image

Flash fiction ini saya tulis di penghujung tahun 2014. Sempat diposting di Facebook. Untuk diposting di sini, ada bagian-bagian yang saya buang dan tambahkan hingga hasilnya begini. Well, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen.


==========
Ingatkah kamu tentang awal-awal kita kencan? Tentang awal-awal kita masih malu-malu untuk mengungkapkan isi hati masing-masing? Pastinya hal itu akan selalu ada di benak dan kenangan kita. Dan tak disangka, kamu dengan malunya mau menjadi kekasihku. Aku sangat senang sekali.

Ingat jugakah kamu kala aku menjemputmu di kampus hujan-hujanan, hanya demi mengucapkan selamat ulang tahun padamu? Aku yakin kamu belum melupakannya. Sungguh menyenangkannya ketika itu.

Tapi, kini sudah lain. Semuanya beda. Aku menyesali hal ini. Mengapa kita mesti dipisahkan? Seolah ada tebing pemisah di tengah-tengah kita, dan tak ada jalan apapun menuju tebing tempatmu. Kenapa hal ini bisa begini? Apakah hidup memang sekejam ini?

Aku tak kuasa melihat wajahmu yang gelisah menungguku. Duduk menanti tanpa kejelasan dan kepastian. Aku tak mampu menatap matamu yang telah menggantungkan asa padaku. Aku telah melakukan dosa kepadamu.

Andaikan kamu tahu, pasti kamu sangat sedih. Semestinya aku ke tempatku, tapi malah nekat datang ke sini, sebab ingin menemuimu. Ingin kupegang halusnya tanganmu. Membelai lembut wajahmu. Namun, semuanya dingin.

Aku semakin sedih dengan semua ini. Tak bisakah kamu melihatku? Tak bisakah telingamu menangkap ucapanku? Tak bisakah mulutmu mengucapkan sesuatu untukku? Kenapa kamu selalu bisu dalam diammu? Jika saja aku masih utuh, akan kukatakan padamu bahwa aku akan menikahimu, dan aku ingin menjadi imammu. Namun, hal itu sudah angin lalu.

Di penghujung tahun ini, aku mesti menelan kenyataan bahwa aku sudah bukan manusia lagi. Aku sudah menjadi makhluk tak kasat mata akibat kecelakaan saat menuju ke sini. Aku ingin, setelah kamu mengetahui kematianku, kamu jangan menangis dan sedih. Aku tak kuasa melihat isakmu. Semoga kamu bisa mendapatkan yang lebih baik ketimbang aku. Kini, tepat di tempat awal kita kenalan, aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.

"Selamat tinggal. Sampai jumpa lagi di alam lain, Kekasihku," ucapku lemah padamu.


-tamat-


image

Tak Kasat Mata


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Flash fiction ini saya tulis di penghujung tahun 2014. Sempat diposting di Facebook. Untuk diposting di sini, ada bagian-bagian yang saya buang dan tambahkan hingga hasilnya begini. Well, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen.


==========
Ingatkah kamu tentang awal-awal kita kencan? Tentang awal-awal kita masih malu-malu untuk mengungkapkan isi hati masing-masing? Pastinya hal itu akan selalu ada di benak dan kenangan kita. Dan tak disangka, kamu dengan malunya mau menjadi kekasihku. Aku sangat senang sekali.

Ingat jugakah kamu kala aku menjemputmu di kampus hujan-hujanan, hanya demi mengucapkan selamat ulang tahun padamu? Aku yakin kamu belum melupakannya. Sungguh menyenangkannya ketika itu.

Tapi, kini sudah lain. Semuanya beda. Aku menyesali hal ini. Mengapa kita mesti dipisahkan? Seolah ada tebing pemisah di tengah-tengah kita, dan tak ada jalan apapun menuju tebing tempatmu. Kenapa hal ini bisa begini? Apakah hidup memang sekejam ini?

Aku tak kuasa melihat wajahmu yang gelisah menungguku. Duduk menanti tanpa kejelasan dan kepastian. Aku tak mampu menatap matamu yang telah menggantungkan asa padaku. Aku telah melakukan dosa kepadamu.

Andaikan kamu tahu, pasti kamu sangat sedih. Semestinya aku ke tempatku, tapi malah nekat datang ke sini, sebab ingin menemuimu. Ingin kupegang halusnya tanganmu. Membelai lembut wajahmu. Namun, semuanya dingin.

Aku semakin sedih dengan semua ini. Tak bisakah kamu melihatku? Tak bisakah telingamu menangkap ucapanku? Tak bisakah mulutmu mengucapkan sesuatu untukku? Kenapa kamu selalu bisu dalam diammu? Jika saja aku masih utuh, akan kukatakan padamu bahwa aku akan menikahimu, dan aku ingin menjadi imammu. Namun, hal itu sudah angin lalu.

Di penghujung tahun ini, aku mesti menelan kenyataan bahwa aku sudah bukan manusia lagi. Aku sudah menjadi makhluk tak kasat mata akibat kecelakaan saat menuju ke sini. Aku ingin, setelah kamu mengetahui kematianku, kamu jangan menangis dan sedih. Aku tak kuasa melihat isakmu. Semoga kamu bisa mendapatkan yang lebih baik ketimbang aku. Kini, tepat di tempat awal kita kenalan, aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.

"Selamat tinggal. Sampai jumpa lagi di alam lain, Kekasihku," ucapku lemah padamu.


-tamat-


image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.