image

Kisah ini saya tulis untuk mengikuti agenda komunitas di Facebook. Ada yang bilang katanya ini adalah ejekan dengan keadaan yang dialami oleh Indonesia, hahaha! Padahal saya menulisnya biasa saja tidak ada maksud apa-apa. Untuk diposting di sini, saya panjangkan lagi hingga begini. 

Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen.


==========
Azan Subuh belum menggema, namun kapal kayu milik Pak Sabda sudah menepi. Wajahnya melukiskan kekecewaan yang dalam. Tangkapannya malam ini sungguh menyedihkan. Jika dihitung-hitung, dia hanya mendapat dua kilo ikan saja.

Dengan gontai, nelayan tua itu melangkah menuju kediamannya. Semangat melautnya mulai padam. Apalagi di usianya yang senja ini. Tak lama kemudian, matanya menangkap sesuatu di pantai. Meskipun masih gelap, tapi dia bisa mengenalinya dengan bantuan cahaya bulan. Tak salah lagi, itu adalah sesosok manusia yang posisinya menelungkup. Ombak menyapu-nyapu sosok itu. Pak Sabda pun langsung mendekatinya.

Namun, betapa kagetnya dia ketika melihat luka menganga di kepala.

"Mayaaat!!! Ada mayaaat!" pekiknya sambil tunggang-langgang menjauhi pantai.

***

Kampung Yudatama adalah kampung nelayan yang letaknya di sisi selatan Pulau Jawa. Pesona alam pantai dan laut yang disajikan sangat eksotis. Namun sayang, tak ada satu pun pengunjung yang datang. Hanya ada kesibukan nelayan saja yang memang menjadi penghasilan utama kampung ini.

Namun, kini kampung ini tak lagi sepi. Polisi-polisi begitu sibuk melakukan olah TKP sejak ditemukannya mayat. Police line dipasang demi mencegah siapapun yang tak ada hubungannya dengan kasus ini masuk. Apalagi banyak peliput yang datang.

Polisi juga menanyai saksi mata penemu mayat, Pak Sabda.

"Jadi," ucap Pak Sabda, "waktu sebelum Subuh itu saya sudah pulang. Tangkapannya cukup mengecewakan, Pak Polisi. Padahal biasanya kapalku penuh ikan. Ya, walau nggak penuh-penuh amat. Tapi nggak tahu kenapa malam ini ikannya sedikit. Padahal ...."

"Maaf, Pak Sabda," potong Iptu Angga, "yang kami tanyakan, bagaimana Anda menemukan mayat itu?" tanyanya agak kesal, tapi dia menahannya.

Pak Sabda diam sejenak. Dia menepuk dahinya, "Oh iya, Pak Polisi. Maaf, saya lupa. Jadi, pas saya habis nambatin kapal di ujung sana, pulangnya lewat pantai ini. Nggak sengaja saya lihat ada manusia sedang geletak gitu yang kesapu-sapu ombak. Saya nyangkanya kalau dia pingsan. Tapi pas dilihat, ada luka di kepalanya. Saya jadi ketakutan. Langsung saja saya datangin Pak Kades."

Polisi muda dengan tubuh atletis itu menganggukkan kepala, "Anda tidak melihat siapa-siapa waktu itu?" tanyanya.

Pak Sabda hanya menggeleng, "Nggak, Pak Polisi."

Iptu Angga hanya menghela napas panjang saja. Lalu dia membaca catatan tentang hasil investigasi. Polisi itu sangat kebingungan. Apalagi mayat itu tak memiliki identitas. Kini jenazahnya sudah diangkut ambulans untuk diotopsi.

Biasanya, dia menjadi asisten polisi kala ada kasus. Namun kini, Iptu Angga yang memimpin langsung investigasi. Di usianya yang masih muda, apalagi pangkatnya masih Iptu, tentu ini pengalaman yang langka. Dia mesti memanfaatkan kesempatan ini demi kenaikan pangkat nantinya.

"Pak Polisi, mayat itu bukan penduduk kampung sini. Mungkin dia adalah pengunjung," ucap Pak Kades yang tiba-tiba masuk ke dalam batas police line. Tubuhnya begitu tambun dan tatapan tajam.

Iptu Angga menoleh ke lelaki setengah baya itu. Pak Kades sudah ditanyai, tapi dia masuk kembali ke police line.

"Jadi, apakah Pak Kades mengenal mayat itu?" tanya salah satu peliput dekat police line sambil menyiapkan ponselnya.
image

Dengan tampang angkuhnya, Pak Kades layangkan senyuman sinis, "Saya tidak kenal. Mungkin saja dia cek-cok dengan temannya, dibunuh, dan mayatnya ditinggal di sini. Jadi, dugaan dia tenggelam sangat tak mungkin. Ombak di sini tidak ganas. Pantainya juga indah. Apalagi pemandangan bawah lautnya tiada duanya. Kampung kami dijamin tak akan kalah dengan Bali."

Iptu Angga tak mempedulikan Pak Kades itu. Selama tak mengganggu jalannya penyelidikan, diabaikan saja. Otaknya masih kebingungan dengan kasus ini. Akan lebih baik jika menunggu hasil otopsi mayat. Dengan begitu, dia bisa melanjutkan penyelidikan.

Setelah cukup mengumpulkan data di TKP, polisi pun kembali ke Polsek yang letaknya lumayan jauh.
***

Seminggu setelah ditemukannya mayat, pantai Kampung Yudatama mulai dipenuhi pengunjung dan pelancong. Yang tadinya nelayan kini menjadi pedagang manik-manik khas Kampung Yudatama. Kapal-kapal kayu yang digunakan untuk melaut dijual demi mendapatkan modal dagang. Ada yang menjual pakaian dan menyewakan alat-alat selam. Pak Sabda pun ikut andil. Dia menjual macam-macam pakaian dengan motif kampungnya.

Bagi penduduk, dengan menjadi pedagang bagi pengunjung akan lebih banyak mendapatkan uang. Sewaktu menjadi nelayan, uang datang tak menentu. Cuaca, ikan, iklim, semua itu menjadi efek bagi nelayan. Tapi dengan menjadi pedagang, keuntungannya menjanjikan.

Pemasukan kampung menjadi meningkat. Bahkan demi kenyamanan pengunjung, police line sengaja dilepas dan menunjukkan seolah tak ada masalah di situ. Padahal, kasus penemuan mayat itu belum tuntas. Pelakunya pun masih belum diketahui.

Tentu semua ini diakibatkan adanya info mengenai kasus itu di media massa yang sangat menguntungkan. Dengan tidak langsung, media massa mengenalkan apa itu Kampung Yudatama yang tak dikenal ini. Yakni dengan keeksotisan pantai yang tiada duanya.

Pak Kades selaku pemimpin di Kampung Yudatama menjadi senang akan hal ini.

"Pak Kades, jika selalu begini, maka kemiskinan penduduk kampung akan hilang. Dan kita pun akan mendapatkan keuntungan," ucap wakil Pak Kades.

Pak Kades hanya mengangguk-anggukkan kepala, "Kampung ini adalah tanggung jawab saya. Jadi, saya mesti memajukan kampung kita ini."

"Saya salut dengan Anda, Pak Kades," puji sang wakil.

***

Setahun lamanya Kampung Yudatama disulap menjadi kampung wisata pantai, bukan nelayan. Namun tampaknya, hal itu hanya sesaat saja. Pengunjung lambat laun mulai sepi. Tak ada lagi aktivitas pengunjung di pantai.

Pengunjung bahkan kini sudah bosan dengan Kampung Yudatama. Alasannya, masih banyak tempat-tempat wisata yang lebih bagus dan eksotis ketimbang kampung itu. Kondisi ini tentu sangat menyedihkan. Penduduk kampung tak tahu mesti bagaimana lagi.

"Loh, Pak Sabda mau ke mana?" tanya Pak Kades ketika melihat Pak Sabda dan sanak familinya membawa banyak tas.

"Kami mau pindah ke kota, Pak Kades. Saya mau kehidupan yang lebih baik. Di sini udah nggak menghasilkan uang lagi. Mau jadi nelayan juga sia-sia saja. Butuh uang banyak untuk beli kapal lagi. Bapak kan tahu kalau kapal saya udah dijual buat modal dagang. Kini uangnya habis semua."

Pak Kades hanya menghela napas panjang saja. Dia tak bisa mencegah Pak Sabda. Ekonomi yang lesu ini membuat sebagian penduduk pindah ke kota demi kehidupan yang lebih baik. Ucapan Pak Sabda memang tidak salah, menjadi nelayan lagi adalah hal mustahil sebab tak ada modal untuk membeli kapal. Uangnya ludes untuk membiayai kebutuhan hidup tanpa adanya pemasukan.

***

Izam melangkah sempoyongan di tepian pantai. Sapuan ombak tak menghalangi jalannya. Pemuda kota itu tidak semangat menjalani hidup setelah putus dengan kekasihnya. Dan satu-satunya hal yang bisa menenangkan batinnya yang gundah adalah pantai. Dia sangat damai jika sudah ada di situ, apalagi ketika malam.

Izam mendapatkan info kalau pantai di Kampung Yudatama sangat cocok bagi yang mengalami gundah gulana. Bahkan keadaan pantai sangat sepi ketika malam. Suasana batin pun menjadi tenang. Cocok dengan yang dibutuhkannya.

Izam dengan gontai menenggak botol Jack Daniels yang dibawanya. Bayangan mantan kekasih menjadi hilang di benaknya. Kepalanya mulai pusing. Dia menjadi mabuk.

Dalam pandangannya yang mulai tak jelas, dia melihat sesosok bayangan dengan tubuh tambun di depannya.

"Eh ... lo si ... apa? Ngalangin ... jalan gue aja ... sih," ucapnya putus-putus akibat mabuk.

Sosok yang tak lain adalah Pak Kades itu tanpa basa-basi langsung mengambil botol minuman di tangan Izam, lalu dipukulkan ke kepala pemuda mabuk itu. Tak ayal lagi Izam langsung tumbang.

Belum puas sampai di situ, Pak Kades memukul-mukul kembali kepala pemuda malang itu hingga botolnya pecah. Izam pun tewas seketika dengan luka menganga di kepala.

"Semoga dengan adanya mayat ini, pengunjung bisa kembali datang kembali ke sini. Kami sudah lelah menjadi nelayan," gumam Pak Kades lalu meninggalkan mayat Izam di pantai.


-tamat-


image

Mayat Di Tepi Pantai


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kisah ini saya tulis untuk mengikuti agenda komunitas di Facebook. Ada yang bilang katanya ini adalah ejekan dengan keadaan yang dialami oleh Indonesia, hahaha! Padahal saya menulisnya biasa saja tidak ada maksud apa-apa. Untuk diposting di sini, saya panjangkan lagi hingga begini. 

Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen.


==========
Azan Subuh belum menggema, namun kapal kayu milik Pak Sabda sudah menepi. Wajahnya melukiskan kekecewaan yang dalam. Tangkapannya malam ini sungguh menyedihkan. Jika dihitung-hitung, dia hanya mendapat dua kilo ikan saja.

Dengan gontai, nelayan tua itu melangkah menuju kediamannya. Semangat melautnya mulai padam. Apalagi di usianya yang senja ini. Tak lama kemudian, matanya menangkap sesuatu di pantai. Meskipun masih gelap, tapi dia bisa mengenalinya dengan bantuan cahaya bulan. Tak salah lagi, itu adalah sesosok manusia yang posisinya menelungkup. Ombak menyapu-nyapu sosok itu. Pak Sabda pun langsung mendekatinya.

Namun, betapa kagetnya dia ketika melihat luka menganga di kepala.

"Mayaaat!!! Ada mayaaat!" pekiknya sambil tunggang-langgang menjauhi pantai.

***

Kampung Yudatama adalah kampung nelayan yang letaknya di sisi selatan Pulau Jawa. Pesona alam pantai dan laut yang disajikan sangat eksotis. Namun sayang, tak ada satu pun pengunjung yang datang. Hanya ada kesibukan nelayan saja yang memang menjadi penghasilan utama kampung ini.

Namun, kini kampung ini tak lagi sepi. Polisi-polisi begitu sibuk melakukan olah TKP sejak ditemukannya mayat. Police line dipasang demi mencegah siapapun yang tak ada hubungannya dengan kasus ini masuk. Apalagi banyak peliput yang datang.

Polisi juga menanyai saksi mata penemu mayat, Pak Sabda.

"Jadi," ucap Pak Sabda, "waktu sebelum Subuh itu saya sudah pulang. Tangkapannya cukup mengecewakan, Pak Polisi. Padahal biasanya kapalku penuh ikan. Ya, walau nggak penuh-penuh amat. Tapi nggak tahu kenapa malam ini ikannya sedikit. Padahal ...."

"Maaf, Pak Sabda," potong Iptu Angga, "yang kami tanyakan, bagaimana Anda menemukan mayat itu?" tanyanya agak kesal, tapi dia menahannya.

Pak Sabda diam sejenak. Dia menepuk dahinya, "Oh iya, Pak Polisi. Maaf, saya lupa. Jadi, pas saya habis nambatin kapal di ujung sana, pulangnya lewat pantai ini. Nggak sengaja saya lihat ada manusia sedang geletak gitu yang kesapu-sapu ombak. Saya nyangkanya kalau dia pingsan. Tapi pas dilihat, ada luka di kepalanya. Saya jadi ketakutan. Langsung saja saya datangin Pak Kades."

Polisi muda dengan tubuh atletis itu menganggukkan kepala, "Anda tidak melihat siapa-siapa waktu itu?" tanyanya.

Pak Sabda hanya menggeleng, "Nggak, Pak Polisi."

Iptu Angga hanya menghela napas panjang saja. Lalu dia membaca catatan tentang hasil investigasi. Polisi itu sangat kebingungan. Apalagi mayat itu tak memiliki identitas. Kini jenazahnya sudah diangkut ambulans untuk diotopsi.

Biasanya, dia menjadi asisten polisi kala ada kasus. Namun kini, Iptu Angga yang memimpin langsung investigasi. Di usianya yang masih muda, apalagi pangkatnya masih Iptu, tentu ini pengalaman yang langka. Dia mesti memanfaatkan kesempatan ini demi kenaikan pangkat nantinya.

"Pak Polisi, mayat itu bukan penduduk kampung sini. Mungkin dia adalah pengunjung," ucap Pak Kades yang tiba-tiba masuk ke dalam batas police line. Tubuhnya begitu tambun dan tatapan tajam.

Iptu Angga menoleh ke lelaki setengah baya itu. Pak Kades sudah ditanyai, tapi dia masuk kembali ke police line.

"Jadi, apakah Pak Kades mengenal mayat itu?" tanya salah satu peliput dekat police line sambil menyiapkan ponselnya.
image

Dengan tampang angkuhnya, Pak Kades layangkan senyuman sinis, "Saya tidak kenal. Mungkin saja dia cek-cok dengan temannya, dibunuh, dan mayatnya ditinggal di sini. Jadi, dugaan dia tenggelam sangat tak mungkin. Ombak di sini tidak ganas. Pantainya juga indah. Apalagi pemandangan bawah lautnya tiada duanya. Kampung kami dijamin tak akan kalah dengan Bali."

Iptu Angga tak mempedulikan Pak Kades itu. Selama tak mengganggu jalannya penyelidikan, diabaikan saja. Otaknya masih kebingungan dengan kasus ini. Akan lebih baik jika menunggu hasil otopsi mayat. Dengan begitu, dia bisa melanjutkan penyelidikan.

Setelah cukup mengumpulkan data di TKP, polisi pun kembali ke Polsek yang letaknya lumayan jauh.
***

Seminggu setelah ditemukannya mayat, pantai Kampung Yudatama mulai dipenuhi pengunjung dan pelancong. Yang tadinya nelayan kini menjadi pedagang manik-manik khas Kampung Yudatama. Kapal-kapal kayu yang digunakan untuk melaut dijual demi mendapatkan modal dagang. Ada yang menjual pakaian dan menyewakan alat-alat selam. Pak Sabda pun ikut andil. Dia menjual macam-macam pakaian dengan motif kampungnya.

Bagi penduduk, dengan menjadi pedagang bagi pengunjung akan lebih banyak mendapatkan uang. Sewaktu menjadi nelayan, uang datang tak menentu. Cuaca, ikan, iklim, semua itu menjadi efek bagi nelayan. Tapi dengan menjadi pedagang, keuntungannya menjanjikan.

Pemasukan kampung menjadi meningkat. Bahkan demi kenyamanan pengunjung, police line sengaja dilepas dan menunjukkan seolah tak ada masalah di situ. Padahal, kasus penemuan mayat itu belum tuntas. Pelakunya pun masih belum diketahui.

Tentu semua ini diakibatkan adanya info mengenai kasus itu di media massa yang sangat menguntungkan. Dengan tidak langsung, media massa mengenalkan apa itu Kampung Yudatama yang tak dikenal ini. Yakni dengan keeksotisan pantai yang tiada duanya.

Pak Kades selaku pemimpin di Kampung Yudatama menjadi senang akan hal ini.

"Pak Kades, jika selalu begini, maka kemiskinan penduduk kampung akan hilang. Dan kita pun akan mendapatkan keuntungan," ucap wakil Pak Kades.

Pak Kades hanya mengangguk-anggukkan kepala, "Kampung ini adalah tanggung jawab saya. Jadi, saya mesti memajukan kampung kita ini."

"Saya salut dengan Anda, Pak Kades," puji sang wakil.

***

Setahun lamanya Kampung Yudatama disulap menjadi kampung wisata pantai, bukan nelayan. Namun tampaknya, hal itu hanya sesaat saja. Pengunjung lambat laun mulai sepi. Tak ada lagi aktivitas pengunjung di pantai.

Pengunjung bahkan kini sudah bosan dengan Kampung Yudatama. Alasannya, masih banyak tempat-tempat wisata yang lebih bagus dan eksotis ketimbang kampung itu. Kondisi ini tentu sangat menyedihkan. Penduduk kampung tak tahu mesti bagaimana lagi.

"Loh, Pak Sabda mau ke mana?" tanya Pak Kades ketika melihat Pak Sabda dan sanak familinya membawa banyak tas.

"Kami mau pindah ke kota, Pak Kades. Saya mau kehidupan yang lebih baik. Di sini udah nggak menghasilkan uang lagi. Mau jadi nelayan juga sia-sia saja. Butuh uang banyak untuk beli kapal lagi. Bapak kan tahu kalau kapal saya udah dijual buat modal dagang. Kini uangnya habis semua."

Pak Kades hanya menghela napas panjang saja. Dia tak bisa mencegah Pak Sabda. Ekonomi yang lesu ini membuat sebagian penduduk pindah ke kota demi kehidupan yang lebih baik. Ucapan Pak Sabda memang tidak salah, menjadi nelayan lagi adalah hal mustahil sebab tak ada modal untuk membeli kapal. Uangnya ludes untuk membiayai kebutuhan hidup tanpa adanya pemasukan.

***

Izam melangkah sempoyongan di tepian pantai. Sapuan ombak tak menghalangi jalannya. Pemuda kota itu tidak semangat menjalani hidup setelah putus dengan kekasihnya. Dan satu-satunya hal yang bisa menenangkan batinnya yang gundah adalah pantai. Dia sangat damai jika sudah ada di situ, apalagi ketika malam.

Izam mendapatkan info kalau pantai di Kampung Yudatama sangat cocok bagi yang mengalami gundah gulana. Bahkan keadaan pantai sangat sepi ketika malam. Suasana batin pun menjadi tenang. Cocok dengan yang dibutuhkannya.

Izam dengan gontai menenggak botol Jack Daniels yang dibawanya. Bayangan mantan kekasih menjadi hilang di benaknya. Kepalanya mulai pusing. Dia menjadi mabuk.

Dalam pandangannya yang mulai tak jelas, dia melihat sesosok bayangan dengan tubuh tambun di depannya.

"Eh ... lo si ... apa? Ngalangin ... jalan gue aja ... sih," ucapnya putus-putus akibat mabuk.

Sosok yang tak lain adalah Pak Kades itu tanpa basa-basi langsung mengambil botol minuman di tangan Izam, lalu dipukulkan ke kepala pemuda mabuk itu. Tak ayal lagi Izam langsung tumbang.

Belum puas sampai di situ, Pak Kades memukul-mukul kembali kepala pemuda malang itu hingga botolnya pecah. Izam pun tewas seketika dengan luka menganga di kepala.

"Semoga dengan adanya mayat ini, pengunjung bisa kembali datang kembali ke sini. Kami sudah lelah menjadi nelayan," gumam Pak Kades lalu meninggalkan mayat Izam di pantai.


-tamat-


image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.