image

Tulisan kali ini saya menyajikan sebuah nuansa cinta-cintaan, tapi ada yang bikin takutnya juga. Jangan salahkan judulnya kalau sama dengan judul lagu dangdut itu, itu hanya judul. Jadi, selamat membaca kisah tanpa alfabet sialan itu dan mohon komennya supaya menjadi tullisan yang lebih baik.


==========
Malam mulai menyapa dunia. Pepohonan yang tumbuh di tepian jalan mengayun indah mengikuti alunan angin yang lembut, hingga menimbulkan bunyi gesekan daun yang khas. Meskipun begitu, embusannya begitu dingin hingga menusuk ke sendi-sendi tulang.

Aku kini tengah melintas di sebuah jalanan satu-satunya penghubung desaku dengan kota. Jalanan ini begitu sepi dan agak gelap. Jika dihitung, panjangnya bisa mencapai dua mil. Hal ini disebabkan oleh letak desa yang ada di balik bukit. Di tiap sisinya pun ditumbuhi pepohonan lebat.

Jalanan ini adalah penghubung penting dalam menunjang ekonomi desaku. Tiap siang, penduduk desa menggunakan jalanan ini sebagai aktivitasnya. Aku pun menggunakan jalanan ini untuk mengais uang.

Cahaya bulan cukup membantu penglihatanku. Aku mulai mengayuh cepat sepeda tuaku di jalanan yang agak gelap itu. Napas yang mulai sengal-sengal ini tak kupedulikan. Yang penting, aku bisa cepat pulang. Tubuh ini sudah kelelahan yang amat sangat.

Beginilah jika kebagian sift dua. Masuk siang dan pulang malam. Ditambah letak tambang emas tempatku mengais uang dan desa tempat tinggalku begitu jauh. Apalagi aku hanya menempuhnya dengan sepeda tua peninggalan kakek. Alhasil, aku selalu begadang malam-malam, bahkan sempat mengalami insomnia. Tapi hal ini tidak mudah membuatku mengeluh. Aku tetap semangat mengumpulkan uang untuk masa depanku kelak.

Sedang asyik-asyiknya mengebut, tiba-tiba di depanku melintas sesosok bayangan hitam. Akibatnya, aku langsung membanting sepedaku ke kanan dan langsung jatuh.

Gedebuk!

“Aduh!” keluhku mengaduh dengan kaki ditimpa sepeda.

Sosok yang tadi melintas itu langsung mendekatiku, “Hei, Jon. Kamu gak apa-apa?”

Aku menoleh ke sosok itu. Dalam timpaan cahaya bulan, sosok itu adalah wanita yang sangat kukenal. “Eh? Ini kamu, Yul? Aku menyangka kalau yang melintas di depanku tadi sejenis makhluk halus atau siluman.”

“Enak aja makhluk halus. Memangnya aku ini kuntilanak,” sanggah Yuli sambil menahan sepeda supaya aku bisa bangkit.

Untungnya kakiku ini tak ada luka sedikitpun. Hanya luka lecet kecil akibat mengenai jalanan aspal dan ditimpa sepeda.

“Maaf sudah mengagetkanmu, sehingga sampai jatuh. Kamu gak kenapa-kenapa?” tanya gadis itu panik sambil meneliti kakiku.

“Aku gak apa-apa, kok,” ucapku sambil mencegah dia melakukan niatnya.

Wajah gadis itu tampak cemas dengan keadaanku. Bisa kulihat matanya yang penuh iba dan ketulusan. Mungkin dia belum bisa memaafkan kesalahannya akibat telah membuatku jatuh. Atau mungkin ada hal lain, entahlah.

“Kamu ngapain sih malam-malam kelayapan di tempat sepi ini?” tanyaku sambil mengibas-ngibas baju dan celanaku.

Gadis tetanggaku itu menghela napas, “Aku habis main, Jon.”

“Malam-malam gini?” selaku cepat.

Yuli mengangguk polos.

Aku mencium bau yang aneh. Bau ini adalah bau alkohol. Tapi, mana mungkin Yuli meminum alkohol. Ah, mungkin ini hanya halusinasiku saja. Aku mesti menepis anggapan tidak baik itu. Aku mengenal jauh siapa Yuli. Aku tahu seluk-beluknya. Jadi, aku mesti positive thinking.

Aku menghela napas panjang saja. Ingin sekali aku menanyakan lebih detail kenapa dia bisa pulang malam-malam begini. Aku tidak yakin kalau dia hanya main. Selama ini, dia yang kukenal ini tidak mungkin main malam-malam begini. Apalagi melewati jalanan yang sepi dan gelap begini. Tapi, aku membatalkannya.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ajakku sambil menuntun sepeda. Yuli mengikutiku di samping.

Kami sempat bungkam agak lama di sepanjang jalanan gelap itu. Tak ada sepatah katapun yang diucapkan. Aku juga semakin fokus pada lamunanku tentang masa lalu yang kelam di jalanan gelap ini.

Tiap kali aku melewati jalan ini, selalu kenangan kelam yang ada. Padahal, aku ingin sekali melupakan kenangan itu. Namun apa daya, jalanan ini adalah satu-satunya jalan masuk menuju desa. Tak ada jalan lain. Kalaupun ada, itu hanya jalan setapak yang sulit dilalui oleh sepeda. Jadi, mau tidak mau aku mesti melewati jalan yang penuh kenangan ini.

“Jon, kamu kenapa? Aku lihat, kamu kayak ada masalah,” tanya Yuli sambil menatapku dengan seksama.

Lamunanku menjadi hilang. Aku sempat kaget dengan ucapan Yuli yang tiba-tiba itu. Aku pun langsung menghela napas panjang supaya tetap tenang. Lalu, kutatap wajah gadis nan cantik itu.

“Kamu tahu, tiap kali aku lewat jalan ini, aku suka sedih. Aku punya kenangan yang kelam di jalan ini,” ucapku sambil mengalihkan pandangan ke depan.

“Pasti tentang Winda, ya?” tanya gadis itu menyelidik.

Aku mengangguk pelan, “Iya, tentang dia. Sampai saat ini, aku masih belum bisa melupakan kejadian itu. Aku sudah sekuat tenaga supaya kenangan tentang dia itu hilang. Tapi aku tetap tak bisa,” ucapku penuh penyesalan.

Yuli mengusap-usap pundakku. “Aku paham kok, Jon. Kamu pasti belum bisa melupakan kematian Winda. Lagipula, kejadiannya juga masih seminggu yang lalu. Masih sulit melupakannya,” sahut Yuli dengan kata-kata yang meneduhkan hatiku.

Mataku menatap ke gadis yang tingginya hanya sepundakku itu. “Kamu tahu, semestinya Winda masih duduk di boncengan sepeda ini denganku kalau saja waktu itu aku tidak jatuh.”

“Mungkin ini sudah jalannya, Jon. Kita tak bisa mengulangi lagi kejadian di masa lalu akibat penyesalan di masa kini. Kita jadikan saja itu sebagai acuan kita demi masa depan,” ucap Yuli.

Aku menatap Yuli dengan seksama. Dia begitu polos, sama polosnya dengan penduduk desa dengan kejadian di masa lalu. Kejadian yang aku tutupi ini.

“Kamu belum tahu kejadian yang sesungguhnya, Yul,” kataku dengan senyuman tipis.

“Memangnya bagaimana kejadian yang sesungguhnya, Jon?” tanya gadis itu sambil menatapku penuh selidik. Kedua matanya menyipit. Pandangannya kini tak lepas kepadaku, seolah takut aku akan menghilang dan tak mempedulikan depan jalannya.

Aku menghela napas supaya tetap tenang, meski detak jantung begitu cepat. “Minggu lalu, ketika aku dan Winda pulang sehabis jalan-jalan di bukit desa sebelah, aku boncengan dengan dia melintasi jalan ini. Aku dan dia sangat senang membayangkan impian-impian untuk masa depan kami. Tentu saja, impian kami untuk menikah. Aku sudah memantapkan hati untuk meminangnya. Sungguh, dia kekasih yang tak ada duanya,” gumamku dengan penuh kepedihan mengingat kenangan manis itu.

Aku lalu diam sejenak. Mataku mulai sembab. Kepedihan ini begitu dalam sehingga tak mampu kubendung. Tak disangka, Yuli mengusap pelupuk mataku dengan tisunya.

“Kamu menangis, Jon,” ucap gadis itu sambil mengelap tisu di wajahku dengan lembutnya.

“Makasih, Yul,” kataku sambil senyum. Lalu kuambil tisu di tangan Yuli supaya aku bisa melanjutkan mengelap mataku.

“Sama-sama, Jon. Lebih baik, kamu gak usah melanjutkan kisah tadi. Takut kalau kamu akan menangis lagi. Aku gak tega kalau melihat sahabatku waktu kecil ini menangis,” sahut Yuli senyum.

Aku membalas senyumnya, “Gak apa-apa, Yul. Aku gak gampang menangis. Akan kulanjutkan kisah tadi,” jawabku, “jadi, ketika aku dan dia asyik boncengan sepeda melintasi jalan panjang ini, ada mobil pick up yang mengebut di depan. Kamu pasti tahu jika jalanan ini cuma bisa dilalui oleh satu mobil. Akibatnya, aku langsung membanting sepeda ke sisi kanan jalan dan kemudian jatuh. Celakanya, Winda sudah jatuh duluan di tengah jalan. Tak ayal lagi, Winda ... Winda ...,” aku tak kuasa lagi melanjutkan kata-kata. Mataku kembali sembab. Aku menangis.


image

“Sudah, jangan dilanjutkan lagi, Jon,” ucap Yuli lembut. Dia kembali mengusap pelupuk mataku yang basah itu dengan tisunya.

Aku diam sejanak supaya tenang kembali. Jika mengingat kembali kejadian itu, dadaku seolah sesak napas dan bagaikan ada sesuatu yang menyumbatnya. Aku tak kuasa menghadapi semua ini. Lalu, aku kembali menatap wajah Yuli yang meneduhkan.

“Makasih ya, Yul. Jadi, kejadian itulah yang sesungguhnya. Winda tewas akibat dihantam mobil. Entah, aku tak tahu mobil pick up itu milik siapa. Yang pasti bukan milik salah satu penduduk desa,” gumamku.

“Iya, Jon. Kini aku jadi tahu. Tadinya aku sempat aneh dengan kecelakaan Winda. Kok dia bisa tewas mengenaskan kayak gitu cuma akibat jatuh ketika boncengan. Jelas itu hal yang mustahil. Lain halnya jika dihantam mobil,” kata Yuli dengan nada kepedihan.

“Iya, Yul. Hanya kepadamu aku kasih tahu kejadian yang sesungguhnya,” sahutku.

“Kenapa?”

“Entahlah, Yul. Kamu tahu kan, awalnya ayahnya Winda hendak menelepon polisi untuk menangkapku? Dia begitu menggebu-gebu menuduhku sebagai pembunuh Winda. Namun, kelembutan hati ibunya Winda membatalkan niat ayahnya itu. Keduanya pun mengikhlaskan kematian Winda yang aneh. Namun, hubungan aku dengan ayah dan ibunya Winda jadi putus. Seolah keduanya sama sekali tidak mengenaliku,” ucapku penuh penyesalan.

“Kenapa kamu gak bilang yang sesungguhnya aja, Jon? Kamu kan gak salah,” tanya Yuli sambil menyipitkan kedua matanya yang lentik itu.

Aku hanya sunggingkan senyum saja ke gadis itu, “Sebab, itu wasiat Winda sebelum kematiannya supaya aku jangan bilang ke siapa-siapa tentang kejadian itu.”

Kulihat, Yuli menatapku aneh. Seolah dia tidak yakin dengan apa yang aku katakan tadi. Ada banyak tanda tanya di wajahnya. Begitu banyak hal yang belum dia pahami.

“Lantas, kini kamu bilang kepadaku kejadian yang sesungguhnya. Kenapa kamu lakukan itu? Padahal kan Winda sudah bilang supaya tidak mengatakan kejadian yang sesungguhnya kepada siapapun,” tanyanya.

Aku kembali layangkan senyum ke Yuli, “Supaya plong, Yul. Kamu tahu, aku tak mampu memikul wasiat Winda ini. Aku ingin membaginya supaya bebanku ini lebih enteng. Aku selalu pusing jika mengingatnya. Dan, ketika aku melihatmu, aku langsung menemukan bahwa aku bisa membaginya denganmu.”

Yuli hanya menatapku aneh. Mungkin dia masih belum memahami ucapanku. Meskipun begitu, kini aku bisa lega melepaskan uneg-uneg yang telah lama dipendam, meskipun cuma ke Yuli semata.

Aku kembali mengingat alasan Yuli main malam-malam begini. “Yul, kalau boleh tahu, kamu tadi main ke mana? Gak biasanya kamu kelayapan malam-malam gini.”

Gadis itu tampak panik. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya. Namun, aku tetap menatapnya.

“Hanya main saja, kok,” ucapnya cepat.

“Iya, tapi main ke mana?” desakku.

Gadis itu tampak bimbang. Sesekali dia menatapku, lalu menunduk kembali. Seolah dia takut kepadaku. Bahkan langkah kakinya semakin pelan. Akibatnya, aku ikut memelankan langkahku supaya bisa dekat di sampingnya.

“Tapi, kamu jangan kaget ya, Jon,” ucapnya dengan agak takut-takut.

“Kenapa memangnya?” tanyaku semakin selidik. Aku pun menyipitkan mata kepadanya. Aku mencium ada hal yang ganjil padanya.

“Aku tadi ke kota,” ucapnya.

“Ngapain?”

“A-aku sangat sedih kehilangan Winda, Jon. Winda itu sudah menjadi sahabatku. Mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku, Jon. Lalu, aku mendatangi sebuah diskotek, mabuk, kemudian pingsan. Setelah siuman, aku langsung pulang ke desa dengan jalan kaki,” ucap Yuli dengan nada mengiba.

Aku kaget dengan ucapan gadis itu. Tak kusangka Yuli bisa melakukan hal itu. Selama ini aku sama sekali melihat Yuli meminum alkohol, bahkan mendatangi diskotek. Yuli yang ini tampaknya bukan Yuli yang kukenal. Dia sudah beda.

Aku menghentikan langkah. Kutatap Yuli dengan tatapan penuh keganjilan. Aku tak tahu apa yang ada di otak dia.

Yuli pun ikut menghentikan langkahnya. Dia menatapku dengan wajah penuh ketakutan.

“Aku kecewa padamu, Yul,” ucapku dengan nada pelan namun tegas.

Mata Yuli tampak basah. Dia mulai mengisak. “Maafkan aku, Jon.”

“Aku menduga kalau kamu ini gadis yang kuat, yang bisa tabah menghadapi cobaan kala kehilangan sosok yang disayangi dan cintai. Tapi, tampaknya kamu sudah mulai goyah. Kamu kayak bukan Yuli yang kukenal sejak kecil. Kamu udah bagaikan gadis asing yang jatuh ke dalam jurang kenistaan. Dugaanku selama ini tentangmu tampaknya salah, Yul. Aku kecewa padamu, Yul,” ucapku sambil menghela napas panjang.

Yuli menangis sesenggukkan. Dia langsung memohon padaku dengan jongkok sambil memeluk lututku. “Maafkan aku, Jon. Maafkan aku. Aku menyesal telah melakukan ini,” isaknya.

Sesungguhnya aku ingin secepatnya pulang dan meninggalkannya di sini. Namun, aku tampaknya tak bisa melakukannya akibat kedua lututku dipeluknya. Entah apa yang mesti kulakukan.

Aku menatap ke sekeliling kalau-kalau ada yang melihat. Namun, sesuai dengan awal aku datang, tempat ini masih gelap dan sepi. Aku pun memibta kepada Yuli supaya melepaskan pelukannya.

Yuli pun bangkit. Dia mengusap-usap pipinya dengan punggung tangan. Dia menatapku dengan wajah sedihnya.

“Sesungguhnya, ada satu hal lagi yang membuatku hilang kendali dan kemudian mendatangi diskotek, Jon,” ucap gadis itu menahan tangis.

“Apa itu?”

“Tadi siang, aku mengunjungi makam Winda untuk menengoknya. Tiba di pemakaman, aku kaget setengah mati. Ketika aku memegang papan kayu nisannya, makamnya Winda langsung amblas dan aku pun ikut jatuh ke dalam lubang makam. Yang membuatku kaget setengah mati, jasadnya menghilang,” ucap gadis itu pelan.

“Apa?” pekikku kaget.

“Iya, Jon,” sahut Yuli agak takut-takut, “makanya, sehabis itu aku langsung naik kembali dan keliling desa untuk menanyakan tentang jasad Winda. Ayah dan ibunya Winda menjadi panik. Aku sampai minta bantuan penduduk desa. Namun hasilnya nihil. Hingga di desa-desa sebelah pun kami tak menemukan jasad Winda sama sekali. Itulah sebabnya aku menjadi syok dan malah datang ke diskotek di kota, bukannya pulang.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala pelan. Tak kusangka, sudut mataku mulai basah. Sesuatu telah menusuk-nusuk batinku. Namun, entah mengapa aku tak peduli dengan keadaan ini. Bukankah Winda itu kekasihku? Ah, mungkin bisa dikatakan kalau dia adalah mantan kekasihku. Meskipun aku masih mencintainya, namun aku mesti tetap tenang dengan keadaan ini. Itu bukan masalah bagiku.

“Kamu kenapa, Jon?” tanya Yuli menyelidik.

Aku menggeleng cepat. “Oh, tidak apa-apa, Yul. Aku cuma sedih saja dengan kejadian hilangnya jasad Winda ini. Meskipun aku bisa menemukannya, hal itu sia-sia saja. Tetap saja Winda akan tetap menjadi jasad, tidak akan kembali hidup lagi. Dan juga hal itu bukan menjadi jaminan akan kembali membaiknya hubungan aku dengan ayah dan ibunya Winda.”

“Tapi, Jon.”

“Sudahlah, Yul,” selaku cepat, “aku sudah lelah. Kita akan bahas ini lagi besok.”

Yuli hanya menghela napas panjang saja. Mungkin, akan banyak hal yang akan dia ucapkan.

Aku dan gadis itu kini sudah sampai di desa. Kami langsung menuju ke kediaman masing-masing. Tempat tinggal Yuli tepat di sebelahku. Waktu sudah pukul sebelas malam. Suasananya sudah sepi. Tak ada aktivitas manusia apapun di situ. Hanya ada hembusan angin lembut yang dingin.

“Selamat malam, Jon,” ucapnya, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu.

Aku menghela napas panjang saja. Kutepikan sepeda tuaku di halaman. Aku mencoba mengingat wasiat Winda padaku. Sebuah wasiat yang amat sulit untuk dipikul.

“Winda, maafkan aku sudah mengabaikan wasiatmu. Semoga kamu gak menyalahkanku,” gumamku.

Kulihat di atas langit sana, bintang-bintang mulai menghiasi malam nan indah. Padahal tadinya hanya awan-awan kelabu yang tampak. Siapapun pasti akan kagum melihat pemandangan alam ini. Seolah-olah, Winda menjawab maafku dengan bintang-bintang itu.

Aku pun masuk ke dalam, lalu langsung ke belakang. Di situ ada seonggok peti kayu. Aku membuka penutupnya dan kulongok isinya. Tampak sesosok tubuh kaku yang pucat pasi dengan mata menutup. Tubuhnya dibalut gaun yang indah. Bau pengawet mayat menyapa penciumanku.

“Winda, aku tak bisa hidup tanpamu. Meskipun kamu telah tiada, aku akan tetap di sisimu,” gumamku.

-tamat-


image

Jalan Kenangan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan kali ini saya menyajikan sebuah nuansa cinta-cintaan, tapi ada yang bikin takutnya juga. Jangan salahkan judulnya kalau sama dengan judul lagu dangdut itu, itu hanya judul. Jadi, selamat membaca kisah tanpa alfabet sialan itu dan mohon komennya supaya menjadi tullisan yang lebih baik.


==========
Malam mulai menyapa dunia. Pepohonan yang tumbuh di tepian jalan mengayun indah mengikuti alunan angin yang lembut, hingga menimbulkan bunyi gesekan daun yang khas. Meskipun begitu, embusannya begitu dingin hingga menusuk ke sendi-sendi tulang.

Aku kini tengah melintas di sebuah jalanan satu-satunya penghubung desaku dengan kota. Jalanan ini begitu sepi dan agak gelap. Jika dihitung, panjangnya bisa mencapai dua mil. Hal ini disebabkan oleh letak desa yang ada di balik bukit. Di tiap sisinya pun ditumbuhi pepohonan lebat.

Jalanan ini adalah penghubung penting dalam menunjang ekonomi desaku. Tiap siang, penduduk desa menggunakan jalanan ini sebagai aktivitasnya. Aku pun menggunakan jalanan ini untuk mengais uang.

Cahaya bulan cukup membantu penglihatanku. Aku mulai mengayuh cepat sepeda tuaku di jalanan yang agak gelap itu. Napas yang mulai sengal-sengal ini tak kupedulikan. Yang penting, aku bisa cepat pulang. Tubuh ini sudah kelelahan yang amat sangat.

Beginilah jika kebagian sift dua. Masuk siang dan pulang malam. Ditambah letak tambang emas tempatku mengais uang dan desa tempat tinggalku begitu jauh. Apalagi aku hanya menempuhnya dengan sepeda tua peninggalan kakek. Alhasil, aku selalu begadang malam-malam, bahkan sempat mengalami insomnia. Tapi hal ini tidak mudah membuatku mengeluh. Aku tetap semangat mengumpulkan uang untuk masa depanku kelak.

Sedang asyik-asyiknya mengebut, tiba-tiba di depanku melintas sesosok bayangan hitam. Akibatnya, aku langsung membanting sepedaku ke kanan dan langsung jatuh.

Gedebuk!

“Aduh!” keluhku mengaduh dengan kaki ditimpa sepeda.

Sosok yang tadi melintas itu langsung mendekatiku, “Hei, Jon. Kamu gak apa-apa?”

Aku menoleh ke sosok itu. Dalam timpaan cahaya bulan, sosok itu adalah wanita yang sangat kukenal. “Eh? Ini kamu, Yul? Aku menyangka kalau yang melintas di depanku tadi sejenis makhluk halus atau siluman.”

“Enak aja makhluk halus. Memangnya aku ini kuntilanak,” sanggah Yuli sambil menahan sepeda supaya aku bisa bangkit.

Untungnya kakiku ini tak ada luka sedikitpun. Hanya luka lecet kecil akibat mengenai jalanan aspal dan ditimpa sepeda.

“Maaf sudah mengagetkanmu, sehingga sampai jatuh. Kamu gak kenapa-kenapa?” tanya gadis itu panik sambil meneliti kakiku.

“Aku gak apa-apa, kok,” ucapku sambil mencegah dia melakukan niatnya.

Wajah gadis itu tampak cemas dengan keadaanku. Bisa kulihat matanya yang penuh iba dan ketulusan. Mungkin dia belum bisa memaafkan kesalahannya akibat telah membuatku jatuh. Atau mungkin ada hal lain, entahlah.

“Kamu ngapain sih malam-malam kelayapan di tempat sepi ini?” tanyaku sambil mengibas-ngibas baju dan celanaku.

Gadis tetanggaku itu menghela napas, “Aku habis main, Jon.”

“Malam-malam gini?” selaku cepat.

Yuli mengangguk polos.

Aku mencium bau yang aneh. Bau ini adalah bau alkohol. Tapi, mana mungkin Yuli meminum alkohol. Ah, mungkin ini hanya halusinasiku saja. Aku mesti menepis anggapan tidak baik itu. Aku mengenal jauh siapa Yuli. Aku tahu seluk-beluknya. Jadi, aku mesti positive thinking.

Aku menghela napas panjang saja. Ingin sekali aku menanyakan lebih detail kenapa dia bisa pulang malam-malam begini. Aku tidak yakin kalau dia hanya main. Selama ini, dia yang kukenal ini tidak mungkin main malam-malam begini. Apalagi melewati jalanan yang sepi dan gelap begini. Tapi, aku membatalkannya.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ajakku sambil menuntun sepeda. Yuli mengikutiku di samping.

Kami sempat bungkam agak lama di sepanjang jalanan gelap itu. Tak ada sepatah katapun yang diucapkan. Aku juga semakin fokus pada lamunanku tentang masa lalu yang kelam di jalanan gelap ini.

Tiap kali aku melewati jalan ini, selalu kenangan kelam yang ada. Padahal, aku ingin sekali melupakan kenangan itu. Namun apa daya, jalanan ini adalah satu-satunya jalan masuk menuju desa. Tak ada jalan lain. Kalaupun ada, itu hanya jalan setapak yang sulit dilalui oleh sepeda. Jadi, mau tidak mau aku mesti melewati jalan yang penuh kenangan ini.

“Jon, kamu kenapa? Aku lihat, kamu kayak ada masalah,” tanya Yuli sambil menatapku dengan seksama.

Lamunanku menjadi hilang. Aku sempat kaget dengan ucapan Yuli yang tiba-tiba itu. Aku pun langsung menghela napas panjang supaya tetap tenang. Lalu, kutatap wajah gadis nan cantik itu.

“Kamu tahu, tiap kali aku lewat jalan ini, aku suka sedih. Aku punya kenangan yang kelam di jalan ini,” ucapku sambil mengalihkan pandangan ke depan.

“Pasti tentang Winda, ya?” tanya gadis itu menyelidik.

Aku mengangguk pelan, “Iya, tentang dia. Sampai saat ini, aku masih belum bisa melupakan kejadian itu. Aku sudah sekuat tenaga supaya kenangan tentang dia itu hilang. Tapi aku tetap tak bisa,” ucapku penuh penyesalan.

Yuli mengusap-usap pundakku. “Aku paham kok, Jon. Kamu pasti belum bisa melupakan kematian Winda. Lagipula, kejadiannya juga masih seminggu yang lalu. Masih sulit melupakannya,” sahut Yuli dengan kata-kata yang meneduhkan hatiku.

Mataku menatap ke gadis yang tingginya hanya sepundakku itu. “Kamu tahu, semestinya Winda masih duduk di boncengan sepeda ini denganku kalau saja waktu itu aku tidak jatuh.”

“Mungkin ini sudah jalannya, Jon. Kita tak bisa mengulangi lagi kejadian di masa lalu akibat penyesalan di masa kini. Kita jadikan saja itu sebagai acuan kita demi masa depan,” ucap Yuli.

Aku menatap Yuli dengan seksama. Dia begitu polos, sama polosnya dengan penduduk desa dengan kejadian di masa lalu. Kejadian yang aku tutupi ini.

“Kamu belum tahu kejadian yang sesungguhnya, Yul,” kataku dengan senyuman tipis.

“Memangnya bagaimana kejadian yang sesungguhnya, Jon?” tanya gadis itu sambil menatapku penuh selidik. Kedua matanya menyipit. Pandangannya kini tak lepas kepadaku, seolah takut aku akan menghilang dan tak mempedulikan depan jalannya.

Aku menghela napas supaya tetap tenang, meski detak jantung begitu cepat. “Minggu lalu, ketika aku dan Winda pulang sehabis jalan-jalan di bukit desa sebelah, aku boncengan dengan dia melintasi jalan ini. Aku dan dia sangat senang membayangkan impian-impian untuk masa depan kami. Tentu saja, impian kami untuk menikah. Aku sudah memantapkan hati untuk meminangnya. Sungguh, dia kekasih yang tak ada duanya,” gumamku dengan penuh kepedihan mengingat kenangan manis itu.

Aku lalu diam sejenak. Mataku mulai sembab. Kepedihan ini begitu dalam sehingga tak mampu kubendung. Tak disangka, Yuli mengusap pelupuk mataku dengan tisunya.

“Kamu menangis, Jon,” ucap gadis itu sambil mengelap tisu di wajahku dengan lembutnya.

“Makasih, Yul,” kataku sambil senyum. Lalu kuambil tisu di tangan Yuli supaya aku bisa melanjutkan mengelap mataku.

“Sama-sama, Jon. Lebih baik, kamu gak usah melanjutkan kisah tadi. Takut kalau kamu akan menangis lagi. Aku gak tega kalau melihat sahabatku waktu kecil ini menangis,” sahut Yuli senyum.

Aku membalas senyumnya, “Gak apa-apa, Yul. Aku gak gampang menangis. Akan kulanjutkan kisah tadi,” jawabku, “jadi, ketika aku dan dia asyik boncengan sepeda melintasi jalan panjang ini, ada mobil pick up yang mengebut di depan. Kamu pasti tahu jika jalanan ini cuma bisa dilalui oleh satu mobil. Akibatnya, aku langsung membanting sepeda ke sisi kanan jalan dan kemudian jatuh. Celakanya, Winda sudah jatuh duluan di tengah jalan. Tak ayal lagi, Winda ... Winda ...,” aku tak kuasa lagi melanjutkan kata-kata. Mataku kembali sembab. Aku menangis.


image

“Sudah, jangan dilanjutkan lagi, Jon,” ucap Yuli lembut. Dia kembali mengusap pelupuk mataku yang basah itu dengan tisunya.

Aku diam sejanak supaya tenang kembali. Jika mengingat kembali kejadian itu, dadaku seolah sesak napas dan bagaikan ada sesuatu yang menyumbatnya. Aku tak kuasa menghadapi semua ini. Lalu, aku kembali menatap wajah Yuli yang meneduhkan.

“Makasih ya, Yul. Jadi, kejadian itulah yang sesungguhnya. Winda tewas akibat dihantam mobil. Entah, aku tak tahu mobil pick up itu milik siapa. Yang pasti bukan milik salah satu penduduk desa,” gumamku.

“Iya, Jon. Kini aku jadi tahu. Tadinya aku sempat aneh dengan kecelakaan Winda. Kok dia bisa tewas mengenaskan kayak gitu cuma akibat jatuh ketika boncengan. Jelas itu hal yang mustahil. Lain halnya jika dihantam mobil,” kata Yuli dengan nada kepedihan.

“Iya, Yul. Hanya kepadamu aku kasih tahu kejadian yang sesungguhnya,” sahutku.

“Kenapa?”

“Entahlah, Yul. Kamu tahu kan, awalnya ayahnya Winda hendak menelepon polisi untuk menangkapku? Dia begitu menggebu-gebu menuduhku sebagai pembunuh Winda. Namun, kelembutan hati ibunya Winda membatalkan niat ayahnya itu. Keduanya pun mengikhlaskan kematian Winda yang aneh. Namun, hubungan aku dengan ayah dan ibunya Winda jadi putus. Seolah keduanya sama sekali tidak mengenaliku,” ucapku penuh penyesalan.

“Kenapa kamu gak bilang yang sesungguhnya aja, Jon? Kamu kan gak salah,” tanya Yuli sambil menyipitkan kedua matanya yang lentik itu.

Aku hanya sunggingkan senyum saja ke gadis itu, “Sebab, itu wasiat Winda sebelum kematiannya supaya aku jangan bilang ke siapa-siapa tentang kejadian itu.”

Kulihat, Yuli menatapku aneh. Seolah dia tidak yakin dengan apa yang aku katakan tadi. Ada banyak tanda tanya di wajahnya. Begitu banyak hal yang belum dia pahami.

“Lantas, kini kamu bilang kepadaku kejadian yang sesungguhnya. Kenapa kamu lakukan itu? Padahal kan Winda sudah bilang supaya tidak mengatakan kejadian yang sesungguhnya kepada siapapun,” tanyanya.

Aku kembali layangkan senyum ke Yuli, “Supaya plong, Yul. Kamu tahu, aku tak mampu memikul wasiat Winda ini. Aku ingin membaginya supaya bebanku ini lebih enteng. Aku selalu pusing jika mengingatnya. Dan, ketika aku melihatmu, aku langsung menemukan bahwa aku bisa membaginya denganmu.”

Yuli hanya menatapku aneh. Mungkin dia masih belum memahami ucapanku. Meskipun begitu, kini aku bisa lega melepaskan uneg-uneg yang telah lama dipendam, meskipun cuma ke Yuli semata.

Aku kembali mengingat alasan Yuli main malam-malam begini. “Yul, kalau boleh tahu, kamu tadi main ke mana? Gak biasanya kamu kelayapan malam-malam gini.”

Gadis itu tampak panik. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya. Namun, aku tetap menatapnya.

“Hanya main saja, kok,” ucapnya cepat.

“Iya, tapi main ke mana?” desakku.

Gadis itu tampak bimbang. Sesekali dia menatapku, lalu menunduk kembali. Seolah dia takut kepadaku. Bahkan langkah kakinya semakin pelan. Akibatnya, aku ikut memelankan langkahku supaya bisa dekat di sampingnya.

“Tapi, kamu jangan kaget ya, Jon,” ucapnya dengan agak takut-takut.

“Kenapa memangnya?” tanyaku semakin selidik. Aku pun menyipitkan mata kepadanya. Aku mencium ada hal yang ganjil padanya.

“Aku tadi ke kota,” ucapnya.

“Ngapain?”

“A-aku sangat sedih kehilangan Winda, Jon. Winda itu sudah menjadi sahabatku. Mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku, Jon. Lalu, aku mendatangi sebuah diskotek, mabuk, kemudian pingsan. Setelah siuman, aku langsung pulang ke desa dengan jalan kaki,” ucap Yuli dengan nada mengiba.

Aku kaget dengan ucapan gadis itu. Tak kusangka Yuli bisa melakukan hal itu. Selama ini aku sama sekali melihat Yuli meminum alkohol, bahkan mendatangi diskotek. Yuli yang ini tampaknya bukan Yuli yang kukenal. Dia sudah beda.

Aku menghentikan langkah. Kutatap Yuli dengan tatapan penuh keganjilan. Aku tak tahu apa yang ada di otak dia.

Yuli pun ikut menghentikan langkahnya. Dia menatapku dengan wajah penuh ketakutan.

“Aku kecewa padamu, Yul,” ucapku dengan nada pelan namun tegas.

Mata Yuli tampak basah. Dia mulai mengisak. “Maafkan aku, Jon.”

“Aku menduga kalau kamu ini gadis yang kuat, yang bisa tabah menghadapi cobaan kala kehilangan sosok yang disayangi dan cintai. Tapi, tampaknya kamu sudah mulai goyah. Kamu kayak bukan Yuli yang kukenal sejak kecil. Kamu udah bagaikan gadis asing yang jatuh ke dalam jurang kenistaan. Dugaanku selama ini tentangmu tampaknya salah, Yul. Aku kecewa padamu, Yul,” ucapku sambil menghela napas panjang.

Yuli menangis sesenggukkan. Dia langsung memohon padaku dengan jongkok sambil memeluk lututku. “Maafkan aku, Jon. Maafkan aku. Aku menyesal telah melakukan ini,” isaknya.

Sesungguhnya aku ingin secepatnya pulang dan meninggalkannya di sini. Namun, aku tampaknya tak bisa melakukannya akibat kedua lututku dipeluknya. Entah apa yang mesti kulakukan.

Aku menatap ke sekeliling kalau-kalau ada yang melihat. Namun, sesuai dengan awal aku datang, tempat ini masih gelap dan sepi. Aku pun memibta kepada Yuli supaya melepaskan pelukannya.

Yuli pun bangkit. Dia mengusap-usap pipinya dengan punggung tangan. Dia menatapku dengan wajah sedihnya.

“Sesungguhnya, ada satu hal lagi yang membuatku hilang kendali dan kemudian mendatangi diskotek, Jon,” ucap gadis itu menahan tangis.

“Apa itu?”

“Tadi siang, aku mengunjungi makam Winda untuk menengoknya. Tiba di pemakaman, aku kaget setengah mati. Ketika aku memegang papan kayu nisannya, makamnya Winda langsung amblas dan aku pun ikut jatuh ke dalam lubang makam. Yang membuatku kaget setengah mati, jasadnya menghilang,” ucap gadis itu pelan.

“Apa?” pekikku kaget.

“Iya, Jon,” sahut Yuli agak takut-takut, “makanya, sehabis itu aku langsung naik kembali dan keliling desa untuk menanyakan tentang jasad Winda. Ayah dan ibunya Winda menjadi panik. Aku sampai minta bantuan penduduk desa. Namun hasilnya nihil. Hingga di desa-desa sebelah pun kami tak menemukan jasad Winda sama sekali. Itulah sebabnya aku menjadi syok dan malah datang ke diskotek di kota, bukannya pulang.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala pelan. Tak kusangka, sudut mataku mulai basah. Sesuatu telah menusuk-nusuk batinku. Namun, entah mengapa aku tak peduli dengan keadaan ini. Bukankah Winda itu kekasihku? Ah, mungkin bisa dikatakan kalau dia adalah mantan kekasihku. Meskipun aku masih mencintainya, namun aku mesti tetap tenang dengan keadaan ini. Itu bukan masalah bagiku.

“Kamu kenapa, Jon?” tanya Yuli menyelidik.

Aku menggeleng cepat. “Oh, tidak apa-apa, Yul. Aku cuma sedih saja dengan kejadian hilangnya jasad Winda ini. Meskipun aku bisa menemukannya, hal itu sia-sia saja. Tetap saja Winda akan tetap menjadi jasad, tidak akan kembali hidup lagi. Dan juga hal itu bukan menjadi jaminan akan kembali membaiknya hubungan aku dengan ayah dan ibunya Winda.”

“Tapi, Jon.”

“Sudahlah, Yul,” selaku cepat, “aku sudah lelah. Kita akan bahas ini lagi besok.”

Yuli hanya menghela napas panjang saja. Mungkin, akan banyak hal yang akan dia ucapkan.

Aku dan gadis itu kini sudah sampai di desa. Kami langsung menuju ke kediaman masing-masing. Tempat tinggal Yuli tepat di sebelahku. Waktu sudah pukul sebelas malam. Suasananya sudah sepi. Tak ada aktivitas manusia apapun di situ. Hanya ada hembusan angin lembut yang dingin.

“Selamat malam, Jon,” ucapnya, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu.

Aku menghela napas panjang saja. Kutepikan sepeda tuaku di halaman. Aku mencoba mengingat wasiat Winda padaku. Sebuah wasiat yang amat sulit untuk dipikul.

“Winda, maafkan aku sudah mengabaikan wasiatmu. Semoga kamu gak menyalahkanku,” gumamku.

Kulihat di atas langit sana, bintang-bintang mulai menghiasi malam nan indah. Padahal tadinya hanya awan-awan kelabu yang tampak. Siapapun pasti akan kagum melihat pemandangan alam ini. Seolah-olah, Winda menjawab maafku dengan bintang-bintang itu.

Aku pun masuk ke dalam, lalu langsung ke belakang. Di situ ada seonggok peti kayu. Aku membuka penutupnya dan kulongok isinya. Tampak sesosok tubuh kaku yang pucat pasi dengan mata menutup. Tubuhnya dibalut gaun yang indah. Bau pengawet mayat menyapa penciumanku.

“Winda, aku tak bisa hidup tanpamu. Meskipun kamu telah tiada, aku akan tetap di sisimu,” gumamku.

-tamat-


image

Bagikan
  1. Mantab lanjut terus, btw itu gambarnya dapet darimana? tahu apa nama filmnya gak?

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.