Image

Tulisan ini adalah tulisan lama yang sempat saya posting di salah satu komunitas Facebook. Niat hati hendak membuat kisah tentang hantu, malah begini yang ditulis. Ah, tak apa-apa. Yang penting menulis. Tulisan ini sama sekali belum diedit, jadi masih sama dengan awal saya posting. Silakan dibaca dan tinggalkan komen.


==========
”Mbah, aku pengen pelet pemikat cinta,” pintaku sambil senyum malu-malu.

Di depanku, duduk lelaki tua yang lebat jenggotnya. Dia ketawa, ”Hahaha, kamu datang di saat yang tepat, Anak Muda,” katanya.

Tangan dukun tua yang dihiasi oleh gelang dan cincin aneh itu tampak menggenggam sesuatu. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Setelah selesai, genggaman tangannya dibuka.

”Ini pelet lipstik pemikat cinta. Oleskan lipstik ini di mulutmu ketika kamu mau menyatakan cinta. Dijamin, cewek-cewek bakal klepek-klepek. Hahaha!”

”Apa? Lipstik, Mbah?” tanyaku kaget.

Agak aneh juga aku mendapatkan pelet jimat lipstik. Padahal, aku menyangka akan mendapatkan pelet jimat semacam kalung, cincin, ataupun batu. Kenapa mesti lipstik? Apalagi lipstik yang kulihat ini kayak punya ibu.

”Kenapa? Tidak mau?” tanya dukun itu sambil melotot.

”I ... iya, Mbah. Aku mau,” jawabku cepat, takut dengan dukun itu. Jangan sampai aku dipelet olehnya.

Aku mendesah panjang saja. Yah, lipstik pun tidak apa-apa. Yang penting, aku bisa menembak cewek yang hatinya beku itu, Sinta.

***

Hati ini deg-degan ketika melihat Sinta sedang asyik makan bakso di kantin sekolah. Aku mengambil pelet lipstik di saku. Kupandangi agak lama benda itu. Lalu, kuoleskan di mulut. Ah, lagakku bak wanita sedang dandan saja.

Dengan agak malu-malu, kudekati gadis manis itu. Dia sama sekali belum tahu kedatanganku.

”Sin, aku mau ngomong,” ucapku agak malu-malu.

Sinta menatapku sambil mulutnya masih mengunyah bakso. Selang sedetik melihatku, dia langsung membelalakkan matanya dengan mulut menganga. Di dalam mulutnya tampak bakso yang sudah lumat kena kunyahan.

”Sinta, a ... aku suka sama kamu,” ucapku malu-malu yang tidak mempedulikan kekagetan Sinta. Tidak lupa, kusunggingkan senyuman maut untuk menambah efek pelet ini.

Agak lama Sinta melihatku. Lalu, dia ketawa lepas, ”Hahaha! Aldi, kamu ngapain pakai lipstik? Kaya cewek aja! Mau jadi banci, ya?”

Aku menatap aneh Sinta. Anak-anak lain yang ada di kantin menatapku semua. Kemudian, semuanya ketawa seolah mengejekku.

Aku hanya diam dan kaku tak bisa apa-apa lagi. Aku tak tahu kenapa bisa begini. Apakah, pelet ini belum cukup ampuh untuk menaklukkan hati Sinta?

Sinta mendekatiku sambil sunggingkan senyum manis, ”Kalau kamu suka sama aku, kamu mesti gentle dong. Jangan pakai lipstik,” ucapnya lalu melenggang meninggalkanku.

Aku langsung menghapus lipstik di mulut. Lalu hengkang menuju toilet sekolah.

Ah, sialan! Kini aku tahu kalau pelet dukun ini tidak ampuh. Pelet ini memang pelet kampungan. Pelet abal-abal. Aku sudah ditipu sama dukun tua bangka itu. Aku kapok main dukun-dukunan lagi.

-tamat-
image

Lipstik Pemikat Cinta


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image

Tulisan ini adalah tulisan lama yang sempat saya posting di salah satu komunitas Facebook. Niat hati hendak membuat kisah tentang hantu, malah begini yang ditulis. Ah, tak apa-apa. Yang penting menulis. Tulisan ini sama sekali belum diedit, jadi masih sama dengan awal saya posting. Silakan dibaca dan tinggalkan komen.


==========
”Mbah, aku pengen pelet pemikat cinta,” pintaku sambil senyum malu-malu.

Di depanku, duduk lelaki tua yang lebat jenggotnya. Dia ketawa, ”Hahaha, kamu datang di saat yang tepat, Anak Muda,” katanya.

Tangan dukun tua yang dihiasi oleh gelang dan cincin aneh itu tampak menggenggam sesuatu. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Setelah selesai, genggaman tangannya dibuka.

”Ini pelet lipstik pemikat cinta. Oleskan lipstik ini di mulutmu ketika kamu mau menyatakan cinta. Dijamin, cewek-cewek bakal klepek-klepek. Hahaha!”

”Apa? Lipstik, Mbah?” tanyaku kaget.

Agak aneh juga aku mendapatkan pelet jimat lipstik. Padahal, aku menyangka akan mendapatkan pelet jimat semacam kalung, cincin, ataupun batu. Kenapa mesti lipstik? Apalagi lipstik yang kulihat ini kayak punya ibu.

”Kenapa? Tidak mau?” tanya dukun itu sambil melotot.

”I ... iya, Mbah. Aku mau,” jawabku cepat, takut dengan dukun itu. Jangan sampai aku dipelet olehnya.

Aku mendesah panjang saja. Yah, lipstik pun tidak apa-apa. Yang penting, aku bisa menembak cewek yang hatinya beku itu, Sinta.

***

Hati ini deg-degan ketika melihat Sinta sedang asyik makan bakso di kantin sekolah. Aku mengambil pelet lipstik di saku. Kupandangi agak lama benda itu. Lalu, kuoleskan di mulut. Ah, lagakku bak wanita sedang dandan saja.

Dengan agak malu-malu, kudekati gadis manis itu. Dia sama sekali belum tahu kedatanganku.

”Sin, aku mau ngomong,” ucapku agak malu-malu.

Sinta menatapku sambil mulutnya masih mengunyah bakso. Selang sedetik melihatku, dia langsung membelalakkan matanya dengan mulut menganga. Di dalam mulutnya tampak bakso yang sudah lumat kena kunyahan.

”Sinta, a ... aku suka sama kamu,” ucapku malu-malu yang tidak mempedulikan kekagetan Sinta. Tidak lupa, kusunggingkan senyuman maut untuk menambah efek pelet ini.

Agak lama Sinta melihatku. Lalu, dia ketawa lepas, ”Hahaha! Aldi, kamu ngapain pakai lipstik? Kaya cewek aja! Mau jadi banci, ya?”

Aku menatap aneh Sinta. Anak-anak lain yang ada di kantin menatapku semua. Kemudian, semuanya ketawa seolah mengejekku.

Aku hanya diam dan kaku tak bisa apa-apa lagi. Aku tak tahu kenapa bisa begini. Apakah, pelet ini belum cukup ampuh untuk menaklukkan hati Sinta?

Sinta mendekatiku sambil sunggingkan senyum manis, ”Kalau kamu suka sama aku, kamu mesti gentle dong. Jangan pakai lipstik,” ucapnya lalu melenggang meninggalkanku.

Aku langsung menghapus lipstik di mulut. Lalu hengkang menuju toilet sekolah.

Ah, sialan! Kini aku tahu kalau pelet dukun ini tidak ampuh. Pelet ini memang pelet kampungan. Pelet abal-abal. Aku sudah ditipu sama dukun tua bangka itu. Aku kapok main dukun-dukunan lagi.

-tamat-
image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.