image

Tulisan ini saya buat cukup lama, mungkin 10 jam. Biasanya saya jika membuat tulisan macam ini hanya 3 atau 4 jam. Itu pun sambil menggawai. Kemungkinan, akibat saya tak menyiapkan endingnya dulu. Yah, mungkin saya belum menggunakan teknik kepenulisan yang tepat. Tapi, ini adalah buah hasil atas usaha saya. Jadi, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen. Saya tahu tulisan ini banyak kelemahannya.


==========
'Selamat, Anda pengunjung ke 666 di situs 666dotcom. Selamat menikmati fasilitas kami.'

Aku membaca sebuah pesan yang ditunjukkan oleh Bill. Kalimat yang muncul di situ membuatku diam sejenak. Seolah ada kekuatan gaib yang memasuki. Kemudian, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Paham tidak maksud pesan ini?" tanya Bill penuh asa.

Aku menghela napas panjang, "Jadi, ketika kamu tak sengaja buka situs 666dotcom pakai hape ini, dalam waktu yang sama kamu dapet pesan aneh ini?" tanyaku meyakinkan.

Bill hanya mengangguk saja.

"Lalu, bagaimana isi situs itu?" tanyaku lagi.

"Situs itu nggak ada, Dit. Situs tidak ditemukan," sahutnya sambil menunjukkan ponselnya.

Dia memang tidak bohong. Situs itu tak ada. Lantas, bagaimana bisa Bill mendapatkan pesan aneh, padahal situsnya tak ada?

Sesungguhnya aku sempat mendapatkan pesan-pesan tak jelas ketika memasuki situs-situs download. Biasanya pesan itu tentang langganan game atau tips-tips. Tapi selanjutnya bisa dinonaktifkan supaya tidak menyedot pulsa.

Tapi kasus Bill ini sangatlah aneh. Apakah ini ulah iseng belaka? Bahkan tak ada penjelasan untuk menonaktifkannya.

"Ya, sudah. Abaikan saja, Bill. Lagian kan gak ada kejadian apa-apa. Gak usah takut gitu," kataku sambil menepuk pundaknya.

Bill tetap diam sambil menatap ponselnya. Ah, Bill memang begitu. Takut kepada hal-hal yang aneh dan mudah panik.

Dia menatap jam tangan digitalnya, "Udah jam tujuh malam, Adit. Aku mesti pulang dulu, takut kemalaman dan gak ada taksi."

Tempat tinggal Bill memang jauh. Kasihan dia, ayah dan ibunya sudah tak ada akibat kecelakaan tahun lalu. Dan dia mesti banting tulang demi kehidupannya. Walau begitu, usaha toko online-nya cukup sukses.

"Iya, Bill. Hati-hati. Ada ongkosnya nggak?"

"Tenang aja. Oh iya, sampaikan sama adekmu, Dit. Nanti aku akan kasih kado pas ulang tahunnya yang ke 10 besok. Tahun lalu aku nggak sempat kasih dia kado."

Belum sempat kusahuti, Bill melonjak kaget. Wajahnya sangat ketakutan bagai melihat hantu. Padahal, dia hanya melihat ponselnya. Apakah dia menggunakan foto hantu sebagai foto depan ponselnya?

"Kenapa Bill?" tanyaku.

"Pesan aneh itu datang lagi," ucapnya tegang sambil menunjukkan ponselnya kepadaku. Aku pun membacanya.

'Saat pukul 6:66 pm, game kematian akan dimulai.'

Aku mengamati lekat-lekat pesan itu. Sama dengan pesan sebelumnya, tak ada nama apapun di kotak send, hanya ada angka 666 yang menakutkan. Hanya saja, yang mengganjal adalah kata 'kematian' di situ.

Bill tiba-tiba menggenggam kedua pundakku sangat kencang. "Adit, tolong aku! Aku takut sekali!" katanya dengan wajah mulai dipenuhi peluh.

Aku tak tahu apa yang mesti dilakukan. Ini sangat aneh. Sempat-sempatnya ada oknum yang melakukan ulah iseng begini. Bukankah ini sudah kelewat batas? Menakut-nakuti walau hanya melalui pesan?

Yah, jika aku yang mengalaminya, aku akan cuek saja. Toh, aku memang tidak suka mengambil pusing. Kalau tidak penting ya abaikan saja. Tapi yang mengalaminya adalah Bill, pemuda yang suka panik dan agak penakut. Lagipula, kenapa dia mencoba mengakses situs tak jelas itu?

"Sudahlah, Bill. Lagian, jam 6:66 itu gak ada. Mungkin itu ulah iseng belaka," kataku mencoba menenangkannya.

"Tapi Dit, jam 6:66 itu sama aja dengan jam 7:06! Itu tinggal empat menit lagi!" sahutnya panik.

Aku diam sejenak. Astaga, kenapa hal itu bisa ada di benaknya? Tapi, dia memang tidak salah. Jam 6:66 itu sama saja dengan jam 7:06. Ada kejadian apa nantinya?

"Adit, bantu aku!" paniknya sambil mengguncang-guncang bahuku.

Aku tetap diam tak menyahutinya sambil menatap jam. Aku sangat ingin tahu, akan ada apa nantinya. Dan waktu tinggal tiga menit.

Dua menit.

Satu menit.

Nol!

"Adit!!!" pekik Bill sambil menunjukkan jam tangan digitalnya.

Pandanganku pun tak sengaja menatap jam tangannya di depan wajah. Mataku membulat. Jam tangannya menunjukkan angka 6:66 pm, bukan 7:06! Apakah ini nyata?

"Dit! Tolong, Dit! Tali jam tangannya semakin mengencang!" pekik Bill kesakitan memegang tangannya.

Aku ikut panik. Kulihat, tali jam tangannya memang mengencang, seolah ada yang mengikatnya, tapi tak tahu siapa. Aku mencoba mengakalinya. Jika didiamkan saja begini, pembuluh nadinya akan menyempit, dan bisa saja Bill mati. Tapi sial, tali jamnya tebal.

"Potong saja!" pekik Bill.

Aku cepat-cepat ke belakang, tepatnya dekat WC untuk mengambil gunting di kotak alat-alat. Kemudian, kembali mencoba memotong tali jamnya.

Sukses! Tali jam pun bisa dipotong dengan mudah, meskipun membuat luka lecet di tangannya Bill akibat gesekan. Dia pun langsung membuang jam tangannya.

"Kayaknya aku mesti waspada, Dit," ucapnya dengan wajah kelelahan.

"Apa iya, Bill?" tanyaku.

"Ada apa sih gaduh melulu?" sesosok anak kecil tiba-tiba muncul mendekati kami. Dia tak lain adalah adikku, Acha.

Kami kaget sebab gadis kecil itu membawa sebuah pisau di tangannya. Langsung saja aku mendekatinya.

"Acha, kamu kenapa bawa pisau? Sini, bahaya!" pintaku.

"Kakak kan tadi acak-acakin kotak di bawah wastafel. Aku nemu ini, jadi mungkin kakak pasti butuh," sahutnya polos.

"Dit, besok adikmu ultah yang ke 10 kan?" tanya Bill.

"Iya, kenapa?"

"Besok itu tanggal 6 Juni. Jika dia udah 10 tahun, jadi dia sudah ada di tahun 2006. Jadi tanggalnya 06-06-06 atau 666," ucap Bill ketakutan. Dia melangkah ke belakang sejenak.

Astaga! Aku tak mengetahuinya kalau tanggal adikku menunjuk 666. Memang tanggal adikku ini unik, yakni tanggal 06 bulan 06 tahun 06. Apakah ini ada hubungannya dengan pesan aneh tadi?

Bill tiba-tiba langsung menuju pintu depan. Tampaknya dia ketakutan. Aku pun mencoba menyusulnya. Sial, dia tak boleh gegabah begini. Kejadian jam tangan tadi cukup membuatku ketakutan. Aku jadi mencemaskannya.

Dia langsung naik taksi. Sialnya, aku tak sempat mencegahnya. Dia tampaknya dalam bahaya.

Bola mataku membulat. Apakah penglihatanku ini tidak salah? Plat taksi itu D 666 VIL!

Aku langsung menunggangi Yamaha Vixion-ku, menyalakannya, lalu mengegas kencang. Gayaku ini sudah layaknya pembalap yang sudah ketinggalan satu lap. Kini aku semakin cemas, nyawa Bill dalam bahaya!

Untungnya aku bisa mencegat taksi itu dengan bantuan kuda besi kesayangan ini. Kulihat, wajah Bill tampak tegang, dan tak menatapku. Tatapannya hanya ke depan. Jendela taksi kuketuk-ketuk kencang.

"Hentikan taksinya!" pekikku.

Untungnya si pengemudi melakukan apa yang kupinta. Setelah menepikan Yamaha Vixion, aku langsung mendekati taksi. Pintu belakang kubuka.

"Bill, apa yang kau lakukan? Jangan gegabah gitu! Aku akan membantumu!" pekikku sambil menggoyang bahunya.

"Dit, lihat alat penunjuk biaya taksi," tunjuknya tegang.

Mataku mengikuti apa yang ditunjuknya. Astaga! Alat itu menunjukkan angka 666,00. Padahal taksi sudah melaju cukup jauh, tapi biayanya hanya segitu. Kini aku pahamaksudnya. Aku pun kembali menoleh ke Bill.

"Bill, plat taksi ini juga ...," ucapku tak sempat melanjutkan kata-kata.

Bill seolah memahami apa maksudku. Dia hanya mengangguk pelan saja, dengan wajah dipenuhi peluh.

"Aneh, alat ini kenapa ya?" si pengemudi taksi panik ketika melihat alat itu.

Aku dan Bill hanya diam saja. Entah kejadian apa yang kami alami ini. Semuanya ada hubungan dengan angka 666. Apakah ini semacam kutukan? Ini jelas bukan ulah iseng lagi.

Buuuk!!!

Ah, sesuatu telah menghantam kepalaku! Aku langsung jatuh ke belakang, di atas aspal. Kepala mulai pusing dan sakit sekali. Ah, siapa yang melakukannya?

Aku melihat Bill mendekatiku dengan wajah sinis. Di tangannya ada balok kayu. Ah, ada apa dengannya?

"Sangat sulit sekali membawamu malam-malam. Hanya inilah metodenya, memaksa," ucapnya. Kulihat, si pengemudi taksi juga layangkan senyum sinis. Dia hanya diam saja di dekat kap mobil.

"Apa-apaan ini, Bill? Kau yang memukulku tadi?" tanyaku bingung.

"Iya, aku yang memukulmu. Mau tahu? Sebab kamu sudah bahagia di atas kesedihanku!" pekiknya.

Aku membelalak kaget. Apa yang dikatakannya itu? Aku sudah kenal lama dengannya, jadi aku sama sekali tidak akan bahagia di atas kesedihannya. "Maksudnya, Bill?"

"Jangan sok polos. Waktu pesta ultah adikmu tahun lalu, ayah dan ibuku mengalami kecelakaan di waktu yang sama. Tapi kau memintaku supaya datang ke pesta dan senang-senang. Sungguh tak punya hati!" ucapnya sinis.

Astaga! Aku sama sekali tidak tahu jika ayah dan ibunya mengalami kecelakaan di waktu yang sama saat aku mengadakan pesta ulang tahun adikku. Kenapa dia diam saja tidak mengasih tahu info itu kepadaku? Aku menyangka jika kecelakaan itu setelah ulang tahun adik.

"666 tadi hanya tipuan saja. Kau pasti tidak tahu jika tak ada bunyi di hapeku ketika pesan masuk. Itu bukan pesan, melainkan catatan. Jam tangan itu juga sudah aku utak-atik. Kau kan tidak melihat jam tanganku sebelum kutunjukkan. Talinya juga memang sudah sengaja aku kencangkan ketika hendak pamit itu. Kini aku sekongkol dengan pengemudi taksi ini untuk menjebakmu. Aku ingin membunuhmu di tempat sepi ini untuk pembalasan dendam," katanya lagi sambil mengangkat balok kayunya tinggi-tinggi. Wajahnya sudah bukan Bill yang kukenal lagi. "Kini kamu mesti mati tepat di saat adikmu ultah."

Buuuk!!!


-tamat-
image

666


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan ini saya buat cukup lama, mungkin 10 jam. Biasanya saya jika membuat tulisan macam ini hanya 3 atau 4 jam. Itu pun sambil menggawai. Kemungkinan, akibat saya tak menyiapkan endingnya dulu. Yah, mungkin saya belum menggunakan teknik kepenulisan yang tepat. Tapi, ini adalah buah hasil atas usaha saya. Jadi, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen. Saya tahu tulisan ini banyak kelemahannya.


==========
'Selamat, Anda pengunjung ke 666 di situs 666dotcom. Selamat menikmati fasilitas kami.'

Aku membaca sebuah pesan yang ditunjukkan oleh Bill. Kalimat yang muncul di situ membuatku diam sejenak. Seolah ada kekuatan gaib yang memasuki. Kemudian, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Paham tidak maksud pesan ini?" tanya Bill penuh asa.

Aku menghela napas panjang, "Jadi, ketika kamu tak sengaja buka situs 666dotcom pakai hape ini, dalam waktu yang sama kamu dapet pesan aneh ini?" tanyaku meyakinkan.

Bill hanya mengangguk saja.

"Lalu, bagaimana isi situs itu?" tanyaku lagi.

"Situs itu nggak ada, Dit. Situs tidak ditemukan," sahutnya sambil menunjukkan ponselnya.

Dia memang tidak bohong. Situs itu tak ada. Lantas, bagaimana bisa Bill mendapatkan pesan aneh, padahal situsnya tak ada?

Sesungguhnya aku sempat mendapatkan pesan-pesan tak jelas ketika memasuki situs-situs download. Biasanya pesan itu tentang langganan game atau tips-tips. Tapi selanjutnya bisa dinonaktifkan supaya tidak menyedot pulsa.

Tapi kasus Bill ini sangatlah aneh. Apakah ini ulah iseng belaka? Bahkan tak ada penjelasan untuk menonaktifkannya.

"Ya, sudah. Abaikan saja, Bill. Lagian kan gak ada kejadian apa-apa. Gak usah takut gitu," kataku sambil menepuk pundaknya.

Bill tetap diam sambil menatap ponselnya. Ah, Bill memang begitu. Takut kepada hal-hal yang aneh dan mudah panik.

Dia menatap jam tangan digitalnya, "Udah jam tujuh malam, Adit. Aku mesti pulang dulu, takut kemalaman dan gak ada taksi."

Tempat tinggal Bill memang jauh. Kasihan dia, ayah dan ibunya sudah tak ada akibat kecelakaan tahun lalu. Dan dia mesti banting tulang demi kehidupannya. Walau begitu, usaha toko online-nya cukup sukses.

"Iya, Bill. Hati-hati. Ada ongkosnya nggak?"

"Tenang aja. Oh iya, sampaikan sama adekmu, Dit. Nanti aku akan kasih kado pas ulang tahunnya yang ke 10 besok. Tahun lalu aku nggak sempat kasih dia kado."

Belum sempat kusahuti, Bill melonjak kaget. Wajahnya sangat ketakutan bagai melihat hantu. Padahal, dia hanya melihat ponselnya. Apakah dia menggunakan foto hantu sebagai foto depan ponselnya?

"Kenapa Bill?" tanyaku.

"Pesan aneh itu datang lagi," ucapnya tegang sambil menunjukkan ponselnya kepadaku. Aku pun membacanya.

'Saat pukul 6:66 pm, game kematian akan dimulai.'

Aku mengamati lekat-lekat pesan itu. Sama dengan pesan sebelumnya, tak ada nama apapun di kotak send, hanya ada angka 666 yang menakutkan. Hanya saja, yang mengganjal adalah kata 'kematian' di situ.

Bill tiba-tiba menggenggam kedua pundakku sangat kencang. "Adit, tolong aku! Aku takut sekali!" katanya dengan wajah mulai dipenuhi peluh.

Aku tak tahu apa yang mesti dilakukan. Ini sangat aneh. Sempat-sempatnya ada oknum yang melakukan ulah iseng begini. Bukankah ini sudah kelewat batas? Menakut-nakuti walau hanya melalui pesan?

Yah, jika aku yang mengalaminya, aku akan cuek saja. Toh, aku memang tidak suka mengambil pusing. Kalau tidak penting ya abaikan saja. Tapi yang mengalaminya adalah Bill, pemuda yang suka panik dan agak penakut. Lagipula, kenapa dia mencoba mengakses situs tak jelas itu?

"Sudahlah, Bill. Lagian, jam 6:66 itu gak ada. Mungkin itu ulah iseng belaka," kataku mencoba menenangkannya.

"Tapi Dit, jam 6:66 itu sama aja dengan jam 7:06! Itu tinggal empat menit lagi!" sahutnya panik.

Aku diam sejenak. Astaga, kenapa hal itu bisa ada di benaknya? Tapi, dia memang tidak salah. Jam 6:66 itu sama saja dengan jam 7:06. Ada kejadian apa nantinya?

"Adit, bantu aku!" paniknya sambil mengguncang-guncang bahuku.

Aku tetap diam tak menyahutinya sambil menatap jam. Aku sangat ingin tahu, akan ada apa nantinya. Dan waktu tinggal tiga menit.

Dua menit.

Satu menit.

Nol!

"Adit!!!" pekik Bill sambil menunjukkan jam tangan digitalnya.

Pandanganku pun tak sengaja menatap jam tangannya di depan wajah. Mataku membulat. Jam tangannya menunjukkan angka 6:66 pm, bukan 7:06! Apakah ini nyata?

"Dit! Tolong, Dit! Tali jam tangannya semakin mengencang!" pekik Bill kesakitan memegang tangannya.

Aku ikut panik. Kulihat, tali jam tangannya memang mengencang, seolah ada yang mengikatnya, tapi tak tahu siapa. Aku mencoba mengakalinya. Jika didiamkan saja begini, pembuluh nadinya akan menyempit, dan bisa saja Bill mati. Tapi sial, tali jamnya tebal.

"Potong saja!" pekik Bill.

Aku cepat-cepat ke belakang, tepatnya dekat WC untuk mengambil gunting di kotak alat-alat. Kemudian, kembali mencoba memotong tali jamnya.

Sukses! Tali jam pun bisa dipotong dengan mudah, meskipun membuat luka lecet di tangannya Bill akibat gesekan. Dia pun langsung membuang jam tangannya.

"Kayaknya aku mesti waspada, Dit," ucapnya dengan wajah kelelahan.

"Apa iya, Bill?" tanyaku.

"Ada apa sih gaduh melulu?" sesosok anak kecil tiba-tiba muncul mendekati kami. Dia tak lain adalah adikku, Acha.

Kami kaget sebab gadis kecil itu membawa sebuah pisau di tangannya. Langsung saja aku mendekatinya.

"Acha, kamu kenapa bawa pisau? Sini, bahaya!" pintaku.

"Kakak kan tadi acak-acakin kotak di bawah wastafel. Aku nemu ini, jadi mungkin kakak pasti butuh," sahutnya polos.

"Dit, besok adikmu ultah yang ke 10 kan?" tanya Bill.

"Iya, kenapa?"

"Besok itu tanggal 6 Juni. Jika dia udah 10 tahun, jadi dia sudah ada di tahun 2006. Jadi tanggalnya 06-06-06 atau 666," ucap Bill ketakutan. Dia melangkah ke belakang sejenak.

Astaga! Aku tak mengetahuinya kalau tanggal adikku menunjuk 666. Memang tanggal adikku ini unik, yakni tanggal 06 bulan 06 tahun 06. Apakah ini ada hubungannya dengan pesan aneh tadi?

Bill tiba-tiba langsung menuju pintu depan. Tampaknya dia ketakutan. Aku pun mencoba menyusulnya. Sial, dia tak boleh gegabah begini. Kejadian jam tangan tadi cukup membuatku ketakutan. Aku jadi mencemaskannya.

Dia langsung naik taksi. Sialnya, aku tak sempat mencegahnya. Dia tampaknya dalam bahaya.

Bola mataku membulat. Apakah penglihatanku ini tidak salah? Plat taksi itu D 666 VIL!

Aku langsung menunggangi Yamaha Vixion-ku, menyalakannya, lalu mengegas kencang. Gayaku ini sudah layaknya pembalap yang sudah ketinggalan satu lap. Kini aku semakin cemas, nyawa Bill dalam bahaya!

Untungnya aku bisa mencegat taksi itu dengan bantuan kuda besi kesayangan ini. Kulihat, wajah Bill tampak tegang, dan tak menatapku. Tatapannya hanya ke depan. Jendela taksi kuketuk-ketuk kencang.

"Hentikan taksinya!" pekikku.

Untungnya si pengemudi melakukan apa yang kupinta. Setelah menepikan Yamaha Vixion, aku langsung mendekati taksi. Pintu belakang kubuka.

"Bill, apa yang kau lakukan? Jangan gegabah gitu! Aku akan membantumu!" pekikku sambil menggoyang bahunya.

"Dit, lihat alat penunjuk biaya taksi," tunjuknya tegang.

Mataku mengikuti apa yang ditunjuknya. Astaga! Alat itu menunjukkan angka 666,00. Padahal taksi sudah melaju cukup jauh, tapi biayanya hanya segitu. Kini aku pahamaksudnya. Aku pun kembali menoleh ke Bill.

"Bill, plat taksi ini juga ...," ucapku tak sempat melanjutkan kata-kata.

Bill seolah memahami apa maksudku. Dia hanya mengangguk pelan saja, dengan wajah dipenuhi peluh.

"Aneh, alat ini kenapa ya?" si pengemudi taksi panik ketika melihat alat itu.

Aku dan Bill hanya diam saja. Entah kejadian apa yang kami alami ini. Semuanya ada hubungan dengan angka 666. Apakah ini semacam kutukan? Ini jelas bukan ulah iseng lagi.

Buuuk!!!

Ah, sesuatu telah menghantam kepalaku! Aku langsung jatuh ke belakang, di atas aspal. Kepala mulai pusing dan sakit sekali. Ah, siapa yang melakukannya?

Aku melihat Bill mendekatiku dengan wajah sinis. Di tangannya ada balok kayu. Ah, ada apa dengannya?

"Sangat sulit sekali membawamu malam-malam. Hanya inilah metodenya, memaksa," ucapnya. Kulihat, si pengemudi taksi juga layangkan senyum sinis. Dia hanya diam saja di dekat kap mobil.

"Apa-apaan ini, Bill? Kau yang memukulku tadi?" tanyaku bingung.

"Iya, aku yang memukulmu. Mau tahu? Sebab kamu sudah bahagia di atas kesedihanku!" pekiknya.

Aku membelalak kaget. Apa yang dikatakannya itu? Aku sudah kenal lama dengannya, jadi aku sama sekali tidak akan bahagia di atas kesedihannya. "Maksudnya, Bill?"

"Jangan sok polos. Waktu pesta ultah adikmu tahun lalu, ayah dan ibuku mengalami kecelakaan di waktu yang sama. Tapi kau memintaku supaya datang ke pesta dan senang-senang. Sungguh tak punya hati!" ucapnya sinis.

Astaga! Aku sama sekali tidak tahu jika ayah dan ibunya mengalami kecelakaan di waktu yang sama saat aku mengadakan pesta ulang tahun adikku. Kenapa dia diam saja tidak mengasih tahu info itu kepadaku? Aku menyangka jika kecelakaan itu setelah ulang tahun adik.

"666 tadi hanya tipuan saja. Kau pasti tidak tahu jika tak ada bunyi di hapeku ketika pesan masuk. Itu bukan pesan, melainkan catatan. Jam tangan itu juga sudah aku utak-atik. Kau kan tidak melihat jam tanganku sebelum kutunjukkan. Talinya juga memang sudah sengaja aku kencangkan ketika hendak pamit itu. Kini aku sekongkol dengan pengemudi taksi ini untuk menjebakmu. Aku ingin membunuhmu di tempat sepi ini untuk pembalasan dendam," katanya lagi sambil mengangkat balok kayunya tinggi-tinggi. Wajahnya sudah bukan Bill yang kukenal lagi. "Kini kamu mesti mati tepat di saat adikmu ultah."

Buuuk!!!


-tamat-
image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.