image

Tullisan ini adalah hasil duet dengan Eka dan diposting di salah satu komunitas Facebook. Awalnya tulisan ini mengandung banyak sekali alfabet hina dina itu. Dan untuk diposting di sini, saya edit semuanya hingga begini. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Ini adalah kisah yang mungkin tidak ingin diikuti dan dicontoh oleh siapa pun, bahkan sebangsa dedemit sekali pun. Kisah ini lebih pantas untuk diketawakan dan diejek, sebab niatnya memang untuk membuat ketawa. Tulisan ini mengisahkan tentang sesosok pemuda, sebut saja namanya Andini. Ups, kelebihan! Maksud saya namanya Andi. Dia ini pemuda yang tidak untung-untung amat, tidak tampan-tampan amat, dan juga tidak lelaki amat atau wanita amat. Lah, lalu apa? Hanya Amat-lah yang tahu, sebab namanya selalu disebutkan di kalimat-kalimat sebelumnya. Kini, nasib hidup Andi sudah jauh beda hanya akibat kulit pisang!

Ya, kulit pisang!

Awalnya dia menemukan seonggok kulit pisang di jalan. Pemuda itu memungutnya dan menebak-nebak, itu kulit pisang jenis apa? Ambon? Monyet? Atau Banana Boat? Dia mengusap-usap kepalanya yang banyak kutu, jawabannya tidak ketemu. Ah, dia pun tak ambil pusing. Ada maksud baik yang melintas di benaknya. Alih-alih hendak membuangnya ke tong sampah di ujung jalan, malah petaka yang didapat. Maklum, doi ini mantan pemain basket di bangku cadangan. Jadi dia sudah ahli dalam hal meleset. Tak sengaja kulit pisang itu mengenai helm si pesepeda yang tiba-tiba melintas di depannya saat hendak dibuang, lalu jatuh. Apesnya, di situ tak ada siapa-siapa jadi tak ada yang menolong. Yang bikin saya bingung, kenapa sepeda mesti pakai helm?

"Waduh, metong kagak nih, Cyin?" kagetnya.

Dia mendekati pesepeda yang jatuh itu. Dia cek napasnya dengan memencet lubang hidungnya. Tampaknya tak ada napas lagi alias koit. Semuanya akibat kulit pisang.

Ya, kulit pisang!

Andini ... eits salah ketik melulu! Andi lalu mengecek tas yang dibawa pesepeda itu. Lagaknya bagaikan kepala sekolah yang menggeledah tas siswa dan menemukan alat-alat make up ... di dalam tas cowok. Ah, lupakan yang tadi! Fokus ke Andi! Lalu, betapa kagetnya pemuda ini bagai menemukan emas. Ya iyalah, kan yang dia temukan memang emas, walau bukan yang asli. Tapi nilainya sama, yakni segepok uang. Akibat matematikanya agak lobet, dia menganggap saja jika totalnya mencapai 1 M. Padahal mah isinya ada 999.999.000. Memang mendekati 1 M. Sisa yang seceng itu untuk membeli es teh manis saat pesepeda itu kelelahan. Maklum, Sob. Beban tasnya lumayan. Lagian, kenapa juga tidak pakai taksi, malah naik sepeda bawa uang segepok. Kan bahaya. Jadi, jangan kasih tahu Andi tentang hal ini. Anggap saja memang ada 1 M. Sssttt.

"Eyke bisa kaya boo dapet duta segini banyak. Bisa beli yang mehong-mehong," senangnya.

Senangnya bukan main. Dia pun mengambil tas emas itu lalu ambil langkah sekencang-kencangnya, bagai kedatangan Satpol PP. Maklum, dia sudah pengalaman.

Dengan uang 1 M hilang seceng itu, dia membeli semua yang dia inginkan. Tempat tinggal, mobil, baju, gaun, alat-alat make up, ups! Enggak salah nih beli gaun, dan alat-alat make up? Ah, lupakan saja, pasti kalian sudah tahu semua maksudnya, lanjutkan. Lalu tidak lupa juga dia membangun salon impiannya, walaupun dia hanya bisa melenggak-lenggok saja. Yang penting punya salon. Ah, kini hidupnya sangat indah, seindah Indah Kalalo. Dan juga tidak memakai embel-embel 'amat' lagi. Jadi, Andi kini sudah menjadi pemuda yang untung, cantik, dan wanita banget, hahaha!

Oke, mungkin segitu dulu kisah yang bagusnya. Sebab, saya lebih suka mengisahkan yang apes-apes. Singkat saja ya, si Andini ... eh maksud saya Andi ini sedang jalan-jalan bagai di atas catwalk, dia tidak melihat ada kucing yang nyelonong di depannya.

"Meooong!" pekik kucing itu sambil membangkitkan bulunya. Buntutnya diinjak hak tingginya Andi.

"Monyong gelo sia maneh!" pekik Andi latah sambil mengelak ke samping.

Di sinilah letak apesnya makhluk satu itu. Dia mendekati kulit pisang yang geletak dekat tong sampah, lalu menginjaknya Akibatnya, jadilah apa yang mestinya jadi. Dia kepleset kulit pisang itu.

Iya, kulit pisang! Lagi-lagi kulit pisang! Bosan tidak kalian?

Malang tak dapat ditolak, kesialan mesti didapat, mungkin itulah nasib Andi. Dia jatuh ke tong sampah dan ... bleduk! Kepalanya yang habis di-smoothing itu mengenai tong sampah. Luka menganga muncul di ubun-ubun. Untung saja tong itu kosong, jadi kencang bunyinya.

Klang!

Tahu yang selanjutnya? Sepatu high heels-nya lepas dan melambung ke atas. Jatuhnya lalu mengenai tepat di kepala yang ada lukanya. Muncul lelehan pekat di kepala. Bagaikan gunung yang meletus memuntahkan lava yang panas dan mendidih. Dia langsung jatuh lemas. Tak lama kemudian, dia pun mati. Innalillahi. Ini semua akibat siapa?

Ya, kulit pisang!


image
Si biang keladi


***

Taman Makam Kebon Minjo kedatangan penghuni lagi, hantu Pocong Jablay namanya. Kalau loncat diselingi goyangan itik, kayu, palu, paku, semen, batako, tanah, dan patah-patah. Saya jadi bingung. Dia mau goyang atau bikin bangunan?

Penghuni itu tak lain adalah Andi, yang mati nyungsep di tong sampah. Dia yang semasa hidupnya selalu fashionable, saat mati pun tetap sama. Kain kafannya bahkan tak ingin yang biasa. Andi menggunakan kain bahan kulit pisang. Katanya untuk mengenang penyebab dia koit.

Dia pun menghias pucuk pocongnya dengan daun pisang yang masih pucuk juga. Bayangkan saja deh ya,bagaimana jadinya tampang pocong Andi.

Meskipun dia tampak fashionable, Andi selalu sedih. Layaknya cewek yang kehilangan alat-alat make up-nya, atau tidak bisa selfie saat moment indah. Bedanya, yang ini bukan cewek. Hal itu mengundang banyak tanya bagi penghuni makam yang sudah lama. Niatnya mau diospek, namun tidak jadi. Semua kasihan melihat mukanya yang ada bekas lukanya membentuk setengah bulat.

"Saya manggil apa enaknya, nih? Mas? Mbak? Cong? Congwan? Congblay? Pisang?" tanya sesosok kuntilanak yang namanya Kuntil alias Kuntilanak Labil. Maklum, dia masih ABG jadi labil. Apa saja diikuti.

"Panggil eyke Andini," sahutnya.

Nah, lihatlah! Saya sejak tadi betul mengetiknya. Dia memang Andini bukan Andi. Tapi, kenapa ada yang mengeluh, ya? Ah, lupakan. Kembali ke Andi, eh Andini.

"Kamu kan cowok, kok Andini sih namanya?" tanya si Kuntil dengan wajah imutnya, kayak hantu Valak saat di-bully oleh netizen.

"Up to you, Cyin. Yang penting eyke mau hidup eyke yang indah lagi," keluhnya.

Si Kunsis sangat iba. Dia ingin membantunya. Dia sangat ingin punya teman kayak Pocong Andini ini. Tiba-tiba dia dapat ide yang bagus. "Saya bisa bantu," katanya.

"Masa?" tanya si pocong Andini senang.

"Iya."

"Makasih, Cyin!!!" pekiknya sambil memeluk si Kuntil. Jangan membayangkan memeluk dengan tangan, ya. Sebab dia pocong, jadi memeluknya dengan melengkungkan tubuh ke tubuhnya Kuntil. Bingung, kan? Sama, saya juga!

***

Singkat saja ya, soalnya saya sudah capek mengetiknya. Kalian sih enak tinggal baca saja. Saya yang capek, Cyin! Ups, keceplosan! Si pocong Andi, eh Andini dan Kuntil melangkah menuju sebuah tempat. Jangan membayangkan jalannya kayak manusia ya. Pocong Andini masih dengan goyangan khas kuli bangunannya. Kalau Kuntil yang kepo ini ikut goyang itik. Bukan melayang kayak yang kalian bayangkan. Maklum, dia kan labil, jadi apa saja diikuti.

"Kite mau ke menong, Cyin?" tanya Andini setelah lelah dengan goyangannya. Napasnya Senin Kamis. Yang ditanya masih gaya itik.

"Hei! Cyin!" panggil Andini lagi, memuntahkan ludahnya pada Kuntil. Kuntil panik, menyangka akan hujan.

"Hellow ...," Andini semakin sebel dicueki. Kuntil yang menyangka ludahnya adalah hujan langsung siuman. Tepok jidat!

"Kita sampai!" pekik Kuntil.

Keduanya tiba di sebuah tempat agak gelap. Di situ banyak makhluk-makhluk ala smoothing, wajah pucat, lipstik tebal, baju seksi, sepatu high heels, dan bulu-bulu lebat di kaki. Semuanya kaget dengan kedatangan Pocong Andini dan Kuntil. Dengan cepat bagai kilat, Kuntil mengambil salah satu makhluk di situ. Dia ketawa kuda.

"Mau hidup indah lagi, kan? Ini loh yang namanya Indah yang masih hidup," kata Kuntil dengan pedenya.

Si Andini kaget sebab dibawa ke tempat dia biasa mangkal. Dan si Indah yang dimaksud adalah bencong kelas kakap yang selalu bilang ganteng ke semua cowok.

"Setaaaan!!!" pekik Andini.

"Pocoooong!!!" pekik Indah.

Kedua makhluk sejenis itu pun tunggang-langgang kalang kabut. Kali ini tidak pakai goyangan lagi, Pocong Andini loncat-loncat ala balapan pocong buat lomba tujuh belasan. Saya yakin jika diadakan lomba, dia pasti menang.

Gedebuk!

Dia tiba-tiba jatuh. Dan, tahu tidak apa penyebabnya? Kulit pisang! Ya, kulit pisang! Pasti kalian bosan dengan kulit pisang! Apes banget dia. Hilang nyawa akibat kulit pisang. Mati pun tetap kena kulit pisang. Jika udah mati, bakal jadi apa?

Pesan saya, jangan ikuti adegan ini, apalagi makan pisang. Sebab kulitnya itu membuat pocong celaka. Kalau mau ketawa ya ketawa saja, sebelum di-banned. Sekian dan makasih.


-tamat-



image

Hidup Indah, Mati Pun Mudah


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tullisan ini adalah hasil duet dengan Eka dan diposting di salah satu komunitas Facebook. Awalnya tulisan ini mengandung banyak sekali alfabet hina dina itu. Dan untuk diposting di sini, saya edit semuanya hingga begini. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Ini adalah kisah yang mungkin tidak ingin diikuti dan dicontoh oleh siapa pun, bahkan sebangsa dedemit sekali pun. Kisah ini lebih pantas untuk diketawakan dan diejek, sebab niatnya memang untuk membuat ketawa. Tulisan ini mengisahkan tentang sesosok pemuda, sebut saja namanya Andini. Ups, kelebihan! Maksud saya namanya Andi. Dia ini pemuda yang tidak untung-untung amat, tidak tampan-tampan amat, dan juga tidak lelaki amat atau wanita amat. Lah, lalu apa? Hanya Amat-lah yang tahu, sebab namanya selalu disebutkan di kalimat-kalimat sebelumnya. Kini, nasib hidup Andi sudah jauh beda hanya akibat kulit pisang!

Ya, kulit pisang!

Awalnya dia menemukan seonggok kulit pisang di jalan. Pemuda itu memungutnya dan menebak-nebak, itu kulit pisang jenis apa? Ambon? Monyet? Atau Banana Boat? Dia mengusap-usap kepalanya yang banyak kutu, jawabannya tidak ketemu. Ah, dia pun tak ambil pusing. Ada maksud baik yang melintas di benaknya. Alih-alih hendak membuangnya ke tong sampah di ujung jalan, malah petaka yang didapat. Maklum, doi ini mantan pemain basket di bangku cadangan. Jadi dia sudah ahli dalam hal meleset. Tak sengaja kulit pisang itu mengenai helm si pesepeda yang tiba-tiba melintas di depannya saat hendak dibuang, lalu jatuh. Apesnya, di situ tak ada siapa-siapa jadi tak ada yang menolong. Yang bikin saya bingung, kenapa sepeda mesti pakai helm?

"Waduh, metong kagak nih, Cyin?" kagetnya.

Dia mendekati pesepeda yang jatuh itu. Dia cek napasnya dengan memencet lubang hidungnya. Tampaknya tak ada napas lagi alias koit. Semuanya akibat kulit pisang.

Ya, kulit pisang!

Andini ... eits salah ketik melulu! Andi lalu mengecek tas yang dibawa pesepeda itu. Lagaknya bagaikan kepala sekolah yang menggeledah tas siswa dan menemukan alat-alat make up ... di dalam tas cowok. Ah, lupakan yang tadi! Fokus ke Andi! Lalu, betapa kagetnya pemuda ini bagai menemukan emas. Ya iyalah, kan yang dia temukan memang emas, walau bukan yang asli. Tapi nilainya sama, yakni segepok uang. Akibat matematikanya agak lobet, dia menganggap saja jika totalnya mencapai 1 M. Padahal mah isinya ada 999.999.000. Memang mendekati 1 M. Sisa yang seceng itu untuk membeli es teh manis saat pesepeda itu kelelahan. Maklum, Sob. Beban tasnya lumayan. Lagian, kenapa juga tidak pakai taksi, malah naik sepeda bawa uang segepok. Kan bahaya. Jadi, jangan kasih tahu Andi tentang hal ini. Anggap saja memang ada 1 M. Sssttt.

"Eyke bisa kaya boo dapet duta segini banyak. Bisa beli yang mehong-mehong," senangnya.

Senangnya bukan main. Dia pun mengambil tas emas itu lalu ambil langkah sekencang-kencangnya, bagai kedatangan Satpol PP. Maklum, dia sudah pengalaman.

Dengan uang 1 M hilang seceng itu, dia membeli semua yang dia inginkan. Tempat tinggal, mobil, baju, gaun, alat-alat make up, ups! Enggak salah nih beli gaun, dan alat-alat make up? Ah, lupakan saja, pasti kalian sudah tahu semua maksudnya, lanjutkan. Lalu tidak lupa juga dia membangun salon impiannya, walaupun dia hanya bisa melenggak-lenggok saja. Yang penting punya salon. Ah, kini hidupnya sangat indah, seindah Indah Kalalo. Dan juga tidak memakai embel-embel 'amat' lagi. Jadi, Andi kini sudah menjadi pemuda yang untung, cantik, dan wanita banget, hahaha!

Oke, mungkin segitu dulu kisah yang bagusnya. Sebab, saya lebih suka mengisahkan yang apes-apes. Singkat saja ya, si Andini ... eh maksud saya Andi ini sedang jalan-jalan bagai di atas catwalk, dia tidak melihat ada kucing yang nyelonong di depannya.

"Meooong!" pekik kucing itu sambil membangkitkan bulunya. Buntutnya diinjak hak tingginya Andi.

"Monyong gelo sia maneh!" pekik Andi latah sambil mengelak ke samping.

Di sinilah letak apesnya makhluk satu itu. Dia mendekati kulit pisang yang geletak dekat tong sampah, lalu menginjaknya Akibatnya, jadilah apa yang mestinya jadi. Dia kepleset kulit pisang itu.

Iya, kulit pisang! Lagi-lagi kulit pisang! Bosan tidak kalian?

Malang tak dapat ditolak, kesialan mesti didapat, mungkin itulah nasib Andi. Dia jatuh ke tong sampah dan ... bleduk! Kepalanya yang habis di-smoothing itu mengenai tong sampah. Luka menganga muncul di ubun-ubun. Untung saja tong itu kosong, jadi kencang bunyinya.

Klang!

Tahu yang selanjutnya? Sepatu high heels-nya lepas dan melambung ke atas. Jatuhnya lalu mengenai tepat di kepala yang ada lukanya. Muncul lelehan pekat di kepala. Bagaikan gunung yang meletus memuntahkan lava yang panas dan mendidih. Dia langsung jatuh lemas. Tak lama kemudian, dia pun mati. Innalillahi. Ini semua akibat siapa?

Ya, kulit pisang!


image
Si biang keladi


***

Taman Makam Kebon Minjo kedatangan penghuni lagi, hantu Pocong Jablay namanya. Kalau loncat diselingi goyangan itik, kayu, palu, paku, semen, batako, tanah, dan patah-patah. Saya jadi bingung. Dia mau goyang atau bikin bangunan?

Penghuni itu tak lain adalah Andi, yang mati nyungsep di tong sampah. Dia yang semasa hidupnya selalu fashionable, saat mati pun tetap sama. Kain kafannya bahkan tak ingin yang biasa. Andi menggunakan kain bahan kulit pisang. Katanya untuk mengenang penyebab dia koit.

Dia pun menghias pucuk pocongnya dengan daun pisang yang masih pucuk juga. Bayangkan saja deh ya,bagaimana jadinya tampang pocong Andi.

Meskipun dia tampak fashionable, Andi selalu sedih. Layaknya cewek yang kehilangan alat-alat make up-nya, atau tidak bisa selfie saat moment indah. Bedanya, yang ini bukan cewek. Hal itu mengundang banyak tanya bagi penghuni makam yang sudah lama. Niatnya mau diospek, namun tidak jadi. Semua kasihan melihat mukanya yang ada bekas lukanya membentuk setengah bulat.

"Saya manggil apa enaknya, nih? Mas? Mbak? Cong? Congwan? Congblay? Pisang?" tanya sesosok kuntilanak yang namanya Kuntil alias Kuntilanak Labil. Maklum, dia masih ABG jadi labil. Apa saja diikuti.

"Panggil eyke Andini," sahutnya.

Nah, lihatlah! Saya sejak tadi betul mengetiknya. Dia memang Andini bukan Andi. Tapi, kenapa ada yang mengeluh, ya? Ah, lupakan. Kembali ke Andi, eh Andini.

"Kamu kan cowok, kok Andini sih namanya?" tanya si Kuntil dengan wajah imutnya, kayak hantu Valak saat di-bully oleh netizen.

"Up to you, Cyin. Yang penting eyke mau hidup eyke yang indah lagi," keluhnya.

Si Kunsis sangat iba. Dia ingin membantunya. Dia sangat ingin punya teman kayak Pocong Andini ini. Tiba-tiba dia dapat ide yang bagus. "Saya bisa bantu," katanya.

"Masa?" tanya si pocong Andini senang.

"Iya."

"Makasih, Cyin!!!" pekiknya sambil memeluk si Kuntil. Jangan membayangkan memeluk dengan tangan, ya. Sebab dia pocong, jadi memeluknya dengan melengkungkan tubuh ke tubuhnya Kuntil. Bingung, kan? Sama, saya juga!

***

Singkat saja ya, soalnya saya sudah capek mengetiknya. Kalian sih enak tinggal baca saja. Saya yang capek, Cyin! Ups, keceplosan! Si pocong Andi, eh Andini dan Kuntil melangkah menuju sebuah tempat. Jangan membayangkan jalannya kayak manusia ya. Pocong Andini masih dengan goyangan khas kuli bangunannya. Kalau Kuntil yang kepo ini ikut goyang itik. Bukan melayang kayak yang kalian bayangkan. Maklum, dia kan labil, jadi apa saja diikuti.

"Kite mau ke menong, Cyin?" tanya Andini setelah lelah dengan goyangannya. Napasnya Senin Kamis. Yang ditanya masih gaya itik.

"Hei! Cyin!" panggil Andini lagi, memuntahkan ludahnya pada Kuntil. Kuntil panik, menyangka akan hujan.

"Hellow ...," Andini semakin sebel dicueki. Kuntil yang menyangka ludahnya adalah hujan langsung siuman. Tepok jidat!

"Kita sampai!" pekik Kuntil.

Keduanya tiba di sebuah tempat agak gelap. Di situ banyak makhluk-makhluk ala smoothing, wajah pucat, lipstik tebal, baju seksi, sepatu high heels, dan bulu-bulu lebat di kaki. Semuanya kaget dengan kedatangan Pocong Andini dan Kuntil. Dengan cepat bagai kilat, Kuntil mengambil salah satu makhluk di situ. Dia ketawa kuda.

"Mau hidup indah lagi, kan? Ini loh yang namanya Indah yang masih hidup," kata Kuntil dengan pedenya.

Si Andini kaget sebab dibawa ke tempat dia biasa mangkal. Dan si Indah yang dimaksud adalah bencong kelas kakap yang selalu bilang ganteng ke semua cowok.

"Setaaaan!!!" pekik Andini.

"Pocoooong!!!" pekik Indah.

Kedua makhluk sejenis itu pun tunggang-langgang kalang kabut. Kali ini tidak pakai goyangan lagi, Pocong Andini loncat-loncat ala balapan pocong buat lomba tujuh belasan. Saya yakin jika diadakan lomba, dia pasti menang.

Gedebuk!

Dia tiba-tiba jatuh. Dan, tahu tidak apa penyebabnya? Kulit pisang! Ya, kulit pisang! Pasti kalian bosan dengan kulit pisang! Apes banget dia. Hilang nyawa akibat kulit pisang. Mati pun tetap kena kulit pisang. Jika udah mati, bakal jadi apa?

Pesan saya, jangan ikuti adegan ini, apalagi makan pisang. Sebab kulitnya itu membuat pocong celaka. Kalau mau ketawa ya ketawa saja, sebelum di-banned. Sekian dan makasih.


-tamat-



image
Bagikan
  1. manteb jga nih, baru kali ini baca cerpen sperti ini

    ReplyDelete
  2. keren cerpenya gan ditunggu update berikutnya

    ReplyDelete
  3. kurang pandai bikin cerpen saya, cerpen agan bagus2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak sob, masih banyak yang lebih bagus fibanding saya. Makasih udah singgah

      Delete
  4. overall ceritanya sih bagus. Tetapi penulisannya yang kurang menarik. Keep Writing Bro :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks gan atas kritiknya. Semoga ke depannya bisa diperbaiki.

      Delete
  5. Memang gan, mati mudah. Teapi kita harus hidup untuk mencapai tujuan berupa kesuksesan. Jadi, sesaat kita hidup harus bisa memanfaatkannya.

    ReplyDelete
  6. Bahasanya mudah di serap gan, tingkatkan terus gan, mantap , jangan lupa perbanyak pesan moral ya

    ReplyDelete
  7. aasiik gan buat dibaca menjelang tidur.. hehehe nice pokoknya :D

    ReplyDelete
  8. bisa dibikin buku nih gan.. kerennn :D

    ReplyDelete
  9. gue ga bisa bayangin para hantu berperilaku kayak gt

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.