image

Kisah ini awalnya adalah flash fiction. Lalu, bagian ending saya panjangkan hingga hasilnya begini. Tulisan ini sempat saya ajukan ke salah satu media massa di kota saya. Namun, saya tampaknya lupa membubuhkan pesan pendahuluan di badan email sehingga mungkin pihak sana tidak membalas. Mungkin kesannya kayak tidak sopan. Tapi, puisi saya malah yang dimuat, sebab mengajukannya sama dengan puisi. Jadi, lebih baik saya posting saja di sini. Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen.



==========
Hujan mulai membasahi bumi dengan lebatnya. Aku menghentikan langkah tepat di sebuah tikungan jalan. Tikungan ini begitu tajam dan sepi, letaknya pun di kelilingi pesawahan, sehingga siapa pun yang hendak lewat sini mesti hati-hati. Apalagi, suasana sedang hujan.

Pakaian yang dikenakan tampak basah kuyup. Namun, aku tak lagi mempedulikannya. Aku bahkan tak peduli pada dingin yang menusuk-nusuk tubuh hingga menggigil. Aku juga tak peduli mata pedih akibat hujan ini. Aku sengaja hujan-hujanan begini. Sebab, ada sebuah hutang yang mesti dilunasi.

Pandanganku kini hanya pada satu titik, yakni tengah jalan. Padahal, tak ada apa-apa di situ. Tak ada mobil yang lewat. Juga tak ada suatu hal yang sedap dipandang. Hanya jalanan aspal yang basah oleh hujan.

Aku mengingat kembali kejadian satu minggu yang lalu. Tepat di sinilah, awal semua kejadiannya. Kejadian yang tak akan aku lupakan sepanjang hidup. Kekasih yang amat kucintai, tewas dihantam sebuah bus yang melintas tepat di tikungan ini. Kejadiannya pun tepat ketika hujan datang.

Semua ini akibat bus sialan itu. Kenapa pengemudi bus itu tidak hati-hati saat melintasi tikungan ini? Jelas-jelas hujan membuat jalanan menjadi licin. Dan jelas-jelas juga ada aku dan kekasihku tengah melangkah di tepian jalan dan memakai payung hendak pulang. Tapi kenapa? Kenapa mesti kekasihku yang dihantam bus sedangkan aku tidak?

Andai saja waktu itu posisiku ada di dekat jalan, pasti aku yang akan dihantam bus itu. Aku tak tahan dengan semua ini. Menyaksikan kekasih tewas. Kenapa bukan aku saja yang tewas?

Aku tahu, langit seolah ikut menangis melihat kepedihanku. Mendung ini, hujan ini, dingin ini, seolah ikut hanyut melepaskan kekasihku menuju alam lain. Tangisan pun ikut membuncah. Namun, aku tak tampak menangis sebab ditutupi oleh hujan. Hujan ini menyembunyikan tangisanku.

image

Sungguh, aku tak bisa melupakan kejadian itu. Hingga puluhan tahun kemudian, kejadian itu akan abadi dalam otakku. Sangat sulit menghapusnya. Tak ada penghapus canggih sekalipun yang mampu menghilangkan ingatan kelam itu.

Kutatap kembali jalanan basah itu. Sesekali mobil lewat dengan hati-hati. Semua penumpangnya mungkin menatapku aneh yang tengah hujan-hujanan ini. Namun, aku tak mempedulikan pasang mata yang melintas menatapku. Kelak, semuanya akan mengalami nasib yang sama denganku, yakni kehilangan kekasih yang amat dicintai.

Kini aku menunggu saat yang tepat. Momen-momen ini sangat langka. Aku sudah menyiapkan konsep ini matang-matang. Tanpa celah dan tanpa sedikitpun kegagalan.

Batinku kembali mengalami konflik. Satu bisikan mengatakan bahwa aku jangan melakukan ini. Kekasihku di alam sana pasti akan kecewa. Dia akan mati sia-sia jika aku melakukan ini. Dia pasti akan mengatakan aku bodoh, dungu, dan tolol. Namun, bagaimana dengan janjiku padanya? Yang bisa kulakukan kini hanya menghela napas dingin saja.

Satu bisikan lain mengatakan bahwa aku mesti melakukan ini. Dengan hal ini, kekasihku di sana akan bahagia. Dia pasti senang sebab aku mematuhi janji yang sudah diucapkan sama-sama, meskipun itu hanya awalnya saja. Namun, aku juga hanya bisa menghela napas saja.

Sungguh, aku bingung. Hati ini semakin dilanda kebimbangan. Konflik batinku ini saling menguatkan meskipun saling tolak belakang. Keduanya memainkan otakku yang sudah membeku akibat dinginnya hujan. Akal sehatku seolah mulai hilang.

Di kejauhan sana, aku melihat sebuah bus melaju ke tikungan ini. Sialnya, pandanganku mulai tak jelas akibat lebatnya hujan. Namun, aku mesti tetap menjalankan misi ini.

Aku menatap lekat-lekat bus itu dalam balutan hujan. Cat putihnya, bunyi klaksonnya, tulisan 'Jaya' yang ditempel di kaca depan bis, seolah membawaku kembali ke masa kelam itu. Tak salah lagi, bus itulah yang menewaskan kekasihku. Ya, aku tak salah. Tak sia-sia penantianku selama ini di tikungan ini.

Aku melangkah menuju tengah-tengah jalan, siap menghadang bus yang sedang melaju itu. Aku tak peduli lagi dengan nyawaku. Lebih baik aku mati menjemput kekasihku di alam sana ketimbang hidup tanpanya. Dia adalah segalanya bagiku.

Aku yakin bus itu pasti akan menghantamku. Hujan ini seolah ikut mendukungku, dan siap menemaniku menemui sang kekasih di alam sana. Kubentangkan kedua tanganku ke samping dengan kepala menengadah ke atas dan mata memejam. Aku siap menyambut kematian ini.

Tooot!!! Tooot!!! Tooot!!!

Bunyi klakson begitu melengking-lengking membelah lebatnya hujan. Tampaknya, bus sudah semakin mendekat dan siap membelok. Aku tak tahu pastinya, sebab mataku memejam. Aku ingin menikmati detik-detik kematian ini tanpa menatap bus yang akan menewaskanku itu.

Ckiiit!!!

Bunyi decitan ban yang menggesek jalanan aspal begitu memekakkan telinga. Angin mengembus kencang di depanku.

Aneh. Sedetik kemudian tampaknya aku tak mengalami apa-apa. Semestinya, aku sudah dihantam oleh bus itu, lalu meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, kenapa napas ini masih melekat di tubuhku?

"Hei! Kamu sudah gila, ya?!"

Sayup-sayup, telingaku menangkap ada yang mengucapkan sesuatu. Siapakah itu? Aku pun membuka mataku pelan-pelan. Di depanku kini menampang sebuah bus yang hanya sejauh satu langkah.

Aku menatap ke sesosok lelaki yang mendekatiku. Tampaknya, dia sudah setengah baya. Namun, wajahnya tak begitu jelas. Hujan lebat ini sudah memainkan penglihatanku. Mataku mulai pedih kembali, sama pedihnya dengan hatiku ini.

"Hei! Kamu sudah bosan hidup, ya? Ngapain di tengah-tengah jalan begini?" tanya lelaki itu dengan nada tidak sopan. Tampaknya, dia begitu emosi.

Aku mulai paham kini. Sang pengemudi menghentikan busnya akibat ada aku di tengah jalan. Mungkin lelaki ini adalah si pengemudinya.

Aku layangkan senyuman. "Iya, aku sudah bosan hidup. Hantam aku dengan bus-mu," ucapku.

Lelaki itu mendesah panjang, lalu mendekatiku. Kali ini aku bisa melihat tatapan matanya yang tajam. Tatapan itu seolah penuh emosi. Bagaikan singa yang diusik habitatnya, siap mengamuk.

Namun lagi-lagi, aku tak peduli. Aku tak takut padanya. Aku sudah siap mati, jadi siap saja jika hendak dibunuh.

"Kamu mau mati? Oke!" ucap lelaki itu sambil layangkan bogem mentah.

Aku menutup mata kembali. Meskipun aku tahu ini pasti sakit sekali dan belum tentu menewaskanku, tapi aku ingin menikmati sensasinya. Sakit ini belum sebanding dengan yang dialami oleh kekasihku. Kalau bisa, aku ingin sakit yang lebih ketimbang kekasihku.

"Tahan!"

Telingaku kembali menangkap ucapan lelaki yang lain. Aku pun membuka mata. Bogem mentah tepat satu jengkal di depan hidungku. Lelaki itu menatap ke belakangnya. Aku pun ikut menoleh ke belakangnya.

Di situ tampak sesosok lelaki tua mengenakan gamis putih dan di kepalanya memakai kopiah putih. Dia memakai payung. Bisa kutebak, dia adalah ustad atau kyai. Wajahnya begitu meneduhkan dengan jenggot lebat di dagunya.

"Tak usahlah ada masalah di sini. Kita bisa omongin ini baik-baik di dalam bus saja. Di sini hujannya semakin lebat," ucap lelaki tua itu.

Entah mengapa batinku begitu tenang dengan ucapan lelaki tua itu. Seolah ada kekuatan gaib yang membisikkan sesuatu ke telingaku. Ucapannya begitu teduh, dan mampu memadamkan emosiku yang memanas ini.

Kulihat lelaki yang hendak menghadiahkanku bogem mentah itu tampak diam. Mungkin dia juga mengalami hal yang sama denganku, yakni bungkam akibat ucapan lelaki tua itu.

Aku pun diajak masuk ke dalam bus. Di situ, aku ditanyai habis-habisan oleh lelaki jenggot itu bagaikan penjahat yang ketangkap basah. Yah, memang aku sudah basah kuyup begini. Namun, yang bisa kusahut hanya jawaban singkat-singkat saja. Kulihat, bus sudah melaju, meninggalkan tikungan yang penuh kenangan pahit.

Tidak, ini tak boleh begini. Agenda yang sudah kubuat matang-matang akan sia-sia saja. Tanpa pamit, aku pun langsung menuju pintu bus, lalu melompat.

Tubuh ini jatuh guling-guling di aspal jalanan yang basah. Tangan dan kaki dipenuhi luka-luka. Ah, betapa sakitnya. Tapi, ini tak bisa menggantikan sakitnya kekasihku. Dengan susah payah, aku pun bangkit. Sedangkan bus itu tetap melaju menjauh meninggalkanku. Yah, mestinya memang begitu. Walaupun begitu, siapa yang nantinya akan menghabisi nyawaku?

Tampaknya hujan mulai lebat. Pandanganku semakin tak jelas di depan. Dinginnya bagaikan jutaan pisau menusuk-nusuk.

DUAAAK!!!

Tiba-tiba, ada yang menghantamku tepat di belakang. Aku langsung jatuh guling-guling di jalanan aspal. Luka-luka semakin banyak di tubuh dan tulang-tulang patah semua. Muncul lelehan hangat dan bau amis di kepala. Ah, mungkin sakit inilah yang dialami oleh kekasihku.

Tampaknya, ada mobil yang menghantamku. Mobil itu malah tetap melaju dan tidak mencoba menolong.

Ah, mungkin ini memang sudah jalan hidupku.

Langit masih menangis melalui hujan dan mendungnya. Mataku semakin lama semakin memejam dalam lebatnya tetesan hujan. Meskipun konsepku sedikit melenceng, intinya aku bisa menyusul kekasihku di alam sana. Janji kepadanya sudah kutepati, bahwa aku akan setia dalam hidup dan matinya. Sebab, aku dan dia adalah cinta sehidup semati.

Selamat tinggal dunia.

-tamat-

image

Tikungan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kisah ini awalnya adalah flash fiction. Lalu, bagian ending saya panjangkan hingga hasilnya begini. Tulisan ini sempat saya ajukan ke salah satu media massa di kota saya. Namun, saya tampaknya lupa membubuhkan pesan pendahuluan di badan email sehingga mungkin pihak sana tidak membalas. Mungkin kesannya kayak tidak sopan. Tapi, puisi saya malah yang dimuat, sebab mengajukannya sama dengan puisi. Jadi, lebih baik saya posting saja di sini. Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen.



==========
Hujan mulai membasahi bumi dengan lebatnya. Aku menghentikan langkah tepat di sebuah tikungan jalan. Tikungan ini begitu tajam dan sepi, letaknya pun di kelilingi pesawahan, sehingga siapa pun yang hendak lewat sini mesti hati-hati. Apalagi, suasana sedang hujan.

Pakaian yang dikenakan tampak basah kuyup. Namun, aku tak lagi mempedulikannya. Aku bahkan tak peduli pada dingin yang menusuk-nusuk tubuh hingga menggigil. Aku juga tak peduli mata pedih akibat hujan ini. Aku sengaja hujan-hujanan begini. Sebab, ada sebuah hutang yang mesti dilunasi.

Pandanganku kini hanya pada satu titik, yakni tengah jalan. Padahal, tak ada apa-apa di situ. Tak ada mobil yang lewat. Juga tak ada suatu hal yang sedap dipandang. Hanya jalanan aspal yang basah oleh hujan.

Aku mengingat kembali kejadian satu minggu yang lalu. Tepat di sinilah, awal semua kejadiannya. Kejadian yang tak akan aku lupakan sepanjang hidup. Kekasih yang amat kucintai, tewas dihantam sebuah bus yang melintas tepat di tikungan ini. Kejadiannya pun tepat ketika hujan datang.

Semua ini akibat bus sialan itu. Kenapa pengemudi bus itu tidak hati-hati saat melintasi tikungan ini? Jelas-jelas hujan membuat jalanan menjadi licin. Dan jelas-jelas juga ada aku dan kekasihku tengah melangkah di tepian jalan dan memakai payung hendak pulang. Tapi kenapa? Kenapa mesti kekasihku yang dihantam bus sedangkan aku tidak?

Andai saja waktu itu posisiku ada di dekat jalan, pasti aku yang akan dihantam bus itu. Aku tak tahan dengan semua ini. Menyaksikan kekasih tewas. Kenapa bukan aku saja yang tewas?

Aku tahu, langit seolah ikut menangis melihat kepedihanku. Mendung ini, hujan ini, dingin ini, seolah ikut hanyut melepaskan kekasihku menuju alam lain. Tangisan pun ikut membuncah. Namun, aku tak tampak menangis sebab ditutupi oleh hujan. Hujan ini menyembunyikan tangisanku.

image

Sungguh, aku tak bisa melupakan kejadian itu. Hingga puluhan tahun kemudian, kejadian itu akan abadi dalam otakku. Sangat sulit menghapusnya. Tak ada penghapus canggih sekalipun yang mampu menghilangkan ingatan kelam itu.

Kutatap kembali jalanan basah itu. Sesekali mobil lewat dengan hati-hati. Semua penumpangnya mungkin menatapku aneh yang tengah hujan-hujanan ini. Namun, aku tak mempedulikan pasang mata yang melintas menatapku. Kelak, semuanya akan mengalami nasib yang sama denganku, yakni kehilangan kekasih yang amat dicintai.

Kini aku menunggu saat yang tepat. Momen-momen ini sangat langka. Aku sudah menyiapkan konsep ini matang-matang. Tanpa celah dan tanpa sedikitpun kegagalan.

Batinku kembali mengalami konflik. Satu bisikan mengatakan bahwa aku jangan melakukan ini. Kekasihku di alam sana pasti akan kecewa. Dia akan mati sia-sia jika aku melakukan ini. Dia pasti akan mengatakan aku bodoh, dungu, dan tolol. Namun, bagaimana dengan janjiku padanya? Yang bisa kulakukan kini hanya menghela napas dingin saja.

Satu bisikan lain mengatakan bahwa aku mesti melakukan ini. Dengan hal ini, kekasihku di sana akan bahagia. Dia pasti senang sebab aku mematuhi janji yang sudah diucapkan sama-sama, meskipun itu hanya awalnya saja. Namun, aku juga hanya bisa menghela napas saja.

Sungguh, aku bingung. Hati ini semakin dilanda kebimbangan. Konflik batinku ini saling menguatkan meskipun saling tolak belakang. Keduanya memainkan otakku yang sudah membeku akibat dinginnya hujan. Akal sehatku seolah mulai hilang.

Di kejauhan sana, aku melihat sebuah bus melaju ke tikungan ini. Sialnya, pandanganku mulai tak jelas akibat lebatnya hujan. Namun, aku mesti tetap menjalankan misi ini.

Aku menatap lekat-lekat bus itu dalam balutan hujan. Cat putihnya, bunyi klaksonnya, tulisan 'Jaya' yang ditempel di kaca depan bis, seolah membawaku kembali ke masa kelam itu. Tak salah lagi, bus itulah yang menewaskan kekasihku. Ya, aku tak salah. Tak sia-sia penantianku selama ini di tikungan ini.

Aku melangkah menuju tengah-tengah jalan, siap menghadang bus yang sedang melaju itu. Aku tak peduli lagi dengan nyawaku. Lebih baik aku mati menjemput kekasihku di alam sana ketimbang hidup tanpanya. Dia adalah segalanya bagiku.

Aku yakin bus itu pasti akan menghantamku. Hujan ini seolah ikut mendukungku, dan siap menemaniku menemui sang kekasih di alam sana. Kubentangkan kedua tanganku ke samping dengan kepala menengadah ke atas dan mata memejam. Aku siap menyambut kematian ini.

Tooot!!! Tooot!!! Tooot!!!

Bunyi klakson begitu melengking-lengking membelah lebatnya hujan. Tampaknya, bus sudah semakin mendekat dan siap membelok. Aku tak tahu pastinya, sebab mataku memejam. Aku ingin menikmati detik-detik kematian ini tanpa menatap bus yang akan menewaskanku itu.

Ckiiit!!!

Bunyi decitan ban yang menggesek jalanan aspal begitu memekakkan telinga. Angin mengembus kencang di depanku.

Aneh. Sedetik kemudian tampaknya aku tak mengalami apa-apa. Semestinya, aku sudah dihantam oleh bus itu, lalu meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, kenapa napas ini masih melekat di tubuhku?

"Hei! Kamu sudah gila, ya?!"

Sayup-sayup, telingaku menangkap ada yang mengucapkan sesuatu. Siapakah itu? Aku pun membuka mataku pelan-pelan. Di depanku kini menampang sebuah bus yang hanya sejauh satu langkah.

Aku menatap ke sesosok lelaki yang mendekatiku. Tampaknya, dia sudah setengah baya. Namun, wajahnya tak begitu jelas. Hujan lebat ini sudah memainkan penglihatanku. Mataku mulai pedih kembali, sama pedihnya dengan hatiku ini.

"Hei! Kamu sudah bosan hidup, ya? Ngapain di tengah-tengah jalan begini?" tanya lelaki itu dengan nada tidak sopan. Tampaknya, dia begitu emosi.

Aku mulai paham kini. Sang pengemudi menghentikan busnya akibat ada aku di tengah jalan. Mungkin lelaki ini adalah si pengemudinya.

Aku layangkan senyuman. "Iya, aku sudah bosan hidup. Hantam aku dengan bus-mu," ucapku.

Lelaki itu mendesah panjang, lalu mendekatiku. Kali ini aku bisa melihat tatapan matanya yang tajam. Tatapan itu seolah penuh emosi. Bagaikan singa yang diusik habitatnya, siap mengamuk.

Namun lagi-lagi, aku tak peduli. Aku tak takut padanya. Aku sudah siap mati, jadi siap saja jika hendak dibunuh.

"Kamu mau mati? Oke!" ucap lelaki itu sambil layangkan bogem mentah.

Aku menutup mata kembali. Meskipun aku tahu ini pasti sakit sekali dan belum tentu menewaskanku, tapi aku ingin menikmati sensasinya. Sakit ini belum sebanding dengan yang dialami oleh kekasihku. Kalau bisa, aku ingin sakit yang lebih ketimbang kekasihku.

"Tahan!"

Telingaku kembali menangkap ucapan lelaki yang lain. Aku pun membuka mata. Bogem mentah tepat satu jengkal di depan hidungku. Lelaki itu menatap ke belakangnya. Aku pun ikut menoleh ke belakangnya.

Di situ tampak sesosok lelaki tua mengenakan gamis putih dan di kepalanya memakai kopiah putih. Dia memakai payung. Bisa kutebak, dia adalah ustad atau kyai. Wajahnya begitu meneduhkan dengan jenggot lebat di dagunya.

"Tak usahlah ada masalah di sini. Kita bisa omongin ini baik-baik di dalam bus saja. Di sini hujannya semakin lebat," ucap lelaki tua itu.

Entah mengapa batinku begitu tenang dengan ucapan lelaki tua itu. Seolah ada kekuatan gaib yang membisikkan sesuatu ke telingaku. Ucapannya begitu teduh, dan mampu memadamkan emosiku yang memanas ini.

Kulihat lelaki yang hendak menghadiahkanku bogem mentah itu tampak diam. Mungkin dia juga mengalami hal yang sama denganku, yakni bungkam akibat ucapan lelaki tua itu.

Aku pun diajak masuk ke dalam bus. Di situ, aku ditanyai habis-habisan oleh lelaki jenggot itu bagaikan penjahat yang ketangkap basah. Yah, memang aku sudah basah kuyup begini. Namun, yang bisa kusahut hanya jawaban singkat-singkat saja. Kulihat, bus sudah melaju, meninggalkan tikungan yang penuh kenangan pahit.

Tidak, ini tak boleh begini. Agenda yang sudah kubuat matang-matang akan sia-sia saja. Tanpa pamit, aku pun langsung menuju pintu bus, lalu melompat.

Tubuh ini jatuh guling-guling di aspal jalanan yang basah. Tangan dan kaki dipenuhi luka-luka. Ah, betapa sakitnya. Tapi, ini tak bisa menggantikan sakitnya kekasihku. Dengan susah payah, aku pun bangkit. Sedangkan bus itu tetap melaju menjauh meninggalkanku. Yah, mestinya memang begitu. Walaupun begitu, siapa yang nantinya akan menghabisi nyawaku?

Tampaknya hujan mulai lebat. Pandanganku semakin tak jelas di depan. Dinginnya bagaikan jutaan pisau menusuk-nusuk.

DUAAAK!!!

Tiba-tiba, ada yang menghantamku tepat di belakang. Aku langsung jatuh guling-guling di jalanan aspal. Luka-luka semakin banyak di tubuh dan tulang-tulang patah semua. Muncul lelehan hangat dan bau amis di kepala. Ah, mungkin sakit inilah yang dialami oleh kekasihku.

Tampaknya, ada mobil yang menghantamku. Mobil itu malah tetap melaju dan tidak mencoba menolong.

Ah, mungkin ini memang sudah jalan hidupku.

Langit masih menangis melalui hujan dan mendungnya. Mataku semakin lama semakin memejam dalam lebatnya tetesan hujan. Meskipun konsepku sedikit melenceng, intinya aku bisa menyusul kekasihku di alam sana. Janji kepadanya sudah kutepati, bahwa aku akan setia dalam hidup dan matinya. Sebab, aku dan dia adalah cinta sehidup semati.

Selamat tinggal dunia.

-tamat-

image
Bagikan
  1. Mantab ini, novel ringan. lanjutkan mas.

    ReplyDelete
  2. Sorry kaya* nya gak ketambah, :v "Kaya novel ringan"

    ReplyDelete
  3. Nice gan Soft novel nih :) ga bosen bosen baca hehe

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.