image

Tulisan ini saya buat cukup singkat, mungkin hanya sejam. Sudah lama saya ingin membuat tulisan tentang Sandekala. Mungkin hal itu bisa diwujudkan kini. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Kata mama, aku enggak boleh main saat malam-malam. Katanya nanti aku bisa diculik sama sandekala, dan dia suka menyiksa anak kecil kayak aku ini. Tapi, aku enggak tahu apa itu yang disebutkan mama. Aku juga enggak tahu wujud dan bentuknya sama sekali.

"Cepat masuk! Nanti ada sandekala!" begitulah yang selalu mama katakan saat petang mulai datang. Padahal, aku ingin melihat bagaimana wujud sandekala itu.

Image

Tapi tampaknya mama bohong. Ada paman yang mengaku namanya Sandekala itu baik hatinya. Waktu itu, aku sedang main tanah di halaman tempat tinggalku saat petang. Aku dikasih boneka panda yang sangat lucu. Aku sangat senang sekali.

Paman itu mengajakku ke tempatnya. Katanya di sana itu banyak bonekanya. Tentu saja aku mau diajaknya. Tapi aku bingung, takut mama akan mengomeliku jika main jauh-jauh.

"Kamu tenang saja, paman yang bilang sama mama kamu," katanya sambil senyum.

Ah, aku jadi lega dengan ucapannya. Setidaknya nanti ada yang membelaku saat pulang. Lalu aku pun mengikuti Paman Sandekala itu ke tempatnya. Tampaknya, tempatnya itu semacam pondok kayu dekat hutan. Begitu masuk, dia memang tidak bohong, di situ banyak sekali boneka. Ah, aku jadi bingung memilihnya. Mau yang ini, yang itu, bahkan semuanya.

"Paman, aku mau pulang, takut kemaleman. Apalagi aku belum mandi," pintaku setelah puas sambil memeluk tiga buah boneka.

"Boleh, ayo kita pulang," ajaknya. Lalu kami pun pulang.

Kami pun tiba. Dengan wajah senang, aku langsung mendekati mama yang tampak gelisah di halaman tempat tinggal. "Mama, Paman Sandekala baik banget. Mama tuh salah tentangnya. Lihat, dia ngasih aku banyak boneka," kataku bangga.

Tapi mama enggak menyahutiku. Dia malah tampak panik. Dan yang membuat aku bingung, dia memanggil-manggil namaku. Kenapa dia? Padahal kan ada aku di sini. Tetangga-tetangga pun datang dan menanyakan mamaku. Tapi, tampaknya semuanya enggak melihat ada aku di sini, di depan mama.

"Mama kamu dan yang lainnya tidak bisa melihatmu, Nak. Kau sudah jadi milikku. Kau sudah mati," ucap paman di belakangku. Dia yang tak lain adalah Paman Sandekala itu.

-tamat-


image

Sandekala


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan ini saya buat cukup singkat, mungkin hanya sejam. Sudah lama saya ingin membuat tulisan tentang Sandekala. Mungkin hal itu bisa diwujudkan kini. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Kata mama, aku enggak boleh main saat malam-malam. Katanya nanti aku bisa diculik sama sandekala, dan dia suka menyiksa anak kecil kayak aku ini. Tapi, aku enggak tahu apa itu yang disebutkan mama. Aku juga enggak tahu wujud dan bentuknya sama sekali.

"Cepat masuk! Nanti ada sandekala!" begitulah yang selalu mama katakan saat petang mulai datang. Padahal, aku ingin melihat bagaimana wujud sandekala itu.

Image

Tapi tampaknya mama bohong. Ada paman yang mengaku namanya Sandekala itu baik hatinya. Waktu itu, aku sedang main tanah di halaman tempat tinggalku saat petang. Aku dikasih boneka panda yang sangat lucu. Aku sangat senang sekali.

Paman itu mengajakku ke tempatnya. Katanya di sana itu banyak bonekanya. Tentu saja aku mau diajaknya. Tapi aku bingung, takut mama akan mengomeliku jika main jauh-jauh.

"Kamu tenang saja, paman yang bilang sama mama kamu," katanya sambil senyum.

Ah, aku jadi lega dengan ucapannya. Setidaknya nanti ada yang membelaku saat pulang. Lalu aku pun mengikuti Paman Sandekala itu ke tempatnya. Tampaknya, tempatnya itu semacam pondok kayu dekat hutan. Begitu masuk, dia memang tidak bohong, di situ banyak sekali boneka. Ah, aku jadi bingung memilihnya. Mau yang ini, yang itu, bahkan semuanya.

"Paman, aku mau pulang, takut kemaleman. Apalagi aku belum mandi," pintaku setelah puas sambil memeluk tiga buah boneka.

"Boleh, ayo kita pulang," ajaknya. Lalu kami pun pulang.

Kami pun tiba. Dengan wajah senang, aku langsung mendekati mama yang tampak gelisah di halaman tempat tinggal. "Mama, Paman Sandekala baik banget. Mama tuh salah tentangnya. Lihat, dia ngasih aku banyak boneka," kataku bangga.

Tapi mama enggak menyahutiku. Dia malah tampak panik. Dan yang membuat aku bingung, dia memanggil-manggil namaku. Kenapa dia? Padahal kan ada aku di sini. Tetangga-tetangga pun datang dan menanyakan mamaku. Tapi, tampaknya semuanya enggak melihat ada aku di sini, di depan mama.

"Mama kamu dan yang lainnya tidak bisa melihatmu, Nak. Kau sudah jadi milikku. Kau sudah mati," ucap paman di belakangku. Dia yang tak lain adalah Paman Sandekala itu.

-tamat-


image

Bagikan
  1. Replies
    1. Ini katanya mitos yang biasa dipakai orang tua buat nakut-nakutin anaknya supaya gak maen saat sore. Tapi ada juga yang membenarkan adanya Sandekala.

      Delete
  2. Kalo di kampung aku mitosnya jangan main petang2 pas sunset. Bnyak setannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang bilang mitosnya Sandekala atau Kalong Wewe gan

      Delete
  3. Lumayan daripada diem mending baca ini... :)

    ReplyDelete
  4. Iya gan, didaerah saya banyak banget mitos begituan pas kecil jadi takut tpi udh besar kagak takut hehe

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.