image

Tulisan ini adalah hasil duet saya dengan Nia untuk diposting di Facebook. Oke, langsung saja membaca dan jangan lupa tinggalkan komennya.


==========
Aku sudah putus asa. Ini hidup atau uji nyali? Ke mana-mana tidak ada yang menemani. Aku mendesis kesal. Mungkin ini kutukan. Bahkan aku sempat dicopet. Tapi untung saja dompetku selamat. Yah, mungkin cuma itu untungnya. Sisanya selalu apes.

Aku singgah sejenak di sebuah kedai kopi, mengambil bangku pojok dekat jendela dan duduk di sana. Di sini, aku bisa memandang sekeliling yang basah. Jalan,  pepohonan,  dan tampak kota yang lengang tak banyak aktivitas akibat tumpahan hujan. Kulihat kedai mulai sepi hanya dua atau tiga pasang yang masih tinggal,  menikmati kopi sambil sesekali melepas tawa. Aku menghela napas, duniaku sungguh kecil. Di mana tawa,  senyum, dan kebahagiaan?

Ah, tampaknya ini memang kesialanku. Sang pedagang kopi tak mengindahkan pesananku. Bahkan mungkin tak peduli ada aku di sini. Dia hanya melamun, melamun, dan melamun. Entahlah, apakah dia punya hutang yang banyak dan sepi pelanggan? Walau begitu, tetap mesti melayani pembeli layaknya aku ini.

"Bapak melamun aja kenapa?" tanya salah satu pembeli kepada si penjual.

"Anak saya dibunuh copet. Hape dan dompetnya diambil semua," sahut si penjual setengah baya dan kepala botak itu.

"Ya ampun, Pak. Pencopetnya emang kejam, udah kayak begal saja. Yang tabah ya, Pak."

"Iya, Mas," sahut si penjual.

Oke, ini membuatku kesal juga. Memang hidupku sudah sial, tak ada yang mau mempedulikan lagi. Mungkin lebih baik aku pulang saja ketimbang memendam emosi tak jelas di sini. Hujan sudah tandas namun jalanan masih lembab. Bunyi sepatuku ini bagai decitan yang menggaung--mengusik kesunyian malam.

Hingga aku tiba di sebuah halte, suasana masih tetap sama, sepi. Namun, adanya lampu tepi jalan lumayan membantu tempat ini sedikit mencolok. Kulihat, hanya ada satu lelaki muda di halte. Mungkin dia sama denganku, yakni menunggu bus datang.

Setengah jam sudah di sini, kulihat waktu menunjukkan pukul sebelas dan tak ada satupun bus yang melintas. Dan lelaki di sampingku tampaknya tak peduli dengan adanya aku. Dia tampak asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba cahaya di kejauhan semakin jelas mendekat. Tampaknya bus sudah datang. Aku menghela napas lega, membayangkan menginap di jalanan sepi membuatku gila. Ditambah cuaca mendung dan angin dingin yang menembus tulang.

Lelaki muda tadi cepat-cepat masuk, aku pun mengikutinya. Tampaknya penumpang juga mulai sepi. Dan semuanya juga tampak tak peduli denganku dan lelaki muda tadi. Ada juga yang tengah lelap. Aku melihat ada gadis yang duduk di tengah bus melepas pandangan ke jendela. Dia cantik sekali. Hanya saja, wajahnya tampak pucat, layaknya Bella dalam film Twilight. Ini kesempatan untuk kenalan, dan kalau bisa menjadikannya kekasih.

"Hai," ucapku sambil duduk disebelahnya. Gadis itu menoleh menunjukkan wajah dingin dengan tatapan sadis.

Aku sedikit kikuk. Mungkin aku mengganggunya yang tengah menikmati pemandangan malam. Ah, mungkin aku sudah lancang. Bus kemudian mulai melaju kencang menembus malam yang kian gelap.

Konflik di otakku dimulai. Ah, di saat jomblo begini, ini adalah kesempatanku untuk mendapatkan kekasih. Dan di sebelahku ini ada malaikat cantik. Sungguh tak bisa ditolak. Ah, tapi bagaimana jika dia sudah mempunyai pasangan? Mungkin nasibku yang memang tidak baik.

"Mau pulang ke mana, Mbak?" tanyaku sopan.

Gadis itu menolehku sesaat, lalu kembali menatap jendela. Ah, sangat dingin sekali. Ada hawa yang aneh ketika di dekatnya. Apakah aku memang mengganggunya? Ah, sudahlah. Buang jauh-jauh impian konyol ini. Mungkin dia tidak cocok untuk dijadikan kekasih. Tapi setidaknya, dia bisa kuajak kenalan.

Setengah jam lamanya, aku di dalam bus. Penumpang-penumpang sudah tiba di tujuan semua. Kulihat, hanya aku, gadis di sebelah, dan lelaki setengah baya di bangku paling belakang yang masih ada di bus.

"Sudah sejak kapan?" tanya gadis itu tiba-tiba.

Aku kaget sebab gadis cantik dan wajah pucat itu mulai menanyakanku. Wah, tampaknya masih ada kesempatan untuk mengenalnya.

"Maksudnya?" tanyaku.

"Sudah sejak kapan Anda begini?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng, "Saya tidak paham maksud Mbak."

Gadis itu memandang tiap jengkal tubuhku. Tampaknya dia mengamati sesuatu. Entah apa itu. Senyumnya tiba-tiba mengembang menakutkan.

"Kini Anda mau ke mana?" tanyanya kemudian.

"Mau pulang."

"Pulang ke mana?"

"Ciputat," sahutku mantap.

Gadis itu kembali layangkan senyuman menakutkan, "Boleh saya ikut Anda?" tanyanya.

Gila! Mimpi apa aku semalam? Gadis yang belum lama kutemui ini langsung meminta untuk ikut denganku? Ada badai apa? Ah, tampaknya aku tidak memakai semacam susuk atau jimat pemikat. Tapi ini nyata.

Tunggu, aku jangan gegabah dahulu. Mungkin ada maksud yang dia sembunyikan.

"Kenapa Mbak mau ikut saya?" tanyaku.

"Saya ingin tahu Anda tinggal di pemakaman mana."

"Pemakaman? Maksudnya?" tanyaku bingung.

"Tampaknya Anda masih belum paham. Anda ini sudah bukan manusia lagi. Anda hantu yang gentayangan. Anda sudah MATI," sahutnya, "coba saja Anda sapa lelaki di belakang."

Aku sangat tidak paham dengan kata-katanya. Aku sudah mati? Ah, mustahil! Demi meyakinkan, aku melakukan apa yang diucapkan gadis itu. Aku langsung menuju ke belakang. Lelaki itu kusapa, tapi dia tampak diam sambil menatap jendela. Kusapa lagi dia lebih lantang, tapi dia tetap diam seolah tak melihatku.

"Sia-sia saja Anda memanggilnya. Tak ada yang bisa melihatmu kecuali saya," ucap gadis itu yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.

"Loh, Mbak ngomong sama siapa?" tanya lelaki di depanku.

"Sama sosok tak kasat mata di depan Anda, Pak. Saya ini indigo, jadi bisa melihat makhluk halus," ucapnya sambil menatap tajam padaku. "Tampaknya, dia masih belum tahu jika dia sudah menjadi hantu."

"Se ... setaaan!" pekik lelaki itu ketakutan, lalu meminta si pengemudi untuk menghentikan busnya. Dia pun lalu tunggang-langgang meninggalkan bus.

Aku hanya diam mematung saja. Aku hantu? Kok bisa? Apakah ini jawaban mengapa si penjual kopi dan lelaki di halte tak melihatku? Apakah, aku sudah tewas akibat dibunuh oleh pencopet tadi dan aku tidak mengetahuinya? Lantas di mana jasadku? Ah, aku tidak paham. Sungguh tak nyana. Aku hantu?!

Kupandang gadis di sampingku kini. Dia selalu menatapku sinis. Tampaknya, dia yang lebih cocok menjadi hantunya. Tapi, aku masih tak menyangka. Aku hantu?!

-tamat-

image

Gadis Di Dalam Bus


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan ini adalah hasil duet saya dengan Nia untuk diposting di Facebook. Oke, langsung saja membaca dan jangan lupa tinggalkan komennya.


==========
Aku sudah putus asa. Ini hidup atau uji nyali? Ke mana-mana tidak ada yang menemani. Aku mendesis kesal. Mungkin ini kutukan. Bahkan aku sempat dicopet. Tapi untung saja dompetku selamat. Yah, mungkin cuma itu untungnya. Sisanya selalu apes.

Aku singgah sejenak di sebuah kedai kopi, mengambil bangku pojok dekat jendela dan duduk di sana. Di sini, aku bisa memandang sekeliling yang basah. Jalan,  pepohonan,  dan tampak kota yang lengang tak banyak aktivitas akibat tumpahan hujan. Kulihat kedai mulai sepi hanya dua atau tiga pasang yang masih tinggal,  menikmati kopi sambil sesekali melepas tawa. Aku menghela napas, duniaku sungguh kecil. Di mana tawa,  senyum, dan kebahagiaan?

Ah, tampaknya ini memang kesialanku. Sang pedagang kopi tak mengindahkan pesananku. Bahkan mungkin tak peduli ada aku di sini. Dia hanya melamun, melamun, dan melamun. Entahlah, apakah dia punya hutang yang banyak dan sepi pelanggan? Walau begitu, tetap mesti melayani pembeli layaknya aku ini.

"Bapak melamun aja kenapa?" tanya salah satu pembeli kepada si penjual.

"Anak saya dibunuh copet. Hape dan dompetnya diambil semua," sahut si penjual setengah baya dan kepala botak itu.

"Ya ampun, Pak. Pencopetnya emang kejam, udah kayak begal saja. Yang tabah ya, Pak."

"Iya, Mas," sahut si penjual.

Oke, ini membuatku kesal juga. Memang hidupku sudah sial, tak ada yang mau mempedulikan lagi. Mungkin lebih baik aku pulang saja ketimbang memendam emosi tak jelas di sini. Hujan sudah tandas namun jalanan masih lembab. Bunyi sepatuku ini bagai decitan yang menggaung--mengusik kesunyian malam.

Hingga aku tiba di sebuah halte, suasana masih tetap sama, sepi. Namun, adanya lampu tepi jalan lumayan membantu tempat ini sedikit mencolok. Kulihat, hanya ada satu lelaki muda di halte. Mungkin dia sama denganku, yakni menunggu bus datang.

Setengah jam sudah di sini, kulihat waktu menunjukkan pukul sebelas dan tak ada satupun bus yang melintas. Dan lelaki di sampingku tampaknya tak peduli dengan adanya aku. Dia tampak asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba cahaya di kejauhan semakin jelas mendekat. Tampaknya bus sudah datang. Aku menghela napas lega, membayangkan menginap di jalanan sepi membuatku gila. Ditambah cuaca mendung dan angin dingin yang menembus tulang.

Lelaki muda tadi cepat-cepat masuk, aku pun mengikutinya. Tampaknya penumpang juga mulai sepi. Dan semuanya juga tampak tak peduli denganku dan lelaki muda tadi. Ada juga yang tengah lelap. Aku melihat ada gadis yang duduk di tengah bus melepas pandangan ke jendela. Dia cantik sekali. Hanya saja, wajahnya tampak pucat, layaknya Bella dalam film Twilight. Ini kesempatan untuk kenalan, dan kalau bisa menjadikannya kekasih.

"Hai," ucapku sambil duduk disebelahnya. Gadis itu menoleh menunjukkan wajah dingin dengan tatapan sadis.

Aku sedikit kikuk. Mungkin aku mengganggunya yang tengah menikmati pemandangan malam. Ah, mungkin aku sudah lancang. Bus kemudian mulai melaju kencang menembus malam yang kian gelap.

Konflik di otakku dimulai. Ah, di saat jomblo begini, ini adalah kesempatanku untuk mendapatkan kekasih. Dan di sebelahku ini ada malaikat cantik. Sungguh tak bisa ditolak. Ah, tapi bagaimana jika dia sudah mempunyai pasangan? Mungkin nasibku yang memang tidak baik.

"Mau pulang ke mana, Mbak?" tanyaku sopan.

Gadis itu menolehku sesaat, lalu kembali menatap jendela. Ah, sangat dingin sekali. Ada hawa yang aneh ketika di dekatnya. Apakah aku memang mengganggunya? Ah, sudahlah. Buang jauh-jauh impian konyol ini. Mungkin dia tidak cocok untuk dijadikan kekasih. Tapi setidaknya, dia bisa kuajak kenalan.

Setengah jam lamanya, aku di dalam bus. Penumpang-penumpang sudah tiba di tujuan semua. Kulihat, hanya aku, gadis di sebelah, dan lelaki setengah baya di bangku paling belakang yang masih ada di bus.

"Sudah sejak kapan?" tanya gadis itu tiba-tiba.

Aku kaget sebab gadis cantik dan wajah pucat itu mulai menanyakanku. Wah, tampaknya masih ada kesempatan untuk mengenalnya.

"Maksudnya?" tanyaku.

"Sudah sejak kapan Anda begini?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng, "Saya tidak paham maksud Mbak."

Gadis itu memandang tiap jengkal tubuhku. Tampaknya dia mengamati sesuatu. Entah apa itu. Senyumnya tiba-tiba mengembang menakutkan.

"Kini Anda mau ke mana?" tanyanya kemudian.

"Mau pulang."

"Pulang ke mana?"

"Ciputat," sahutku mantap.

Gadis itu kembali layangkan senyuman menakutkan, "Boleh saya ikut Anda?" tanyanya.

Gila! Mimpi apa aku semalam? Gadis yang belum lama kutemui ini langsung meminta untuk ikut denganku? Ada badai apa? Ah, tampaknya aku tidak memakai semacam susuk atau jimat pemikat. Tapi ini nyata.

Tunggu, aku jangan gegabah dahulu. Mungkin ada maksud yang dia sembunyikan.

"Kenapa Mbak mau ikut saya?" tanyaku.

"Saya ingin tahu Anda tinggal di pemakaman mana."

"Pemakaman? Maksudnya?" tanyaku bingung.

"Tampaknya Anda masih belum paham. Anda ini sudah bukan manusia lagi. Anda hantu yang gentayangan. Anda sudah MATI," sahutnya, "coba saja Anda sapa lelaki di belakang."

Aku sangat tidak paham dengan kata-katanya. Aku sudah mati? Ah, mustahil! Demi meyakinkan, aku melakukan apa yang diucapkan gadis itu. Aku langsung menuju ke belakang. Lelaki itu kusapa, tapi dia tampak diam sambil menatap jendela. Kusapa lagi dia lebih lantang, tapi dia tetap diam seolah tak melihatku.

"Sia-sia saja Anda memanggilnya. Tak ada yang bisa melihatmu kecuali saya," ucap gadis itu yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.

"Loh, Mbak ngomong sama siapa?" tanya lelaki di depanku.

"Sama sosok tak kasat mata di depan Anda, Pak. Saya ini indigo, jadi bisa melihat makhluk halus," ucapnya sambil menatap tajam padaku. "Tampaknya, dia masih belum tahu jika dia sudah menjadi hantu."

"Se ... setaaan!" pekik lelaki itu ketakutan, lalu meminta si pengemudi untuk menghentikan busnya. Dia pun lalu tunggang-langgang meninggalkan bus.

Aku hanya diam mematung saja. Aku hantu? Kok bisa? Apakah ini jawaban mengapa si penjual kopi dan lelaki di halte tak melihatku? Apakah, aku sudah tewas akibat dibunuh oleh pencopet tadi dan aku tidak mengetahuinya? Lantas di mana jasadku? Ah, aku tidak paham. Sungguh tak nyana. Aku hantu?!

Kupandang gadis di sampingku kini. Dia selalu menatapku sinis. Tampaknya, dia yang lebih cocok menjadi hantunya. Tapi, aku masih tak menyangka. Aku hantu?!

-tamat-

image
Bagikan
  1. blogger ini sangat menarik isi ceritanya bagus bagus,enak sambil nyantai bacanya

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.