image


Tulisan ini saya ambil sesuai dengan yang saya alami, tapi ada banyak modifikasinya. Saya sempat sedih ketika membaca dan menulisnya. Kasih sayang ibu memang tinggi. Intinya jangan sia-siakan dia. Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak.



==========
”Maaf, Bu. Gajianku sudah dipotong banyak. Aku selalu izin gak masuk dan ada hutang sih. Jadi, aku cuma bisa ngasih uang segini,” ucapku dengan wajah penuh penyesalan. Tidak tega aku melakukan hal ini.

Ibu sunggingkan senyuman lembut. Sebuah senyuman yang bisa menghilangkan semua beban masalah di hidupku. ”Tidak apa-apa, Lex. Ibu sudah bahagia meskipun kamu gak ngasih apa-apa. Yang penting kamu punya modal untuk masa depanmu.”

Kata-kata ibu betapa menyejukkan hati. Meskipun aku tahu kalau aku sudah mengecewakannya, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Hanya senyuman saja yang ada di wajahnya.

”Ini uangnya, Bu.”

Ibuku menyambut tanganku yang menggenggam uang lima puluhan. Kemudian, uang itu disimpan di dompetnya yang lusuh.

”Makasih ya, Alex,” kata ibuku.

Aku hanya menyahut dengan anggukan. Tidak lupa, aku layangkan senyum ke ibu.

”Ibu masak dulu, ya. Kamu pasti belum makan,” ucap ibu, lalu meninggalkanku di sofa menuju ke belakang.

Aku mendesah panjang saja. Ada penyesalan dalam batin ini. Bagaimana tidak, aku tega membohongi ibu hanya untuk belanja kebutuhan fashion-ku yang amat kuidamkan. Maklum, gajiku kecil sehingga aku mesti menahan keinginanku untuk membeli pakaian-pakaian bagus. Namun, bujukan setan mengabulkan keinginanku. Imbasnya, jatah uang untuk ibuku menjadi lebih sedikit.

Memang, selama ini aku yang menjadi tulang punggung. Setelah ibu pisah dengan bapak, otomatis aku yang menafkahi ibu. Meskipun begitu, ibu juga membuka usaha menjahit demi biaya tambahan.

Aku membuka dompetku. Banyak uang lima puluhan di situ. Aku menatap benda itu lama-lama, lalu kumasukkan kembali ke kantong.

”Maafkan aku, Bu,” gumamku dalam hati.

***

”Kamu kok tega banget sih bohongin ibu kamu, Lex?” tanya Alfin yang menemaniku belanja baju dan celana.

Aku menghela napas panjang, ”Aku juga awalnya nyesel, Fin. Tapi kalau gak gini, baju dan celana lamaku ini gak bakalan ganti-ganti.”

Temanku hanya menggeleng-geleng kepala saja.

”Tapi hanya untuk bulan ini saja, Fin,” lanjutku, ”bulan depan akan kembali kayak biasa lagi.”

”Apa kata kamu aja, Lex,” jawab Alfin sambil mengangkat bahunya.

***

Pulang belanja, aku langsung duduk lemas di sofa. Senyuman puas mulai tampak di wajah yang letih ini. Satu setel kemeja dan celana jeans panjang akan menghiasi tubuhku besok. Aku mengecek dompetku. Hanya ada uang dua puluhan di situ.

Aku mulai panik. Tak disangka belanjaan ini menghabiskan gajiku sebulan. Padahal, aku sudah menghitungnya. Ataukah aku yang salah menghitung?

Aku jadi menyesali ini. Padahal, aku masih punya agenda lagi untuk besok, yakni membeli sepatu. Sebab, sepatuku kini solnya sudah menganga. Namun, jika uangnya sudah habis, aku hanya menelan ludah saja.

”Loh, sudah pulang, Lex?” tanya ibu yang tiba-tiba muncul di pintu depan.

”Eh, Ibu bikin kaget aja. Aku lagi off,” jawabku sambil menyembunyikan belanjaanku di kolong sofa.

Ibu layangkan senyuman lembut. Di tangannya tampak membawa sesuatu dalam plastik. Kemudian dia duduk di sebelahku.

”Ibu habis ke mana?” tanyaku.

”Beli sepatu,” jawab ibu.

”Sepatu?” ulangku.

Ibu mengangguk, ”Nih, sepatu buat kamu. Tadi Ibu habis beli. Soalnya Ibu lihat, sepatumu sudah tidak layak pakai. Dan juga, katanya kamu ada hutang. Jadi, Ibu belikan sepatu aja buat kamu.”

Bagai ditusuk puluhan pisau, aku kaget dengan ucapan ibu. Bagaimana tidak, aku yang sudah membohonginya itu, tapi dia seolah menutupi kebohonganku.

Dengan tangan yang agak kaku, aku membuka bungkusan plastik itu. Aku menelan ludah saja ketika melihat nota yang menempel di dus sepatu itu. Jumlah uangnya lebih banyak ketimbang yang aku kasih untuk ibu.

”Ibu dapet uang ....”

”Sudahlah, Lex,” sela ibu cepat, ”yang penting Ibu bisa membelikanmu sepatu.”

Mataku langsung basah. Tak bisa kutahan lagi tangisan ini. Aku langsung memeluk ibu.

”Bu, maafin aku. Aku sudah tega membohongi Ibu hanya demi kepuasan semata. Aku ngasih Ibu uang sedikit sebab aku ingin belanja. Uangku sesungguhnya masih banyak. Maafin Alex, Bu. Alex salah,” tangisku.

Ibu hanya mengusap-usap punggungku, ”Iya, Alex. Ibu sudah memaafkanmu sejak awal kamu muncul ke dunia ini. Ibu selalu sayang kamu,” ucap ibu.

”Tapi Alex udah dosa, Bu,” isakku.

”Jika kamu mengakui kesalahanmu, dosa kamu pasti diampuni, Lex,” ucap ibu lembut, yang membuat semua kegundahanku ini lepas sudah. Memang, hanya ibu yang bisa menenangkanku.

Aku melepaskan pelukan ibu, ”Mulai kini, aku janji gak akan bohongi Ibu lagi.”

Ibu sunggingkan senyum sambil mengusap-usap kepalaku, ”Iya, Anakku.”

Aku pun kembali memeluk ibu.


-tamat-

image

Maafkan Aku, Bu


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image


Tulisan ini saya ambil sesuai dengan yang saya alami, tapi ada banyak modifikasinya. Saya sempat sedih ketika membaca dan menulisnya. Kasih sayang ibu memang tinggi. Intinya jangan sia-siakan dia. Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak.



==========
”Maaf, Bu. Gajianku sudah dipotong banyak. Aku selalu izin gak masuk dan ada hutang sih. Jadi, aku cuma bisa ngasih uang segini,” ucapku dengan wajah penuh penyesalan. Tidak tega aku melakukan hal ini.

Ibu sunggingkan senyuman lembut. Sebuah senyuman yang bisa menghilangkan semua beban masalah di hidupku. ”Tidak apa-apa, Lex. Ibu sudah bahagia meskipun kamu gak ngasih apa-apa. Yang penting kamu punya modal untuk masa depanmu.”

Kata-kata ibu betapa menyejukkan hati. Meskipun aku tahu kalau aku sudah mengecewakannya, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Hanya senyuman saja yang ada di wajahnya.

”Ini uangnya, Bu.”

Ibuku menyambut tanganku yang menggenggam uang lima puluhan. Kemudian, uang itu disimpan di dompetnya yang lusuh.

”Makasih ya, Alex,” kata ibuku.

Aku hanya menyahut dengan anggukan. Tidak lupa, aku layangkan senyum ke ibu.

”Ibu masak dulu, ya. Kamu pasti belum makan,” ucap ibu, lalu meninggalkanku di sofa menuju ke belakang.

Aku mendesah panjang saja. Ada penyesalan dalam batin ini. Bagaimana tidak, aku tega membohongi ibu hanya untuk belanja kebutuhan fashion-ku yang amat kuidamkan. Maklum, gajiku kecil sehingga aku mesti menahan keinginanku untuk membeli pakaian-pakaian bagus. Namun, bujukan setan mengabulkan keinginanku. Imbasnya, jatah uang untuk ibuku menjadi lebih sedikit.

Memang, selama ini aku yang menjadi tulang punggung. Setelah ibu pisah dengan bapak, otomatis aku yang menafkahi ibu. Meskipun begitu, ibu juga membuka usaha menjahit demi biaya tambahan.

Aku membuka dompetku. Banyak uang lima puluhan di situ. Aku menatap benda itu lama-lama, lalu kumasukkan kembali ke kantong.

”Maafkan aku, Bu,” gumamku dalam hati.

***

”Kamu kok tega banget sih bohongin ibu kamu, Lex?” tanya Alfin yang menemaniku belanja baju dan celana.

Aku menghela napas panjang, ”Aku juga awalnya nyesel, Fin. Tapi kalau gak gini, baju dan celana lamaku ini gak bakalan ganti-ganti.”

Temanku hanya menggeleng-geleng kepala saja.

”Tapi hanya untuk bulan ini saja, Fin,” lanjutku, ”bulan depan akan kembali kayak biasa lagi.”

”Apa kata kamu aja, Lex,” jawab Alfin sambil mengangkat bahunya.

***

Pulang belanja, aku langsung duduk lemas di sofa. Senyuman puas mulai tampak di wajah yang letih ini. Satu setel kemeja dan celana jeans panjang akan menghiasi tubuhku besok. Aku mengecek dompetku. Hanya ada uang dua puluhan di situ.

Aku mulai panik. Tak disangka belanjaan ini menghabiskan gajiku sebulan. Padahal, aku sudah menghitungnya. Ataukah aku yang salah menghitung?

Aku jadi menyesali ini. Padahal, aku masih punya agenda lagi untuk besok, yakni membeli sepatu. Sebab, sepatuku kini solnya sudah menganga. Namun, jika uangnya sudah habis, aku hanya menelan ludah saja.

”Loh, sudah pulang, Lex?” tanya ibu yang tiba-tiba muncul di pintu depan.

”Eh, Ibu bikin kaget aja. Aku lagi off,” jawabku sambil menyembunyikan belanjaanku di kolong sofa.

Ibu layangkan senyuman lembut. Di tangannya tampak membawa sesuatu dalam plastik. Kemudian dia duduk di sebelahku.

”Ibu habis ke mana?” tanyaku.

”Beli sepatu,” jawab ibu.

”Sepatu?” ulangku.

Ibu mengangguk, ”Nih, sepatu buat kamu. Tadi Ibu habis beli. Soalnya Ibu lihat, sepatumu sudah tidak layak pakai. Dan juga, katanya kamu ada hutang. Jadi, Ibu belikan sepatu aja buat kamu.”

Bagai ditusuk puluhan pisau, aku kaget dengan ucapan ibu. Bagaimana tidak, aku yang sudah membohonginya itu, tapi dia seolah menutupi kebohonganku.

Dengan tangan yang agak kaku, aku membuka bungkusan plastik itu. Aku menelan ludah saja ketika melihat nota yang menempel di dus sepatu itu. Jumlah uangnya lebih banyak ketimbang yang aku kasih untuk ibu.

”Ibu dapet uang ....”

”Sudahlah, Lex,” sela ibu cepat, ”yang penting Ibu bisa membelikanmu sepatu.”

Mataku langsung basah. Tak bisa kutahan lagi tangisan ini. Aku langsung memeluk ibu.

”Bu, maafin aku. Aku sudah tega membohongi Ibu hanya demi kepuasan semata. Aku ngasih Ibu uang sedikit sebab aku ingin belanja. Uangku sesungguhnya masih banyak. Maafin Alex, Bu. Alex salah,” tangisku.

Ibu hanya mengusap-usap punggungku, ”Iya, Alex. Ibu sudah memaafkanmu sejak awal kamu muncul ke dunia ini. Ibu selalu sayang kamu,” ucap ibu.

”Tapi Alex udah dosa, Bu,” isakku.

”Jika kamu mengakui kesalahanmu, dosa kamu pasti diampuni, Lex,” ucap ibu lembut, yang membuat semua kegundahanku ini lepas sudah. Memang, hanya ibu yang bisa menenangkanku.

Aku melepaskan pelukan ibu, ”Mulai kini, aku janji gak akan bohongi Ibu lagi.”

Ibu sunggingkan senyum sambil mengusap-usap kepalaku, ”Iya, Anakku.”

Aku pun kembali memeluk ibu.


-tamat-

image

Bagikan
  1. ijin copas bang untuk tugas Bhs Indonesia

    ReplyDelete
  2. Sumpah ane terharu sampe nangis baca cerita ini krn lgsung inget pengorbanan mama sblm sy menikah hingga skrng :'( love u mom

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.