image

Tulisan ini telah mengalami banyak editan, yakni pada bagian pembukaan, tengah, dan penutup. Awalnya masih dalam bentuk flash fiction, hingga menjadi panjang. Tulisan ini sempat diposting di salah satu komunitas Facebook ketika masih dalam bentuk flash fiction. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Lisa melangkah pelan menuju kosannya. Senyumnya selalu mengembang di wajahnya. Gadis itu tengah bahagia. Sebuah kebahagiaan yang tiada duanya, dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lima jam yang lalu, tepatnya ketika pulang kuliah, usahanya selama ini membuahkan hasil. Dia tak bisa membayangkan hal itu. Mungkin, ini adalah keajaiban baginya.

Lisa melonjak kaget saat membuka pintu kosannya. Di situ ada wanita yang tengah duduk menatapnya tajam. Lisa langsung membelalakkan matanya.

“Ka ... kamu ... kenapa bisa ada di sini?” tanyanya kaget.

Belum sempat menjawab, wanita itu langsung membekap mulut Lisa dengan sapu tangan. Lisa pun menggelinjang-gelinjang supaya bekapan itu lepas. Namun, tenaganya kalah kuat dengan wanita yang membekap itu.

“Hhhmmmfh!!!” pekik Lisa.

Tubuh Lisa mulai melemas akibat kehabisan napas. Meskipun begitu, matanya melihat kilatan cahaya pisau di depannya. Dia pun semakin membelalakkan mata.

Jleb!

Ujung pisau menancap di dada Lisa, tembus hingga ke jantung. Lisa memekik kesakitan dalam keadaan mulut masih dibekap. Kemudian, gadis itu pun jatuh lunglai, dengan nyawa yang sudah melayang.

Wanita yang menusuk dan membekap Lisa itu menatap sinis mayat Lisa. Lalu, dia pun meninggalkan kosan Lisa dan menghilang.

***

Malam nan dingin mulai menyelimuti bumi. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Hilman melangkah cepat di jalanan yang sudah sepi. Tak ada lagi aktivitas manusia di situ. Semua toko sudah tutup. Sesekali mobil melintas di jalanan itu.

Mahasiswa akuntansi itu pulang kemalaman sebab sibuk dan fokus menyelesaikan tugas kuliah. Sialnya, tugas itu mesti sudah ada di tangan dosen besoknya. Jadi, selesai jam kuliah tadi siang, Hilman langsung menyelesaikan tugas di kampus, tanpa ada satu pun yang menemani. Hal itu sengaja dia lakukan supaya tidak ada yang mengganggu. Di samping itu, dia juga bisa mendapatkan bahan-bahan untuk tugas dengan mudah jika di kampus.

Dia sudah sangat kelelahan. Tas yang dipikulnya bagaikan batu. Untuk melangkah saja dia agak sempoyongan, bagai sedang mabuk. Namun, dia masih bisa menguasai tubuhnya. Hilman sangat ingin menempelkan kepalanya di bantal, lalu dibuai dalam mimpi. Tak peduli dia belum makan.

Meskipun kelelahan, dia tak lupa pada sang kekasih yang telah menunggunya. Dia yakin, kekasihnya itu pasti sangat kangen kepadanya. Hal itu maklum saja, sebab Hilman dan kekasihnya belum lama menjalin tali kasih. Dan selama menyelesaikan tugas di kuliah, dia memang tidak menghubungi kekasihnya itu.

Dia menekan tombol di ponselnya sambil tetap melangkah. Kemudian, ponselnya ditempelkan ke telinganya.

Tuuut ... tuuut ... tuuut.

“Aneh, kenapa tidak diangkat-angkat?” gumamnya.

Dia mencoba menghubungi kekasihnya sekali lagi. Namun tetap saja, panggilannya tidak dijawab oleh sang kekasih.

“Mungkin dia sudah lelap dibuai mimpi,” sangkanya.

Dia pun memutuskan untuk pulang saja. Dia bisa menanyakan tentang kekasihnya itu besok pagi. Hilman tak mau mengganggunya.

Di kejauhan, dia melihat sesosok gadis yang duduk di depan sebuah toko yang menutup. Kepalanya menunduk. Dia mengenakan jaket yang tudungnya digunakan untuk menutupi kepalanya dan celana jeans panjang. Hilman tak mau ambil pusing. Dia menduga jika gadis itu hanya gelandangan saja.

Begitu melewati gadis yang tengah membenamkan wajahnya ke lutut itu, Hilman menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan untuk mencoba melihat gadis itu dengan sesaat, sebab pakaian yang dikenakan sang gadis tampak tidak asing baginya. Dan, ketika didekati, telinga Hilman menangkap ada bunyi tangisan di gadis itu.

Dia mulai kebingungan, tak tahu apakah mesti menyapa gadis itu dan menanyakan penyebab tangisannya, ataukah mesti melanjutkan untuk pulang. Dia juga takut jika sudah lancang kepada gadis itu.

image

Tanpa diduga, gadis itu menengadahkan kepalanya dan menatap Hilman dengan mata yang sembab dan pipi basah akibat menangis. Dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangan.

“A-ada apa, Mas?” tanya gadis itu dengan nada pilu.

Hilman menatap lekat-lekat gadis itu, “Loh, Vani?”

Gadis itu melonjak kaget ketika namanya disebut. Dia pun memicingkan matanya. “Hilman?”

“Ngapain kamu malam-malam gini ada di sini? Lalu kenapa kamu menangis?” tanya Hilman sambil jongkok di depan gadis yang tak lain adalah teman kampusnya.

Gadis yang disapa Vani itu menatap kosong ke wajah Hilman agak lama. “Kamu juga kenapa malam-malam gini kelayapan?” tanyanya sendu.

“Oh, aku tadi sibuk nyelesain tugas, Van. Kamu sih sudah selesai belum tugasnya?” tanya Hilman mencoba basa-basi.

Vani hanya mengangguk pelan.

“Kamu kenapa ada di sini malam-malam dan menangis, Vani?” tanya Hilman lagi.

Vani diam agak lama. Dia agak bingung juga menjawabnya. Tak tahu, jawaban apa yang pantas dia ucapkan, mengingat dia juga sedang ada di tepi jalan dan menangis.

“A ... aku ....”

“Iya, kamu kenapa?” desak Hilman.

“Aku sedih, Man,” ucap Vani pelan sambil menunduk. Tudung jaketnya menutupi pandangannya.

Hilman menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mendesah panjang, lalu mendekati Vani masih sambil jongkok dengan kedua lutut menyentuh tanah. Diintipnya sedikit wajah Vani yang menunduk itu supaya dia bisa menatap gadis itu.

“Aku tahu kamu sedang sedih, Van. Makanya kamu menangis. Tapi, penyebabnya tuh apa?”

Vani kembali mengusap matanya. “Pasti kamu tahu penyebabnya, Man.”

Hilman kembali mendesah panjang sambil bangkit. “Ya ampun, Vani. Aku sangka kamu sudah melupakan kejadian itu.”

“Memang belum,” potong Vani cepat.

Hilman kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. “Vani, Vani, Vani. Bukankah masalah kita sudah selesai? Aku kini bukan siapa-siapa lagi bagimu. Kamu ini sudah menjadi mantan kekasihku. Kenapa kamu menganggap seolah kalau kita ini masih ada hubungan?”

“Asal kamu tahu saja, batinku mengatakan kalau kamu sudah tidak adil kepadaku,” sahut Vani pelan masih sambil menunduk.

“Tidak adil apa? Kalau mau keadilan, tuntut aja ke MK!” sela Hilman cepat dan mata melotot. Emosinya mulai bangkit tiba-tiba.

Vani tetap diam dalam duduknya sambil menunduk. Sama sekali tidak menoleh ketika dibentak oleh Hilman. Baginya, dia sudah biasa dibentak-bentak oleh Hilman ketika masih menjadi kekasihnya. Jadi, hal itu sudah tidak aneh.

“Aku masih enggak ikhlas dengan ketidakadilan ini. Kenapa kamu lebih memilih wanita selingkuhanmu itu ketimbang aku? Tak bisakah kamu memahami hatiku?” ucap Vani.

Hilman menggeleng-geleng saja, “Vani, aku sudah malas membahas ini lagi!”

“Jelas saja kamu tidak mau membahas ini lagi, sebab kamu sudah bahagia dengan selingkuhanmu itu,” ucap Vani dengan nada yang tenang.

Hilman semakin dibuat kesal oleh Vani. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Dia sangat benci jika masa lalunya diungkit-ungkit, apalagi tentang kisah cintanya. Dia memang tipe yang mudah melupakan masa lalu. Hilman ingin sekali melampiaskan emosinya, namun dia masih bisa menahannya. Dia tak ingin lagi ada masalah dengan Vani.

“Aku sudah jadian dengan wanita yang kamu sebut selingkuhan itu tadi siang. Mengingat statusmu kini adalah mantanku, jadi dia bukan selingkuhan lagi. Dia sudah menjadi kekasihku. Jadi, lupakanlah masa lalu kita,” ucap Hilman dengan nada pelan.

“Aku tahu,” sahut Vani cepat.

Hilman menghela napas panjang. “Bagus, kalau kamu sudah tahu. Lebih baik kamu cepat pulang dan dinginkan kepalamu,” ucapnya sambil membalikkan badan hendak meninggalkan Vani. “Sampai jumpa lagi di kampus nanti pagi,” imbuhnya.

Hilman melenggang pelan meninggalkan Vani. Dia tidak ingin ada masalah lagi dengan mantan kekasihnya itu. Lebih jauh lebih baik. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Vani, meskipun Hilman dan Vani adalah satu fakultas.

“Lisa sudah tak ada nyawanya lagi,” ucap Vani sambil bangkit menatap punggung Hilman.

Hilman menghentikan langkahnya. Matanya menyipit. Dia membalikkan badan dan menatap Vani dengan tatapan ganjil.

“Apa maksud kamu, Van?” tanya Hilman.

Vani layangkan senyuman sinis. Gelagat gadis itu mulai beda dengan sebelumnya. Tangisan wajahnya sudah dihapus. Matanya tajam menatap Hilman yang belum paham maksud Vani. Tatapannya bagaikan iblis yang siap mengeksekusi tumbalnya. Pesona feminimnya hilang sudah.

Gadis itu mendekati Hilman dengan pelan.

“Ketidakadilan ini mesti diselesaikan,” ucap Vani.

“Apa lagi yang mesti diselesaikan, Vani? Ketidakadilan yang mana? Lagipula, apa maksud ucapanmu tadi?” tanya Hilman dengan tatapan ganjil.

Vani kembali layangkan senyuman sinis, “Makanya, aku ingin menyelesaikan semuanya.”

“Apanya?” tanya Hilman dengan nada yang ditinggikan dan agak kesal.

Tangan Vani mengambil sebilah pisau yang disembunyikan di balik punggungnya. Lalu, dia semakin mendekati Hilman. Tentu saja hal itu membuat Hilman melonjak kaget.

“Vani, i ... itu pisau, kan? A ... apa yang akan kamu lakukan? Ka ... kamu gak gila, kan?” tanya Hilman panik dengan pandangan fokus ke pisau dalam genggaman Vani.

“Ini hadiahku untukmu, Sang Mantan!” bentak Vani tiba-tiba sambil mengayunkan tangannya dengan cepat.
Hilman mengelak ke samping. Akibatnya, pisau mengenai pinggang kanannya. Dia pun jatuh ke aspal jalanan.

“Aaakh!” pekik Hilman kesakitan.

Muncul luka sayatan di pinggang kanan Hilman hingga mengoyak kaos yang dikenakannya. Lukanya hanya sepanjang 3 inchi, namun cukup dalam.

Vani menatap Hilman dengan tatapan mata penuh dendam. Dia sudah bukan Vani yang Hilman kenal. Dia sudah kesetanan, yang dibalut dengan api dendam.

“Sakitmu itu belum sebanding dengan sakit yang sudah kualami, Sang Mantan!” ucap Vani sinis, sambil menghunus pisaunya.

“Van, kamu jangan gila! Ini kayak bukan kamu!” pekik Hilman dengan kedua tangan menekan luka di pinggang. Dia mencoba bangkit kembali.

“Kamu yang membuatku jadi begini!” bentak gadis itu. Dia kembali mengayunkan pisaunya.

Jleb!

Pisau langsung menancap di dada Hilman. Pemuda itu tak sempat mengelak. Sakit yang amat sangat mulai melanda. Dia langsung jatuh ke tanah. Detak jantungnya mulai melambat. Pandangannya pun mulai tidak jelas.

Kematian Hilman mulai di ujung tanduk. Meskipun begitu, telinganya masih bisa menangkap ucapan Vani yang tampak senang melihatnya.

“Selamat jalan, Mantanku. Semoga kamu bahagia dengan Lisa, kekasihmu di alam sana. Sebab, dia sudah kubunuh duluan tadi siang dengan pisau ini. Dan kamu tahu, aku sangat menikmat ketika mencabut nyawanya. Awalnya aku menyesal telah membunuhnya, makanya aku tadi menangis di sini sejak siang. Tapi, begitu melihat wajah dan kesombonganmu, nafsu membunuhku mulai bangkit. Dan mangsaku selanjutnya adalah kamu. Kini tak lama lagi kamu akan menyusul kekasihmu.”

Hilman tak mampu membalas ucapan gadis itu. Matanya mulai memejam. Kegelapan yang mencekam kini menyapanya, melenyapkan semua impiannya di dunia yang belum dicapai.

Vani menatap sinis tubuh Hilman yang sudah tak ada lagi nyawanya. Dia menatap sekeliling, memastikan kalau tak ada yang melihat aksinya. Lalu, dia meninggalkan tempat itu, menyatu dengan kegelapan malam.


-tamat-


image
 

Sang Mantan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan ini telah mengalami banyak editan, yakni pada bagian pembukaan, tengah, dan penutup. Awalnya masih dalam bentuk flash fiction, hingga menjadi panjang. Tulisan ini sempat diposting di salah satu komunitas Facebook ketika masih dalam bentuk flash fiction. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Lisa melangkah pelan menuju kosannya. Senyumnya selalu mengembang di wajahnya. Gadis itu tengah bahagia. Sebuah kebahagiaan yang tiada duanya, dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lima jam yang lalu, tepatnya ketika pulang kuliah, usahanya selama ini membuahkan hasil. Dia tak bisa membayangkan hal itu. Mungkin, ini adalah keajaiban baginya.

Lisa melonjak kaget saat membuka pintu kosannya. Di situ ada wanita yang tengah duduk menatapnya tajam. Lisa langsung membelalakkan matanya.

“Ka ... kamu ... kenapa bisa ada di sini?” tanyanya kaget.

Belum sempat menjawab, wanita itu langsung membekap mulut Lisa dengan sapu tangan. Lisa pun menggelinjang-gelinjang supaya bekapan itu lepas. Namun, tenaganya kalah kuat dengan wanita yang membekap itu.

“Hhhmmmfh!!!” pekik Lisa.

Tubuh Lisa mulai melemas akibat kehabisan napas. Meskipun begitu, matanya melihat kilatan cahaya pisau di depannya. Dia pun semakin membelalakkan mata.

Jleb!

Ujung pisau menancap di dada Lisa, tembus hingga ke jantung. Lisa memekik kesakitan dalam keadaan mulut masih dibekap. Kemudian, gadis itu pun jatuh lunglai, dengan nyawa yang sudah melayang.

Wanita yang menusuk dan membekap Lisa itu menatap sinis mayat Lisa. Lalu, dia pun meninggalkan kosan Lisa dan menghilang.

***

Malam nan dingin mulai menyelimuti bumi. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Hilman melangkah cepat di jalanan yang sudah sepi. Tak ada lagi aktivitas manusia di situ. Semua toko sudah tutup. Sesekali mobil melintas di jalanan itu.

Mahasiswa akuntansi itu pulang kemalaman sebab sibuk dan fokus menyelesaikan tugas kuliah. Sialnya, tugas itu mesti sudah ada di tangan dosen besoknya. Jadi, selesai jam kuliah tadi siang, Hilman langsung menyelesaikan tugas di kampus, tanpa ada satu pun yang menemani. Hal itu sengaja dia lakukan supaya tidak ada yang mengganggu. Di samping itu, dia juga bisa mendapatkan bahan-bahan untuk tugas dengan mudah jika di kampus.

Dia sudah sangat kelelahan. Tas yang dipikulnya bagaikan batu. Untuk melangkah saja dia agak sempoyongan, bagai sedang mabuk. Namun, dia masih bisa menguasai tubuhnya. Hilman sangat ingin menempelkan kepalanya di bantal, lalu dibuai dalam mimpi. Tak peduli dia belum makan.

Meskipun kelelahan, dia tak lupa pada sang kekasih yang telah menunggunya. Dia yakin, kekasihnya itu pasti sangat kangen kepadanya. Hal itu maklum saja, sebab Hilman dan kekasihnya belum lama menjalin tali kasih. Dan selama menyelesaikan tugas di kuliah, dia memang tidak menghubungi kekasihnya itu.

Dia menekan tombol di ponselnya sambil tetap melangkah. Kemudian, ponselnya ditempelkan ke telinganya.

Tuuut ... tuuut ... tuuut.

“Aneh, kenapa tidak diangkat-angkat?” gumamnya.

Dia mencoba menghubungi kekasihnya sekali lagi. Namun tetap saja, panggilannya tidak dijawab oleh sang kekasih.

“Mungkin dia sudah lelap dibuai mimpi,” sangkanya.

Dia pun memutuskan untuk pulang saja. Dia bisa menanyakan tentang kekasihnya itu besok pagi. Hilman tak mau mengganggunya.

Di kejauhan, dia melihat sesosok gadis yang duduk di depan sebuah toko yang menutup. Kepalanya menunduk. Dia mengenakan jaket yang tudungnya digunakan untuk menutupi kepalanya dan celana jeans panjang. Hilman tak mau ambil pusing. Dia menduga jika gadis itu hanya gelandangan saja.

Begitu melewati gadis yang tengah membenamkan wajahnya ke lutut itu, Hilman menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan untuk mencoba melihat gadis itu dengan sesaat, sebab pakaian yang dikenakan sang gadis tampak tidak asing baginya. Dan, ketika didekati, telinga Hilman menangkap ada bunyi tangisan di gadis itu.

Dia mulai kebingungan, tak tahu apakah mesti menyapa gadis itu dan menanyakan penyebab tangisannya, ataukah mesti melanjutkan untuk pulang. Dia juga takut jika sudah lancang kepada gadis itu.

image

Tanpa diduga, gadis itu menengadahkan kepalanya dan menatap Hilman dengan mata yang sembab dan pipi basah akibat menangis. Dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangan.

“A-ada apa, Mas?” tanya gadis itu dengan nada pilu.

Hilman menatap lekat-lekat gadis itu, “Loh, Vani?”

Gadis itu melonjak kaget ketika namanya disebut. Dia pun memicingkan matanya. “Hilman?”

“Ngapain kamu malam-malam gini ada di sini? Lalu kenapa kamu menangis?” tanya Hilman sambil jongkok di depan gadis yang tak lain adalah teman kampusnya.

Gadis yang disapa Vani itu menatap kosong ke wajah Hilman agak lama. “Kamu juga kenapa malam-malam gini kelayapan?” tanyanya sendu.

“Oh, aku tadi sibuk nyelesain tugas, Van. Kamu sih sudah selesai belum tugasnya?” tanya Hilman mencoba basa-basi.

Vani hanya mengangguk pelan.

“Kamu kenapa ada di sini malam-malam dan menangis, Vani?” tanya Hilman lagi.

Vani diam agak lama. Dia agak bingung juga menjawabnya. Tak tahu, jawaban apa yang pantas dia ucapkan, mengingat dia juga sedang ada di tepi jalan dan menangis.

“A ... aku ....”

“Iya, kamu kenapa?” desak Hilman.

“Aku sedih, Man,” ucap Vani pelan sambil menunduk. Tudung jaketnya menutupi pandangannya.

Hilman menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mendesah panjang, lalu mendekati Vani masih sambil jongkok dengan kedua lutut menyentuh tanah. Diintipnya sedikit wajah Vani yang menunduk itu supaya dia bisa menatap gadis itu.

“Aku tahu kamu sedang sedih, Van. Makanya kamu menangis. Tapi, penyebabnya tuh apa?”

Vani kembali mengusap matanya. “Pasti kamu tahu penyebabnya, Man.”

Hilman kembali mendesah panjang sambil bangkit. “Ya ampun, Vani. Aku sangka kamu sudah melupakan kejadian itu.”

“Memang belum,” potong Vani cepat.

Hilman kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. “Vani, Vani, Vani. Bukankah masalah kita sudah selesai? Aku kini bukan siapa-siapa lagi bagimu. Kamu ini sudah menjadi mantan kekasihku. Kenapa kamu menganggap seolah kalau kita ini masih ada hubungan?”

“Asal kamu tahu saja, batinku mengatakan kalau kamu sudah tidak adil kepadaku,” sahut Vani pelan masih sambil menunduk.

“Tidak adil apa? Kalau mau keadilan, tuntut aja ke MK!” sela Hilman cepat dan mata melotot. Emosinya mulai bangkit tiba-tiba.

Vani tetap diam dalam duduknya sambil menunduk. Sama sekali tidak menoleh ketika dibentak oleh Hilman. Baginya, dia sudah biasa dibentak-bentak oleh Hilman ketika masih menjadi kekasihnya. Jadi, hal itu sudah tidak aneh.

“Aku masih enggak ikhlas dengan ketidakadilan ini. Kenapa kamu lebih memilih wanita selingkuhanmu itu ketimbang aku? Tak bisakah kamu memahami hatiku?” ucap Vani.

Hilman menggeleng-geleng saja, “Vani, aku sudah malas membahas ini lagi!”

“Jelas saja kamu tidak mau membahas ini lagi, sebab kamu sudah bahagia dengan selingkuhanmu itu,” ucap Vani dengan nada yang tenang.

Hilman semakin dibuat kesal oleh Vani. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Dia sangat benci jika masa lalunya diungkit-ungkit, apalagi tentang kisah cintanya. Dia memang tipe yang mudah melupakan masa lalu. Hilman ingin sekali melampiaskan emosinya, namun dia masih bisa menahannya. Dia tak ingin lagi ada masalah dengan Vani.

“Aku sudah jadian dengan wanita yang kamu sebut selingkuhan itu tadi siang. Mengingat statusmu kini adalah mantanku, jadi dia bukan selingkuhan lagi. Dia sudah menjadi kekasihku. Jadi, lupakanlah masa lalu kita,” ucap Hilman dengan nada pelan.

“Aku tahu,” sahut Vani cepat.

Hilman menghela napas panjang. “Bagus, kalau kamu sudah tahu. Lebih baik kamu cepat pulang dan dinginkan kepalamu,” ucapnya sambil membalikkan badan hendak meninggalkan Vani. “Sampai jumpa lagi di kampus nanti pagi,” imbuhnya.

Hilman melenggang pelan meninggalkan Vani. Dia tidak ingin ada masalah lagi dengan mantan kekasihnya itu. Lebih jauh lebih baik. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Vani, meskipun Hilman dan Vani adalah satu fakultas.

“Lisa sudah tak ada nyawanya lagi,” ucap Vani sambil bangkit menatap punggung Hilman.

Hilman menghentikan langkahnya. Matanya menyipit. Dia membalikkan badan dan menatap Vani dengan tatapan ganjil.

“Apa maksud kamu, Van?” tanya Hilman.

Vani layangkan senyuman sinis. Gelagat gadis itu mulai beda dengan sebelumnya. Tangisan wajahnya sudah dihapus. Matanya tajam menatap Hilman yang belum paham maksud Vani. Tatapannya bagaikan iblis yang siap mengeksekusi tumbalnya. Pesona feminimnya hilang sudah.

Gadis itu mendekati Hilman dengan pelan.

“Ketidakadilan ini mesti diselesaikan,” ucap Vani.

“Apa lagi yang mesti diselesaikan, Vani? Ketidakadilan yang mana? Lagipula, apa maksud ucapanmu tadi?” tanya Hilman dengan tatapan ganjil.

Vani kembali layangkan senyuman sinis, “Makanya, aku ingin menyelesaikan semuanya.”

“Apanya?” tanya Hilman dengan nada yang ditinggikan dan agak kesal.

Tangan Vani mengambil sebilah pisau yang disembunyikan di balik punggungnya. Lalu, dia semakin mendekati Hilman. Tentu saja hal itu membuat Hilman melonjak kaget.

“Vani, i ... itu pisau, kan? A ... apa yang akan kamu lakukan? Ka ... kamu gak gila, kan?” tanya Hilman panik dengan pandangan fokus ke pisau dalam genggaman Vani.

“Ini hadiahku untukmu, Sang Mantan!” bentak Vani tiba-tiba sambil mengayunkan tangannya dengan cepat.
Hilman mengelak ke samping. Akibatnya, pisau mengenai pinggang kanannya. Dia pun jatuh ke aspal jalanan.

“Aaakh!” pekik Hilman kesakitan.

Muncul luka sayatan di pinggang kanan Hilman hingga mengoyak kaos yang dikenakannya. Lukanya hanya sepanjang 3 inchi, namun cukup dalam.

Vani menatap Hilman dengan tatapan mata penuh dendam. Dia sudah bukan Vani yang Hilman kenal. Dia sudah kesetanan, yang dibalut dengan api dendam.

“Sakitmu itu belum sebanding dengan sakit yang sudah kualami, Sang Mantan!” ucap Vani sinis, sambil menghunus pisaunya.

“Van, kamu jangan gila! Ini kayak bukan kamu!” pekik Hilman dengan kedua tangan menekan luka di pinggang. Dia mencoba bangkit kembali.

“Kamu yang membuatku jadi begini!” bentak gadis itu. Dia kembali mengayunkan pisaunya.

Jleb!

Pisau langsung menancap di dada Hilman. Pemuda itu tak sempat mengelak. Sakit yang amat sangat mulai melanda. Dia langsung jatuh ke tanah. Detak jantungnya mulai melambat. Pandangannya pun mulai tidak jelas.

Kematian Hilman mulai di ujung tanduk. Meskipun begitu, telinganya masih bisa menangkap ucapan Vani yang tampak senang melihatnya.

“Selamat jalan, Mantanku. Semoga kamu bahagia dengan Lisa, kekasihmu di alam sana. Sebab, dia sudah kubunuh duluan tadi siang dengan pisau ini. Dan kamu tahu, aku sangat menikmat ketika mencabut nyawanya. Awalnya aku menyesal telah membunuhnya, makanya aku tadi menangis di sini sejak siang. Tapi, begitu melihat wajah dan kesombonganmu, nafsu membunuhku mulai bangkit. Dan mangsaku selanjutnya adalah kamu. Kini tak lama lagi kamu akan menyusul kekasihmu.”

Hilman tak mampu membalas ucapan gadis itu. Matanya mulai memejam. Kegelapan yang mencekam kini menyapanya, melenyapkan semua impiannya di dunia yang belum dicapai.

Vani menatap sinis tubuh Hilman yang sudah tak ada lagi nyawanya. Dia menatap sekeliling, memastikan kalau tak ada yang melihat aksinya. Lalu, dia meninggalkan tempat itu, menyatu dengan kegelapan malam.


-tamat-


image
 
Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.