image

Awal menulis kisah ini masih dalam bentuk flash fiction. Lalu, saya kembangkan dan panjangkan. Endingnya pun diubah. Jadi, hasilnya menjadi begini. Judul sengaja saya pakai begitu sebab unik saja. Awalnya judulnya "Lift", lalu saya ubah. Makasih kepada salah satu teman dunia maya saya yang menyukai kisah yang katanya 'epic' ini. Entah, apa yang di benaknya, tapi makasih buat dia. Maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya sebab mengandung alfabet itu, hahaha. Tapi saya hanya bisa menyebutnya di sini.

Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Silvie memasukkan semua file di atas mejanya ke dalam tas. Wajahnya melukiskan kelelahan yang amat sangat. Semua tubuhnya, yakni pundak, kepala, tangan, punggung, hingga kaki mulai pegal-pegal. Ingin sekali dia cepat-cepat pulang dan melepas lelah.

Tempat itu sudah sepi. Dia sudah tak menemukan lagi teman-temannya, sebab semuanya sudah pulang lima jam yang lalu. Cahaya lampu pun hanya di tempat-tempat khusus saja yang dinyalakan. Dan dia hanya dibantu oleh cahaya lampu meja ketika menyelesaikan tugasnya tadi.

Setelah semuanya sudah dimasukkan ke dalam tas, dia mematikan lampu meja. Kemudian cepat-cepat melangkah menuju lift yang letaknya tidak begitu jauh. Dia cemas kalau satpam gedung sudah mematikan lift-nya. Dalam keadaan sangat lelah begitu, dia enggan melewati tangga. Apalagi sudah bisa dipastikan kalau tangganya gelap.

Di depan pintu lift, dia langsung menekan tombol di samping pintu. Sesaat, dia menatap ke kanannya. Gadis itu melihat satpam melangkah mendekatinya. Silvie langsung layangkan senyuman hangat.

“Silvie, pulang malam lagi?” sapa sang satpam setengah baya itu. Badannya lumayan tambun.

“Iya, Pak Kasim. Banyak tugas menumpuk. Mumpung mau cuti panjang, jadi tugas-tugasnya mesti diselesaikan secepatnya. Supaya cutinya nanti bisa tenang,” senyum gadis itu.

“Oh ya? Cuti untuk apa?” tanya satpam tambun itu lagi.

“Oh iya, aku belum sempat kasih tahu. Minggu depan nanti aku mau nikah, Pak Kasim. Makanya mau cuti untuk bulan madu,” sahut Silvie, “undangannya besok aku kasih.”

“Oh ya? Wah selamat, ya. Gak nyangka kamu nikah juga setelah lama mengalami putus cinta.”

“Ah, Pak Kasim bisa saja,” ucap Silvie sambil malu-malu, “nanti datang, ya.”

Satpam gemuk itu mengangguk, “Oke, Silvie. Aku pasti datang.”

“Makasih,” senyum gadis itu.

Silvie dan Pak Kasim memang sangat dekat. Sebagai satpam yang menjaga bagian dalam gedung, memang dia sudah kenal baik dengan pegawai-pegawainya. Bahkan sempat ada yang mengungkapkan keluh kesahnya kepada sang satpam. Silvie pun demikian. Dia tidak canggung mengisahkan hubungan cintanya kepada lelaki yang usianya 20 tahun lebih tua itu.

“Kamu mesti cepat-cepat pulang, Silvie. Kamu kelihatan lelah sekali. Jangan sampai nanti sakit menjelang nikah,” selidik satpam itu.

Silvie mendesah panjang, “Hehehe. Iya, Pak Kasim. Mau cepat-cepat pulang dan bobo, nih,” sahutnya.

Ting!

Pintu lift pun membuka. Silvie dan satpam itu sama-sama menoleh ke dalam lift.

“Ya sudah, hati-hati ya pulangnya. Awas, jangan mau digoda dua satpam di bawah,” pesan satpam itu. Entah mengapa diagelagat tidak mengenakkan dalam hatinya. Dia hanya bisa memanjatkan doa saja supaya Silvie bisa pulang dengan selamat.

Silvie layangkan senyum sambil mengangguk. “Iya, Pak Kasim,” sahutnya. Cepat-cepat dia masuk ke dalam lift supaya pintu tidak menutup lagi.

Ting!

Pintu lift menutup. Silvie langsung menekan tombol angka 1. Lift pun mulai jalan ke bawah.

Pak Kasim masih menatap lift yang dimasuki oleh Silvie. Wajahnya melukiskan kegelisahan. Setelah menimbang-nimbang, dia menekan tombol untuk lift di sebelahnya, lalu masuk ke situ setelah pintunya membuka.

Di dalam lift, Silvie menghela napas panjang. Dia sudah sangat kelelahan. Tas yang dia bawa bagaikan ada batu di dalamnya, bobotnya sangat membebani pundaknya. Padahal isinya hanya file-file yang pastinya sangat enteng. Ditambah sepatu hak tinggi yang dipakainya ini seolah begitu lengket dan telapak kakinya sakit semua. Padahal dia hanya duduk-duduk saja tadi, tidak bolak-balik layaknya pelayan kafe.

Dia menempelkan punggungnya ke dinding lift belakangnya hanya untuk melepaskan lelah sejenak. Dinginnya dinding lift membuat dia agak nyaman. Sesaat kemudian, matanya mulai mengantuk.

Ting!

Pintu lift membuka, tepat di lantai 20. Lamunan dan kantuk Silvie menjadi lenyap. Dia juga lumayan kaget dengan pintu lift yang membuka itu.

Tampak, pemuda dengan tubuh ceking yang sedang membawa sapu dan kain pel masuk ke dalam lift. Dia menatap sekilas Silvie dengan dingin, lalu menekan tombol angka 3 di dekat pintu lift.

Ting!

Pintu lift menutup dan kembali menuju ke lantai bawah.

Melihat pakaian yang dikenakan, Silvie tahu kalau pemuda itu adalah OB gedung ini. Dia sama sekali tidak mengenalinya. Jadi, dia tak begitu mempedulikan sang OB yang kini ada di sampingnya. Dia kembali hanyut dalam lamunannya. Kelelahan yang menguasai tubuhnya membuat dia kembali mengantuk. Silvie sangat ingin menempelkan kepalanya di atas bantal kesayangannya, dan ditemani guling, lalu memejamkan mata dan dibuai mimpi yang indah. Namun kini dia mesti menahan dulu keinginannya itu, sebelum tiba di kediamannya.

Beda dengan Silvie yang acuh tak acuh dengan yang ada di sampingnya, OB itu menyapu pandangannya ke setiap jengkal tubuh Silvie. Ada tatapan yang menakutkan di wajahnya. Bagai singa yang memantau calon mangsanya. Hidungnya pun mengendus-endus wangi tubuh Silvie. Dia begitu dibuai oleh keelokan wajah dan wewangian yang dikenakan Silvie.

Sedangkan Silvie sama sekali tidak mengetahui kelakuan OB di sampingnya. Meskipun begitu, dia mulai menangkap ada sesuatu yang ganjil dengan sang OB. Namun, dia tetap tidak mempedulikannya. Tubuhnya sudah sangat lelah.

Ting!

Tiba di lantai 3, lift menjadi diam lalu pintunya membuka. OB itu cabut meninggalkan Silvie sambil membawa benda-benda yang dia bawa sebelumnya. Dia sempat melayangkan senyuman dingin kepada Silvie.

Melihat hal itu, Silvie cepat-cepat menekan tombol angka 1 di samping pintu lift. Dia ingin sosok OB dengan tatapan aneh itu menghilang. Agak takut juga dia ditatap demikian. Apalagi suasana sudah malam, dan di lantai 3 tadi cahayanya sangat minim. Untung saja cahaya lift ini tidak dimatikan.

Ting!

Pintu lift pun menutup kembali, lalu mulai jalan ke bawah. Silvie mulai lega.

Tiba di lantai 1, Silvie cepat-cepat melangkah menuju lobi gedung. Kantuknya mulai menguasai matanya. Lobi yang luas itu tampak sepi. Bahkan bunyi ketukan langkahnya menggema. Tak ada siapapun di situ, hanya ada dua satpam yang menjaga pintu masuk depan. Keduanya pun siap-siap untuk menyambut Silvie.
 
“Pulangnya kemalaman, Mbak?” sapa salah satu satpam yang masih muda.

Silvie mengangguk, “Iya, Pak. Banyak tugas menumpuk.”

Satpam yang tua membuka pintu depan gedung. “Pasti lelah sekali. Sudah dicek ada yang ketinggalan tidak?” tanyanya sopan.

Silvie melonjak kaget. Kemudian, dia langsung mengecek tasnya. “Oh, shit! Dompetku ketinggalan di laci meja!” keluh Silvie sambil menepuk dahinya. Dia langsung menoleh ke belakang.

“Mau kuambilkan, Mbak?” tanya satpam yang muda mengajukan bantuan.

Silvie menggeleng cepat, “Gak usah, makasih. Aku saja,” jawabnya cepat, sambil kembali lagi ke lobi meninggalkan dua satpam itu.

Dalam keadaan lelah begini, dia bisa saja meminta bantuan untuk mengambilkan dompetnya kepada dua satpam itu, dan dia bisa menunggu di lobi. Namun, meskipun dua satpam itu tampak baik, dia tetap tidak yakin kepada keduanya. Apalagi dia tidak menghitung jumlah uang di dompetnya. Bukan tidak mungkin, kedua satpam itu akan mengambil uang miliknya tanpa sepengetahuan. Ditambah, dia tidak begitu dekat dengan dua satpam penjaga pintu depan. Hanya Pak Kasim yang dia kenal baik.

Tiba di depan lift, dia langsung menekan tombol di samping pintu lift. Gelagatnya mulai gelisah. Dia mengeluhkan dompetnya yang ketinggalan itu. Kenapa mesti dompetnya yang ketinggalan? Andai saja bukan dompet, dia tak akan mempedulikannya, sebab bisa diambil besoknya. Namun, jika dompet yang ketinggalan, dia tak akan bisa membeli makanan untuk makan malamnya ketika sudah pulang dan juga untuk kebutuhan keesokannya.

Image

Ting!

Pintu lift membuka, dia cepat-cepat masuk ke dalam dan menekan tombol angka 30, tempat dia melakukan aktivitas biasanya.

Ting!

Pintu lift pun menutup kembali, lalu lift mulai jalan ke atas.

Mata Silvie fokus menatap ke panel LED penunjuk lantai di atas lift. Dia ingin cepat-cepat sampai di lantai 30. Napasnya menjadi kembang-kempis akibat sudah sangat kelelahan. Tiba di lantai 3, lift menjadi diam. Pintunya pun membuka.

Ting!

Masuklah OB yang tadi ke dalam lift. Dia tampak membawa sebuah tas di pundaknya. Kali ini dia memakai jaket jeans. Hal itu membuat Silvie menjadi kaget. Dia menjadi gelisah. Kenapa dia bisa ketemu lagi dengan OB ini? Padahal liftnya ada dua macam. Dan pastinya, lift khusus untuk OB pasti sudah disediakan. Kenapa mesti memakai lift untuk pegawai? Entah kenapa dia begitu ketakutan dengan OB itu.

Ting!

Pintu lift menutup setelah OB itu menekan tombol 35. Lift pun kembali menuju ke atas.

Dua insan itu tampak saling diam di dalam lift, menunggu sampai tiba di lantai tujuan masing-masing. Sang OB menempelkan punggungnya di dinding bagian kanan lift. Matanya selalu menatap Silvie dengan tatapan dingin. Senyumnya tampak aneh.

Silvie yang selalu menatap panel LED lift menjadi menoleh pelan ke OB yang ada di kanannya. Kecemasan mulai menguasai benak gadis itu kala menatap sang pemuda. Senyuman OB itu seolah mengandung makna, dan sifatnya negatif.

“Kenapa balik lagi, Mbak?” sapa OB itu.

Silvie diam sejenak. Ada kebimbangan untuk menjawab. Namun, dia mencoba untuk tidak gugup. “Ada yang ketinggalan di laci,” sahut Silvie sekenanya.

OB itu maju dua langkah untuk mendekati Silvie. Senyuman dingin selalu mengembang di wajahnya. “Cewek secantik kamu pulang malam gini. Gak capek?” tanya OB itu lagi.

Silvie mulai panik. Dia sudah menduga kalau ada sesuatu yang aneh dengan pemuda itu. Penampilannya memang biasa saja. Tapi tatapan matanya bagai macan yang sudah menemukan mangsanya dan siap untuk dilahap. Peluh dingin mulai muncul di wajah Silvie yang cantik.

Silvie menatap sesaat ke panel LED di atas pintu lift untuk memastikan, sudah tiba di lantai mana. Dan tampaknya lift sudah mencapai lantai 27.

Silvie kembali menoleh ke pemuda itu. “Banyak tugas,” jawabnya cepat.

Pemuda itu mengangguk-angguk sinis. Dia mengambil sebuah pulpen di saku jaketnya, kemudian menulis sesuatu di telapak tangannya. Silvie tak tahu apa yang ditulis oleh pemuda itu.

Silvie semakin gelisah. Dia ingin cepat-cepat menjauhi OB yang gelagatnya mulai aneh itu. Jika melihat wajahnya yang tampak asing di mata Silvie, OB itu belum lama di sini. Mungkin satu atau dua minggu.

Ting!

Pintu lift pun membuka ketika tiba di lantai 30. Silvie cepat-cepat melangkah menjauhi OB itu. Untungnya OB itu tidak mengikuti. Dan, ketika pintu lift hendak menutup, Silvie masih bisa melihat wajah OB itu yang senyumnya sumbang. Sosoknya pun hilang di balik pintu lift yang menutup.

***

Sehabis mengambil dompet, Silvie menatap jam tangannya dengan dibantu cahaya lampu di atap gang depan pintu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Jam-jam segini dia biasanya sudah lelap dan dibuai mimpi. Namun kali ini saja beda akibat tugas yang menumpuk.

Silvie tampak bingung ketika tiba di depan pintu lift untuk kembali ke lantai 1. Di situ ada dua buah lift. Dia menduga-duga jika sang OB pasti akan menggunakan lift yang sebelumnya dinaiki.

Silvie kini semakin mewaspadai OB aneh itu. Meskipun sang OB tidak melakukan apapun kepadanya, namun Silvie tetap mesti memasang mata awas. Tindak-tanduknya selama di lift itu tampak aneh. Dan juga, Silvie sama sekali belum melihat OB itu di gedung ini.

Silvie pun memutuskan untuk menggunakan lift satunya. Dia langsung menekan tombol di samping pintu lift.

Ting!

Pintu lift pun membuka. Namun, betapa kagetnya Silvie ketika melihat ke dalam lift. Tampak di situ, satpam yang dia kenal, Pak Kasim duduk di lantai dan menopang badannya ke dinding lift dengan pisau menancap di dahinya. Mulut satpam tambun itu menganga dan matanya melotot ke atas. Bisa dipastikan, dia sudah tewas.

“AAAHHH!!!” pekik Silvie sejadi-jadinya.

Dalam keadaan panik, dia langsung kembali ke lift sebelumnya. Silvie menekan-nekan tombol di samping pintu lift supaya pintu cepat dibuka. Napasnya pun tak kalah cepatnya.

Ting!

Pintu lift pun membuka. Dan, ketika Silvie hendak masuk, dia dikagetkan kembali. Bola matanya membulat tatkala menatap ke dalam. Tampak di situ sang OB ceking tadi sedang menatapnya dingin sambil membawa sebilah golok. Sontak hal itu langsung menciutkan nyali Silvie.

Gadis itu melangkah pelan ke belakang, menjauhi pintu lift. Wajahnya begitu ketakutan bagai melihat setan. Detak jantungnya mulai kencang.

Sang OB melangkah maju mendekati Silvie. Hal itu membuat sang gadis menjadi ketakutan dan secepatnya memilih hengkang menjauhi si pemuda. Meskipun begitu, si pemuda OB pun tak mau kalah. Dia tetap mengikuti Silvie demi menangkapnya dengan melangkah pelan dan santai. Golok di tangan kanannya selalu digenggam dengan kencang.

Silvie membelok masuk ke dalam tempat yang gelap, lalu sembunyi di bawah salah satu meja. Tempat yang dia datangi itu bukan lain adalah yang sebelumnya dia masuki. Dan meja tempat dia sembunyi adalah meja miliknya. Dia sudah hapal susunan meja-meja di situ, sehingga tanpa dibantu cahaya pun dia bisa menemukan mejanya. Dia ingin OB aneh itu tidak bisa menemukannya dalam gelap.

Detak jantungnya semakin cepat. Peluh dingin mulai membasahi pakaiannya akibat sangat was-was. AC-nya juga sudah dimatikan, sehingga membuat suasananya semakin panas. Lelahnya kini menjadi hilang sudah. Hanya ketakutan yang menyelimutinya. Takut akan dibunuh.

Tanpa diduga, OB yang membawa golok itu sudah tiba di depan pintu. Matanya menatap buas ke sekeliling bagai pemangsa yang kehilangan mangsanya. Namun, dia pun layangkan senyuman sinis menatap tempat gelap itu.

“Yuhuuu, ada yang main petak umpet, nih,” ucap pemuda itu sambil masuk. Dalam pantulan cahaya minim di jendela, dia bisa melihat meja-meja yang dipisahkan oleh semacam papan kayu sebagai penyekatnya, yang biasa digunakan oleh pegawai-pegawai melakukan aktivitas biasanya, salah satunya Silvie.

Silvie tetap diam tak menjawab dalam ketakutan yang amat sangat.

“Saya belum lama di sini, mungkin sudah seminggu. Kamu tahu, saya sangat bosan jika tidak membunuh. Dan semenjak di sini saya belum membunuh satu pun. Bagi saya, membunuh itu sangat menyenangkan. Ada kepuasan dalam hati saya ini. Dan tangan sudah mulai gatal kalau belum membunuh,” oceh OB itu sambil melihat sekeliling dengan santainya, demi menemukan Silvie. Dia mengecek di balik pintu, namun hasilnya nihil. Meskipun begitu, senyumannya tak hilang.

Selain itu, pemuda ceking itu juga mengecek dinding demi menemukan tombol untuk menyalakan lampu. Namun, dia tampaknya tidak menemukannya. Sebagai gantinya, dia menyalakan lampu meja di tiap-tiap meja. Semua itu dilakukan dengan santai, seolah tidak takut kehilangan mangsanya.

“Kamu pasti tahu satpam gendut itu sudah mati di dalam lift sana. Saya-lah yang membunuhnya. Tenang saja, itu masih aksi awal-awal. Mungkin akan ada tiga lagi yang akan saya bunuh. Salah satunya adalah kamu,” lantang pemuda itu hingga menggema. “Sejak awal melihatmu di lift tadi, kamu jadi mangsa saya yang sangat istimewa. Makanya saya menulis calon mangsa saya di telapak tangan, supaya saya tidak lupa siapa saja yang sudah saya bunuh ketika pulang nanti. Lihat, hanya kamu dan satpam gendut itu yang saya tulis. Nanti juga akan ada nama dua satpam di bawah yang akan saya tulis di sini. Maaf ya, saya belum tahu namamu jadi saya cuma menulis 'cewek cantik' saja di sini.”

Silvie menutup mulutnya dengan telapak tangan. Jadi yang ditulis oleh OB itu di telapak tangan adalah calon mangsanya. Dia tak bisa membayangkan akan dibunuh oleh pemuda gila itu. Dia mulai menangis akibat ketakutan. Bunyi isakannya dipelankan supaya tidak ditangkap oleh telinga OB itu.

Tuk ... tuk ... tuk ...!

Bunyi langkah pelan sepatu sang OB mulai mendekat, dan tiba-tiba diam tepat di depan meja Silvie, tempat Silvie sembunyi. Sontak hal itu membuat Silvie semakin ketakutan setengah mati.

“Nampaknya, mejamu yang ini,” ucap pemuda OB itu.

Klik!

Sang OB menyalakan lampu meja milik Silvie. Matanya menatap dingin ke meja milik calon mangsanya itu. Apalagi, ada bingkai foto Silvie di situ.

“Jadi namamu adalah Silvie Meilani, nama yang bagus,” ucap OB itu menatap papan nama di foto, “cewek secantik kamu suka pelupa juga. Kamu lupa menutup kembali laci meja yang sebelumnya kamu gunakan untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan. Bisa kutebak, yang ketinggalan itu pasti dompet,” ucapnya sambil menutup laci meja Silvie.

Silvie semakin ketakutan di bawah meja. Dia bisa melihat golok yang mengkilat-kilat ditimpa cahaya lampu meja yang di genggam pemuda itu. Tenaganya pun melemas semua. 

OB itu kemudian kembali melangkah pelan. “Cewek biasanya gak mau susah-susah balik lagi untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan, apalagi dalam keadaan lelah. Dengan kata lain, yang ketinggalan itu sesuatu yang sangat penting. Yang biasanya disimpan dalam laci bagi cewek adalah dompet dan alat-alat make up,” ucap OB itu melanjutkan kata-katanya.

Silvie yang mulai lega sedikit, kaget kembali akibat pemuda itu tiba-tiba jongkok di depannya dan menatapnya. Jantungnya bagaikan mau copot.

“Iya kan, Silvie Meilani?” ucap OB itu melotot sambil mengayunkan goloknya.

“AAAHHH!!!” pekik Silvie.

Jleb!

***

Silvie membuka matanya pelan-pelan. Untuk sesaat dia tampak bingung dengan kejadian tadi. Tangannya sibuk menyentuh tubuhnya yang masih utuh. Dia tak tahu mengapa dia sudah duduk di lantai lift. Matanya menatap sekelilingnya yang tak lain ada di dalam lift. Dia memandang panel LED penunjuk lantai lift.

“Cuma mimpi,” gumamnya lega.

Akibat kelelahan, Silvie mengantuk kemudian lelap. Dia sempat mengalami mimpi yang menakutkan. Padahal hanya sesaat saja dia lelap, sejak awal memasuki lift di lantai 30, hingga kini sudah tiba di lantai 10. Namun, mimpi itu sangat panjang bagi Silvie.

Lift semakin ke bawah, menuju lantai 1. Mata Silvie yang masih mengantuk itu sangat pedih. Dia ingin cepat-cepat pulang. Lift yang dia naiki itu bagaikan ayunan yang meninabobokannya, membuat dia semakin mengantuk. Tapi dia tetap menjaga matanya untuk tidak menutup. Dia juga mesti fokus mengemudi mobilnya nanti untuk pulang. Tentu hal itu akan menakutkan baginya jika kantuk mengganggunya.

Ting!

Pintu lift membuka ketika tiba di lantai 1. Dengan santai, Silvie mulai melangkah. Namun, tepat di pintu lift dia menghentikan langkahnya. Matanya melotot dan ketakutan bagai melihat setan. Dia pun memekik.

“AAAHHH!!!”

Tepat di hadapannya, dua onggok tubuh penuh luka menghalangi langkah Silvie. Dua tubuh itu tak lain adalah dua satpam keamanan penjaga pintu depan di lantai 1. Bisa dipastikan keduanya sudah tewas. Hal itu membuat tubuh Silvi jatuh lemas.

Gadis itu kembali dikejutkan oleh sosok yang tiba-tiba muncul di depannya. Dia tak lain adalah OB yang ada di dalam mimpinya itu. Wajahnya, bentuk tubuhnya, pakaiannya, tatapan matanya, dan langkahnya sama dengan yang ada di mimpi Silvie. OB itu tampak membawa sebilah golok. Silvie pun semakin ketakutan setengah mati.

OB itu menatap tajam kepada Silvie, lalu mendekatinya. Silvie mengingsut masuk kembali ke dalam lift demi menjauhi OB itu. Detak jantungnya semakin cepat dan peluh dingin membasahi wajahnya dengan cepat. Celakanya, dia sudah tak bisa ke mana-mana lagi.

“Mangsa tambahan,” ucap OB dengan tubuh ceking itu. Dia pun mengayunkan goloknya dengan cepat.

“AAAHH!!!” pekik Silvie kembali.

Jleb!

Golok itu menancap tepat di dahi gadis malang itu, membuat luka menganga dan fatal. Dia pun tewas seketika.

Ting!

Pintu di lift sebelah membuka.

“Tidaaak! Apa yang kau lakukan, Nak?” tanya satpam dengan tubuh tambun yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu lift.

OB itu menoleh pelan ke belakang dengan tatapan dingin. “Gadis ini melihat aksi saya, Yah. Jadi, dia mesti saya bunuh demi membungkam mulutnya,” ucapnya santai.

“Apa?” sahut satpam itu kaget. Kakinya tampak melemas. “Jadi kamu mengeksekusinya malam ini? Kenapa kamu gak bilang dulu sama ayah?”

OB itu hanya diam saja dengan tatapan masih dingin. Tidak ada ketakutan sedikit pun di wajahnya. Dia pun melangkah ke pintu lift dan menekan sebuah tombol supaya pintu lift itu tetap membuka.

Satpam tambun yang tak lain adalah Pak Kasim ini maju dan jongkok di depan mayat Silvie. Ada wajah penyesalan yang dilukiskan. Dadanya seolah-olah sangat sesak sehingga sulit untuk mengatakan sesuatu. Dia bagai dihadapi oleh dosa yang tidak bisa diampuni.

“Tak kusangka ... tak kusangka kamu mesti menjadi mangsa yang tak sengaja dibunuh oleh anakku, Silvie. Pantas saja aku kayak ada gelagat tidak enak tadi sewaktu kamu masuk ke dalam lift. Padahal aku hanya dendam kepada dua satpam sialan itu saja dan meminta anakku yang punya kelainan psikopat untuk mengeksekusinya. Sialnya, anakku itu sangat pendiam sehingga tidak menjelaskan kepadaku kapan akan membunuh dua satpam sialan itu. Andaikan ... aku tahu kalau malam ini eksekusinya, tentu aku akan mencegahmu pulang. Aku memang bodoh. Maafkan aku, Silvie. Maafkan,” isaknya. Pelupuk matanya tampak basah.

Untuk sesaat, satpam tambun itu menangis sesenggukkan. Isakannya menggema di dalam lift yang pintunya belum menutup itu. Dia memang sudah sangat dekat dengan Silvie. Bahkan Silvie sangat baik dan sopan kepadanya. Sebagai satpam yang menjaga bagian dalam gedung, tentu dia sangat dekat dengan pegawai-pegawai di sini. Lain halnya dengan dua satpam penjaga pintu depan. Pak Kasim memiliki dendam kepada keduanya yang diakibatkan oleh pengaduan yang tak masuk akal. Dua satpam itu mengadu kepada atasannya bahwa Pak Kasim selalu memakan gaji buta. Bahkan dikatakan kalau Pak Kasim selalu malas-malasan jika sedang tugas jaga. Hal itu mengakibatkan gajinya dipotong banyak. Padahal Pak Kasim sama sekali tidak melakukannya. Namun, dia selalu tabah dalam menghadapinya. Sayangnya, dia sudah tak tahan lagi. Makanya, dia memasukkan anaknya ke situ guna membantunya membalaskan dendam.

Kini dia menyesali atas kematian Silvie yang tak diduga ini. Padahal tak lama lagi gadis itu akan menikah. Jelas ini pukulan telak bagi Pak Kasim yang sudah kenal baik dengan Silvie.

Satpam tambun itu kemudian bangkit sambil membuang muka. Bekas tangisannya dilap dengan pakaian. Helaan napasnya penuh dengan beban yang memilukan.

“Masukkan tiga mayat ini ke dalam kantong plastik, lalu buang ke sungai. Atasi TKP ini. Aku tak ingin ada satupun jejak kita yang masih menempel di sini,” ucapnya, lalu meninggalkan anaknya itu.

“Siap, Ayah.”


-tamat-


image

Ting!


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Awal menulis kisah ini masih dalam bentuk flash fiction. Lalu, saya kembangkan dan panjangkan. Endingnya pun diubah. Jadi, hasilnya menjadi begini. Judul sengaja saya pakai begitu sebab unik saja. Awalnya judulnya "Lift", lalu saya ubah. Makasih kepada salah satu teman dunia maya saya yang menyukai kisah yang katanya 'epic' ini. Entah, apa yang di benaknya, tapi makasih buat dia. Maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya sebab mengandung alfabet itu, hahaha. Tapi saya hanya bisa menyebutnya di sini.

Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Silvie memasukkan semua file di atas mejanya ke dalam tas. Wajahnya melukiskan kelelahan yang amat sangat. Semua tubuhnya, yakni pundak, kepala, tangan, punggung, hingga kaki mulai pegal-pegal. Ingin sekali dia cepat-cepat pulang dan melepas lelah.

Tempat itu sudah sepi. Dia sudah tak menemukan lagi teman-temannya, sebab semuanya sudah pulang lima jam yang lalu. Cahaya lampu pun hanya di tempat-tempat khusus saja yang dinyalakan. Dan dia hanya dibantu oleh cahaya lampu meja ketika menyelesaikan tugasnya tadi.

Setelah semuanya sudah dimasukkan ke dalam tas, dia mematikan lampu meja. Kemudian cepat-cepat melangkah menuju lift yang letaknya tidak begitu jauh. Dia cemas kalau satpam gedung sudah mematikan lift-nya. Dalam keadaan sangat lelah begitu, dia enggan melewati tangga. Apalagi sudah bisa dipastikan kalau tangganya gelap.

Di depan pintu lift, dia langsung menekan tombol di samping pintu. Sesaat, dia menatap ke kanannya. Gadis itu melihat satpam melangkah mendekatinya. Silvie langsung layangkan senyuman hangat.

“Silvie, pulang malam lagi?” sapa sang satpam setengah baya itu. Badannya lumayan tambun.

“Iya, Pak Kasim. Banyak tugas menumpuk. Mumpung mau cuti panjang, jadi tugas-tugasnya mesti diselesaikan secepatnya. Supaya cutinya nanti bisa tenang,” senyum gadis itu.

“Oh ya? Cuti untuk apa?” tanya satpam tambun itu lagi.

“Oh iya, aku belum sempat kasih tahu. Minggu depan nanti aku mau nikah, Pak Kasim. Makanya mau cuti untuk bulan madu,” sahut Silvie, “undangannya besok aku kasih.”

“Oh ya? Wah selamat, ya. Gak nyangka kamu nikah juga setelah lama mengalami putus cinta.”

“Ah, Pak Kasim bisa saja,” ucap Silvie sambil malu-malu, “nanti datang, ya.”

Satpam gemuk itu mengangguk, “Oke, Silvie. Aku pasti datang.”

“Makasih,” senyum gadis itu.

Silvie dan Pak Kasim memang sangat dekat. Sebagai satpam yang menjaga bagian dalam gedung, memang dia sudah kenal baik dengan pegawai-pegawainya. Bahkan sempat ada yang mengungkapkan keluh kesahnya kepada sang satpam. Silvie pun demikian. Dia tidak canggung mengisahkan hubungan cintanya kepada lelaki yang usianya 20 tahun lebih tua itu.

“Kamu mesti cepat-cepat pulang, Silvie. Kamu kelihatan lelah sekali. Jangan sampai nanti sakit menjelang nikah,” selidik satpam itu.

Silvie mendesah panjang, “Hehehe. Iya, Pak Kasim. Mau cepat-cepat pulang dan bobo, nih,” sahutnya.

Ting!

Pintu lift pun membuka. Silvie dan satpam itu sama-sama menoleh ke dalam lift.

“Ya sudah, hati-hati ya pulangnya. Awas, jangan mau digoda dua satpam di bawah,” pesan satpam itu. Entah mengapa diagelagat tidak mengenakkan dalam hatinya. Dia hanya bisa memanjatkan doa saja supaya Silvie bisa pulang dengan selamat.

Silvie layangkan senyum sambil mengangguk. “Iya, Pak Kasim,” sahutnya. Cepat-cepat dia masuk ke dalam lift supaya pintu tidak menutup lagi.

Ting!

Pintu lift menutup. Silvie langsung menekan tombol angka 1. Lift pun mulai jalan ke bawah.

Pak Kasim masih menatap lift yang dimasuki oleh Silvie. Wajahnya melukiskan kegelisahan. Setelah menimbang-nimbang, dia menekan tombol untuk lift di sebelahnya, lalu masuk ke situ setelah pintunya membuka.

Di dalam lift, Silvie menghela napas panjang. Dia sudah sangat kelelahan. Tas yang dia bawa bagaikan ada batu di dalamnya, bobotnya sangat membebani pundaknya. Padahal isinya hanya file-file yang pastinya sangat enteng. Ditambah sepatu hak tinggi yang dipakainya ini seolah begitu lengket dan telapak kakinya sakit semua. Padahal dia hanya duduk-duduk saja tadi, tidak bolak-balik layaknya pelayan kafe.

Dia menempelkan punggungnya ke dinding lift belakangnya hanya untuk melepaskan lelah sejenak. Dinginnya dinding lift membuat dia agak nyaman. Sesaat kemudian, matanya mulai mengantuk.

Ting!

Pintu lift membuka, tepat di lantai 20. Lamunan dan kantuk Silvie menjadi lenyap. Dia juga lumayan kaget dengan pintu lift yang membuka itu.

Tampak, pemuda dengan tubuh ceking yang sedang membawa sapu dan kain pel masuk ke dalam lift. Dia menatap sekilas Silvie dengan dingin, lalu menekan tombol angka 3 di dekat pintu lift.

Ting!

Pintu lift menutup dan kembali menuju ke lantai bawah.

Melihat pakaian yang dikenakan, Silvie tahu kalau pemuda itu adalah OB gedung ini. Dia sama sekali tidak mengenalinya. Jadi, dia tak begitu mempedulikan sang OB yang kini ada di sampingnya. Dia kembali hanyut dalam lamunannya. Kelelahan yang menguasai tubuhnya membuat dia kembali mengantuk. Silvie sangat ingin menempelkan kepalanya di atas bantal kesayangannya, dan ditemani guling, lalu memejamkan mata dan dibuai mimpi yang indah. Namun kini dia mesti menahan dulu keinginannya itu, sebelum tiba di kediamannya.

Beda dengan Silvie yang acuh tak acuh dengan yang ada di sampingnya, OB itu menyapu pandangannya ke setiap jengkal tubuh Silvie. Ada tatapan yang menakutkan di wajahnya. Bagai singa yang memantau calon mangsanya. Hidungnya pun mengendus-endus wangi tubuh Silvie. Dia begitu dibuai oleh keelokan wajah dan wewangian yang dikenakan Silvie.

Sedangkan Silvie sama sekali tidak mengetahui kelakuan OB di sampingnya. Meskipun begitu, dia mulai menangkap ada sesuatu yang ganjil dengan sang OB. Namun, dia tetap tidak mempedulikannya. Tubuhnya sudah sangat lelah.

Ting!

Tiba di lantai 3, lift menjadi diam lalu pintunya membuka. OB itu cabut meninggalkan Silvie sambil membawa benda-benda yang dia bawa sebelumnya. Dia sempat melayangkan senyuman dingin kepada Silvie.

Melihat hal itu, Silvie cepat-cepat menekan tombol angka 1 di samping pintu lift. Dia ingin sosok OB dengan tatapan aneh itu menghilang. Agak takut juga dia ditatap demikian. Apalagi suasana sudah malam, dan di lantai 3 tadi cahayanya sangat minim. Untung saja cahaya lift ini tidak dimatikan.

Ting!

Pintu lift pun menutup kembali, lalu mulai jalan ke bawah. Silvie mulai lega.

Tiba di lantai 1, Silvie cepat-cepat melangkah menuju lobi gedung. Kantuknya mulai menguasai matanya. Lobi yang luas itu tampak sepi. Bahkan bunyi ketukan langkahnya menggema. Tak ada siapapun di situ, hanya ada dua satpam yang menjaga pintu masuk depan. Keduanya pun siap-siap untuk menyambut Silvie.
 
“Pulangnya kemalaman, Mbak?” sapa salah satu satpam yang masih muda.

Silvie mengangguk, “Iya, Pak. Banyak tugas menumpuk.”

Satpam yang tua membuka pintu depan gedung. “Pasti lelah sekali. Sudah dicek ada yang ketinggalan tidak?” tanyanya sopan.

Silvie melonjak kaget. Kemudian, dia langsung mengecek tasnya. “Oh, shit! Dompetku ketinggalan di laci meja!” keluh Silvie sambil menepuk dahinya. Dia langsung menoleh ke belakang.

“Mau kuambilkan, Mbak?” tanya satpam yang muda mengajukan bantuan.

Silvie menggeleng cepat, “Gak usah, makasih. Aku saja,” jawabnya cepat, sambil kembali lagi ke lobi meninggalkan dua satpam itu.

Dalam keadaan lelah begini, dia bisa saja meminta bantuan untuk mengambilkan dompetnya kepada dua satpam itu, dan dia bisa menunggu di lobi. Namun, meskipun dua satpam itu tampak baik, dia tetap tidak yakin kepada keduanya. Apalagi dia tidak menghitung jumlah uang di dompetnya. Bukan tidak mungkin, kedua satpam itu akan mengambil uang miliknya tanpa sepengetahuan. Ditambah, dia tidak begitu dekat dengan dua satpam penjaga pintu depan. Hanya Pak Kasim yang dia kenal baik.

Tiba di depan lift, dia langsung menekan tombol di samping pintu lift. Gelagatnya mulai gelisah. Dia mengeluhkan dompetnya yang ketinggalan itu. Kenapa mesti dompetnya yang ketinggalan? Andai saja bukan dompet, dia tak akan mempedulikannya, sebab bisa diambil besoknya. Namun, jika dompet yang ketinggalan, dia tak akan bisa membeli makanan untuk makan malamnya ketika sudah pulang dan juga untuk kebutuhan keesokannya.

Image

Ting!

Pintu lift membuka, dia cepat-cepat masuk ke dalam dan menekan tombol angka 30, tempat dia melakukan aktivitas biasanya.

Ting!

Pintu lift pun menutup kembali, lalu lift mulai jalan ke atas.

Mata Silvie fokus menatap ke panel LED penunjuk lantai di atas lift. Dia ingin cepat-cepat sampai di lantai 30. Napasnya menjadi kembang-kempis akibat sudah sangat kelelahan. Tiba di lantai 3, lift menjadi diam. Pintunya pun membuka.

Ting!

Masuklah OB yang tadi ke dalam lift. Dia tampak membawa sebuah tas di pundaknya. Kali ini dia memakai jaket jeans. Hal itu membuat Silvie menjadi kaget. Dia menjadi gelisah. Kenapa dia bisa ketemu lagi dengan OB ini? Padahal liftnya ada dua macam. Dan pastinya, lift khusus untuk OB pasti sudah disediakan. Kenapa mesti memakai lift untuk pegawai? Entah kenapa dia begitu ketakutan dengan OB itu.

Ting!

Pintu lift menutup setelah OB itu menekan tombol 35. Lift pun kembali menuju ke atas.

Dua insan itu tampak saling diam di dalam lift, menunggu sampai tiba di lantai tujuan masing-masing. Sang OB menempelkan punggungnya di dinding bagian kanan lift. Matanya selalu menatap Silvie dengan tatapan dingin. Senyumnya tampak aneh.

Silvie yang selalu menatap panel LED lift menjadi menoleh pelan ke OB yang ada di kanannya. Kecemasan mulai menguasai benak gadis itu kala menatap sang pemuda. Senyuman OB itu seolah mengandung makna, dan sifatnya negatif.

“Kenapa balik lagi, Mbak?” sapa OB itu.

Silvie diam sejenak. Ada kebimbangan untuk menjawab. Namun, dia mencoba untuk tidak gugup. “Ada yang ketinggalan di laci,” sahut Silvie sekenanya.

OB itu maju dua langkah untuk mendekati Silvie. Senyuman dingin selalu mengembang di wajahnya. “Cewek secantik kamu pulang malam gini. Gak capek?” tanya OB itu lagi.

Silvie mulai panik. Dia sudah menduga kalau ada sesuatu yang aneh dengan pemuda itu. Penampilannya memang biasa saja. Tapi tatapan matanya bagai macan yang sudah menemukan mangsanya dan siap untuk dilahap. Peluh dingin mulai muncul di wajah Silvie yang cantik.

Silvie menatap sesaat ke panel LED di atas pintu lift untuk memastikan, sudah tiba di lantai mana. Dan tampaknya lift sudah mencapai lantai 27.

Silvie kembali menoleh ke pemuda itu. “Banyak tugas,” jawabnya cepat.

Pemuda itu mengangguk-angguk sinis. Dia mengambil sebuah pulpen di saku jaketnya, kemudian menulis sesuatu di telapak tangannya. Silvie tak tahu apa yang ditulis oleh pemuda itu.

Silvie semakin gelisah. Dia ingin cepat-cepat menjauhi OB yang gelagatnya mulai aneh itu. Jika melihat wajahnya yang tampak asing di mata Silvie, OB itu belum lama di sini. Mungkin satu atau dua minggu.

Ting!

Pintu lift pun membuka ketika tiba di lantai 30. Silvie cepat-cepat melangkah menjauhi OB itu. Untungnya OB itu tidak mengikuti. Dan, ketika pintu lift hendak menutup, Silvie masih bisa melihat wajah OB itu yang senyumnya sumbang. Sosoknya pun hilang di balik pintu lift yang menutup.

***

Sehabis mengambil dompet, Silvie menatap jam tangannya dengan dibantu cahaya lampu di atap gang depan pintu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Jam-jam segini dia biasanya sudah lelap dan dibuai mimpi. Namun kali ini saja beda akibat tugas yang menumpuk.

Silvie tampak bingung ketika tiba di depan pintu lift untuk kembali ke lantai 1. Di situ ada dua buah lift. Dia menduga-duga jika sang OB pasti akan menggunakan lift yang sebelumnya dinaiki.

Silvie kini semakin mewaspadai OB aneh itu. Meskipun sang OB tidak melakukan apapun kepadanya, namun Silvie tetap mesti memasang mata awas. Tindak-tanduknya selama di lift itu tampak aneh. Dan juga, Silvie sama sekali belum melihat OB itu di gedung ini.

Silvie pun memutuskan untuk menggunakan lift satunya. Dia langsung menekan tombol di samping pintu lift.

Ting!

Pintu lift pun membuka. Namun, betapa kagetnya Silvie ketika melihat ke dalam lift. Tampak di situ, satpam yang dia kenal, Pak Kasim duduk di lantai dan menopang badannya ke dinding lift dengan pisau menancap di dahinya. Mulut satpam tambun itu menganga dan matanya melotot ke atas. Bisa dipastikan, dia sudah tewas.

“AAAHHH!!!” pekik Silvie sejadi-jadinya.

Dalam keadaan panik, dia langsung kembali ke lift sebelumnya. Silvie menekan-nekan tombol di samping pintu lift supaya pintu cepat dibuka. Napasnya pun tak kalah cepatnya.

Ting!

Pintu lift pun membuka. Dan, ketika Silvie hendak masuk, dia dikagetkan kembali. Bola matanya membulat tatkala menatap ke dalam. Tampak di situ sang OB ceking tadi sedang menatapnya dingin sambil membawa sebilah golok. Sontak hal itu langsung menciutkan nyali Silvie.

Gadis itu melangkah pelan ke belakang, menjauhi pintu lift. Wajahnya begitu ketakutan bagai melihat setan. Detak jantungnya mulai kencang.

Sang OB melangkah maju mendekati Silvie. Hal itu membuat sang gadis menjadi ketakutan dan secepatnya memilih hengkang menjauhi si pemuda. Meskipun begitu, si pemuda OB pun tak mau kalah. Dia tetap mengikuti Silvie demi menangkapnya dengan melangkah pelan dan santai. Golok di tangan kanannya selalu digenggam dengan kencang.

Silvie membelok masuk ke dalam tempat yang gelap, lalu sembunyi di bawah salah satu meja. Tempat yang dia datangi itu bukan lain adalah yang sebelumnya dia masuki. Dan meja tempat dia sembunyi adalah meja miliknya. Dia sudah hapal susunan meja-meja di situ, sehingga tanpa dibantu cahaya pun dia bisa menemukan mejanya. Dia ingin OB aneh itu tidak bisa menemukannya dalam gelap.

Detak jantungnya semakin cepat. Peluh dingin mulai membasahi pakaiannya akibat sangat was-was. AC-nya juga sudah dimatikan, sehingga membuat suasananya semakin panas. Lelahnya kini menjadi hilang sudah. Hanya ketakutan yang menyelimutinya. Takut akan dibunuh.

Tanpa diduga, OB yang membawa golok itu sudah tiba di depan pintu. Matanya menatap buas ke sekeliling bagai pemangsa yang kehilangan mangsanya. Namun, dia pun layangkan senyuman sinis menatap tempat gelap itu.

“Yuhuuu, ada yang main petak umpet, nih,” ucap pemuda itu sambil masuk. Dalam pantulan cahaya minim di jendela, dia bisa melihat meja-meja yang dipisahkan oleh semacam papan kayu sebagai penyekatnya, yang biasa digunakan oleh pegawai-pegawai melakukan aktivitas biasanya, salah satunya Silvie.

Silvie tetap diam tak menjawab dalam ketakutan yang amat sangat.

“Saya belum lama di sini, mungkin sudah seminggu. Kamu tahu, saya sangat bosan jika tidak membunuh. Dan semenjak di sini saya belum membunuh satu pun. Bagi saya, membunuh itu sangat menyenangkan. Ada kepuasan dalam hati saya ini. Dan tangan sudah mulai gatal kalau belum membunuh,” oceh OB itu sambil melihat sekeliling dengan santainya, demi menemukan Silvie. Dia mengecek di balik pintu, namun hasilnya nihil. Meskipun begitu, senyumannya tak hilang.

Selain itu, pemuda ceking itu juga mengecek dinding demi menemukan tombol untuk menyalakan lampu. Namun, dia tampaknya tidak menemukannya. Sebagai gantinya, dia menyalakan lampu meja di tiap-tiap meja. Semua itu dilakukan dengan santai, seolah tidak takut kehilangan mangsanya.

“Kamu pasti tahu satpam gendut itu sudah mati di dalam lift sana. Saya-lah yang membunuhnya. Tenang saja, itu masih aksi awal-awal. Mungkin akan ada tiga lagi yang akan saya bunuh. Salah satunya adalah kamu,” lantang pemuda itu hingga menggema. “Sejak awal melihatmu di lift tadi, kamu jadi mangsa saya yang sangat istimewa. Makanya saya menulis calon mangsa saya di telapak tangan, supaya saya tidak lupa siapa saja yang sudah saya bunuh ketika pulang nanti. Lihat, hanya kamu dan satpam gendut itu yang saya tulis. Nanti juga akan ada nama dua satpam di bawah yang akan saya tulis di sini. Maaf ya, saya belum tahu namamu jadi saya cuma menulis 'cewek cantik' saja di sini.”

Silvie menutup mulutnya dengan telapak tangan. Jadi yang ditulis oleh OB itu di telapak tangan adalah calon mangsanya. Dia tak bisa membayangkan akan dibunuh oleh pemuda gila itu. Dia mulai menangis akibat ketakutan. Bunyi isakannya dipelankan supaya tidak ditangkap oleh telinga OB itu.

Tuk ... tuk ... tuk ...!

Bunyi langkah pelan sepatu sang OB mulai mendekat, dan tiba-tiba diam tepat di depan meja Silvie, tempat Silvie sembunyi. Sontak hal itu membuat Silvie semakin ketakutan setengah mati.

“Nampaknya, mejamu yang ini,” ucap pemuda OB itu.

Klik!

Sang OB menyalakan lampu meja milik Silvie. Matanya menatap dingin ke meja milik calon mangsanya itu. Apalagi, ada bingkai foto Silvie di situ.

“Jadi namamu adalah Silvie Meilani, nama yang bagus,” ucap OB itu menatap papan nama di foto, “cewek secantik kamu suka pelupa juga. Kamu lupa menutup kembali laci meja yang sebelumnya kamu gunakan untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan. Bisa kutebak, yang ketinggalan itu pasti dompet,” ucapnya sambil menutup laci meja Silvie.

Silvie semakin ketakutan di bawah meja. Dia bisa melihat golok yang mengkilat-kilat ditimpa cahaya lampu meja yang di genggam pemuda itu. Tenaganya pun melemas semua. 

OB itu kemudian kembali melangkah pelan. “Cewek biasanya gak mau susah-susah balik lagi untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan, apalagi dalam keadaan lelah. Dengan kata lain, yang ketinggalan itu sesuatu yang sangat penting. Yang biasanya disimpan dalam laci bagi cewek adalah dompet dan alat-alat make up,” ucap OB itu melanjutkan kata-katanya.

Silvie yang mulai lega sedikit, kaget kembali akibat pemuda itu tiba-tiba jongkok di depannya dan menatapnya. Jantungnya bagaikan mau copot.

“Iya kan, Silvie Meilani?” ucap OB itu melotot sambil mengayunkan goloknya.

“AAAHHH!!!” pekik Silvie.

Jleb!

***

Silvie membuka matanya pelan-pelan. Untuk sesaat dia tampak bingung dengan kejadian tadi. Tangannya sibuk menyentuh tubuhnya yang masih utuh. Dia tak tahu mengapa dia sudah duduk di lantai lift. Matanya menatap sekelilingnya yang tak lain ada di dalam lift. Dia memandang panel LED penunjuk lantai lift.

“Cuma mimpi,” gumamnya lega.

Akibat kelelahan, Silvie mengantuk kemudian lelap. Dia sempat mengalami mimpi yang menakutkan. Padahal hanya sesaat saja dia lelap, sejak awal memasuki lift di lantai 30, hingga kini sudah tiba di lantai 10. Namun, mimpi itu sangat panjang bagi Silvie.

Lift semakin ke bawah, menuju lantai 1. Mata Silvie yang masih mengantuk itu sangat pedih. Dia ingin cepat-cepat pulang. Lift yang dia naiki itu bagaikan ayunan yang meninabobokannya, membuat dia semakin mengantuk. Tapi dia tetap menjaga matanya untuk tidak menutup. Dia juga mesti fokus mengemudi mobilnya nanti untuk pulang. Tentu hal itu akan menakutkan baginya jika kantuk mengganggunya.

Ting!

Pintu lift membuka ketika tiba di lantai 1. Dengan santai, Silvie mulai melangkah. Namun, tepat di pintu lift dia menghentikan langkahnya. Matanya melotot dan ketakutan bagai melihat setan. Dia pun memekik.

“AAAHHH!!!”

Tepat di hadapannya, dua onggok tubuh penuh luka menghalangi langkah Silvie. Dua tubuh itu tak lain adalah dua satpam keamanan penjaga pintu depan di lantai 1. Bisa dipastikan keduanya sudah tewas. Hal itu membuat tubuh Silvi jatuh lemas.

Gadis itu kembali dikejutkan oleh sosok yang tiba-tiba muncul di depannya. Dia tak lain adalah OB yang ada di dalam mimpinya itu. Wajahnya, bentuk tubuhnya, pakaiannya, tatapan matanya, dan langkahnya sama dengan yang ada di mimpi Silvie. OB itu tampak membawa sebilah golok. Silvie pun semakin ketakutan setengah mati.

OB itu menatap tajam kepada Silvie, lalu mendekatinya. Silvie mengingsut masuk kembali ke dalam lift demi menjauhi OB itu. Detak jantungnya semakin cepat dan peluh dingin membasahi wajahnya dengan cepat. Celakanya, dia sudah tak bisa ke mana-mana lagi.

“Mangsa tambahan,” ucap OB dengan tubuh ceking itu. Dia pun mengayunkan goloknya dengan cepat.

“AAAHH!!!” pekik Silvie kembali.

Jleb!

Golok itu menancap tepat di dahi gadis malang itu, membuat luka menganga dan fatal. Dia pun tewas seketika.

Ting!

Pintu di lift sebelah membuka.

“Tidaaak! Apa yang kau lakukan, Nak?” tanya satpam dengan tubuh tambun yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu lift.

OB itu menoleh pelan ke belakang dengan tatapan dingin. “Gadis ini melihat aksi saya, Yah. Jadi, dia mesti saya bunuh demi membungkam mulutnya,” ucapnya santai.

“Apa?” sahut satpam itu kaget. Kakinya tampak melemas. “Jadi kamu mengeksekusinya malam ini? Kenapa kamu gak bilang dulu sama ayah?”

OB itu hanya diam saja dengan tatapan masih dingin. Tidak ada ketakutan sedikit pun di wajahnya. Dia pun melangkah ke pintu lift dan menekan sebuah tombol supaya pintu lift itu tetap membuka.

Satpam tambun yang tak lain adalah Pak Kasim ini maju dan jongkok di depan mayat Silvie. Ada wajah penyesalan yang dilukiskan. Dadanya seolah-olah sangat sesak sehingga sulit untuk mengatakan sesuatu. Dia bagai dihadapi oleh dosa yang tidak bisa diampuni.

“Tak kusangka ... tak kusangka kamu mesti menjadi mangsa yang tak sengaja dibunuh oleh anakku, Silvie. Pantas saja aku kayak ada gelagat tidak enak tadi sewaktu kamu masuk ke dalam lift. Padahal aku hanya dendam kepada dua satpam sialan itu saja dan meminta anakku yang punya kelainan psikopat untuk mengeksekusinya. Sialnya, anakku itu sangat pendiam sehingga tidak menjelaskan kepadaku kapan akan membunuh dua satpam sialan itu. Andaikan ... aku tahu kalau malam ini eksekusinya, tentu aku akan mencegahmu pulang. Aku memang bodoh. Maafkan aku, Silvie. Maafkan,” isaknya. Pelupuk matanya tampak basah.

Untuk sesaat, satpam tambun itu menangis sesenggukkan. Isakannya menggema di dalam lift yang pintunya belum menutup itu. Dia memang sudah sangat dekat dengan Silvie. Bahkan Silvie sangat baik dan sopan kepadanya. Sebagai satpam yang menjaga bagian dalam gedung, tentu dia sangat dekat dengan pegawai-pegawai di sini. Lain halnya dengan dua satpam penjaga pintu depan. Pak Kasim memiliki dendam kepada keduanya yang diakibatkan oleh pengaduan yang tak masuk akal. Dua satpam itu mengadu kepada atasannya bahwa Pak Kasim selalu memakan gaji buta. Bahkan dikatakan kalau Pak Kasim selalu malas-malasan jika sedang tugas jaga. Hal itu mengakibatkan gajinya dipotong banyak. Padahal Pak Kasim sama sekali tidak melakukannya. Namun, dia selalu tabah dalam menghadapinya. Sayangnya, dia sudah tak tahan lagi. Makanya, dia memasukkan anaknya ke situ guna membantunya membalaskan dendam.

Kini dia menyesali atas kematian Silvie yang tak diduga ini. Padahal tak lama lagi gadis itu akan menikah. Jelas ini pukulan telak bagi Pak Kasim yang sudah kenal baik dengan Silvie.

Satpam tambun itu kemudian bangkit sambil membuang muka. Bekas tangisannya dilap dengan pakaian. Helaan napasnya penuh dengan beban yang memilukan.

“Masukkan tiga mayat ini ke dalam kantong plastik, lalu buang ke sungai. Atasi TKP ini. Aku tak ingin ada satupun jejak kita yang masih menempel di sini,” ucapnya, lalu meninggalkan anaknya itu.

“Siap, Ayah.”


-tamat-


image

Bagikan
  1. Pasti susah banget yak, cari kata tanpa hurup R tapi harus tetap jaga keutuhan cerita.
    Cuma menurut gua lebih di perhatikan lagi penggunaan kata "nya" hampir tiap paragraf ada, padahal tanpa kata bantu "nya" pun maksud dari kalimat udah tersampaikan.
    Terus misal di dialog ini, "Saya belum lama di sini, mungkin sudah seminggu. Kamu ... bla ... bla ... bla ..." Kata "sudah" di sana mungkin untuk menggantikan kata "baru". Tapi menurut gua, tanpa menggunakan kata "sudah" pun nggak merubah makna, malah lebih pas.
    Buat ide cerita, nggak usah ditanyalah. Abang yang satu ini emang dari sonohnya udah psiopat :-#

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Plek buat komennya. Ini pasti lo kan? Noh, udah gue promoin fb lo :D

      Delete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.