Sehidup semati

Tulisan satu ini saya buat sudah lama, dan niatnya hendak dimasukkan ke dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun, sebab agak gimana gitu, jadi dibatalkan. Saya posting di sini saja supaya bisa dibaca oleh semua. Sesungguhnya ada maksud yang disembunyikan kenapa saya posting ini, hahaha! Oke, selamat membaca dan tinggalkan sajakomen kalau mau.


==========
Isak tangis mulai membuncah kala liang lahat ditutupi oleh tanah. Pelayat-pelayat yang mengenakan pakaian hitam-hitam itu sesekali mengusap matanya yang sembab. Ada juga yang tangisnya tidak tampak sebab mengenakan kacamata hitam. Yang pasti, semua yang ada di situ hanyut dalam tangisan.

Setelah makam ditutupi oleh tanah dan bunga, sang ustad membacakan doa-doa. Isak tangis masih menghiasi kekhusyukan doa. Semuanya tenggelam dalam doa yang dilantunkan oleh sang ustad. Semuanya demi kehidupan tenang di alam sana sang jenazah, Wulan.

Selesai doa, pelayat pun mulai meninggalkan makam itu. Kini tampak hanya dua pemuda yang masih ada di dekat makam.

“Wulan, aku gak menyangka kamu meninggalkanku begini cepat. Padahal, seminggu yang lalu kita sudah tunangan,” isak Doni sambil jongkok di samping makam. Tampak, kaki kanannya digips. Sehingga dia agak kesakitan ketika jongkok.

Doni menatap papan penunjuk makam. Dia membaca nama Wulan yang ditulis di situ. Pemuda itu kembali mengingat kenangan-kenangan dengan tunangannya itu. Kenangan manis dan pahit selalu menyatu.

***

“Doni, bagaimana kakimu?” tanya Wulan ketika dia datang ke kediaman Doni.

Tampak Doni duduk di sofa dengan kaki diangkat ke atas meja. Sebuah gips menghiasi kaki kanannya. Di sampingnya ada dua buah tongkat untuk membantunya melangkah.

“Sudah agak baikan, Wulan. Ini digips sama ayah tadi. Untung cuma kepleset di tangga saja,” sahut Doni.

“Cuma kepleset? Ya ampun, Doni! Itu bukan hal yang sepele! Mesti diobati!” pekik Wulan cemas. Dia sangat keki dengan keacuhan kekasihnya itu tentang kakinya.

Doni layangkan senyuman hangat. “Tidak apa-apa kok, Wulan. Nanti juga sembuh.”

“Iya, lima puluh tahun lagi sembuh!” ucap Wulan sambil memajukan mulutnya. Ada mimik sebal di wajahnya.

Doni masih layangkan senyuman. Dia tahu kekasihnya itu sangat mencemaskannya. Dia sayang kepada Wulan. Doni tak ingin Wulan selalu mencemaskannya.

“Ya, sudah. Lalu mesti diapain?” tanya Doni, menenangkan kekasihnya itu.

“Aku punya kenalan, dia ahli mengobati patah tulang. Siapa tahu, dia bisa menyembuhkan kakimu,” sahut Wulan sambil mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi temannya itu. Padahal, Doni belum menyahut.

Doni menjadi diam. Dia tahu, kekasihnya itu selalu mengambil keputusan tanpa meminta kepastian Doni. Maka, mau menjawab iya atau tidak pun sia-sia saja. Sebab, mau tidak mau mesti mau. Itu sudah menjadi wataknya Wulan.

Dan kini, Wulan pun membawa Doni menuju tempat kenalannya itu. Wulan yang mengemudikan mobil milik Doni sebab kaki Doni kesulitan menginjak pedal gas. Tentu saja Wulan mau melakukan hal itu sebab dia sangat mencintai Doni. Dia mau melakukan apa saja demi kesembuhan kekasihnya itu.

Ketika melewati sebuah simpang jalan, mesin mobil mendadak mati. Padahal, posisi mobil sudah ada di tengah-tengah jalan. Mobilnya pun dihujani klakson oleh mobil-mobil lain yang ada di belakangnya.

“Wulan, kenapa bisa begini?” tanya Doni yang duduk di samping bangku kemudi.

“Mana kutahu, Don. Mesinnya mati tiba-tiba,” sahut Wulan panik. Dia menginjak-injak pedal gas sambil mencoba menyalakan mesin. Namun mesin mobil tampaknya tak mau menyala.

Suasana semakin mencekam tatkala ada sebuah bis tiba-tiba menghantam sisi kanan mobil Doni dengan kencang, menimbulkan bunyi yang memilukan. Bis itu tampaknya mengabaikan lampu lalu lintas dan tak melihat ada mobil yang dinaiki oleh Doni dan Wulan. Tak ayal lagi, sisi kanan mobil Doni langsung penyok. Akibatnya, badan dan jok mobil langsung menjepit tubuh Wulan. Dia hanya sempat melengking sesaat, lalu diam untuk selamanya. Nyawanya melayang.


Untung bagi Doni. Pemuda itu selamat nyawanya meski mengalami luka-luka saja akibat dijepit badan mobil juga. Dia sempat menyaksikan bagaimana tewasnya sang kekasih di depan matanya. Sungguh menyakitkan. Sakit di kakinya dan luka-luka ini tak sebanding dengan luka di hatinya. Dia pun melolong kencang memanggil-manggil sang kekasih.


“Wulaaan!” pekik Doni memilukan.

***

Doni hanya menghela napas saja mengingat kejadian itu. Pemakaman itu kini menjadi saksi bisu yang memisahkan Doni dan Wulan. Membawa sang tunangan menuju kehidupan selanjutnya.

“Ini semua akibat ulahmu,” gumam lelaki yang ada di samping Doni.

Doni mendongak ke atas. Dia sama sekali tidak tahu kalau Ivan, kakaknya Wulan, masih menunggu di situ.

“Maksudmu, Kak?” tanya Doni tak memahami.

Ivan sunggingkan senyum sinis, “Kalau saja kamu tidak meminta Wulan untuk mengemudikan mobil sialanmu itu, semestinya kamu yang ada di dalam makam ini. Bukan Wulan adikku satu-satunya,” ucapnya pelan namun mengena.

“Kenapa Kakak ngomong begitu?” tanya Doni tidak memahami maksud Ivan.

“Kamu semestinya tahu, aku dan Wulan sudah lama ditinggal mati oleh ayah dan ibu. Hanya Wulan satu-satunya yang kumiliki kini. Tapi kenapa kamu tega membunuhnya?” ucap Ivan tajam menatap Doni.

Doni bangkit pelan-pelan dengan dibantu tongkat, “Kak, aku sungguh-sungguh minta maaf atas kematian Wulan. Aku juga sedih kehilangan Wulan, Kak. Sama sedihnya kayak Kakak. Tapi sumpah, aku gak mungkin membunuhnya. Aku sangat mencintainya.”

“Bohong!” ucap Ivan cepat, “kenapa kamu malah memintanya untuk mengemudikan mobil?” bentaknya.

“Kakiku sedang sakit akibat jatuh di tangga, Kak. Dia juga yang meminta untuk mengemudikan mobil milikku. Dia mau membawaku untuk menemui temannya yang ahli patah tulang,” jawab Doni meyakinkan kakaknya Wulan itu.

Image

“Alasan saja!” bentak Ivan. Matanya langsung menatap ke gips di kaki kana Doni. “Luka ini pasti palsu!”

Tak disangka, Ivan menendang kaki Doni yang digips. Tak ayal lagi, tunangan Wulan itu melolong sejadi-jadinya akibat kesakitan.

“Aaahhh!!!” pekik Doni lalu jatuh ke tanah. Kakinya bagai ditusuk-tusuk puluhan pisau. Begitu sakitnya sehingga dia sempat sesak napas.

Melihat hal itu, Ivan diam saja. Tak ada penyesalan sama sekali di wajahnya. Dia hanya mendengus kesal. Tatapan matanya sudah dipenuhi oleh emosi dan hawa nafsu yang menggebu-gebu.

“Aku tahu aku salah, Kak. Aku sudah menyebabkan Wulan meninggal. Aku memang bodoh. Maafkan aku, Kak. Maafkan,” isak Doni sambil memegangi kakinya yang sakit amat sangat.

Doni kini mengalami kesulitan untuk bangkit kembali. Badannya menjadi lemas akibat sakit di kaki. Meskipun begitu, dia sama sekali tak ada dendam. Doni tahu kalau dialah yang memiliki kesalahan, yang telah menyebabkan Wulan tewas. Dia sama sekali tidak menyalahkan kakaknya Wulan.

Ivan tak menyahut. Dia tetap mendengus kesal saja. Lalu dia menatap ke makam Wulan yang masih dipenuhi bunga. Tanpa diduga, dia mencabut papan penunjuk makam Wulan. Kemudian, dia mulai menggali makam itu dengan menggunakan papan.

“Kak, apa yang kamu lakukan? Jangan gila!” pekik Doni mencegah apa yang dilakukan oleh Ivan. Dia lalu menjangkau tubuh Ivan meski dalam keadaan duduk.

Ivan tak mengindahkan ucapan Doni. Ketika kakinya dipegang oleh Doni, pemuda itu langsung menendang lutut kaki kanan tunangan adiknya itu. Tak ayal lagi, Doni jatuh kembali dan memekik kesakitan kedua kalinya.

“Aaahhh!” pekik Doni. Dia menggelinjang-gelinjang di tanah akibat sakit di kakinya.

Sayang sekali, pemakaman itu sudah sepi akibat senja akan digantikan oleh malam. Hawa dingin mulai datang. Tak ada siapa pun di situ yang melihat aksi Ivan dan Doni. Bahkan penggali makam dan kuncennya pun tak tampak batang hidungnya.

Hal ini memudahkan Ivan melakukan aksinya. Dengan susah payah, Ivan menggali kembali lubang makam Wulan dengan papan nama makam. Memang agak sulit menggali dengan benda itu ketimbang menggunakan cangkul. Apalagi, dia belum biasa menggali tanah. Meskipun begitu, tanah makam itu bekas digali, jadi tidak begitu sulit untuk menggalinya lagi.

Doni sama sekali tak bisa mencegah Ivan. Dia hanya duduk sambil mengusap-usap kakinya. Lututnya yang kena tendangan Ivan itu mengalami sakit yang amat sangat, ditambah dengan luka yang digips. Badannya mulai melemas akibat sakit pada kakinya.

“Ikhlaskan saja Wulan, Kak. Dia sudah tidak mungkin kembali kepada kita,” ucap Doni penuh asa supaya Ivan menghentikan aksinya. Dia juga tidak memahami apa maksud Ivan menggali makam Wulan itu.

Ivan tetap tidak menyahut. Dia masih tetap menggali makam Wulan. Peluh yang membasahi wajahnya tak dipedulikan. Pemuda itu juga sama sekali tidak peduli dengan keadaan Doni, bahkan ketika tanah galiannya itu mengenai tunangan adiknya. Sesekali Doni mengusap matanya yang kena tanah.

Penggalian Ivan pun mencapai papan-papan tempat jenazah disemayamkan. Dia membuka papan-papan itu. Dan tampaklah kini, sesosok jenazah yang masih dibungkus kain kafan. Ivan menatap kepada jenazah adiknya itu. Ada kenangan yang melintas di benaknya. Napasnya kembang kempis akibat menggali. Suka duka sudah dia lalui dengan Wulan. Kini sang adik sudah tak ada lagi nyawanya dan dibungkus kain kafan di depannya, bahkan sudah dipendam tanah. Setelah selesai menatap jenazah sang adik, dia naik ke atas.


“Kak, apa maksudnya ini?” tanya Doni lagi ketika Ivan sudah ada di dekatnya.

Ivan menatap tajam Doni sambil menudingnya, “Aku ingin membuktikan ucapanmu kepada Wulan.”

“Ucapan apa, Kak?” tanya Doni yang lagi-lagi tidak paham dengan maksud Ivan.

Ivan kembali sunggingkan senyum sinis, “Huh, jangan belagak bego! Bukankah, kamu sudah janji bahwa akan sehidup semati dengan Wulan sewaktu tunangan? Cincin yang ada di kelingkingmu itu buktinya!”

Doni menatap sesaat ke kelingking kanannya. Lalu, dia kembali menatap Ivan, “Iya, Kak. Lantas, apa maksud Kakak?”

Tanpa diduga, Ivan menendang tubuh Doni hingga tunangan Wulan itu jatuh ke dalam liang lahat, tepat di samping jenazah Wulan.

“Aaah!” pekik Doni lagi.

Tiap jengkal tubuh Doni dilanda sakit yang amat sangat. Tulang tangan, kali, punggung, dan iganya patah akibat jatuh. Napasnya bahkan mulai sesak. Tenaganya kini sudah habis.

Ivan menatap sinis Doni yang lemas di dalam lubang makam itu, “Sebuah janji mesti ditepati. Apalagi janji sehidup semati. Wulan hidup, kamu hidup. Wulan mati,” ucap Ivan, lalu tangannya menuding Doni, “kamu juga mati!” tegasnya.

“Am ... pun, Kak. Jang ... an la ... kukan i ... tu,” ucap Doni putus-putus. Dia ingin sekali naik ke atas dan meminta ampunan kepada Ivan. Namun, tenaganya sudah hilang sehingga tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke atas. Bahkan, untuk bangkit saja dia tidak mampu.

Tanpa memiliki belas kasihan lagi, Ivan kembali menutupi liang lahat dengan tanah. Dia sama sekali tidak peduli dengan gumaman pelan Doni yang meminta tolong. Baginya, itu hanya bunyi lalat pengganggu yang mesti dibasmi.

Lama-kelamaan, gumaman Doni meminta tolong sudah tidak ada lagi. Mulut, hidung, telinga, mata, dan tubuhnya sudah ditutupi oleh tanah. Telapak tangannya yang muncul ke atas tanah hanya melenggak-lenggok pelan. Namun, itu pun hanya sesaat. Telapak tangan itu kemudian menjadi diam dan kaku. Hilanglah sudah nyawa Doni di samping jenazah Wulan, sesuai dengan janjinya yang sehidup semati.

Setelah lubang makam ditutupi semuanya dengan tanah, Ivan kembali memasang papan penunjuk nisan makam. Napasnya kembang kempis. Pelupuk matanya mulai sembab.

“Wulan, semoga kamu bahagia di sana dengan ayah dan ibu. Kelak, aku pasti akan menyusul kalian,” gumamnya. Lalu, dia meninggalkan pemakaman itu dengan langkah gontai.

Tampak, langit mulai menggelap, meninggalkan jutaan kenangan hanya dalam waktu yang sekejap.

-tamat-

Image

Sehidup Semati


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Sehidup semati

Tulisan satu ini saya buat sudah lama, dan niatnya hendak dimasukkan ke dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun, sebab agak gimana gitu, jadi dibatalkan. Saya posting di sini saja supaya bisa dibaca oleh semua. Sesungguhnya ada maksud yang disembunyikan kenapa saya posting ini, hahaha! Oke, selamat membaca dan tinggalkan sajakomen kalau mau.


==========
Isak tangis mulai membuncah kala liang lahat ditutupi oleh tanah. Pelayat-pelayat yang mengenakan pakaian hitam-hitam itu sesekali mengusap matanya yang sembab. Ada juga yang tangisnya tidak tampak sebab mengenakan kacamata hitam. Yang pasti, semua yang ada di situ hanyut dalam tangisan.

Setelah makam ditutupi oleh tanah dan bunga, sang ustad membacakan doa-doa. Isak tangis masih menghiasi kekhusyukan doa. Semuanya tenggelam dalam doa yang dilantunkan oleh sang ustad. Semuanya demi kehidupan tenang di alam sana sang jenazah, Wulan.

Selesai doa, pelayat pun mulai meninggalkan makam itu. Kini tampak hanya dua pemuda yang masih ada di dekat makam.

“Wulan, aku gak menyangka kamu meninggalkanku begini cepat. Padahal, seminggu yang lalu kita sudah tunangan,” isak Doni sambil jongkok di samping makam. Tampak, kaki kanannya digips. Sehingga dia agak kesakitan ketika jongkok.

Doni menatap papan penunjuk makam. Dia membaca nama Wulan yang ditulis di situ. Pemuda itu kembali mengingat kenangan-kenangan dengan tunangannya itu. Kenangan manis dan pahit selalu menyatu.

***

“Doni, bagaimana kakimu?” tanya Wulan ketika dia datang ke kediaman Doni.

Tampak Doni duduk di sofa dengan kaki diangkat ke atas meja. Sebuah gips menghiasi kaki kanannya. Di sampingnya ada dua buah tongkat untuk membantunya melangkah.

“Sudah agak baikan, Wulan. Ini digips sama ayah tadi. Untung cuma kepleset di tangga saja,” sahut Doni.

“Cuma kepleset? Ya ampun, Doni! Itu bukan hal yang sepele! Mesti diobati!” pekik Wulan cemas. Dia sangat keki dengan keacuhan kekasihnya itu tentang kakinya.

Doni layangkan senyuman hangat. “Tidak apa-apa kok, Wulan. Nanti juga sembuh.”

“Iya, lima puluh tahun lagi sembuh!” ucap Wulan sambil memajukan mulutnya. Ada mimik sebal di wajahnya.

Doni masih layangkan senyuman. Dia tahu kekasihnya itu sangat mencemaskannya. Dia sayang kepada Wulan. Doni tak ingin Wulan selalu mencemaskannya.

“Ya, sudah. Lalu mesti diapain?” tanya Doni, menenangkan kekasihnya itu.

“Aku punya kenalan, dia ahli mengobati patah tulang. Siapa tahu, dia bisa menyembuhkan kakimu,” sahut Wulan sambil mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi temannya itu. Padahal, Doni belum menyahut.

Doni menjadi diam. Dia tahu, kekasihnya itu selalu mengambil keputusan tanpa meminta kepastian Doni. Maka, mau menjawab iya atau tidak pun sia-sia saja. Sebab, mau tidak mau mesti mau. Itu sudah menjadi wataknya Wulan.

Dan kini, Wulan pun membawa Doni menuju tempat kenalannya itu. Wulan yang mengemudikan mobil milik Doni sebab kaki Doni kesulitan menginjak pedal gas. Tentu saja Wulan mau melakukan hal itu sebab dia sangat mencintai Doni. Dia mau melakukan apa saja demi kesembuhan kekasihnya itu.

Ketika melewati sebuah simpang jalan, mesin mobil mendadak mati. Padahal, posisi mobil sudah ada di tengah-tengah jalan. Mobilnya pun dihujani klakson oleh mobil-mobil lain yang ada di belakangnya.

“Wulan, kenapa bisa begini?” tanya Doni yang duduk di samping bangku kemudi.

“Mana kutahu, Don. Mesinnya mati tiba-tiba,” sahut Wulan panik. Dia menginjak-injak pedal gas sambil mencoba menyalakan mesin. Namun mesin mobil tampaknya tak mau menyala.

Suasana semakin mencekam tatkala ada sebuah bis tiba-tiba menghantam sisi kanan mobil Doni dengan kencang, menimbulkan bunyi yang memilukan. Bis itu tampaknya mengabaikan lampu lalu lintas dan tak melihat ada mobil yang dinaiki oleh Doni dan Wulan. Tak ayal lagi, sisi kanan mobil Doni langsung penyok. Akibatnya, badan dan jok mobil langsung menjepit tubuh Wulan. Dia hanya sempat melengking sesaat, lalu diam untuk selamanya. Nyawanya melayang.


Untung bagi Doni. Pemuda itu selamat nyawanya meski mengalami luka-luka saja akibat dijepit badan mobil juga. Dia sempat menyaksikan bagaimana tewasnya sang kekasih di depan matanya. Sungguh menyakitkan. Sakit di kakinya dan luka-luka ini tak sebanding dengan luka di hatinya. Dia pun melolong kencang memanggil-manggil sang kekasih.


“Wulaaan!” pekik Doni memilukan.

***

Doni hanya menghela napas saja mengingat kejadian itu. Pemakaman itu kini menjadi saksi bisu yang memisahkan Doni dan Wulan. Membawa sang tunangan menuju kehidupan selanjutnya.

“Ini semua akibat ulahmu,” gumam lelaki yang ada di samping Doni.

Doni mendongak ke atas. Dia sama sekali tidak tahu kalau Ivan, kakaknya Wulan, masih menunggu di situ.

“Maksudmu, Kak?” tanya Doni tak memahami.

Ivan sunggingkan senyum sinis, “Kalau saja kamu tidak meminta Wulan untuk mengemudikan mobil sialanmu itu, semestinya kamu yang ada di dalam makam ini. Bukan Wulan adikku satu-satunya,” ucapnya pelan namun mengena.

“Kenapa Kakak ngomong begitu?” tanya Doni tidak memahami maksud Ivan.

“Kamu semestinya tahu, aku dan Wulan sudah lama ditinggal mati oleh ayah dan ibu. Hanya Wulan satu-satunya yang kumiliki kini. Tapi kenapa kamu tega membunuhnya?” ucap Ivan tajam menatap Doni.

Doni bangkit pelan-pelan dengan dibantu tongkat, “Kak, aku sungguh-sungguh minta maaf atas kematian Wulan. Aku juga sedih kehilangan Wulan, Kak. Sama sedihnya kayak Kakak. Tapi sumpah, aku gak mungkin membunuhnya. Aku sangat mencintainya.”

“Bohong!” ucap Ivan cepat, “kenapa kamu malah memintanya untuk mengemudikan mobil?” bentaknya.

“Kakiku sedang sakit akibat jatuh di tangga, Kak. Dia juga yang meminta untuk mengemudikan mobil milikku. Dia mau membawaku untuk menemui temannya yang ahli patah tulang,” jawab Doni meyakinkan kakaknya Wulan itu.

Image

“Alasan saja!” bentak Ivan. Matanya langsung menatap ke gips di kaki kana Doni. “Luka ini pasti palsu!”

Tak disangka, Ivan menendang kaki Doni yang digips. Tak ayal lagi, tunangan Wulan itu melolong sejadi-jadinya akibat kesakitan.

“Aaahhh!!!” pekik Doni lalu jatuh ke tanah. Kakinya bagai ditusuk-tusuk puluhan pisau. Begitu sakitnya sehingga dia sempat sesak napas.

Melihat hal itu, Ivan diam saja. Tak ada penyesalan sama sekali di wajahnya. Dia hanya mendengus kesal. Tatapan matanya sudah dipenuhi oleh emosi dan hawa nafsu yang menggebu-gebu.

“Aku tahu aku salah, Kak. Aku sudah menyebabkan Wulan meninggal. Aku memang bodoh. Maafkan aku, Kak. Maafkan,” isak Doni sambil memegangi kakinya yang sakit amat sangat.

Doni kini mengalami kesulitan untuk bangkit kembali. Badannya menjadi lemas akibat sakit di kaki. Meskipun begitu, dia sama sekali tak ada dendam. Doni tahu kalau dialah yang memiliki kesalahan, yang telah menyebabkan Wulan tewas. Dia sama sekali tidak menyalahkan kakaknya Wulan.

Ivan tak menyahut. Dia tetap mendengus kesal saja. Lalu dia menatap ke makam Wulan yang masih dipenuhi bunga. Tanpa diduga, dia mencabut papan penunjuk makam Wulan. Kemudian, dia mulai menggali makam itu dengan menggunakan papan.

“Kak, apa yang kamu lakukan? Jangan gila!” pekik Doni mencegah apa yang dilakukan oleh Ivan. Dia lalu menjangkau tubuh Ivan meski dalam keadaan duduk.

Ivan tak mengindahkan ucapan Doni. Ketika kakinya dipegang oleh Doni, pemuda itu langsung menendang lutut kaki kanan tunangan adiknya itu. Tak ayal lagi, Doni jatuh kembali dan memekik kesakitan kedua kalinya.

“Aaahhh!” pekik Doni. Dia menggelinjang-gelinjang di tanah akibat sakit di kakinya.

Sayang sekali, pemakaman itu sudah sepi akibat senja akan digantikan oleh malam. Hawa dingin mulai datang. Tak ada siapa pun di situ yang melihat aksi Ivan dan Doni. Bahkan penggali makam dan kuncennya pun tak tampak batang hidungnya.

Hal ini memudahkan Ivan melakukan aksinya. Dengan susah payah, Ivan menggali kembali lubang makam Wulan dengan papan nama makam. Memang agak sulit menggali dengan benda itu ketimbang menggunakan cangkul. Apalagi, dia belum biasa menggali tanah. Meskipun begitu, tanah makam itu bekas digali, jadi tidak begitu sulit untuk menggalinya lagi.

Doni sama sekali tak bisa mencegah Ivan. Dia hanya duduk sambil mengusap-usap kakinya. Lututnya yang kena tendangan Ivan itu mengalami sakit yang amat sangat, ditambah dengan luka yang digips. Badannya mulai melemas akibat sakit pada kakinya.

“Ikhlaskan saja Wulan, Kak. Dia sudah tidak mungkin kembali kepada kita,” ucap Doni penuh asa supaya Ivan menghentikan aksinya. Dia juga tidak memahami apa maksud Ivan menggali makam Wulan itu.

Ivan tetap tidak menyahut. Dia masih tetap menggali makam Wulan. Peluh yang membasahi wajahnya tak dipedulikan. Pemuda itu juga sama sekali tidak peduli dengan keadaan Doni, bahkan ketika tanah galiannya itu mengenai tunangan adiknya. Sesekali Doni mengusap matanya yang kena tanah.

Penggalian Ivan pun mencapai papan-papan tempat jenazah disemayamkan. Dia membuka papan-papan itu. Dan tampaklah kini, sesosok jenazah yang masih dibungkus kain kafan. Ivan menatap kepada jenazah adiknya itu. Ada kenangan yang melintas di benaknya. Napasnya kembang kempis akibat menggali. Suka duka sudah dia lalui dengan Wulan. Kini sang adik sudah tak ada lagi nyawanya dan dibungkus kain kafan di depannya, bahkan sudah dipendam tanah. Setelah selesai menatap jenazah sang adik, dia naik ke atas.


“Kak, apa maksudnya ini?” tanya Doni lagi ketika Ivan sudah ada di dekatnya.

Ivan menatap tajam Doni sambil menudingnya, “Aku ingin membuktikan ucapanmu kepada Wulan.”

“Ucapan apa, Kak?” tanya Doni yang lagi-lagi tidak paham dengan maksud Ivan.

Ivan kembali sunggingkan senyum sinis, “Huh, jangan belagak bego! Bukankah, kamu sudah janji bahwa akan sehidup semati dengan Wulan sewaktu tunangan? Cincin yang ada di kelingkingmu itu buktinya!”

Doni menatap sesaat ke kelingking kanannya. Lalu, dia kembali menatap Ivan, “Iya, Kak. Lantas, apa maksud Kakak?”

Tanpa diduga, Ivan menendang tubuh Doni hingga tunangan Wulan itu jatuh ke dalam liang lahat, tepat di samping jenazah Wulan.

“Aaah!” pekik Doni lagi.

Tiap jengkal tubuh Doni dilanda sakit yang amat sangat. Tulang tangan, kali, punggung, dan iganya patah akibat jatuh. Napasnya bahkan mulai sesak. Tenaganya kini sudah habis.

Ivan menatap sinis Doni yang lemas di dalam lubang makam itu, “Sebuah janji mesti ditepati. Apalagi janji sehidup semati. Wulan hidup, kamu hidup. Wulan mati,” ucap Ivan, lalu tangannya menuding Doni, “kamu juga mati!” tegasnya.

“Am ... pun, Kak. Jang ... an la ... kukan i ... tu,” ucap Doni putus-putus. Dia ingin sekali naik ke atas dan meminta ampunan kepada Ivan. Namun, tenaganya sudah hilang sehingga tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke atas. Bahkan, untuk bangkit saja dia tidak mampu.

Tanpa memiliki belas kasihan lagi, Ivan kembali menutupi liang lahat dengan tanah. Dia sama sekali tidak peduli dengan gumaman pelan Doni yang meminta tolong. Baginya, itu hanya bunyi lalat pengganggu yang mesti dibasmi.

Lama-kelamaan, gumaman Doni meminta tolong sudah tidak ada lagi. Mulut, hidung, telinga, mata, dan tubuhnya sudah ditutupi oleh tanah. Telapak tangannya yang muncul ke atas tanah hanya melenggak-lenggok pelan. Namun, itu pun hanya sesaat. Telapak tangan itu kemudian menjadi diam dan kaku. Hilanglah sudah nyawa Doni di samping jenazah Wulan, sesuai dengan janjinya yang sehidup semati.

Setelah lubang makam ditutupi semuanya dengan tanah, Ivan kembali memasang papan penunjuk nisan makam. Napasnya kembang kempis. Pelupuk matanya mulai sembab.

“Wulan, semoga kamu bahagia di sana dengan ayah dan ibu. Kelak, aku pasti akan menyusul kalian,” gumamnya. Lalu, dia meninggalkan pemakaman itu dengan langkah gontai.

Tampak, langit mulai menggelap, meninggalkan jutaan kenangan hanya dalam waktu yang sekejap.

-tamat-

Image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.