Jomblophobia
Awalnya tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan teman-teman di Facebook, dan mendapat cukup bantaian. Untuk diposting di sini, aku ingin mengeditnya, tapi otak sudah mulai jebol. Jadi saya posting apa adanya saja. Well, selamat membaca dan tinggalkan komennya.


==========

Kisah ini mungkin tidak penting bagi siapa pun. Tetapi bagiku, ini penting banget. Kayak melangkah di jalanan yang panas, dan aku memakai payung. Tentu itu penting bagiku dan tidak bagi yang lain. Oke, kehidupanku saat SMA ini sangatlah mulus. Cowok mana pun akan jealous dengan kehidupanku, yakni selalu dikelilingi oleh banyak cewek. Itu pastinya impian semua cowok, guys. Jika cowok itu sehat, pasti bakal ngebet banget. Kecuali cowok gay tentunya.

"Hai, Elqi. Mau ke mana? Sini aku temenin," sapa Demia ketika aku mau ke kantin.


"Hai, Elqi. Mau ke kantin, kan? Sini sama aku aja," kata Mona sambil menggandeng tanganku. Kemudian datang cewek-cewek lainnya.

Lusinan cewek di sekolah ini selalu lomba-lomba untuk dekat denganku. Sudah kayak seleb saja. Aku dibuat bingung dengannya. Namun, aku hanya memilih cewek yang selalu ada di hati. Siapa lagi kalau bukan Tika.


"Kamu ngapain sih ladenin cewek-cewek genit gitu? Gak tahu apa kalau aku tuh cewek kamu? Ditungguin malah asyik sama cewek-cewek gatel!" sungutnya begitu aku tiba di kantin. Aku pun lekas meninggalkan cewek-cewek yang selalu lengket sejak tadi. Kini fokus ke Tika supaya dia tidak sebal lagi.


Yah, keadaan ini memang yang selalu kuinginkan. Sebagai cowok yang memiliki phobia sama yang namanya 'jomblo', aku mesti dekat dengan semua cewek dan menjadikan salah satunya sebagai kekasih. Jadi, begitu putus dengan sang kekasih, aku bisa dengan cepat mendapatkan penggantinya.


Aku kejam? Memang aku kejam. Dunia ini juga begitu kejam. Bayangkan saja jika tidak begitu, aku bakalan menanggung beban yang sangat sulit saat menjomblo. Keadaan itu bagaikan hidup tanpa makan. Tubuh akan melemas, kayak nggak ada semangat hidup. Jomblo sama saja dengan miskin, meskipun aku memang miskin sih. Tapi aku nggak mau. Siapa pun juga pasti nggak mau.

Meskipun begitu, aku juga bukan tipe cowok playboy yang punya banyak pasangan. Aku tetap akan memilih satu cewek sebagai kekasih. Sisanya? Sebagai cadangan saja kalau-kalau putus.


Awalnya aku nggak punya kelainan macam ini. Kehidupanku fine-fine saja. Namun, sejak menjomblo semuanya beda. Tak ada lagi yang namanya ditemani cewek, sayang-sayangan, mengucapkan selamat pagi, selamat bobo, semangat, dan lain-lain. Aku nggak kuasa menjalani itu walau cuma sejam.


Semua ini sudah dimulai sejak aku duduk di bangku kelas 3 SMP setahun lalu. Setelah belasan tahun lamanya menjomblo sejak bayi, aku pun bisa memiliki cewek yang kusuka. Namanya Wanda, anak kelas sebelah. Dia lumayan baik dan cantik. Hati ini bagaikan di padang bunga tanpa ujung. Betapa indahnya.


"Wah, kamu bisa jadian sama Wanda. Hebat juga," puji Jojo, teman sekelasku, "bokapnya kan kaya. Apa kamu mau manfaatin dia, ya?" 


"Hush! Hati-hati kalau ngomong! Aku ini cinta dia dengan setulus hati. Kamu tahu kan kalau aku susah banget dapetin dia. Lama pedekate, lalu nembak, dia pun mau. Itu suatu hal yang indah selama hidupku yang sepi ini," sahutku.


"Lebay!"


Aku hanya ketawa saja. Ah, masa bodoh dibilang lebay. Cinta ini sudah membutakan. Mau dikata apa, cinta kan kami yang menjalani. 


Mataku menangkap sosok Wanda sedang jalan sama teman sekelasnya saat pulang sekolah. Aku pun lantas meninggalkan Jojo untuk mendekati cewek kesayanganku. Tak kupedulikan panggilan teman sebangku yang suka menyontek itu. Lagipula, dia kan sedang menunggu jemputan ayahnya. Maklum, anak kaya.


"Wanda, kamu mau pulang, kan? Aku temani, ya," kataku sambil jalan di sampingnya. Meskipun aku tak punya mobil atau apapun yang bisa membawa dia ke mana-mana, dia tidak ambil pusing.

"Eh, Elqi. Kamu selalu membuat kejutan. Makasih ya kalau kamu mau nemenin aku pulang. Tapi aku udah janjian sama Dede mau ke mall buat beli komik. Kita ke sana mau naik taksi," sahutnya sambil menoleh ke cewek di sebelahnya.

"Aku ikut juga, deh. Aku bisa ikut matung buat ongkos taksinya, kok. Aku kan cowok kamu, masa nggak boleh ikut," pintaku. Sesungguhnya aku mau menanggung semua ongkos taksinya. Tapi anak miskin kayak aku bisa apa?


Wanda dan Dede saling menatap. Kayaknya keduanya sedang meminta pendapat masing-masing apakah aku diizinkan ikut atau enggak. Tapi aku yakin kalau aku pasti boleh ikut. Mustahil Wanda meninggalkanku.

"Ya sudah. Boleh."

Tuh kan, apa aku bilang? Dia nggak mungkin meninggalkanku. Wanda sempat janji ketika kami jadian, kalau dia tidak akan meninggalkanku, bahkan ketika lulus nanti. Aku juga sama. Makanya aku sangat yakin dengannya.


Di mall, dia tampak asyik banget sama Dede untuk hunting komik. Aku sudah bagaikan 'kambing conge' saja di sini, kayak tak dianggap ada. Memang, aku nggak begitu suka dengan komik atau manga. Aku lebih suka dengan animenya. Itu lebih asyik sebab ada audio visualnya, ketimbang membaca yang sangat membosankan. Dan Wanda tahu tentang hal itu. Alhasil, di mall ini aku sudah kayak satpam saja buat Wanda dan Dede. Tapi tak apalah. Yang penting aku bisa melihat cewek kesayanganku ini bahagia.

***

Malamnya, aku teleponan sama Wanda. Ah, kayaknya nggak ada habisnya waktu untuk nggak komunikasian. Bukankah ini yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan? Komunikasi itu penting.


"Wanda, kamu teleponan sama siapa? Tugas sekolah kamu udah selesai belum?" 


Ada sebuah bentakan wanita di tempatnya Wanda. Apakah itu ibunya?


"Iya, Ma!" sahut Wanda lantang, "Elqi, teleponnya udahan dulu ya. Ada mama, nih," lanjutnya dengan bisikan.


"Ya, udah. Nggak apa-apa. Nanti bobo yang nyenyak, ya. Good night," sahutku. Agak sedih juga sebab teleponnya nggak lama. Tapi, mau bagaimana lagi.


Sambungan telepon diputus tanpa ada sahutan. Mungkin dia panik, atau apa, entahlah.

***


"Elqi, tampaknya hubungan ini nggak bisa kita lanjutin," ucap Wanda dengan wajah sedih.

Aku kaget dengan kata-katanya. Belum lama tiba di sekolah saat pagi, Wanda sudah datang menemuiku di kelas dan langsung mengatakan hal itu. Ada apa dengannya?

"Maksudmu kita putus? Kenapa, Wanda?" tanyaku bingung.


"Semalam, aku dibilangin sama mamaku. Waktu ke mall itu sesungguhnya aku lagi bolos les. Dan itu ketahuan sama mama. Katanya dia dapat info itu lewat temannya yang kebetulan ada di mall juga. Dan dia lihatnya aku sama kamu. Kamu pasti tahu apa selanjutnya," katanya setengah menangis.

Ya, aku paham apa maksudnya. Kujawab dengan anggukan kepala saja. Mulut hanya cuma bisa diam saja. Nggak ada usaha buat ngomong sepatah dua patah kata pun. 


Apakah Wanda melupakan janjinya saat jadian? Mustahil dia lupa. Kalau pun dia sibuk dengan les, aku juga kan bisa ikut bantu. Seenggaknya, aku nggak bakal ganggu dia saat les. Aku akan memaklumi keadaannya. Apa yang ada di otaknya? Aku bingung.


Aku akui kalau inilah yang namanya syok. Kayak diajak melayang ke atas awan sama Wanda, lalu tiba-tiba dia menjatuhkanku begitu saja. Pasti akan sakit sekali.


"Maaf ya, Elqi. Lagian, aku juga mau fokus dulu buat Ujian Nasional. Jadi aku akan banyak disibukin sama les-les," ucapnya, lalu meninggalkanku. Aku tak sempat menyahut. Mata ini hanya bisa melihat punggungnya yang menjauhiku, lalu hilang di balik pintu kelas. Kayak ada beban di situ.

Apakah dunia kiamat? Mungkin iya. Sebab, setelah Wanda memutuskan hubungan, aku enggak ada semangat lagi. Sekolah pun ogah-ogahan, sebab ujung-ujungnya pasti akan ketemu dia lagi. Beginilah pahitnya kehidupan si jomblo. Meskipun statusnya sama ketika sebelum aku jadian sama Wanda, tapi keadaanya beda. Aku masih cinta sama gadis manis itu. Sosoknya nggak bisa dilupakan.


Tapi aku mesti bisa move on. Status jomblo ini jangan sampai lama-lama. Jomblo itu nggak enak. Aku mesti menemukan sosok pengganti Wanda, sebelum UN tiba. Nggak ada untungnya aku galau melulu. Maka, mulailah aku pedekate sama cewek-cewek di sekolah. Aku pilih-pilih mana yang cocok buatku. 


Teman-teman cowok menganggap aku gila. Memang, aku gila oleh cinta. Di usiaku yang masih labil begini, pasti ingin menemukan cintanya. Bahkan Jojo pun sempat mengingatkanku.


"Elqi, kamu boleh pedekate sama cewek-cewek di sekolah ini buat dijadiin cewekmu. Tapi inget, jangan deketin Dede di kelas sebelah. Dia itu gebetanku. Aku suka sama dia sejak kelas 1," katanya dengan nada kesungguhan.


"Siapa cepat, dia dapat. Lagian kenapa nggak kamu tembak-tembak?" balasku meledeknya.


"A ... a ... aku malu buat nembaknya, Qi. Kamu kan tahu aku pemalu," sahutnya agak bimbang.


Aha, keadaan ini bisa memotivasiku. Dengan adanya saingan, aku semakin semangat. Lagipula jika dilihat-lihat, Dede itu lumayan cantik juga. Sebelas dua belas dengan Wanda, meskipun Dede enggak sekaya Wanda, tapi sudah lumayan.


Kugunakan teknik yang sama dengan ketika aku mendekati Wanda. Dan hasilnya, Dede kudapatkan, Jojo pun menjauhiku.

***


Status jomblo pun kembali datang ketika aku lulus SMP, "Elqi, aku mau ikut tante ke Kalimantan setelah lulus ini. Jadi, aku mau sekolah SMA di sana. Maaf ya, kayaknya kita nggak bisa lanjutin hubungan ini," ucap Dede dengan mimik wajah dan nada yang sama dengan Wanda ketika itu.


Ah, mungkin ini kiamat yang kedua. Kenapa mesti cewek-cewek itu duluan yang memutuskan hubungan? Nggak cool banget. Dua kali sudah aku mengalami ini. Dan aku pun kembali dalam ketidaksemangatan lagi. Bahkan aku nggak mau lanjutin sekolah lagi. Buat apa sekolah jika masih jomblo?


Setelah lulus aku hanya menghabiskan waktu main game saja. Seenggaknya, ini bisa menghilangkan kegalauan akibat jomblo ini. Tapi, ayah dan ibu selalu mengomeli. Hasilnya, aku enggak diizinkan main game lagi kalau nggak mau sekolah.


"Hai, Elqi. Galau melulu habis lulus, tuh."


Si Jojo tiba-tiba saja datang ke tempat tinggalku. Tumben banget anak itu. Sejak jadian sama Dede, kami nggak saling sapa, kini setelah putus, dia datang kayak sales penjual kacang tanah. Mau apa dia?


"Jadi kamu yakin nggak mau lanjutin sekolah, Qi?" tanyanya.


Aku mengangguk mantap, "Iya, walau seminggu penuh aku diomelin habis-habisan sama ayah dan ibu, aku tetap nggak mau sekolah lagi. Aku jadi takut sama status kejombloan ini. Kalau aku dapetin cewek lagi, ada kemungkinan juga aku jadi jomblo lagi. Dan itu sangat sangat menakutkan. Ini aja aku kayak kesiksa banget. Nggak ada yang bilang met bobo, met makan, sayang-sayangan, atau apalah," celotehku.


Jojo ketawa lepas, "Kamu ini lucu banget. Kalau takut jomblo ya mesti ngebet buat dapetin cewek lagi, dong."


Aku menggeleng. Buat apa dapat cewek lagi kalau ujung-ujungnya bakal menjomblo? Di usia yang masih labil begini sangat gampang banget buat putus nyambung putus nyambung.

"Aku punya kesepakatan," kata Jojo setelah kami saling diam.


"Apa itu?"


"Aku bisa bikin kamu enggak bakal menjomblo lagi. Kehidupanmu akan dikelilingi sama cewek-cewek. Jadi, begitu kamu putus, kamu bakal cepat dapatin penggantinya. Dan aku bisa jamin kalau sainganmu sedikit bahkan mungkin nggak ada."


"Bagaimana bisa?" tanyaku.

Jojo layangkan senyuman, "Kamu masuk ke semacam sekolah khusus, kamu boleh pakai aset milikku kayak mobil, ponsel, pakaian, dan lain-lain buat nunjukkin kalau kamu itu kaya. Cewek mana yang nggak kesemsem sama cowok kaya? Pasti cewek-cewek itu bakal lengket sama kamu. Nah, pilihlah salah satu. Kalau ada kemungkinan putus kan kamu bisa dapetin yang lain lagi. Sewaktu SMP aja kamu bisa begitu masa pas SMA nggak bisa?"

Aku agak kaget juga dengan ucapan Jojo ini. Memang ucapannya itu nggak salah. Sewaktu SMP saja aku bisa mendapatkan Dede dan Wanda, bukan nggak mungkin jika aku bisa lakukan hal yang sama sewaktu SMA.


Pembahasan ini cukup membuat lupa kalau kami sempat enggak saling sapa akibat cewek. Mungkin Jojo sudah melupakan Dede. Apakah dia tahu kalau Dede ke Kalimantan.

"Lalu, untungnya buat kamu apa?" tanyaku, sebab ada keanehan di sini.

"Aku memilih buat homeschooling. Sebab, aku bisa sekolah kapan aja semauku. Nah, kalau begitu otomatis aku nggak bakal bisa punya temen-temen cewek, apalagi dengan sifatku yang pemalu ini. Makanya, aku minta kamu buat pilihin salah satu teman cewek kamu di SMA buat jadi cewekku. Gimana? Gampang banget, kan?"


Oh My God! Temanku ini bisa punya otak yang begini juga. Bisa-bisanya dia culas begitu. Dia seolah sombong menunjukkan kekayaannya dan memanfaatkanku. Tapi, ada untungnya juga sih kalau aku bisa menggunakan semua aset miliknya. Bayangkan saja, aku bisa naik mobil mahal, pakai ponsel yang mahal pula. Ah, senang banget.

"Oke. Lalu pendapatmu aku masuk ke sekolah mana enaknya yang nggak bakal punya saingan?" tanyaku.


"Di Jalan Setia Budi ada satu sekolah yang kebanyakan siswanya cewek."


Aku menebak-nebak nama sekolah yang dimaksud. Kalau tidak salah, memang ada sekolah swasta di situ. Bola mataku lalu membulat. "SMK Kecantikan maksudmu?" kagetku.

Dia mengangguk mantap.


***


Begitulah kisahku yang menjelaskan kenapa nasib aku bisa baik begini. Mungkin enggak penting bagi yang lain, tapi bagiku ini penting. Kini Jojo bisa mendapatkan cewek yang aku pilih, dan aku pun bisa hidup dikelilingi cewek-cewek tanpa takut jomblo lagi. Mantap!



-tamat-

Image


Jomblophobia


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."


Jomblophobia
Awalnya tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan teman-teman di Facebook, dan mendapat cukup bantaian. Untuk diposting di sini, aku ingin mengeditnya, tapi otak sudah mulai jebol. Jadi saya posting apa adanya saja. Well, selamat membaca dan tinggalkan komennya.


==========

Kisah ini mungkin tidak penting bagi siapa pun. Tetapi bagiku, ini penting banget. Kayak melangkah di jalanan yang panas, dan aku memakai payung. Tentu itu penting bagiku dan tidak bagi yang lain. Oke, kehidupanku saat SMA ini sangatlah mulus. Cowok mana pun akan jealous dengan kehidupanku, yakni selalu dikelilingi oleh banyak cewek. Itu pastinya impian semua cowok, guys. Jika cowok itu sehat, pasti bakal ngebet banget. Kecuali cowok gay tentunya.

"Hai, Elqi. Mau ke mana? Sini aku temenin," sapa Demia ketika aku mau ke kantin.


"Hai, Elqi. Mau ke kantin, kan? Sini sama aku aja," kata Mona sambil menggandeng tanganku. Kemudian datang cewek-cewek lainnya.

Lusinan cewek di sekolah ini selalu lomba-lomba untuk dekat denganku. Sudah kayak seleb saja. Aku dibuat bingung dengannya. Namun, aku hanya memilih cewek yang selalu ada di hati. Siapa lagi kalau bukan Tika.


"Kamu ngapain sih ladenin cewek-cewek genit gitu? Gak tahu apa kalau aku tuh cewek kamu? Ditungguin malah asyik sama cewek-cewek gatel!" sungutnya begitu aku tiba di kantin. Aku pun lekas meninggalkan cewek-cewek yang selalu lengket sejak tadi. Kini fokus ke Tika supaya dia tidak sebal lagi.


Yah, keadaan ini memang yang selalu kuinginkan. Sebagai cowok yang memiliki phobia sama yang namanya 'jomblo', aku mesti dekat dengan semua cewek dan menjadikan salah satunya sebagai kekasih. Jadi, begitu putus dengan sang kekasih, aku bisa dengan cepat mendapatkan penggantinya.


Aku kejam? Memang aku kejam. Dunia ini juga begitu kejam. Bayangkan saja jika tidak begitu, aku bakalan menanggung beban yang sangat sulit saat menjomblo. Keadaan itu bagaikan hidup tanpa makan. Tubuh akan melemas, kayak nggak ada semangat hidup. Jomblo sama saja dengan miskin, meskipun aku memang miskin sih. Tapi aku nggak mau. Siapa pun juga pasti nggak mau.

Meskipun begitu, aku juga bukan tipe cowok playboy yang punya banyak pasangan. Aku tetap akan memilih satu cewek sebagai kekasih. Sisanya? Sebagai cadangan saja kalau-kalau putus.


Awalnya aku nggak punya kelainan macam ini. Kehidupanku fine-fine saja. Namun, sejak menjomblo semuanya beda. Tak ada lagi yang namanya ditemani cewek, sayang-sayangan, mengucapkan selamat pagi, selamat bobo, semangat, dan lain-lain. Aku nggak kuasa menjalani itu walau cuma sejam.


Semua ini sudah dimulai sejak aku duduk di bangku kelas 3 SMP setahun lalu. Setelah belasan tahun lamanya menjomblo sejak bayi, aku pun bisa memiliki cewek yang kusuka. Namanya Wanda, anak kelas sebelah. Dia lumayan baik dan cantik. Hati ini bagaikan di padang bunga tanpa ujung. Betapa indahnya.


"Wah, kamu bisa jadian sama Wanda. Hebat juga," puji Jojo, teman sekelasku, "bokapnya kan kaya. Apa kamu mau manfaatin dia, ya?" 


"Hush! Hati-hati kalau ngomong! Aku ini cinta dia dengan setulus hati. Kamu tahu kan kalau aku susah banget dapetin dia. Lama pedekate, lalu nembak, dia pun mau. Itu suatu hal yang indah selama hidupku yang sepi ini," sahutku.


"Lebay!"


Aku hanya ketawa saja. Ah, masa bodoh dibilang lebay. Cinta ini sudah membutakan. Mau dikata apa, cinta kan kami yang menjalani. 


Mataku menangkap sosok Wanda sedang jalan sama teman sekelasnya saat pulang sekolah. Aku pun lantas meninggalkan Jojo untuk mendekati cewek kesayanganku. Tak kupedulikan panggilan teman sebangku yang suka menyontek itu. Lagipula, dia kan sedang menunggu jemputan ayahnya. Maklum, anak kaya.


"Wanda, kamu mau pulang, kan? Aku temani, ya," kataku sambil jalan di sampingnya. Meskipun aku tak punya mobil atau apapun yang bisa membawa dia ke mana-mana, dia tidak ambil pusing.

"Eh, Elqi. Kamu selalu membuat kejutan. Makasih ya kalau kamu mau nemenin aku pulang. Tapi aku udah janjian sama Dede mau ke mall buat beli komik. Kita ke sana mau naik taksi," sahutnya sambil menoleh ke cewek di sebelahnya.

"Aku ikut juga, deh. Aku bisa ikut matung buat ongkos taksinya, kok. Aku kan cowok kamu, masa nggak boleh ikut," pintaku. Sesungguhnya aku mau menanggung semua ongkos taksinya. Tapi anak miskin kayak aku bisa apa?


Wanda dan Dede saling menatap. Kayaknya keduanya sedang meminta pendapat masing-masing apakah aku diizinkan ikut atau enggak. Tapi aku yakin kalau aku pasti boleh ikut. Mustahil Wanda meninggalkanku.

"Ya sudah. Boleh."

Tuh kan, apa aku bilang? Dia nggak mungkin meninggalkanku. Wanda sempat janji ketika kami jadian, kalau dia tidak akan meninggalkanku, bahkan ketika lulus nanti. Aku juga sama. Makanya aku sangat yakin dengannya.


Di mall, dia tampak asyik banget sama Dede untuk hunting komik. Aku sudah bagaikan 'kambing conge' saja di sini, kayak tak dianggap ada. Memang, aku nggak begitu suka dengan komik atau manga. Aku lebih suka dengan animenya. Itu lebih asyik sebab ada audio visualnya, ketimbang membaca yang sangat membosankan. Dan Wanda tahu tentang hal itu. Alhasil, di mall ini aku sudah kayak satpam saja buat Wanda dan Dede. Tapi tak apalah. Yang penting aku bisa melihat cewek kesayanganku ini bahagia.

***

Malamnya, aku teleponan sama Wanda. Ah, kayaknya nggak ada habisnya waktu untuk nggak komunikasian. Bukankah ini yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan? Komunikasi itu penting.


"Wanda, kamu teleponan sama siapa? Tugas sekolah kamu udah selesai belum?" 


Ada sebuah bentakan wanita di tempatnya Wanda. Apakah itu ibunya?


"Iya, Ma!" sahut Wanda lantang, "Elqi, teleponnya udahan dulu ya. Ada mama, nih," lanjutnya dengan bisikan.


"Ya, udah. Nggak apa-apa. Nanti bobo yang nyenyak, ya. Good night," sahutku. Agak sedih juga sebab teleponnya nggak lama. Tapi, mau bagaimana lagi.


Sambungan telepon diputus tanpa ada sahutan. Mungkin dia panik, atau apa, entahlah.

***


"Elqi, tampaknya hubungan ini nggak bisa kita lanjutin," ucap Wanda dengan wajah sedih.

Aku kaget dengan kata-katanya. Belum lama tiba di sekolah saat pagi, Wanda sudah datang menemuiku di kelas dan langsung mengatakan hal itu. Ada apa dengannya?

"Maksudmu kita putus? Kenapa, Wanda?" tanyaku bingung.


"Semalam, aku dibilangin sama mamaku. Waktu ke mall itu sesungguhnya aku lagi bolos les. Dan itu ketahuan sama mama. Katanya dia dapat info itu lewat temannya yang kebetulan ada di mall juga. Dan dia lihatnya aku sama kamu. Kamu pasti tahu apa selanjutnya," katanya setengah menangis.

Ya, aku paham apa maksudnya. Kujawab dengan anggukan kepala saja. Mulut hanya cuma bisa diam saja. Nggak ada usaha buat ngomong sepatah dua patah kata pun. 


Apakah Wanda melupakan janjinya saat jadian? Mustahil dia lupa. Kalau pun dia sibuk dengan les, aku juga kan bisa ikut bantu. Seenggaknya, aku nggak bakal ganggu dia saat les. Aku akan memaklumi keadaannya. Apa yang ada di otaknya? Aku bingung.


Aku akui kalau inilah yang namanya syok. Kayak diajak melayang ke atas awan sama Wanda, lalu tiba-tiba dia menjatuhkanku begitu saja. Pasti akan sakit sekali.


"Maaf ya, Elqi. Lagian, aku juga mau fokus dulu buat Ujian Nasional. Jadi aku akan banyak disibukin sama les-les," ucapnya, lalu meninggalkanku. Aku tak sempat menyahut. Mata ini hanya bisa melihat punggungnya yang menjauhiku, lalu hilang di balik pintu kelas. Kayak ada beban di situ.

Apakah dunia kiamat? Mungkin iya. Sebab, setelah Wanda memutuskan hubungan, aku enggak ada semangat lagi. Sekolah pun ogah-ogahan, sebab ujung-ujungnya pasti akan ketemu dia lagi. Beginilah pahitnya kehidupan si jomblo. Meskipun statusnya sama ketika sebelum aku jadian sama Wanda, tapi keadaanya beda. Aku masih cinta sama gadis manis itu. Sosoknya nggak bisa dilupakan.


Tapi aku mesti bisa move on. Status jomblo ini jangan sampai lama-lama. Jomblo itu nggak enak. Aku mesti menemukan sosok pengganti Wanda, sebelum UN tiba. Nggak ada untungnya aku galau melulu. Maka, mulailah aku pedekate sama cewek-cewek di sekolah. Aku pilih-pilih mana yang cocok buatku. 


Teman-teman cowok menganggap aku gila. Memang, aku gila oleh cinta. Di usiaku yang masih labil begini, pasti ingin menemukan cintanya. Bahkan Jojo pun sempat mengingatkanku.


"Elqi, kamu boleh pedekate sama cewek-cewek di sekolah ini buat dijadiin cewekmu. Tapi inget, jangan deketin Dede di kelas sebelah. Dia itu gebetanku. Aku suka sama dia sejak kelas 1," katanya dengan nada kesungguhan.


"Siapa cepat, dia dapat. Lagian kenapa nggak kamu tembak-tembak?" balasku meledeknya.


"A ... a ... aku malu buat nembaknya, Qi. Kamu kan tahu aku pemalu," sahutnya agak bimbang.


Aha, keadaan ini bisa memotivasiku. Dengan adanya saingan, aku semakin semangat. Lagipula jika dilihat-lihat, Dede itu lumayan cantik juga. Sebelas dua belas dengan Wanda, meskipun Dede enggak sekaya Wanda, tapi sudah lumayan.


Kugunakan teknik yang sama dengan ketika aku mendekati Wanda. Dan hasilnya, Dede kudapatkan, Jojo pun menjauhiku.

***


Status jomblo pun kembali datang ketika aku lulus SMP, "Elqi, aku mau ikut tante ke Kalimantan setelah lulus ini. Jadi, aku mau sekolah SMA di sana. Maaf ya, kayaknya kita nggak bisa lanjutin hubungan ini," ucap Dede dengan mimik wajah dan nada yang sama dengan Wanda ketika itu.


Ah, mungkin ini kiamat yang kedua. Kenapa mesti cewek-cewek itu duluan yang memutuskan hubungan? Nggak cool banget. Dua kali sudah aku mengalami ini. Dan aku pun kembali dalam ketidaksemangatan lagi. Bahkan aku nggak mau lanjutin sekolah lagi. Buat apa sekolah jika masih jomblo?


Setelah lulus aku hanya menghabiskan waktu main game saja. Seenggaknya, ini bisa menghilangkan kegalauan akibat jomblo ini. Tapi, ayah dan ibu selalu mengomeli. Hasilnya, aku enggak diizinkan main game lagi kalau nggak mau sekolah.


"Hai, Elqi. Galau melulu habis lulus, tuh."


Si Jojo tiba-tiba saja datang ke tempat tinggalku. Tumben banget anak itu. Sejak jadian sama Dede, kami nggak saling sapa, kini setelah putus, dia datang kayak sales penjual kacang tanah. Mau apa dia?


"Jadi kamu yakin nggak mau lanjutin sekolah, Qi?" tanyanya.


Aku mengangguk mantap, "Iya, walau seminggu penuh aku diomelin habis-habisan sama ayah dan ibu, aku tetap nggak mau sekolah lagi. Aku jadi takut sama status kejombloan ini. Kalau aku dapetin cewek lagi, ada kemungkinan juga aku jadi jomblo lagi. Dan itu sangat sangat menakutkan. Ini aja aku kayak kesiksa banget. Nggak ada yang bilang met bobo, met makan, sayang-sayangan, atau apalah," celotehku.


Jojo ketawa lepas, "Kamu ini lucu banget. Kalau takut jomblo ya mesti ngebet buat dapetin cewek lagi, dong."


Aku menggeleng. Buat apa dapat cewek lagi kalau ujung-ujungnya bakal menjomblo? Di usia yang masih labil begini sangat gampang banget buat putus nyambung putus nyambung.

"Aku punya kesepakatan," kata Jojo setelah kami saling diam.


"Apa itu?"


"Aku bisa bikin kamu enggak bakal menjomblo lagi. Kehidupanmu akan dikelilingi sama cewek-cewek. Jadi, begitu kamu putus, kamu bakal cepat dapatin penggantinya. Dan aku bisa jamin kalau sainganmu sedikit bahkan mungkin nggak ada."


"Bagaimana bisa?" tanyaku.

Jojo layangkan senyuman, "Kamu masuk ke semacam sekolah khusus, kamu boleh pakai aset milikku kayak mobil, ponsel, pakaian, dan lain-lain buat nunjukkin kalau kamu itu kaya. Cewek mana yang nggak kesemsem sama cowok kaya? Pasti cewek-cewek itu bakal lengket sama kamu. Nah, pilihlah salah satu. Kalau ada kemungkinan putus kan kamu bisa dapetin yang lain lagi. Sewaktu SMP aja kamu bisa begitu masa pas SMA nggak bisa?"

Aku agak kaget juga dengan ucapan Jojo ini. Memang ucapannya itu nggak salah. Sewaktu SMP saja aku bisa mendapatkan Dede dan Wanda, bukan nggak mungkin jika aku bisa lakukan hal yang sama sewaktu SMA.


Pembahasan ini cukup membuat lupa kalau kami sempat enggak saling sapa akibat cewek. Mungkin Jojo sudah melupakan Dede. Apakah dia tahu kalau Dede ke Kalimantan.

"Lalu, untungnya buat kamu apa?" tanyaku, sebab ada keanehan di sini.

"Aku memilih buat homeschooling. Sebab, aku bisa sekolah kapan aja semauku. Nah, kalau begitu otomatis aku nggak bakal bisa punya temen-temen cewek, apalagi dengan sifatku yang pemalu ini. Makanya, aku minta kamu buat pilihin salah satu teman cewek kamu di SMA buat jadi cewekku. Gimana? Gampang banget, kan?"


Oh My God! Temanku ini bisa punya otak yang begini juga. Bisa-bisanya dia culas begitu. Dia seolah sombong menunjukkan kekayaannya dan memanfaatkanku. Tapi, ada untungnya juga sih kalau aku bisa menggunakan semua aset miliknya. Bayangkan saja, aku bisa naik mobil mahal, pakai ponsel yang mahal pula. Ah, senang banget.

"Oke. Lalu pendapatmu aku masuk ke sekolah mana enaknya yang nggak bakal punya saingan?" tanyaku.


"Di Jalan Setia Budi ada satu sekolah yang kebanyakan siswanya cewek."


Aku menebak-nebak nama sekolah yang dimaksud. Kalau tidak salah, memang ada sekolah swasta di situ. Bola mataku lalu membulat. "SMK Kecantikan maksudmu?" kagetku.

Dia mengangguk mantap.


***


Begitulah kisahku yang menjelaskan kenapa nasib aku bisa baik begini. Mungkin enggak penting bagi yang lain, tapi bagiku ini penting. Kini Jojo bisa mendapatkan cewek yang aku pilih, dan aku pun bisa hidup dikelilingi cewek-cewek tanpa takut jomblo lagi. Mantap!



-tamat-

Image


Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.