Images

Kisah ini masih hangat, alias belum lama saya bikin. Saya juga mempostingnya di salah satu komunitas Facebook. Jadi, selamat membaca dan jangan lupa komen.


==========

'Sufyan, tolonglah ayah. Aku ada di sebuah pulau kosong. Cepatlah, kalau tidak aku akan mati.'

Sufyan membaca dengan seksama sebuah pesan yang ditemukannya dalam botol. Dia menemukannya saat sedang santai di tepi pantai dan melihat benda mengapung diombang-ambing ombak. Yang membuatnya kaget, ada namanya yang ditulis di pesan itu. Apalagi kata 'ayah' yang membuatnya semakin bingung.

Sufyan menatap ke laut. Di ujung sana memang ada sebuah pulau yang tak ada penghuninya. Biasanya di sana selalu digunakan oleh oknum-oknum yang hendak melakukan semedi dan pesugihan. Maklum saja, di sana ada makam suci milik kompeni Belanda. Dan konon katanya, makam itu selalu meminta tumbal.

"Apa yang ayah lakukan di sana? Dan ada kejadian apa sehingga ayah tak bisa pulang lagi? Mungkinkah dia dalam bahaya?" gumamnya. Seingat dia, sang ayah sedang melaut sejak subuh tadi dan belum pulang hingga siang ini.

Tanpa dikomandoi, pemuda kacamata itu langsung menaiki sampan kecil milik ayahnya. Dia sudah biasa menggunakannya sejak kecil. Jadi, meskipun pulau itu jauh, tak jadi masalah.

Peluh mulai membasahi kulit hitamnya akibat mengayuh. Tumbuh di desa nelayan memang membuatnya paham tentang kelautan. Dia sudah ke mana-mana dalam menjala ikan menemani ayah dan adiknya, Sabda. Otot-otot tangannya pun sudah dilatih dengan baik. Dia sudah tak peduli panas yang menyengat ini. Baginya, hanya satu tujuan, yakni menyelamatkan sang ayah.

Satu jam sudah dia mengayuh sampan, kini dia sampai di pulau. Tempat itu sangat beda dengan pantai di desanya. Pepohonan sangat lebat, ditambah dengan wewangian kemenyan yang menyengat hidung. Sungguh membuat siapapun akan ketakutan dan memilih balik lagi.

Tapi Sufyan tidak takut. Meskipun sempat sekali mendatangi pulau ini saat kecil, baginya sudah sangat biasa. Memandang pulau ini di kejauhan membuatnya jadi tidak asing lagi. Dengan memasang mata awas, dia hendak menjelajah seisi pulau, demi menemukan ayahnya. Dia tak ingin ada hal yang diinginkan menimpanya.

"Ayaaahhh!" pekiknya.

Tak ada sahutan datang. Hanya gema pekikannya saja yang memantul. Pemuda itu menyibak semak-semak lebat di depannya demi bisa melangkah ke depan. Dalam hati, Sufyan agak menyesal juga sebab tidak sempat mengajak teman-temannya untuk meminta bantuan. Setidaknya, dengan banyak mata, maka akan semakin mudah menemukan ayahnya itu. Tapi, dia mesti bisa.

image

Di depannya, dia menemukan sebuah pohon tua yang cukup tinggi. Sufyan tak tahu pohon apa itu.

"Mungkin di atas pohon ini aku bisa dengan mudah menemukannya," gumamnya. Kacamatanya dinaikkan akibat wajahnya basah oleh peluh.

Dengan cekatan, Sufyan memanjat pohon itu. Cepat sekali dia melakukannya, bagai laba-laba yang menaiki dinding. Sejak kecil dia memang suka memanjat pohon kelapa yang tinggi milik tetangganya untuk diambil buahnya. Akibatnya, dia selalu menjadi most wanted bagi tetangganya itu. Dan imbasnya, ayahnya yang mau tak mau mesti menghukumnya. Tapi Sufyan tipe anak yang tak ada kata kapok. Hal itu tetap dilakukan lagi dan lagi.

Tiba di dahan yang cukup tinggi, dia kaget sebab melihat sebuah bangunan, layaknya kastil yang ada si logo Walt Disney. Dia agak tidak yakin dengan pandangannya. Matanya pun dikucek-kucek dan kacamatanya dilepas. Tapi, hasilnya sama. Kastil itu tetap ada dan bukan ilusi.

Dia lebih kaget lagi sebab tak menemukan laut atau pun pantai. Dengan ketinggian begini, apalagi letaknya yang tak jauh dengan pantai, semestinya lautnya masih kelihatan. Tapi yang ada di pandangannya hanya pegunungan, seolah dia sedang hiking ke gunung.

Dalam keadaan panik, dia kembali ke bawah dengan cepat. Dan, lagi-lagi jantungnya hendak copot. Dia sudah dikelilingi oleh sosok-sosok dengan pakaian compang-camping. Dia tak salah lihat, sosok itu adalah pasukan kompeni Belanda. Semuanya memegang senapan dan melangkah layaknya zombie.

"Ke ... ke ... napa ini? Kenapa aku bisa di sini?" paniknya.

Dia mencoba menjauhi kepungan kawanan zombie. Tapi, tak ada jalan untuk lolos. Tak ayal, dia pun ditangkap dan dicabik-cabik oleh pasukan zombie itu. Sufyan tak mampu untuk melawan. Sakit yang amat sangat melandanya.

"Tolong aku!" pekiknya menyayat.

Sufyan pun tumbang. Dalam keadaan setengah siuman, pasukan zombie itu menggotong tubuh Sufyan ke kastil yang dilihatnya sewaktu di atas pohon itu. Kastil itu sangat megah dan mewah, namun penghuninya memiliki wajah yang sangat menakutkan.

"Ba ... gin ... da, pe ... mu ... da i ... ni su ... dah da ... tang," ucap salah satu zombie patah-patah.

"Tumbal kita sudah menjemput kematiannya," ucap sesosok yang duduk di atas singgasana dengan sinis. Wajahnya agak bule. Dia mengenakan pakaian ala Belanda.

Tubuh Sufyan yang dipenuhi cabikan sudah sangat lemas. Bahkan pandangannya mulai tak jelas akibat kacamatanya jatuh entah di mana. Pemuda itu sudah tak sanggup melakukan apa-apa lagi.

Sosok yang dipanggil Baginda oleh bawahannya itu langsung memakan kepala Sufyan, layaknya singa yang melahap mangsanya.

Seketika, kastil mewah nan megah dan penghuninya itu tiba-tiba lenyap. Kini yang ada hanya hutan dan semak-semak yang lebat, dengan pemandangan laut di belakangnya. Di tengah-tengah semak tampak seonggok tubuh penuh cabikan dan tanpa kepala.

***

Sabda melewati tepian pantai untuk menemukan Sufyan, sang kakak. Tapi, sudah dua jam ke sana ke sini, sosok sang kakak tak kunjung muncul.

Dia putus asa dan mulai lelah. Pemuda itu pun memilih duduk dekat pantai. Lamat-lamat, matanya melihat sesuatu diombang-ambing ombak. Dia pun langsung menuju ke sana untuk melihat benda apa itu.

Tampaknya, yang ditemukan oleh Sabda adalah sebuah botol beling. Ada sesuatu di dalamnya. Dan sesuatu itu adalah sebuah pesan. Dia pun membacanya.

'Sabda, tolonglah kakak. Aku ada di sebuah pulau kosong. Cepatlah, kalau tidak aku akan mati.'


-tamat-
image

Pesan Dalam Botol


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Images

Kisah ini masih hangat, alias belum lama saya bikin. Saya juga mempostingnya di salah satu komunitas Facebook. Jadi, selamat membaca dan jangan lupa komen.


==========

'Sufyan, tolonglah ayah. Aku ada di sebuah pulau kosong. Cepatlah, kalau tidak aku akan mati.'

Sufyan membaca dengan seksama sebuah pesan yang ditemukannya dalam botol. Dia menemukannya saat sedang santai di tepi pantai dan melihat benda mengapung diombang-ambing ombak. Yang membuatnya kaget, ada namanya yang ditulis di pesan itu. Apalagi kata 'ayah' yang membuatnya semakin bingung.

Sufyan menatap ke laut. Di ujung sana memang ada sebuah pulau yang tak ada penghuninya. Biasanya di sana selalu digunakan oleh oknum-oknum yang hendak melakukan semedi dan pesugihan. Maklum saja, di sana ada makam suci milik kompeni Belanda. Dan konon katanya, makam itu selalu meminta tumbal.

"Apa yang ayah lakukan di sana? Dan ada kejadian apa sehingga ayah tak bisa pulang lagi? Mungkinkah dia dalam bahaya?" gumamnya. Seingat dia, sang ayah sedang melaut sejak subuh tadi dan belum pulang hingga siang ini.

Tanpa dikomandoi, pemuda kacamata itu langsung menaiki sampan kecil milik ayahnya. Dia sudah biasa menggunakannya sejak kecil. Jadi, meskipun pulau itu jauh, tak jadi masalah.

Peluh mulai membasahi kulit hitamnya akibat mengayuh. Tumbuh di desa nelayan memang membuatnya paham tentang kelautan. Dia sudah ke mana-mana dalam menjala ikan menemani ayah dan adiknya, Sabda. Otot-otot tangannya pun sudah dilatih dengan baik. Dia sudah tak peduli panas yang menyengat ini. Baginya, hanya satu tujuan, yakni menyelamatkan sang ayah.

Satu jam sudah dia mengayuh sampan, kini dia sampai di pulau. Tempat itu sangat beda dengan pantai di desanya. Pepohonan sangat lebat, ditambah dengan wewangian kemenyan yang menyengat hidung. Sungguh membuat siapapun akan ketakutan dan memilih balik lagi.

Tapi Sufyan tidak takut. Meskipun sempat sekali mendatangi pulau ini saat kecil, baginya sudah sangat biasa. Memandang pulau ini di kejauhan membuatnya jadi tidak asing lagi. Dengan memasang mata awas, dia hendak menjelajah seisi pulau, demi menemukan ayahnya. Dia tak ingin ada hal yang diinginkan menimpanya.

"Ayaaahhh!" pekiknya.

Tak ada sahutan datang. Hanya gema pekikannya saja yang memantul. Pemuda itu menyibak semak-semak lebat di depannya demi bisa melangkah ke depan. Dalam hati, Sufyan agak menyesal juga sebab tidak sempat mengajak teman-temannya untuk meminta bantuan. Setidaknya, dengan banyak mata, maka akan semakin mudah menemukan ayahnya itu. Tapi, dia mesti bisa.

image

Di depannya, dia menemukan sebuah pohon tua yang cukup tinggi. Sufyan tak tahu pohon apa itu.

"Mungkin di atas pohon ini aku bisa dengan mudah menemukannya," gumamnya. Kacamatanya dinaikkan akibat wajahnya basah oleh peluh.

Dengan cekatan, Sufyan memanjat pohon itu. Cepat sekali dia melakukannya, bagai laba-laba yang menaiki dinding. Sejak kecil dia memang suka memanjat pohon kelapa yang tinggi milik tetangganya untuk diambil buahnya. Akibatnya, dia selalu menjadi most wanted bagi tetangganya itu. Dan imbasnya, ayahnya yang mau tak mau mesti menghukumnya. Tapi Sufyan tipe anak yang tak ada kata kapok. Hal itu tetap dilakukan lagi dan lagi.

Tiba di dahan yang cukup tinggi, dia kaget sebab melihat sebuah bangunan, layaknya kastil yang ada si logo Walt Disney. Dia agak tidak yakin dengan pandangannya. Matanya pun dikucek-kucek dan kacamatanya dilepas. Tapi, hasilnya sama. Kastil itu tetap ada dan bukan ilusi.

Dia lebih kaget lagi sebab tak menemukan laut atau pun pantai. Dengan ketinggian begini, apalagi letaknya yang tak jauh dengan pantai, semestinya lautnya masih kelihatan. Tapi yang ada di pandangannya hanya pegunungan, seolah dia sedang hiking ke gunung.

Dalam keadaan panik, dia kembali ke bawah dengan cepat. Dan, lagi-lagi jantungnya hendak copot. Dia sudah dikelilingi oleh sosok-sosok dengan pakaian compang-camping. Dia tak salah lihat, sosok itu adalah pasukan kompeni Belanda. Semuanya memegang senapan dan melangkah layaknya zombie.

"Ke ... ke ... napa ini? Kenapa aku bisa di sini?" paniknya.

Dia mencoba menjauhi kepungan kawanan zombie. Tapi, tak ada jalan untuk lolos. Tak ayal, dia pun ditangkap dan dicabik-cabik oleh pasukan zombie itu. Sufyan tak mampu untuk melawan. Sakit yang amat sangat melandanya.

"Tolong aku!" pekiknya menyayat.

Sufyan pun tumbang. Dalam keadaan setengah siuman, pasukan zombie itu menggotong tubuh Sufyan ke kastil yang dilihatnya sewaktu di atas pohon itu. Kastil itu sangat megah dan mewah, namun penghuninya memiliki wajah yang sangat menakutkan.

"Ba ... gin ... da, pe ... mu ... da i ... ni su ... dah da ... tang," ucap salah satu zombie patah-patah.

"Tumbal kita sudah menjemput kematiannya," ucap sesosok yang duduk di atas singgasana dengan sinis. Wajahnya agak bule. Dia mengenakan pakaian ala Belanda.

Tubuh Sufyan yang dipenuhi cabikan sudah sangat lemas. Bahkan pandangannya mulai tak jelas akibat kacamatanya jatuh entah di mana. Pemuda itu sudah tak sanggup melakukan apa-apa lagi.

Sosok yang dipanggil Baginda oleh bawahannya itu langsung memakan kepala Sufyan, layaknya singa yang melahap mangsanya.

Seketika, kastil mewah nan megah dan penghuninya itu tiba-tiba lenyap. Kini yang ada hanya hutan dan semak-semak yang lebat, dengan pemandangan laut di belakangnya. Di tengah-tengah semak tampak seonggok tubuh penuh cabikan dan tanpa kepala.

***

Sabda melewati tepian pantai untuk menemukan Sufyan, sang kakak. Tapi, sudah dua jam ke sana ke sini, sosok sang kakak tak kunjung muncul.

Dia putus asa dan mulai lelah. Pemuda itu pun memilih duduk dekat pantai. Lamat-lamat, matanya melihat sesuatu diombang-ambing ombak. Dia pun langsung menuju ke sana untuk melihat benda apa itu.

Tampaknya, yang ditemukan oleh Sabda adalah sebuah botol beling. Ada sesuatu di dalamnya. Dan sesuatu itu adalah sebuah pesan. Dia pun membacanya.

'Sabda, tolonglah kakak. Aku ada di sebuah pulau kosong. Cepatlah, kalau tidak aku akan mati.'


-tamat-
image
Bagikan
  1. keren... tp endingnya gantung :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks udah singgah di blog saya, dan juga komennya. Yah, mungkin endingnya bisa jadi bahan evaluasi saya. Sekali lagi makasih.

      Delete
  2. mana ada cerpen tanpa huruf 'r' ..... la itu sebelum 'p' apa? hhh

    ReplyDelete

  3. Please let me know if you're looking for a article writer for your blog. You have some really good posts and I think I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I'd really like to write some articles for your blog in exchange for a link back to mine. Please shoot me an e-mail if interested. Cheers! hotmail login

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.