image

So Long Goodbye adalah salah satu judul lagu band Sum 41 yang kemudian saya gunakan untuk judul tulisan ini. Agak bimbang juga untuk memasukkan tulisan ini ke dalam blog ini. Namun, ketimbang mengendap saja di dalam file, saya posting saja di sini. Tulisan ini juga sempat diposting di salah satu komunitas Facebook, namun saya panjangkan dan kembangkan. Selamat membaca.


==========
Malam semakin dingin. Tommy melangkah cepat di jalanan yang sepi. Dia ingin cepat-cepat pulang dan melepas lelah. Kesibukan di kafe miliknya membuat badannya pegal-pegal semua. Celakanya, mobil miliknya sedang di bengkel dan tak ada satu taksi pun yang dia temui. Alhasil, dia mesti pulang dengan jalan kaki dan tak ada yang menemani. Meskipun begitu, letak tempat tinggal dan kafe miliknya tidak begitu jauh.

Dia menghentikan langkahnya tatkala ada pesan masuk ke ponselnya. Lelaki tampan dengan kulit putih itu membaca pesan dengan seksama.

'Temui aku di bekas bangunan di Jalan Semangka malam ini juga. Ada hal penting yang mesti kita bahas. Aku tunggu kedatanganmu secepatnya. Awas saja kalau tidak datang. Kevin.'

Tommy menghela napas panjang setelah membaca pesan. Dia tahu, Kevin ini adalah kakaknya Nia, mantan kekasihnya. Dia sangat kenal betul siapa Kevin ini.

“Mau apa Kevin menemui saya? Apalagi di tempat sepi kayak gitu,” gumam Tommy.

Tommy menjadi bingung. Di satu sisi, dia sangat kelelahan dan ingin sekali pulang. Namun di satu sisi juga, dia ingin tahu, apa maksud kakaknya Nia itu hendak menemuinya.

Setelah menimbang matang-matang, dia memilih untuk menemui Kevin. Dia mesti melupakan sejenak lelahnya dan keinginannya untuk pulang. Lagipula, setelah menemui Kevin juga dia bisa cepat-cepat pulang. Apalagi, tempatnya juga tidak begitu jauh. Bisa ditempuh hanya lima belas menit dengan jalan kaki.

Tiba di sana, Tommy tampak kebingungan menemukan Kevin. Di samping tempatnya yang agak gelap, Tommy juga tak tahu di mana posisi Kevin menunggu. Apalagi, bekas bangunan ini ada tujuh lantai.

Plok plok plok!

Sebuah tepukan di atap gedung membuat kepala Tommy menengadah. Dia melihat sesosok lelaki di sana. Dalam pantulan cahaya lampu jalan, dia mengenali sosok lelaki itu yang tak lain adalah Kevin.

“Naik saja ke atas,” ajak lelaki di atap itu setengah memekik.

Tanpa ada dugaan apapun, Tommy langsung memasuki bangunan bekas itu. Dengan dibantu cahaya ponselnya, dia menaiki tangga yang letaknya dekat dengan pintu masuk. Butuh waktu tiga menit untuk sampai ke atap bangunan. Napasnya langsung kembang-kempis akibat menaiki puluhan anak tangga.

Tiba di atap, Tommy langsung disambut dengan senyuman dingin Kevin.

“Baik sekali kamu sudah bela-belain datang ke sini malam-malam, Tom,” ucap lelaki dengan tubuh atletis itu. Dalam timpaan cahaya lampu jalan yang ada di dekat gedung, dia tampak pucat.

Tommy layangkan senyum hangat, “Mungkin ada masalah penting, jadi aku langsung ke sini sebelum pulang, Vin.”

Kevin masih sunggingkan senyum dingin. Dia melangkah pelan mendekati Tommy. “Kamu memang baik, Tom. Kayak yang sudah Nia katakan, kamu memang lelaki baik.”

Tommy menyipitkan matanya. Dia mulai mencium ada sesuatu yang aneh dan beda dengan Kevin. Sesuatu yang sama sekali belum dia lihat selama mengenali Kevin. Yang dia lihat ini bagaikan bukan Kevin yang dulu. Namun, ini hanya dugaan saja. Tommy menekan sekuat mungkin sangkaan jelek ini.

“Lalu, ada hal penting apa?” tanya Tommy polos, “dan juga, kenapa mesti di tempat begini, sih?” tanyanya sambil menatap sekeliling.

“Balas dendam,” sahut Kevin cepat.

“Balas dendam?” ulang Tommy.

Sekonyong-konyong, tangan Kevin menghunus sebuah pisau dan langsung menodongkannya ke wajah Tommy. Sontak hal itu mengejutkan Tommy. Dia pun menjadi kebingungan.

“Ke-Kevin, apa maksudnya ini?” tanya Tommy panik.

“Kamu mesti kubunuh, Tommy!” pekik Kevin dengan wajah bagai kesetanan.

“Bunuh? Apa maksudmu?”

“Kamu mesti mati!”

Tommy mengetahui kalau keadaan sudah gawat. Dia tidak tahu setan apa yang menghinggapi tubuh Kevin hingga dia bisa menjadi begini. Dia sama sekali tak bisa menduga kalau ini adalah jebakan. Ketakutan mulai melanda Tommy.

“Tolong, jangan bunuh saya, Vin,” ucap Tommy dengan wajah ketakutan, “apa salah saya?”

Pemuda di hadapan Tommy melotot sambil mengacungkan pisau ke depan, “Salahmu? Jangan belagak bego, Tom!” bentaknya.

Tommy ketakutan setengah mati. Dia semakin melangkah pelan ke belakang demi mencegah pisau itu menyentuh kulit wajahnya. Namun, Kevin malah mengikutinya dan menyulitkan Tommy untuk mengelak. Sama sekali tidak ada napas untuk Tommy.

Posisi Tommy semakin sulit. Dia kini tepat di tepian bangunan. Melangkah ke belakang sedikit saja, dia akan jatuh.

“Kevin, apa salah saya?” tanya Tommy lagi, ketakutan.

“Kamu sudah membunuh adikku!” bentak Kevin.

“Apa? Maksudmu, saya membunuh Nia? Gak mungkin, Vin! Semenjak putus dengan dia, saya belum ketemuan sama sekali!” bela Tommy. Matanya selalu awas menatap pisau yang mengacung kepadanya. Degup jantungnya kencang. Peluhnya mulai membasahi wajah. Padahal, suasananya sudah malam dan dingin. Sesekali tiupan angin membuat keseimbangannya sedikit goyah.

“Adikku jadi patah hati akibat diputusin sama kamu! Dia menyayat nadinya dengan pisau di toilet hingga tewas!” bentak Kevin dengan mata yang semakin melotot, bagaikan hendak lepas.

“Mustahil!” sahut Tommy.

“Kenapa? Tidak ada yang ngasih tahu, ya?” tanya Kevin sinis, “ya jelas, dong! Kamu penyebab tewasnya! Mana mungkin ada yang mau ngasih tahu! Di buku catatan Nia, dia menulis semua ungkapan sakit hatinya padamu. Hingga dia mempunyai niat untuk menghabisi hidupnya!”

Tommy tak bisa apa-apa lagi. Lidahnya kelu. Dia sama sekali tak menyangka kalau mantan kekasihnya bisa nekat menghabisi nyawanya akibat patah hati. Kalau saja Tommy tahu hal itu, dia pasti akan mencegah Nia.

“Sialnya, polisi menganggap ini cuma kasus biasa dan langsung menutupnya. Namun, aku masih belum ikhlas dengan semua ini. Aku mau kamu juga mati!” bentak Kevin.

Tommy semakin was-was. Kevin yang ini sudah bukan Kevin yang dulu Tommy kenal. Kevin yang dulu sangat pendiam dan sopan. Jika Tommy mengunjungi Nia, Kevin pasti akan mengajaknya untuk bincang-bincang sejenak. Entah itu tentang sepak bola, politik, ataupun info-info masa kini.

Jelas saja hal itu membuat Nia menjadi kesal. Bagaimana tidak, Tommy yang biasa datang menjemputnya untuk jalan-jalan di malam Minggu, malah asyik dengan kakaknya. Meskipun begitu, kedekatan dengan sanak famili juga dibutuhkan demi hubungan yang langgeng. Namun tak disangka, Tommy malah ketahuan selingkuh dengan wanita lain.

“Kini, kamu mesti mati, Pengkhianat!” bentak Kevin untuk yang kesekian kalinya.

“Kevin,” ucap Tommy, “saya bukan pengkhianat. Kayaknya saya mesti menjelaskan hal yang sesungguhnya kepadamu,” ucapnya, mencoba menenangkan Kevin.

“Apanya yang mesti dijelasin? Semuanya sudah jelas! Kamu mengkhianati cinta adikku, lalu kamu membunuhnya!” sela Kevin cepat. Dengus napasnya begitu menggebu-gebu, bagai sehabis joging mengelilingi lapangan bola.

“Kevin, saya mau menjelaskan hal ini baik-baik supaya gak ada salah paham lagi. Tolong, simpan kembali pisaumu, Vin,” pinta Tommy.

“Apa yang mau kamu jelasin, hah?” tantang Kevin, semakin menodong pisaunya. Dia ingin sekali cepat-cepat menusuk mantan kekasih adiknya itu. Namun, ucapan Tommy membuat dia menundanya sejenak.

“Sesungguhnya, saya tidak selingkuh, Vin,” ucap Tommy. Degup jantungnya semakin kencang, takut Kevin akan menusuknya tiba-tiba.

“Bohong! Jelas-jelas Nia melihat kalau kamu jalan duaan dengan cewek lain!” pekik Kevin.

“Sumpah, Vin. Saya gak bohong. Nia yang salah paham. Sesungguhnya, cewek yang jalan dengan saya itu sepupu saya. Dia meminta saya untuk menemaninya membeli gaun pengantin, sebab dia mau menikah.”

“Bohong! Nia gak ngasih tahu sama sekali kalau kamu punya sepupu! Jangan-jangan, kamu mau menikah dengan wanita itu setelah mutusin Nia, hah?!” bentak Kevin masih belum meyakini ucapan Tommy.

“Ayolah, Vin. Saya sudah membahas ini sebelumnya sama Nia. Dia sudah salah paham. Tapi dia tetap menuduh kalau saya ini selingkuh. Makanya, dia yang duluan mutusin saya,” ucap Tommy meyakinkan Kevin. Dia tambah was-was pada pisau yang semakin mendekatinya.

Kevin tampak diam dan mulai tenang. Dia mencoba menelaah ucapan Tommy tadi. Memang, selama ini dia hanya tahu sedikit tentang Tommy. Dia masih belum tahu tentang sanak familinya. Namun, apakah dia mau menelan ucapan Tommy bulat-bulat?

“Apakah ada buktinya kalau dia sepupumu?” tanya Kevin sinis.

“Jelas ada. Kamu bisa tanyakan hal itu sama ayah dan ibu saya. Tapi please, pisau itu kamu amankan dulu. Saya gak bisa apa-apa kalau ditodong begini,” pinta Tommy memelas.

“Tapi tetap saja, kamu sudah membunuh adikku!” bentak Kevin kemudian.

“Sumpah, Vin. Mana mungkin saya membunuh. Sudah jelas kalau Nia yang menyayat nadinya. Jangan libatkan saya dalam pembunuhan ini. Meskipun begitu, saya tetap menyesal sudah membuat Nia patah hati, Vin. Jika saya tahu Nia mau senekat itu, saya pasti akan mencegahnya. Saya mohon, Vin. Kita bahas masalah ini baik-baik. Gak usah ada pembunuhan lagi,” ucap Tommy meyakinkan.

Kevin kembali diam. Dia menelaah matang-matang lagi ucapan Tommy. Dia mencoba kemungkinan-kemungkinan yang ada di benaknya. Ucapan Tommy memang masuk akal. Selama yang Kevin tahu, Nia-lah yang memutuskan hubungan duluan, tanpa tahu penyebab pastinya. Dan semenjak itu, gadis itu selalu menangis. Meskipun begitu, apakah ucapan Tommy ini bisa dibuktikan?

Kakak Nia itu lalu membatalkan niatnya untuk menusuk Tommy. Pisaunya dia amankan namun tetap dalam genggaman. Dia melangkah ke belakang dengan pelan. “Apakah Nia memang salah paham? Kenapa dia bisa nekat begitu?” tanyanya pilu. Emosinya kini tidak setegang tadi.

Tommy menghela napas lega. Dia maju mendekati Kevin yang masih bimbang. “Iya, Kevin. Cewek yang Nia lihat itu adalah sepupu saya. Padahal, saya sudah menjelaskan yang sesungguhnya kepada dia. Itu salah saya juga, sebab tidak ngasih tahu kepada Nia sebelumnya, sehingga jadi salah paham begini. Meskipun begitu, dia tetap saja menuduh kalau saya ini bohong, bahkan minta putus. Saya mesti jelasin gimana lagi?” ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Kevin, menunjukkan simpatiknya.

Kevin menghela napas panjang. Ada penyesalan dalam benaknya. Dia sudah salah paham dan menuduh yang tidak-tidak kepada Tommy. Dia kini dilanda kebimbangan.

“Kata Nia, kamu selingkuh. Awalnya aku juga tidak yakin dengan hal itu. Tapi, tangisan Nia yang membuatku yakin kalau kamu memang selingkuh,” ucap Kevin pelan. Dia kini semakin dilanda kebimbangan. Pelupuk matanya mulai basah.

Bayangan sang adik muncul di benak Kevin. Dia ingin sekali mencegah Nia melakukan tindakan yang bodoh. Dia sangat menyesal, sebab sudah gagal menjadi kakak yang baik bagi Nia. Penyesalan ini semakin mendalam.

“Nia, andaikan kamu masih hidup,” gumam Kevin.

Melihat Kevin yang tengah dilanda kesedihan itu, Tommy sunggingkan senyum. Tiba-tiba, dia mencekal tangan kanan Kevin yang masih menggenggam pisau. Kemudian, ditusukkan ke paha kanan Kevin dengan cepat.

Jleb!

“Aaakh!” pekik Kevin kaget.

Sakit yang amat sangat mulai melanda kakak Nia itu. Dia pun limbung ke lantai.

“Hahaha!” tawa Tommy, “kakak dan adik sama saja. Kalian sama-sama bego! Udah tahu saya memang selingkuh dengan cewek lain, masih mau saja dibohongin. Tapi tak disangka, insting adikmu itu memang tajam juga. Saya juga tak menyangka kalau Nia bisa senekat itu menghabisi nyawanya. Sayang sekali,” katanya dengan memandang sinis Kevin.

“Ka ... ka ... mu men ... jebakku?” ucap Kevin menahan sakit. Dia sama sekali tak menduga dengan kejadian ini.

“Loh, bukannya kamu yang menjebak saya? Kan kamu yang minta ketemuan di sini, di atap bekas bangunan?” tanya Tommy sinis, “ini namanya senjata makan tuan!”

“Sialan kamu, Tom!” maki Kevin. Dia memegang luka di pahanya. Ingin sekali dia mencabut pisau yang menancap itu. Namun, tenaganya melemas akibat sakit yang amat sangat.

Tanpa menunggu waktu lama, kedua tangan Tommy langsung mencekal baju Kevin. Dia menatap kakak mantan kekasihnya itu dengan tajam. “Tadi kamu menginginkan saya mati. Kini gantian, kamu yang mesti mati!”

Kevin panik tatkala Tommy menggotong tubuhnya menuju tepian gedung. Dia ingin sekali melawan, namun tenaganya melemas akibat tusukan di pahanya. Apalagi kedua tangannya dicekal oleh Tommy.

“Apa yang mau kamu lakukan padaku, Bedebah?!” maki Kevin memekik.

Tommy tidak menyahut. Dia tampak kewalahan dengan beban tubuh Kevin. Setelah sampai, dia meletakkan tubuh lemah Kevin di tepian. Kemudian, tanpa basa-basi lagi dia langsung menendang tubuh lemah Kevin itu sekuat tenaga. Tak ayal lagi, Kevin langsung jatuh ke bawah.

“Aaahhh!” pekik Kevin.

Lolongan panjang Kevin yang menggema di langit malam menjadi hilang tatkala tubuhnya menghantam tanah di bawah sana. Melayanglah nyawa Kevin, menyusul adiknya yang sudah tewas duluan.

Di atap, dengan napas kembang-kempis, Tommy menatap tubuh Kevin dengan sinisnya, “So long goodbye,” gumamnya. Lalu, dia pun menghilang di balik kegelapan malam.

-tamat-

image



So Long Goodbye


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

So Long Goodbye adalah salah satu judul lagu band Sum 41 yang kemudian saya gunakan untuk judul tulisan ini. Agak bimbang juga untuk memasukkan tulisan ini ke dalam blog ini. Namun, ketimbang mengendap saja di dalam file, saya posting saja di sini. Tulisan ini juga sempat diposting di salah satu komunitas Facebook, namun saya panjangkan dan kembangkan. Selamat membaca.


==========
Malam semakin dingin. Tommy melangkah cepat di jalanan yang sepi. Dia ingin cepat-cepat pulang dan melepas lelah. Kesibukan di kafe miliknya membuat badannya pegal-pegal semua. Celakanya, mobil miliknya sedang di bengkel dan tak ada satu taksi pun yang dia temui. Alhasil, dia mesti pulang dengan jalan kaki dan tak ada yang menemani. Meskipun begitu, letak tempat tinggal dan kafe miliknya tidak begitu jauh.

Dia menghentikan langkahnya tatkala ada pesan masuk ke ponselnya. Lelaki tampan dengan kulit putih itu membaca pesan dengan seksama.

'Temui aku di bekas bangunan di Jalan Semangka malam ini juga. Ada hal penting yang mesti kita bahas. Aku tunggu kedatanganmu secepatnya. Awas saja kalau tidak datang. Kevin.'

Tommy menghela napas panjang setelah membaca pesan. Dia tahu, Kevin ini adalah kakaknya Nia, mantan kekasihnya. Dia sangat kenal betul siapa Kevin ini.

“Mau apa Kevin menemui saya? Apalagi di tempat sepi kayak gitu,” gumam Tommy.

Tommy menjadi bingung. Di satu sisi, dia sangat kelelahan dan ingin sekali pulang. Namun di satu sisi juga, dia ingin tahu, apa maksud kakaknya Nia itu hendak menemuinya.

Setelah menimbang matang-matang, dia memilih untuk menemui Kevin. Dia mesti melupakan sejenak lelahnya dan keinginannya untuk pulang. Lagipula, setelah menemui Kevin juga dia bisa cepat-cepat pulang. Apalagi, tempatnya juga tidak begitu jauh. Bisa ditempuh hanya lima belas menit dengan jalan kaki.

Tiba di sana, Tommy tampak kebingungan menemukan Kevin. Di samping tempatnya yang agak gelap, Tommy juga tak tahu di mana posisi Kevin menunggu. Apalagi, bekas bangunan ini ada tujuh lantai.

Plok plok plok!

Sebuah tepukan di atap gedung membuat kepala Tommy menengadah. Dia melihat sesosok lelaki di sana. Dalam pantulan cahaya lampu jalan, dia mengenali sosok lelaki itu yang tak lain adalah Kevin.

“Naik saja ke atas,” ajak lelaki di atap itu setengah memekik.

Tanpa ada dugaan apapun, Tommy langsung memasuki bangunan bekas itu. Dengan dibantu cahaya ponselnya, dia menaiki tangga yang letaknya dekat dengan pintu masuk. Butuh waktu tiga menit untuk sampai ke atap bangunan. Napasnya langsung kembang-kempis akibat menaiki puluhan anak tangga.

Tiba di atap, Tommy langsung disambut dengan senyuman dingin Kevin.

“Baik sekali kamu sudah bela-belain datang ke sini malam-malam, Tom,” ucap lelaki dengan tubuh atletis itu. Dalam timpaan cahaya lampu jalan yang ada di dekat gedung, dia tampak pucat.

Tommy layangkan senyum hangat, “Mungkin ada masalah penting, jadi aku langsung ke sini sebelum pulang, Vin.”

Kevin masih sunggingkan senyum dingin. Dia melangkah pelan mendekati Tommy. “Kamu memang baik, Tom. Kayak yang sudah Nia katakan, kamu memang lelaki baik.”

Tommy menyipitkan matanya. Dia mulai mencium ada sesuatu yang aneh dan beda dengan Kevin. Sesuatu yang sama sekali belum dia lihat selama mengenali Kevin. Yang dia lihat ini bagaikan bukan Kevin yang dulu. Namun, ini hanya dugaan saja. Tommy menekan sekuat mungkin sangkaan jelek ini.

“Lalu, ada hal penting apa?” tanya Tommy polos, “dan juga, kenapa mesti di tempat begini, sih?” tanyanya sambil menatap sekeliling.

“Balas dendam,” sahut Kevin cepat.

“Balas dendam?” ulang Tommy.

Sekonyong-konyong, tangan Kevin menghunus sebuah pisau dan langsung menodongkannya ke wajah Tommy. Sontak hal itu mengejutkan Tommy. Dia pun menjadi kebingungan.

“Ke-Kevin, apa maksudnya ini?” tanya Tommy panik.

“Kamu mesti kubunuh, Tommy!” pekik Kevin dengan wajah bagai kesetanan.

“Bunuh? Apa maksudmu?”

“Kamu mesti mati!”

Tommy mengetahui kalau keadaan sudah gawat. Dia tidak tahu setan apa yang menghinggapi tubuh Kevin hingga dia bisa menjadi begini. Dia sama sekali tak bisa menduga kalau ini adalah jebakan. Ketakutan mulai melanda Tommy.

“Tolong, jangan bunuh saya, Vin,” ucap Tommy dengan wajah ketakutan, “apa salah saya?”

Pemuda di hadapan Tommy melotot sambil mengacungkan pisau ke depan, “Salahmu? Jangan belagak bego, Tom!” bentaknya.

Tommy ketakutan setengah mati. Dia semakin melangkah pelan ke belakang demi mencegah pisau itu menyentuh kulit wajahnya. Namun, Kevin malah mengikutinya dan menyulitkan Tommy untuk mengelak. Sama sekali tidak ada napas untuk Tommy.

Posisi Tommy semakin sulit. Dia kini tepat di tepian bangunan. Melangkah ke belakang sedikit saja, dia akan jatuh.

“Kevin, apa salah saya?” tanya Tommy lagi, ketakutan.

“Kamu sudah membunuh adikku!” bentak Kevin.

“Apa? Maksudmu, saya membunuh Nia? Gak mungkin, Vin! Semenjak putus dengan dia, saya belum ketemuan sama sekali!” bela Tommy. Matanya selalu awas menatap pisau yang mengacung kepadanya. Degup jantungnya kencang. Peluhnya mulai membasahi wajah. Padahal, suasananya sudah malam dan dingin. Sesekali tiupan angin membuat keseimbangannya sedikit goyah.

“Adikku jadi patah hati akibat diputusin sama kamu! Dia menyayat nadinya dengan pisau di toilet hingga tewas!” bentak Kevin dengan mata yang semakin melotot, bagaikan hendak lepas.

“Mustahil!” sahut Tommy.

“Kenapa? Tidak ada yang ngasih tahu, ya?” tanya Kevin sinis, “ya jelas, dong! Kamu penyebab tewasnya! Mana mungkin ada yang mau ngasih tahu! Di buku catatan Nia, dia menulis semua ungkapan sakit hatinya padamu. Hingga dia mempunyai niat untuk menghabisi hidupnya!”

Tommy tak bisa apa-apa lagi. Lidahnya kelu. Dia sama sekali tak menyangka kalau mantan kekasihnya bisa nekat menghabisi nyawanya akibat patah hati. Kalau saja Tommy tahu hal itu, dia pasti akan mencegah Nia.

“Sialnya, polisi menganggap ini cuma kasus biasa dan langsung menutupnya. Namun, aku masih belum ikhlas dengan semua ini. Aku mau kamu juga mati!” bentak Kevin.

Tommy semakin was-was. Kevin yang ini sudah bukan Kevin yang dulu Tommy kenal. Kevin yang dulu sangat pendiam dan sopan. Jika Tommy mengunjungi Nia, Kevin pasti akan mengajaknya untuk bincang-bincang sejenak. Entah itu tentang sepak bola, politik, ataupun info-info masa kini.

Jelas saja hal itu membuat Nia menjadi kesal. Bagaimana tidak, Tommy yang biasa datang menjemputnya untuk jalan-jalan di malam Minggu, malah asyik dengan kakaknya. Meskipun begitu, kedekatan dengan sanak famili juga dibutuhkan demi hubungan yang langgeng. Namun tak disangka, Tommy malah ketahuan selingkuh dengan wanita lain.

“Kini, kamu mesti mati, Pengkhianat!” bentak Kevin untuk yang kesekian kalinya.

“Kevin,” ucap Tommy, “saya bukan pengkhianat. Kayaknya saya mesti menjelaskan hal yang sesungguhnya kepadamu,” ucapnya, mencoba menenangkan Kevin.

“Apanya yang mesti dijelasin? Semuanya sudah jelas! Kamu mengkhianati cinta adikku, lalu kamu membunuhnya!” sela Kevin cepat. Dengus napasnya begitu menggebu-gebu, bagai sehabis joging mengelilingi lapangan bola.

“Kevin, saya mau menjelaskan hal ini baik-baik supaya gak ada salah paham lagi. Tolong, simpan kembali pisaumu, Vin,” pinta Tommy.

“Apa yang mau kamu jelasin, hah?” tantang Kevin, semakin menodong pisaunya. Dia ingin sekali cepat-cepat menusuk mantan kekasih adiknya itu. Namun, ucapan Tommy membuat dia menundanya sejenak.

“Sesungguhnya, saya tidak selingkuh, Vin,” ucap Tommy. Degup jantungnya semakin kencang, takut Kevin akan menusuknya tiba-tiba.

“Bohong! Jelas-jelas Nia melihat kalau kamu jalan duaan dengan cewek lain!” pekik Kevin.

“Sumpah, Vin. Saya gak bohong. Nia yang salah paham. Sesungguhnya, cewek yang jalan dengan saya itu sepupu saya. Dia meminta saya untuk menemaninya membeli gaun pengantin, sebab dia mau menikah.”

“Bohong! Nia gak ngasih tahu sama sekali kalau kamu punya sepupu! Jangan-jangan, kamu mau menikah dengan wanita itu setelah mutusin Nia, hah?!” bentak Kevin masih belum meyakini ucapan Tommy.

“Ayolah, Vin. Saya sudah membahas ini sebelumnya sama Nia. Dia sudah salah paham. Tapi dia tetap menuduh kalau saya ini selingkuh. Makanya, dia yang duluan mutusin saya,” ucap Tommy meyakinkan Kevin. Dia tambah was-was pada pisau yang semakin mendekatinya.

Kevin tampak diam dan mulai tenang. Dia mencoba menelaah ucapan Tommy tadi. Memang, selama ini dia hanya tahu sedikit tentang Tommy. Dia masih belum tahu tentang sanak familinya. Namun, apakah dia mau menelan ucapan Tommy bulat-bulat?

“Apakah ada buktinya kalau dia sepupumu?” tanya Kevin sinis.

“Jelas ada. Kamu bisa tanyakan hal itu sama ayah dan ibu saya. Tapi please, pisau itu kamu amankan dulu. Saya gak bisa apa-apa kalau ditodong begini,” pinta Tommy memelas.

“Tapi tetap saja, kamu sudah membunuh adikku!” bentak Kevin kemudian.

“Sumpah, Vin. Mana mungkin saya membunuh. Sudah jelas kalau Nia yang menyayat nadinya. Jangan libatkan saya dalam pembunuhan ini. Meskipun begitu, saya tetap menyesal sudah membuat Nia patah hati, Vin. Jika saya tahu Nia mau senekat itu, saya pasti akan mencegahnya. Saya mohon, Vin. Kita bahas masalah ini baik-baik. Gak usah ada pembunuhan lagi,” ucap Tommy meyakinkan.

Kevin kembali diam. Dia menelaah matang-matang lagi ucapan Tommy. Dia mencoba kemungkinan-kemungkinan yang ada di benaknya. Ucapan Tommy memang masuk akal. Selama yang Kevin tahu, Nia-lah yang memutuskan hubungan duluan, tanpa tahu penyebab pastinya. Dan semenjak itu, gadis itu selalu menangis. Meskipun begitu, apakah ucapan Tommy ini bisa dibuktikan?

Kakak Nia itu lalu membatalkan niatnya untuk menusuk Tommy. Pisaunya dia amankan namun tetap dalam genggaman. Dia melangkah ke belakang dengan pelan. “Apakah Nia memang salah paham? Kenapa dia bisa nekat begitu?” tanyanya pilu. Emosinya kini tidak setegang tadi.

Tommy menghela napas lega. Dia maju mendekati Kevin yang masih bimbang. “Iya, Kevin. Cewek yang Nia lihat itu adalah sepupu saya. Padahal, saya sudah menjelaskan yang sesungguhnya kepada dia. Itu salah saya juga, sebab tidak ngasih tahu kepada Nia sebelumnya, sehingga jadi salah paham begini. Meskipun begitu, dia tetap saja menuduh kalau saya ini bohong, bahkan minta putus. Saya mesti jelasin gimana lagi?” ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Kevin, menunjukkan simpatiknya.

Kevin menghela napas panjang. Ada penyesalan dalam benaknya. Dia sudah salah paham dan menuduh yang tidak-tidak kepada Tommy. Dia kini dilanda kebimbangan.

“Kata Nia, kamu selingkuh. Awalnya aku juga tidak yakin dengan hal itu. Tapi, tangisan Nia yang membuatku yakin kalau kamu memang selingkuh,” ucap Kevin pelan. Dia kini semakin dilanda kebimbangan. Pelupuk matanya mulai basah.

Bayangan sang adik muncul di benak Kevin. Dia ingin sekali mencegah Nia melakukan tindakan yang bodoh. Dia sangat menyesal, sebab sudah gagal menjadi kakak yang baik bagi Nia. Penyesalan ini semakin mendalam.

“Nia, andaikan kamu masih hidup,” gumam Kevin.

Melihat Kevin yang tengah dilanda kesedihan itu, Tommy sunggingkan senyum. Tiba-tiba, dia mencekal tangan kanan Kevin yang masih menggenggam pisau. Kemudian, ditusukkan ke paha kanan Kevin dengan cepat.

Jleb!

“Aaakh!” pekik Kevin kaget.

Sakit yang amat sangat mulai melanda kakak Nia itu. Dia pun limbung ke lantai.

“Hahaha!” tawa Tommy, “kakak dan adik sama saja. Kalian sama-sama bego! Udah tahu saya memang selingkuh dengan cewek lain, masih mau saja dibohongin. Tapi tak disangka, insting adikmu itu memang tajam juga. Saya juga tak menyangka kalau Nia bisa senekat itu menghabisi nyawanya. Sayang sekali,” katanya dengan memandang sinis Kevin.

“Ka ... ka ... mu men ... jebakku?” ucap Kevin menahan sakit. Dia sama sekali tak menduga dengan kejadian ini.

“Loh, bukannya kamu yang menjebak saya? Kan kamu yang minta ketemuan di sini, di atap bekas bangunan?” tanya Tommy sinis, “ini namanya senjata makan tuan!”

“Sialan kamu, Tom!” maki Kevin. Dia memegang luka di pahanya. Ingin sekali dia mencabut pisau yang menancap itu. Namun, tenaganya melemas akibat sakit yang amat sangat.

Tanpa menunggu waktu lama, kedua tangan Tommy langsung mencekal baju Kevin. Dia menatap kakak mantan kekasihnya itu dengan tajam. “Tadi kamu menginginkan saya mati. Kini gantian, kamu yang mesti mati!”

Kevin panik tatkala Tommy menggotong tubuhnya menuju tepian gedung. Dia ingin sekali melawan, namun tenaganya melemas akibat tusukan di pahanya. Apalagi kedua tangannya dicekal oleh Tommy.

“Apa yang mau kamu lakukan padaku, Bedebah?!” maki Kevin memekik.

Tommy tidak menyahut. Dia tampak kewalahan dengan beban tubuh Kevin. Setelah sampai, dia meletakkan tubuh lemah Kevin di tepian. Kemudian, tanpa basa-basi lagi dia langsung menendang tubuh lemah Kevin itu sekuat tenaga. Tak ayal lagi, Kevin langsung jatuh ke bawah.

“Aaahhh!” pekik Kevin.

Lolongan panjang Kevin yang menggema di langit malam menjadi hilang tatkala tubuhnya menghantam tanah di bawah sana. Melayanglah nyawa Kevin, menyusul adiknya yang sudah tewas duluan.

Di atap, dengan napas kembang-kempis, Tommy menatap tubuh Kevin dengan sinisnya, “So long goodbye,” gumamnya. Lalu, dia pun menghilang di balik kegelapan malam.

-tamat-

image



Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.