image

Kisah ini saya tulis dua tahun yang lalu, jadi mohon maaf jika agak aneh dan gak jelas. Yang penting dibaca, hahaha!! Silakan komen kalau memang niat.


==========
"Ayo kita foto-foto dulu. Momen kayak gini mesti diabadikan," ajakku pada kekasihku, Nayla, sambil menyiapkan ponsel kesayanganku.

"Boleh," sahut gadis manis itu.

Aku dan dia lalu asyik tenggelam dalam foto-foto selfie di wilayah hutan pinus di gunung. Pepohonan tumbuh lebat di situ. Saat ini, aku mengajaknya jalan-jalan ke kawasan gunung hanya untuk melepas kepenatan. Alam yang masih alami, kesejukannya, dan keteduhannya tidak bisa aku temukan di kota. Meskipun letaknya cukup jauh, namun aku tidak ambil pusing. Canda dan tawa selalu menemani petualanganku dengan dia.

"Kita foto-foto di pohon itu, yuk," ajak Nayla sambil menggandeng tanganku.

Aku memandangi sebuah pohon yang ditunjuk oleh Nayla. Aku sama sekali tidak tahu pohon apa itu. Batangnya tampak kokoh, dedaunan lebat, dan cukup tinggi. Pohon itu tampaknya sudah tua.

"Boleh, deh," jawabku.

Kami pun melanjutkan selfie di pohon tua itu.

***

"Cieee, yang abis jalan-jalan ke gunung. Gak ngajak-ngajak, sih," goda sahabatku, Doni, ketika aku sedang makan di sebuah kafe. Sedangkan dia hanya memesan segelas jus.

"Hahaha! Muke gile! Kamu mau jadi 'kambing conge', Don?" ejekku. Nasi di mulutku membuncah sebagian ke meja.

"Kagak, dong! Aku kan bisa bawa cewekku," sahut Doni dengan memasang tampang sinis.

"Emang udah punya cewek?" ejekku lagi.

Doni memanyunkan mulutnya, "Mana foto-fotonya? Aku mau lihat," tanyanya.

"Buat apa? Nanti kamu malah kepengen," jawabku sambil mengambil ponsel di saku.

"Kagak bakalan!" sahutnya cepat.

Doni mengambil ponsel di tanganku. Dia pun keasyikan melihat foto-fotoku dengan Nayla sewaktu di gunung. Sedangkan aku melanjutkan makan.

"Siapa ini yang ada di belakangmu?" tanya Doni dengan tatapan masih ke ponselku.

"Siapa lagi kalau bukan Nayla, Don?" cuekku masih asyik makan.

"Bukan! Di belakang kamu dan Nayla!" tegas Doni.

Aku pun mengambil ponsel yang ada di tangan Doni untuk melihat apa yang dia lihat. Bola mataku membulat tatkala menatap foto yang dimaksud oleh Doni. Tampak di belakangku ada sesosok wanita yang mengenakan pakaian putih-putih lusuh. Sosok itu tengah melayang dan menatapku dengan tajam. Seolah ada emosi di situ.

"I ... ini kan kuntilanak!" pekikku.

Kedua tanganku seolah kaku. Mulutku pun tak lagi mengunyah. Padahal masih ada nasinya. Tak henti-hentinya aku menatap foto di ponselku itu.  Aku ingat kalau foto ini diambil ketika ada di dekat pohon tua itu. Apakah kuntilanak ini penghuni pohon tua itu?

"Don, kamu kenapa?" tanyaku ketika Doni menatapku dengan tegang.

"Di ... di ... di belakangmu ada ...," tegangnya dengan peluh mulai membasahi wajahnya.

"Ada apa?" tanyaku panik. Aku menoleh ke belakangku dan tak ada siapa-siapa di situ. Apalagi letakku ada di pojokan kafe.

"Kuntilanak!" pekik Doni lalu langsung hengkang meninggalkanku.

"Don!" panggilku sambil hendak bangkit.

Namun, belum sempat melangkah, dadaku mulai sakit. Napasku mulai sesak. Tak kusangka nasi yang masih ada di mulutku langsung menyumbat lubang napas ketika aku memanggil Doni.

Aku mulai kejang-kejang bagai cacing kepanasan di lantai kafe. Kuusahakan membuka mulut untuk mengambil napas. Namun hal itu sia-sia belaka. Dadaku malah semakin sesak.

Detik kemudian, aku mulai tenggelam dalam kegelapan abadi. Begitu pekat dan mencekam. Dan dalam kegelapan itu, sosok yang kulihat di fotoku menyapaku dengan sinisnya. Lambaian tangannya seolah mengajakku untuk ikut dengannya.

"Selamat datang di duniaku," ucap sosok wanita itu.

-tamat-


image

Pohon Tua


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kisah ini saya tulis dua tahun yang lalu, jadi mohon maaf jika agak aneh dan gak jelas. Yang penting dibaca, hahaha!! Silakan komen kalau memang niat.


==========
"Ayo kita foto-foto dulu. Momen kayak gini mesti diabadikan," ajakku pada kekasihku, Nayla, sambil menyiapkan ponsel kesayanganku.

"Boleh," sahut gadis manis itu.

Aku dan dia lalu asyik tenggelam dalam foto-foto selfie di wilayah hutan pinus di gunung. Pepohonan tumbuh lebat di situ. Saat ini, aku mengajaknya jalan-jalan ke kawasan gunung hanya untuk melepas kepenatan. Alam yang masih alami, kesejukannya, dan keteduhannya tidak bisa aku temukan di kota. Meskipun letaknya cukup jauh, namun aku tidak ambil pusing. Canda dan tawa selalu menemani petualanganku dengan dia.

"Kita foto-foto di pohon itu, yuk," ajak Nayla sambil menggandeng tanganku.

Aku memandangi sebuah pohon yang ditunjuk oleh Nayla. Aku sama sekali tidak tahu pohon apa itu. Batangnya tampak kokoh, dedaunan lebat, dan cukup tinggi. Pohon itu tampaknya sudah tua.

"Boleh, deh," jawabku.

Kami pun melanjutkan selfie di pohon tua itu.

***

"Cieee, yang abis jalan-jalan ke gunung. Gak ngajak-ngajak, sih," goda sahabatku, Doni, ketika aku sedang makan di sebuah kafe. Sedangkan dia hanya memesan segelas jus.

"Hahaha! Muke gile! Kamu mau jadi 'kambing conge', Don?" ejekku. Nasi di mulutku membuncah sebagian ke meja.

"Kagak, dong! Aku kan bisa bawa cewekku," sahut Doni dengan memasang tampang sinis.

"Emang udah punya cewek?" ejekku lagi.

Doni memanyunkan mulutnya, "Mana foto-fotonya? Aku mau lihat," tanyanya.

"Buat apa? Nanti kamu malah kepengen," jawabku sambil mengambil ponsel di saku.

"Kagak bakalan!" sahutnya cepat.

Doni mengambil ponsel di tanganku. Dia pun keasyikan melihat foto-fotoku dengan Nayla sewaktu di gunung. Sedangkan aku melanjutkan makan.

"Siapa ini yang ada di belakangmu?" tanya Doni dengan tatapan masih ke ponselku.

"Siapa lagi kalau bukan Nayla, Don?" cuekku masih asyik makan.

"Bukan! Di belakang kamu dan Nayla!" tegas Doni.

Aku pun mengambil ponsel yang ada di tangan Doni untuk melihat apa yang dia lihat. Bola mataku membulat tatkala menatap foto yang dimaksud oleh Doni. Tampak di belakangku ada sesosok wanita yang mengenakan pakaian putih-putih lusuh. Sosok itu tengah melayang dan menatapku dengan tajam. Seolah ada emosi di situ.

"I ... ini kan kuntilanak!" pekikku.

Kedua tanganku seolah kaku. Mulutku pun tak lagi mengunyah. Padahal masih ada nasinya. Tak henti-hentinya aku menatap foto di ponselku itu.  Aku ingat kalau foto ini diambil ketika ada di dekat pohon tua itu. Apakah kuntilanak ini penghuni pohon tua itu?

"Don, kamu kenapa?" tanyaku ketika Doni menatapku dengan tegang.

"Di ... di ... di belakangmu ada ...," tegangnya dengan peluh mulai membasahi wajahnya.

"Ada apa?" tanyaku panik. Aku menoleh ke belakangku dan tak ada siapa-siapa di situ. Apalagi letakku ada di pojokan kafe.

"Kuntilanak!" pekik Doni lalu langsung hengkang meninggalkanku.

"Don!" panggilku sambil hendak bangkit.

Namun, belum sempat melangkah, dadaku mulai sakit. Napasku mulai sesak. Tak kusangka nasi yang masih ada di mulutku langsung menyumbat lubang napas ketika aku memanggil Doni.

Aku mulai kejang-kejang bagai cacing kepanasan di lantai kafe. Kuusahakan membuka mulut untuk mengambil napas. Namun hal itu sia-sia belaka. Dadaku malah semakin sesak.

Detik kemudian, aku mulai tenggelam dalam kegelapan abadi. Begitu pekat dan mencekam. Dan dalam kegelapan itu, sosok yang kulihat di fotoku menyapaku dengan sinisnya. Lambaian tangannya seolah mengajakku untuk ikut dengannya.

"Selamat datang di duniaku," ucap sosok wanita itu.

-tamat-


image

Bagikan
  1. Kalau dibaca malem-malem sendiri di kamar, pasti merinding saya ini -_-

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.