit dan menindas.

Jika si Coeg satu ini bisa ditaklukkan dengan mudah, maka bukan hal mustahil jika aku bisa menaklukkan teman-teman yang lain yang selalu mem-bully. Sudah saatnya melawan pem-bully-an di dunia ini.

Bahkan kalau bisa, aku ingin membentuk sebuah komunitas untuk menaungi kaum cadel. Sebut saja namanya KOCI alias Komunitas Cadel Indonesia. Dengan begini, aku sebagai ketua bisa membuat sesuatu yang mencengangkan demi anggota. Misalnya, menulis tanpa ada abjad sialan itu sama sekali. Ada juga puisi, lagu, dan lain-lain. Ah, sungguh indahnya.

Dan kalau bisa, aku ingin mengganti namaku ini ke Catatan Sipil. Inisial tetap MJ, tapi bukan Michael Jackson, Mang Juned, apalagi ceweknya manusia laba-laba itu. Yang pasti maunya tetap bagus.

Dengan wajah puas, aku pun pulang. Kini tinggal mama yang belum ditaklukkan. Ah, tapi tak apa-apa juga. Lagipula dia adalah ibuku. Tak mungkin bisa menindasku lebih jauh.

"Kakak, kamu ke mana saja, sih? Tuh adeknya minta bantuin bikin tugas sekolah. Dia nangis melulu," ucap mama di pintu depan. Untung saja dia memanggilku kakak, bukan nama.

Ah, walau sudah ibu-ibu, dia masih tetap cantik. Untung saja papa bisa menikahinya, sehingga bisa menghasilkan anak yang ganteng ini.

Aku lumayan cukup lega juga, sebab tadi ucapan mama tidak mengandung alfabet sialan itu. Memang tidak biasa, sih. Mungkin dia sudah bisa memahamiku. Aku pun lantas masuk ke dalam.

"Memang tugas apa, Ma?" tanyaku.

"Bahasa Indonesia," sahutnya sambil melanjutkan membaca majalah gosip.

Aku lantas mendekati adik yang usianya masih 5 tahun. Dia masih belum begitu bisa membaca, sehingga selalu meminta bantuanku atau mama. Mungkin mama sudah lelah sehingga memintaku membantu adik.

"Ada yang susah, Dek?" tanyaku.

"Ini, Kak. Ini bacanya gimana?" tanyanya sambil menunjuk buku tulisnya.

Mataku membelalak. Sialan! Pantas saja ada aneh sejak tadi. Ini pasti ....

"Bacain sih, Kak!" pinta adik laki-lakiku itu.

"Kakak, bantuin adek, dong," ucap mama dengan pandangan tetap ke majalah.

Aku agak kebingungan. Jika tidak membantu adik, dia akan menangis sejadi-jadinya dan mama akan mengamuk. Tapi jika kulakukan, aku akan .... Ah, semakin pusing! Dunia memang tak adil jika aku sudah pulang.

"E ... E ... yang Subukh si penggali kubukh yang ngefans sama Tkhio Ubukh-Ubukh sedang jemukh kasukh di dapukh dekat sumukh sambil makan bubukh sayukh mayukh dan semukh jamukh," ucapku sambil membaca buku tulis adik. Tak salah lagi, ini tulisan mama.

Tawa mama dan adik meledak. Sialan! Aku dijahili lagi untuk kesekian kalinya! Awas saja! Tunggu pembalasanku!

-tamat-



image
Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.