image

Kali ini saya menyajikan kisah dalam bentuk Flash Fiction yang lebih pendek. Kisah ini saya tulis dan sempat diposting di Facebook. Meski aneh, selamat membaca.


==========
Malam yang dingin dan sepi, tampak Aslan tengah duduk melamun di tepian sebuah jembatan. Pandangan mata pemuda itu begitu kuyu, seolah tak ada lagi semangat untuk hidup. Lagipula, untuk apa hidup jika hanya disakiti saja oleh cinta?

Matanya lalu menatap ke sisi lain jembatan. Dia melihat ada sesosok gadis yang juga tengah melamun di situ. Entah sejak kapan gadis itu ada di situ, Aslan tidak tahu pasti. Dengan agak malu-malu, pemuda itu mulai mendekati sang gadis.

"Malam-malam gini ngapain di sini, Mbak?" sapa Aslan basa-basi. Semangat hidupnya tiba,-tiba kembali menyala, beda dengan sebelumnya.

"Aku sedih, Mas," ucap gadis dengan tudung kuning itu pelan.

Aslan menyipitkan matanya, "Sedih kenapa?" tanyanya mengiba.

"Seminggu yang lalu, ada kecelakaan bis di jembatan ini yang ditumpangi oleh siswa-siswi SMA. Sebagian ada yang masuk ke dalam sungai, bahkan hanyut. Meskipun demikian, semuanya bisa diselamatkan. Namun, hanya ada dua siswi yang ditemukan sudah tewas, namanya kalau tidak salah Ulva dan Acha," sahut gadis itu dengan wajah sedih.

Aslan menganggukkan kepalanya, "Aku juga tahu tentang kecelakaan itu. Memang sangat menyedihkan. Semoga dua siswi itu tenang di alam sana," sahutnya dengan wajah sengaja dibuat sedih.

"Amin," sahut gadis tudung kuning itu pelan.

Aslan mulai kebingungan. Dia tak tahu topik apa lagi yang akan dibahas dengan gadis itu. Setelah lima menit saling diam, dia mendapat ide.

"Kenalkan, aku Aslan," ucap pemuda itu layangkan senyum.

"Aku Ulva, salah satu siswi yang tewas itu."

"APA?"


-tamat-


image

Gadis Di Jembatan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kali ini saya menyajikan kisah dalam bentuk Flash Fiction yang lebih pendek. Kisah ini saya tulis dan sempat diposting di Facebook. Meski aneh, selamat membaca.


==========
Malam yang dingin dan sepi, tampak Aslan tengah duduk melamun di tepian sebuah jembatan. Pandangan mata pemuda itu begitu kuyu, seolah tak ada lagi semangat untuk hidup. Lagipula, untuk apa hidup jika hanya disakiti saja oleh cinta?

Matanya lalu menatap ke sisi lain jembatan. Dia melihat ada sesosok gadis yang juga tengah melamun di situ. Entah sejak kapan gadis itu ada di situ, Aslan tidak tahu pasti. Dengan agak malu-malu, pemuda itu mulai mendekati sang gadis.

"Malam-malam gini ngapain di sini, Mbak?" sapa Aslan basa-basi. Semangat hidupnya tiba,-tiba kembali menyala, beda dengan sebelumnya.

"Aku sedih, Mas," ucap gadis dengan tudung kuning itu pelan.

Aslan menyipitkan matanya, "Sedih kenapa?" tanyanya mengiba.

"Seminggu yang lalu, ada kecelakaan bis di jembatan ini yang ditumpangi oleh siswa-siswi SMA. Sebagian ada yang masuk ke dalam sungai, bahkan hanyut. Meskipun demikian, semuanya bisa diselamatkan. Namun, hanya ada dua siswi yang ditemukan sudah tewas, namanya kalau tidak salah Ulva dan Acha," sahut gadis itu dengan wajah sedih.

Aslan menganggukkan kepalanya, "Aku juga tahu tentang kecelakaan itu. Memang sangat menyedihkan. Semoga dua siswi itu tenang di alam sana," sahutnya dengan wajah sengaja dibuat sedih.

"Amin," sahut gadis tudung kuning itu pelan.

Aslan mulai kebingungan. Dia tak tahu topik apa lagi yang akan dibahas dengan gadis itu. Setelah lima menit saling diam, dia mendapat ide.

"Kenalkan, aku Aslan," ucap pemuda itu layangkan senyum.

"Aku Ulva, salah satu siswi yang tewas itu."

"APA?"


-tamat-


image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.