image

Tulisan satu ini sempat saya posting di salah satu komunitas Facebook. Ada yang bilang jika kisah ini membuatnya mual minum teh. Tapi, saya tidak ada maksud begitu. Lalu, tulisannya saya edit lagi dan panjangkan hingga begini. Well, selamat membaca dan tinggalkan komen.



==========
Pagi menyambut hangat, membelai bumi dengan indahnya. Aktivitas manusia mulai bangkit dengan penuh semangat. Buaian mimpi belaka kala lelap tadi malam mesti dilupakan, saatnya kembali ke kenyataan.

Bayu memulai aktivitasnya dengan tak kalah semangat. Malam tadi dia asyik menelepon dengan sang kekasih, bahkan hingga tengah malam. Meskipun besoknya dia mesti kuliah, namun dia tidak peduli. baginya, sang kekasih adalah segalanya.

Setelah bangun, Bayu langsung mandi, lalu mulai siap-siap menuju kampus setelah mengenakan pakaian. Dia sengaja tidak makan dahulu, sebab baginya makan pagi-pagi membuatnya agak mual dan ingin muntah. Makanya, dia lebih memilih makan di kampus dan agak siang.

Belum lama Bayu mengunci pintu depan tempat tinggalnya, sebuah panggilan yang hangat menyapa telinganya.

“Bayu!”

Bayu menoleh ke si penyapa. Dia melihat sesosok lelaki tua yang tampak masih tegap dengan wajah penuh kebahagiaan, seolah menemukan emas yang sudah lama menghilang. Lelaki itu duduk di depan sebuah meja kayu bulat di halaman tempat tinggalnya, yang letaknya tepat di sebelah kediaman Bayu.

“Ada apa, Pak?” tanya Bayu sopan, sambil memasukkan kunci pintu ke dalam saku celananya.

“Mau kuliah, ya?” tanya lelaki tua itu.

Bayu mengangguk mantap, “Iya, Pak.”

Lelaki tua itu sunggingkan senyum sambil mengangkat gelas yang ada di atas mejanya. “Masih pagi loh, Bayu. Ke sini dulu, kita ngeteh-ngeteh,” ajaknya.

Bayu tampak bimbang dengan ajakan itu. Sesungguhnya, dia sangat ingin meminum teh hangat dengan lelaki tua tetangganya itu, sebab Bayu sudah lama tidak menyapa tetangganya. Dia juga bisa menghangatkan tubuhnya setelah kedinginan akibat mandi. Namun, di satu sisi dia juga dia mesti cepat-cepat kuliah, sebab takut telat. Apalagi, dosen untuk mata kuliahnya kali ini dikenal galak dan tegas, yang tak segan-segan menindaklanjuti mahasiswa yang telat masuk.

Setelah agak lama menimang-nimang, dia memutuskan untuk minum teh dulu dengan tetangganya itu. “Mungkin cuma sepuluh menitan,” ucap Bayu dalam hati.

Pemuda itu mendekati lelaki tua dengan penuh semangat. Senyumnya selalu mengembang di wajah tampannya. Setelah sampai, dia langsung duduk di bangku yang masih kosong. Matanya menatap ke ketel teh yang dipenuhi dengan kepulan asap yang menggoda.

Lelaki tua itu tampak antusias menyambut Bayu. Tanpa menunggu ucapan Bayu, dia langsung menuang ketel tehnya ke gelas kosong untuk disuguhkan kepada tetangga mudanya itu. Senyuman hangat tak lepas di wajahnya.

“Ayo diminum dulu, mumpung masih hangat,” ucap lelaki tua itu.

“Iya, Pak. Makasih,” ucap Bayu sambil mengambil gelas di depannya, lalu meniupnya.

“Jangan sungkan-sungkan kalau ke sini, Bayu,” ucap lelaki tua itu sambil memegangi gelas teh miliknya, “saya tiap pagi selalu membuat minuman teh. Saya sangat suka teh. Saya sangat senang jika kamu menemani saya minum teh pagi-pagi begini. Gak usah diminta pun kamu datang ke sini saja, temani saya.”

“Iya, Pak,” sahut Bayu agak malu-malu.

Sudah cukup lama Bayu menjadi tetangga lelaki itu. Bisa dikatakan, sejak Bayu masih kecil keduanya sudah saling kenal. Ayah dan ibunya Bayu pun sudah sangat dekat dengan lelaki tua itu. Namun, ayah dan ibu Bayu kini tak jelas nasibnya. Bahkan bisa dikatakan menghilang sejak sebulan yang lalu.

Bayu bahkan sudah meminta bantuan polisi untuk menemukan ayah dan ibunya. Namun hasilnya nihil. Batang hidung keduanya sangat sulit ditemukan. Bayu hanya tabah dalam menghadapi ini semua.

Bayu yang pendiam kini mulai sosialisasi dengan tetangganya, salah satunya adalah lelaki tua itu. Dia ingin tahu sosok ayah dan ibunya di mata tetangga. Sejak itulah, Bayu selalu diajak jamuan minum teh hangat oleh lelaki tua itu. Jika Bayu lewat ketika hendak kuliah, dia pasti dipanggil oleh tetangganya yang sudah stand by di halamannya.

Selama minum teh, lelaki itu senang mengisahkan kehidupannya semasa muda dulu. Kini dia tak punya siapa-siapa lagi. Bahkan tak ada sanak famili satu pun yang menjenguknya. Bayu pun menjadi iba dan selalu menemaninya walau hanya minum teh hangat.

“Wah, tehnya semakin ke sini semakin enak banget, Pak. Beda jauh sama teh-teh yang ada di toko-toko,” puji Bayu senang ambil meletakkan gelasnya di atas meja.

Lelaki tua yang duduk di depannya hanya sunggingkan senyum sambil mengangguk-angguk. “Teh buatan saya ini memang istimewa. Ada teknik khusus untuk membuatnya. Tidak asal-asalan,” ucapnya bangga, lalu meniup teh dalam gelasnya.

“Oh, ya? Bagaimana membuatnya, Pak?” tanya Bayu.

Lelaki tua itu masih layangkan senyum. “Nanti akan saya kasih tahu,” sahutnya. Dia menuangkan lagi ketel teh ke gelas Bayu yang sudah kosong. “Ayo, tambah lagi. Mumpung masih banyak tehnya.”

Image

“Sudah kenyang, Pak. Sudah. Saya mesti cepet-cepet kuliah, nih. Takut telat. Maklum, dosennya galak,” sahut Bayu menolak.

Lelaki tua itu agak kecewa dengan penolakan tetangga mudanya itu. Dia lantas meminum habis teh di gelas miliknya.

“Ya, sudah. Tidak apa-apa, Bayu.”

Bayu langsung bangkit, “Saya kuliah dulu, Pak. Makasih atas jamuan tehnya. Nanti kita ngeteh sama-sama lagi,” senyumnya, lalu meninggalkan lelaki itu.

Bayu menatap sesaat ke tempat tinggalnya yang tepat di sebelah kediaman lelaki tua itu. Dia memastikan kalau pintunya sudah menutup. Lalu, dia melangkah menjauh menuju jalanan yang tepat di ujung gang.

***

Sang lelaki tua tampak tenang menatap pintu depan di sebelah tempat tinggalnya. Dia menanti sang penghuni untuk muncul ke depan sejak pagi buta. Dinginnya suasana pagi tak dia pedulikan. Di depannya ada meja yang di atasnya ada dua gelas kecil yang masih kosong dan sebuah ketel kaca. Tampak, ketel itu mengepulkan asap.

Wajah tuanya tampak senang tatkala melihat Bayu membuka pintu.

“Bayu, ayo sini. Kita ngeteh dulu. Mumpung ini Minggu,” ajak lelaki tua tetangga Bayu itu.

Sang pemuda langsung menoleh kepada si penyapa. “Untuk pagi ini tidak dulu, Pak.”

“Kamu mau ke mana?”

“Mau joging dulu, Pak. Nanti saja ngetehnya, ya,” tolak Bayu sambil melakukan pemanasan. Dia tampak memakai kostum basket.

“Ayolah, lebih sehat kalau ngeteh dulu. Mumpung masih hangat, loh,” bujuk lelaki tua itu.

“Tapi saya sudah janjian sama kekasih saya untuk joging, Pak,” tolak Bayu halus. “Besok saja, deh.”

Lelaki tua itu tak kehilangan akal. Dia mencoba bujukan lain supaya Bayu mau menemaninya minum teh. “Katanya kamu mau tahu bagaimana saya membuat teh enak gini.”

Bayu langsung menghentikan pemanasannya. Dia langsung mendekati tetangganya itu dengan antusias. “Bapak mau kasih tahu saya bagaimana membuat teh ini?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Iya, Bayu. Tapi kamu mesti temani saya minum teh dulu,” ucapnya.

“Wah, saya mau banget tuh, Pak. Siapa tahu saja saya bisa membuat teh seenak Bapak. Tapi, bisa tidak kalo ngetehnya nanti saja setelah saya lihat pembuatan tehnya, Pak?”

“Bukannya kamu sudah tidak ada waktu lagi, Bayu?” tanya lelaki tua itu memastikan.

Bayu diam sejenak. Matanya menatap ke jam tangan yang ada di tangan kanannya. Dia mulai bimbang. Hitung-hitungan waktu mulai dilakukannya. Dia tak mau sampai hati mengecewakan sang kekasih akibat telat janjian. Tapi, dia juga sangat ingin tahu pembuatan teh lelaki tua tetangganya itu.

“Waktunya lama tidak, Pak?” tanya Bayu memastikan.

“Tidak lama, kok. Hanya sepuluh menitan,” ucap lelaki tua itu dengan tenang.

Bayu kembali memandangi jam tangannya. Dia tampak menghitung waktu yang bisa dia gunakan untuk mendapatkan ilmu dadakan ini, di samping janjian dengan sang kekasih.

“Tampaknya cukup waktunya kalau cuma segitu sih, Pak. Ya sudah, ayo tunjukkan pada saya, Pak,” ucap Bayu yang mulai semangat dan menggebu-gebu.

Lelaki tua itu layangkan senyuman hangat, sehangat tehnya yang masih mengepulkan asap. Dia sangat senang, sebab Bayu mau dibujuknya. Dia bangkit lalu masuk ke dalam kediamannya, “Ayo, ikut saya ke dalam.”

Bayu pun mengikuti ajakan tetangganya untuk memasuki kediamannya yang tampak biasa-biasa saja. Tidak tampak kumuh ataupun mewah. Cukup untuk dihuni oleh lelaki tua itu menghabiskan sisa hidupnya. Belasan tahun menjadi tetangga lelaki tua itu, Bayu sama sekali belum memasuki tempat tinggalnya. Minum teh pun hanya dilakukan di halamannya yang ditumbuhi banyak tanaman kumis kucing dan satu pohon mangga.

Hidung Bayu mulai mencium sesuatu yang aneh kala semakin masuk ke dalam. Dadanya semakin sesak akibat bau itu. Namun, dia tidak tahu apa itu.

“Ini bau apa ya, Pak?” tanya Bayu sambil menutup hidungnya.

Lelaki tua itu tak menyahut.

Keduanya kini telah sampai di sebuah gudang belakang. Belum juga satu menit di situ, Bayu sudah mulai mual-mual dan pusing tatkala menatap kepala-kepala manusia yang disusun di sebuah meja di pojok gudang. Mimik wajahnya menandakan bahwa kepala-kepala itu telah mengalami sesuatu yang menyakitkan sebelumnya. Sesuatu yang membuat nyawa-nyawa itu melayang. Bayu mengenali kepala-kepala itu yang tidak lain adalah tetangga-tetangganya yang hilang tanpa jejak.

Yang paling mengejutkan Bayu adalah, dia melihat kepala ayah dan ibunya dalam susunan kepala-kepala itu. Hatinya menjadi pilu menyaksikan pemandangan itu. Dadanya semakin sesak, bagai dihantam oleh sebuah batu. Hanya tanda tanya yang kini memenuhi benaknya.

“Ini bau mayat yang diawetkan,” jawab lelaki tua itu pelan, memecah keheningan.

“Apa maksudnya ini, Pak?” tanya Bayu panik. Kepalanya semakin pusing menyaksikan potongan kepala ayah dan ibunya.

“Saya menyuling kepala-kepala itu dengan bahan-bahan biologis. Lihat, yang di samping meja itulah alat penyulingnya,” tuding lelaki tua itu.

Bayu menatap alat itu dengan pandangan memilukan. Alat itu layaknya sebuah alat penggilingan padi. Ada sebuah tabung kaca di atasnya. Bayu bisa melihat di tabung itu juga ada kepala manusia yang dicelupkan. Dia pun semakin mual dibuatnya.

“Lalu,” lanjut lelaki tua itu, “hasil sulingannya di-mix dengan daun teh asli dan melati untuk dijadikan minuman teh yang katamu itu enak. Dalam kepala manusia mengandung otak, mata, hidung, telinga, dan lain-lain. Jika semua itu dicelupkan sekaligus ke dalam cuka dan disuling dengan alat selama 24 jam, itu akan menghasilkan wangi yang khas. Kemudian di-mix dengan daun teh dan melati, maka semua itu akan menjadi teh yang nikmat. Dengan kata lain, kepala-kepala itulah untuk bahan baku tehnya,” jelas lelaki tua itu.

Bayu tak bisa lagi menahan mualnya. Dia langsung muntah seketika. Sisa makanan yang dimakan tadi malam membuncah semua ke lantai. Menimbulkan bau busuk pekat. Pemuda itu tak bisa membayangkan kalau selama ini dia telah meminum minuman hasil sulingan mayat.

Dia ingin sekali meninggalkan tempat itu akibat tak tahan lagi dengan baunya. Apalagi, dia juga tak tega melihat potongan kepala ayah dan ibunya. Dia ingin sekali memekik dan menanyakan, ada apa semuanya ini? Apalagi dengan kelakuan aneh tetangganya itu. Namun, tubuhnya melemas dan kaku. Seolah ada lem yang sangat lengket menahannya supaya tak bisa ke mana-mana lagi.

“Kamu tahu dengan kelakuanmu yang telah membuat saya sakit hati?” tanya lelaki tua itu sinis. Pesona kehangatan sikapnya menjadi hilang, digantikan oleh sikap dingin dan tampak menakutkan.

“Apa yang telah saya lakukan, Pak?” tanya Bayu tak memahami maksud ucapan tetangganya itu. Dia mengelap bekas muntahan di mulutnya dengan punggung tangan. Napasnya kembang kempis akibat muntah. Peluh pun mulai membasahi kostum basketnya akibat pengap.

“Kamu tadi menolak ajakan saya untuk minum teh. Kamu tahu, saya paling benci yang namanya penolakan. Bagi saya, penolakan itu adalah sebuah penghinaan. Dan itu sangat menyakitkan.”

“Ta-tapi saya sama sekali tidak ada maksud buat menghina Anda, Pak,” sahut Bayu cepat. Dia mulai ketakutan dengan tetangganya itu. Dia juga ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang memualkan ini. Namun, bagai ada kekuatan yang menahannya. Hal ini diakibatkan dia melihat potongan kepala ayah dan ibunya, Bayu menjadi tak kuasa melangkah. Semua kenangan-kenangan sejak dia masih kecil hingga kini, melintas di otak. Tubuhnya pun melemas. Tak kuasa menahan beban kepiluan.

Lelaki tua itu sunggingkan senyum sinis. “Bagi saya, itu sama saja. Pemilik kepala-kepala itu juga sebelumnya melakukan penolakan kepada saya. Ayah dan ibumu juga melakukan hal yang sama. Kini, kamu juga ikut-ikutan. Akan kubuat kamu menyusul ayah dan ibumu. Kepalamu akan saya jadikan sebagai bahan baku teh,” ucap lelaki tua itu.

Tanpa diduga, lelaki tua itu sudah menggenggam sebuah kapak. Dia mengayunkannya dengan cepat ke kepala Bayu. Meskipun sudah tua, dia masih mampu mengayunkan kapak itu.

image

Bayu mengelak dengan cepat. Dia menggulingkan tubuhnya ke samping supaya ayunan kapak itu tidak mengenai tubuhnya. Kekuatannya seolah bangkit ketika nyawanya dalam bahaya.

Tebasan kapak mengenai lantai tanah. Telat sedikit saja, kepala Bayu akan putus.

Pemuda itu kini mesti cepat ambil tindakan. Bayu pun langsung hengkang meninggalkan tempat itu. Keinginannya untuk tetap hidup sangat kuat. Dia tak ingin mati konyol di tangan psikopat gila yang sudah tua.

Tiba di halaman kediaman lelaki tua, Bayu menoleh sesaat ke pintu depan. Lelaki tua tetangganya hanya diam saja di ambang pintu sambil tetap memegang kapak. Bayu pun menghentikan langkahnya.

“Anda sudah gila, Pak!” pekik Bayu, “apa yang ada di benak Anda?! Kenapa ... kenapa Anda bisa tega membunuh begitu?!”

Mimik wajah lelaki tua itu tampak biasa saja. Tidak menampakkan kegelisahan dan ketakutan jika Bayu meminta bantuan untuk menangkapnya. Tetap tenang. Bahkan dia tidak takut jika Bayu menghilang. 

“Saya hanya ingin diakui. Saya tidak mau siapapun yang menolak keinginan saya. Hanya itu,” jawab lelaki tua itu tenang.
 
“Lantas kenapa Anda mesti membunuh begitu?!” pekik Bayu lagi.

Ting ... ting ...ting ...!

Belum sempat Bayu mendapatkan jawaban, telinganya menangkap bunyi ponselnya di saku celana. Dengan sigap dia mengambil benda itu.

Tampaknya, kekasihnya yang menelepon. Dia pun langsung mengangkatnya.

“Halo, Sayang. Maaf aku agak telat. Soalnya ....”

Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, sebuah kapak melayang dan menancap tepat di dahinya. Bayu pun langsung tumbang ke tanah dan tewas seketika. Ponselnya pun lepas.

“Halo! Halo! Bayu! Kamu kenapa?” pekik sang wanita di telepon.

Tit!

Sambungan telepon diputus oleh sang tetangga Bayu yang mendekat. Dialah yang melayangkan kapak itu dengan memanfaatkan kelengahan Bayu.

“Kamu lengah, Bayu. Mestinya dalam keadaan begitu, pandangan matamu tetap kepada saya, bukan ke yang lain. Walau saya sudah tua, saya masih sanggup membunuh dengan kapak.”

Lelaki tua itu mencabut kapaknya yang menancap di kepala Bayu. Kemudian, dia jongkok. “Saya katakan lagi. Saya ini benci ditolak. Bahkan kamu sudah menolak saya dua kali. Menolak untuk ikut minum teh dan menolak untuk menjadikan kepalamu sebagai bahan baku teh. Mau tak mau, kamu mesti menjadi teh nikmat untuk menemaniku tiap pagi, Bayu. Dan juga ayah ibumu.”

Dia menatap sekeliling untuk memastikan keadaan. Kemudian, dia membawa mayat Bayu masuk ke dalam kediamannya.


-tamat-


image


Jamuan Minum Teh


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan satu ini sempat saya posting di salah satu komunitas Facebook. Ada yang bilang jika kisah ini membuatnya mual minum teh. Tapi, saya tidak ada maksud begitu. Lalu, tulisannya saya edit lagi dan panjangkan hingga begini. Well, selamat membaca dan tinggalkan komen.



==========
Pagi menyambut hangat, membelai bumi dengan indahnya. Aktivitas manusia mulai bangkit dengan penuh semangat. Buaian mimpi belaka kala lelap tadi malam mesti dilupakan, saatnya kembali ke kenyataan.

Bayu memulai aktivitasnya dengan tak kalah semangat. Malam tadi dia asyik menelepon dengan sang kekasih, bahkan hingga tengah malam. Meskipun besoknya dia mesti kuliah, namun dia tidak peduli. baginya, sang kekasih adalah segalanya.

Setelah bangun, Bayu langsung mandi, lalu mulai siap-siap menuju kampus setelah mengenakan pakaian. Dia sengaja tidak makan dahulu, sebab baginya makan pagi-pagi membuatnya agak mual dan ingin muntah. Makanya, dia lebih memilih makan di kampus dan agak siang.

Belum lama Bayu mengunci pintu depan tempat tinggalnya, sebuah panggilan yang hangat menyapa telinganya.

“Bayu!”

Bayu menoleh ke si penyapa. Dia melihat sesosok lelaki tua yang tampak masih tegap dengan wajah penuh kebahagiaan, seolah menemukan emas yang sudah lama menghilang. Lelaki itu duduk di depan sebuah meja kayu bulat di halaman tempat tinggalnya, yang letaknya tepat di sebelah kediaman Bayu.

“Ada apa, Pak?” tanya Bayu sopan, sambil memasukkan kunci pintu ke dalam saku celananya.

“Mau kuliah, ya?” tanya lelaki tua itu.

Bayu mengangguk mantap, “Iya, Pak.”

Lelaki tua itu sunggingkan senyum sambil mengangkat gelas yang ada di atas mejanya. “Masih pagi loh, Bayu. Ke sini dulu, kita ngeteh-ngeteh,” ajaknya.

Bayu tampak bimbang dengan ajakan itu. Sesungguhnya, dia sangat ingin meminum teh hangat dengan lelaki tua tetangganya itu, sebab Bayu sudah lama tidak menyapa tetangganya. Dia juga bisa menghangatkan tubuhnya setelah kedinginan akibat mandi. Namun, di satu sisi dia juga dia mesti cepat-cepat kuliah, sebab takut telat. Apalagi, dosen untuk mata kuliahnya kali ini dikenal galak dan tegas, yang tak segan-segan menindaklanjuti mahasiswa yang telat masuk.

Setelah agak lama menimang-nimang, dia memutuskan untuk minum teh dulu dengan tetangganya itu. “Mungkin cuma sepuluh menitan,” ucap Bayu dalam hati.

Pemuda itu mendekati lelaki tua dengan penuh semangat. Senyumnya selalu mengembang di wajah tampannya. Setelah sampai, dia langsung duduk di bangku yang masih kosong. Matanya menatap ke ketel teh yang dipenuhi dengan kepulan asap yang menggoda.

Lelaki tua itu tampak antusias menyambut Bayu. Tanpa menunggu ucapan Bayu, dia langsung menuang ketel tehnya ke gelas kosong untuk disuguhkan kepada tetangga mudanya itu. Senyuman hangat tak lepas di wajahnya.

“Ayo diminum dulu, mumpung masih hangat,” ucap lelaki tua itu.

“Iya, Pak. Makasih,” ucap Bayu sambil mengambil gelas di depannya, lalu meniupnya.

“Jangan sungkan-sungkan kalau ke sini, Bayu,” ucap lelaki tua itu sambil memegangi gelas teh miliknya, “saya tiap pagi selalu membuat minuman teh. Saya sangat suka teh. Saya sangat senang jika kamu menemani saya minum teh pagi-pagi begini. Gak usah diminta pun kamu datang ke sini saja, temani saya.”

“Iya, Pak,” sahut Bayu agak malu-malu.

Sudah cukup lama Bayu menjadi tetangga lelaki itu. Bisa dikatakan, sejak Bayu masih kecil keduanya sudah saling kenal. Ayah dan ibunya Bayu pun sudah sangat dekat dengan lelaki tua itu. Namun, ayah dan ibu Bayu kini tak jelas nasibnya. Bahkan bisa dikatakan menghilang sejak sebulan yang lalu.

Bayu bahkan sudah meminta bantuan polisi untuk menemukan ayah dan ibunya. Namun hasilnya nihil. Batang hidung keduanya sangat sulit ditemukan. Bayu hanya tabah dalam menghadapi ini semua.

Bayu yang pendiam kini mulai sosialisasi dengan tetangganya, salah satunya adalah lelaki tua itu. Dia ingin tahu sosok ayah dan ibunya di mata tetangga. Sejak itulah, Bayu selalu diajak jamuan minum teh hangat oleh lelaki tua itu. Jika Bayu lewat ketika hendak kuliah, dia pasti dipanggil oleh tetangganya yang sudah stand by di halamannya.

Selama minum teh, lelaki itu senang mengisahkan kehidupannya semasa muda dulu. Kini dia tak punya siapa-siapa lagi. Bahkan tak ada sanak famili satu pun yang menjenguknya. Bayu pun menjadi iba dan selalu menemaninya walau hanya minum teh hangat.

“Wah, tehnya semakin ke sini semakin enak banget, Pak. Beda jauh sama teh-teh yang ada di toko-toko,” puji Bayu senang ambil meletakkan gelasnya di atas meja.

Lelaki tua yang duduk di depannya hanya sunggingkan senyum sambil mengangguk-angguk. “Teh buatan saya ini memang istimewa. Ada teknik khusus untuk membuatnya. Tidak asal-asalan,” ucapnya bangga, lalu meniup teh dalam gelasnya.

“Oh, ya? Bagaimana membuatnya, Pak?” tanya Bayu.

Lelaki tua itu masih layangkan senyum. “Nanti akan saya kasih tahu,” sahutnya. Dia menuangkan lagi ketel teh ke gelas Bayu yang sudah kosong. “Ayo, tambah lagi. Mumpung masih banyak tehnya.”

Image

“Sudah kenyang, Pak. Sudah. Saya mesti cepet-cepet kuliah, nih. Takut telat. Maklum, dosennya galak,” sahut Bayu menolak.

Lelaki tua itu agak kecewa dengan penolakan tetangga mudanya itu. Dia lantas meminum habis teh di gelas miliknya.

“Ya, sudah. Tidak apa-apa, Bayu.”

Bayu langsung bangkit, “Saya kuliah dulu, Pak. Makasih atas jamuan tehnya. Nanti kita ngeteh sama-sama lagi,” senyumnya, lalu meninggalkan lelaki itu.

Bayu menatap sesaat ke tempat tinggalnya yang tepat di sebelah kediaman lelaki tua itu. Dia memastikan kalau pintunya sudah menutup. Lalu, dia melangkah menjauh menuju jalanan yang tepat di ujung gang.

***

Sang lelaki tua tampak tenang menatap pintu depan di sebelah tempat tinggalnya. Dia menanti sang penghuni untuk muncul ke depan sejak pagi buta. Dinginnya suasana pagi tak dia pedulikan. Di depannya ada meja yang di atasnya ada dua gelas kecil yang masih kosong dan sebuah ketel kaca. Tampak, ketel itu mengepulkan asap.

Wajah tuanya tampak senang tatkala melihat Bayu membuka pintu.

“Bayu, ayo sini. Kita ngeteh dulu. Mumpung ini Minggu,” ajak lelaki tua tetangga Bayu itu.

Sang pemuda langsung menoleh kepada si penyapa. “Untuk pagi ini tidak dulu, Pak.”

“Kamu mau ke mana?”

“Mau joging dulu, Pak. Nanti saja ngetehnya, ya,” tolak Bayu sambil melakukan pemanasan. Dia tampak memakai kostum basket.

“Ayolah, lebih sehat kalau ngeteh dulu. Mumpung masih hangat, loh,” bujuk lelaki tua itu.

“Tapi saya sudah janjian sama kekasih saya untuk joging, Pak,” tolak Bayu halus. “Besok saja, deh.”

Lelaki tua itu tak kehilangan akal. Dia mencoba bujukan lain supaya Bayu mau menemaninya minum teh. “Katanya kamu mau tahu bagaimana saya membuat teh enak gini.”

Bayu langsung menghentikan pemanasannya. Dia langsung mendekati tetangganya itu dengan antusias. “Bapak mau kasih tahu saya bagaimana membuat teh ini?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Iya, Bayu. Tapi kamu mesti temani saya minum teh dulu,” ucapnya.

“Wah, saya mau banget tuh, Pak. Siapa tahu saja saya bisa membuat teh seenak Bapak. Tapi, bisa tidak kalo ngetehnya nanti saja setelah saya lihat pembuatan tehnya, Pak?”

“Bukannya kamu sudah tidak ada waktu lagi, Bayu?” tanya lelaki tua itu memastikan.

Bayu diam sejenak. Matanya menatap ke jam tangan yang ada di tangan kanannya. Dia mulai bimbang. Hitung-hitungan waktu mulai dilakukannya. Dia tak mau sampai hati mengecewakan sang kekasih akibat telat janjian. Tapi, dia juga sangat ingin tahu pembuatan teh lelaki tua tetangganya itu.

“Waktunya lama tidak, Pak?” tanya Bayu memastikan.

“Tidak lama, kok. Hanya sepuluh menitan,” ucap lelaki tua itu dengan tenang.

Bayu kembali memandangi jam tangannya. Dia tampak menghitung waktu yang bisa dia gunakan untuk mendapatkan ilmu dadakan ini, di samping janjian dengan sang kekasih.

“Tampaknya cukup waktunya kalau cuma segitu sih, Pak. Ya sudah, ayo tunjukkan pada saya, Pak,” ucap Bayu yang mulai semangat dan menggebu-gebu.

Lelaki tua itu layangkan senyuman hangat, sehangat tehnya yang masih mengepulkan asap. Dia sangat senang, sebab Bayu mau dibujuknya. Dia bangkit lalu masuk ke dalam kediamannya, “Ayo, ikut saya ke dalam.”

Bayu pun mengikuti ajakan tetangganya untuk memasuki kediamannya yang tampak biasa-biasa saja. Tidak tampak kumuh ataupun mewah. Cukup untuk dihuni oleh lelaki tua itu menghabiskan sisa hidupnya. Belasan tahun menjadi tetangga lelaki tua itu, Bayu sama sekali belum memasuki tempat tinggalnya. Minum teh pun hanya dilakukan di halamannya yang ditumbuhi banyak tanaman kumis kucing dan satu pohon mangga.

Hidung Bayu mulai mencium sesuatu yang aneh kala semakin masuk ke dalam. Dadanya semakin sesak akibat bau itu. Namun, dia tidak tahu apa itu.

“Ini bau apa ya, Pak?” tanya Bayu sambil menutup hidungnya.

Lelaki tua itu tak menyahut.

Keduanya kini telah sampai di sebuah gudang belakang. Belum juga satu menit di situ, Bayu sudah mulai mual-mual dan pusing tatkala menatap kepala-kepala manusia yang disusun di sebuah meja di pojok gudang. Mimik wajahnya menandakan bahwa kepala-kepala itu telah mengalami sesuatu yang menyakitkan sebelumnya. Sesuatu yang membuat nyawa-nyawa itu melayang. Bayu mengenali kepala-kepala itu yang tidak lain adalah tetangga-tetangganya yang hilang tanpa jejak.

Yang paling mengejutkan Bayu adalah, dia melihat kepala ayah dan ibunya dalam susunan kepala-kepala itu. Hatinya menjadi pilu menyaksikan pemandangan itu. Dadanya semakin sesak, bagai dihantam oleh sebuah batu. Hanya tanda tanya yang kini memenuhi benaknya.

“Ini bau mayat yang diawetkan,” jawab lelaki tua itu pelan, memecah keheningan.

“Apa maksudnya ini, Pak?” tanya Bayu panik. Kepalanya semakin pusing menyaksikan potongan kepala ayah dan ibunya.

“Saya menyuling kepala-kepala itu dengan bahan-bahan biologis. Lihat, yang di samping meja itulah alat penyulingnya,” tuding lelaki tua itu.

Bayu menatap alat itu dengan pandangan memilukan. Alat itu layaknya sebuah alat penggilingan padi. Ada sebuah tabung kaca di atasnya. Bayu bisa melihat di tabung itu juga ada kepala manusia yang dicelupkan. Dia pun semakin mual dibuatnya.

“Lalu,” lanjut lelaki tua itu, “hasil sulingannya di-mix dengan daun teh asli dan melati untuk dijadikan minuman teh yang katamu itu enak. Dalam kepala manusia mengandung otak, mata, hidung, telinga, dan lain-lain. Jika semua itu dicelupkan sekaligus ke dalam cuka dan disuling dengan alat selama 24 jam, itu akan menghasilkan wangi yang khas. Kemudian di-mix dengan daun teh dan melati, maka semua itu akan menjadi teh yang nikmat. Dengan kata lain, kepala-kepala itulah untuk bahan baku tehnya,” jelas lelaki tua itu.

Bayu tak bisa lagi menahan mualnya. Dia langsung muntah seketika. Sisa makanan yang dimakan tadi malam membuncah semua ke lantai. Menimbulkan bau busuk pekat. Pemuda itu tak bisa membayangkan kalau selama ini dia telah meminum minuman hasil sulingan mayat.

Dia ingin sekali meninggalkan tempat itu akibat tak tahan lagi dengan baunya. Apalagi, dia juga tak tega melihat potongan kepala ayah dan ibunya. Dia ingin sekali memekik dan menanyakan, ada apa semuanya ini? Apalagi dengan kelakuan aneh tetangganya itu. Namun, tubuhnya melemas dan kaku. Seolah ada lem yang sangat lengket menahannya supaya tak bisa ke mana-mana lagi.

“Kamu tahu dengan kelakuanmu yang telah membuat saya sakit hati?” tanya lelaki tua itu sinis. Pesona kehangatan sikapnya menjadi hilang, digantikan oleh sikap dingin dan tampak menakutkan.

“Apa yang telah saya lakukan, Pak?” tanya Bayu tak memahami maksud ucapan tetangganya itu. Dia mengelap bekas muntahan di mulutnya dengan punggung tangan. Napasnya kembang kempis akibat muntah. Peluh pun mulai membasahi kostum basketnya akibat pengap.

“Kamu tadi menolak ajakan saya untuk minum teh. Kamu tahu, saya paling benci yang namanya penolakan. Bagi saya, penolakan itu adalah sebuah penghinaan. Dan itu sangat menyakitkan.”

“Ta-tapi saya sama sekali tidak ada maksud buat menghina Anda, Pak,” sahut Bayu cepat. Dia mulai ketakutan dengan tetangganya itu. Dia juga ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang memualkan ini. Namun, bagai ada kekuatan yang menahannya. Hal ini diakibatkan dia melihat potongan kepala ayah dan ibunya, Bayu menjadi tak kuasa melangkah. Semua kenangan-kenangan sejak dia masih kecil hingga kini, melintas di otak. Tubuhnya pun melemas. Tak kuasa menahan beban kepiluan.

Lelaki tua itu sunggingkan senyum sinis. “Bagi saya, itu sama saja. Pemilik kepala-kepala itu juga sebelumnya melakukan penolakan kepada saya. Ayah dan ibumu juga melakukan hal yang sama. Kini, kamu juga ikut-ikutan. Akan kubuat kamu menyusul ayah dan ibumu. Kepalamu akan saya jadikan sebagai bahan baku teh,” ucap lelaki tua itu.

Tanpa diduga, lelaki tua itu sudah menggenggam sebuah kapak. Dia mengayunkannya dengan cepat ke kepala Bayu. Meskipun sudah tua, dia masih mampu mengayunkan kapak itu.

image

Bayu mengelak dengan cepat. Dia menggulingkan tubuhnya ke samping supaya ayunan kapak itu tidak mengenai tubuhnya. Kekuatannya seolah bangkit ketika nyawanya dalam bahaya.

Tebasan kapak mengenai lantai tanah. Telat sedikit saja, kepala Bayu akan putus.

Pemuda itu kini mesti cepat ambil tindakan. Bayu pun langsung hengkang meninggalkan tempat itu. Keinginannya untuk tetap hidup sangat kuat. Dia tak ingin mati konyol di tangan psikopat gila yang sudah tua.

Tiba di halaman kediaman lelaki tua, Bayu menoleh sesaat ke pintu depan. Lelaki tua tetangganya hanya diam saja di ambang pintu sambil tetap memegang kapak. Bayu pun menghentikan langkahnya.

“Anda sudah gila, Pak!” pekik Bayu, “apa yang ada di benak Anda?! Kenapa ... kenapa Anda bisa tega membunuh begitu?!”

Mimik wajah lelaki tua itu tampak biasa saja. Tidak menampakkan kegelisahan dan ketakutan jika Bayu meminta bantuan untuk menangkapnya. Tetap tenang. Bahkan dia tidak takut jika Bayu menghilang. 

“Saya hanya ingin diakui. Saya tidak mau siapapun yang menolak keinginan saya. Hanya itu,” jawab lelaki tua itu tenang.
 
“Lantas kenapa Anda mesti membunuh begitu?!” pekik Bayu lagi.

Ting ... ting ...ting ...!

Belum sempat Bayu mendapatkan jawaban, telinganya menangkap bunyi ponselnya di saku celana. Dengan sigap dia mengambil benda itu.

Tampaknya, kekasihnya yang menelepon. Dia pun langsung mengangkatnya.

“Halo, Sayang. Maaf aku agak telat. Soalnya ....”

Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, sebuah kapak melayang dan menancap tepat di dahinya. Bayu pun langsung tumbang ke tanah dan tewas seketika. Ponselnya pun lepas.

“Halo! Halo! Bayu! Kamu kenapa?” pekik sang wanita di telepon.

Tit!

Sambungan telepon diputus oleh sang tetangga Bayu yang mendekat. Dialah yang melayangkan kapak itu dengan memanfaatkan kelengahan Bayu.

“Kamu lengah, Bayu. Mestinya dalam keadaan begitu, pandangan matamu tetap kepada saya, bukan ke yang lain. Walau saya sudah tua, saya masih sanggup membunuh dengan kapak.”

Lelaki tua itu mencabut kapaknya yang menancap di kepala Bayu. Kemudian, dia jongkok. “Saya katakan lagi. Saya ini benci ditolak. Bahkan kamu sudah menolak saya dua kali. Menolak untuk ikut minum teh dan menolak untuk menjadikan kepalamu sebagai bahan baku teh. Mau tak mau, kamu mesti menjadi teh nikmat untuk menemaniku tiap pagi, Bayu. Dan juga ayah ibumu.”

Dia menatap sekeliling untuk memastikan keadaan. Kemudian, dia membawa mayat Bayu masuk ke dalam kediamannya.


-tamat-


image


Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.