image

Ini adalah salah satu tulisan yang paling saya suka. Masuk dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Tapi, akibat di-php oleh pihak publishing, saya posting saja di sini. Semoga sobat senang membacanya.



==========

Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, bahwa kita akan membingkai cinta yang indah, yang bisa menghiasi dinding kehidupan kita. Putihnya dinding akan menambah kesucian cinta kita. Kita bisa memandang setiap saat bingkai cinta kita, yang ditopang oleh dinding yang kokoh, dan akan selalu memanjakan mata kita, maka cinta kita tak akan goyah.

Namun, kenapa kamu tega mengoyak bingkai yang sudah susah payah kita buat, kemudian menginjak-injaknya? Bahkan kamu juga mengoyak dan mencabik dinding kehidupan kita dengan kejinya? Seolah tembok kehidupan kita ini selaput tipis yang bisa dengan mudahnya kamu sobek sesuka hati.

Aku tahu, hidupmu begitu indah dihiasi oleh bunga-bunga yang indah. Wangi dan keelokannya tak bisa disandingkan dengan pewangi manapun. Namun, tentunya bunga-bunga ini membutuhkan pelindung, yakni kamu. Kamu adalah nyawa bagi bunga-bunga itu. Kamu adalah nafas untuk keindahannya. Tapi hidupmu tak ada apa-apanya jika tanpa cinta. Bunga-bungamu akan layu, sama dengan layunya kehidupanmu.

Kita saling memiliki hubungan. Jika kehidupanku jatuh, kamu juga akan jatuh. Bukan hal mustahil, puing-puing dinding yang kamu koyak itu cepat atau lambat akan menimpa tubuhmu. Debu-debu luka akibat ulahmu akan menyelubungi tiap jengkal tubuhmu. Dan bunga-bungamu akan ditimbun oleh dinding itu.

Maka, jangan salahkan aku jika cinta kita akan hilang, bagai debu yang dimainkan oleh angin.

***

Sudah begitu lama aku ingin menghadiahi kekasihku setangkai bunga. Aku yakin, setiap wanita pastinya menyukai bunga-bunga. Wangi dan keindahannya bisa memukau hati wanita manapun. Apalagi, jika itu adalah hadiah sang kekasih.

Dia sangat menyukai bunga. Di tempat tinggalnya saja dihiasi oleh bunga-bunga. Dia memiliki semacam taman khusus di halaman belakang. Aneka jenis bunga yang ada di dunia ada di situ. Bahkan ada juga bunga yang cukup langka. Dia bisa dengan mudah mendapatkan bunga yang sangat diinginkannya, sebab dia memiliki finansial yang sangat memadai. Kekasihku adalah anak Kapolda. Bisa dikatakan, dia biasa hidup mewah. Apalagi dia anak tunggal. Sudah pasti akan dimanjakan oleh ayah dan ibunya.

Beda denganku yang hanya pengusaha toko kecil ini. Pendapatanku mungkin takkan mampu membeli semua koleksi bunganya. Namun aku yakin, dia pasti mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. Tak peduli status kami yang sangat beda jauh.

Mungkin, aku lelaki yang memiliki nasib baik, bisa mendapatkan kekasih yang kaya dan cantik. Entah angin apa yang menghempasku, tapi itulah kenyataannya. Aku yang hidup pas-pasan ini sangat senang sekali. Aku bahagia dan sangat mencintai kekasihku itu. Untuk itulah, aku sangat ingin mengasihinya sebuah hadiah, meskipun itu hanya bunga.

Maka, ketika aku mengajaknya ketemuan di taman yang teduh, aku langsung menghadiahinya setangkai tulip yang kubeli di toko bunga.

“Sayang, ini ada bunga untukmu. Ini sebagai simbol keindahan cintaku kepadamu. Ambilah,” ucapku sambil menunjukkan setangkai bunga. Senyuman hangat tak lepas di wajahku.

Kebimbangan sempat mendatangiku saat menghadiahinya bunga. Aku takut dia menolaknya. Aku tahu, dia sudah punya bunga tulip hijau ini. Namun, tentunya hadiahku ini sangat beda dan spesial. Aku yakin dia senang.

Kekasihku mengambil bunga di tanganku. Dia menciuminya. Namun, mimik wajahnya tidak menampakkan kebahagiaan dan kesenangan dengan bunga itu. Dia bahkan tampak biasa-biasa saja.

“Iya, makasih,” ucapnya singkat.

Aku menyipitkan mata. Seolah menangkap ada sesuatu yang lain dengan kekasihku itu. “Kamu kok jawabnya begitu, sih?” selidikku.

“Lalu jawabnya apa?” tanyanya cepat.

Aku menghela napas panjang. Ya, inilah yang kutakutkan. Dia pasti akan menolak hadiahku ini. Meskipun bunga yang kuhadiahi itu sudah dia miliki, namun setidaknya bunga itu sangat spesial. Ada ketulusan dalam setangkai bunga itu.

“Ya, sudah. Tidak apa-apa, Sayang. Semoga kamu suka,” sahutku kemudian.

“Aku gak suka!” jawabnya ketus, “kamu ini niat ngasih bunga gak sih, Yang? Kenapa kekasihmu ini hanya dikasih setangkai bunga tulip hijau saja? Tak bisakah yang lainnya saja? Aku kan sudah punya! Kalau kamu ingin menghadiahiku bunga tulip hijau, aku maunya yang banyak, Sayang! Yang banyak!” ucap kekasihku tajam.

Aku melonjak kaget dengan ucapannya. Tak kusangka dia bisa mengucapkan hal yang demikian tajamnya. Bagiku, ucapan itu sangat menyakiti hatiku. Kenapa dia menginginkan bunga yang sangat banyak? Padahal tempat tinggalnya saja dipenuhi bunga dan sudah bagaikan taman bunga. Segala macam jenis bunga ada di situ. Bahkan ada bunga yang sama sekali belum aku lihat dan tak tahu namanya. Aku sama sekali tidak memahami apa yang ada di otaknya.

Tiba-tiba, bunga di genggamannya langsung dibuang ke tanah, kemudian diinjak-injak tanpa ada ampun sedikit pun. Bahkan, wajahnya itu tanpa ada penyesalan sama sekali. Hanya ada senyuman sinis. Jelas hal itu sangat menusuk hatiku dengan sakitnya. Aku sudah susah payah membelikan bunga itu, lantas dibuang dan diinjak-injaknya tanpa belas kasihan.

“Kamu semestinya tahu, Sayang. Koleksi bungaku ini sudah banyak. Semua yang ada di dunia ini sudah aku miliki. Bisa dibilang lengkap.Bahkan ada juga yang langka.”

Selalu, selalu, dan selalu. Kata-kata itulah yang selalu diucapkannya, dengan wajah yang begitu bangga dan sombong. Dia sudah beda sejak awal aku mengenalnya.

“Aku tahu, Sayang. Lalu, aku mesti gimana?” tanyaku keki.

Kekasihku layangkan senyuman sinis, “Aku kan sudah bilang, bawakan aku bunga yang banyak, kalau bisa yang belum aku miliki. Maka aku bisa senang.”

“Bunga apa itu?” tanyaku tidak paham.

“Itu tugasmu. Kamu mesti menemukan bunga apa itu. Tapi, apa kamu sanggup membeli bunganya?” ucap kekasihku dengan nada tajam.

Aku kembali menghela napas. Aku menjadi kesal dengan ucapan dan tindakannya tadi yang seolah menghinaku. Memang aku ini hanya pengusaha kecil. Aku tak akan mampu membeli bunga yang begitu banyaknya. Namun, aku juga tak tahu bunga apa yang belum dimilikinya? Bunga apa yang dia maksud?

Image

“Kamu masih untung bisa menjadi kekasihku, sebab ketampanan wajahmu itu memikatku. Kalau saja kamu tidak tampan, mana mau aku menjadi kekasihmu. Apalagi kamu ini miskin. Makanya, usaha yang lebih giat lagi, dong! Tampan-tampan kok miskin,” ucapnya dengan nada menghina.

Hatiku bagai ditusuk puluhan pisau atas ucapannya itu. Lagi-lagi aku dibuat kesal olehnya. Jadi, selama ini dia tidak mencintaiku dengan tulus? Apakah selama ini aku hanya dijadikan mainan hatinya? Sungguh teganya dia.

“Jadi,” sahutku pilu, “kamu ini sesungguhnya tidak mencintaiku?” tanyaku untuk meyakinkan.

“Ya tidak, lah! Buat apa aku capek-capek menjalin hubungan dengan lelaki miskin kayak kamu ini!” sahutnya tajam.

Lagi dan lagi, mulutnya bagai pedang tajam yang menusuk-nusuk hatiku. Sakit yang amat sangat ini sudah tak bisa dilukiskan. Emosi, kekecewaan, dan kesedihan ini tak bisa kubendung lagi.

“Kamu sungguh tega!” bentakku.

Dia tidak takut sedikit pun dengan bentakanku, malah tampak santai-santai saja. Matanya lalu menatap kuku-kuku tangannya yang dihiasi kutek pink. “Tapi, ada pengecualian.”

“Apa itu?” tanyaku cepat.

Dia sunggingkan senyum mengejek kepadaku. “Yang tadi aku bilang saja. Jika kamu bisa membawakanku bunga yang belum kumiliki dalam jumlah banyak, maka aku akan mencintaimu apa adanya.”

Luapan emosi ini tak mampu lagi kubendung dengan kata-katanya tadi. Ketabahanku dalam menghadapi dia kini sudah di ambang batas. Kesombongannya sudah sangat memuakkan. Namun, aku mencoba untuk tetap tenang, tidak gegabah. Aku mesti bisa mengendalikan hawa nafsuku ini.

Sebuah ide melintas tiba-tiba di kepala. Ide yang sangat tak diduga. Memang, ini tampak konyol. Namun, ini bisa menjawab keangkuhannya itu. Semoga dia bisa mengakui kesalahannya itu.

“Baiklah. Akan kubawakan bunga yang banyak untukmu. Tunggu sampai besok,” ucapku menyanggupi tantangannya.

“Nah, gitu dong, Sayang. Itu namanya kekasihku. Aku tunggu ya, Sayang,” ucapnya sambil menyubit pipiku dengan gemas.

Aku hanya diam saja tak membalas.

***

Setangkai bunga memang indah
Wanginya sangat memabukkan jiwa
Namun bunga juga akan layu jika lelah
Menghadapi dunia kejam yang fana

***

Esoknya, aku langsung mendatangi tempat tinggal kekasihku. Namun, aku tak membawa seikat bunga satu pun sebagaimana janjiku sebelumnya. Sebab, bunga-bunga yang kumaksud sudah ada di jalanan depan kediamannya. Aku yakin, bunga-bunga itulah yang sama sekali belum dia miliki. Di jalanan dekat tempat tinggalnya juga banyak mobil-mobil polisi. Kulihat, ada mobil pick up datang membawa bunga lagi, lalu bunga itu disimpan di dekat bunga-bunga yang sudah ada di situ sebelumnya. Bunga-bunga itu yang memiliki bentuk dan pola yang sama, disusun dan ditempeli di atas papan kayu dan ada penyangganya. Dan juga, ada untaian kata-kata yang menyayat hati ketika membacanya.

Di dalam tempat tinggalnya itu banyak sekali aktivitas manusia yang semuanya sama, yakni menangis. Ya, isak tangis menghiasi bangunan itu dengan nada memilukan. Semuanya sedih dan hanyut dalam duka yang mendalam. Semuanya bahkan kompak memakai pakaian hitam-hitam. Meskipun begitu, ada juga yang memakai pakaian polisi lengkap.

Aku mendatangi ibu kekasihku yang duduk menangis di dekat pintu masuk. Aku langsung menyalaminya. Dia tampak memakai tudung hitam. Sesekali hidungnya diusap oleh tisu. Matanya tampak sembab akibat menangis.

“Bu, kenapa dia bisa begini?” tanyaku dengan wajah yang sengaja dibuat sedih.

“Ada yang tega membunuhnya, Nak,” isak wanita setengah baya itu.

“Siapa yang membunuhnya, Bu?”

“Entahlah, Nak,” isaknya, “pembunuhnya masih belum diketahui.”

Aku mengangguk-angguk seolah ikut mengiba. Kemudian, aku menoleh ke seonggok peti kayu yang masih dibuka di pojokan. Tanpa meminta izin ibu, aku langsung mendekati peti itu.

Di dalam peti itu, tampaklah kekasihku dalam balutan kain kafan dan mata yang memejam. Bau kemenyan langsung menghantam penciumanku. Dua buah kapas menyumbat lubang hidungnya. Pesona kecantikannya sudah hilang, digantikan oleh wajah pucat pasi tanpa napas dan nyawa.

Aku mendekatkan wajahku ke wajah pucatnya. “Sayang, lihatlah. Sudah kutepati janjiku. Bunga yang banyak sudah aku bawakan kepadamu, meskipun bukan aku yang membawanya langsung. Tapi setidaknya, bunga-bunga ini ditujukan untukmu. Uniknya, di setiap bunga itu pasti ada ucapan duka cita dan bela sungkawa untukmu supaya kamu tahu, bagaimana pahitnya mendapatkan bunga yang banyak sekaligus. Aku tahu, kamu belum memiliki bunga-bunga ini sama sekali. Pasti kamu senang. Semoga pisau yang kutancapkan di dadamu tadi malam tidak menyakitimu. Semoga kamu tenang di alam sana dengan bunga-bunga di sekelilingmu. Aku senang menjadi kekasihmu walau sesaat. Selamat tinggal, Sayang,” bisikku pelan.

Aku pun kembali ke tempat ibunya kekasihku duduk. Kukembangkan senyum menakutkan ke peti kayu itu. Kekasihku boleh memiliki semua jenis bunga. Namun, bunga hadiahku kini belum dia miliki. Yakni, bunga untuk ucapan kematian.

-tamat-


image

Bunga Untuk Kekasih


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Ini adalah salah satu tulisan yang paling saya suka. Masuk dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Tapi, akibat di-php oleh pihak publishing, saya posting saja di sini. Semoga sobat senang membacanya.



==========

Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, bahwa kita akan membingkai cinta yang indah, yang bisa menghiasi dinding kehidupan kita. Putihnya dinding akan menambah kesucian cinta kita. Kita bisa memandang setiap saat bingkai cinta kita, yang ditopang oleh dinding yang kokoh, dan akan selalu memanjakan mata kita, maka cinta kita tak akan goyah.

Namun, kenapa kamu tega mengoyak bingkai yang sudah susah payah kita buat, kemudian menginjak-injaknya? Bahkan kamu juga mengoyak dan mencabik dinding kehidupan kita dengan kejinya? Seolah tembok kehidupan kita ini selaput tipis yang bisa dengan mudahnya kamu sobek sesuka hati.

Aku tahu, hidupmu begitu indah dihiasi oleh bunga-bunga yang indah. Wangi dan keelokannya tak bisa disandingkan dengan pewangi manapun. Namun, tentunya bunga-bunga ini membutuhkan pelindung, yakni kamu. Kamu adalah nyawa bagi bunga-bunga itu. Kamu adalah nafas untuk keindahannya. Tapi hidupmu tak ada apa-apanya jika tanpa cinta. Bunga-bungamu akan layu, sama dengan layunya kehidupanmu.

Kita saling memiliki hubungan. Jika kehidupanku jatuh, kamu juga akan jatuh. Bukan hal mustahil, puing-puing dinding yang kamu koyak itu cepat atau lambat akan menimpa tubuhmu. Debu-debu luka akibat ulahmu akan menyelubungi tiap jengkal tubuhmu. Dan bunga-bungamu akan ditimbun oleh dinding itu.

Maka, jangan salahkan aku jika cinta kita akan hilang, bagai debu yang dimainkan oleh angin.

***

Sudah begitu lama aku ingin menghadiahi kekasihku setangkai bunga. Aku yakin, setiap wanita pastinya menyukai bunga-bunga. Wangi dan keindahannya bisa memukau hati wanita manapun. Apalagi, jika itu adalah hadiah sang kekasih.

Dia sangat menyukai bunga. Di tempat tinggalnya saja dihiasi oleh bunga-bunga. Dia memiliki semacam taman khusus di halaman belakang. Aneka jenis bunga yang ada di dunia ada di situ. Bahkan ada juga bunga yang cukup langka. Dia bisa dengan mudah mendapatkan bunga yang sangat diinginkannya, sebab dia memiliki finansial yang sangat memadai. Kekasihku adalah anak Kapolda. Bisa dikatakan, dia biasa hidup mewah. Apalagi dia anak tunggal. Sudah pasti akan dimanjakan oleh ayah dan ibunya.

Beda denganku yang hanya pengusaha toko kecil ini. Pendapatanku mungkin takkan mampu membeli semua koleksi bunganya. Namun aku yakin, dia pasti mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. Tak peduli status kami yang sangat beda jauh.

Mungkin, aku lelaki yang memiliki nasib baik, bisa mendapatkan kekasih yang kaya dan cantik. Entah angin apa yang menghempasku, tapi itulah kenyataannya. Aku yang hidup pas-pasan ini sangat senang sekali. Aku bahagia dan sangat mencintai kekasihku itu. Untuk itulah, aku sangat ingin mengasihinya sebuah hadiah, meskipun itu hanya bunga.

Maka, ketika aku mengajaknya ketemuan di taman yang teduh, aku langsung menghadiahinya setangkai tulip yang kubeli di toko bunga.

“Sayang, ini ada bunga untukmu. Ini sebagai simbol keindahan cintaku kepadamu. Ambilah,” ucapku sambil menunjukkan setangkai bunga. Senyuman hangat tak lepas di wajahku.

Kebimbangan sempat mendatangiku saat menghadiahinya bunga. Aku takut dia menolaknya. Aku tahu, dia sudah punya bunga tulip hijau ini. Namun, tentunya hadiahku ini sangat beda dan spesial. Aku yakin dia senang.

Kekasihku mengambil bunga di tanganku. Dia menciuminya. Namun, mimik wajahnya tidak menampakkan kebahagiaan dan kesenangan dengan bunga itu. Dia bahkan tampak biasa-biasa saja.

“Iya, makasih,” ucapnya singkat.

Aku menyipitkan mata. Seolah menangkap ada sesuatu yang lain dengan kekasihku itu. “Kamu kok jawabnya begitu, sih?” selidikku.

“Lalu jawabnya apa?” tanyanya cepat.

Aku menghela napas panjang. Ya, inilah yang kutakutkan. Dia pasti akan menolak hadiahku ini. Meskipun bunga yang kuhadiahi itu sudah dia miliki, namun setidaknya bunga itu sangat spesial. Ada ketulusan dalam setangkai bunga itu.

“Ya, sudah. Tidak apa-apa, Sayang. Semoga kamu suka,” sahutku kemudian.

“Aku gak suka!” jawabnya ketus, “kamu ini niat ngasih bunga gak sih, Yang? Kenapa kekasihmu ini hanya dikasih setangkai bunga tulip hijau saja? Tak bisakah yang lainnya saja? Aku kan sudah punya! Kalau kamu ingin menghadiahiku bunga tulip hijau, aku maunya yang banyak, Sayang! Yang banyak!” ucap kekasihku tajam.

Aku melonjak kaget dengan ucapannya. Tak kusangka dia bisa mengucapkan hal yang demikian tajamnya. Bagiku, ucapan itu sangat menyakiti hatiku. Kenapa dia menginginkan bunga yang sangat banyak? Padahal tempat tinggalnya saja dipenuhi bunga dan sudah bagaikan taman bunga. Segala macam jenis bunga ada di situ. Bahkan ada bunga yang sama sekali belum aku lihat dan tak tahu namanya. Aku sama sekali tidak memahami apa yang ada di otaknya.

Tiba-tiba, bunga di genggamannya langsung dibuang ke tanah, kemudian diinjak-injak tanpa ada ampun sedikit pun. Bahkan, wajahnya itu tanpa ada penyesalan sama sekali. Hanya ada senyuman sinis. Jelas hal itu sangat menusuk hatiku dengan sakitnya. Aku sudah susah payah membelikan bunga itu, lantas dibuang dan diinjak-injaknya tanpa belas kasihan.

“Kamu semestinya tahu, Sayang. Koleksi bungaku ini sudah banyak. Semua yang ada di dunia ini sudah aku miliki. Bisa dibilang lengkap.Bahkan ada juga yang langka.”

Selalu, selalu, dan selalu. Kata-kata itulah yang selalu diucapkannya, dengan wajah yang begitu bangga dan sombong. Dia sudah beda sejak awal aku mengenalnya.

“Aku tahu, Sayang. Lalu, aku mesti gimana?” tanyaku keki.

Kekasihku layangkan senyuman sinis, “Aku kan sudah bilang, bawakan aku bunga yang banyak, kalau bisa yang belum aku miliki. Maka aku bisa senang.”

“Bunga apa itu?” tanyaku tidak paham.

“Itu tugasmu. Kamu mesti menemukan bunga apa itu. Tapi, apa kamu sanggup membeli bunganya?” ucap kekasihku dengan nada tajam.

Aku kembali menghela napas. Aku menjadi kesal dengan ucapan dan tindakannya tadi yang seolah menghinaku. Memang aku ini hanya pengusaha kecil. Aku tak akan mampu membeli bunga yang begitu banyaknya. Namun, aku juga tak tahu bunga apa yang belum dimilikinya? Bunga apa yang dia maksud?

Image

“Kamu masih untung bisa menjadi kekasihku, sebab ketampanan wajahmu itu memikatku. Kalau saja kamu tidak tampan, mana mau aku menjadi kekasihmu. Apalagi kamu ini miskin. Makanya, usaha yang lebih giat lagi, dong! Tampan-tampan kok miskin,” ucapnya dengan nada menghina.

Hatiku bagai ditusuk puluhan pisau atas ucapannya itu. Lagi-lagi aku dibuat kesal olehnya. Jadi, selama ini dia tidak mencintaiku dengan tulus? Apakah selama ini aku hanya dijadikan mainan hatinya? Sungguh teganya dia.

“Jadi,” sahutku pilu, “kamu ini sesungguhnya tidak mencintaiku?” tanyaku untuk meyakinkan.

“Ya tidak, lah! Buat apa aku capek-capek menjalin hubungan dengan lelaki miskin kayak kamu ini!” sahutnya tajam.

Lagi dan lagi, mulutnya bagai pedang tajam yang menusuk-nusuk hatiku. Sakit yang amat sangat ini sudah tak bisa dilukiskan. Emosi, kekecewaan, dan kesedihan ini tak bisa kubendung lagi.

“Kamu sungguh tega!” bentakku.

Dia tidak takut sedikit pun dengan bentakanku, malah tampak santai-santai saja. Matanya lalu menatap kuku-kuku tangannya yang dihiasi kutek pink. “Tapi, ada pengecualian.”

“Apa itu?” tanyaku cepat.

Dia sunggingkan senyum mengejek kepadaku. “Yang tadi aku bilang saja. Jika kamu bisa membawakanku bunga yang belum kumiliki dalam jumlah banyak, maka aku akan mencintaimu apa adanya.”

Luapan emosi ini tak mampu lagi kubendung dengan kata-katanya tadi. Ketabahanku dalam menghadapi dia kini sudah di ambang batas. Kesombongannya sudah sangat memuakkan. Namun, aku mencoba untuk tetap tenang, tidak gegabah. Aku mesti bisa mengendalikan hawa nafsuku ini.

Sebuah ide melintas tiba-tiba di kepala. Ide yang sangat tak diduga. Memang, ini tampak konyol. Namun, ini bisa menjawab keangkuhannya itu. Semoga dia bisa mengakui kesalahannya itu.

“Baiklah. Akan kubawakan bunga yang banyak untukmu. Tunggu sampai besok,” ucapku menyanggupi tantangannya.

“Nah, gitu dong, Sayang. Itu namanya kekasihku. Aku tunggu ya, Sayang,” ucapnya sambil menyubit pipiku dengan gemas.

Aku hanya diam saja tak membalas.

***

Setangkai bunga memang indah
Wanginya sangat memabukkan jiwa
Namun bunga juga akan layu jika lelah
Menghadapi dunia kejam yang fana

***

Esoknya, aku langsung mendatangi tempat tinggal kekasihku. Namun, aku tak membawa seikat bunga satu pun sebagaimana janjiku sebelumnya. Sebab, bunga-bunga yang kumaksud sudah ada di jalanan depan kediamannya. Aku yakin, bunga-bunga itulah yang sama sekali belum dia miliki. Di jalanan dekat tempat tinggalnya juga banyak mobil-mobil polisi. Kulihat, ada mobil pick up datang membawa bunga lagi, lalu bunga itu disimpan di dekat bunga-bunga yang sudah ada di situ sebelumnya. Bunga-bunga itu yang memiliki bentuk dan pola yang sama, disusun dan ditempeli di atas papan kayu dan ada penyangganya. Dan juga, ada untaian kata-kata yang menyayat hati ketika membacanya.

Di dalam tempat tinggalnya itu banyak sekali aktivitas manusia yang semuanya sama, yakni menangis. Ya, isak tangis menghiasi bangunan itu dengan nada memilukan. Semuanya sedih dan hanyut dalam duka yang mendalam. Semuanya bahkan kompak memakai pakaian hitam-hitam. Meskipun begitu, ada juga yang memakai pakaian polisi lengkap.

Aku mendatangi ibu kekasihku yang duduk menangis di dekat pintu masuk. Aku langsung menyalaminya. Dia tampak memakai tudung hitam. Sesekali hidungnya diusap oleh tisu. Matanya tampak sembab akibat menangis.

“Bu, kenapa dia bisa begini?” tanyaku dengan wajah yang sengaja dibuat sedih.

“Ada yang tega membunuhnya, Nak,” isak wanita setengah baya itu.

“Siapa yang membunuhnya, Bu?”

“Entahlah, Nak,” isaknya, “pembunuhnya masih belum diketahui.”

Aku mengangguk-angguk seolah ikut mengiba. Kemudian, aku menoleh ke seonggok peti kayu yang masih dibuka di pojokan. Tanpa meminta izin ibu, aku langsung mendekati peti itu.

Di dalam peti itu, tampaklah kekasihku dalam balutan kain kafan dan mata yang memejam. Bau kemenyan langsung menghantam penciumanku. Dua buah kapas menyumbat lubang hidungnya. Pesona kecantikannya sudah hilang, digantikan oleh wajah pucat pasi tanpa napas dan nyawa.

Aku mendekatkan wajahku ke wajah pucatnya. “Sayang, lihatlah. Sudah kutepati janjiku. Bunga yang banyak sudah aku bawakan kepadamu, meskipun bukan aku yang membawanya langsung. Tapi setidaknya, bunga-bunga ini ditujukan untukmu. Uniknya, di setiap bunga itu pasti ada ucapan duka cita dan bela sungkawa untukmu supaya kamu tahu, bagaimana pahitnya mendapatkan bunga yang banyak sekaligus. Aku tahu, kamu belum memiliki bunga-bunga ini sama sekali. Pasti kamu senang. Semoga pisau yang kutancapkan di dadamu tadi malam tidak menyakitimu. Semoga kamu tenang di alam sana dengan bunga-bunga di sekelilingmu. Aku senang menjadi kekasihmu walau sesaat. Selamat tinggal, Sayang,” bisikku pelan.

Aku pun kembali ke tempat ibunya kekasihku duduk. Kukembangkan senyum menakutkan ke peti kayu itu. Kekasihku boleh memiliki semua jenis bunga. Namun, bunga hadiahku kini belum dia miliki. Yakni, bunga untuk ucapan kematian.

-tamat-


image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.