Image

Kisah ini adalah salah satu kesukaan saya dan masuk dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun sayangnya, di-php oleh pihak publishing. Idenya saya dapat ketika melihat cuplikan sebuah film. Namun ini sangat beda yang ada di film itu. Saya ingin menunjukkan bahwa hal yang tak masuk akal bisa masuk akal.

Semoga sobat menikmatinya, dan jangan lupa tinggalkan komen.



==========

Malam semakin pekat di langit sana. Angel tampak asyik dengan laptop kesayangannya. Dia belum mengantuk sama sekali, padahal kini sudah pukul sebelas malam. Suasana tempat tinggal milik tantenya pun sudah sepi. Apalagi bangunan itu di kelilingi sawah. Jika malam tiba pasti sudah sunyi senyap.

Sudah menjadi kebiasaannya, jika belum mengantuk dia selalu membuka akun Facebook miliknya melalui laptop. Gadis dengan kulit putih itu sangat kecanduan dengan Facebook dan media sosial lainnya. Jika sudah asyik di depan laptop dan membuka Facebook, dia bisa lupa waktu. Bahkan, kekasih Angel dibuat keki oleh kelakuannya. Ketika sedang kencan, Angel selalu asyik membuka Facebook melalui ponselnya. Sang kekasih yang ada di depan mata pun diabaikan, meskipun Angel sempat menyahuti ucapan sang kekasih.

Demam Facebook yang melanda Angel dimulai ketika dia aktif menjadi admin di salah satu fanspage kepenulisan. Dia sibuk membalas satu-satu tiap pesan yang masuk. Dia juga selalu mengajak chat dengan anggota-anggota fanspage yang dikelolanya. Alhasil, dia memiliki lebih banyak teman di Facebook ketimbang di dunia nyata.

“Ada 98 akun yang online. Banyak juga,” gumam mahasiswi fakultas ekonomi itu. Senyumnya mengembang.

Dia mulai membalas satu-satu chat yang masuk yang jumlahnya mencapai 50 chat. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak dibuat pusing akan hal itu. Sebaliknya, dia malah santai membalas chat-chat itu.

Isi chat-nya pun macam-macam. Ada yang menanyakan keadaannya, pengumuman event kepenulisan, maupun hanya kenalan biasa saja.

“Hai, Angel. Masih melek, nih?” tulis salah satu akun dengan nama Muhammad Ali itu memulai chat.

Angel sempat membaca sekilas chat itu, namun dia tidak langsung membalasnya. Dia membalas dahulu chat-chat yang masuk sebelumnya. ”Iya, nih. Belum ngantuk,” tulis Angel ketika sudah saatnya dia membalas chat Ali. Tak lupa dia menambahkan emoticon smile.

“Saatnya bunuh Sang Admin,” tulis akun itu kembali dengan cepat.

Awalnya Angel belum mengetahui kalau akun Muhammad Ali sudah membalas lagi dengan cepat. Gadis itu kembali sibuk membalas chat-chat lain yang masuk. Kemudian, dia mulai hendak membalas chat Ali.

Dia begitu kaget membaca balasan Ali. Keningnya dilipat. Angel mengucek matanya sejenak jika dia salah membaca. Namun, tampaknya dia memang tidak salah. Si Ali memang menulis 'bunuh' di kotak chat.

“Apa maksudnya sih?” tulis Angel.

Setelah membalas chat Ali, dia melanjutkan membalas chat-chat lain. Kendati demikian, dia sangat menanti balasan Ali. Entah mengapa dia memiliki tebakan tidak enak. Padahal sebelumnya baik-baik saja.

“Aku ingin membunuhmu, Angel Edelweish,” balas Ali.

Begitu tahu Ali langsung membalas, Angel cepat-cepat membuka kotak chat-nya. Dia mengabaikan dahulu chat-chat yang lain.

Ketika membaca balasan chat milik Ali, dia kembali dibuat kaget. Entah kenapa dia sangat ketakutan dengan tulisan yang ada di kotak chat itu. Detak jantungnya mulai cepat.

“Maksudmu apaan, sih? Jangan main-main, Li,” balas Angel.

Angel mencoba positive thinking. Siapa tahu saja Ali memang sedang iseng dan mencoba menggodanya. Lagipula, selama ini di Facebook, dia mengenal Ali sebagai pemuda yang jahil dan suka menggodanya. Tiap Angel meng-update status, pasti akan ditanggapi oleh Ali. Bahkan biasanya tanggapan dia tidak sesuai dengan isi statusnya.

Kali ini Angel tetap membuka kotak chat milik Ali. Chat-chat yang lain dia abaikan dulu.

“Aku gak main-main, Angel. Aku sangat gatal ingin membunuhmu,” balas Ali.

Begitu chat Ali masuk, cepat-cepat Angel membalasnya. “Udah deh, Li. Jangan main-main. Gak lucu!”

Angel memang mesti positive thinking. Ali tampaknya tidak sungguh-sungguh melakukan hal yang menakutkan itu. Lagipula Angel sama sekali tidak mengenal Ali di dunia nyata. Dia hanya teman di dunia maya, tidak lebih.

“Mau lucu atau gak lucu, aku akan tetap membunuhmu,” balas Ali.

“Up to you, deh! Aku jadi malas sama kamu!” balas Angel. Dia sudah tidak tahan lagi dengan candaan Ali yang tidak lucu itu. Dia pun ingin end chat dengan Ali dan melanjutkan membalas chat-chat lain.

“Hahaha! Jangan galak gitu, ah. Kasihan si Yandi,” balas Ali cepat.

Mata Angel melotot melihat nama yang ditulis oleh Ali. Sejuta tanya mulai menghinggapi. Kenapa Ali bisa tahu tentang Yandi? Namun, dia mesti tetap tenang. Jangan mudah kena jebakan. Mungkin saja Ali asal sebut nama. Dia mencoba tetap positive thinking.

“Yandi siapa?” tanya Angel. Niatnya untuk end chat pun dibatalkan.

“Jangan sok polos, Angel. Yandi itu selingkuhanmu di dunia maya. Tepatnya di Path dan Skype,” balas Ali.

Deg! Jantung Angel bagai mau copot ketika membaca balasan Ali. Lagi-lagi dia dibuat kaget oleh teman chat-nya itu.

Sejuta tanya kembali menghinggapi gadis itu. Kenapa Ali bisa tahu tentang Yandi? Apakah akun miliknya sudah dibajak oleh Ali? Apakah Ali mengutak-atik akun Path, Skype, bahkan Facebook miliknya ini? Angel tak tahu pasti kenapa Ali bisa mengetahuinya.

Yang membuatnya cemas adalah, bagaimana jika Mike, kekasihnya tahu tentang hal ini? Bagaimana jika Ali mengatakan tentang selingkuhannya itu kepada Mike? Angel tahu pasti jika Mike mengenal Ali di dunia maya. Sebab, lewat Mike-lah Angel bisa mengenal Ali dan kemudian menjadi teman di Facebook. Semua itu sangat mencemaskannya.

“Kenapa tidak dibalas?” tulis Ali lagi, “takut, ya?”

Angel tak tahu mesti membalas apa. Otaknya mulai dipaksa untuk menemukan pemecahan masalah ini.

Tiba-tiba, dia menemukan ide. Diambilnya ponselnya yang diletakkan di atas meja di dekatnya. Dia menekan tombol-tombol angka, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.

“Halo, Yandi. Maaf ganggu kamu malam-malam. Apakah akun sosial media kamu ada yang membajaknya? Hmmm ... apa? Gak ada? Coba cek saja siapa tahu ada yang mencoba mengacak-acak akunmu,” ucap Angel cepat dengan napas yang mulai tak menentu.

“Sedang menelepon Yandi, kan? Kok gak pakai kata-kata yang manis, sih? Kayak mau ditangkap polisi saja,” tulis Ali di kotak chat.

Angel yang sedang menelepon Yandi itu menjadi diam. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya, seolah ada batu yang menyumpal mulutnya. Pandangan matanya pun tak lepas ke laptop miliknya.

Dia mematikan sambungan telepon tiba-tiba tanpa meminta izin dahulu kepada Yandi. Tangannya mulai mengetik di atas papan ketik.

“Kamu siapa, sih? Kok bisa tahu kalau aku menelepon Yandi?” tulis Angel. Sejenak dia mencoba menenangkan kepalanya yang kalang kabut. Entah mengapa dia mengalami kejadian aneh begini. Dia ingin semoga ini hanya mimpi.

Matanya membulat ketika melihat tulisan chat miliknya. Dia langsung menepuk dahinya. “Aduh, bego bego! Kenapa aku nulis begitu, ya?! Itu malah bikin aku semakin ketahuan selingkuh!” sesalnya.

“Hahaha! Jadi kamu memang selingkuh dengan Yandi. Mau diapakan si Mike, Angel?” balas Ali.

Balasan Ali itu bagaikan menyesakkan dada Angel. Dia menyesal sudah melakukan kesalahan fatal, keceplosan di saat yang tidak tepat. Dia juga masih tetap tidak paham, kenapa Ali bisa mengetahui tentang selingkuhannya. Dan yang membuatnya pusing tujuh keliling, kenapa Ali bisa tahu kalau Angel sedang menelepon Yandi? Padahal dia sedang tidak melakukan video call.

“Ketahuilah, Angel. Mike sangat mencintaimu. Dia nyata untukmu. Kenapa kamu malah menyia-nyiakan waktumu hanya untuk lelaki yang belum jelas wujud dan asal-usulnya? Bahkan kamu tak tahu apa yang sedang dilakukan Yandi saat ini. Bisa saja dia sedang memadu kasih dengan wanita lain,” tulis Ali.

Emosi Angel memuncak. Dia tidak suka di-judge demikian. Tangannya mengetik cepat di atas papan ketik untuk membalas chat Ali. Dia sudah tak peduli lagi dengan chat-chat yang lain. Padahal sejak tadi laptopnya selalu muncul bunyi beepakibat ada chat-chat lain yang masuk.

“Kamu tahu apa tentang kehidupanku? Ini masalahku dan jalan hidupku! Kamu jangan sok-sok menghakimi kehidupanku! Jalani dulu saja hidupmu yang masih belum jelas itu!” balas Angel sebal.

Detak jantung Angel semakin kencang, ditambah peluh dingin yang membasahi wajahnya. Dia kini sudah tak peduli lagi selingkuhannya akan ketahuan atau tidak. Asalkan Ali tidak mengatakannya kepada Mike, maka itu masih dikatakan aman. Lagipula, Mike tidak mungkin memakan bulat-bulat ucapan Ali yang ada di dunia maya.

“Hahaha! Aku tahu kehidupanmu, Angel. Kamu anak tunggal yang kuliah di Bandung fakultas ekonomi. Tasikmalaya adalah kota asalmu. Di Bandung kamu menumpang tinggal di kediaman tantemu, yang notabene adalah pengusaha sawah. Usiamu 23 tahun. Kamu menyukai dunia tulis-menulis sejak awal kuliah dan menjadi salah satu admin di fanspage Facebook yakni Dunia Tulis. Kamu belum menghasilkan satupun buku novel, yang ada hanya buku-buku antologi indie. Itu pun hanya dua buku. Hal itu disebabkan oleh kesibukanmu dengan tugas sebagai admin, dan tugasmu sebagai selingkuhan Yandi. Tugasmu sebagai kekasih Mike? Mungkin hanya kamuflase saja. Padahal kamu sudah menjalin hubungan dengan Mike selama 3 tahun. Entah jika dengan Yandi,” balas Ali panjang. “Apakah aku salah?” imbuhnya.


Image

Angel dibuat mati kutu oleh chat Ali yang panjang itu. Untuk sejenak napasnya sangat sesak, sulit untuk diembuskan. Bahkan tiap-tiap sendi tulangnya bagai membatu, kaku. Peluh dingin tak henti-hentinya membasahi wajah dan tubuhnya. Padahal suasana malam itu cukup dingin. Dia tak ubahnya bagaikan napi yang sedang menanti vonis ketuk palu hakim.

Suasana tempat tinggal milik tantenya yang dia tumpangi selama kuliah mulai tidak nyaman. Apalagi dia tahu jika tantenya dan suaminya itu sedang tidak ada di situ. Keduanya sedang di Sukabumi sebab adiknya suami tantenya itu meninggal. Jadi dia diminta untuk menjaga tempat kediaman tantenya itu. Jelas hal itu sangat menakutkan baginya.

Mata lentik Angel memandang ke sekeliling. Dia mencium gelagat yang tidak baik. Dia seolah sedang diawasi. Apalagi bangunan yang dikelilingi oleh sawah ini bisa disusupi siapa saja dengan mudah. Maklum, suami tantenya ini pemilik sawah yang lumayan luas.

“Sebetulnya kamu siapa, sih? Kenapa kamu bisa mengetahui semua tentang aku?” ketik Angel untuk membalas. Kepalanya pusing jika menemukan jawabannya.

“Siapa aku itu tidak penting. Yang penting kini adalah, aku mesti membunuhmu,” balas Ali.

Deg! Detak jantung Angel semakin cepat. Dia mulai ketakutan dengan kata-kata yang ditulis oleh Ali itu, dan juga kembali mengingat niatan Ali di awal chat tadi. Kini dia tidak takut lagi jika ketahuan selingkuh oleh Mike. Yang ditakutinya kini adalah takut dibunuh. Meskipun begitu, dia mesti tetap tenang. Jangan sampai dia dijadikan bulan-bulanan Ali melalui dunia maya.

“Membunuhku? Memangnya kamu bisa? Tempat tinggalmu saja di Kalimantan sana tepatnya di Pontianak, sedangkan aku di Jawa. Kita dipisahkan oleh lautan. Jadi, mana mungkin kamu bisa membunuhku,” balas Angel. Dia mulai sedikit lega dengan menulis itu. Lagipula suatu hal mustahil jika Ali bisa membunuhnya.

“Kamu yakin kalau aku gak bisa membunuhmu?” balas Ali cepat.

Angel melihat kalau itu semacam tantangan. Namun, bisa apa dunia maya mengancam dunia nyata? Memang sih ada kasus-kasus penipuan di dunia maya yang menyebabkan kemalangan di dunia nyata. Namun dalam masalah ini, Angel sangat yakin jika itu hal yang mustahil.

“Yakin banget, dong! Meskipun posisimu kini sedang ada di pulau Jawa, atau mungkin tepatnya di Bandung, kamu tak akan tahu tempatku. Dan juga mana mungkin Mike mengatakan kepadamu di mana alamatku. Pasti dia akan mengatakannya dulu kepadaku,” balas Angel dengan penuh semangat. Kali ini dia yakin akan menang, meskipun ini bukan sebuah kompetisi. Ketakutan yang sempat melandanya kini hilang setelah membalas chat Ali. Senyumnya pun mengembang.

“Hahaha! Meskipun kamu di Jawa sana, aku tetap bisa membunuhmu,” balas Ali cepat.

Angel semakin dibuat ketakutan. Dia mulai menduga jika Ali menggunakan jasa dukun untuk menyantetnya. Lagipula, bagaimana bisa Ali yang jauh di Kalimantan sana bisa membunuhnya? Lain halnya jika menggunakan santet bantuan dukun. Meskipun begitu, Angel tetap optimis jika Ali tidak akan menyantetnya. Lagipula, di zaman yang sudah canggih begini, dukun sudah menjadi takhayul.

Ketika hendak menulis balasan Ali, tampaknya Ali mulai membalas lagi.Apa kamu suka kejutan, Angel?” balas Ali.

“Maksudmu?” ketik Angel.

“Pasang telinga baik-baik. Awas kaca pecah.”

Deg! Detak jantung Angel kembali cepat. Lagi dan lagi dia dibuat kaget oleh chat Ali.

Tuk tuk tuk ... Claaang!

Angel melonjak kaget kala ada bunyi jendela depan diketuk-ketuk lalu dipecahkan. Jantungnya bagaikan mau copot. Dengan cepat dia langsung mendekati jendela yang dimaksud, tak lupa laptopnya dibawa. Tiba di tempat khusus tamu, dia menyibak kain penutup jendela. Laptopnya disimpan di atas meja.

“Awww!” pekik Angel kesakitan.

Telapak kakinya menginjak pecahan kaca dan melukainya. Dia tak tahu kalau pecahan kacanya ada di dalam saking kaget dan panik. Kaca jendela itu kini meninggalkan lubang pecahan yang cukup menganga.

“Siapa yang mecahin kaca jendelaku?!” pekik Angel lagi ketika menatap jendelanya yang pecah.

Mengetahui tak ada sahutan, Angel membuka pintu supaya bisa menemukan si pemecah jendela. matanya awas menatap sekeliling, ke jalan depan yang sepi, halaman depan, dan sawah milik suami tantenya.

Sayangnya, Angel tidak menemukan apa-apa di situ selain angin malam yang dingin membelai kulitnya yang halus. Jalanan pun sepi. Kemudian dia masuk kembali dan menutup pintu. Dia langsung mendekati laptopnya. Di situ sudah ada balasan. Dia kini duduk di sofa tamu.
 
“Bagaimana kejutannya? Aku bisa melihat wajahmu yang ketakutan,” tulis Ali dengan ditambahkan emoticon devil sebanyak tiga buah.

“Tolong hentikan semua ini, Li. Jangan canda melulu, ah. Gak lucu,” balas Angel ketakutan.

“Siapa juga yang canda. Aku hanya ingin membunuhmu,” sahut Ali di kotak chat.

“Apa salahku sama kamu sehingga kamu mau membunuhku?” tanya Angel. Kini dia sudah lemas. Dia tak tahu lagi mesti bagaimana menghadapi masalah ini. Otaknya sudah kelelahan akibat dipaksa menemukan jawaban yang tak bisa dipahami. Apalagi dia sedang diancam akan dibunuh.

Angel menatap jendela yang pecah sesaat. Di benaknya melintas tentang siapa pelaku yang memecahkan kaca jendelanya. Timing-nya sangat pas ketika Ali menulis chat kaca pecah. Mustahil jika Ali yang melakukan hal itu. Lain halnya jika ada yang membantunya.

Dia semakin ketakutan. Meskipun ada yang membantunya, kenapa Ali bisa tahu tempat tinggalnya?

“Salahmu? Banyak sekali, Angel,” balas Ali.

“Ali, tolong hentikan semua ini. Gak lucu. Kalau aku memang punya banyak salah sama kamu, aku minta maaf,” tulis Angel.

“Tidak semudah itu. Kamu mesti mati. Kamu siap untuk kejutan selanjutnya, Angel?” balas Ali.

Deg! Detak jantung Angel semakin cepat, bagaikan bunyi gendang yang dipukul-pukul. Kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh teman dunia mayanya itu?

“Awas lampu mati,” tulis Ali lagi.

Pets!

Lampu kediaman Angel tiba-tiba padam. Kegelapan menyambutnya. Hanya laptopnya satu-satunya cahaya yang membantu penglihatannya. Dia pun menjadi panik dan gelisah. Napasnya tak menentu.

Dia langsung bangkit dan mendekati pintu. Gadis itu menekan-nekan tombol lampu di samping pintu. Namun lampunya tak mau juga menyala.

Tok tok tok!

Ketukan di pintu mengagetkannya. Dengan langkah pelan dia menjauhi pintu. Pandangannya tetap menatap gagang pintu dengan sangat ketakutan. Wajahnya basah kuyup akibat peluh dingin.

Tok tok tok ...! Clang!

Kaca di samping pintu dipecahkan. Hal itu jelas mengagetkan Angel. Tiba-tiba, sebuah tangan masuk ke dalam melalui lubang pecahan kaca itu, lalu membuka kunci pintunya. Angel sama sekali tak bisa apa-apa akibat suasana yang gelap.

Pintu pun dibuka dan sesosok manusia yang masuk ke dalam. Dia membawa sebuah pentungan bisbol.

Image

“AAAHHH!!!” pekik Angel yang kaget dan ketakutan setengah mati.

BUAAAK!

Kepala Angel dihantam oleh pentungan bisbol, meninggalkan luka di kepala yang fatal. Gadis itu langsung limbung ke lantai, lalu diam. Nyawanya melayang sudah.

Tampaknya si pemukul Angel belum puas sampai di situ. Dia memukul-mukul kembali kepala gadis malang yang sudah menjadi mayat itu. Kepalanya mengalami luka di mana-mana.

Setelah puas, sosok itu menatap laptop milik Angel yang masih menyala. Dia mengambil ponsel miliknya, lalu mengeklik tulisan logout di ponselnya. Kemudian, dia menekan tombol-tombol angka dan mendekatkannya ke telinganya.

“Halo, Ali? Ini aku Mike. Aku sudah mengeksekusinya malam ini. Mumpung tante dan pamannya sedang tak ada di sini. Makasih ya atas peminjaman akun Facebook-mu. Dengan begitu, aku bisa dapat cukup bukti bahwa Angel memang selingkuh dengan lelaki lain di dunia maya. Sungguh sangat disesalkan. Sebetulnya sudah lama aku muak dengan kelakuan aneh cewek ini dan tanganku gatal sekali ingin menghabisinya. Dan dugaanku tidak salah, dia memang selingkuh dengan lelaki lain di dunia maya. Jelas itu bikin aku sakit hati sekali. Lebih baik, kamu ganti kata sandi Facebook-mu, Li. Facebook-mu kini sudah aku log out. Takutnya aku membuka-buka lagi Facebook-mu. Dan hapus juga akun Angel di Facebook-mu. Tenang saja, chat-mu dengan Angel akan kuhapus melalui laptopnya ini demi menghilangkan jejak. Kujamin tak ada siapapun yang tahu tentang hal ini selain kita. Mulai kini kita jangan saling sapa dan anggap saja kita tidak saling kenal, demi keamanan. Sekali lagi makasih ya, Li. Maaf sudah ganggu dan melibatkan kamu. Good luck.”

-tamat-

image

Facebook Chat


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image

Kisah ini adalah salah satu kesukaan saya dan masuk dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun sayangnya, di-php oleh pihak publishing. Idenya saya dapat ketika melihat cuplikan sebuah film. Namun ini sangat beda yang ada di film itu. Saya ingin menunjukkan bahwa hal yang tak masuk akal bisa masuk akal.

Semoga sobat menikmatinya, dan jangan lupa tinggalkan komen.



==========

Malam semakin pekat di langit sana. Angel tampak asyik dengan laptop kesayangannya. Dia belum mengantuk sama sekali, padahal kini sudah pukul sebelas malam. Suasana tempat tinggal milik tantenya pun sudah sepi. Apalagi bangunan itu di kelilingi sawah. Jika malam tiba pasti sudah sunyi senyap.

Sudah menjadi kebiasaannya, jika belum mengantuk dia selalu membuka akun Facebook miliknya melalui laptop. Gadis dengan kulit putih itu sangat kecanduan dengan Facebook dan media sosial lainnya. Jika sudah asyik di depan laptop dan membuka Facebook, dia bisa lupa waktu. Bahkan, kekasih Angel dibuat keki oleh kelakuannya. Ketika sedang kencan, Angel selalu asyik membuka Facebook melalui ponselnya. Sang kekasih yang ada di depan mata pun diabaikan, meskipun Angel sempat menyahuti ucapan sang kekasih.

Demam Facebook yang melanda Angel dimulai ketika dia aktif menjadi admin di salah satu fanspage kepenulisan. Dia sibuk membalas satu-satu tiap pesan yang masuk. Dia juga selalu mengajak chat dengan anggota-anggota fanspage yang dikelolanya. Alhasil, dia memiliki lebih banyak teman di Facebook ketimbang di dunia nyata.

“Ada 98 akun yang online. Banyak juga,” gumam mahasiswi fakultas ekonomi itu. Senyumnya mengembang.

Dia mulai membalas satu-satu chat yang masuk yang jumlahnya mencapai 50 chat. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak dibuat pusing akan hal itu. Sebaliknya, dia malah santai membalas chat-chat itu.

Isi chat-nya pun macam-macam. Ada yang menanyakan keadaannya, pengumuman event kepenulisan, maupun hanya kenalan biasa saja.

“Hai, Angel. Masih melek, nih?” tulis salah satu akun dengan nama Muhammad Ali itu memulai chat.

Angel sempat membaca sekilas chat itu, namun dia tidak langsung membalasnya. Dia membalas dahulu chat-chat yang masuk sebelumnya. ”Iya, nih. Belum ngantuk,” tulis Angel ketika sudah saatnya dia membalas chat Ali. Tak lupa dia menambahkan emoticon smile.

“Saatnya bunuh Sang Admin,” tulis akun itu kembali dengan cepat.

Awalnya Angel belum mengetahui kalau akun Muhammad Ali sudah membalas lagi dengan cepat. Gadis itu kembali sibuk membalas chat-chat lain yang masuk. Kemudian, dia mulai hendak membalas chat Ali.

Dia begitu kaget membaca balasan Ali. Keningnya dilipat. Angel mengucek matanya sejenak jika dia salah membaca. Namun, tampaknya dia memang tidak salah. Si Ali memang menulis 'bunuh' di kotak chat.

“Apa maksudnya sih?” tulis Angel.

Setelah membalas chat Ali, dia melanjutkan membalas chat-chat lain. Kendati demikian, dia sangat menanti balasan Ali. Entah mengapa dia memiliki tebakan tidak enak. Padahal sebelumnya baik-baik saja.

“Aku ingin membunuhmu, Angel Edelweish,” balas Ali.

Begitu tahu Ali langsung membalas, Angel cepat-cepat membuka kotak chat-nya. Dia mengabaikan dahulu chat-chat yang lain.

Ketika membaca balasan chat milik Ali, dia kembali dibuat kaget. Entah kenapa dia sangat ketakutan dengan tulisan yang ada di kotak chat itu. Detak jantungnya mulai cepat.

“Maksudmu apaan, sih? Jangan main-main, Li,” balas Angel.

Angel mencoba positive thinking. Siapa tahu saja Ali memang sedang iseng dan mencoba menggodanya. Lagipula, selama ini di Facebook, dia mengenal Ali sebagai pemuda yang jahil dan suka menggodanya. Tiap Angel meng-update status, pasti akan ditanggapi oleh Ali. Bahkan biasanya tanggapan dia tidak sesuai dengan isi statusnya.

Kali ini Angel tetap membuka kotak chat milik Ali. Chat-chat yang lain dia abaikan dulu.

“Aku gak main-main, Angel. Aku sangat gatal ingin membunuhmu,” balas Ali.

Begitu chat Ali masuk, cepat-cepat Angel membalasnya. “Udah deh, Li. Jangan main-main. Gak lucu!”

Angel memang mesti positive thinking. Ali tampaknya tidak sungguh-sungguh melakukan hal yang menakutkan itu. Lagipula Angel sama sekali tidak mengenal Ali di dunia nyata. Dia hanya teman di dunia maya, tidak lebih.

“Mau lucu atau gak lucu, aku akan tetap membunuhmu,” balas Ali.

“Up to you, deh! Aku jadi malas sama kamu!” balas Angel. Dia sudah tidak tahan lagi dengan candaan Ali yang tidak lucu itu. Dia pun ingin end chat dengan Ali dan melanjutkan membalas chat-chat lain.

“Hahaha! Jangan galak gitu, ah. Kasihan si Yandi,” balas Ali cepat.

Mata Angel melotot melihat nama yang ditulis oleh Ali. Sejuta tanya mulai menghinggapi. Kenapa Ali bisa tahu tentang Yandi? Namun, dia mesti tetap tenang. Jangan mudah kena jebakan. Mungkin saja Ali asal sebut nama. Dia mencoba tetap positive thinking.

“Yandi siapa?” tanya Angel. Niatnya untuk end chat pun dibatalkan.

“Jangan sok polos, Angel. Yandi itu selingkuhanmu di dunia maya. Tepatnya di Path dan Skype,” balas Ali.

Deg! Jantung Angel bagai mau copot ketika membaca balasan Ali. Lagi-lagi dia dibuat kaget oleh teman chat-nya itu.

Sejuta tanya kembali menghinggapi gadis itu. Kenapa Ali bisa tahu tentang Yandi? Apakah akun miliknya sudah dibajak oleh Ali? Apakah Ali mengutak-atik akun Path, Skype, bahkan Facebook miliknya ini? Angel tak tahu pasti kenapa Ali bisa mengetahuinya.

Yang membuatnya cemas adalah, bagaimana jika Mike, kekasihnya tahu tentang hal ini? Bagaimana jika Ali mengatakan tentang selingkuhannya itu kepada Mike? Angel tahu pasti jika Mike mengenal Ali di dunia maya. Sebab, lewat Mike-lah Angel bisa mengenal Ali dan kemudian menjadi teman di Facebook. Semua itu sangat mencemaskannya.

“Kenapa tidak dibalas?” tulis Ali lagi, “takut, ya?”

Angel tak tahu mesti membalas apa. Otaknya mulai dipaksa untuk menemukan pemecahan masalah ini.

Tiba-tiba, dia menemukan ide. Diambilnya ponselnya yang diletakkan di atas meja di dekatnya. Dia menekan tombol-tombol angka, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.

“Halo, Yandi. Maaf ganggu kamu malam-malam. Apakah akun sosial media kamu ada yang membajaknya? Hmmm ... apa? Gak ada? Coba cek saja siapa tahu ada yang mencoba mengacak-acak akunmu,” ucap Angel cepat dengan napas yang mulai tak menentu.

“Sedang menelepon Yandi, kan? Kok gak pakai kata-kata yang manis, sih? Kayak mau ditangkap polisi saja,” tulis Ali di kotak chat.

Angel yang sedang menelepon Yandi itu menjadi diam. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya, seolah ada batu yang menyumpal mulutnya. Pandangan matanya pun tak lepas ke laptop miliknya.

Dia mematikan sambungan telepon tiba-tiba tanpa meminta izin dahulu kepada Yandi. Tangannya mulai mengetik di atas papan ketik.

“Kamu siapa, sih? Kok bisa tahu kalau aku menelepon Yandi?” tulis Angel. Sejenak dia mencoba menenangkan kepalanya yang kalang kabut. Entah mengapa dia mengalami kejadian aneh begini. Dia ingin semoga ini hanya mimpi.

Matanya membulat ketika melihat tulisan chat miliknya. Dia langsung menepuk dahinya. “Aduh, bego bego! Kenapa aku nulis begitu, ya?! Itu malah bikin aku semakin ketahuan selingkuh!” sesalnya.

“Hahaha! Jadi kamu memang selingkuh dengan Yandi. Mau diapakan si Mike, Angel?” balas Ali.

Balasan Ali itu bagaikan menyesakkan dada Angel. Dia menyesal sudah melakukan kesalahan fatal, keceplosan di saat yang tidak tepat. Dia juga masih tetap tidak paham, kenapa Ali bisa mengetahui tentang selingkuhannya. Dan yang membuatnya pusing tujuh keliling, kenapa Ali bisa tahu kalau Angel sedang menelepon Yandi? Padahal dia sedang tidak melakukan video call.

“Ketahuilah, Angel. Mike sangat mencintaimu. Dia nyata untukmu. Kenapa kamu malah menyia-nyiakan waktumu hanya untuk lelaki yang belum jelas wujud dan asal-usulnya? Bahkan kamu tak tahu apa yang sedang dilakukan Yandi saat ini. Bisa saja dia sedang memadu kasih dengan wanita lain,” tulis Ali.

Emosi Angel memuncak. Dia tidak suka di-judge demikian. Tangannya mengetik cepat di atas papan ketik untuk membalas chat Ali. Dia sudah tak peduli lagi dengan chat-chat yang lain. Padahal sejak tadi laptopnya selalu muncul bunyi beepakibat ada chat-chat lain yang masuk.

“Kamu tahu apa tentang kehidupanku? Ini masalahku dan jalan hidupku! Kamu jangan sok-sok menghakimi kehidupanku! Jalani dulu saja hidupmu yang masih belum jelas itu!” balas Angel sebal.

Detak jantung Angel semakin kencang, ditambah peluh dingin yang membasahi wajahnya. Dia kini sudah tak peduli lagi selingkuhannya akan ketahuan atau tidak. Asalkan Ali tidak mengatakannya kepada Mike, maka itu masih dikatakan aman. Lagipula, Mike tidak mungkin memakan bulat-bulat ucapan Ali yang ada di dunia maya.

“Hahaha! Aku tahu kehidupanmu, Angel. Kamu anak tunggal yang kuliah di Bandung fakultas ekonomi. Tasikmalaya adalah kota asalmu. Di Bandung kamu menumpang tinggal di kediaman tantemu, yang notabene adalah pengusaha sawah. Usiamu 23 tahun. Kamu menyukai dunia tulis-menulis sejak awal kuliah dan menjadi salah satu admin di fanspage Facebook yakni Dunia Tulis. Kamu belum menghasilkan satupun buku novel, yang ada hanya buku-buku antologi indie. Itu pun hanya dua buku. Hal itu disebabkan oleh kesibukanmu dengan tugas sebagai admin, dan tugasmu sebagai selingkuhan Yandi. Tugasmu sebagai kekasih Mike? Mungkin hanya kamuflase saja. Padahal kamu sudah menjalin hubungan dengan Mike selama 3 tahun. Entah jika dengan Yandi,” balas Ali panjang. “Apakah aku salah?” imbuhnya.


Image

Angel dibuat mati kutu oleh chat Ali yang panjang itu. Untuk sejenak napasnya sangat sesak, sulit untuk diembuskan. Bahkan tiap-tiap sendi tulangnya bagai membatu, kaku. Peluh dingin tak henti-hentinya membasahi wajah dan tubuhnya. Padahal suasana malam itu cukup dingin. Dia tak ubahnya bagaikan napi yang sedang menanti vonis ketuk palu hakim.

Suasana tempat tinggal milik tantenya yang dia tumpangi selama kuliah mulai tidak nyaman. Apalagi dia tahu jika tantenya dan suaminya itu sedang tidak ada di situ. Keduanya sedang di Sukabumi sebab adiknya suami tantenya itu meninggal. Jadi dia diminta untuk menjaga tempat kediaman tantenya itu. Jelas hal itu sangat menakutkan baginya.

Mata lentik Angel memandang ke sekeliling. Dia mencium gelagat yang tidak baik. Dia seolah sedang diawasi. Apalagi bangunan yang dikelilingi oleh sawah ini bisa disusupi siapa saja dengan mudah. Maklum, suami tantenya ini pemilik sawah yang lumayan luas.

“Sebetulnya kamu siapa, sih? Kenapa kamu bisa mengetahui semua tentang aku?” ketik Angel untuk membalas. Kepalanya pusing jika menemukan jawabannya.

“Siapa aku itu tidak penting. Yang penting kini adalah, aku mesti membunuhmu,” balas Ali.

Deg! Detak jantung Angel semakin cepat. Dia mulai ketakutan dengan kata-kata yang ditulis oleh Ali itu, dan juga kembali mengingat niatan Ali di awal chat tadi. Kini dia tidak takut lagi jika ketahuan selingkuh oleh Mike. Yang ditakutinya kini adalah takut dibunuh. Meskipun begitu, dia mesti tetap tenang. Jangan sampai dia dijadikan bulan-bulanan Ali melalui dunia maya.

“Membunuhku? Memangnya kamu bisa? Tempat tinggalmu saja di Kalimantan sana tepatnya di Pontianak, sedangkan aku di Jawa. Kita dipisahkan oleh lautan. Jadi, mana mungkin kamu bisa membunuhku,” balas Angel. Dia mulai sedikit lega dengan menulis itu. Lagipula suatu hal mustahil jika Ali bisa membunuhnya.

“Kamu yakin kalau aku gak bisa membunuhmu?” balas Ali cepat.

Angel melihat kalau itu semacam tantangan. Namun, bisa apa dunia maya mengancam dunia nyata? Memang sih ada kasus-kasus penipuan di dunia maya yang menyebabkan kemalangan di dunia nyata. Namun dalam masalah ini, Angel sangat yakin jika itu hal yang mustahil.

“Yakin banget, dong! Meskipun posisimu kini sedang ada di pulau Jawa, atau mungkin tepatnya di Bandung, kamu tak akan tahu tempatku. Dan juga mana mungkin Mike mengatakan kepadamu di mana alamatku. Pasti dia akan mengatakannya dulu kepadaku,” balas Angel dengan penuh semangat. Kali ini dia yakin akan menang, meskipun ini bukan sebuah kompetisi. Ketakutan yang sempat melandanya kini hilang setelah membalas chat Ali. Senyumnya pun mengembang.

“Hahaha! Meskipun kamu di Jawa sana, aku tetap bisa membunuhmu,” balas Ali cepat.

Angel semakin dibuat ketakutan. Dia mulai menduga jika Ali menggunakan jasa dukun untuk menyantetnya. Lagipula, bagaimana bisa Ali yang jauh di Kalimantan sana bisa membunuhnya? Lain halnya jika menggunakan santet bantuan dukun. Meskipun begitu, Angel tetap optimis jika Ali tidak akan menyantetnya. Lagipula, di zaman yang sudah canggih begini, dukun sudah menjadi takhayul.

Ketika hendak menulis balasan Ali, tampaknya Ali mulai membalas lagi.Apa kamu suka kejutan, Angel?” balas Ali.

“Maksudmu?” ketik Angel.

“Pasang telinga baik-baik. Awas kaca pecah.”

Deg! Detak jantung Angel kembali cepat. Lagi dan lagi dia dibuat kaget oleh chat Ali.

Tuk tuk tuk ... Claaang!

Angel melonjak kaget kala ada bunyi jendela depan diketuk-ketuk lalu dipecahkan. Jantungnya bagaikan mau copot. Dengan cepat dia langsung mendekati jendela yang dimaksud, tak lupa laptopnya dibawa. Tiba di tempat khusus tamu, dia menyibak kain penutup jendela. Laptopnya disimpan di atas meja.

“Awww!” pekik Angel kesakitan.

Telapak kakinya menginjak pecahan kaca dan melukainya. Dia tak tahu kalau pecahan kacanya ada di dalam saking kaget dan panik. Kaca jendela itu kini meninggalkan lubang pecahan yang cukup menganga.

“Siapa yang mecahin kaca jendelaku?!” pekik Angel lagi ketika menatap jendelanya yang pecah.

Mengetahui tak ada sahutan, Angel membuka pintu supaya bisa menemukan si pemecah jendela. matanya awas menatap sekeliling, ke jalan depan yang sepi, halaman depan, dan sawah milik suami tantenya.

Sayangnya, Angel tidak menemukan apa-apa di situ selain angin malam yang dingin membelai kulitnya yang halus. Jalanan pun sepi. Kemudian dia masuk kembali dan menutup pintu. Dia langsung mendekati laptopnya. Di situ sudah ada balasan. Dia kini duduk di sofa tamu.
 
“Bagaimana kejutannya? Aku bisa melihat wajahmu yang ketakutan,” tulis Ali dengan ditambahkan emoticon devil sebanyak tiga buah.

“Tolong hentikan semua ini, Li. Jangan canda melulu, ah. Gak lucu,” balas Angel ketakutan.

“Siapa juga yang canda. Aku hanya ingin membunuhmu,” sahut Ali di kotak chat.

“Apa salahku sama kamu sehingga kamu mau membunuhku?” tanya Angel. Kini dia sudah lemas. Dia tak tahu lagi mesti bagaimana menghadapi masalah ini. Otaknya sudah kelelahan akibat dipaksa menemukan jawaban yang tak bisa dipahami. Apalagi dia sedang diancam akan dibunuh.

Angel menatap jendela yang pecah sesaat. Di benaknya melintas tentang siapa pelaku yang memecahkan kaca jendelanya. Timing-nya sangat pas ketika Ali menulis chat kaca pecah. Mustahil jika Ali yang melakukan hal itu. Lain halnya jika ada yang membantunya.

Dia semakin ketakutan. Meskipun ada yang membantunya, kenapa Ali bisa tahu tempat tinggalnya?

“Salahmu? Banyak sekali, Angel,” balas Ali.

“Ali, tolong hentikan semua ini. Gak lucu. Kalau aku memang punya banyak salah sama kamu, aku minta maaf,” tulis Angel.

“Tidak semudah itu. Kamu mesti mati. Kamu siap untuk kejutan selanjutnya, Angel?” balas Ali.

Deg! Detak jantung Angel semakin cepat, bagaikan bunyi gendang yang dipukul-pukul. Kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh teman dunia mayanya itu?

“Awas lampu mati,” tulis Ali lagi.

Pets!

Lampu kediaman Angel tiba-tiba padam. Kegelapan menyambutnya. Hanya laptopnya satu-satunya cahaya yang membantu penglihatannya. Dia pun menjadi panik dan gelisah. Napasnya tak menentu.

Dia langsung bangkit dan mendekati pintu. Gadis itu menekan-nekan tombol lampu di samping pintu. Namun lampunya tak mau juga menyala.

Tok tok tok!

Ketukan di pintu mengagetkannya. Dengan langkah pelan dia menjauhi pintu. Pandangannya tetap menatap gagang pintu dengan sangat ketakutan. Wajahnya basah kuyup akibat peluh dingin.

Tok tok tok ...! Clang!

Kaca di samping pintu dipecahkan. Hal itu jelas mengagetkan Angel. Tiba-tiba, sebuah tangan masuk ke dalam melalui lubang pecahan kaca itu, lalu membuka kunci pintunya. Angel sama sekali tak bisa apa-apa akibat suasana yang gelap.

Pintu pun dibuka dan sesosok manusia yang masuk ke dalam. Dia membawa sebuah pentungan bisbol.

Image

“AAAHHH!!!” pekik Angel yang kaget dan ketakutan setengah mati.

BUAAAK!

Kepala Angel dihantam oleh pentungan bisbol, meninggalkan luka di kepala yang fatal. Gadis itu langsung limbung ke lantai, lalu diam. Nyawanya melayang sudah.

Tampaknya si pemukul Angel belum puas sampai di situ. Dia memukul-mukul kembali kepala gadis malang yang sudah menjadi mayat itu. Kepalanya mengalami luka di mana-mana.

Setelah puas, sosok itu menatap laptop milik Angel yang masih menyala. Dia mengambil ponsel miliknya, lalu mengeklik tulisan logout di ponselnya. Kemudian, dia menekan tombol-tombol angka dan mendekatkannya ke telinganya.

“Halo, Ali? Ini aku Mike. Aku sudah mengeksekusinya malam ini. Mumpung tante dan pamannya sedang tak ada di sini. Makasih ya atas peminjaman akun Facebook-mu. Dengan begitu, aku bisa dapat cukup bukti bahwa Angel memang selingkuh dengan lelaki lain di dunia maya. Sungguh sangat disesalkan. Sebetulnya sudah lama aku muak dengan kelakuan aneh cewek ini dan tanganku gatal sekali ingin menghabisinya. Dan dugaanku tidak salah, dia memang selingkuh dengan lelaki lain di dunia maya. Jelas itu bikin aku sakit hati sekali. Lebih baik, kamu ganti kata sandi Facebook-mu, Li. Facebook-mu kini sudah aku log out. Takutnya aku membuka-buka lagi Facebook-mu. Dan hapus juga akun Angel di Facebook-mu. Tenang saja, chat-mu dengan Angel akan kuhapus melalui laptopnya ini demi menghilangkan jejak. Kujamin tak ada siapapun yang tahu tentang hal ini selain kita. Mulai kini kita jangan saling sapa dan anggap saja kita tidak saling kenal, demi keamanan. Sekali lagi makasih ya, Li. Maaf sudah ganggu dan melibatkan kamu. Good luck.”

-tamat-

image

Bagikan
  1. ngeri.... :( ... btw mantap juga jalan ceritanya bikin merinding

    ReplyDelete
  2. diphp pihak publising ya? kejar terus om publisingnya, jangan sampe berhenti di tengah jalan.

    ngomong2 ceritanya keren, jarang-jarang saya nemu blogger asli yang memanfaatkan blognya untuk menulis cerita, apalagi tema thriller. biasanya saya lihat mereka nulis di facebook.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, makasih gan. Ane cuma menyaurkan hobi menulis aja.

      Delete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.