image

Mungkin sobat menyangka judul kisah ini sama dengan kata-kata yang muncul di iklan anti bau ketiak. Ya memang. Iklan itulah ide awal kisah ini. Namun, saya poles dengan gaya saya, dan hasilnya beginilah. Awalnya bentuk kisah ini adalah flash fiction. Namun, saya panjangkan lagi hingga beginilah hasilnya.

Selamat membaca dan tinggalkan komen.



========== 
Siapa sih yang suka sama bau ketiak? Pasti semuanya akan sepakat menjawab tidak suka. Begitu juga denganku. Aku pasti akan menjawab kalau bau ketiak itu sangat tidak enak dan memuakkan.

Namun, entah kena kutukan atau nasibku memang sial, ketiakku sudah bau sejak masih bayi. Padahal aku selalu menggunakan sabun yang banyak ketika mandi. Tidak lupa juga menggunakan deo-lotion dan minyak wangi yang amat sangat tajam baunya. Tapi anehnya, ketiak bau ini selalu melekat. Seolah sudah nyaman denganku. Hidungku pun jadi kebal dengan bau itu.

Alhasil, aku jadi dikucilkan di kampusku. Di kelas pun aku selalu duduk di pojok paling belakang. Padahal kacamata yang kupakai ini sudah tidak pas lagi minusnya dengan mataku. Aku belum punya cukup uang untuk membeli penggantinya. Akibatnya aku jadi agak kesulitan untuk melihat benda yang jauh. Makanya selalu kupicingkan mata tiap kali melihat tulisan di papan tulis. Tapi dosenku menjadi salah paham. Dia menyangka kalau aku sedang menggunakan ilmu bau ketiakku yang sangat mematikan ini untuk membuat pingsan seisi kelas. Tidak aneh jika aku selalu mendapat SP. Sungguh tidak adil!

Oleh sebab itu, jangankan untuk memiliki cewek, memiliki satu teman saja susahnya minta ampun. Bagaikan menegakkan benang basah di tempat yang banyak anginnya.

“Eh, Gy! Lo jangan deket-deket gue! Ketek lo bau banget kayak gembel belum mandi lima tahun!” maki David, teman satu fakultasku. Dia melihatku dengan tatapan tidak suka sambil menutup hidungnya ketika aku makan bakso di kantin.

“Iya, Vid,” jawabku mengalah, lalu pindah ke meja yang masih kosong. Aku sudah biasa dimaki dan dihina begini. Namun, aku tidak ambil pusing. Untung saja aku memiliki sifat yang cuek, sehingga selalu menganggap enteng semua masalah.

“Hoek!” tiba-tiba ada yang muntah.

Aku menoleh ke meja di sampingku. Ada cewek yang muntah ketika sedang makan. Semua makanan yang belum sempat diolah dalam lambung itu membuncah ke lantai.

“Hei, Shaggy si Ketek Bau! Lo jangan makan di kantin, dong! Cewek gue jadi muntah, nih! Lo makan saja di WC!” bentak cowok yang tampaknya adalah kekasih cewek yang muntah tadi.

Aku sempat memicingkan mata. Aku tidak kenal cowok itu. Tapi dia mengenalku. Apakah seisi kampus ini mengenalku, si mahasiswa dengan ketiak paling bau?

Kekasih cewek yang muntah tadi mendekatiku. Aku menduga kalau mukaku akan ditinju olehnya. Namun, dia tidak melanjutkan langkahnya. Dia menutup hidungnya dengan tangan kanan. Sedangkan tangan satunya diacungkan kepadaku.

“Untung saja badan lo bau sehingga gue kagak sanggup deketin lo buat nonjok muka bego lo!” bentak cowok itu. Aku hanya bisa melihat matanya yang melotot kepadaku.

Situasi ini semakin tidak menguntungkanku. Semua pasang mata menatap sinis kepadaku. Lebih baik aku menyudahi makan baksoku. Alangkah baiknya jika aku jalan-jalan saja. Lagipula, sudah tidak ada lagi mata kuliah. Andaikan saja ada tempat yang mau memahami kondisiku, pasti aku akan betah di situ.

Aku kaget tatkala mengecek dompetku. Cuma ada 'Tuanku Imam Bonjol' di situ. Padahal aku belum mendapatkan uang lagi bulan ini. Ayahku mengatakan bahwa aku akan mendapatkan uang lagi bahkan lebih kalau aku sudah memiliki teman minimal satu saja. Ayahku memang kejam. Padahal anaknya sedang kesusahan dengan ketiaknya yang bau.

Aku mulai mencoba kemungkinan-kemungkinan. Tak ada salahnya kalau aku mengecek ATM. Mungkin saja ayahku diam-diam sudah menambahkan saldo ATM-ku, jadi bisa kupakai untuk kebutuhan kuliah dan kosan. Dan yang paling utama, membeli kacamata.

Memang hidupku sangat apes. Memiliki bau ketiak yang melebihi bangkai busuk, tak punya teman, mata minus, dan tak punya uang. Mataku minus ini akibat kebanyakan membaca buku-buku tentang bau badan. Maklum, aku sangat ingin sekali menghilangkan kutukan bau ketiak ini. Tapi tampaknya, mataku yang semakin minus. Sangat sial.

Begitu aku memasuki bilik mesin ATM, di situ ada dua nasabah yang sedang mengambil uang dan satu lagi sedang menunggu. Kedatanganku disambut dengan mual-mual. Tampaknya ketiganya sudah tak tahan lagi dengan kedatanganku. Semuanya langsung memilih cabut meninggalkanku ketimbang diam di dalam. Bahkan satpam yang biasa standby di depan pintu masuk ATM pun ikut-ikutan yang lainnya. Dia juga sempat muntah-muntah tadi. Mungkin saja dia langsung menuju toilet yang entah ada di mana. Melihat situasi ini, entah apakah aku mesti senang atau sedih.

Aku tak peduli lagi. Bilik mesin ATM sudah kosong dan tak ada siapa-siapa lagi. Ini adalah kesempatanku untuk cek saldo tanpa ada gangguan. Namun, kesenanganku ini hanya sesaat. Nyatanya ATM-ku masih kosong. Ayahku memang kejam.

Kekecewaanku semakin menambah tatkala datang dua lelaki mengenakan pakaian hitam-hitam. Wajah keduanya memakai topeng. Dan yang membuatku kaget, salah satunya membawa pistol. Sialnya, sudah tak ada satpam di ATM itu.

“Angkat tanganmu!” bentak lelaki itu sambil menodongkan pistolnya. Matanya sangat tajam menatapku. Sedangkan yang satunya langsung mengutak-atik lubang kunci mesin ATM, mungkin untuk membobol uang di dalamnya.

Aku hanya menggeleng saja, “Gak mau! Ketekku bau!”

“Halah, jangan banyak bacot! Angkat tanganmu! Kalau tidak, kubunuh kamu!” ancamnya. Matanya tampak melotot.


Image

Dengan agak bimbang, aku mengangkat kedua tanganku. Tampaklah kaos di bagian ketiaknya basah. Untuk sekian detik, aku sempat bingung, mengapa si penodong itu tidak mencium bau ketiakku? Mestinya hidungnya sudah bisa mencium bau ketiakku. Apakah akibat hidungnya yang ditutupi oleh topeng jadi dia tidak mencium bau ketiakku?

“Bau apa ini?” kata penjahat satunya yang sedang mencongkel lubang kunci mesin ATM. Tampaknya hidungnya tajam meski ditutupi oleh topeng.

Si penodongku membuka topengnya untuk mencium bau yang dimaksud temannya itu. Wajahnya memang sangat pas jika menjadi penjahat. Kulit hitam dan yang pasti jelek sekali. Pasti tak ada cewek yang mau menikah dengannya. Seketika, dia langsung muntah.

“Hoek!”

Sisa makanan yang entah sudah dimakan sejak kapan itu membuncah semua ke lantai. Ada sisa mie, nasi, dan potongan bakso. Tampaknya keadaan ekonomi penjahat ini sama saja denganku. Selalu makan mie di saat dompet kosong. Tapi bedanya, kalau aku memalak ayahku. Sedangkan penjahat ini malah memalak mesin ATM.

“Lo kenapa?” tanya penjahat satunya yang tadi mencoba mengakali kunci mesin ATM.

“Ada bau bangkai alien,” sahut temannya dengan napas megap-megap.

“Muka gila lo! Mana ada alien di sini!”

“Ada, Goblok!”

Penjahat satunya menatapku tajam. Dia mendekatiku lalu menghantam pipiku yang masih mulus ini tanpa ampun. Sakit yang amat sangat mulai melanda. Aku tak bisa bangkit lagi. Tak kusangka beginilah sakitnya jika pipinya dihantam. Beda jauh dengan yang ada di film-film di mana tokohnya bisa bangkit lagi setelah dihantam.

“Bocah tengik ini mengganggu kita saja. Bagaimana jika kita bunuh saja kayak satpam yang lagi muntah tadi?” ucap penjahat yang menghantamku itu.

“Bunuh saja, gue ikhlas!” sahut yang muntah tadi sambil memindahtangankan pistolnya ke temannya.

Si penjahat di depanku mengambil pistol itu, lalu moncongnya ditodongkan ke dahiku. Nyaliku seketika menjadi ciut. Peluh dingin muncul di wajah, badan, dan yang pasti di ketiak. Apakah hidupku cukup sampai di sini? Lantas yang melanjutkan kuliahku siapa? Tak mungkin jika ayahku.

“Angkat tanganmu, Bocah! Siap-siap menjemput ajalmu!” bentak si penjahat itu.

Aku pun mengikuti ucapan penjahat itu. Dengan lemas, kuangkat kedua tanganku ini sehingga menampilkan ketiak yang basah. Semoga penjahat itu tidak sempat melepaskan pelatuk pistolnya.

“Hoek!”

Penjahat di depanku ikutan muntah juga, meskipun dia masih memakai topeng. Bisa kubayangkan jika muntahannya itu mengenai wajahnya sehingga belepotan. Pasti jijik sekali melihatnya. Tapi lebih baik jika wajahnya itu ditutupi oleh muntahan ketimbang menampilkan wajah aslinya yang pastinya jelek sekali.

Penjahat itu langsung membuka topengnya. Dugaanku tepat sekali, wajahnya belepotan muntahan. Ada sisa mie, nasi, dan bakso, sama dengan temannya. Yah, masih sebelas dua belas denganku.

Penjahat itu limbung akibat tak tahan dengan muntahan di wajahnya. Pistol yang ada di genggamannya itu jatuh di dekatku. Ini kesempatan. Dengan cepat, kudekatkan ketiakku ke hidung penjahat yang muntah itu. Bisa kubayangkan wajahnya yang mulai mabuk, lalu pingsan.

Kuambil pistol yang jatuh itu, lalu kutodongkan ke penjahat yang masih linglung akibat melihat temannya pingsan dengan wajah penuh muntahan. “Angkat tangan! Kalau tidak, kutembak!” bentakku bak jagoan di film action.

Lelaki itu langsung panik melihat pistol sudah ada di tanganku. Dia pun mengangkat kedua tangannya.

“Ampun. Jangan bunuh saya,” ucap penjahat itu ketakutan.

“Ambil napas sekuat tenaga! Embuskan, lalu ambil lagi!” bentakku lagi.

Lelaki itu mengikuti ucapanku. Dia mengambil napas dalam-dalam, mengembusnya, lalu mengambil lagi. Saat itulah kesempatanku untuk melumpuhkannya. Aku langsung mendekati lelaki penjahat itu ketika dia lengah untuk menempelkan 'senjata mautku' yang bau ini.

Sama dengan temannya, wajah lelaki itu tampak mabuk. Lalu, dia pun pingsan mengikuti temannya.

“Yes!” pekikku senang.

“Jangan senang dulu,” sela lelaki di belakangku.

Aku melonjak kaget dengan ucapan itu. Pistol di tanganku pun tak sengaja lepas dan jatuh ke lantai saking kagetnya.

“Aksimu hebat juga, Bocah Ketek,” ucap lelaki yang mengagetkanku. Wajahnya ditutupi oleh topeng, hanya matanya saja yang kelihatan. Dia menodongkan sebilah pisau. Tampaknya dia komplotan dua penjahat yang pingsan itu.


Image

Aku kembali kaget. Masih ada satu penjahat lagi yang mesti kulumpuhkan. Tapi tenang saja, dengan menggunakan teknik yang sama, penjahat ini pasti bisa dengan mudah kulumpuhkan, walaupun aku tidak memegang pistol lagi.

Dengan sigap, kuangkat kedua tanganku sebagai tanda kalah. Namun, sesungguhnya, inilah kekuatanku.

“Jangan angkat tanganmu!” bentak penjahat itu, “kamu sangka kalau aku akan pingsan sama dengan kedua temanku?” tanyanya dengan tatapan mata tajam.

Deg! Aku mencium gelagat tidak baik. Penjahat ini tampaknya sudah mewaspadaiku.

Penjahat itu langsung memegang tangan kananku dengan cepat. Sedangkan tangan satunya masih menodong pisau. Bahkan pisaunya ditempelkan di bawah daguku. Entah kenapa dia sama sekali tidak mencium bau ketiakku? Apakah dia sudah kebal?

“Kamu sangka aku aku akan pingsan?” tanyanya lagi, “kamu salah! Hidungku ini sudah biasa dengan bau-bau ini. Sebab, aku sudah biasa dengan bau busuk mayat dan sampah-sampah macam kamu. Aku hidup sebagai sampah di tengah-tengah manusia-manusia yang hanya peduli pada kepentingan masing-masing. Tak lagi peduli pada sampah-sampah di sekelilingnya. Makanya, manusia-manusia angkuh itu kubuat busuk layaknya sampah, atau dengan kata lain jadi mayat. Jadi, aku sudah biasa dengan bau busuk begini. Apalagi bau ketek yang kamu punya itu,” jelasnya.

Aku sempat kasihan dengan penjelasan penjahat itu. Meskipun dia menggunakan istilah dan ungkapan, tapi aku tahu maksudnya. Dia sudah bagaikan mahasiswa saja, menjelaskan sesuatu menggunakan istilah dan ungkapan. Mungkin saja dia memang lulusan mahasiswa yang menjadi penjahat.

Meskipun begitu, tetap saja aku ketakutan. Apalagi penjelasannya kalau dia sudah biasa membunuh. Aku mesti waspada.

“Ketekmu itu mengganggu tugas teman-temanku saja. Bagaimana jika kuhilangkan bau itu?” ucapnya dengan nada yang menakutkan. Pisaunya kini ditempelkan di ketiakku.

“A-apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku panik. Peluh dingin membasahi wajahku, tak kalah basah dengan ketiak.

Seketika, pisau itu ditancapkan ke ketiakku, kemudian dia mencongkelnya seolah-olah sedang mengulitiku. Kepedihan yang amat sangat mulai melandaku.

“AAAHHH!!!” pekikku melolong-lolong kesakitan.

Aku langsung jatuh lemas sambil kelojotan bagai cacing kepanasan. Muncul lelehan kental dan amis di 'lobang' ketiakku. Pedih, sakit, panas, semuanya jadi satu. Aku bahkan tak bisa menggoyang tangan kananku saking sakitnya. Bisa kulihat potongan daging dan kulit ketiakku yang jatuh ke lantai.

“Kini yang satunya,” ucap penjahat itu.

Aku mulai ketakutan. Meskipun wajahnya itu ditutupi topeng, namun ada kesinisan yang dilukiskan. Tatapan mata itu sangat menyesakkan dada.

Dia memegang tanganku yang satunya. Pisaunya ditempelkan di ketiakku. Sialnya, aku tak bisa lagi melawan akibat sakit di ketiakku ini.

“Mestinya kamu mengucapkan makasih padaku, sebab aku telah menghilangkan bau ketiakmu yang pastinya sangat mengganggu kehidupanmu,” ucapnya.

Tanpa aba-aba, pisau itu ditancapkan ke ketiakku, kemudian mencongkelnya tanpa ampun, sama dengan yang sebelumnya. Potongan daging dan kulit ketiakku pun jatuh ke lantai.

“AAAHHH!!! AAAHHH!!!” pekikku lagi dengan kesakitan yang amat sangat. Aku pun kelojotan lagi di lantai bilik ATM.

Sialnya, kenapa tak ada yang datang membantu? Kenapa bilik ATM yang letaknya di tepi jalan ini bisa sepi? Kenapa juga tak ada yang menghubungi polisi? Dunia ini sudah tak adil bagiku.

Tenagaku mulai melemas. Napas pun kembang kempis dengan peluh membasahi wajah dan tubuh. Sakit ini tak bisa kulukiskan. Mungkin inilah sakitnya jika dikuliti.

Lelaki penjahat itu jongkok di depanku. “Lihat, kan? Tak ada lagi bau busuk ketiakmu. Yang ada hanya bau amis yang sangat wangi di hidungku,” ucapnya lagi sambil mengayunkan pisaunya di kepalaku.

Aku sudah tak bisa apa-apa lagi. Apakah aku akan tamat di sini? Tewas dengan ketiak bolong? Sungguh konyol memang. Tapi itulah faktanya. Walaupun jika aku masih hidup, apakah aku bisa menjalaninya tanpa ketiak?

Sial, aku malah menginginkan ketiakku kembali, tak peduli bagaimanapun baunya. Aku nyaman dengan ketiak itu ketimbang dilubangi dan dikuliti begini.

“Teman-temanku tak lama lagi akan siuman. Kami akan melanjutkan aksi kami. Kamu sebagai pengganggu mesti dimusnahkan dulu,” ucapnya pelan.

Tanpa aba-aba dahulu, pelipisku ditusuk dengan pisau. Otakku bagaikan dikoyak, kemudian semuanya menjadi gelap gulita. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi. Kegelapan menyelubungiku. Yah, inilah waktunya bagiku. Selamat tinggal dunia. Mungkin tak ada siapapun yang kehilanganku. Aku mesti melepas lelah dunia yang tak adil ini di alam lain. Mungkin di sana ada tempat yang sangat indah yang cocok untukku. Sekali lagi, selamat tinggal dunia.


-tamat-
image
 

Angkat Tanganmu, Shaggy!


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Mungkin sobat menyangka judul kisah ini sama dengan kata-kata yang muncul di iklan anti bau ketiak. Ya memang. Iklan itulah ide awal kisah ini. Namun, saya poles dengan gaya saya, dan hasilnya beginilah. Awalnya bentuk kisah ini adalah flash fiction. Namun, saya panjangkan lagi hingga beginilah hasilnya.

Selamat membaca dan tinggalkan komen.



========== 
Siapa sih yang suka sama bau ketiak? Pasti semuanya akan sepakat menjawab tidak suka. Begitu juga denganku. Aku pasti akan menjawab kalau bau ketiak itu sangat tidak enak dan memuakkan.

Namun, entah kena kutukan atau nasibku memang sial, ketiakku sudah bau sejak masih bayi. Padahal aku selalu menggunakan sabun yang banyak ketika mandi. Tidak lupa juga menggunakan deo-lotion dan minyak wangi yang amat sangat tajam baunya. Tapi anehnya, ketiak bau ini selalu melekat. Seolah sudah nyaman denganku. Hidungku pun jadi kebal dengan bau itu.

Alhasil, aku jadi dikucilkan di kampusku. Di kelas pun aku selalu duduk di pojok paling belakang. Padahal kacamata yang kupakai ini sudah tidak pas lagi minusnya dengan mataku. Aku belum punya cukup uang untuk membeli penggantinya. Akibatnya aku jadi agak kesulitan untuk melihat benda yang jauh. Makanya selalu kupicingkan mata tiap kali melihat tulisan di papan tulis. Tapi dosenku menjadi salah paham. Dia menyangka kalau aku sedang menggunakan ilmu bau ketiakku yang sangat mematikan ini untuk membuat pingsan seisi kelas. Tidak aneh jika aku selalu mendapat SP. Sungguh tidak adil!

Oleh sebab itu, jangankan untuk memiliki cewek, memiliki satu teman saja susahnya minta ampun. Bagaikan menegakkan benang basah di tempat yang banyak anginnya.

“Eh, Gy! Lo jangan deket-deket gue! Ketek lo bau banget kayak gembel belum mandi lima tahun!” maki David, teman satu fakultasku. Dia melihatku dengan tatapan tidak suka sambil menutup hidungnya ketika aku makan bakso di kantin.

“Iya, Vid,” jawabku mengalah, lalu pindah ke meja yang masih kosong. Aku sudah biasa dimaki dan dihina begini. Namun, aku tidak ambil pusing. Untung saja aku memiliki sifat yang cuek, sehingga selalu menganggap enteng semua masalah.

“Hoek!” tiba-tiba ada yang muntah.

Aku menoleh ke meja di sampingku. Ada cewek yang muntah ketika sedang makan. Semua makanan yang belum sempat diolah dalam lambung itu membuncah ke lantai.

“Hei, Shaggy si Ketek Bau! Lo jangan makan di kantin, dong! Cewek gue jadi muntah, nih! Lo makan saja di WC!” bentak cowok yang tampaknya adalah kekasih cewek yang muntah tadi.

Aku sempat memicingkan mata. Aku tidak kenal cowok itu. Tapi dia mengenalku. Apakah seisi kampus ini mengenalku, si mahasiswa dengan ketiak paling bau?

Kekasih cewek yang muntah tadi mendekatiku. Aku menduga kalau mukaku akan ditinju olehnya. Namun, dia tidak melanjutkan langkahnya. Dia menutup hidungnya dengan tangan kanan. Sedangkan tangan satunya diacungkan kepadaku.

“Untung saja badan lo bau sehingga gue kagak sanggup deketin lo buat nonjok muka bego lo!” bentak cowok itu. Aku hanya bisa melihat matanya yang melotot kepadaku.

Situasi ini semakin tidak menguntungkanku. Semua pasang mata menatap sinis kepadaku. Lebih baik aku menyudahi makan baksoku. Alangkah baiknya jika aku jalan-jalan saja. Lagipula, sudah tidak ada lagi mata kuliah. Andaikan saja ada tempat yang mau memahami kondisiku, pasti aku akan betah di situ.

Aku kaget tatkala mengecek dompetku. Cuma ada 'Tuanku Imam Bonjol' di situ. Padahal aku belum mendapatkan uang lagi bulan ini. Ayahku mengatakan bahwa aku akan mendapatkan uang lagi bahkan lebih kalau aku sudah memiliki teman minimal satu saja. Ayahku memang kejam. Padahal anaknya sedang kesusahan dengan ketiaknya yang bau.

Aku mulai mencoba kemungkinan-kemungkinan. Tak ada salahnya kalau aku mengecek ATM. Mungkin saja ayahku diam-diam sudah menambahkan saldo ATM-ku, jadi bisa kupakai untuk kebutuhan kuliah dan kosan. Dan yang paling utama, membeli kacamata.

Memang hidupku sangat apes. Memiliki bau ketiak yang melebihi bangkai busuk, tak punya teman, mata minus, dan tak punya uang. Mataku minus ini akibat kebanyakan membaca buku-buku tentang bau badan. Maklum, aku sangat ingin sekali menghilangkan kutukan bau ketiak ini. Tapi tampaknya, mataku yang semakin minus. Sangat sial.

Begitu aku memasuki bilik mesin ATM, di situ ada dua nasabah yang sedang mengambil uang dan satu lagi sedang menunggu. Kedatanganku disambut dengan mual-mual. Tampaknya ketiganya sudah tak tahan lagi dengan kedatanganku. Semuanya langsung memilih cabut meninggalkanku ketimbang diam di dalam. Bahkan satpam yang biasa standby di depan pintu masuk ATM pun ikut-ikutan yang lainnya. Dia juga sempat muntah-muntah tadi. Mungkin saja dia langsung menuju toilet yang entah ada di mana. Melihat situasi ini, entah apakah aku mesti senang atau sedih.

Aku tak peduli lagi. Bilik mesin ATM sudah kosong dan tak ada siapa-siapa lagi. Ini adalah kesempatanku untuk cek saldo tanpa ada gangguan. Namun, kesenanganku ini hanya sesaat. Nyatanya ATM-ku masih kosong. Ayahku memang kejam.

Kekecewaanku semakin menambah tatkala datang dua lelaki mengenakan pakaian hitam-hitam. Wajah keduanya memakai topeng. Dan yang membuatku kaget, salah satunya membawa pistol. Sialnya, sudah tak ada satpam di ATM itu.

“Angkat tanganmu!” bentak lelaki itu sambil menodongkan pistolnya. Matanya sangat tajam menatapku. Sedangkan yang satunya langsung mengutak-atik lubang kunci mesin ATM, mungkin untuk membobol uang di dalamnya.

Aku hanya menggeleng saja, “Gak mau! Ketekku bau!”

“Halah, jangan banyak bacot! Angkat tanganmu! Kalau tidak, kubunuh kamu!” ancamnya. Matanya tampak melotot.


Image

Dengan agak bimbang, aku mengangkat kedua tanganku. Tampaklah kaos di bagian ketiaknya basah. Untuk sekian detik, aku sempat bingung, mengapa si penodong itu tidak mencium bau ketiakku? Mestinya hidungnya sudah bisa mencium bau ketiakku. Apakah akibat hidungnya yang ditutupi oleh topeng jadi dia tidak mencium bau ketiakku?

“Bau apa ini?” kata penjahat satunya yang sedang mencongkel lubang kunci mesin ATM. Tampaknya hidungnya tajam meski ditutupi oleh topeng.

Si penodongku membuka topengnya untuk mencium bau yang dimaksud temannya itu. Wajahnya memang sangat pas jika menjadi penjahat. Kulit hitam dan yang pasti jelek sekali. Pasti tak ada cewek yang mau menikah dengannya. Seketika, dia langsung muntah.

“Hoek!”

Sisa makanan yang entah sudah dimakan sejak kapan itu membuncah semua ke lantai. Ada sisa mie, nasi, dan potongan bakso. Tampaknya keadaan ekonomi penjahat ini sama saja denganku. Selalu makan mie di saat dompet kosong. Tapi bedanya, kalau aku memalak ayahku. Sedangkan penjahat ini malah memalak mesin ATM.

“Lo kenapa?” tanya penjahat satunya yang tadi mencoba mengakali kunci mesin ATM.

“Ada bau bangkai alien,” sahut temannya dengan napas megap-megap.

“Muka gila lo! Mana ada alien di sini!”

“Ada, Goblok!”

Penjahat satunya menatapku tajam. Dia mendekatiku lalu menghantam pipiku yang masih mulus ini tanpa ampun. Sakit yang amat sangat mulai melanda. Aku tak bisa bangkit lagi. Tak kusangka beginilah sakitnya jika pipinya dihantam. Beda jauh dengan yang ada di film-film di mana tokohnya bisa bangkit lagi setelah dihantam.

“Bocah tengik ini mengganggu kita saja. Bagaimana jika kita bunuh saja kayak satpam yang lagi muntah tadi?” ucap penjahat yang menghantamku itu.

“Bunuh saja, gue ikhlas!” sahut yang muntah tadi sambil memindahtangankan pistolnya ke temannya.

Si penjahat di depanku mengambil pistol itu, lalu moncongnya ditodongkan ke dahiku. Nyaliku seketika menjadi ciut. Peluh dingin muncul di wajah, badan, dan yang pasti di ketiak. Apakah hidupku cukup sampai di sini? Lantas yang melanjutkan kuliahku siapa? Tak mungkin jika ayahku.

“Angkat tanganmu, Bocah! Siap-siap menjemput ajalmu!” bentak si penjahat itu.

Aku pun mengikuti ucapan penjahat itu. Dengan lemas, kuangkat kedua tanganku ini sehingga menampilkan ketiak yang basah. Semoga penjahat itu tidak sempat melepaskan pelatuk pistolnya.

“Hoek!”

Penjahat di depanku ikutan muntah juga, meskipun dia masih memakai topeng. Bisa kubayangkan jika muntahannya itu mengenai wajahnya sehingga belepotan. Pasti jijik sekali melihatnya. Tapi lebih baik jika wajahnya itu ditutupi oleh muntahan ketimbang menampilkan wajah aslinya yang pastinya jelek sekali.

Penjahat itu langsung membuka topengnya. Dugaanku tepat sekali, wajahnya belepotan muntahan. Ada sisa mie, nasi, dan bakso, sama dengan temannya. Yah, masih sebelas dua belas denganku.

Penjahat itu limbung akibat tak tahan dengan muntahan di wajahnya. Pistol yang ada di genggamannya itu jatuh di dekatku. Ini kesempatan. Dengan cepat, kudekatkan ketiakku ke hidung penjahat yang muntah itu. Bisa kubayangkan wajahnya yang mulai mabuk, lalu pingsan.

Kuambil pistol yang jatuh itu, lalu kutodongkan ke penjahat yang masih linglung akibat melihat temannya pingsan dengan wajah penuh muntahan. “Angkat tangan! Kalau tidak, kutembak!” bentakku bak jagoan di film action.

Lelaki itu langsung panik melihat pistol sudah ada di tanganku. Dia pun mengangkat kedua tangannya.

“Ampun. Jangan bunuh saya,” ucap penjahat itu ketakutan.

“Ambil napas sekuat tenaga! Embuskan, lalu ambil lagi!” bentakku lagi.

Lelaki itu mengikuti ucapanku. Dia mengambil napas dalam-dalam, mengembusnya, lalu mengambil lagi. Saat itulah kesempatanku untuk melumpuhkannya. Aku langsung mendekati lelaki penjahat itu ketika dia lengah untuk menempelkan 'senjata mautku' yang bau ini.

Sama dengan temannya, wajah lelaki itu tampak mabuk. Lalu, dia pun pingsan mengikuti temannya.

“Yes!” pekikku senang.

“Jangan senang dulu,” sela lelaki di belakangku.

Aku melonjak kaget dengan ucapan itu. Pistol di tanganku pun tak sengaja lepas dan jatuh ke lantai saking kagetnya.

“Aksimu hebat juga, Bocah Ketek,” ucap lelaki yang mengagetkanku. Wajahnya ditutupi oleh topeng, hanya matanya saja yang kelihatan. Dia menodongkan sebilah pisau. Tampaknya dia komplotan dua penjahat yang pingsan itu.


Image

Aku kembali kaget. Masih ada satu penjahat lagi yang mesti kulumpuhkan. Tapi tenang saja, dengan menggunakan teknik yang sama, penjahat ini pasti bisa dengan mudah kulumpuhkan, walaupun aku tidak memegang pistol lagi.

Dengan sigap, kuangkat kedua tanganku sebagai tanda kalah. Namun, sesungguhnya, inilah kekuatanku.

“Jangan angkat tanganmu!” bentak penjahat itu, “kamu sangka kalau aku akan pingsan sama dengan kedua temanku?” tanyanya dengan tatapan mata tajam.

Deg! Aku mencium gelagat tidak baik. Penjahat ini tampaknya sudah mewaspadaiku.

Penjahat itu langsung memegang tangan kananku dengan cepat. Sedangkan tangan satunya masih menodong pisau. Bahkan pisaunya ditempelkan di bawah daguku. Entah kenapa dia sama sekali tidak mencium bau ketiakku? Apakah dia sudah kebal?

“Kamu sangka aku aku akan pingsan?” tanyanya lagi, “kamu salah! Hidungku ini sudah biasa dengan bau-bau ini. Sebab, aku sudah biasa dengan bau busuk mayat dan sampah-sampah macam kamu. Aku hidup sebagai sampah di tengah-tengah manusia-manusia yang hanya peduli pada kepentingan masing-masing. Tak lagi peduli pada sampah-sampah di sekelilingnya. Makanya, manusia-manusia angkuh itu kubuat busuk layaknya sampah, atau dengan kata lain jadi mayat. Jadi, aku sudah biasa dengan bau busuk begini. Apalagi bau ketek yang kamu punya itu,” jelasnya.

Aku sempat kasihan dengan penjelasan penjahat itu. Meskipun dia menggunakan istilah dan ungkapan, tapi aku tahu maksudnya. Dia sudah bagaikan mahasiswa saja, menjelaskan sesuatu menggunakan istilah dan ungkapan. Mungkin saja dia memang lulusan mahasiswa yang menjadi penjahat.

Meskipun begitu, tetap saja aku ketakutan. Apalagi penjelasannya kalau dia sudah biasa membunuh. Aku mesti waspada.

“Ketekmu itu mengganggu tugas teman-temanku saja. Bagaimana jika kuhilangkan bau itu?” ucapnya dengan nada yang menakutkan. Pisaunya kini ditempelkan di ketiakku.

“A-apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku panik. Peluh dingin membasahi wajahku, tak kalah basah dengan ketiak.

Seketika, pisau itu ditancapkan ke ketiakku, kemudian dia mencongkelnya seolah-olah sedang mengulitiku. Kepedihan yang amat sangat mulai melandaku.

“AAAHHH!!!” pekikku melolong-lolong kesakitan.

Aku langsung jatuh lemas sambil kelojotan bagai cacing kepanasan. Muncul lelehan kental dan amis di 'lobang' ketiakku. Pedih, sakit, panas, semuanya jadi satu. Aku bahkan tak bisa menggoyang tangan kananku saking sakitnya. Bisa kulihat potongan daging dan kulit ketiakku yang jatuh ke lantai.

“Kini yang satunya,” ucap penjahat itu.

Aku mulai ketakutan. Meskipun wajahnya itu ditutupi topeng, namun ada kesinisan yang dilukiskan. Tatapan mata itu sangat menyesakkan dada.

Dia memegang tanganku yang satunya. Pisaunya ditempelkan di ketiakku. Sialnya, aku tak bisa lagi melawan akibat sakit di ketiakku ini.

“Mestinya kamu mengucapkan makasih padaku, sebab aku telah menghilangkan bau ketiakmu yang pastinya sangat mengganggu kehidupanmu,” ucapnya.

Tanpa aba-aba, pisau itu ditancapkan ke ketiakku, kemudian mencongkelnya tanpa ampun, sama dengan yang sebelumnya. Potongan daging dan kulit ketiakku pun jatuh ke lantai.

“AAAHHH!!! AAAHHH!!!” pekikku lagi dengan kesakitan yang amat sangat. Aku pun kelojotan lagi di lantai bilik ATM.

Sialnya, kenapa tak ada yang datang membantu? Kenapa bilik ATM yang letaknya di tepi jalan ini bisa sepi? Kenapa juga tak ada yang menghubungi polisi? Dunia ini sudah tak adil bagiku.

Tenagaku mulai melemas. Napas pun kembang kempis dengan peluh membasahi wajah dan tubuh. Sakit ini tak bisa kulukiskan. Mungkin inilah sakitnya jika dikuliti.

Lelaki penjahat itu jongkok di depanku. “Lihat, kan? Tak ada lagi bau busuk ketiakmu. Yang ada hanya bau amis yang sangat wangi di hidungku,” ucapnya lagi sambil mengayunkan pisaunya di kepalaku.

Aku sudah tak bisa apa-apa lagi. Apakah aku akan tamat di sini? Tewas dengan ketiak bolong? Sungguh konyol memang. Tapi itulah faktanya. Walaupun jika aku masih hidup, apakah aku bisa menjalaninya tanpa ketiak?

Sial, aku malah menginginkan ketiakku kembali, tak peduli bagaimanapun baunya. Aku nyaman dengan ketiak itu ketimbang dilubangi dan dikuliti begini.

“Teman-temanku tak lama lagi akan siuman. Kami akan melanjutkan aksi kami. Kamu sebagai pengganggu mesti dimusnahkan dulu,” ucapnya pelan.

Tanpa aba-aba dahulu, pelipisku ditusuk dengan pisau. Otakku bagaikan dikoyak, kemudian semuanya menjadi gelap gulita. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi. Kegelapan menyelubungiku. Yah, inilah waktunya bagiku. Selamat tinggal dunia. Mungkin tak ada siapapun yang kehilanganku. Aku mesti melepas lelah dunia yang tak adil ini di alam lain. Mungkin di sana ada tempat yang sangat indah yang cocok untukku. Sekali lagi, selamat tinggal dunia.


-tamat-
image
 
Bagikan
  1. wih mantap gan, lumayan buat bacaan sewaktu senggang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih gan udah singgah di blog saya. Silakan baca juga yang lainnya. :)

      Delete
  2. terinspirasi dari Iklan ya gan, mantap gan terus kembangkan gan

    ReplyDelete
  3. Lumayan buat waktu senggang

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.