image

Tulisan satu ini saya tulis sesuai kegilaan saya. Awalnya sempat saya posting di Facebook, namun saya edit dan tambahkan sedikit. Awalnya juga kisah ini dipenuhi alfabet hina dina itu.  Selamat membaca dan tinggalkan komen. 


==========
Kucoba untuk menyelamatkanmu 
Datang lalu tinggalkan 
Tapi, apa kau tahu jika aku diikat 
Ya, aku melihatnya 
Itulah balas dendam 
Sensasinya, itu tak akan tenggelam 
Dengan sebuah lotus putih yang dibawa 
Tangisan mencabik amis yang tandus 
Cahaya, akan indah kelak esok 
Kau cukup mengasihiku 
Kucoba untuk melayang 
Itu sangatlah salah 
Selamat tinggal

***

Alunan lagu 'A White Lotus' yang entah siapa penyanyinya mengalun indah di telinga melalui ponsel. Itu adalah lagu backsound kala aku dan belahan jiwaku melakukan aksi. Lantunannya tentu menakutkan bagi siapa saja, namun tidak bagiku. Aku sangat menyukai lagu itu.

Tempat bawah tanah ini selalu pengap, agak gelap, lembab, dan bau amis. Lalat-lalat dan tikus kadang bolak-balik memenuhi tempat ini. Lantai tanah ini dipenuhi bekas jejak-jejak kakiku yang menyatu dengan bau amis kental.

Kini aku hanya bisa duduk di pojokkan, dengan baju lusuh, kumuh, muka kusam, napas sengal, dan lemas. Tubuh ceking ini tak mampu mewujudkan lagi impian pemiliknya. Sakit ini tak bisa ditahan lagi.

Kutatap kekasih yang selalu menemaniku ini. Tentu banyak hal yang sudah kami lakukan sama-sama. Dia sangat setia melebihi wanita yang mengabdi kepada suaminya, budak kepada tuannya, anjing kepada majikannya, bahkan bisa melebihi hamba kepada Tuhannya. Kesetiannya kepadaku sangat tiada duanya.

"Kekasihku," ucapku, "ingatkah kamu dengan aksi awal-awal kita? Tentunya hal itu tak akan kita lupakan. Kamu mengoyak dada ayahku yang pedofil dan selalu menyodomiku, kakakku yang sombong, dan ibu yang tak mempedulikanku. Bahkan kata wanita jalang itu aku lebih pantas mati sewaktu masih di kandungan. Dia tak menginginkanku di dunia ini. Tentu kamu senang kalau tubuh mulusmu dibasahi oleh lelehan kental dan bau amis manusia-manusia laknat itu. Tahukah kamu, kamu telah menyelamatkan hidupku. Aku menjadi jatuh cinta padamu."

Ingatan kelam belasan tahun yang lalu muncul kembali. Walau begitu, aku tetap senang sebab bisa memiliki sang kekasih sepenuhnya akibat hal itu. Dan di atas tempat inilah, kejadian menyenangkan itu dilakukan. Aksi kami pun dilanjutkan kepada siapa saja yang tak pantas untuk memiliki nyawa. Dan hasilnya, wajahku selalu menampang di media-media massa. Aku sangat senang menikmatinya.

Kuusap-usap bagian tubuh sang kekasih yang selalu digenggam. Tangan ini sangat nyaman, meskipun peluh membasahi tubuh. Layaknya anak yang manja kepada ibunya, tak ingin aku dipisahkan dengannya. Memang tepat pilihanku ini.

Tentu dia juga pasti sangat senang sebab aku memilihnya untuk dijadikan belahan jiwa. Kilauan matanya yang tajam, cukup bisa memukauku. Giginya yang tajam sangat pas untuk membungkam musuh-musuhku.

Dengannya, aku ingin menjadi manusia yang bisa melepaskan kutukan hidup ini. Jiwa-jiwa yang sesat layaknya ayah, ibu, dan kakakku mesti mendapatkan nasib sama. Aku dan kekasihku-lah yang akan mengeksekusinya. Belahan jiwaku ini sudah sangat haus. Dia ingin mandi lelehan kental dan bau amis. Apalagi dengan ditemani lagu 'A White Lotus'.

"Pendapatmu, apakah kita sudah menjadi legenda? Apakah kita sudah mulai dikenal dan ditakuti oleh penduduk kota ini?" tanyaku, "tentunya kamu sudah tahu impianku, bukan?"

Menit-menit sudah lewat, namun dia tak menjawab sama sekali. Ah, semestinya aku sudah tahu hal ini. Tapi hati ini tetap mengasihi dan menjaganya. Sebab, tak ada lagi yang lebih setia ketimbang dia.

Aku menghela napas panjang, "Ah, andai saja kamu bisa menjawab, hidupku tentu akan sangat bahagia," gumamku, "tapi kali ini kita membuat kesalahan kecil."

Dap ... dap ... dap ... dap ...!

Telingaku menangkap bunyi langkah cepat di lantai atas. Ada yang menuju ke sini. Tampaknya,  polisi sukses menemukanku setelah pembunuhan itu.

Aku mencoba bangkit, namun tubuhku sudah tak kuasa lagi. Tampaknya timah panas ini sudah sangat nyaman tinggal di betisku. Lantai tanah kini sudah membentuk genangan dan menimbulkan bau amis pekat. Napas dan detak jantung semakin tak menentu.

Kutatap sang kekasih kembali, "Kayaknya, kamu masih mesti melakukan satu tugas lagi. Memang sulit melakukannya, tapi ini demi kita."

Biasa, ucapanku tidak disahutinya. Aku hanya bisa layangkan senyum kecil.

Sakit yang melanda tubuh ini sangat melumpuhkanku. Dengan tatapan tak lepas kepada sang kekasih, aku menggenggamnya kencang. Kilauan matanya yang tajam ditempa cahaya lemah tempat ini. Ujungnya yang lancip ditujukan ke dadaku.

"Dia di dalam! Tangkap dia!" satu pekikan sangat lantang di balik pintu.

"Makasih atas waktu yang sudah kamu luangkan untukku," gumamku.

Kutancapkan sang kekasih ke dadaku. Matanya mengoyak kulit dan daging tubuh ceking ini. Sangat ganas. Ah, inilah sensasinya dieksekusi oleh dia. Betapa nikmatnya.

Baaak!!!

Ah, ada bunyi pintu yang dibuka paksa. Tapi aku sudah tak peduli.  Dalam keadaan sakit yang amat sangat, bisa kutatap sang kekasih yang sudah menancap indah di dada. Setidaknya, dia masih denganku saat mati. Lama-kelamaan, pandangan mulai tidak jelas dan gelap.

"Dia menusukkan pisaunya ke dadanya!" suatu pekikan tak jelas datang lagi sebelum kegelapan datang sepenuhnya.

***

Kucoba untuk menyelamatkanmu 
Datang lalu tinggalkan 
Tapi, apa kau tahu jika aku diikat 
Ya, aku melihatnya 
Itulah balas dendam 
Sensasinya, itu tak akan tenggelam 
Dengan sebuah lotus putih yang dibawa 
Tangisan mencabik amis yang tandus 
Cahaya, akan indah kelak esok 
Kau cukup mengasihiku 
Kucoba untuk melayang 
Itu sangatlah salah 
Selamat tinggal


-tamat-





image

Sang Kekasih


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Tulisan satu ini saya tulis sesuai kegilaan saya. Awalnya sempat saya posting di Facebook, namun saya edit dan tambahkan sedikit. Awalnya juga kisah ini dipenuhi alfabet hina dina itu.  Selamat membaca dan tinggalkan komen. 


==========
Kucoba untuk menyelamatkanmu 
Datang lalu tinggalkan 
Tapi, apa kau tahu jika aku diikat 
Ya, aku melihatnya 
Itulah balas dendam 
Sensasinya, itu tak akan tenggelam 
Dengan sebuah lotus putih yang dibawa 
Tangisan mencabik amis yang tandus 
Cahaya, akan indah kelak esok 
Kau cukup mengasihiku 
Kucoba untuk melayang 
Itu sangatlah salah 
Selamat tinggal

***

Alunan lagu 'A White Lotus' yang entah siapa penyanyinya mengalun indah di telinga melalui ponsel. Itu adalah lagu backsound kala aku dan belahan jiwaku melakukan aksi. Lantunannya tentu menakutkan bagi siapa saja, namun tidak bagiku. Aku sangat menyukai lagu itu.

Tempat bawah tanah ini selalu pengap, agak gelap, lembab, dan bau amis. Lalat-lalat dan tikus kadang bolak-balik memenuhi tempat ini. Lantai tanah ini dipenuhi bekas jejak-jejak kakiku yang menyatu dengan bau amis kental.

Kini aku hanya bisa duduk di pojokkan, dengan baju lusuh, kumuh, muka kusam, napas sengal, dan lemas. Tubuh ceking ini tak mampu mewujudkan lagi impian pemiliknya. Sakit ini tak bisa ditahan lagi.

Kutatap kekasih yang selalu menemaniku ini. Tentu banyak hal yang sudah kami lakukan sama-sama. Dia sangat setia melebihi wanita yang mengabdi kepada suaminya, budak kepada tuannya, anjing kepada majikannya, bahkan bisa melebihi hamba kepada Tuhannya. Kesetiannya kepadaku sangat tiada duanya.

"Kekasihku," ucapku, "ingatkah kamu dengan aksi awal-awal kita? Tentunya hal itu tak akan kita lupakan. Kamu mengoyak dada ayahku yang pedofil dan selalu menyodomiku, kakakku yang sombong, dan ibu yang tak mempedulikanku. Bahkan kata wanita jalang itu aku lebih pantas mati sewaktu masih di kandungan. Dia tak menginginkanku di dunia ini. Tentu kamu senang kalau tubuh mulusmu dibasahi oleh lelehan kental dan bau amis manusia-manusia laknat itu. Tahukah kamu, kamu telah menyelamatkan hidupku. Aku menjadi jatuh cinta padamu."

Ingatan kelam belasan tahun yang lalu muncul kembali. Walau begitu, aku tetap senang sebab bisa memiliki sang kekasih sepenuhnya akibat hal itu. Dan di atas tempat inilah, kejadian menyenangkan itu dilakukan. Aksi kami pun dilanjutkan kepada siapa saja yang tak pantas untuk memiliki nyawa. Dan hasilnya, wajahku selalu menampang di media-media massa. Aku sangat senang menikmatinya.

Kuusap-usap bagian tubuh sang kekasih yang selalu digenggam. Tangan ini sangat nyaman, meskipun peluh membasahi tubuh. Layaknya anak yang manja kepada ibunya, tak ingin aku dipisahkan dengannya. Memang tepat pilihanku ini.

Tentu dia juga pasti sangat senang sebab aku memilihnya untuk dijadikan belahan jiwa. Kilauan matanya yang tajam, cukup bisa memukauku. Giginya yang tajam sangat pas untuk membungkam musuh-musuhku.

Dengannya, aku ingin menjadi manusia yang bisa melepaskan kutukan hidup ini. Jiwa-jiwa yang sesat layaknya ayah, ibu, dan kakakku mesti mendapatkan nasib sama. Aku dan kekasihku-lah yang akan mengeksekusinya. Belahan jiwaku ini sudah sangat haus. Dia ingin mandi lelehan kental dan bau amis. Apalagi dengan ditemani lagu 'A White Lotus'.

"Pendapatmu, apakah kita sudah menjadi legenda? Apakah kita sudah mulai dikenal dan ditakuti oleh penduduk kota ini?" tanyaku, "tentunya kamu sudah tahu impianku, bukan?"

Menit-menit sudah lewat, namun dia tak menjawab sama sekali. Ah, semestinya aku sudah tahu hal ini. Tapi hati ini tetap mengasihi dan menjaganya. Sebab, tak ada lagi yang lebih setia ketimbang dia.

Aku menghela napas panjang, "Ah, andai saja kamu bisa menjawab, hidupku tentu akan sangat bahagia," gumamku, "tapi kali ini kita membuat kesalahan kecil."

Dap ... dap ... dap ... dap ...!

Telingaku menangkap bunyi langkah cepat di lantai atas. Ada yang menuju ke sini. Tampaknya,  polisi sukses menemukanku setelah pembunuhan itu.

Aku mencoba bangkit, namun tubuhku sudah tak kuasa lagi. Tampaknya timah panas ini sudah sangat nyaman tinggal di betisku. Lantai tanah kini sudah membentuk genangan dan menimbulkan bau amis pekat. Napas dan detak jantung semakin tak menentu.

Kutatap sang kekasih kembali, "Kayaknya, kamu masih mesti melakukan satu tugas lagi. Memang sulit melakukannya, tapi ini demi kita."

Biasa, ucapanku tidak disahutinya. Aku hanya bisa layangkan senyum kecil.

Sakit yang melanda tubuh ini sangat melumpuhkanku. Dengan tatapan tak lepas kepada sang kekasih, aku menggenggamnya kencang. Kilauan matanya yang tajam ditempa cahaya lemah tempat ini. Ujungnya yang lancip ditujukan ke dadaku.

"Dia di dalam! Tangkap dia!" satu pekikan sangat lantang di balik pintu.

"Makasih atas waktu yang sudah kamu luangkan untukku," gumamku.

Kutancapkan sang kekasih ke dadaku. Matanya mengoyak kulit dan daging tubuh ceking ini. Sangat ganas. Ah, inilah sensasinya dieksekusi oleh dia. Betapa nikmatnya.

Baaak!!!

Ah, ada bunyi pintu yang dibuka paksa. Tapi aku sudah tak peduli.  Dalam keadaan sakit yang amat sangat, bisa kutatap sang kekasih yang sudah menancap indah di dada. Setidaknya, dia masih denganku saat mati. Lama-kelamaan, pandangan mulai tidak jelas dan gelap.

"Dia menusukkan pisaunya ke dadanya!" suatu pekikan tak jelas datang lagi sebelum kegelapan datang sepenuhnya.

***

Kucoba untuk menyelamatkanmu 
Datang lalu tinggalkan 
Tapi, apa kau tahu jika aku diikat 
Ya, aku melihatnya 
Itulah balas dendam 
Sensasinya, itu tak akan tenggelam 
Dengan sebuah lotus putih yang dibawa 
Tangisan mencabik amis yang tandus 
Cahaya, akan indah kelak esok 
Kau cukup mengasihiku 
Kucoba untuk melayang 
Itu sangatlah salah 
Selamat tinggal


-tamat-





image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.