image

Ini adalah awal kalinya saya membuat fantasy. Hal ini dilakukan akibat adanya tantangan teman-teman di Line. Memang saya lemah dalam fantasy, namun ini adalah usaha saya. Tulisan ini untuk diposting di Facebook. Tapi, begitu tahu ada kesalahan-kesalahan, saya edit kembali. Sedikit banyaknya pasti tulisan ini masih ada kelemahannya. Jadi, jangan lupa tinggalkan komen dan selamat membaca.



==========
Mataku membuka pelan-pelan. Telinga ini mulai menangkap bebunyian. Ini, bunyi mesin mobil. Sangat lembut sekali. Dan tampak tidak asing di mata. Kudapati tubuh ini ada di dalam sebuah mobil, di bangku belakang.

Aku langsung duduk. Ah, kepala ini sangat pusing sekali! Dan, ah! Tangan kananku juga sakit sekali. Kulihat, banyak luka di setiap jengkal tangan ini. Luka ini ... luka ini adalah luka tembak!

"Kau sudah siuman?"

Mataku menatap ke depan. Di situ ada sesosok gadis yang sedang mengemudikan mobil. Dia mengenakan pakaian hitam. Aku mengenalnya. Ya, tak salah lagi.

"Bella? Kenapa aku bisa ada di dalam mobil ini?" tanyaku bingung.

"Untunglah, kau masih hidup, Isa. Aku mencemaskanmu," ucapnya menoleh padaku sejenak, lalu fokus mengemudi lagi. Ah, wajahnya sangat meneduhkanku.

Tampaknya, kini aku ada di dalam mobil sedan miliknya. Aku sudah biasa menaikinya. Meskipun begitu, jika kencan aku selalu menggunakan mobil milikku ketika menjemputnya.

"Bella, kita mau ke mana? Dan, kenapa tanganku dipenuhi luka tembak?" tanyaku bingung.

"Tak ada waktu untuk menjelaskan, Sa. Kita mesti mencapai tempat itu demi nyawamu," sahutnya masih fokus mengemudi. Dia menambahkan kecepatannya.

Aku sangat tidak paham apa yang ada di otak gadis itu. Tempat itu? Tempat apa? Apakah untuk mengobati luka? Entahlah, aku tak tahu pasti. Sejak awal menjalin hubungan dengannya, dia seolah memiliki dunianya yang lain. Sampai aku tak mampu menguaknya.

Hingga setahun lebih menjalin hubungan, hanya sedikit info yang kuketahui tentangnya. Mantan polwan, tidak suka daging, ayah dan ibu sudah tak ada, lalu apa lagi? Ah, kepala semakin pusing jika dipaksakan!

Tapi satu hal penting yang aku tahu, dia sangat cinta dan setia padaku. Itu saja sudah cukup.

"Bagaimana tanganmu?" tanyanya memecah lamunanku.

"Eh, oh, iya. Sakit sekali, Bell," keluhku.

Aku memegang tangan kananku yang penuh luka ini. Sial! Aku tak bisa mengingat siapa yang melakukan ini. Yang kutahu, aku dan Bella sedang jalan-jalan dengan mobil ini. Dan tiba-tiba aku kebangun sudah dalam keadaan begini.

"Tahan, ya. Setelah aku membawamu ke tempat itu, tak ada lagi sakit yang akan melandamu," ucapnya dengan nada pelan namun tegas.

Wanita memang bagai lautan yang paling dalam. Penuh dengan teka-teki meskipun aku bisa memiliki hatinya. Aku tetap tidak paham apa maunya.

"Bella, tolong jelaskan. Kenapa aku bisa begini dan kita mau ke mana?" tanyaku lagi.

"Kau lupa dengan kejadian tadi?" tanyanya bingung.

Ah! Kepalaku pusing jika mencoba mengingat-ingat kejadian lalu. "Aku tak tahu, Bella."

"Sial, tampaknya pistol itu memang bukan pistol biasa," gumamnya.

"Maksudmu?"

Bella diam agak lama. Kulihat ke jendela, mobil ini mulai meninggalkan kawasan kota. Kini yang tampak hanyalah sawah-sawah yang menguning, dengan gunung menjulang tinggi di belakangnya. Sungguh indah sekali pemandangannya.

"Sewaktu kita menonton bioskop tadi siang, ada komplotan yang mencoba menangkap kita. Komplotan itu menembaki dengan membabi buta ke semua penonton bioskop. Tampaknya komplotan itu tak bisa menemukan kita akibat gelapnya bioskop. Kita waktu itu duduk di pojok. Dan kamu melindungiku. Akibatnya, tanganmu yang kena tembakan. Untungnya kita duduk dekat pintu exit, sehingga bisa lolos. Lalu kamu pingsan begitu tiba di mobil."

Aku mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang dijelaskan Bella. Tapi, ah! Aku tak sanggup! Lagi-lagi kepala pusing sekali jika mencoba mengingatnya.

"Sia-sia saja kamu mencoba mengingatnya. Itu akibat efek tembakan tadi."

"Tembakan tadi? Maksudmu?"

Ah, aku sangat tidak memahami semua ini. Apa yang dia sembunyikan? Komplotan apa yang dimaksud? Teka-teki apa yang menyelubunginya? Banyak sekali tanya yang ingin kuajukan. Dia tampak bukan kekasihku. Dia Bella yang lain.

"Senjata yang dipakai oleh komplotan itu bisa membuat lupa tentang kejadian yang dialami bagi siapa saja yang kena, jika tidak mati. Senjata itu memang khusus dibuat untuk itu. Polisi sudah diinfokan tentang adanya senjata menakutkan itu. Dan kini, komplotan itu ingin menguasai pohon itu demi anggotanya. Makanya, komplotan itu ingin menutupi fakta tentang adanya Pohon Kehidupan. Tapi, polisi mengetahuinya," ucapnya dengan pandangan fokus ke depan, membelakangiku.

Dengan susah payah, aku pindah duduk di bangku depan, tepat di sampingnya, supaya bisa menyimak langsung penjelasannya, bukan membelakangi. Sakitnya tangan kanan ini mesti kutahan. Ah, aku bahkan seakan tak memiliki tangan kanan.

Kekasihku masih tetap fokus mengemudi, dan tidak membantuku pindah duduk ke bangku samping kemudi. Bisa kutangkap ada kecemasan di wajahnya.

image

"Apa itu Pohon Kehidupan, Bell?" tanyaku begitu sudah duduk.

"Itu adalah pohon yang bisa membuat manusia abadi."

Aku kaget dengan ucapan kekasihku, "Keabadian maksudmu?"

Dia mengangguk, "Iya, jadi pohon itu membuat siapapun jadi hidup abadi. Letaknya ada di balik gunung itu. Tak jelas asal-usul pohon itu. Penemu awalnya adalah ketua komplotan mafia itu ketika sedang hiking. Bentuk pohon itu lain dengan pohon pada umumnya. Tingginya mungkin 10 kaki. Siapapun yang menggunakannya akan kekal dan kebal dengan senjata jenis apapun. Manusia yang ingin abadi, mesti membungkus tubuhnya dengan daun pohon itu, lalu digantung di dahannya. Kemudian, akan muncul bayangannya atau kloningannya dan menjalani hidup dengan biasanya. Jasad atau tubuhnya tetap menggantung di pohon itu, tak bisa dilepaskan atau dijatuhkan. Sedangkan bayangannya yang lepaslah yang menggantikan hidupnya. Namun sayangnya, pohon itu kini disalahgunakan oleh komplotan itu untuk kejahatan."

"Maksudmu, kayak hantu yang bangkit gitu?" tanyaku.

"Iya, bisa dikatakan begitu. Tapi itu bukan hantu, melainkan manusia pada umumnya, dan hidup abadi."

Ini sangat membingungkan. Apakah pohon ajaib itu memang ada? Mengapa aku tidak tahu selama ini? Dan, kekasihku. Bagaimana dia bisa tahu tentang pohon itu?

"Tunggu, Bell. Jika tujuan kita adalah menuju pohon itu, jadi kamu mau aku abadi?" tanyaku lagi.

Bella mengangguk lemah.

Ah, tidak! Apa yang diinginkannya? Dia mau aku abadi? Itu sesuatu yang melawan hukum alam!

"Lalu, kenapa komplotan itu ingin menangkap kita? Apa salah kita? Jika kita ke sana bukannya komplotan mafia itu akan dengan mudah menangkap kita? Pohon itu pasti dijaga, kan?" tanyaku.

Dzing!

Tiba-tiba ada bunyi sebuah tembakan dan mengenai bagian belakang mobil. Bella kaget dan langsung membanting kemudi ke kanan. Celakanya, tangan kananku mengenai tuas gigi.

"Aaahhh!" pekikku kesakitan.

Bella menatap ke spion. Wajahnya tampak ketakutan. "Apakah itu komplotan yang ingin menangkap kita?"

"Apa?"

Oke, tanya ini kembali kuajukan, siapa sesungguhnya komplotan itu? Dan mengapa ingin menangkap kami? Ada apa semua ini?

"Penjelasannya nanti saja. Kini kita mesti bisa lolos. Gunakan sabuk pengaman," ucap Bella sambil mengganti gigi mobil. Aku hanya bisa mengikuti ucapannya saja. 

Bella membawa mobilnya membelok masuk ke sebuah jalan sempit yang ditumbuhi pohon-pohon lebat di tepinya. Jalanannya pun bukan aspal, melainkan tanah. Guncangan demi guncangan mulai datang. Ah, kenapa dia mengambil jalan ini?

Dzing! Dzing!

Tampaknya komplotan itu tak ingin kami lolos. Mobil kami dengan leluasa ditembaki tanpa sempat melawan. Kulihat ke belakang, hanya ada satu mobil yang mengikuti.

Bak!!!

Bagian belakang mobil dihantam. Guncangan hebat sangat memusingkan. Untung saja kepalaku tidak mengenai apapun.

Mobil kami memasuki padang ilalang yang luas. Ada kambing-kambing yang sedang makan. Semuanya kemudian tunggang-langgang ketika kami datang.

Bak! Dzing! Plang!

Kaca belakang tiba-tiba pecah akibat tembakan. Aku melindungi kepala dengan tangan, supaya tak mengenai pecahan kaca. Tampaknya komplotan itu tak peduli kami mati.

"Tak adakah sesuatu buat melawan?!" pekikku sambil menunduk.

Bella mengambil sesuatu di balik kemudi. Astaga! Itu pistol! Dia membawa pistol di mobil ini?

Tanpa mempedulikan kekagetanku, dia mengacungkan pistolnya ke belakang mobil, melalui kaca belakangnya yang pecah. Ah, dia bagai Angelina Jolie di film-film action.

Kaca depan mobil itu langsung pecah akibat tembakan Bella. Dengan kejadian ini, aku jadi yakin jika dia memang mantan polwan. Ya, skill mengemudikan mobil, senjata itu, dan kemampuan menembak, pastilah hasil latihannya selama di akademi polisi. Lagipula, dia masih muda untuk disebut mantan polwan. Kenapa dia meninggalkannya?

"Awas pohon?!" pekikku ketika menatap ke depan.

Bella menggigit pistol itu di mulutnya, lalu membanting kemudi ke kanan. Kaca spion mobil lepas akibat mengenai pohon. Mobil lalu membalik haluan hingga menghadap ke mobil yang menembaki kami.

Bhuaaakkk!

Hantaman hebat kedua mobil tak dapat dielakkan. Bagian depan masing-masing penyok. Kaca depan pun ikut pecah. Kepalaku mengenai pecahan kaca depan mobil hingga menimbulkan luka. Kepala pun menjadi pusing kembali.

"Celaka!" pekik Bella.

Posisi kedua mobil kini saling hadap-hadapan. Kulihat, di mobil depan ada moncong pistol yang dihadapkan ke kami.

Bhu bhu bhu bhu!!!

Tembakan membabi buta datang. Dengan tak mempedulikan sakit di kepala, sabuk pengaman kulepas, lalu menunduk ke bawah. Hujan timah panas ini tak bisa kuelakkan. Bunyi bising di mana-mana dan memekakkan telinga.

Satu hal yang membuatku kaget, Bella tetap di bangku kemudinya. Dan, astaga! Tembakan timah panas itu menembusnya, dan malah melubangi bangku di belakangnya. Tubuhnya tetap utuh.

Ini nyatakah?

Bella layangkan senyuman kepadaku yang tengah jongkok di bawah, "Kini kamu tahu alasannya, kan? Dan juga kenapa aku meninggalkan polwan."

Sekali lagi, apakah yang kulihat ini nyata? Dan dugaanku, Bella sudah abadi akibat Pohon Kehidupan itu? Buktinya, dia tembus tembakan timah panas. Dia tidak mati!

"Tetaplah di sini, aku akan menyelesaikan semuanya," ucap Bella sambil melompat ke depan mobil dengan pistol di tangan.

Dengan pelan-pelan, aku melongok ke atas untuk melihat. Tampaknya Bella sedang baku hantam dengan dua lelaki mengenakan tuksedo hitam di atas kap mobil. Ketiganya sama-sama hebat. Tapi gawat, tampaknya dua lelaki itu abadi juga. Bella menembak tapi bisa ditembus.

Tampaknya Bella tidak kehabisan akal. Kedua dasi lelaki itu diikat ke mobil dengan sangat cepat. Aku seolah melihat adegan Angelina Jolie sedang kung fu. Ataukah Bella sama dengan Milla Jovovich? Entahlah. Yang pasti, ini cool. Ah, kejadian ini membuatku lupa akan sakit ini sesaat.

Jleb!

Sebuah tembakan tiba-tiba mengenai dadaku. Kulihat, salah satu lelaki itu sempat melepaskan tembakan walau dalam keadaan diikat. Aku pun langsung limbung ke belakang.

"ISAAA!!!"

Bella langsung mendekatiku yang lemas di bangku samping kemudi. Wajahnya tampak cemas.

"Isa, tahanlah. Aku akan membawamu ke pohon itu," cemasnya.

Dada ini sangat sakit. Dan, ah! Aku tak tahu dengan kejadian tadi. Kenapa aku bisa di tembak di dada begini? Lagipula, mobil ini kenapa kacanya pecah semua?

"Isa, Isa! Jangan tinggalkan aku! Aku masih membutuhkanmu!" panik Bella, lalu mendudukkanku. Dia kembali ke bangku kemudi, lalu menjalankan mobilnya. Kulihat, ada dua lelaki yang diikat oleh dasi di mobil depan. Salah satunya sedang menembaki Bella. Tapi tembakan itu menembus kepala Bella.

Tenagaku mulai melemas. Napas ini pun ikut melemah. Sakit yang amat sangat sungguh menyiksa. Aku tak tahu mengapa ini bisa menimpaku.

"Bella ... tam ... paknya i ... ni sudah wak ... tunya untuk ... ku," ucapku lemah.

"Tidak, Isa. Aku yakin kamu bisa. Kita mesti ke Pohon Kehidupan dan menyelamatkan nyawamu! Aku menyesal tidak mengajakmu sewaktu aku ke pohon itu," paniknya sambil mengemudi. Bisa kulihat pelupuk matanya yang basah.

"Po ... hon a ... pa i ...tu? Su ... dah ...lah, Bella. Sim ... pan te ... na ... gamu. Ma ... ka ... sih atas cin ... ta ... mu sela ... ma ini," ucapku lagi semakin lemah. Mata pun mulai menutup.

"Isaaa! Isaaa!"

Panggilan Bella tidak begitu jelas. Semuanya mulai gelap, pekat, dan menakutkan. Tak ada lagi yang bisa menyelamatkanku. Kenangan dan keabadian seakan menjadi abu yang semakin menghilang ditiup angin. Aku pindah alam.

Dan kini, aku mengetahui semuanya.

-tamat-
image

Pohon Kehidupan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Ini adalah awal kalinya saya membuat fantasy. Hal ini dilakukan akibat adanya tantangan teman-teman di Line. Memang saya lemah dalam fantasy, namun ini adalah usaha saya. Tulisan ini untuk diposting di Facebook. Tapi, begitu tahu ada kesalahan-kesalahan, saya edit kembali. Sedikit banyaknya pasti tulisan ini masih ada kelemahannya. Jadi, jangan lupa tinggalkan komen dan selamat membaca.



==========
Mataku membuka pelan-pelan. Telinga ini mulai menangkap bebunyian. Ini, bunyi mesin mobil. Sangat lembut sekali. Dan tampak tidak asing di mata. Kudapati tubuh ini ada di dalam sebuah mobil, di bangku belakang.

Aku langsung duduk. Ah, kepala ini sangat pusing sekali! Dan, ah! Tangan kananku juga sakit sekali. Kulihat, banyak luka di setiap jengkal tangan ini. Luka ini ... luka ini adalah luka tembak!

"Kau sudah siuman?"

Mataku menatap ke depan. Di situ ada sesosok gadis yang sedang mengemudikan mobil. Dia mengenakan pakaian hitam. Aku mengenalnya. Ya, tak salah lagi.

"Bella? Kenapa aku bisa ada di dalam mobil ini?" tanyaku bingung.

"Untunglah, kau masih hidup, Isa. Aku mencemaskanmu," ucapnya menoleh padaku sejenak, lalu fokus mengemudi lagi. Ah, wajahnya sangat meneduhkanku.

Tampaknya, kini aku ada di dalam mobil sedan miliknya. Aku sudah biasa menaikinya. Meskipun begitu, jika kencan aku selalu menggunakan mobil milikku ketika menjemputnya.

"Bella, kita mau ke mana? Dan, kenapa tanganku dipenuhi luka tembak?" tanyaku bingung.

"Tak ada waktu untuk menjelaskan, Sa. Kita mesti mencapai tempat itu demi nyawamu," sahutnya masih fokus mengemudi. Dia menambahkan kecepatannya.

Aku sangat tidak paham apa yang ada di otak gadis itu. Tempat itu? Tempat apa? Apakah untuk mengobati luka? Entahlah, aku tak tahu pasti. Sejak awal menjalin hubungan dengannya, dia seolah memiliki dunianya yang lain. Sampai aku tak mampu menguaknya.

Hingga setahun lebih menjalin hubungan, hanya sedikit info yang kuketahui tentangnya. Mantan polwan, tidak suka daging, ayah dan ibu sudah tak ada, lalu apa lagi? Ah, kepala semakin pusing jika dipaksakan!

Tapi satu hal penting yang aku tahu, dia sangat cinta dan setia padaku. Itu saja sudah cukup.

"Bagaimana tanganmu?" tanyanya memecah lamunanku.

"Eh, oh, iya. Sakit sekali, Bell," keluhku.

Aku memegang tangan kananku yang penuh luka ini. Sial! Aku tak bisa mengingat siapa yang melakukan ini. Yang kutahu, aku dan Bella sedang jalan-jalan dengan mobil ini. Dan tiba-tiba aku kebangun sudah dalam keadaan begini.

"Tahan, ya. Setelah aku membawamu ke tempat itu, tak ada lagi sakit yang akan melandamu," ucapnya dengan nada pelan namun tegas.

Wanita memang bagai lautan yang paling dalam. Penuh dengan teka-teki meskipun aku bisa memiliki hatinya. Aku tetap tidak paham apa maunya.

"Bella, tolong jelaskan. Kenapa aku bisa begini dan kita mau ke mana?" tanyaku lagi.

"Kau lupa dengan kejadian tadi?" tanyanya bingung.

Ah! Kepalaku pusing jika mencoba mengingat-ingat kejadian lalu. "Aku tak tahu, Bella."

"Sial, tampaknya pistol itu memang bukan pistol biasa," gumamnya.

"Maksudmu?"

Bella diam agak lama. Kulihat ke jendela, mobil ini mulai meninggalkan kawasan kota. Kini yang tampak hanyalah sawah-sawah yang menguning, dengan gunung menjulang tinggi di belakangnya. Sungguh indah sekali pemandangannya.

"Sewaktu kita menonton bioskop tadi siang, ada komplotan yang mencoba menangkap kita. Komplotan itu menembaki dengan membabi buta ke semua penonton bioskop. Tampaknya komplotan itu tak bisa menemukan kita akibat gelapnya bioskop. Kita waktu itu duduk di pojok. Dan kamu melindungiku. Akibatnya, tanganmu yang kena tembakan. Untungnya kita duduk dekat pintu exit, sehingga bisa lolos. Lalu kamu pingsan begitu tiba di mobil."

Aku mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang dijelaskan Bella. Tapi, ah! Aku tak sanggup! Lagi-lagi kepala pusing sekali jika mencoba mengingatnya.

"Sia-sia saja kamu mencoba mengingatnya. Itu akibat efek tembakan tadi."

"Tembakan tadi? Maksudmu?"

Ah, aku sangat tidak memahami semua ini. Apa yang dia sembunyikan? Komplotan apa yang dimaksud? Teka-teki apa yang menyelubunginya? Banyak sekali tanya yang ingin kuajukan. Dia tampak bukan kekasihku. Dia Bella yang lain.

"Senjata yang dipakai oleh komplotan itu bisa membuat lupa tentang kejadian yang dialami bagi siapa saja yang kena, jika tidak mati. Senjata itu memang khusus dibuat untuk itu. Polisi sudah diinfokan tentang adanya senjata menakutkan itu. Dan kini, komplotan itu ingin menguasai pohon itu demi anggotanya. Makanya, komplotan itu ingin menutupi fakta tentang adanya Pohon Kehidupan. Tapi, polisi mengetahuinya," ucapnya dengan pandangan fokus ke depan, membelakangiku.

Dengan susah payah, aku pindah duduk di bangku depan, tepat di sampingnya, supaya bisa menyimak langsung penjelasannya, bukan membelakangi. Sakitnya tangan kanan ini mesti kutahan. Ah, aku bahkan seakan tak memiliki tangan kanan.

Kekasihku masih tetap fokus mengemudi, dan tidak membantuku pindah duduk ke bangku samping kemudi. Bisa kutangkap ada kecemasan di wajahnya.

image

"Apa itu Pohon Kehidupan, Bell?" tanyaku begitu sudah duduk.

"Itu adalah pohon yang bisa membuat manusia abadi."

Aku kaget dengan ucapan kekasihku, "Keabadian maksudmu?"

Dia mengangguk, "Iya, jadi pohon itu membuat siapapun jadi hidup abadi. Letaknya ada di balik gunung itu. Tak jelas asal-usul pohon itu. Penemu awalnya adalah ketua komplotan mafia itu ketika sedang hiking. Bentuk pohon itu lain dengan pohon pada umumnya. Tingginya mungkin 10 kaki. Siapapun yang menggunakannya akan kekal dan kebal dengan senjata jenis apapun. Manusia yang ingin abadi, mesti membungkus tubuhnya dengan daun pohon itu, lalu digantung di dahannya. Kemudian, akan muncul bayangannya atau kloningannya dan menjalani hidup dengan biasanya. Jasad atau tubuhnya tetap menggantung di pohon itu, tak bisa dilepaskan atau dijatuhkan. Sedangkan bayangannya yang lepaslah yang menggantikan hidupnya. Namun sayangnya, pohon itu kini disalahgunakan oleh komplotan itu untuk kejahatan."

"Maksudmu, kayak hantu yang bangkit gitu?" tanyaku.

"Iya, bisa dikatakan begitu. Tapi itu bukan hantu, melainkan manusia pada umumnya, dan hidup abadi."

Ini sangat membingungkan. Apakah pohon ajaib itu memang ada? Mengapa aku tidak tahu selama ini? Dan, kekasihku. Bagaimana dia bisa tahu tentang pohon itu?

"Tunggu, Bell. Jika tujuan kita adalah menuju pohon itu, jadi kamu mau aku abadi?" tanyaku lagi.

Bella mengangguk lemah.

Ah, tidak! Apa yang diinginkannya? Dia mau aku abadi? Itu sesuatu yang melawan hukum alam!

"Lalu, kenapa komplotan itu ingin menangkap kita? Apa salah kita? Jika kita ke sana bukannya komplotan mafia itu akan dengan mudah menangkap kita? Pohon itu pasti dijaga, kan?" tanyaku.

Dzing!

Tiba-tiba ada bunyi sebuah tembakan dan mengenai bagian belakang mobil. Bella kaget dan langsung membanting kemudi ke kanan. Celakanya, tangan kananku mengenai tuas gigi.

"Aaahhh!" pekikku kesakitan.

Bella menatap ke spion. Wajahnya tampak ketakutan. "Apakah itu komplotan yang ingin menangkap kita?"

"Apa?"

Oke, tanya ini kembali kuajukan, siapa sesungguhnya komplotan itu? Dan mengapa ingin menangkap kami? Ada apa semua ini?

"Penjelasannya nanti saja. Kini kita mesti bisa lolos. Gunakan sabuk pengaman," ucap Bella sambil mengganti gigi mobil. Aku hanya bisa mengikuti ucapannya saja. 

Bella membawa mobilnya membelok masuk ke sebuah jalan sempit yang ditumbuhi pohon-pohon lebat di tepinya. Jalanannya pun bukan aspal, melainkan tanah. Guncangan demi guncangan mulai datang. Ah, kenapa dia mengambil jalan ini?

Dzing! Dzing!

Tampaknya komplotan itu tak ingin kami lolos. Mobil kami dengan leluasa ditembaki tanpa sempat melawan. Kulihat ke belakang, hanya ada satu mobil yang mengikuti.

Bak!!!

Bagian belakang mobil dihantam. Guncangan hebat sangat memusingkan. Untung saja kepalaku tidak mengenai apapun.

Mobil kami memasuki padang ilalang yang luas. Ada kambing-kambing yang sedang makan. Semuanya kemudian tunggang-langgang ketika kami datang.

Bak! Dzing! Plang!

Kaca belakang tiba-tiba pecah akibat tembakan. Aku melindungi kepala dengan tangan, supaya tak mengenai pecahan kaca. Tampaknya komplotan itu tak peduli kami mati.

"Tak adakah sesuatu buat melawan?!" pekikku sambil menunduk.

Bella mengambil sesuatu di balik kemudi. Astaga! Itu pistol! Dia membawa pistol di mobil ini?

Tanpa mempedulikan kekagetanku, dia mengacungkan pistolnya ke belakang mobil, melalui kaca belakangnya yang pecah. Ah, dia bagai Angelina Jolie di film-film action.

Kaca depan mobil itu langsung pecah akibat tembakan Bella. Dengan kejadian ini, aku jadi yakin jika dia memang mantan polwan. Ya, skill mengemudikan mobil, senjata itu, dan kemampuan menembak, pastilah hasil latihannya selama di akademi polisi. Lagipula, dia masih muda untuk disebut mantan polwan. Kenapa dia meninggalkannya?

"Awas pohon?!" pekikku ketika menatap ke depan.

Bella menggigit pistol itu di mulutnya, lalu membanting kemudi ke kanan. Kaca spion mobil lepas akibat mengenai pohon. Mobil lalu membalik haluan hingga menghadap ke mobil yang menembaki kami.

Bhuaaakkk!

Hantaman hebat kedua mobil tak dapat dielakkan. Bagian depan masing-masing penyok. Kaca depan pun ikut pecah. Kepalaku mengenai pecahan kaca depan mobil hingga menimbulkan luka. Kepala pun menjadi pusing kembali.

"Celaka!" pekik Bella.

Posisi kedua mobil kini saling hadap-hadapan. Kulihat, di mobil depan ada moncong pistol yang dihadapkan ke kami.

Bhu bhu bhu bhu!!!

Tembakan membabi buta datang. Dengan tak mempedulikan sakit di kepala, sabuk pengaman kulepas, lalu menunduk ke bawah. Hujan timah panas ini tak bisa kuelakkan. Bunyi bising di mana-mana dan memekakkan telinga.

Satu hal yang membuatku kaget, Bella tetap di bangku kemudinya. Dan, astaga! Tembakan timah panas itu menembusnya, dan malah melubangi bangku di belakangnya. Tubuhnya tetap utuh.

Ini nyatakah?

Bella layangkan senyuman kepadaku yang tengah jongkok di bawah, "Kini kamu tahu alasannya, kan? Dan juga kenapa aku meninggalkan polwan."

Sekali lagi, apakah yang kulihat ini nyata? Dan dugaanku, Bella sudah abadi akibat Pohon Kehidupan itu? Buktinya, dia tembus tembakan timah panas. Dia tidak mati!

"Tetaplah di sini, aku akan menyelesaikan semuanya," ucap Bella sambil melompat ke depan mobil dengan pistol di tangan.

Dengan pelan-pelan, aku melongok ke atas untuk melihat. Tampaknya Bella sedang baku hantam dengan dua lelaki mengenakan tuksedo hitam di atas kap mobil. Ketiganya sama-sama hebat. Tapi gawat, tampaknya dua lelaki itu abadi juga. Bella menembak tapi bisa ditembus.

Tampaknya Bella tidak kehabisan akal. Kedua dasi lelaki itu diikat ke mobil dengan sangat cepat. Aku seolah melihat adegan Angelina Jolie sedang kung fu. Ataukah Bella sama dengan Milla Jovovich? Entahlah. Yang pasti, ini cool. Ah, kejadian ini membuatku lupa akan sakit ini sesaat.

Jleb!

Sebuah tembakan tiba-tiba mengenai dadaku. Kulihat, salah satu lelaki itu sempat melepaskan tembakan walau dalam keadaan diikat. Aku pun langsung limbung ke belakang.

"ISAAA!!!"

Bella langsung mendekatiku yang lemas di bangku samping kemudi. Wajahnya tampak cemas.

"Isa, tahanlah. Aku akan membawamu ke pohon itu," cemasnya.

Dada ini sangat sakit. Dan, ah! Aku tak tahu dengan kejadian tadi. Kenapa aku bisa di tembak di dada begini? Lagipula, mobil ini kenapa kacanya pecah semua?

"Isa, Isa! Jangan tinggalkan aku! Aku masih membutuhkanmu!" panik Bella, lalu mendudukkanku. Dia kembali ke bangku kemudi, lalu menjalankan mobilnya. Kulihat, ada dua lelaki yang diikat oleh dasi di mobil depan. Salah satunya sedang menembaki Bella. Tapi tembakan itu menembus kepala Bella.

Tenagaku mulai melemas. Napas ini pun ikut melemah. Sakit yang amat sangat sungguh menyiksa. Aku tak tahu mengapa ini bisa menimpaku.

"Bella ... tam ... paknya i ... ni sudah wak ... tunya untuk ... ku," ucapku lemah.

"Tidak, Isa. Aku yakin kamu bisa. Kita mesti ke Pohon Kehidupan dan menyelamatkan nyawamu! Aku menyesal tidak mengajakmu sewaktu aku ke pohon itu," paniknya sambil mengemudi. Bisa kulihat pelupuk matanya yang basah.

"Po ... hon a ... pa i ...tu? Su ... dah ...lah, Bella. Sim ... pan te ... na ... gamu. Ma ... ka ... sih atas cin ... ta ... mu sela ... ma ini," ucapku lagi semakin lemah. Mata pun mulai menutup.

"Isaaa! Isaaa!"

Panggilan Bella tidak begitu jelas. Semuanya mulai gelap, pekat, dan menakutkan. Tak ada lagi yang bisa menyelamatkanku. Kenangan dan keabadian seakan menjadi abu yang semakin menghilang ditiup angin. Aku pindah alam.

Dan kini, aku mengetahui semuanya.

-tamat-
image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.