Image

Kisah ini adalah hasil duet dengan Demia untuk mengikuti agenda di Facebook. Awalnya dia menolak untuk membuat tanpa alfabet itu. Tapi nyatanya, dia bisa, hahaha! Tetap mesti diedit sana sini. Well, selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Ini adalah awal kalinya Puspa mendatangi tempat fitness, bahkan tanpa sepengetahuan suaminya. Namun, tujuannya sudah pasti bukan untuk menyehatkan dan membentuk tubuh ideal. Ada hal lain di kepalanya.

Tempat fitness itu masih tutup. Tampaknya dia kelewat pagi untuk datang. Namun, matanya menangkap sesuatu di semak-semak dekat pintu masuk. Bola matanya membulat tatkala mengetahui apa yang dilihatnya itu.

"Mayaaat! Ada mayaaat!" pekiknya.

***

Polisi menyegel tempat fitness itu. Jasad lelaki tanpa bola mata itu ditemukan dengan kedua tangan diikat tali, mulut disumpal kain, tengkuk penuh cabikan benda tajam dan tanpa pakaian sehelai pun. Banyak pasang mata membeliak melihat penampakan mengenaskan itu. Jasad itu adalah salah satu pelanggan di tempat dengan papan nama Fitness Club di pintu depan.

Puspa ditanya macam-macam oleh polisi. Tentunya dia sangat pusing dengan keadaan ini. Bisa saja dia meminta bantuan suaminya. Tapi, hal itu dibatalkannya. Sebab, jika suaminya tahu bisa bahaya. Sebisa mungkin jangan menambah masalah lagi.

"Mohon jawab, Nyonya Puspa. Kenapa Anda datang kepagian?" tanya salah satu polisi.

"Saya kan tak tahu jam bukanya, jadi ya mungkin kepagian," jawab Puspa santai, meski matanya menampakkan ketakutan oleh mayat tadi.

Setelah satu jam ditanyai polisi ini itu, Puspa pun dibebaskan. Dia melangkah bimbang menuju mobilnya. Tujuan utamanya bisa dipastikan gagal. Di situ sudah banyak massa yang memadati halaman tempat fitness. Banyak juga lelaki-lelaki dengan otot yang kumpul. Semuanya memiliki wajah yang tampan.

Salah satu lelaki dengan kepala cepak mendekati Puspa. Dia mengenakan kaos belang hitam putih, menampilkan lekukan otot di tubuhnya. Senyumannya sangat memukau. "Siang, Nyonya. Anda yang menemukan mayat tadi?" tanyanya sopan.

Puspa agak kecipuhan juga ditatap oleh lelaki tampan. Tapi, dia mesti bisa menguasainya. "Iya, Mas. Saya jadi takut."

Lelaki itu mengangguk-anggukan kepala sambil tetap senyum. Dia mendekati Puspa lalu membisikkan sesuatu. "Anda datang ke sini bukan untuk fitness, kan?"

Tanya yang diajukan oleh lelaki muda tampan itu membuat Puspa kaget. Seolah dia di-skakmat olehnya. Puspa melihat keadaan di sekeliling. Setelah yakin tak ada yang mengawasinya--meskipun keadaan masih dipenuhi massa--dia membalas bisikannya. "Bagaimana Mas bisa tahu?"

Lelaki itu melepaskan tawa, "Anda mengenakan kemeja bagus, bawahan ketat, sepatu hak tinggi, dandanan menyolok, dan sebuah tas kecil. Jelas itu bukan untuk fitness. Anda pasti mendapatkan info lain tentang tempat ini."

Puspa agak kelimpungan juga. Namun kemudian, dia sunggingkan senyum puas. Tujuan utamanya tidak gagal. Dia mendapatkannya. "Kamu mau?" tanyanya.

"Untuk Nyonya, saya siap," sahut lelaki itu membungkuk.

"Jangan panggil saya nyonya. Panggil saja Puspa," balas Puspa genit.

"Baik, Puspa. Anda bisa memanggil saya Ozan," ucap lelaki itu dengan sikap dan bahasa yang sangat manis.

Kemudian, dua insan itu masuk ke dalam mobil Puspa. Keduanya menuju ke sebuah hotel bintang lima. Puspa sudah biasa menginap di hotel itu jika sedang suntuk dengan suaminya. Baginya, yang tak masalah. Yang penting batinnya dipuaskan.

Dan apa yang dikehendaki Puspa sesuai agenda. Ozan melayani Puspa hingga wanita itu melenguh puas. Menutupi pula lubang-lubang kesepian dalam benak Puspa. Yang acapkali ditinggal suaminya dinas ke kota-kota lain.

Ozan pun mendapat imbalan yang cukup fantastis. Dia tak menyangka Puspa mengupahinya banyak uang.

"Ini tidak main-main, Puspa? Ini kelebihan banyak, loh," tanyanya aneh.

"Ambil saja semua. Anggap saja bonus," ucap Puspa sambil mengancingi kemejanya. Dia sangat puas dengan apa yang diinginkannya selama ini.

Layanan memuaskan Ozan itu membuat Puspa ketagihan. Lantas seminggu sekali ia sudah saja membuat janji temu dengan Ozan. Lantas tiba-tiba ia menyatakan cintanya pada pemuda itu, dan tentu saja Ozan mengiyakannya. Dan dua anak Adam itu pun menjelma sepasang kekasih.

"Aku mencintaimu," bisik Puspa dalam pelukan Ozan di kediamannya malam itu. Tentu saja suaminya tidak ada. Setelah memuaskan Puspa dalam ayut yang mengganas, Ozan pamit pulang. Di usia Puspa yang menginjak tiga puluh delapan tahun belum juga punya anak akibat suaminya mandul, dan selingkuh dengan laki-laki yang begitu muda di bawahnya ini menjadi pelampiasan.

"Besok saya mau ngajak kamu makan malam, saya jemput jam delapan, ya!" ucap Ozan sebelum menutup pintu mobil Honda Jazz-nya.

Puspa mendadak mengangkat kedua telapak tangannya ke depan Ozan, "Tidak, besok suamiku pulang. Lebih baik seminggu ini kita tak membuat janji temu."

"Oh ..., sayang sekali."

Lantas Puspa mencium Ozan, "Saya bakal kangen sama kamu."

Selepas itu Ozan memeluk wanita itu. Dalam malam yang semakin dingin, lamat-lamat Honda Jazz itu meninggalkan kediaman Puspa.

***

"Sayang, minggu depan aku naik jabatan!" ucap suami Puspa menggebu. Matanya mengilat penuh kebahagiaan.

Puspa menyuguhkannya kopi dengan senyum yang mengembang, "Sungguh ...?" Puspa belum sepenuhnya yakin yang diucapkan suaminya itu.

"Iya, Sayang. Jadi, bagaimana kalau besok kita piknik ke pantai?"

"Apa hubungannya pantai dengan naik jabatanmu?" mata Puspa penuh tanya.

"Aku dapat jatah cuti seminggu sebelum naik jabatan," lelaki tua itu menyesap kopinya panas-panas. Lalu mengejit kepanasan.

"Pelan-pelan, Sayang ...."

Senyum lelaki itu mengembang, lantas tangannya menangkap pinggang Puspa. Memeluknya kuat dan menghempaskannya ke sofa. Sedetik kemudian pasangan itu sudah saling mencumbu satu sama lain.

***

Siang yang panas, membuat Puspa mengolesi kulitnya lagi dengan sun block. Suasana pantai tampak lengang. Di sebelahnya, sang suami sibuk membaca sebuah majalah ekonomi, sesekali sibuk mengumpati pengusaha yang dianggapnya busuk. Puspa sudah hafal dengan tabiat lelaki tua itu, yang tentu saja membuatnya cepat bosan.

image

"Sun block-ku habis. Aku akan mengambilnya di hotel." Tubuh Puspa yang dibalut bikini melenggang melewati suaminya, "Kamu mau nitip apa, Sayang?" tanya Puspa. Lelaki tua itu tetap fokus pada bacaannya, telinganya tak menangkap ucapan Puspa. Lagi-lagi wanita itu sudah hafal dengan tabiat suaminya, sambil menggelengkan kepala ia meninggalkan pantai dan menuju hotel tempatnya menginap.

Suasana lobby hingga jalan menuju lift tampak sepi. Hanya tampak lima-enam tamu yang dilihatnya, dan dua office boy yang sibuk dengan aktifitasnya. Puspa menunggu di depan pintu lift, dan sesekali menggosok kulitnya yang gatal.

Saat pintu lift membuka, sudah ada dua sosok manusia di dalamnya. Puspa sedikit menundukkan wajah, mendapati dua insan itu saling cium dan memegang selangkangan satu sama lain. Hal yang paling mengejutkan adalah adegan panas itu dilakukan oleh sesama jenis. Sedetik kemudian Puspa melotot mendapati salah satu sosok yang dikenalnya--Ozan.


Ozan gelagapan, Puspa tanpa mengucap kata lalu meninggalkan dua pemuda itu.

"Saya bisa menjelaskannya!" Ozan menyusul Puspa di belakangnya.

"Gak usah penjelasan. Saya nggak nyangka kamu itu biseks. Tinggalkan saya! Saat ini saya dengan suami saya! Saya nggak mau dia melihatku denganmu!" mata Puspa melotot.

Ozan tampaknya masih ingin menjelaskan. Dia menggenggam tangan Puspa. Kejadian itu begitu cepat hingga tiba-tiba saja Puspa menempeleng pipi Ozan. Saat itu juga Ozan meninggalkannya dengan mata yang menajam.

Puspa kini sangat menyesal tenggelam dalam kisah cinta dengan pemuda itu. Namun sialnya, dia bisa mendapatkan hal yang dia butuhkan melalui Ozan. Itu tak bisa dibantah. Mungkin, dia kini mesti meninggalkan dunianya yang salah itu.

Esoknya, hotel itu menjadi heboh. Jasad tanpa mata ditemukan di tepi pantai. Dengan luka-luka sayatan yang mengenaskan. Sosok itu sebelumnya adalah pemuda yang mencumbu Ozan di lift. Keadaannya sama dengan yang ditemukan oleh Puspa di tempat fitness, yakni telanjang. Sungguh sadis pelakunya.

Puspa yang sangat takut dengan mayat itu meminta kepada suaminya untuk cepat-cepat pulang. Di benaknya, polisi akan memiliki dugaan kepadanya. Sebab, selalu ada di TKP.

Mau tak mau, suaminya pun mengajaknya pulang.

***

Malamnya, Puspa tak bisa memejamkan mata. Dilihatnya, suaminya sudah lelap di sampingnya. Dia kini sangat gelisah. Apalagi dengan ditemukannya dua mayat di dekatnya. Seolah, dia yang memang melakukannya.

Jam masih menunjukkan pukul sebelas malam. Puspa sangat haus sekali.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi ketukan pintu sangat mengagetkannya. Di benaknya, siapa yang datang malam-malam begini?

Dengan agak takut-takut, Puspa mendekati pintu. Dia ingin memastikan dahulu siapa itu. Puspa mengintip melalui jendela. Tak ada siapa-siapa di situ. Apakah itu halusinasi dia saja?

Puspa membuka pintu depan. Dan memang tak ada siapa-siapa di situ. Wanita itu pun mengembuskan napas lega. Mungkin dia hanya sedang ketakutan saja.

Tiba-tiba, sebuah tangan membekap mulut Puspa. Wanita itu langsung melawan, namun tak bisa. Tenaganya kalah dengan si pembekap. Apalagi kedua tangannya langsung diikat ke belakang dengan cepat.

Puspa dijatuhkan ke lantai. Kini kakinya yang diikat. Matanya membulat tatkala melihat siapa si pembekap.

"Ozan? Apa yang kamu lakukan?" kagetnya.

"Hahaha! Kayak yang kamu bilang tadi, saya ini biseks. Dan saya sangat menyukai petualangan seks ini. Nafsu ini tak bisa ditahankan padamu, Puspa. Apalagi saat kau mengenakan bikini. Bagi saya, kau adalah wanita paling seksi yang saya temui."

"Hei! Jauhi dia!"

Suami Puspa tiba-tiba datang. Dia sudah membawa pentungan untuk melawan Ozan.

"Wow, suamimu tampan juga. Tapi sayang, dia lemah dan mandul," ucap Ozan sinis.

"Apa kamu bilang?!" pekik sang suami.

Dia maju mendekati Ozan untuk menghantam kepalanya. Namun Ozan cukup gesit. Dia membungkuk lalu menangkap kedua kaki suami Puspa. Lalu, diangkatnya kedua kaki itu hingga kepala suami Puspa menghantam lantai.

Bhuak!

"Aaahh!" pekiknya.

Suami Puspa sangat pusing. Dia tak tahu jika Ozan mengambil sebuah pisau kecil.

"Kalian tahu? Saat mencumbu lelaki, saya tak suka melihat matanya langsung. Mata lelaki sangat cabul. Saya lebih senang jika lelaki-lelaki itu buta. Jadi, saya hilangkan matanya supaya saya bisa fokus mencumbu, sama dengan mayat-mayat yang sudah kalian lihat."

Ozan lalu mencongkel kedua mata suami Puspa. Kemudian, Ozan pun melepaskan pakaian suami Puspa dan mencumbunya.

Puspa yang tak bisa apa-apa hanya bisa memekik. Dia tak bisa meminta bantuan sebab tempat tinggalnya jauh dengan pemukiman. Kediamannya yang bagai istana ini sangat dikucilkan. Dia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis menyaksikan pemandangan pilu ini.

"Kini tinggal kamu, Puspa. Saya membenci saksi," ucap Ozan setelah mencumbu suami Puspa. Dia pun menghunuskan pisau kecilnya.

-tamat-



image

Cinta (kepada) Buta


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image

Kisah ini adalah hasil duet dengan Demia untuk mengikuti agenda di Facebook. Awalnya dia menolak untuk membuat tanpa alfabet itu. Tapi nyatanya, dia bisa, hahaha! Tetap mesti diedit sana sini. Well, selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Ini adalah awal kalinya Puspa mendatangi tempat fitness, bahkan tanpa sepengetahuan suaminya. Namun, tujuannya sudah pasti bukan untuk menyehatkan dan membentuk tubuh ideal. Ada hal lain di kepalanya.

Tempat fitness itu masih tutup. Tampaknya dia kelewat pagi untuk datang. Namun, matanya menangkap sesuatu di semak-semak dekat pintu masuk. Bola matanya membulat tatkala mengetahui apa yang dilihatnya itu.

"Mayaaat! Ada mayaaat!" pekiknya.

***

Polisi menyegel tempat fitness itu. Jasad lelaki tanpa bola mata itu ditemukan dengan kedua tangan diikat tali, mulut disumpal kain, tengkuk penuh cabikan benda tajam dan tanpa pakaian sehelai pun. Banyak pasang mata membeliak melihat penampakan mengenaskan itu. Jasad itu adalah salah satu pelanggan di tempat dengan papan nama Fitness Club di pintu depan.

Puspa ditanya macam-macam oleh polisi. Tentunya dia sangat pusing dengan keadaan ini. Bisa saja dia meminta bantuan suaminya. Tapi, hal itu dibatalkannya. Sebab, jika suaminya tahu bisa bahaya. Sebisa mungkin jangan menambah masalah lagi.

"Mohon jawab, Nyonya Puspa. Kenapa Anda datang kepagian?" tanya salah satu polisi.

"Saya kan tak tahu jam bukanya, jadi ya mungkin kepagian," jawab Puspa santai, meski matanya menampakkan ketakutan oleh mayat tadi.

Setelah satu jam ditanyai polisi ini itu, Puspa pun dibebaskan. Dia melangkah bimbang menuju mobilnya. Tujuan utamanya bisa dipastikan gagal. Di situ sudah banyak massa yang memadati halaman tempat fitness. Banyak juga lelaki-lelaki dengan otot yang kumpul. Semuanya memiliki wajah yang tampan.

Salah satu lelaki dengan kepala cepak mendekati Puspa. Dia mengenakan kaos belang hitam putih, menampilkan lekukan otot di tubuhnya. Senyumannya sangat memukau. "Siang, Nyonya. Anda yang menemukan mayat tadi?" tanyanya sopan.

Puspa agak kecipuhan juga ditatap oleh lelaki tampan. Tapi, dia mesti bisa menguasainya. "Iya, Mas. Saya jadi takut."

Lelaki itu mengangguk-anggukan kepala sambil tetap senyum. Dia mendekati Puspa lalu membisikkan sesuatu. "Anda datang ke sini bukan untuk fitness, kan?"

Tanya yang diajukan oleh lelaki muda tampan itu membuat Puspa kaget. Seolah dia di-skakmat olehnya. Puspa melihat keadaan di sekeliling. Setelah yakin tak ada yang mengawasinya--meskipun keadaan masih dipenuhi massa--dia membalas bisikannya. "Bagaimana Mas bisa tahu?"

Lelaki itu melepaskan tawa, "Anda mengenakan kemeja bagus, bawahan ketat, sepatu hak tinggi, dandanan menyolok, dan sebuah tas kecil. Jelas itu bukan untuk fitness. Anda pasti mendapatkan info lain tentang tempat ini."

Puspa agak kelimpungan juga. Namun kemudian, dia sunggingkan senyum puas. Tujuan utamanya tidak gagal. Dia mendapatkannya. "Kamu mau?" tanyanya.

"Untuk Nyonya, saya siap," sahut lelaki itu membungkuk.

"Jangan panggil saya nyonya. Panggil saja Puspa," balas Puspa genit.

"Baik, Puspa. Anda bisa memanggil saya Ozan," ucap lelaki itu dengan sikap dan bahasa yang sangat manis.

Kemudian, dua insan itu masuk ke dalam mobil Puspa. Keduanya menuju ke sebuah hotel bintang lima. Puspa sudah biasa menginap di hotel itu jika sedang suntuk dengan suaminya. Baginya, yang tak masalah. Yang penting batinnya dipuaskan.

Dan apa yang dikehendaki Puspa sesuai agenda. Ozan melayani Puspa hingga wanita itu melenguh puas. Menutupi pula lubang-lubang kesepian dalam benak Puspa. Yang acapkali ditinggal suaminya dinas ke kota-kota lain.

Ozan pun mendapat imbalan yang cukup fantastis. Dia tak menyangka Puspa mengupahinya banyak uang.

"Ini tidak main-main, Puspa? Ini kelebihan banyak, loh," tanyanya aneh.

"Ambil saja semua. Anggap saja bonus," ucap Puspa sambil mengancingi kemejanya. Dia sangat puas dengan apa yang diinginkannya selama ini.

Layanan memuaskan Ozan itu membuat Puspa ketagihan. Lantas seminggu sekali ia sudah saja membuat janji temu dengan Ozan. Lantas tiba-tiba ia menyatakan cintanya pada pemuda itu, dan tentu saja Ozan mengiyakannya. Dan dua anak Adam itu pun menjelma sepasang kekasih.

"Aku mencintaimu," bisik Puspa dalam pelukan Ozan di kediamannya malam itu. Tentu saja suaminya tidak ada. Setelah memuaskan Puspa dalam ayut yang mengganas, Ozan pamit pulang. Di usia Puspa yang menginjak tiga puluh delapan tahun belum juga punya anak akibat suaminya mandul, dan selingkuh dengan laki-laki yang begitu muda di bawahnya ini menjadi pelampiasan.

"Besok saya mau ngajak kamu makan malam, saya jemput jam delapan, ya!" ucap Ozan sebelum menutup pintu mobil Honda Jazz-nya.

Puspa mendadak mengangkat kedua telapak tangannya ke depan Ozan, "Tidak, besok suamiku pulang. Lebih baik seminggu ini kita tak membuat janji temu."

"Oh ..., sayang sekali."

Lantas Puspa mencium Ozan, "Saya bakal kangen sama kamu."

Selepas itu Ozan memeluk wanita itu. Dalam malam yang semakin dingin, lamat-lamat Honda Jazz itu meninggalkan kediaman Puspa.

***

"Sayang, minggu depan aku naik jabatan!" ucap suami Puspa menggebu. Matanya mengilat penuh kebahagiaan.

Puspa menyuguhkannya kopi dengan senyum yang mengembang, "Sungguh ...?" Puspa belum sepenuhnya yakin yang diucapkan suaminya itu.

"Iya, Sayang. Jadi, bagaimana kalau besok kita piknik ke pantai?"

"Apa hubungannya pantai dengan naik jabatanmu?" mata Puspa penuh tanya.

"Aku dapat jatah cuti seminggu sebelum naik jabatan," lelaki tua itu menyesap kopinya panas-panas. Lalu mengejit kepanasan.

"Pelan-pelan, Sayang ...."

Senyum lelaki itu mengembang, lantas tangannya menangkap pinggang Puspa. Memeluknya kuat dan menghempaskannya ke sofa. Sedetik kemudian pasangan itu sudah saling mencumbu satu sama lain.

***

Siang yang panas, membuat Puspa mengolesi kulitnya lagi dengan sun block. Suasana pantai tampak lengang. Di sebelahnya, sang suami sibuk membaca sebuah majalah ekonomi, sesekali sibuk mengumpati pengusaha yang dianggapnya busuk. Puspa sudah hafal dengan tabiat lelaki tua itu, yang tentu saja membuatnya cepat bosan.

image

"Sun block-ku habis. Aku akan mengambilnya di hotel." Tubuh Puspa yang dibalut bikini melenggang melewati suaminya, "Kamu mau nitip apa, Sayang?" tanya Puspa. Lelaki tua itu tetap fokus pada bacaannya, telinganya tak menangkap ucapan Puspa. Lagi-lagi wanita itu sudah hafal dengan tabiat suaminya, sambil menggelengkan kepala ia meninggalkan pantai dan menuju hotel tempatnya menginap.

Suasana lobby hingga jalan menuju lift tampak sepi. Hanya tampak lima-enam tamu yang dilihatnya, dan dua office boy yang sibuk dengan aktifitasnya. Puspa menunggu di depan pintu lift, dan sesekali menggosok kulitnya yang gatal.

Saat pintu lift membuka, sudah ada dua sosok manusia di dalamnya. Puspa sedikit menundukkan wajah, mendapati dua insan itu saling cium dan memegang selangkangan satu sama lain. Hal yang paling mengejutkan adalah adegan panas itu dilakukan oleh sesama jenis. Sedetik kemudian Puspa melotot mendapati salah satu sosok yang dikenalnya--Ozan.


Ozan gelagapan, Puspa tanpa mengucap kata lalu meninggalkan dua pemuda itu.

"Saya bisa menjelaskannya!" Ozan menyusul Puspa di belakangnya.

"Gak usah penjelasan. Saya nggak nyangka kamu itu biseks. Tinggalkan saya! Saat ini saya dengan suami saya! Saya nggak mau dia melihatku denganmu!" mata Puspa melotot.

Ozan tampaknya masih ingin menjelaskan. Dia menggenggam tangan Puspa. Kejadian itu begitu cepat hingga tiba-tiba saja Puspa menempeleng pipi Ozan. Saat itu juga Ozan meninggalkannya dengan mata yang menajam.

Puspa kini sangat menyesal tenggelam dalam kisah cinta dengan pemuda itu. Namun sialnya, dia bisa mendapatkan hal yang dia butuhkan melalui Ozan. Itu tak bisa dibantah. Mungkin, dia kini mesti meninggalkan dunianya yang salah itu.

Esoknya, hotel itu menjadi heboh. Jasad tanpa mata ditemukan di tepi pantai. Dengan luka-luka sayatan yang mengenaskan. Sosok itu sebelumnya adalah pemuda yang mencumbu Ozan di lift. Keadaannya sama dengan yang ditemukan oleh Puspa di tempat fitness, yakni telanjang. Sungguh sadis pelakunya.

Puspa yang sangat takut dengan mayat itu meminta kepada suaminya untuk cepat-cepat pulang. Di benaknya, polisi akan memiliki dugaan kepadanya. Sebab, selalu ada di TKP.

Mau tak mau, suaminya pun mengajaknya pulang.

***

Malamnya, Puspa tak bisa memejamkan mata. Dilihatnya, suaminya sudah lelap di sampingnya. Dia kini sangat gelisah. Apalagi dengan ditemukannya dua mayat di dekatnya. Seolah, dia yang memang melakukannya.

Jam masih menunjukkan pukul sebelas malam. Puspa sangat haus sekali.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi ketukan pintu sangat mengagetkannya. Di benaknya, siapa yang datang malam-malam begini?

Dengan agak takut-takut, Puspa mendekati pintu. Dia ingin memastikan dahulu siapa itu. Puspa mengintip melalui jendela. Tak ada siapa-siapa di situ. Apakah itu halusinasi dia saja?

Puspa membuka pintu depan. Dan memang tak ada siapa-siapa di situ. Wanita itu pun mengembuskan napas lega. Mungkin dia hanya sedang ketakutan saja.

Tiba-tiba, sebuah tangan membekap mulut Puspa. Wanita itu langsung melawan, namun tak bisa. Tenaganya kalah dengan si pembekap. Apalagi kedua tangannya langsung diikat ke belakang dengan cepat.

Puspa dijatuhkan ke lantai. Kini kakinya yang diikat. Matanya membulat tatkala melihat siapa si pembekap.

"Ozan? Apa yang kamu lakukan?" kagetnya.

"Hahaha! Kayak yang kamu bilang tadi, saya ini biseks. Dan saya sangat menyukai petualangan seks ini. Nafsu ini tak bisa ditahankan padamu, Puspa. Apalagi saat kau mengenakan bikini. Bagi saya, kau adalah wanita paling seksi yang saya temui."

"Hei! Jauhi dia!"

Suami Puspa tiba-tiba datang. Dia sudah membawa pentungan untuk melawan Ozan.

"Wow, suamimu tampan juga. Tapi sayang, dia lemah dan mandul," ucap Ozan sinis.

"Apa kamu bilang?!" pekik sang suami.

Dia maju mendekati Ozan untuk menghantam kepalanya. Namun Ozan cukup gesit. Dia membungkuk lalu menangkap kedua kaki suami Puspa. Lalu, diangkatnya kedua kaki itu hingga kepala suami Puspa menghantam lantai.

Bhuak!

"Aaahh!" pekiknya.

Suami Puspa sangat pusing. Dia tak tahu jika Ozan mengambil sebuah pisau kecil.

"Kalian tahu? Saat mencumbu lelaki, saya tak suka melihat matanya langsung. Mata lelaki sangat cabul. Saya lebih senang jika lelaki-lelaki itu buta. Jadi, saya hilangkan matanya supaya saya bisa fokus mencumbu, sama dengan mayat-mayat yang sudah kalian lihat."

Ozan lalu mencongkel kedua mata suami Puspa. Kemudian, Ozan pun melepaskan pakaian suami Puspa dan mencumbunya.

Puspa yang tak bisa apa-apa hanya bisa memekik. Dia tak bisa meminta bantuan sebab tempat tinggalnya jauh dengan pemukiman. Kediamannya yang bagai istana ini sangat dikucilkan. Dia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis menyaksikan pemandangan pilu ini.

"Kini tinggal kamu, Puspa. Saya membenci saksi," ucap Ozan setelah mencumbu suami Puspa. Dia pun menghunuskan pisau kecilnya.

-tamat-



image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.