image

Kisah satu ini awalnya banyak mengandung kata yang ada alfabet cadel itu. Lalu aku ubah hingga kayak gini. Sempat aku posting juga di Facebook. Jangan fokus dengan judulnya yang memang agak cinta-cintaan. Tapi yakinlah, ini bukan tentang itu, hahaha!

Selamat membaca, Sobat. Dan jangan lupa tinggalkan komen.


==========
"Aduh, hujan melulu kapan udahannya, nih?!" keluh Demia. Dia mengusap-usap tetesan yang mengenai tangan dan kakinya.

"Kita ujan-ujanan aja, ketimbang kemaleman nyampe kos," usulku.

"Ogah!" sahutnya cepat, "kamu tahu, hujan itu mengandung asam sulfat, silika, debu, dan lain-lain. Jika kena kulit akan sangat gatal-gatal, kutuan, panuan. Aku yang udah capek-capek ke salon mahal akan sia-sia aja!"

Aku hanya diam saja. Sebagai SPG mobil mewah, penampilan memang diutamakan. Tapi kan tidak mesti dilebih-lebihkan juga dalam menanggapi hujan ini.

Tempat kami meneduh mulai sepi. Sudah tak ada lagi angkot dan manusia yang lewat. Malam pun semakin naik. Suasana saat ini sangat bahaya mengingat kami hanya wanita. Apalagi hujan semakin lebat. Ah, tubuh ini sudah sangat lelah. Ingin sekali cepat-cepat pulang.

"Tau gini, tadi tuh ikut bos saja supaya bisa pulang sama-sama. kan satu jalan," keluhnya lagi.

Saat pulang tadi, bos memang mengatakan jika dia ingin menemani kami pulang ke kos dengan mobilnya. Tapi Demia malah menolaknya. Alasannya sangat aneh, tidak enak dengan SPG yang lain. Takut ada yang jealous. Padahal kan dibuat santai saja menanggapi hal ini. Lagipula dia tahu langit sudah menndung sejak tadi. pastinya akan hujan. Jadi, akibatnya ya begini. Aku sebagai teman satu kosnya hanya bisa mengikutinya saja tanpa bisa membantah.

"Dem, kita pulang saja, yuk. Nyampe kos kan bisa langsung mandi," ajakku.

"Enggak! Kalau kamu mau pulang ya pulang duluan aja! Aku mau nunggu di sini! Dan ...," dia diam sejenak, "oh iya, kamu pulang duluan aja, lalu sekalian manggilin taksi di ujung jalan sana. Biasanya taksi gak lewat sini kaalau sudah malam. Dan jangan lupa, kalau udah nyampe kos tolong ambilin payung, sepatu bot, penutup hidung, sama jas hujan di kosan, lalu bawa ke sini. Aku tungguin," katanya dengan wajah sinis.

Aku hanya diam saja dengan ucapan teman satu ini. Agak kesal juga dibuatnya. Selama ini, aku selalu tabah dalam menghadapinya. Entah mengapa ucapannya tadi sangat menghinaku. Hal ini tak bisa didiamkan saja.

Mataku menatap ke tanah. Di situ ada suatu benda yang tak asing bagiku. Aku lalu menoleh ke spanduk yang dipasang di atas pintu besi yang menutup di belakang. Tampaknya kami ada di depan sebuah salon.

"Aku ada ide, Dem," kataku kemudian dengan pandangan tetap ke spanduk.

"Apa itu?" tanyanya.

***

Tepat tengah malam, aku sampai juga di kosan dengan napas sengal-sengal. Pakaian basah kuyup. Mataku menatap ke sesuatu yang kugotong sejak tadi.

"Nyusahin aja, langsing-langsing tapi bobot tubuhnya lumayan," keluhku, lalu mengambil sebuah kantong plastik di dalam tas.

"Nih, kulitmu nggak basah, kan? Kini kamu pakai lagi kulitmu aja sana! Aku capek ngelepas kulitmu pakai silet alis tadi. Awas saja nggak ngucapin makasih," kataku.

Aku pun memasuki toilet, meninggalkan tubuh kaku Demia yang hanya tampak dagingnya saja, dan menimbulkan bau amis. Sedangkan kulitnya masih ada di dalam kantong plastik.


-tamat-
image

Menanti Hujan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kisah satu ini awalnya banyak mengandung kata yang ada alfabet cadel itu. Lalu aku ubah hingga kayak gini. Sempat aku posting juga di Facebook. Jangan fokus dengan judulnya yang memang agak cinta-cintaan. Tapi yakinlah, ini bukan tentang itu, hahaha!

Selamat membaca, Sobat. Dan jangan lupa tinggalkan komen.


==========
"Aduh, hujan melulu kapan udahannya, nih?!" keluh Demia. Dia mengusap-usap tetesan yang mengenai tangan dan kakinya.

"Kita ujan-ujanan aja, ketimbang kemaleman nyampe kos," usulku.

"Ogah!" sahutnya cepat, "kamu tahu, hujan itu mengandung asam sulfat, silika, debu, dan lain-lain. Jika kena kulit akan sangat gatal-gatal, kutuan, panuan. Aku yang udah capek-capek ke salon mahal akan sia-sia aja!"

Aku hanya diam saja. Sebagai SPG mobil mewah, penampilan memang diutamakan. Tapi kan tidak mesti dilebih-lebihkan juga dalam menanggapi hujan ini.

Tempat kami meneduh mulai sepi. Sudah tak ada lagi angkot dan manusia yang lewat. Malam pun semakin naik. Suasana saat ini sangat bahaya mengingat kami hanya wanita. Apalagi hujan semakin lebat. Ah, tubuh ini sudah sangat lelah. Ingin sekali cepat-cepat pulang.

"Tau gini, tadi tuh ikut bos saja supaya bisa pulang sama-sama. kan satu jalan," keluhnya lagi.

Saat pulang tadi, bos memang mengatakan jika dia ingin menemani kami pulang ke kos dengan mobilnya. Tapi Demia malah menolaknya. Alasannya sangat aneh, tidak enak dengan SPG yang lain. Takut ada yang jealous. Padahal kan dibuat santai saja menanggapi hal ini. Lagipula dia tahu langit sudah menndung sejak tadi. pastinya akan hujan. Jadi, akibatnya ya begini. Aku sebagai teman satu kosnya hanya bisa mengikutinya saja tanpa bisa membantah.

"Dem, kita pulang saja, yuk. Nyampe kos kan bisa langsung mandi," ajakku.

"Enggak! Kalau kamu mau pulang ya pulang duluan aja! Aku mau nunggu di sini! Dan ...," dia diam sejenak, "oh iya, kamu pulang duluan aja, lalu sekalian manggilin taksi di ujung jalan sana. Biasanya taksi gak lewat sini kaalau sudah malam. Dan jangan lupa, kalau udah nyampe kos tolong ambilin payung, sepatu bot, penutup hidung, sama jas hujan di kosan, lalu bawa ke sini. Aku tungguin," katanya dengan wajah sinis.

Aku hanya diam saja dengan ucapan teman satu ini. Agak kesal juga dibuatnya. Selama ini, aku selalu tabah dalam menghadapinya. Entah mengapa ucapannya tadi sangat menghinaku. Hal ini tak bisa didiamkan saja.

Mataku menatap ke tanah. Di situ ada suatu benda yang tak asing bagiku. Aku lalu menoleh ke spanduk yang dipasang di atas pintu besi yang menutup di belakang. Tampaknya kami ada di depan sebuah salon.

"Aku ada ide, Dem," kataku kemudian dengan pandangan tetap ke spanduk.

"Apa itu?" tanyanya.

***

Tepat tengah malam, aku sampai juga di kosan dengan napas sengal-sengal. Pakaian basah kuyup. Mataku menatap ke sesuatu yang kugotong sejak tadi.

"Nyusahin aja, langsing-langsing tapi bobot tubuhnya lumayan," keluhku, lalu mengambil sebuah kantong plastik di dalam tas.

"Nih, kulitmu nggak basah, kan? Kini kamu pakai lagi kulitmu aja sana! Aku capek ngelepas kulitmu pakai silet alis tadi. Awas saja nggak ngucapin makasih," kataku.

Aku pun memasuki toilet, meninggalkan tubuh kaku Demia yang hanya tampak dagingnya saja, dan menimbulkan bau amis. Sedangkan kulitnya masih ada di dalam kantong plastik.


-tamat-
image
Bagikan
  1. hha .
    boleh juga bro ujan"nya .
    aplg kalo ce ny cantik.
    :p

    ReplyDelete
  2. Hahaha enak tuh ,, andai aja ujan"nya sama cewe cantik pasti pengen ujan terus gan hahaha

    ReplyDelete
  3. Abang ini jago banget bikin cerita ngeri, sampe merinding

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.