image

Kisah ini sempat masuk dalam sebuah buku antologi indie, namun masih flash fiction. Belum puas, kisah ini pun saya panjangkan dan kembangkan kembali. Faktanya, sewaktu di buku antologi pun sama sekali tanpa alfabet itu.

Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Dengan langkah takut-takut, tampak sesosok wanita muda cantik yang mendekati sebuah tenda khusus. Degup jantungnya begitu kencang. Ada sebuah keinginan dalam benaknya yang mesti dicapai. Semoga, dia tidak mengalami kendala apapun.

Pakaian yang dikenakan wanita itu cukup seksi, yakni hanya sebuah kemben hitam mengkilap. Ditambah, kemben itu mengikuti tiap lekukan tubuhnya yang putih dan juga pantatnya yang bohay. Tiap langkahnya pasti akan mengundang kekaguman bagi lelaki manapun yang melihatnya. Apalagi, sepatu hak yang dikenakannya lumayan tinggi, bagaikan di atas panggung catwalk.

Dia mengambil napas sejenak di depan pintu tenda yang hanya sebuah sehelai kain. Setelah tekad kuatnya sudah muncul, dia masuk tenda dengan menyibak kain itu.

Di dalam tenda yang lumayan luas itu sudah ada lelaki tampan yang asyik menghitung uang di mejanya. Usianya masih muda. Dia mengenakan setelan jas hitam-hitam. Kedua kakinya dinaikkan ke atas meja, sehingga menimbulkan kesan yang tidak sopan. Namun mau bagaimana lagi, tenda itu milik dan kekuasaannya.

Mata lelaki itu menatap ke wanita yang masuk tendanya itu tanpa izin. Dia pun langsung menyipitkan matanya.

“Mau apa kamu ke sini? Bukankah kamu mesti siap-siap?” tanya lelaki itu dengan nada tidak sopan.

Dengan masih agak takut-takut, wanita tadi menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di depan meja lelaki itu. “Maaf kalau saya sudah lancang masuk ke tenda Bos tanpa izin. Saya cuma mau minta tolong.”

Lelaki itu membusungkan dadanya, “Tolong apa? Soal uang?” tanyanya sinis.

“I-iya, Bos. Bolehkah saya meminjam uang lagi?” tanya wanita itu gugup.

“Kamu itu selalu saja meminjam uang! Untuk inilah, itulah, segala macam! Memangnya saya ini tukang minjamin uang?” ucap lelaki itu dengan nada meninggi.

“Maaf, Bos. Saya butuh sekali uang untuk pengobatan suami. Dia sudah lama mengidap TBC. Jika cepat-cepat tidak diobati, nanti akan membahayakan nyawanya. Sayangnya, uangnya tidak cukup untuk biaya pengobatan,” ucap wanita itu memelas.

Wajah lelaki di depannya itu tampak acuh tak acuh. Sama sekali tak ada belas kasihan kepada penjelasan wanita itu. “Hutangmu bulan lalu saja belum lunas. Kini kamu mau minjam uang lagi? Gimana kamu melunasinya? Yang ada nanti hutangmu semakin membengkak. Dan kemudian, kamu malah menghilang!” sahutnya yang tak lain adalah si pesulap adanya.

“Saya pasti bisa melunasinya, Bos. Pasti,” sahut sang wanita cepat, meyakinkan sang bos.

Sang pesulap menatap wanita itu dengan pandangan sinis. “Melunasinya? Bagaimana bisa? Upahmu untuk show ini saja masih belum cukup untuk melunasi hutang-hutangmu!”

“Akan saya usahakan, Bos,” sahut wanita itu cepat, “tapi tolong, upah untuk show ini jangan dipotong semua. Saya membutuhkannya. Dan juga saya membutuhkan uang pinjaman Anda, Bos,” ucap wanita cantik itu kembali mengiba. Matanya sesekali menatap ke uang yang ada di tangan bosnya. Uang yang sangat cukup untuk membiayai pengobatan suaminya.

“Masa bodoh! Aku tidak mau tahu!” tepis si pesulap, “kamu mesti melunasi hutang-hutangmu dulu jika mau gajimu utuh dan dapat uang pinjaman!” tegasnya sambil bangkit. Tatapannya tajam melihat sang wanita.

Wanita cantik yang tak lain adalah asisten sulapnya menunduk sedih. Tak disangka upayanya untuk mendapatkan uang pinjaman gagal sudah. Matanya mulai sembab. Dia tak tahu lagi mesti bagaimana. Entah bagaimana dengan nasib suaminya nanti.

Si pesulap menatap jam tangannya, “Lima menit lagi kita akan mulai show. Kamu mesti siap-siap,” ucapnya sambil menyimpan uang yang tadi dihitungnya itu ke dalam laci meja, kemudian menguncinya. Kuncinya dia simpan di dalam saku celana. Lalu, dengan santainya dia melenggang meninggalkan wanita itu di tenda miliknya.

Sang asisten masih menunduk. Matanya yang tadi sembab kini menatap tajam. Pandangannya tak lepas pada meja tempat sang bos menyimpan uang. Emosinya kepada sang bos kini tak bisa lagi dibendung. Bagaikan ada bom waktu yang siap meledak. Dia mendengus, lalu layangkan senyum yang menakutkan.

***

Alunan musik dengan nuansa mistis menggema di sebuah lapangan. Lampu-lampu dengan cahaya yang menyilaukan menyelubungi tempat itu. Lautan manusia tampak antusias ingin melihat aksi sulap yang menantang maut itu. Penonton-penonton itu adalah fans setia sang pesulap. Tiket mahal untuk show ini pun tak menjadi masalah. Yang penting, semuanya puas dengan aksi pesulap itu, di samping bisa melihat langsung sang pesulap.

Penonton-penonton ditata supaya tampak mengelilingi sebuah tanah galian untuk aksi sulap. Tentu saja penonton pun dibuat agak menjauh dengan galian tanah itu supaya tidak mengganggu jalannya sulap.

Tepuk tangan saling sahut-menyahut tatkala si pesulap muncul di depan penonton. Dia kini memakai topi khas pesulap. Lelaki itu langsung menaiki sebuah peti besi yang sudah disediakan di situ. Jempolnya diacungkan tinggi-tinggi, menandakan bahwa dia telah siap melakukan aksinya.

Pesonanya begitu memukau mata. Apalagi bagi fans-fans wanita. Semuanya melengking-lengking memanggil nama sang pesulap. Apalagi si pesulap itu masih muda dan memiliki wajah tampan. Membuat pesulap itu menjadi cepat naik daun sejak awal kemunculannya.

Asisten wanitanya yang cantik muncul sambil melenggak-lenggokkan badannya. Senyuman manisnya membuat siapapun akan langsung jatuh cinta kepadanya. Wanita itu langsung membelenggu kedua tangan dan kaki si pesulap dengan tali. Tubuh si pesulap pun tak luput untuk diikat. Kemudian, dengan dibantu sang asisten, si pesulap menjejakkan kakinya masuk ke dalam sebuah peti besi yang tampak kokoh.

“Saksikanlah aksi menakjubkan ini!” lantang pesulap itu sebelum asistennya menutup penutup peti. Topinya dibuang entah ke mana. Penonton langsung tepuk tangan. Padahal, si pesulap belum melakukan aksinya.

Semenit kemudian, suasana langsung hening seketika. Penonton yang melihat aksi pesulap tampan itu dibuat menahan napas. Bagaimana tidak, pesulap yang dikenal dengan julukan “Escapologist Magician” itu akan masuk ke dalam peti besi. Peti lalu dikunci dengan gembok yang kokoh sebanyak enam buah di kedua sisinya. Dengan tubuh, kaki, dan tangannya yang diikat tali, otomatis dia tak bisa ke mana-mana. Apalagi, peti itu cukup sempit.

Dengan bantuan alat khusus, peti itu diangkat lalu dimasukkan ke dalam lubang tanah galian. Yang lebih membuat jantung penonton bagaikan mau copot, di bagian penutup peti dipasangi bom waktu. Meskipun daya ledaknya kecil, namun bisa membuat tubuh manusia menjadi potongan-potongan kecil, dengan daging yang hangus. Apalagi si pesulap sangat dekat sekali posisinya dengan bom. Jadi, jika si pesulap tidak cepat-cepat melakukan aksinya, maka dia akan tewas.

Sebetulnya, penonton dan fans setia sang Escapologist Magician sudah memahami aksi-aksi sulapnya yang menantang maut ini. Sudah puluhan aksi si pesulap yang membuat jantung penontonnya bagaikan mau copot. Namun, itu memang sudah khasnya. Dan untungnya, dia selalu sukses melakukan aksinya tanpa luka sedikit pun. Tentunya hal ini dilakukan dengan latihan yang sungguh-sungguh.

Setelah peti besi masuk ke dalam lubang tanah, satu ton tanah langsung memendam peti itu dengan alat khusus hingga tidak nampak lagi. Sehingga, lubang tanah tadi kini menjadi gundukan tanah yang menjulang. Penonton hanya tinggal menunggu si pesulap muncul sebelum bom meledak.

Setelah tugasnya selesai, sang asisten melenggak-lenggokkan kembali tubuhnya menjauhi posisi gundukan tanah dan menunggu di dekat penonton. Senyum manis selalu menghiasi wajahnya. Tak ada yang tahu kalau wanita itu telah melakukan sesuatu.

Kini si pesulap hanya memiliki waktu sepuluh menit untuk lolos sebelum bomnya meledak. Tak ada yang mengetahui aktivitas sang pesulap di dalam peti yang sudah dipendam dalam tanah itu.

Dengan susah payah, pesulap muda itu melepaskan ikatan tali yang lumayan kencang. Tak ada cahaya apapun yang membantunya untuk melepaskan tali, selain cahaya LED penunjuk waktu bom. Sebab, hal ini sengaja dia lakukan untuk menambahkan susana ketegangan. Suasananya begitu sunyi. Hanya bunyi desahan napasnya dan detak bom waktu saja yang menemaninya.

“Sial! Ikatannya kencang sekali! Tidak biasanya dia mengikat kencang begini!” keluhnya mengalami kesulitan ketika melepaskan ikatan tangannya.

Dia mencoba menjangkau pinggang celananya meskipun tangannya diikat. Tujuannya untuk mengambil pisau yang sengaja dia siapkan. Jadi, dia tidak usah susah-susah melepaskan ikatan tali, cukup memotongnya saja. Namun, tampaknya dia tidak menemukan apapun di pinggangnya itu.

“Pisaunya ke mana ya? Padahal sudah kusiapkan tadi,” gumamnya panik.

Dia mencoba mengingat-ingat ke mana pisaunya menghilang. Sewaktu dia menyapa penonton tadi, pisau itu masih ada. Bahkan dia sudah mengeceknya.

“Apakah waktu aku diikat, pisaunya diambil oleh asistenku?” gumamnya mencoba menebak-nebak. Otaknya mengingat lagi detail kejadiannya. Awal ketika diikat, hingga dia masuk ke dalam peti.

“Astaga! Mana mungkin dia yang mengambil?” pekiknya. “Memang, hanya dia yang bisa mengambil. Tapi untuk apa? Bukankah hal itu akan menggagalkan aksi sulapku?” tanyanya yang tak mungkin dijawab oleh siapapun.

Dia menoleh ke bom waktu yang dipasang di penutup peti. Cahaya LED penunjuk waktu bomnya membuatnya kaget. Tak disangka, sudah lima menit dia di dalam peti dan belum melepaskan talinya.

“Sial! Tak ada waktu untuk mengeluh! Nyawaku sedang dalam bahaya!” paniknya. Dia masih kesulitan melepaskan ikatan di tangannya itu. Apalagi tangannya mulai sakit akibat gesekan tali.

Tik ... tik ... tik ... tik.

LED penunjuk waktu menandakan bahwa ledakan bom semakin dekat. Peluh dingin mulai menetes membasahi wajah si pesulap. Napasnya mulai kembang kempis akibat pengapnya suasana di dalam peti. Otaknya mulai dipenuhi oleh kepanikan.

Keadaan semakin mencekam. Dia sudah bagaikan tikus dalam jebakan kucing. Apakah dia akan selamat? Ataukah kematian yang sesaat lagi menyapanya? Apalagi, dia tidak dibekali dengan alat komunikasi untuk meminta bantuan. Asa pun semakin tipis.

Dia mulai mencium keanehan di sini. Khususnya, kepada asisten wanitanya itu. Ada apa dengan maksud semua ini? Apakah asistennya itu memiliki dendam kepadanya?

“Apakah kejadian tadi di tenda membuatnya dendam kepadaku?” gumamnya lagi. “Sialan! Jika aku bisa lolos nanti, akan kupecat dia dan kutuntut ke polisi!” ancamnya.

Sang pesulap sama sekali tak punya dugaan jika akan kacau begini jadinya. Padahal sewaktu latihan, si pesulap bisa membuka ikatan dengan mudah meskipun ikatannya kencang. Tak ada keanehan apapun waktu itu. Kenapa kejadian ini mesti pada saat show?

“Siapa saja, tolong bebaskan aku!” pekiknya lantang. Tentu saja hal itu hanya sia-sia belaka. Sebab, dia sudah ditimbun dalam tanah.

Dia mulai gelisah dan menggeliat bagaikan ulat yang kepanasan. Tak ada kebebasan baginya untuk melakukan sesuatu. Peti itu sempit dan semua tubuhnya masih diikat. Dalam kegelapan yang hanya dibantu cahaya LED bom waktu, dia menatap ke sisi kanannya.

“Kalau begini, aku mesti langsung ke Plan B,” gumamnya sambil menggoyang tubuhnya ke kanan.

Dia ingin mendekati ke sisi kanan peti. Telapak tangannya yang tidak diikat itu dengan susah payah menggapai gagang sebuah katup yang disembunyikan. Namun, akibat tubuhnya masih diikat, maka dia kesulitan menjangkau gagang itu.

“Sialan! Katup itu tak bisa kujangkau!” keluhnya.

Semua sisa tenaganya digunakan untuk menjangkau gagang itu. Dia tak peduli tubuhnya lecet-lecet akibat gesekan dengan dinding peti. Hal itu lebih baik ketimbang mati konyol. Dia mesti menahan sakitnya. 

Dia ingin melipat tubuhnya, dengan lutut menyentuh kepala, dan kaki dilipat ke atas, mengikuti bentuk peti supaya bisa menjangkau katup itu. Namun tampaknya hal itu hanya sia-sia jika tubuh masih diikat. Peti itu sangat kokoh. Bahkan tulang belakangnya ada yang patah akibat dipaksakan.

“Aaah!!!” pekiknya kesakitan. Dia pun mau tak mau kembali ke posisi semula.

Sesuai dengan konsep sulapnya, setelah talinya lepas dia cukup membuka katup yang ada di sisi kanan peti. Peti besi itu memang khusus dibuat untuk sulap. Di sisi bagian kanan, ada katup kecil yang bisa dibuka dan ditutup. Katup itu menghubungkan ke sebuah lubang dalam tanah yang tak diketahui oleh penonton. Lubang yang dilapisi oleh baja itu melindunginya jika bom meledak. Tentunya hal itu untuk antisipasi jika dia tidak memiliki cukup waktu.

Setelah bom meledak, dia akan muncul ke atas lewat sekat yang sudah disiapkan dekat lubang dan kemudian muncul menyapa penonton. Tepuk tangan penonton tentu saja membuatnya bangga. Penonton akan memujinya dengan aksinya itu. Namun, kenyataannya malah sebaliknya. Penonton masih menunggunya dengan nasib yang belum jelas. Jika tangannya masih diikat, maka dia akan kesulitan membuka katupnya. Apalagi posisinya yang telentang di peti yang agak sempit.

Images

“Apakah aku akan tamat di sini?” gumamnya lemah. Detak jantungnya semakin cepat. Tenaganya kini sudah habis.

“Siapa saja, tolong aku!” pekiknya lagi lantang. 

Dia tahu kalau dia akan gagal. Namun, dia juga tidak mau mati sia-sia. Lebih baik gagal dan diselamatkan ketimbang tewas kena ledakan bom. Penonton dan fans pun akan memaklumi kondisinya. Sesungguhnya sudah banyak aksi-aksi menantang maut yang dilakukan oleh pesulap-pesulap lain yang nyatanya gagal dan diselamatkan tepat pada waktunya. Namun, semuanya tetap mendapatkan tepuk tangan penonton supaya pesulap-pesulap itu tetap semangat setelah gagal, tidak putus asa.

Tik! Tik! Tik! Tik!

Alunan detik bom waktu semakin cepat. Menandakan bahwa bom sesaat lagi akan meledak. Si pesulap pun semakin panik dan gelisah.

“Sialan!!! Asistenku punya dendam apa?!” pekik si pesulap. Dia sudah mulai putus asa.

BLAMMM!!!

Bom waktu pun meledak, menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Tanah-tanah bekas galian membuncah ke atas bagaikan kembang api. Penonton pun mulai menjauhi supaya tidak mengenai hujan tanah. Api sempat muncul hanya sesaat, lalu padam kembali akibat ditimbun oleh tanah.

Penonton yang menyaksikan ledakan itu menjadi kaget. Dugaan bahwa si pesulap akan muncul sebelum bom meledak tampaknya meleset. Hingga bom meledak, sang pesulap belum muncul.

Penonton mulai gelisah. Apalagi, setelah lima menit ditunggu, sang pesulap tak kunjung muncul. Bahkan pihak panitia show pun mulai kelabakan.

“Cepat! Gali tanahnya!” pekik salah satu panitia yang tampak gelisah.

Kepanikan penonton pun pecah.

***

Seolah tak mempedulikan kepanikan di sana, sang asisten wanita melangkah santai memasuki tenda milik sang pesulap. Ketukan langkahnya begitu menggoda dengan melenggak-lenggokan tubuhnya. Tatapannya begitu menakutkan.

Dia memasukkan sebuah kunci ke dalam lubang kunci laci meja sambil meletakkan sebuah pisau di atas meja. Kunci dan pisau itu didapat ketika dia mengikat sang pesulap tadi. Senyum menakutkan tak lepas di wajahnya kala melihat foto sang pesulap di atas meja.

“Semua uangmu saya ambil. Saya tahu, Anda pasti akan memecat saya. Dan saya pun sudah muak dengan Anda. Selamat menikmati kehidupan selanjutnya,” gumamnya.

-tamat-


image

Escapologist Magician


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kisah ini sempat masuk dalam sebuah buku antologi indie, namun masih flash fiction. Belum puas, kisah ini pun saya panjangkan dan kembangkan kembali. Faktanya, sewaktu di buku antologi pun sama sekali tanpa alfabet itu.

Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Dengan langkah takut-takut, tampak sesosok wanita muda cantik yang mendekati sebuah tenda khusus. Degup jantungnya begitu kencang. Ada sebuah keinginan dalam benaknya yang mesti dicapai. Semoga, dia tidak mengalami kendala apapun.

Pakaian yang dikenakan wanita itu cukup seksi, yakni hanya sebuah kemben hitam mengkilap. Ditambah, kemben itu mengikuti tiap lekukan tubuhnya yang putih dan juga pantatnya yang bohay. Tiap langkahnya pasti akan mengundang kekaguman bagi lelaki manapun yang melihatnya. Apalagi, sepatu hak yang dikenakannya lumayan tinggi, bagaikan di atas panggung catwalk.

Dia mengambil napas sejenak di depan pintu tenda yang hanya sebuah sehelai kain. Setelah tekad kuatnya sudah muncul, dia masuk tenda dengan menyibak kain itu.

Di dalam tenda yang lumayan luas itu sudah ada lelaki tampan yang asyik menghitung uang di mejanya. Usianya masih muda. Dia mengenakan setelan jas hitam-hitam. Kedua kakinya dinaikkan ke atas meja, sehingga menimbulkan kesan yang tidak sopan. Namun mau bagaimana lagi, tenda itu milik dan kekuasaannya.

Mata lelaki itu menatap ke wanita yang masuk tendanya itu tanpa izin. Dia pun langsung menyipitkan matanya.

“Mau apa kamu ke sini? Bukankah kamu mesti siap-siap?” tanya lelaki itu dengan nada tidak sopan.

Dengan masih agak takut-takut, wanita tadi menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di depan meja lelaki itu. “Maaf kalau saya sudah lancang masuk ke tenda Bos tanpa izin. Saya cuma mau minta tolong.”

Lelaki itu membusungkan dadanya, “Tolong apa? Soal uang?” tanyanya sinis.

“I-iya, Bos. Bolehkah saya meminjam uang lagi?” tanya wanita itu gugup.

“Kamu itu selalu saja meminjam uang! Untuk inilah, itulah, segala macam! Memangnya saya ini tukang minjamin uang?” ucap lelaki itu dengan nada meninggi.

“Maaf, Bos. Saya butuh sekali uang untuk pengobatan suami. Dia sudah lama mengidap TBC. Jika cepat-cepat tidak diobati, nanti akan membahayakan nyawanya. Sayangnya, uangnya tidak cukup untuk biaya pengobatan,” ucap wanita itu memelas.

Wajah lelaki di depannya itu tampak acuh tak acuh. Sama sekali tak ada belas kasihan kepada penjelasan wanita itu. “Hutangmu bulan lalu saja belum lunas. Kini kamu mau minjam uang lagi? Gimana kamu melunasinya? Yang ada nanti hutangmu semakin membengkak. Dan kemudian, kamu malah menghilang!” sahutnya yang tak lain adalah si pesulap adanya.

“Saya pasti bisa melunasinya, Bos. Pasti,” sahut sang wanita cepat, meyakinkan sang bos.

Sang pesulap menatap wanita itu dengan pandangan sinis. “Melunasinya? Bagaimana bisa? Upahmu untuk show ini saja masih belum cukup untuk melunasi hutang-hutangmu!”

“Akan saya usahakan, Bos,” sahut wanita itu cepat, “tapi tolong, upah untuk show ini jangan dipotong semua. Saya membutuhkannya. Dan juga saya membutuhkan uang pinjaman Anda, Bos,” ucap wanita cantik itu kembali mengiba. Matanya sesekali menatap ke uang yang ada di tangan bosnya. Uang yang sangat cukup untuk membiayai pengobatan suaminya.

“Masa bodoh! Aku tidak mau tahu!” tepis si pesulap, “kamu mesti melunasi hutang-hutangmu dulu jika mau gajimu utuh dan dapat uang pinjaman!” tegasnya sambil bangkit. Tatapannya tajam melihat sang wanita.

Wanita cantik yang tak lain adalah asisten sulapnya menunduk sedih. Tak disangka upayanya untuk mendapatkan uang pinjaman gagal sudah. Matanya mulai sembab. Dia tak tahu lagi mesti bagaimana. Entah bagaimana dengan nasib suaminya nanti.

Si pesulap menatap jam tangannya, “Lima menit lagi kita akan mulai show. Kamu mesti siap-siap,” ucapnya sambil menyimpan uang yang tadi dihitungnya itu ke dalam laci meja, kemudian menguncinya. Kuncinya dia simpan di dalam saku celana. Lalu, dengan santainya dia melenggang meninggalkan wanita itu di tenda miliknya.

Sang asisten masih menunduk. Matanya yang tadi sembab kini menatap tajam. Pandangannya tak lepas pada meja tempat sang bos menyimpan uang. Emosinya kepada sang bos kini tak bisa lagi dibendung. Bagaikan ada bom waktu yang siap meledak. Dia mendengus, lalu layangkan senyum yang menakutkan.

***

Alunan musik dengan nuansa mistis menggema di sebuah lapangan. Lampu-lampu dengan cahaya yang menyilaukan menyelubungi tempat itu. Lautan manusia tampak antusias ingin melihat aksi sulap yang menantang maut itu. Penonton-penonton itu adalah fans setia sang pesulap. Tiket mahal untuk show ini pun tak menjadi masalah. Yang penting, semuanya puas dengan aksi pesulap itu, di samping bisa melihat langsung sang pesulap.

Penonton-penonton ditata supaya tampak mengelilingi sebuah tanah galian untuk aksi sulap. Tentu saja penonton pun dibuat agak menjauh dengan galian tanah itu supaya tidak mengganggu jalannya sulap.

Tepuk tangan saling sahut-menyahut tatkala si pesulap muncul di depan penonton. Dia kini memakai topi khas pesulap. Lelaki itu langsung menaiki sebuah peti besi yang sudah disediakan di situ. Jempolnya diacungkan tinggi-tinggi, menandakan bahwa dia telah siap melakukan aksinya.

Pesonanya begitu memukau mata. Apalagi bagi fans-fans wanita. Semuanya melengking-lengking memanggil nama sang pesulap. Apalagi si pesulap itu masih muda dan memiliki wajah tampan. Membuat pesulap itu menjadi cepat naik daun sejak awal kemunculannya.

Asisten wanitanya yang cantik muncul sambil melenggak-lenggokkan badannya. Senyuman manisnya membuat siapapun akan langsung jatuh cinta kepadanya. Wanita itu langsung membelenggu kedua tangan dan kaki si pesulap dengan tali. Tubuh si pesulap pun tak luput untuk diikat. Kemudian, dengan dibantu sang asisten, si pesulap menjejakkan kakinya masuk ke dalam sebuah peti besi yang tampak kokoh.

“Saksikanlah aksi menakjubkan ini!” lantang pesulap itu sebelum asistennya menutup penutup peti. Topinya dibuang entah ke mana. Penonton langsung tepuk tangan. Padahal, si pesulap belum melakukan aksinya.

Semenit kemudian, suasana langsung hening seketika. Penonton yang melihat aksi pesulap tampan itu dibuat menahan napas. Bagaimana tidak, pesulap yang dikenal dengan julukan “Escapologist Magician” itu akan masuk ke dalam peti besi. Peti lalu dikunci dengan gembok yang kokoh sebanyak enam buah di kedua sisinya. Dengan tubuh, kaki, dan tangannya yang diikat tali, otomatis dia tak bisa ke mana-mana. Apalagi, peti itu cukup sempit.

Dengan bantuan alat khusus, peti itu diangkat lalu dimasukkan ke dalam lubang tanah galian. Yang lebih membuat jantung penonton bagaikan mau copot, di bagian penutup peti dipasangi bom waktu. Meskipun daya ledaknya kecil, namun bisa membuat tubuh manusia menjadi potongan-potongan kecil, dengan daging yang hangus. Apalagi si pesulap sangat dekat sekali posisinya dengan bom. Jadi, jika si pesulap tidak cepat-cepat melakukan aksinya, maka dia akan tewas.

Sebetulnya, penonton dan fans setia sang Escapologist Magician sudah memahami aksi-aksi sulapnya yang menantang maut ini. Sudah puluhan aksi si pesulap yang membuat jantung penontonnya bagaikan mau copot. Namun, itu memang sudah khasnya. Dan untungnya, dia selalu sukses melakukan aksinya tanpa luka sedikit pun. Tentunya hal ini dilakukan dengan latihan yang sungguh-sungguh.

Setelah peti besi masuk ke dalam lubang tanah, satu ton tanah langsung memendam peti itu dengan alat khusus hingga tidak nampak lagi. Sehingga, lubang tanah tadi kini menjadi gundukan tanah yang menjulang. Penonton hanya tinggal menunggu si pesulap muncul sebelum bom meledak.

Setelah tugasnya selesai, sang asisten melenggak-lenggokkan kembali tubuhnya menjauhi posisi gundukan tanah dan menunggu di dekat penonton. Senyum manis selalu menghiasi wajahnya. Tak ada yang tahu kalau wanita itu telah melakukan sesuatu.

Kini si pesulap hanya memiliki waktu sepuluh menit untuk lolos sebelum bomnya meledak. Tak ada yang mengetahui aktivitas sang pesulap di dalam peti yang sudah dipendam dalam tanah itu.

Dengan susah payah, pesulap muda itu melepaskan ikatan tali yang lumayan kencang. Tak ada cahaya apapun yang membantunya untuk melepaskan tali, selain cahaya LED penunjuk waktu bom. Sebab, hal ini sengaja dia lakukan untuk menambahkan susana ketegangan. Suasananya begitu sunyi. Hanya bunyi desahan napasnya dan detak bom waktu saja yang menemaninya.

“Sial! Ikatannya kencang sekali! Tidak biasanya dia mengikat kencang begini!” keluhnya mengalami kesulitan ketika melepaskan ikatan tangannya.

Dia mencoba menjangkau pinggang celananya meskipun tangannya diikat. Tujuannya untuk mengambil pisau yang sengaja dia siapkan. Jadi, dia tidak usah susah-susah melepaskan ikatan tali, cukup memotongnya saja. Namun, tampaknya dia tidak menemukan apapun di pinggangnya itu.

“Pisaunya ke mana ya? Padahal sudah kusiapkan tadi,” gumamnya panik.

Dia mencoba mengingat-ingat ke mana pisaunya menghilang. Sewaktu dia menyapa penonton tadi, pisau itu masih ada. Bahkan dia sudah mengeceknya.

“Apakah waktu aku diikat, pisaunya diambil oleh asistenku?” gumamnya mencoba menebak-nebak. Otaknya mengingat lagi detail kejadiannya. Awal ketika diikat, hingga dia masuk ke dalam peti.

“Astaga! Mana mungkin dia yang mengambil?” pekiknya. “Memang, hanya dia yang bisa mengambil. Tapi untuk apa? Bukankah hal itu akan menggagalkan aksi sulapku?” tanyanya yang tak mungkin dijawab oleh siapapun.

Dia menoleh ke bom waktu yang dipasang di penutup peti. Cahaya LED penunjuk waktu bomnya membuatnya kaget. Tak disangka, sudah lima menit dia di dalam peti dan belum melepaskan talinya.

“Sial! Tak ada waktu untuk mengeluh! Nyawaku sedang dalam bahaya!” paniknya. Dia masih kesulitan melepaskan ikatan di tangannya itu. Apalagi tangannya mulai sakit akibat gesekan tali.

Tik ... tik ... tik ... tik.

LED penunjuk waktu menandakan bahwa ledakan bom semakin dekat. Peluh dingin mulai menetes membasahi wajah si pesulap. Napasnya mulai kembang kempis akibat pengapnya suasana di dalam peti. Otaknya mulai dipenuhi oleh kepanikan.

Keadaan semakin mencekam. Dia sudah bagaikan tikus dalam jebakan kucing. Apakah dia akan selamat? Ataukah kematian yang sesaat lagi menyapanya? Apalagi, dia tidak dibekali dengan alat komunikasi untuk meminta bantuan. Asa pun semakin tipis.

Dia mulai mencium keanehan di sini. Khususnya, kepada asisten wanitanya itu. Ada apa dengan maksud semua ini? Apakah asistennya itu memiliki dendam kepadanya?

“Apakah kejadian tadi di tenda membuatnya dendam kepadaku?” gumamnya lagi. “Sialan! Jika aku bisa lolos nanti, akan kupecat dia dan kutuntut ke polisi!” ancamnya.

Sang pesulap sama sekali tak punya dugaan jika akan kacau begini jadinya. Padahal sewaktu latihan, si pesulap bisa membuka ikatan dengan mudah meskipun ikatannya kencang. Tak ada keanehan apapun waktu itu. Kenapa kejadian ini mesti pada saat show?

“Siapa saja, tolong bebaskan aku!” pekiknya lantang. Tentu saja hal itu hanya sia-sia belaka. Sebab, dia sudah ditimbun dalam tanah.

Dia mulai gelisah dan menggeliat bagaikan ulat yang kepanasan. Tak ada kebebasan baginya untuk melakukan sesuatu. Peti itu sempit dan semua tubuhnya masih diikat. Dalam kegelapan yang hanya dibantu cahaya LED bom waktu, dia menatap ke sisi kanannya.

“Kalau begini, aku mesti langsung ke Plan B,” gumamnya sambil menggoyang tubuhnya ke kanan.

Dia ingin mendekati ke sisi kanan peti. Telapak tangannya yang tidak diikat itu dengan susah payah menggapai gagang sebuah katup yang disembunyikan. Namun, akibat tubuhnya masih diikat, maka dia kesulitan menjangkau gagang itu.

“Sialan! Katup itu tak bisa kujangkau!” keluhnya.

Semua sisa tenaganya digunakan untuk menjangkau gagang itu. Dia tak peduli tubuhnya lecet-lecet akibat gesekan dengan dinding peti. Hal itu lebih baik ketimbang mati konyol. Dia mesti menahan sakitnya. 

Dia ingin melipat tubuhnya, dengan lutut menyentuh kepala, dan kaki dilipat ke atas, mengikuti bentuk peti supaya bisa menjangkau katup itu. Namun tampaknya hal itu hanya sia-sia jika tubuh masih diikat. Peti itu sangat kokoh. Bahkan tulang belakangnya ada yang patah akibat dipaksakan.

“Aaah!!!” pekiknya kesakitan. Dia pun mau tak mau kembali ke posisi semula.

Sesuai dengan konsep sulapnya, setelah talinya lepas dia cukup membuka katup yang ada di sisi kanan peti. Peti besi itu memang khusus dibuat untuk sulap. Di sisi bagian kanan, ada katup kecil yang bisa dibuka dan ditutup. Katup itu menghubungkan ke sebuah lubang dalam tanah yang tak diketahui oleh penonton. Lubang yang dilapisi oleh baja itu melindunginya jika bom meledak. Tentunya hal itu untuk antisipasi jika dia tidak memiliki cukup waktu.

Setelah bom meledak, dia akan muncul ke atas lewat sekat yang sudah disiapkan dekat lubang dan kemudian muncul menyapa penonton. Tepuk tangan penonton tentu saja membuatnya bangga. Penonton akan memujinya dengan aksinya itu. Namun, kenyataannya malah sebaliknya. Penonton masih menunggunya dengan nasib yang belum jelas. Jika tangannya masih diikat, maka dia akan kesulitan membuka katupnya. Apalagi posisinya yang telentang di peti yang agak sempit.

Images

“Apakah aku akan tamat di sini?” gumamnya lemah. Detak jantungnya semakin cepat. Tenaganya kini sudah habis.

“Siapa saja, tolong aku!” pekiknya lagi lantang. 

Dia tahu kalau dia akan gagal. Namun, dia juga tidak mau mati sia-sia. Lebih baik gagal dan diselamatkan ketimbang tewas kena ledakan bom. Penonton dan fans pun akan memaklumi kondisinya. Sesungguhnya sudah banyak aksi-aksi menantang maut yang dilakukan oleh pesulap-pesulap lain yang nyatanya gagal dan diselamatkan tepat pada waktunya. Namun, semuanya tetap mendapatkan tepuk tangan penonton supaya pesulap-pesulap itu tetap semangat setelah gagal, tidak putus asa.

Tik! Tik! Tik! Tik!

Alunan detik bom waktu semakin cepat. Menandakan bahwa bom sesaat lagi akan meledak. Si pesulap pun semakin panik dan gelisah.

“Sialan!!! Asistenku punya dendam apa?!” pekik si pesulap. Dia sudah mulai putus asa.

BLAMMM!!!

Bom waktu pun meledak, menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Tanah-tanah bekas galian membuncah ke atas bagaikan kembang api. Penonton pun mulai menjauhi supaya tidak mengenai hujan tanah. Api sempat muncul hanya sesaat, lalu padam kembali akibat ditimbun oleh tanah.

Penonton yang menyaksikan ledakan itu menjadi kaget. Dugaan bahwa si pesulap akan muncul sebelum bom meledak tampaknya meleset. Hingga bom meledak, sang pesulap belum muncul.

Penonton mulai gelisah. Apalagi, setelah lima menit ditunggu, sang pesulap tak kunjung muncul. Bahkan pihak panitia show pun mulai kelabakan.

“Cepat! Gali tanahnya!” pekik salah satu panitia yang tampak gelisah.

Kepanikan penonton pun pecah.

***

Seolah tak mempedulikan kepanikan di sana, sang asisten wanita melangkah santai memasuki tenda milik sang pesulap. Ketukan langkahnya begitu menggoda dengan melenggak-lenggokan tubuhnya. Tatapannya begitu menakutkan.

Dia memasukkan sebuah kunci ke dalam lubang kunci laci meja sambil meletakkan sebuah pisau di atas meja. Kunci dan pisau itu didapat ketika dia mengikat sang pesulap tadi. Senyum menakutkan tak lepas di wajahnya kala melihat foto sang pesulap di atas meja.

“Semua uangmu saya ambil. Saya tahu, Anda pasti akan memecat saya. Dan saya pun sudah muak dengan Anda. Selamat menikmati kehidupan selanjutnya,” gumamnya.

-tamat-


image
Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.