image

Awalnya, flash fiction ini masih banyak mengandung alfabet sialan itu. Saya mencoba menghilangkannya dan tampaknya bisa. Tidak sulit memang mengubahnya bagi yang sudah biasa. well, selamat membaca dan mohon tinggalkan komen.


==========
Aku biasa datang ke pantai yang sepi ini saat sunset tiba. Apalagi jika sudah ditemani oleh sang wanita, sungguh sangat menyenangkan. Dia bisa menghangatkan keheningan tempat ini.

Namun, kehangatan itu tampaknya sudah hilang. Aku mengingat kembali dengan keluhan-keluhannya di taman tadi malam. Bagiku, dia sudah bukan yang dulu lagi. Sesuatu telah mengubahnya. Entah apa itu.

"Kapan kau mau menikahiku?" tanyanya dengan nada memaksa.

Aku membungkam mulut, bahkan tak ada niat untuk menjawab. Sesungguhnya aku sudah lelah dengan semua tanya yang diajukannya, sebab selalu sama. Di tempat tinggal, kampus, atau saat sedang duaan saja. Layaknya dijejalkan oleh makanan yang sama tanpa henti.

"Kau mesti tanggung jawab dengan masa depanku!" vokalnya semakin meninggi, memecah keheningan malam di taman.

Mulutku tetap membisu. Tubuh pun ikut diam meskipun dia mengguncang-guncangnya. Tampaknya dia sudah lupa siapa dia dan aku sesungguhnya. Tentu tak mudah mengabulkannya.

"Nikahi aku!" pekiknya semakin melengking.

Telingaku mengalami dengung. Hal ini bagaikan ada nyamuk, kemudian masuk dan mengacaukan gendang telinga. Tapi yang ada hanya gatal-gatal saja.

Aku tetap diam dan tak menyahutnya sama sekali. Benih cinta yang tumbuh selama belasan tahun kini sudah menjadi buah kebencian. Namun, hal ini tak bisa ditunjukkan. Aku hanya bisa memendam, dan silakan waktu yang menjawab.

Ah, pantai sepi ini sangat indah jika hanya diisi dengan kenangan tadi malam. Dengan menggunakan tali, kuhanyutkan wanita badan dua itu ke tengah laut. Di sanalah tempat yang semestinya. Sayangnya, aku tak bisa ikut menjelajahi lautan kehidupan dengannya, sesuai dengan apa yang dikehendakinya lampau. Pantai ini jadi saksi bisu penghujung kisah kelam ini.

"Selamat jalan, Adikku. Maafkan kakakmu yang bangsat ini," gumamku menatap tubuh yang mulai hanyut disapu ombak.

-tamat-
image

Silent Beach


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Awalnya, flash fiction ini masih banyak mengandung alfabet sialan itu. Saya mencoba menghilangkannya dan tampaknya bisa. Tidak sulit memang mengubahnya bagi yang sudah biasa. well, selamat membaca dan mohon tinggalkan komen.


==========
Aku biasa datang ke pantai yang sepi ini saat sunset tiba. Apalagi jika sudah ditemani oleh sang wanita, sungguh sangat menyenangkan. Dia bisa menghangatkan keheningan tempat ini.

Namun, kehangatan itu tampaknya sudah hilang. Aku mengingat kembali dengan keluhan-keluhannya di taman tadi malam. Bagiku, dia sudah bukan yang dulu lagi. Sesuatu telah mengubahnya. Entah apa itu.

"Kapan kau mau menikahiku?" tanyanya dengan nada memaksa.

Aku membungkam mulut, bahkan tak ada niat untuk menjawab. Sesungguhnya aku sudah lelah dengan semua tanya yang diajukannya, sebab selalu sama. Di tempat tinggal, kampus, atau saat sedang duaan saja. Layaknya dijejalkan oleh makanan yang sama tanpa henti.

"Kau mesti tanggung jawab dengan masa depanku!" vokalnya semakin meninggi, memecah keheningan malam di taman.

Mulutku tetap membisu. Tubuh pun ikut diam meskipun dia mengguncang-guncangnya. Tampaknya dia sudah lupa siapa dia dan aku sesungguhnya. Tentu tak mudah mengabulkannya.

"Nikahi aku!" pekiknya semakin melengking.

Telingaku mengalami dengung. Hal ini bagaikan ada nyamuk, kemudian masuk dan mengacaukan gendang telinga. Tapi yang ada hanya gatal-gatal saja.

Aku tetap diam dan tak menyahutnya sama sekali. Benih cinta yang tumbuh selama belasan tahun kini sudah menjadi buah kebencian. Namun, hal ini tak bisa ditunjukkan. Aku hanya bisa memendam, dan silakan waktu yang menjawab.

Ah, pantai sepi ini sangat indah jika hanya diisi dengan kenangan tadi malam. Dengan menggunakan tali, kuhanyutkan wanita badan dua itu ke tengah laut. Di sanalah tempat yang semestinya. Sayangnya, aku tak bisa ikut menjelajahi lautan kehidupan dengannya, sesuai dengan apa yang dikehendakinya lampau. Pantai ini jadi saksi bisu penghujung kisah kelam ini.

"Selamat jalan, Adikku. Maafkan kakakmu yang bangsat ini," gumamku menatap tubuh yang mulai hanyut disapu ombak.

-tamat-
image
Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.