Image

Tulisan ini sempat saya ikutkan dalam lomba menulis. Sempat lolos dalam tahap satu, namun tidak lolos di tahap dua. Dugaan saya, akibat tidak ada komedinya, sebab yang saya ikuti itu lombanya tentang komedi, hahaha! Its okay, yang penting saya bisa lolos walaupun tahap satu. Faktanya, inilah tulisan awal saya yang tak ada alfabet cadelnya.


Awalnya, judulnya bukan ini. Namun, saya ubah ketika diposting di sini. Semoga sobat menikmatinya dan jangan lupa tinggalkan komen.



==========
Aku melangkah pelan menuju halte depan kampus ketika malam semakin gelap. Hawa dingin mulai menusuk-nusuk tubuh. Padahal, aku mengenakan jaket tebal.

Tak disangka, aku pulang kemalaman setelah menyelesaikan bahan-bahan untuk makalah di kampus. Sialnya, makalah itu mesti selesai dan dikumpulkan besok. Jadinya, aku menggunakan SKS alias Sistem Kebut Semalam. Alhasil, badanku pegal-pegal semua. Apalagi, tadi siang aku putus sama kekasihku dengan alasan yang tidak jelas. Padahal belum lama jadian. Lengkap sudah lelahku.

Setengah jam lamanya aku menunggu di halte, namun tak ada satu pun angkot atau bis yang muncul. Aneh, tidak biasanya jalanan sepi begini. Padahal masih jam sebelas malam. Aku mulai putus asa. Jika jalan kaki untuk pulang, aku tak sanggup sebab letaknya sangat jauh. Dan juga, tenagaku sudah melemas akibat SKS tadi.

Di kejauhan, aku melihat dua lelaki mengenakan pakaian hitam-hitam. Mata keduanya sangat tajam menatapku. Tak disangka, kedua lelaki itu langsung mendekatiku. Salah satunya membawa pisau lipat.

“Hei! Mana uang lu?” bentak salah satu lelaki itu sambil mengacungkan pisaunya.

Belum sempat aku menjawab, lelaki satunya menahan kedua tanganku ke belakang dengan tangannya yang kokoh. Sehingga, aku tak bisa melakukan apa-apa dan melawan.

“Ada apa ini?” tanyaku kaget.

“Jangan banyak bacot lu!” bentak yang mengacungkan pisau. Dia langsung menggeledah paksa pakaianku. Aku tak bisa mengelak lagi, sebab kedua tanganku ditahan oleh temannya. Tasku pun tak luput untuk digeledah. Dia kemudian mengambil dompet dan ponselku.

Lelaki yang menggeledahku sunggingkan senyum sinis, “Dompet lu banyak isinya juga,” ucapnya sambil melihat isi dompetku.

“Bang, jangan diambil,” pintaku.

Bukk!!!

Tiba-tiba dia menghantam pipiku yang masih mulus ini. Akibatnya, muncul luka lebam yang sangat menyakitkan. Kemudian, temannya itu melepaskan cekalannya sambil menjatuhkanku. Kuusap-usap pipiku yang amat sangat sakit akibat hantaman itu. Aku ingin sekali meminta bantuan. Namun, keadaan yang sepi ini sangat tidak memungkinkan untuk mendapatkan bantuan. Apalagi ponselku sudah pindah tangan.

“Ayo cabut!” kata yang mengambil dompet dan ponselku. Lalu kedua lelaki itu meninggalkanku.

Namun, dua lelaki itu langsung menghentikan langkahnya. Aku melihat wajah keduanya dengan seksama. Mata kedua lelaki itu melotot bak melihat hantu. 

Dugaanku tepat, kedua lelaki itu memang melihat sesuatu yang ganjil. Di hadapan keduanya, ada sesosok wanita mengenakan pakaian putih. Wajahnya menatap kosong. Dan yang aneh, kakinya mengambang.

“Kembalikan dompet dan ponsel itu,” ucap sosok itu dengan nada pelan. Lalu, dia tunjukkan matanya yang melotot dan menakutkan.

“Ku ... kuntilanak!!!” pekik kedua lelaki itu.

Lelaki yang menggeledahku membuang dompet dan ponselku ke tanah. Lalu, keduanya langsung hengkang menjauhi halte.

Setelah kedua lelaki tadi sudah cukup jauh, aku kaget sebab sosok wanita tadi langsung menghilang. Aku menoleh ke sekelilingku. Tapi, sosok wanita tadi tak kutemukan. Aku menghela napas panjang. Kemudian, kupungut ponsel dan dompetku di tanah.

“Siapa wanita itu? Apakah memang itu kuntilanak?” gumamku.

***

“Hei! Ngelamun aja!” sapa Seno di belakang sambil menepuk bahuku. Lalu, dia duduk di sampingku.

Aku menoleh, “Enggak apa-apa, Sen,” jawabku. Lalu, aku kembali hanyut dalam lamunan di bangku taman kampus itu.

Temanku yang kepalanya botak plontos itu menatapku dengan seksama. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Soni, kamu galau dan gak bisa move on? Pipimu kenapa bonyok gitu? Kamu habis ditonjok mantanmu setelah putus?”

Aku langsung menjauhkan wajahku, “Apa-apaan sih kamu asal aja kalau ngomong!”

“Hahaha!” tawa Seno, “kamu memangnya ada masalah apa, Son? Masih galau? Makalahmu ditolak dosen tadi?”

Aku menghela napas panjang, kemudian menggeleng lemah, “Bukan, Sen. Bukan masalah itu. Mungkin aku emang mesti cepat-cepat tobat, Sen.”

“Tobat? Tobat apaan?”

Aku menatap tajam ke Seno, “Apakah kamu meyakini adanya hantu?” aku balik tanya.

Seno menatapku dengan wajah polos, “Kamu habis lihat hantu emangnya, Son?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Hahaha!” tawa Seno kembali meledak, “kamu emang mesti tobat, Son. Cepatlah pakai hijab supaya tambah alim. Pas banget sama wajahmu yang kemayu itu. Nanti kamu enggak bakalan diganggu hantu lagi. Lagian, pipimu bonyok gitu pasti akibat ditonjok sama hantu,” ejeknya.

“Eh buset! Ngledek nih Si Botak!” kesalku.

Seno tidak mempedulikan kekesalanku. Dia enak-enakan ketawa lepas mengejekku. Tawanya yang agak sumbang itu membuatku kesal, bahkan bikin mual. Aku memilih untuk diam saja. Selang semenit kemudian, langsung kutatap tajam wajahnya, “Aku enggak main-main, Sen. Aku melihat hantu!”

Seno menghentikan tawanya. Dia menatapku sambil mengedutkan dahinya, “Kamu enggak bohong kan, Son?” selidiknya.

“Mana mungkin aku bohong, Seno!” jawabku meyakinkannya.

“Di mana kamu melihatnya?”

“Di halte depan kampus,” jawabku, “tadi malam, aku menyelesaikan makalahku sampai jam setengah sebelas. Ketika sedang menunggu angkot di halte untuk pulang, datang dua penjahat yang memalak dan mengancamku dengan pisau. Dua penjahat itu mengambil dompet dan ponselku, kemudian menonjok pipiku. Ketika keduanya hendak cabut, ada sesosok wanita yang menghadang. Wanita itu mengenakan pakaian putih-putih dan kakinya mengambang. Wajahnya sangat menakutkan. Kedua penjahat itu jadi ketakutan dan langsung enyah. Dompet dan ponselku selamat. Wanita itu kemudian menghilang.”

“Kuntilanak!” pekik Seno.

Semua yang ada di taman kampus kontan menoleh menatapku dan Seno. Aku langsung menepuk kepala Seno yang plontos itu, “Pelan-pelan aja, Botak!”

“Aduh, maaf. Aku ini emang kadang-kadang suka  spontanitas sih,” kata Seno mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya, “lalu, apa kamu mau ketemu sama makhluk halus itu lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk mantap, “Iya, Sen. Aku hanya ingin tahu, siapa sosok itu. Sebab, dia seolah-olah ...,” aku menghentikan kata-kataku.

Seno menatapku sambil memicingkan matanya, “Seolah-olah apa, Son?”

“Seolah-olah ... dia melindungiku,” jawabku sambil mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam.

“Melindungimu?” ulang Seno.

Aku mengangguk pelan, “Iya, Sen. Mungkin kalau enggak ada dia, dompet dan ponselku sudah pasti dibawa sama kedua penjahat itu. Makanya, aku ingin ketemu lagi dengan wanita tadi malam itu.”

Seno menunjukkan wajahnya yang agak ketakutan, “Kamu jangan ngajakin aku ya, Son.”

Aku menatap Seno dengan memelas, “Jangan gitu dong, Sen. Aku butuh kamu nih.”

Seno menggeleng cepat, “Enggak mau, Soni! Aku enggak mau ketemu sama hantu-hantu macam kuntilanak!”

Aku masih menatap Seno dengan wajah memelas. Penuh asa supaya Si Botak itu mau menemaniku menemui kuntilanak itu. 

“Ayolah, Botak!”

Seno menghela napas panjang sambil menatap ke bawah. Tampaknya, dia penuh dengan kebimbangan. Dia mengusap kepala botaknya sesaat, lalu menatapku, “Okelah, Son. Aku ikut menemanimu. Tapi tolongin aku jika aku pingsan nanti ya.”

Aku sunggingkan senyum puas, “Nah, gitu dong! Kita ketemuan nanti malam jam tujuh di halte kampus.”

“Semoga aku datangnya telat,” celetuk Seno.

“Ah, sialan kamu!”

***

Image

Dinginnya malam ini masih sama dengan malam sebelumnya. Meskipun aku mengenakan jaket tebal, dinginnya masih sangat menusuk. Padahal masih jam tujuh. Aku hanya menggosok-gosok kedua tanganku saja supaya hangat sambil menunggu Seno yang belum datang.

Ucapan Si Botak itu memang selalu tepat. Jika dia bilang datang telat, dia pasti akan datang telat. Kini sudah jam tujuh lebih lima belas menit, dia belum juga memunculkan batang hidungnya. Untung saja suasana jalanan masih belum sepi. Jadi, aku tidak begitu kesepian. Walau begitu, aku mengingat kembali masa-masa sewaktu menjalani hubungan kekasih yang hanya seminggu itu.

Tepat jam setengah delapan lebih sepuluh menit, Seno datang dengan wajah tanpa dosa. Si Botak itu juga tampak mengenakan jaket tebal. Dengan kepala botaknya, dia sudah bagaikan tuyul yang kelayapan malam-malam. Dia lantas mendekatiku sambil cengengesan.

“Lama nunggu, Son?” sapanya polos.

“Botak! Kenapa enggak sekalian jam sembilan aja datangnya? Aku SMS malah enggak balas-balas!” tanyaku kesal.

“Hehehe! Maaf, Son. Aku memang sengaja datang telat supaya kamu datang duluan. Kalau aku datang duluan, bisa-bisa aku yang diganggu duluan sama kuntilanak itu,” jawab Seno masih sambil cengengesan.

“Halah, pengecut kamu!” umpatku.


Seno memencongkan mulutnya sambil menyipitkan matanya. 

Aku tidak mempedulikan Seno yang menatapku demikian. Bagiku, sengaja datang telat itu sudah sangat kelewatan. Aku lebih memilih duduk di bangku halte.


“Kita tunggu saja kuntilanak itu sampai tengah malam,” kataku.

Seno kaget, “Apa? Tengah malam? Kalau begitu, kenapa kita tidak janjian tengah malam langsung aja, Son?” tanyanya.

Aku sunggingkan senyum sinis, “Kalau iya begitu, nanti kamunya malah enggak mau ikut soalnya udah ngantuk duluan.”

Seno memencongkan mulutnya lagi. Dia lalu duduk di sampingku, “Iya deh, aku ngikut aja apa katamu! Ingat pesanku ya, jika aku pingsan nanti mohon ditolong ya.”

Aku ketawa puas saja dalam hati.

***

“Son, mau nunggu sampai kapan nih? Udah jam setengah dua belas gini kuntilanak itu belum juga muncul! Aku udah mulai ngantuk nih! Mana jalanan udah sepi kayak gini! Bisa-bisa, kita dipalak sama penjahat yang tadi malam malakin kamu!” keluh Seno.

Aku semakin gelisah. Kucoba menelaah ucapan Seno itu. Memang ada betulnya juga kata-kata Si Botak itu. Mau menunggu sampai kapan? Sedangkan kuntilanak itu belum juga muncul.

“Sen,” panggilku, “coba kau palakin aku,” usulku.

Seno menatapku aneh, “Palakin kamu? Maksudmu, Son?”

“Iya, palakin aku. Siapa tahu aja tu kuntilanak emang melindungiku. Nah, ketika aku dipalakin kamu, kuntilanaknya muncul deh.”

Seno menggeleng cepat, “Enggak, Son! Enggak! Yang ada nantinya aku bakal mati dicekik sama kuntilanak itu! Lagipula, aku enggak ada tampang penjahatnya! Enggak pantes ah!” ucapnya sambil ketakutan.

“Ya elah, kamu kan emang penjahat cinta, Sen. Ayolah!” paksaku.

Seno tampak gelisah. Dia bingung untuk mengikuti ideku ini. Jika aku menjadi dia, aku pasti akan melakukannya. Sebab, dengan begitu teka-teki siapa kuntilanak itu akan diketahui. Meskipun itu kemungkinannya hanya sedikit.

“Baiklah, Son,” kata Seno yang masih tampak bimbang, “aku mau jadi penjahat.”

“Sip,” sahutku, “ayo palak aku.”

Tanpa basa-basi lagi, Seno langsung mencekal pundakku. Aku agak kaget juga dengan aksinya yang tiba-tiba itu.

“Mana uangmu?” ucapnya dengan pandangan melotot agak dipaksakan.

Aku menghela napas panjang setelah melihat pelototan Si Botak yang agak konyol itu. Tampangnya itu bikin aku keki.

“Kayaknya, tampangmu emang enggak ada tampang penjahatnya, Sen.”

“Loh, kenapa?”

Aku menghela napas panjang saja menanggapi temanku itu. Bukannya membantu, dia malah membuatku pusing. Kucoba mengingat lagi kejadian tadi malam sewaktu aku dipalak oleh dua penjahat.

“Pukul pipiku, Botak,” pintaku.

“Apa? Mukul kamu, Son?” tanya Seno kaget.

Aku mengangguk mantap, “Iya.”

Seno sunggingkan senyum sinis, “Wah pas banget nih. Sudah lama aku ingin memukulmu, Son. Soalnya, kamu mengejek aku botak-botak melulu. Kini kesampaian juga. Hahaha!” tawanya sambil menyiapkan kepalan tangan kanannya.

Bukk!!!

Belum sempat aku menyahut ucapannya, Si Botak itu langsung meninju pipiku sekuat tenaga. Tak ayal lagi, aku langsung jatuh ke tanah. Pukulan itu meninggalkan luka lebam di pipiku. Lengkap sudah luka lebam di kedua pipiku yang tadinya mulus ini. Yang satu dihantam oleh penjahat tadi malam, dan yang satunya lagi dihantam oleh Si Botak Seno.

“Gila kamu, Botak! Pelan-pelan aja dong mukulnya!” keluhku sambil menatap tajam Seno. Kuusap pipiku yang kena hantaman Seno.

“Loh, kan kamu yang minta dipukul, Son,” jawab Seno dengan wajah polos tanpa dosa.

Aku hanya memaki dalam hati saja. Agak menyesal juga aku meminta dia memukulku. Muka sudah bonyok begini, ditambah kuntilanak yang menjadi tujuanku itu belum juga muncul.

Namun, dugaanku meleset. Ketika hendak bangun, hembusan angin dingin mulai menusuk tubuh. Dan tak disangka, di hadapan aku muncul sesosok wanita mengenakan pakaian putih-putih. Kakinya mengambang. Dan yang pasti, wajahnya tampak menakutkan. Kuntilanak itu muncul.

“Kuntilanak!” pekik Seno.

Aku yang masih belum bangun ini langsung mencekal kaki Si Botak itu supaya dia tidak ke mana-mana. Akibatnya, Seno jatuh ke bahu jalan dengan posisi menelungkup.

Gedebuk!!!

“Aduh! Kamu gila ya, Son!” pekik Seno.

Dengan tidak mempedulikan keluhan Seno, aku langsung bangkit. Mataku hanya fokus menatap tajam ke wanita kuntilanak itu. Degup jantungku mulai kencang. Ada ketakutan yang melandaku. Namun aku menepisnya demi menguak siapa kuntilanak itu.

“Siapa kamu?” tanyaku.

Sosok kuntilanak itu menggoyangkan kepalanya. Lalu dia menatap tajam kepadaku. Tangan kanannya menuding ke dadaku.

Aku melihat dadaku yang ditunjuknya. Tidak begitu paham apa maksudnya. Aku menatap kembali kuntilanak itu, “Ada apa denganku?” tanyaku.

Kuntilanak itu masih tetap diam sambil tangannya menuding ke dadaku.

“Siapa kamu?” tanyaku lagi, “tadi malam kamu seolah-olah melindungiku. Apakah kamu mengenaliku?”

“Aku adalah pemilik hatimu, Soni,” jawab kuntilanak itu dengan nada pelan.

Aku menyipitkan mataku, “Pemilik hatiku?” tanyaku.

“Aku adalah Sinta, kekasih yang selalu mencintaimu, Soni,” jawab kuntilanak itu.

Astaga! Itu Sinta? Seingatku, Sinta kekasihku itu sudah tewas akibat kecelakaan lima bulan yang lalu. Waktu itu, aku dan dia hendak piknik ke Puncak. Namun, bis yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Naas, Sinta tewas seketika. Sedangkan aku selamat walau mengalami banyak luka. Tak kusangka kini dia menjelma menjadi sosok kuntilanak.

“Sinta? Apakah ini kamu?” tanyaku sambil mendekat selangkah. Aku lihat, wajah itu bukanlah wajah Sinta yang dulu manis dan cantik, melainkan wajah yang cacat dan penuh luka.

Kuntilanak Sinta itu mengangguk lemah, “Iya, Soni. Aku memang Sinta. Aku masih mencintaimu. Makanya, aku menjadi penjagamu untuk membuktikan bahwa aku masih mencintaimu. Aku selalu mengikutimu ke manapun, Soni. Aku juga tidak ikhlas kamu menjalin hubungan kasih dengan wanita lain. Kamu hanya milikku semata.”

Pantas saja ada yang aneh dengan ucapan mantanku ketika memutuskan hubungan. Dia selalu menemukan hal-hal aneh selama jalan denganku. Dan buntutnya, dia meminta putus. Kini aku paham, dalangnya adalah kuntilanak Sinta ini.

Memang, setelah kecelakaan itu, aku tak bisa melupakan Sinta. Bahkan ketika aku sudah menjalin hubungan dengan mantanku, hati ini tetap tak bisa melepas Sinta. Aku masih membutuhkannya. Akal sehatku mungkin sudah dibutakan oleh cinta.

Aku menggeleng lemah, “Enggak, Sinta. Kamu semestinya jangan begitu. Dunia kita sudah beda. Lebih baik kamu kembali ke alammu. Kita jalani hidup di dunia masing-masing.”

“Aku sudah tidak hidup lagi, Soni! Aku sudah mati!” bentak sosok kuntilanak Sinta itu. Matanya tampak melotot menakutkan, “Kalau dunia kita memang beda, akan kubuat dunia kita menjadi sama!”

“Maksudmu?”

Tanpa menyahut, sosok kuntilanak itu menampakkan kuku-kuku panjang di tangannya. Tatapannya penuh emosi dan menakutkan. Seolah hilang sudah tujuan kuntilanak itu untuk melindungiku.

Jlebb!!!

Kuku-kuku panjang itu langsung menghujam dadaku, tembus hingga ke jantung. Akibatnya, jantungku menghentikan aktivitas degupnya. Sakit yang amat sangat mulai melanda tubuhku. 

“Aaahhh!!!” pekik Seno yang melihat kejadian ini. Tanpa menunggu untuk dikomandoi, dia langsung hengkang meninggalkanku.

Tubuhku mulai dingin. Mungkin, kematian sudah siap menyambutku. Sunggingan senyum kulayangkan kepada kuntilanak Sinta yang masih menancapkan kuku-kukunya ke jantungku.

“Sinta … makasih atas … cinta tulusmu padaku. Semoga kita … bisa ketemu di dunia kita ... selanjutnya,” ucapku lemah dan putus-putus.

Mataku lalu mengatup. Kegelapan yang pekat dan dingin mulai menyapaku. Kini aku memasuki sebuah tempat yang menakutkan, di mana semua asa, keinginan, cinta, dan cita-cita di dunia ini pupus sudah. Bagaikan debu yang dihempaskan oleh dinginnya angin malam. Sinta, aku datang untuk menemanimu.


-tamat-
image

Sang Penjaga Hati


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image

Tulisan ini sempat saya ikutkan dalam lomba menulis. Sempat lolos dalam tahap satu, namun tidak lolos di tahap dua. Dugaan saya, akibat tidak ada komedinya, sebab yang saya ikuti itu lombanya tentang komedi, hahaha! Its okay, yang penting saya bisa lolos walaupun tahap satu. Faktanya, inilah tulisan awal saya yang tak ada alfabet cadelnya.


Awalnya, judulnya bukan ini. Namun, saya ubah ketika diposting di sini. Semoga sobat menikmatinya dan jangan lupa tinggalkan komen.



==========
Aku melangkah pelan menuju halte depan kampus ketika malam semakin gelap. Hawa dingin mulai menusuk-nusuk tubuh. Padahal, aku mengenakan jaket tebal.

Tak disangka, aku pulang kemalaman setelah menyelesaikan bahan-bahan untuk makalah di kampus. Sialnya, makalah itu mesti selesai dan dikumpulkan besok. Jadinya, aku menggunakan SKS alias Sistem Kebut Semalam. Alhasil, badanku pegal-pegal semua. Apalagi, tadi siang aku putus sama kekasihku dengan alasan yang tidak jelas. Padahal belum lama jadian. Lengkap sudah lelahku.

Setengah jam lamanya aku menunggu di halte, namun tak ada satu pun angkot atau bis yang muncul. Aneh, tidak biasanya jalanan sepi begini. Padahal masih jam sebelas malam. Aku mulai putus asa. Jika jalan kaki untuk pulang, aku tak sanggup sebab letaknya sangat jauh. Dan juga, tenagaku sudah melemas akibat SKS tadi.

Di kejauhan, aku melihat dua lelaki mengenakan pakaian hitam-hitam. Mata keduanya sangat tajam menatapku. Tak disangka, kedua lelaki itu langsung mendekatiku. Salah satunya membawa pisau lipat.

“Hei! Mana uang lu?” bentak salah satu lelaki itu sambil mengacungkan pisaunya.

Belum sempat aku menjawab, lelaki satunya menahan kedua tanganku ke belakang dengan tangannya yang kokoh. Sehingga, aku tak bisa melakukan apa-apa dan melawan.

“Ada apa ini?” tanyaku kaget.

“Jangan banyak bacot lu!” bentak yang mengacungkan pisau. Dia langsung menggeledah paksa pakaianku. Aku tak bisa mengelak lagi, sebab kedua tanganku ditahan oleh temannya. Tasku pun tak luput untuk digeledah. Dia kemudian mengambil dompet dan ponselku.

Lelaki yang menggeledahku sunggingkan senyum sinis, “Dompet lu banyak isinya juga,” ucapnya sambil melihat isi dompetku.

“Bang, jangan diambil,” pintaku.

Bukk!!!

Tiba-tiba dia menghantam pipiku yang masih mulus ini. Akibatnya, muncul luka lebam yang sangat menyakitkan. Kemudian, temannya itu melepaskan cekalannya sambil menjatuhkanku. Kuusap-usap pipiku yang amat sangat sakit akibat hantaman itu. Aku ingin sekali meminta bantuan. Namun, keadaan yang sepi ini sangat tidak memungkinkan untuk mendapatkan bantuan. Apalagi ponselku sudah pindah tangan.

“Ayo cabut!” kata yang mengambil dompet dan ponselku. Lalu kedua lelaki itu meninggalkanku.

Namun, dua lelaki itu langsung menghentikan langkahnya. Aku melihat wajah keduanya dengan seksama. Mata kedua lelaki itu melotot bak melihat hantu. 

Dugaanku tepat, kedua lelaki itu memang melihat sesuatu yang ganjil. Di hadapan keduanya, ada sesosok wanita mengenakan pakaian putih. Wajahnya menatap kosong. Dan yang aneh, kakinya mengambang.

“Kembalikan dompet dan ponsel itu,” ucap sosok itu dengan nada pelan. Lalu, dia tunjukkan matanya yang melotot dan menakutkan.

“Ku ... kuntilanak!!!” pekik kedua lelaki itu.

Lelaki yang menggeledahku membuang dompet dan ponselku ke tanah. Lalu, keduanya langsung hengkang menjauhi halte.

Setelah kedua lelaki tadi sudah cukup jauh, aku kaget sebab sosok wanita tadi langsung menghilang. Aku menoleh ke sekelilingku. Tapi, sosok wanita tadi tak kutemukan. Aku menghela napas panjang. Kemudian, kupungut ponsel dan dompetku di tanah.

“Siapa wanita itu? Apakah memang itu kuntilanak?” gumamku.

***

“Hei! Ngelamun aja!” sapa Seno di belakang sambil menepuk bahuku. Lalu, dia duduk di sampingku.

Aku menoleh, “Enggak apa-apa, Sen,” jawabku. Lalu, aku kembali hanyut dalam lamunan di bangku taman kampus itu.

Temanku yang kepalanya botak plontos itu menatapku dengan seksama. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Soni, kamu galau dan gak bisa move on? Pipimu kenapa bonyok gitu? Kamu habis ditonjok mantanmu setelah putus?”

Aku langsung menjauhkan wajahku, “Apa-apaan sih kamu asal aja kalau ngomong!”

“Hahaha!” tawa Seno, “kamu memangnya ada masalah apa, Son? Masih galau? Makalahmu ditolak dosen tadi?”

Aku menghela napas panjang, kemudian menggeleng lemah, “Bukan, Sen. Bukan masalah itu. Mungkin aku emang mesti cepat-cepat tobat, Sen.”

“Tobat? Tobat apaan?”

Aku menatap tajam ke Seno, “Apakah kamu meyakini adanya hantu?” aku balik tanya.

Seno menatapku dengan wajah polos, “Kamu habis lihat hantu emangnya, Son?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Hahaha!” tawa Seno kembali meledak, “kamu emang mesti tobat, Son. Cepatlah pakai hijab supaya tambah alim. Pas banget sama wajahmu yang kemayu itu. Nanti kamu enggak bakalan diganggu hantu lagi. Lagian, pipimu bonyok gitu pasti akibat ditonjok sama hantu,” ejeknya.

“Eh buset! Ngledek nih Si Botak!” kesalku.

Seno tidak mempedulikan kekesalanku. Dia enak-enakan ketawa lepas mengejekku. Tawanya yang agak sumbang itu membuatku kesal, bahkan bikin mual. Aku memilih untuk diam saja. Selang semenit kemudian, langsung kutatap tajam wajahnya, “Aku enggak main-main, Sen. Aku melihat hantu!”

Seno menghentikan tawanya. Dia menatapku sambil mengedutkan dahinya, “Kamu enggak bohong kan, Son?” selidiknya.

“Mana mungkin aku bohong, Seno!” jawabku meyakinkannya.

“Di mana kamu melihatnya?”

“Di halte depan kampus,” jawabku, “tadi malam, aku menyelesaikan makalahku sampai jam setengah sebelas. Ketika sedang menunggu angkot di halte untuk pulang, datang dua penjahat yang memalak dan mengancamku dengan pisau. Dua penjahat itu mengambil dompet dan ponselku, kemudian menonjok pipiku. Ketika keduanya hendak cabut, ada sesosok wanita yang menghadang. Wanita itu mengenakan pakaian putih-putih dan kakinya mengambang. Wajahnya sangat menakutkan. Kedua penjahat itu jadi ketakutan dan langsung enyah. Dompet dan ponselku selamat. Wanita itu kemudian menghilang.”

“Kuntilanak!” pekik Seno.

Semua yang ada di taman kampus kontan menoleh menatapku dan Seno. Aku langsung menepuk kepala Seno yang plontos itu, “Pelan-pelan aja, Botak!”

“Aduh, maaf. Aku ini emang kadang-kadang suka  spontanitas sih,” kata Seno mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya, “lalu, apa kamu mau ketemu sama makhluk halus itu lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk mantap, “Iya, Sen. Aku hanya ingin tahu, siapa sosok itu. Sebab, dia seolah-olah ...,” aku menghentikan kata-kataku.

Seno menatapku sambil memicingkan matanya, “Seolah-olah apa, Son?”

“Seolah-olah ... dia melindungiku,” jawabku sambil mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam.

“Melindungimu?” ulang Seno.

Aku mengangguk pelan, “Iya, Sen. Mungkin kalau enggak ada dia, dompet dan ponselku sudah pasti dibawa sama kedua penjahat itu. Makanya, aku ingin ketemu lagi dengan wanita tadi malam itu.”

Seno menunjukkan wajahnya yang agak ketakutan, “Kamu jangan ngajakin aku ya, Son.”

Aku menatap Seno dengan memelas, “Jangan gitu dong, Sen. Aku butuh kamu nih.”

Seno menggeleng cepat, “Enggak mau, Soni! Aku enggak mau ketemu sama hantu-hantu macam kuntilanak!”

Aku masih menatap Seno dengan wajah memelas. Penuh asa supaya Si Botak itu mau menemaniku menemui kuntilanak itu. 

“Ayolah, Botak!”

Seno menghela napas panjang sambil menatap ke bawah. Tampaknya, dia penuh dengan kebimbangan. Dia mengusap kepala botaknya sesaat, lalu menatapku, “Okelah, Son. Aku ikut menemanimu. Tapi tolongin aku jika aku pingsan nanti ya.”

Aku sunggingkan senyum puas, “Nah, gitu dong! Kita ketemuan nanti malam jam tujuh di halte kampus.”

“Semoga aku datangnya telat,” celetuk Seno.

“Ah, sialan kamu!”

***

Image

Dinginnya malam ini masih sama dengan malam sebelumnya. Meskipun aku mengenakan jaket tebal, dinginnya masih sangat menusuk. Padahal masih jam tujuh. Aku hanya menggosok-gosok kedua tanganku saja supaya hangat sambil menunggu Seno yang belum datang.

Ucapan Si Botak itu memang selalu tepat. Jika dia bilang datang telat, dia pasti akan datang telat. Kini sudah jam tujuh lebih lima belas menit, dia belum juga memunculkan batang hidungnya. Untung saja suasana jalanan masih belum sepi. Jadi, aku tidak begitu kesepian. Walau begitu, aku mengingat kembali masa-masa sewaktu menjalani hubungan kekasih yang hanya seminggu itu.

Tepat jam setengah delapan lebih sepuluh menit, Seno datang dengan wajah tanpa dosa. Si Botak itu juga tampak mengenakan jaket tebal. Dengan kepala botaknya, dia sudah bagaikan tuyul yang kelayapan malam-malam. Dia lantas mendekatiku sambil cengengesan.

“Lama nunggu, Son?” sapanya polos.

“Botak! Kenapa enggak sekalian jam sembilan aja datangnya? Aku SMS malah enggak balas-balas!” tanyaku kesal.

“Hehehe! Maaf, Son. Aku memang sengaja datang telat supaya kamu datang duluan. Kalau aku datang duluan, bisa-bisa aku yang diganggu duluan sama kuntilanak itu,” jawab Seno masih sambil cengengesan.

“Halah, pengecut kamu!” umpatku.


Seno memencongkan mulutnya sambil menyipitkan matanya. 

Aku tidak mempedulikan Seno yang menatapku demikian. Bagiku, sengaja datang telat itu sudah sangat kelewatan. Aku lebih memilih duduk di bangku halte.


“Kita tunggu saja kuntilanak itu sampai tengah malam,” kataku.

Seno kaget, “Apa? Tengah malam? Kalau begitu, kenapa kita tidak janjian tengah malam langsung aja, Son?” tanyanya.

Aku sunggingkan senyum sinis, “Kalau iya begitu, nanti kamunya malah enggak mau ikut soalnya udah ngantuk duluan.”

Seno memencongkan mulutnya lagi. Dia lalu duduk di sampingku, “Iya deh, aku ngikut aja apa katamu! Ingat pesanku ya, jika aku pingsan nanti mohon ditolong ya.”

Aku ketawa puas saja dalam hati.

***

“Son, mau nunggu sampai kapan nih? Udah jam setengah dua belas gini kuntilanak itu belum juga muncul! Aku udah mulai ngantuk nih! Mana jalanan udah sepi kayak gini! Bisa-bisa, kita dipalak sama penjahat yang tadi malam malakin kamu!” keluh Seno.

Aku semakin gelisah. Kucoba menelaah ucapan Seno itu. Memang ada betulnya juga kata-kata Si Botak itu. Mau menunggu sampai kapan? Sedangkan kuntilanak itu belum juga muncul.

“Sen,” panggilku, “coba kau palakin aku,” usulku.

Seno menatapku aneh, “Palakin kamu? Maksudmu, Son?”

“Iya, palakin aku. Siapa tahu aja tu kuntilanak emang melindungiku. Nah, ketika aku dipalakin kamu, kuntilanaknya muncul deh.”

Seno menggeleng cepat, “Enggak, Son! Enggak! Yang ada nantinya aku bakal mati dicekik sama kuntilanak itu! Lagipula, aku enggak ada tampang penjahatnya! Enggak pantes ah!” ucapnya sambil ketakutan.

“Ya elah, kamu kan emang penjahat cinta, Sen. Ayolah!” paksaku.

Seno tampak gelisah. Dia bingung untuk mengikuti ideku ini. Jika aku menjadi dia, aku pasti akan melakukannya. Sebab, dengan begitu teka-teki siapa kuntilanak itu akan diketahui. Meskipun itu kemungkinannya hanya sedikit.

“Baiklah, Son,” kata Seno yang masih tampak bimbang, “aku mau jadi penjahat.”

“Sip,” sahutku, “ayo palak aku.”

Tanpa basa-basi lagi, Seno langsung mencekal pundakku. Aku agak kaget juga dengan aksinya yang tiba-tiba itu.

“Mana uangmu?” ucapnya dengan pandangan melotot agak dipaksakan.

Aku menghela napas panjang setelah melihat pelototan Si Botak yang agak konyol itu. Tampangnya itu bikin aku keki.

“Kayaknya, tampangmu emang enggak ada tampang penjahatnya, Sen.”

“Loh, kenapa?”

Aku menghela napas panjang saja menanggapi temanku itu. Bukannya membantu, dia malah membuatku pusing. Kucoba mengingat lagi kejadian tadi malam sewaktu aku dipalak oleh dua penjahat.

“Pukul pipiku, Botak,” pintaku.

“Apa? Mukul kamu, Son?” tanya Seno kaget.

Aku mengangguk mantap, “Iya.”

Seno sunggingkan senyum sinis, “Wah pas banget nih. Sudah lama aku ingin memukulmu, Son. Soalnya, kamu mengejek aku botak-botak melulu. Kini kesampaian juga. Hahaha!” tawanya sambil menyiapkan kepalan tangan kanannya.

Bukk!!!

Belum sempat aku menyahut ucapannya, Si Botak itu langsung meninju pipiku sekuat tenaga. Tak ayal lagi, aku langsung jatuh ke tanah. Pukulan itu meninggalkan luka lebam di pipiku. Lengkap sudah luka lebam di kedua pipiku yang tadinya mulus ini. Yang satu dihantam oleh penjahat tadi malam, dan yang satunya lagi dihantam oleh Si Botak Seno.

“Gila kamu, Botak! Pelan-pelan aja dong mukulnya!” keluhku sambil menatap tajam Seno. Kuusap pipiku yang kena hantaman Seno.

“Loh, kan kamu yang minta dipukul, Son,” jawab Seno dengan wajah polos tanpa dosa.

Aku hanya memaki dalam hati saja. Agak menyesal juga aku meminta dia memukulku. Muka sudah bonyok begini, ditambah kuntilanak yang menjadi tujuanku itu belum juga muncul.

Namun, dugaanku meleset. Ketika hendak bangun, hembusan angin dingin mulai menusuk tubuh. Dan tak disangka, di hadapan aku muncul sesosok wanita mengenakan pakaian putih-putih. Kakinya mengambang. Dan yang pasti, wajahnya tampak menakutkan. Kuntilanak itu muncul.

“Kuntilanak!” pekik Seno.

Aku yang masih belum bangun ini langsung mencekal kaki Si Botak itu supaya dia tidak ke mana-mana. Akibatnya, Seno jatuh ke bahu jalan dengan posisi menelungkup.

Gedebuk!!!

“Aduh! Kamu gila ya, Son!” pekik Seno.

Dengan tidak mempedulikan keluhan Seno, aku langsung bangkit. Mataku hanya fokus menatap tajam ke wanita kuntilanak itu. Degup jantungku mulai kencang. Ada ketakutan yang melandaku. Namun aku menepisnya demi menguak siapa kuntilanak itu.

“Siapa kamu?” tanyaku.

Sosok kuntilanak itu menggoyangkan kepalanya. Lalu dia menatap tajam kepadaku. Tangan kanannya menuding ke dadaku.

Aku melihat dadaku yang ditunjuknya. Tidak begitu paham apa maksudnya. Aku menatap kembali kuntilanak itu, “Ada apa denganku?” tanyaku.

Kuntilanak itu masih tetap diam sambil tangannya menuding ke dadaku.

“Siapa kamu?” tanyaku lagi, “tadi malam kamu seolah-olah melindungiku. Apakah kamu mengenaliku?”

“Aku adalah pemilik hatimu, Soni,” jawab kuntilanak itu dengan nada pelan.

Aku menyipitkan mataku, “Pemilik hatiku?” tanyaku.

“Aku adalah Sinta, kekasih yang selalu mencintaimu, Soni,” jawab kuntilanak itu.

Astaga! Itu Sinta? Seingatku, Sinta kekasihku itu sudah tewas akibat kecelakaan lima bulan yang lalu. Waktu itu, aku dan dia hendak piknik ke Puncak. Namun, bis yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Naas, Sinta tewas seketika. Sedangkan aku selamat walau mengalami banyak luka. Tak kusangka kini dia menjelma menjadi sosok kuntilanak.

“Sinta? Apakah ini kamu?” tanyaku sambil mendekat selangkah. Aku lihat, wajah itu bukanlah wajah Sinta yang dulu manis dan cantik, melainkan wajah yang cacat dan penuh luka.

Kuntilanak Sinta itu mengangguk lemah, “Iya, Soni. Aku memang Sinta. Aku masih mencintaimu. Makanya, aku menjadi penjagamu untuk membuktikan bahwa aku masih mencintaimu. Aku selalu mengikutimu ke manapun, Soni. Aku juga tidak ikhlas kamu menjalin hubungan kasih dengan wanita lain. Kamu hanya milikku semata.”

Pantas saja ada yang aneh dengan ucapan mantanku ketika memutuskan hubungan. Dia selalu menemukan hal-hal aneh selama jalan denganku. Dan buntutnya, dia meminta putus. Kini aku paham, dalangnya adalah kuntilanak Sinta ini.

Memang, setelah kecelakaan itu, aku tak bisa melupakan Sinta. Bahkan ketika aku sudah menjalin hubungan dengan mantanku, hati ini tetap tak bisa melepas Sinta. Aku masih membutuhkannya. Akal sehatku mungkin sudah dibutakan oleh cinta.

Aku menggeleng lemah, “Enggak, Sinta. Kamu semestinya jangan begitu. Dunia kita sudah beda. Lebih baik kamu kembali ke alammu. Kita jalani hidup di dunia masing-masing.”

“Aku sudah tidak hidup lagi, Soni! Aku sudah mati!” bentak sosok kuntilanak Sinta itu. Matanya tampak melotot menakutkan, “Kalau dunia kita memang beda, akan kubuat dunia kita menjadi sama!”

“Maksudmu?”

Tanpa menyahut, sosok kuntilanak itu menampakkan kuku-kuku panjang di tangannya. Tatapannya penuh emosi dan menakutkan. Seolah hilang sudah tujuan kuntilanak itu untuk melindungiku.

Jlebb!!!

Kuku-kuku panjang itu langsung menghujam dadaku, tembus hingga ke jantung. Akibatnya, jantungku menghentikan aktivitas degupnya. Sakit yang amat sangat mulai melanda tubuhku. 

“Aaahhh!!!” pekik Seno yang melihat kejadian ini. Tanpa menunggu untuk dikomandoi, dia langsung hengkang meninggalkanku.

Tubuhku mulai dingin. Mungkin, kematian sudah siap menyambutku. Sunggingan senyum kulayangkan kepada kuntilanak Sinta yang masih menancapkan kuku-kukunya ke jantungku.

“Sinta … makasih atas … cinta tulusmu padaku. Semoga kita … bisa ketemu di dunia kita ... selanjutnya,” ucapku lemah dan putus-putus.

Mataku lalu mengatup. Kegelapan yang pekat dan dingin mulai menyapaku. Kini aku memasuki sebuah tempat yang menakutkan, di mana semua asa, keinginan, cinta, dan cita-cita di dunia ini pupus sudah. Bagaikan debu yang dihempaskan oleh dinginnya angin malam. Sinta, aku datang untuk menemanimu.


-tamat-
image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.