image

Kisah satu ini awalnya disatukan dengan kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun, tampaknya ini tidak masuk ke dalam bunuh-bunuhan. Mungkin condongnya ke cinta-cintaan. Entahlah, mungkin kalian yang bisa menilai. Langsung saja selamat membaca.



==========
Malam ini sangat melelahkan. Selesai kuliah, aku langsung meeting dengan anak-anak di klub basket untuk membahas event minggu depan. Apalagi, pak pelatih meminta untuk latihan tambahan. Otomatis, otot-otot kaki dan tanganku lemas semua

Aku sejak kecil memang menyukai basket. Bagiku, basket ini sangat menyenangkan. Ini menjadi keunikan buatku, sebab katanya aku ini lumayan feminim. Biasanya, anak-anak cewek yang menyukai basket kebanyakan tomboy, tapi pengecualian buatku.

Aku ini gadis pada umunya yang melakukan aktivitas biasa juga. Memasak, mengepel, menyapu, membantu ibu, kuliah, dan lain-lain. Hal itu tidak menciutkanku untuk menjadi pemain basket yang handal.

Ayah dan ibuku lumayan kaget ketika aku meminta supaya dimasukkan ke klub basket ketika SMP. Awalnya ayah dan ibuku ingin supaya aku masuk ke klub dance atau model. Namun, aku menolaknya. Aku lebih senang dengan basket, dan itu adalah tantangan bagiku yang feminim ini. Mau tidak mau, aku pun diizinkan masuk klub basket.

Aku melangkah menuju jalanan untuk menyegat taksi. Jam segini sudah tidak ada angkot lagi. Mau tidak mau, aku mesti naik taksi. Aku tak mau pulang kemalaman.

“Linda, mau pulang denganku tidak?” ajak Andi sambil menunggangi Vixion-nya.

Aku menatap ke cowok yang menyapaku itu. Dia juga satu klub denganku. Dan dia adalah kapten tim basket cowok klubku.

“Enggak, Ndi. Aku bisa pulang naik taksi,” jawabku senyum.

Aku pun langsung menyetop sebuah taksi yang melintas di depan kampus. Cepat-cepat aku masuk ke bangku penumpang belakang sebelum Andi mengatakan sesuatu lagi.

“Cepat jalan, Pak,” ucapku kepada si pengemudi.

Taksi pun mulai melaju pelan menjauhi kampus. Aku menoleh ke belakang taksi untuk melihat Andi. Ada kekecewaan dalam wajah lelaki itu. Namun, aku tak peduli. Untung saja dia tidak membuntuti taksi yang kutumpangi.

Selama ini, aku selalu menjauhi Andi sebab dia menyukaiku. Dia sempat mengatakan cintanya padaku, namun kutolak. Aku sama sekali tidak menyukainya meskipun dia baik. Dan anehnya, dia selalu mendekatiku di setiap ada kesempatan. Tampaknya, dia tidak mudah putus asa untuk mendapatkan cintaku.

“Mau ke mana, Neng?” tanya si pengemudi taksi itu.

“Eh, iya. Mangga Dua,” sahutku kelabakan. Aku lupa menyebutkan tujuannya, malah keasyikan melamun tentang Andi.

Taksi mulai melaju cepat. Suasana malam ibu kota begitu tenang. Sangat beda dengan suasana siang di mana kesibukan selalu menghiasi jalanan. Apalagi ditambah dengan kemacetan yang selalu membuatku pusing. Hal ini juga yang membuatku lelah, yakni datang ke kampus pagi-pagi supaya tidak macet dan pulangnya malam.

“Habis pulang kuliah ya, Neng?” tanya si pengemudi taksi sambil menatapku melalui kaca spion dalam.

“Iya, Pak,” sahutku.

“Malam banget pulangnya. Lagipula, badan Neng bau banget. Habis ngapain?” tanyanya lagi dengan cengengesan.

Aku langsung mencium kaos yang kupakai. Baunya agak asem akibat latihan tadi. Pantas saja pengemudi taksi itu mencium bau tidak sedap.

“Tadi habis latihan basket, Pak. Aduh maaf, ya. Jadi gak enak sama Bapak,” ucapku penuh penyesalan.

“Ah, tidak apa-apa, Neng. Malahan saya suka dengan baunya. Agak khas gitu,” sahutnya dengan senyum.

Aku agak ganjil dengan ucapan bapak itu. Mana ada yang suka dengan bau badan asem begini. Pasti ada yang konslet dengan hidungnya. Tapi, aku tidak begitu mempedulikannya. Aku ingin cepat-cepat mandi supaya tidak gatal-gatal akibat peluh ini.

Mobil taksi lalu membelok ke kanan. Hal ini jelas membuatku kaget. “Loh, kok belok, Pak?” kagetku.

“Motong jalan,” ucapnya cepat.

“Motong jalan gimana? Malah tambah jauh,” keluhku.

Si pengemudi taksi tidak menyahut. Dia malah semakin menambah kecepatan dan ugal-ugalan. Semua mobil disalipnya. Hal ini membuatku menunduk ketakutan.

“Hentikan, Pak!” pekikku.

Mobil taksi melaju zig-zag sehingga membuatku agak mual dan pusing. Aku tak tahan lagi dengan semua ini. Aku tak tahu apa yang ingin dilakukan si pengemudi taksi ini. Apakah dia sudah gila?

Si pengemudi menghentikan taksinya tiba-tiba, lalu dia menoleh padaku dengan senyuman sumbang. “Kita sudah sampai,” ucapnya.

Aku bangkit pelan-pelan dan menoleh ke sekeliling. Pusing dan mual masih melekat. Tampaknya ini bukan tujuanku. Di sini hanya ditumbuhi pepohonan lebat dan sepi.

“Di mana ini, Pak?” tanyaku.

Lelaki itu kembali sunggingkan senyum, “Kamu tahu, saya paling suka dengan wewangian alami ini, bau badanmu. Khas tubuh manusia. Tanpa ada balutan minyak wangi sampah atau wewangian buatan lainnya. Saya benci itu. Saya benci dengan kepalsuan. Mendingan gini, meskipun tidak sedap, tapi alami.”

Aku menjadi ketakutan dengan ucapan bapak itu. Aku menduga akan ada sesuatu yang tidak enak menimpaku. “Lantas, mau Bapak apa?” tanyaku was-was.

“Ya gampang saja. Saya ingin kamu menemani saya semalaman.”

Dugaanku tepat. Lelaki itu mempunyai niat jahat kepadaku. Tanpa basa-basi lagi, aku mencoba membuka pintu taksi. Tapi sialnya, pintunya dikunci dan aku tak bisa membukanya.

“Hahaha, mau ke mana, Neng? Di sini sepi loh. Mending temani saya saja.”

Dengan kalap, aku langsung memukul wajah lelaki itu dengan tasku yang isinya buku-buku tebal. Dia pun mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Pasti dia pusing tujuh keliling.

Ini kesempatan. Sekali lagi aku mencoba membuka kunci pintunya. Namun tetap tak mau membuka. Penguncinya pasti sudah di set oleh lelaki itu. Aku pun menendang-nendang pintunya supaya mau membuka. Dan tetap saja hal itu sia-sia belaka.

Aku pun mencondongkan badan ke depan untuk menemukan tombol pengunci otomatis. Sialnya, aku tidak paham soal mobil. Tombol mana yang mesti kutekan?

Tiba-tiba, tangan lelaki itu langsung menjambakku. Kepalaku pun menelungsup ke bangku depan samping kemudi.

“Aaah!” pekikku.

“Cewek sialan! Dibaikin malah melunjak!” bentak lelaki itu penuh emosi.

Napasku mulai sesak akibat dadaku menekan bagian belakang jok. Kepalaku pun semakin pedih akibat jambakan. Namun, aku tidak putus asa. Tanganku mencoba menggapai-gapai benda yang bisa kupegang. Namun, lelaki itu malah menghentakku dengan kencang sehingga aku jatuh menelungsup ke bawah bangku depan mobil. Badanku sakit semua. Tanganku pun menjadi luka akibat mengenai tuas gigi dan pedal gas.

“Hahaha, kini saya bisa memainkanmu sesuka hati,” ucap si pengemudi yang masih duduk di bangku kemudi itu. Dia pun mulai membuka kemejanya. Kakinya menginjak kepalaku supaya aku tak bisa melawan lagi.

Dalam keadaan itu, aku menatap tiga buah pedal di bawah kemudi. Lelaki itu belum mematikan mesin mobil. Muncul ide di kepalaku. Akibat tak tahu tentang mobil, aku ingin menekan tiga pedal itu satu-satu. Semoga saja salah satunya adalah pedal gas.

Dengan sisa tenaga yang kupunya, kutekan pedal yang paling kanan dengan kedua tangan kencang-kencang. Tak diduga, mobil pun melaju tiba-tiba.

Lelaki itu kaget ketika dia sudah melepas bajunya, “Hei, apa yang kamu lakukan?” tanyanya, matanya lalu menatap depan. “Tidaaakkk!” pekiknya tiba-tiba.

DUAAAKKK!!!

Mobil taksi menghantam sesuatu. Aku dan lelaki itu mengalami guncangan. Aku tak bisa apa-apa lagi selanjutnya sebab kedua mataku mulai menutup. Kegelapan menyapaku di suatu tempat yang tak diketahui.

***

Aku membuka mataku pelan-pelan. Kulihat ada lelaki di sampingku. Semakin lama, aku mengenali siapa dia.
“Andi?” gumamku.

“Linda, kamu sudah siuman. Untunglah kamu tidak apa-apa,” sahut pemuda itu senang.

“Memangnya ada kejadian apa tadi?” tanyaku ketika tiap jengkal badanku sakit semua.

“Aku mengikuti taksi yang membawamu. Sebab, aku mencemaskanmu yang pulang malam-malam gak ada yang menemani. Dugaanku tampaknya tepat, si pengemudi taksi itu punya niat jahat sama kamu. Dan, ketika aku mau menolong, taksinya jalan hingga menghantam pohon. Si pengemudinya langsung pingsan akibat matanya kena pecahan kaca mobil. Dan kamu selamat hanya mengalami luka-luka saja. Kini si pengemudi taksi itu sudah diamankan oleh polisi.”

Aku menatap tangan kananku yang dibalut gips dan dimasuki selang infus. Kini aku tahu kalau aku sudah ada di dalam mobil ambulans. Aku kembali menatap Andi di sampingku.

Wajah Andi tampak begitu teduh bagiku. Ah, kenapa aku ini? Kenapa aku mengacuhkan lelaki ini? Kini dia sudah menolongku. Andai saja Andi tak ada waktu itu, mungkin nasibku tidak jelas.

Kenapa aku bisa begitu kejam kepadanya dengan selalu menjauhinya? Aku bodoh. Padahal, dia sangat mencintaiku dengan tulus. Kenapa aku menolaknya?

“Ndi, makasih ya udah nyelametin aku. Kamu memang pahlawan buatku. Maaf aku selalu menjauhimu,” ucapku dengan agak takut-takut.

Andi layangkan senyum kepadaku, “Tidak apa-apa, Lin. Aku selalu siap menolongmu kapan saja.”

Aku mulai menangis. Dengan tangan satunya yang tidak digips, kugenggam tangan Andi dengan kencang. Aku tidak ingin melepaskannya. Bahkan, aku ingin selalu di dekatnya. Aku mulai nyaman di dekatnya. Entah mengapa aku bisa begini. Mungkin, dialah belahan jiwaku.


-tamat-

image

Taksi


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Kisah satu ini awalnya disatukan dengan kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun, tampaknya ini tidak masuk ke dalam bunuh-bunuhan. Mungkin condongnya ke cinta-cintaan. Entahlah, mungkin kalian yang bisa menilai. Langsung saja selamat membaca.



==========
Malam ini sangat melelahkan. Selesai kuliah, aku langsung meeting dengan anak-anak di klub basket untuk membahas event minggu depan. Apalagi, pak pelatih meminta untuk latihan tambahan. Otomatis, otot-otot kaki dan tanganku lemas semua

Aku sejak kecil memang menyukai basket. Bagiku, basket ini sangat menyenangkan. Ini menjadi keunikan buatku, sebab katanya aku ini lumayan feminim. Biasanya, anak-anak cewek yang menyukai basket kebanyakan tomboy, tapi pengecualian buatku.

Aku ini gadis pada umunya yang melakukan aktivitas biasa juga. Memasak, mengepel, menyapu, membantu ibu, kuliah, dan lain-lain. Hal itu tidak menciutkanku untuk menjadi pemain basket yang handal.

Ayah dan ibuku lumayan kaget ketika aku meminta supaya dimasukkan ke klub basket ketika SMP. Awalnya ayah dan ibuku ingin supaya aku masuk ke klub dance atau model. Namun, aku menolaknya. Aku lebih senang dengan basket, dan itu adalah tantangan bagiku yang feminim ini. Mau tidak mau, aku pun diizinkan masuk klub basket.

Aku melangkah menuju jalanan untuk menyegat taksi. Jam segini sudah tidak ada angkot lagi. Mau tidak mau, aku mesti naik taksi. Aku tak mau pulang kemalaman.

“Linda, mau pulang denganku tidak?” ajak Andi sambil menunggangi Vixion-nya.

Aku menatap ke cowok yang menyapaku itu. Dia juga satu klub denganku. Dan dia adalah kapten tim basket cowok klubku.

“Enggak, Ndi. Aku bisa pulang naik taksi,” jawabku senyum.

Aku pun langsung menyetop sebuah taksi yang melintas di depan kampus. Cepat-cepat aku masuk ke bangku penumpang belakang sebelum Andi mengatakan sesuatu lagi.

“Cepat jalan, Pak,” ucapku kepada si pengemudi.

Taksi pun mulai melaju pelan menjauhi kampus. Aku menoleh ke belakang taksi untuk melihat Andi. Ada kekecewaan dalam wajah lelaki itu. Namun, aku tak peduli. Untung saja dia tidak membuntuti taksi yang kutumpangi.

Selama ini, aku selalu menjauhi Andi sebab dia menyukaiku. Dia sempat mengatakan cintanya padaku, namun kutolak. Aku sama sekali tidak menyukainya meskipun dia baik. Dan anehnya, dia selalu mendekatiku di setiap ada kesempatan. Tampaknya, dia tidak mudah putus asa untuk mendapatkan cintaku.

“Mau ke mana, Neng?” tanya si pengemudi taksi itu.

“Eh, iya. Mangga Dua,” sahutku kelabakan. Aku lupa menyebutkan tujuannya, malah keasyikan melamun tentang Andi.

Taksi mulai melaju cepat. Suasana malam ibu kota begitu tenang. Sangat beda dengan suasana siang di mana kesibukan selalu menghiasi jalanan. Apalagi ditambah dengan kemacetan yang selalu membuatku pusing. Hal ini juga yang membuatku lelah, yakni datang ke kampus pagi-pagi supaya tidak macet dan pulangnya malam.

“Habis pulang kuliah ya, Neng?” tanya si pengemudi taksi sambil menatapku melalui kaca spion dalam.

“Iya, Pak,” sahutku.

“Malam banget pulangnya. Lagipula, badan Neng bau banget. Habis ngapain?” tanyanya lagi dengan cengengesan.

Aku langsung mencium kaos yang kupakai. Baunya agak asem akibat latihan tadi. Pantas saja pengemudi taksi itu mencium bau tidak sedap.

“Tadi habis latihan basket, Pak. Aduh maaf, ya. Jadi gak enak sama Bapak,” ucapku penuh penyesalan.

“Ah, tidak apa-apa, Neng. Malahan saya suka dengan baunya. Agak khas gitu,” sahutnya dengan senyum.

Aku agak ganjil dengan ucapan bapak itu. Mana ada yang suka dengan bau badan asem begini. Pasti ada yang konslet dengan hidungnya. Tapi, aku tidak begitu mempedulikannya. Aku ingin cepat-cepat mandi supaya tidak gatal-gatal akibat peluh ini.

Mobil taksi lalu membelok ke kanan. Hal ini jelas membuatku kaget. “Loh, kok belok, Pak?” kagetku.

“Motong jalan,” ucapnya cepat.

“Motong jalan gimana? Malah tambah jauh,” keluhku.

Si pengemudi taksi tidak menyahut. Dia malah semakin menambah kecepatan dan ugal-ugalan. Semua mobil disalipnya. Hal ini membuatku menunduk ketakutan.

“Hentikan, Pak!” pekikku.

Mobil taksi melaju zig-zag sehingga membuatku agak mual dan pusing. Aku tak tahan lagi dengan semua ini. Aku tak tahu apa yang ingin dilakukan si pengemudi taksi ini. Apakah dia sudah gila?

Si pengemudi menghentikan taksinya tiba-tiba, lalu dia menoleh padaku dengan senyuman sumbang. “Kita sudah sampai,” ucapnya.

Aku bangkit pelan-pelan dan menoleh ke sekeliling. Pusing dan mual masih melekat. Tampaknya ini bukan tujuanku. Di sini hanya ditumbuhi pepohonan lebat dan sepi.

“Di mana ini, Pak?” tanyaku.

Lelaki itu kembali sunggingkan senyum, “Kamu tahu, saya paling suka dengan wewangian alami ini, bau badanmu. Khas tubuh manusia. Tanpa ada balutan minyak wangi sampah atau wewangian buatan lainnya. Saya benci itu. Saya benci dengan kepalsuan. Mendingan gini, meskipun tidak sedap, tapi alami.”

Aku menjadi ketakutan dengan ucapan bapak itu. Aku menduga akan ada sesuatu yang tidak enak menimpaku. “Lantas, mau Bapak apa?” tanyaku was-was.

“Ya gampang saja. Saya ingin kamu menemani saya semalaman.”

Dugaanku tepat. Lelaki itu mempunyai niat jahat kepadaku. Tanpa basa-basi lagi, aku mencoba membuka pintu taksi. Tapi sialnya, pintunya dikunci dan aku tak bisa membukanya.

“Hahaha, mau ke mana, Neng? Di sini sepi loh. Mending temani saya saja.”

Dengan kalap, aku langsung memukul wajah lelaki itu dengan tasku yang isinya buku-buku tebal. Dia pun mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Pasti dia pusing tujuh keliling.

Ini kesempatan. Sekali lagi aku mencoba membuka kunci pintunya. Namun tetap tak mau membuka. Penguncinya pasti sudah di set oleh lelaki itu. Aku pun menendang-nendang pintunya supaya mau membuka. Dan tetap saja hal itu sia-sia belaka.

Aku pun mencondongkan badan ke depan untuk menemukan tombol pengunci otomatis. Sialnya, aku tidak paham soal mobil. Tombol mana yang mesti kutekan?

Tiba-tiba, tangan lelaki itu langsung menjambakku. Kepalaku pun menelungsup ke bangku depan samping kemudi.

“Aaah!” pekikku.

“Cewek sialan! Dibaikin malah melunjak!” bentak lelaki itu penuh emosi.

Napasku mulai sesak akibat dadaku menekan bagian belakang jok. Kepalaku pun semakin pedih akibat jambakan. Namun, aku tidak putus asa. Tanganku mencoba menggapai-gapai benda yang bisa kupegang. Namun, lelaki itu malah menghentakku dengan kencang sehingga aku jatuh menelungsup ke bawah bangku depan mobil. Badanku sakit semua. Tanganku pun menjadi luka akibat mengenai tuas gigi dan pedal gas.

“Hahaha, kini saya bisa memainkanmu sesuka hati,” ucap si pengemudi yang masih duduk di bangku kemudi itu. Dia pun mulai membuka kemejanya. Kakinya menginjak kepalaku supaya aku tak bisa melawan lagi.

Dalam keadaan itu, aku menatap tiga buah pedal di bawah kemudi. Lelaki itu belum mematikan mesin mobil. Muncul ide di kepalaku. Akibat tak tahu tentang mobil, aku ingin menekan tiga pedal itu satu-satu. Semoga saja salah satunya adalah pedal gas.

Dengan sisa tenaga yang kupunya, kutekan pedal yang paling kanan dengan kedua tangan kencang-kencang. Tak diduga, mobil pun melaju tiba-tiba.

Lelaki itu kaget ketika dia sudah melepas bajunya, “Hei, apa yang kamu lakukan?” tanyanya, matanya lalu menatap depan. “Tidaaakkk!” pekiknya tiba-tiba.

DUAAAKKK!!!

Mobil taksi menghantam sesuatu. Aku dan lelaki itu mengalami guncangan. Aku tak bisa apa-apa lagi selanjutnya sebab kedua mataku mulai menutup. Kegelapan menyapaku di suatu tempat yang tak diketahui.

***

Aku membuka mataku pelan-pelan. Kulihat ada lelaki di sampingku. Semakin lama, aku mengenali siapa dia.
“Andi?” gumamku.

“Linda, kamu sudah siuman. Untunglah kamu tidak apa-apa,” sahut pemuda itu senang.

“Memangnya ada kejadian apa tadi?” tanyaku ketika tiap jengkal badanku sakit semua.

“Aku mengikuti taksi yang membawamu. Sebab, aku mencemaskanmu yang pulang malam-malam gak ada yang menemani. Dugaanku tampaknya tepat, si pengemudi taksi itu punya niat jahat sama kamu. Dan, ketika aku mau menolong, taksinya jalan hingga menghantam pohon. Si pengemudinya langsung pingsan akibat matanya kena pecahan kaca mobil. Dan kamu selamat hanya mengalami luka-luka saja. Kini si pengemudi taksi itu sudah diamankan oleh polisi.”

Aku menatap tangan kananku yang dibalut gips dan dimasuki selang infus. Kini aku tahu kalau aku sudah ada di dalam mobil ambulans. Aku kembali menatap Andi di sampingku.

Wajah Andi tampak begitu teduh bagiku. Ah, kenapa aku ini? Kenapa aku mengacuhkan lelaki ini? Kini dia sudah menolongku. Andai saja Andi tak ada waktu itu, mungkin nasibku tidak jelas.

Kenapa aku bisa begitu kejam kepadanya dengan selalu menjauhinya? Aku bodoh. Padahal, dia sangat mencintaiku dengan tulus. Kenapa aku menolaknya?

“Ndi, makasih ya udah nyelametin aku. Kamu memang pahlawan buatku. Maaf aku selalu menjauhimu,” ucapku dengan agak takut-takut.

Andi layangkan senyum kepadaku, “Tidak apa-apa, Lin. Aku selalu siap menolongmu kapan saja.”

Aku mulai menangis. Dengan tangan satunya yang tidak digips, kugenggam tangan Andi dengan kencang. Aku tidak ingin melepaskannya. Bahkan, aku ingin selalu di dekatnya. Aku mulai nyaman di dekatnya. Entah mengapa aku bisa begini. Mungkin, dialah belahan jiwaku.


-tamat-

image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.