image

Entah apa sebutan yang tepat untuk tulisan ini. Mungkin ada yang paham dan tidak. Makanya, saya sengaja menggunakan istilah umum supaya bisa dipahami. Saya membuatnya demi memenuhi tantangan teman-teman di komunitas kepenulisan Facebook. Dan tulisan saya dibantai habis-habisan tentang tema dan juga diksinya. Mohon maaf jika isinya tak sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam label. Sebab, ini awal kalinya saya mencobanya. Saya akui, memang ada kesalahan di situ yang tak saya ketahui. Untuk itu, saya mengeditnya lagi untuk diposting di sini. Judulnya juga tadinya bukan ini. Well, selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Bagi tikus, memiliki satu Tuhan di padang ilalang saja tidaklah cukup. Makhluk ini sangat menginginkan Tuhan yang banyak, hingga jumlahnya tak dapat dihitung. Dahaganya tak bisa ditahan lagi. Mulailah makhluk ini mendapatkan Tuhan lagi, lagi, dan lagi.

Padang ini kini tumbuh dengan adanya kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Penghuninya menjadi sangat buta, atau bahkan sengaja dibutakan. Kancil dan badak menjadi tikus, tikus menjadi semakin tikus sejati, dan semuanya mulai datang menghamba. Memakan segala apapun yang ada. Sungai susu diubah jadi tinta. Belaian kesejukan menjadi cambukan panas. Lubang-lubang menganga tak dipedulikan. Tangan-tangan jelata yang meminta malah dihinakan. Semua demi Tuhan yang disembah.

Kini semuanya mesti bisa membuat lubang lebih banyak tanpa ada yang bisa melihat lubang itu. Dengan demikian, maka patutlah Tuhan-Tuhan itu disembah dan dipujanya. Semua sepakat bahwa Tuhan itu segalanya. Tak bisa hidup jika tanpa adanya Tuhan.

Tampaknya, semua mulai saling menjatuhkan, demi mendapatkan banyak Tuhan, demi menghamba. Hingga salah satu tikus yang tampak polos pun ditangkap tanpa adanya belenggu, dengan sopan, penuh senyum, dan penuh kedamaian. Tikus-tikus lain hanya diam, tapi mengulum kemenangan dalam hati. Kancil-kancil sejati sangat bingung, pantaskah tikus itu ditangkap?

Dalam masa penangkapannya, tikus ini tinggal di hotel bintang delapan belas, ditambah pengawas yang mumpuni. Fasilitas lengkap dipenuhi, tentunya dengan bantuan Tuhan yang dipuja. Sangat beda dengan tangkapan jelata lainnya di sebelah. Lusuh, bau, kumal, tak mungkin digenggam sang tikus.

Kini tikus itu mulai memasuki Alam Hisab, di mana semua amalan yang dilakukannya akan dihitung dan diadili. Alam ini sangatlah sejuk, dingin, dan menyenangkan. Tikus tiada takut. Dengan santainya, dasi dan jas kebanggaan selalu melekat. Algojo-algojo dan hakim Alam Hisab juga tampak tenang.

Tikus tahu, Tuhan ada di mana-mana, bahkan di alam ini. Meskipun dia tidak bisa melihatnya, tapi dia yakin jika Tuhannya akan menolongnya.

"Wahai kau yang duduk di sana. Amalanmu sangatlah banyak. Dosamu setinggi gunung, hati busukmu sedalam palung. Apakah semua itu bisa diampuni?" ucap sang hakim dengan wibawanya.

"Tak ada bukti yang menyudutkan jika saya memiliki dosa segunung," sahut tikus santai. Dia selalu senyum kepada kilatan cahaya yang saling menyahut. Bahkan kadang tangannya melambai hanya untuk menyapa. Istilahnya, basa-basi.

Mata sipitnya sangat tenang. Dasinya selalu dibetulkan. Jangan sampai salah model di depan kilatan cahaya. Sang tikus ini sangat cakap mulut. Lidahnya mampu melakukan macam-macam silat. Stok pengolahan kata sudah menumpuk. Bulu-bulunya membuat segan bagi siapapun.

"Ini buktinya," ucap sang algojo menunjukkan semacam map.

Sang tikus menatap map itu. Ingin sekali dia memakannya. Tapi lagi-lagi, dia tahu Tuhan ada di alam ini. Tuhan pasti akan menolongnya. Jadi, gelagatnya tetap santai. Senyumnya selalu melekat. "Kalian tahu jika saya ini bukan tipe yang suka foya-foya. Hidup saya ini sangat apa adanya, tidak suka mewah-mewahan. Gubuk saya saja hanya bisa menampung selusin anak. Sungguh tidak sesuai dengan bukti ini," yakinnya.

Hakim dan algojo hanya mengangguk. Seteguk tuak di depannya disesap masing-masing. Dahaganya memang tak bisa ditahan. Senjata maut yang disiapkan sebelumnya mesti disimpan. Keduanya dipantau oleh Tuhan, dan tak bisa dibantah. Tuhan memang menguasai alam ini.

Sesi tanya jawab dilanjutkan. Lidah sang tikus memang hebat. Ilmu silatnya mengalahkan jagoan debat manapun. Keyakinannya di atas awan. Tuhan memang menolongnya saat itu. Hakim dan algojo-algojo hanya mengangguk-angguk saja.

Hitung-hitung amalan dilakukan setelah lima waktu lamanya. Tikus-tikus wajah polos dan kancil-kancil di belakang menjadi saksi bisu adegan di alam ini. Kilatan cahaya tak henti-hentinya menyahut. Walau alam ini begitu sejuk dan dingin, namun ada sebagian yang sangat kepanasan. Ada yang lelah menyaksikan, bahkan lelah akibat belum makan. Lagi-lagi Tuhan dibutuhkan saat ini.

"Baiklah, saya tegaskan lagi di sini. Saya tidak punya dosa apapun. Kalian salah tangkap. Sungai susu yang menjadi tinta itu bukan salah saya. Lubang-lubang itu juga bukan saya penyebabnya. Saya hanya menjalani kehidupan saya yang apa adanya, walau tampaknya tidak. Yah, dasi dan jas ini hanya untuk kebanggaan saja. Kancil manapun pasti akan senang jika memakainya, apalagi saya," ucap sang tikus.

Algojo dan hakim saling menimang. Keduanya ingin tampak adil di mata kilatan cahaya, walau sesungguhnya timpang. Selang lima helaan napas, sang hakim mengangguk mantap. Keputusan sudah dibuat, yang nyatanya sudah ada jauh sebelumnya.

"Baiklah, mengingat gugatan yang dilayangkan kepada kami, dan jalannya penghakiman ini, kami memutuskan jika Anda bisa bebas. Semua dosa-dosa ditanggung kami. Selamat melanjutkan hidup Anda," lantang sang hakim dengan ketukan.

Suasana mulai gaduh. Kilatan cahaya semakin memekik menyahut-nyahut, seolah tak menyediakan kesempatan untuk lengang sedikit pun. Pihak yang tak setuju dengan si tikus–selalu penuh senyum kemenangan sejak tadi–mendadak panik. Agendanya meleset. Dia tak menduga adanya Tuhan di sana. Kekuatannya masih jauh kalah dibandingkan dengan si tikus. Dia pun memilih meninggalkan Alam Hisab, ditemani kancil-kancil jelatanya.

Sedangkan kancil-kancil jelata lainnya hanya bisa dibuai takjub. Apakah memang ada Tuhan di sini, yang sejak tadi diduga-duga? Jika memang, sungguh hebat kekuatan Tuhan. Dalam benaknya, apakah memang jika si tikus itu dibantu Tuhan? Tak ada yang tahu pasti selain si tikus itu dan Tuhannya. Dan yang pastinya, tak mungkin bisa kancil-kancil jelata itu menyicipi kuasa Tuhan, yang ada hanya bisa menjadi budak Tuhan.

Kini tikus mulai memasang wajah kemenangan. Pengawal algojo yang sebelumnya kini diubah menjadi pengawal singa putih. Baginya, pengawal lokal sudah tak mumpuni lagi. Dia pun meninggalkan Alam Hisab yang penuh dengan Tuhan ini. Kini aksinya akan dilanjutkan. Sungai tinta bisa dia buat menjadi semakin pekat. Hijaunya padang akan semakin dibuat gundul dan tandus. Kekuatan Tuhan sudah di genggaman. Dasi dan jas kebanggan diusap-usap. Bulu-bulu lebat ditonjolkan. Hidupnya kini mesti lebih apa adanya. Usahakan jangan menunjukan kemewahan sebelum padang ilalang ini dipenuhi lubang.

"Inilah saya," bangganya.

Langkahnya kemudian dicegat oleh sang hakim, "Jangan lupakan hidangan penutup mulutnya. Kami bisa menjebloskanmu lagi kapan saja."

"Siap. Tenang saja."

-tamat-


image

Tikus Pemuja Tuhan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

image

Entah apa sebutan yang tepat untuk tulisan ini. Mungkin ada yang paham dan tidak. Makanya, saya sengaja menggunakan istilah umum supaya bisa dipahami. Saya membuatnya demi memenuhi tantangan teman-teman di komunitas kepenulisan Facebook. Dan tulisan saya dibantai habis-habisan tentang tema dan juga diksinya. Mohon maaf jika isinya tak sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam label. Sebab, ini awal kalinya saya mencobanya. Saya akui, memang ada kesalahan di situ yang tak saya ketahui. Untuk itu, saya mengeditnya lagi untuk diposting di sini. Judulnya juga tadinya bukan ini. Well, selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Bagi tikus, memiliki satu Tuhan di padang ilalang saja tidaklah cukup. Makhluk ini sangat menginginkan Tuhan yang banyak, hingga jumlahnya tak dapat dihitung. Dahaganya tak bisa ditahan lagi. Mulailah makhluk ini mendapatkan Tuhan lagi, lagi, dan lagi.

Padang ini kini tumbuh dengan adanya kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Penghuninya menjadi sangat buta, atau bahkan sengaja dibutakan. Kancil dan badak menjadi tikus, tikus menjadi semakin tikus sejati, dan semuanya mulai datang menghamba. Memakan segala apapun yang ada. Sungai susu diubah jadi tinta. Belaian kesejukan menjadi cambukan panas. Lubang-lubang menganga tak dipedulikan. Tangan-tangan jelata yang meminta malah dihinakan. Semua demi Tuhan yang disembah.

Kini semuanya mesti bisa membuat lubang lebih banyak tanpa ada yang bisa melihat lubang itu. Dengan demikian, maka patutlah Tuhan-Tuhan itu disembah dan dipujanya. Semua sepakat bahwa Tuhan itu segalanya. Tak bisa hidup jika tanpa adanya Tuhan.

Tampaknya, semua mulai saling menjatuhkan, demi mendapatkan banyak Tuhan, demi menghamba. Hingga salah satu tikus yang tampak polos pun ditangkap tanpa adanya belenggu, dengan sopan, penuh senyum, dan penuh kedamaian. Tikus-tikus lain hanya diam, tapi mengulum kemenangan dalam hati. Kancil-kancil sejati sangat bingung, pantaskah tikus itu ditangkap?

Dalam masa penangkapannya, tikus ini tinggal di hotel bintang delapan belas, ditambah pengawas yang mumpuni. Fasilitas lengkap dipenuhi, tentunya dengan bantuan Tuhan yang dipuja. Sangat beda dengan tangkapan jelata lainnya di sebelah. Lusuh, bau, kumal, tak mungkin digenggam sang tikus.

Kini tikus itu mulai memasuki Alam Hisab, di mana semua amalan yang dilakukannya akan dihitung dan diadili. Alam ini sangatlah sejuk, dingin, dan menyenangkan. Tikus tiada takut. Dengan santainya, dasi dan jas kebanggaan selalu melekat. Algojo-algojo dan hakim Alam Hisab juga tampak tenang.

Tikus tahu, Tuhan ada di mana-mana, bahkan di alam ini. Meskipun dia tidak bisa melihatnya, tapi dia yakin jika Tuhannya akan menolongnya.

"Wahai kau yang duduk di sana. Amalanmu sangatlah banyak. Dosamu setinggi gunung, hati busukmu sedalam palung. Apakah semua itu bisa diampuni?" ucap sang hakim dengan wibawanya.

"Tak ada bukti yang menyudutkan jika saya memiliki dosa segunung," sahut tikus santai. Dia selalu senyum kepada kilatan cahaya yang saling menyahut. Bahkan kadang tangannya melambai hanya untuk menyapa. Istilahnya, basa-basi.

Mata sipitnya sangat tenang. Dasinya selalu dibetulkan. Jangan sampai salah model di depan kilatan cahaya. Sang tikus ini sangat cakap mulut. Lidahnya mampu melakukan macam-macam silat. Stok pengolahan kata sudah menumpuk. Bulu-bulunya membuat segan bagi siapapun.

"Ini buktinya," ucap sang algojo menunjukkan semacam map.

Sang tikus menatap map itu. Ingin sekali dia memakannya. Tapi lagi-lagi, dia tahu Tuhan ada di alam ini. Tuhan pasti akan menolongnya. Jadi, gelagatnya tetap santai. Senyumnya selalu melekat. "Kalian tahu jika saya ini bukan tipe yang suka foya-foya. Hidup saya ini sangat apa adanya, tidak suka mewah-mewahan. Gubuk saya saja hanya bisa menampung selusin anak. Sungguh tidak sesuai dengan bukti ini," yakinnya.

Hakim dan algojo hanya mengangguk. Seteguk tuak di depannya disesap masing-masing. Dahaganya memang tak bisa ditahan. Senjata maut yang disiapkan sebelumnya mesti disimpan. Keduanya dipantau oleh Tuhan, dan tak bisa dibantah. Tuhan memang menguasai alam ini.

Sesi tanya jawab dilanjutkan. Lidah sang tikus memang hebat. Ilmu silatnya mengalahkan jagoan debat manapun. Keyakinannya di atas awan. Tuhan memang menolongnya saat itu. Hakim dan algojo-algojo hanya mengangguk-angguk saja.

Hitung-hitung amalan dilakukan setelah lima waktu lamanya. Tikus-tikus wajah polos dan kancil-kancil di belakang menjadi saksi bisu adegan di alam ini. Kilatan cahaya tak henti-hentinya menyahut. Walau alam ini begitu sejuk dan dingin, namun ada sebagian yang sangat kepanasan. Ada yang lelah menyaksikan, bahkan lelah akibat belum makan. Lagi-lagi Tuhan dibutuhkan saat ini.

"Baiklah, saya tegaskan lagi di sini. Saya tidak punya dosa apapun. Kalian salah tangkap. Sungai susu yang menjadi tinta itu bukan salah saya. Lubang-lubang itu juga bukan saya penyebabnya. Saya hanya menjalani kehidupan saya yang apa adanya, walau tampaknya tidak. Yah, dasi dan jas ini hanya untuk kebanggaan saja. Kancil manapun pasti akan senang jika memakainya, apalagi saya," ucap sang tikus.

Algojo dan hakim saling menimang. Keduanya ingin tampak adil di mata kilatan cahaya, walau sesungguhnya timpang. Selang lima helaan napas, sang hakim mengangguk mantap. Keputusan sudah dibuat, yang nyatanya sudah ada jauh sebelumnya.

"Baiklah, mengingat gugatan yang dilayangkan kepada kami, dan jalannya penghakiman ini, kami memutuskan jika Anda bisa bebas. Semua dosa-dosa ditanggung kami. Selamat melanjutkan hidup Anda," lantang sang hakim dengan ketukan.

Suasana mulai gaduh. Kilatan cahaya semakin memekik menyahut-nyahut, seolah tak menyediakan kesempatan untuk lengang sedikit pun. Pihak yang tak setuju dengan si tikus–selalu penuh senyum kemenangan sejak tadi–mendadak panik. Agendanya meleset. Dia tak menduga adanya Tuhan di sana. Kekuatannya masih jauh kalah dibandingkan dengan si tikus. Dia pun memilih meninggalkan Alam Hisab, ditemani kancil-kancil jelatanya.

Sedangkan kancil-kancil jelata lainnya hanya bisa dibuai takjub. Apakah memang ada Tuhan di sini, yang sejak tadi diduga-duga? Jika memang, sungguh hebat kekuatan Tuhan. Dalam benaknya, apakah memang jika si tikus itu dibantu Tuhan? Tak ada yang tahu pasti selain si tikus itu dan Tuhannya. Dan yang pastinya, tak mungkin bisa kancil-kancil jelata itu menyicipi kuasa Tuhan, yang ada hanya bisa menjadi budak Tuhan.

Kini tikus mulai memasang wajah kemenangan. Pengawal algojo yang sebelumnya kini diubah menjadi pengawal singa putih. Baginya, pengawal lokal sudah tak mumpuni lagi. Dia pun meninggalkan Alam Hisab yang penuh dengan Tuhan ini. Kini aksinya akan dilanjutkan. Sungai tinta bisa dia buat menjadi semakin pekat. Hijaunya padang akan semakin dibuat gundul dan tandus. Kekuatan Tuhan sudah di genggaman. Dasi dan jas kebanggan diusap-usap. Bulu-bulu lebat ditonjolkan. Hidupnya kini mesti lebih apa adanya. Usahakan jangan menunjukan kemewahan sebelum padang ilalang ini dipenuhi lubang.

"Inilah saya," bangganya.

Langkahnya kemudian dicegat oleh sang hakim, "Jangan lupakan hidangan penutup mulutnya. Kami bisa menjebloskanmu lagi kapan saja."

"Siap. Tenang saja."

-tamat-


image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.