Image

Tulisan ini saya buat demi memenuhi tantangan di sebuah komunitas kepenulisan Facebook. Tak lupa, saya edit bagian yang dikomen paling pedas dan memang ada kesalahan di situ. Tampaknya, ini adalah tulisan finalku di komunitas itu. Sebab, tak lama setelah itu saya memutuskan untuk cabut akibat tak bisa membagi waktu. Yah, mungkin saya akan selalu ingat dengan komunitas yang membuatku semangat menulis itu. Kelak suatu saat saya akan gabung kembali. Tulisan ini niatnya mau saya masukkan ke media cetak, tapi saya lebih baik mempostingnya di sini saja. Oke, selamat membaca dan tinggalkan jejak.



==========
Aku sudah lelah dengan semua ini. Tak ada satu lelaki pun yang mau menikah denganku. Kenapa? Apa yang salah padaku? Apa yang tak kumiliki? Jabatan? Lumayan tinggi sebab aku adalah hakim di pengadilan. Semua kasus akan tunduk padaku hanya dengan ketukan palu. Uang? Sudah pasti sebab gajiku tinggi. Aku sudah memiliki semua yang ingin dicapai semasa muda dulu. Yang kuinginkan saat ini adalah menikah dengan lelaki yang mencintaiku apa adanya.


Usiaku bisa dikatakan tak lagi muda. Tapi bukan sudah tua juga. Di usia segini memang sudah sepantasnya aku menimang anak, melayani suami, dan lain-lain. Semua itu ingin sekali kulakukan.

Yang membuatku malu tentulah jika ditanyai oleh teman-teman. Kapan menikah? Kok belum menikah? Mana calonnya? Tak sanggup kujawab semua itu.

Ketika sedang tak ada sidang, aku selalu melamun. Apa yang salah denganku sehingga payah dalam cinta? Apakah aku sibuk dengan jabatan ini sehingga melupakan soal cinta? Apakah nafsuku sangat menggebu-gebu untuk mendapatkan jabatan ini sehingga mengesampingkan cinta? Tapi nyatanya aku tidak begitu. Aku sempat menjalin kasih dengan lelaki-lelaki yang kucintai. Baik itu sejak SMA, selama kuliah, hingga kini, aku masih menjadikan cinta sebagai tujuan hidup. Tapi, lelaki-lelaki itu langsung meninggalkanku tanpa sebab jelas. Yang lebih menyakitkan, ada yang mengatakan kalau usiaku lebih tua ketimbang dia. Bahkan ada yang mengatakan jika sifat dan kelakuanku ini masih kekanakan, layaknya ABG-ABG labil. Tidak sesuai dengan usia dan jabatannya sebagai hakim. Ah, sungguh membuatku kesal.

Sempat melintas kegilaan di benak, aku bisa membebaskan semua tuduhan salah satu lelaki yang duduk di bangku pesakitan saat sidang, asalkan dia mau menikahiku. Ah, bodoh sekali!

"Jadi, Dede memutuskanmu? Padahal kalian jadian belum seminggu, loh," tanya Melinda saat aku menunggu sebuah sidang di kantin Gedung Pengadilan. Kami kebetulan ketemu saat dia sedang menunggu suaminya yang memang pengelola gedung. Setelah itu, keduanya akan menjemput anaknya di sekolah.

Ah, aku sangat ingin menjadi layaknya dia. Kehidupannya sangat mulus. Melinda dan aku adalah teman semasa kuliah dulu. Kami satu fakultas, yakni hukum. Dia tidak melanjutkan kuliah lagi ke S2 setelah lulus, sebab ada yang meminangnya. Sungguh bagus sekali nasibnya. Sedangkan aku? Tak ada yang mau meminang, sebab kekasihku semasa kuliah langsung memutuskan hubungan akibat aku ingin melanjutkan kuliah S2 dan S3 di London. Apa hubungannya?

"Dia memutuskanku begitu aku bilang kalau aku ini hakim di pengadilan," jawabku.

Melinda layangkan senyuman. Ah, ibu satu anak itu memang sangat bahagia tampaknya. "Sayang sekali. Padahal Dede itu baik, walaupun cuma anak pengusaha tempe. Mae, aku kasih tahu satu hal."

"Apa itu?"

"Lelaki itu jika mempunyai wanita yang kedudukannya lebih tinggi akan sangat menyakitkan. Tanggung jawab lelaki jelas mesti menafkahi. Tapi bagaimana jika pendapatan wanitanya itu lebih tinggi ketimbang lelaki itu? Itu jelas akan menyakitkan. Makanya, lelaki-lelaki itu memilih menjauhimu."

Aku kaget. Ucapan itu seakan menghantam kepalaku. Melinda tidak salah, kata-katanya memang masuk akal. Aku tahu sebagai hakim memang tinggi penghasilannya. Dan mantan-mantan kekasihku dulu, paling tinggi jabatannya hanya polisi. Sisanya pedagang, pengusaha, dan pegawai biasa. Kenapa aku bisa tidak tahu tentang hal ini? Apakah aku selalu diselubungi oleh kesibukan selama ini?

Andaikan aku tahu jika alasan lelaki-lelaki itu meninggalkanku hanya akibat kedudukanku sebagai hakim, aku bisa mengambil keputusan untuk memilih salah satunya. Aku hanya ingin bahagia dengan pasangan. Walau begitu, apa aku bisa meninggalkan jabatan ini?

"Jadi, apa aku mesti meninggalkan kewajibanku sebagai hakim?" tanyaku bimbang.

"Ikuti apa kata hatimu saja, Mae. Jika memang kamu sudah mantap meninggalkan posisi sebagai hakim demi lelaki biasa yang menikahimu, silakan saja. Keputusan ada di tanganmu. Tapi jika kamu tidak mau meninggalkannya, lebih baik pilihlah lelaki yang sama atau lebih tinggi kedudukannya."

Aku hanya mengangguk saja. Entah apa yang mesti dilakukan. Melinda selalu membuat pilihan yang sulit buatku. Sama dengan ketika aku mau melanjutkan kuliah S2 ke London, dia menanyakan apakah lebih memilih ke pendidikan atau cinta. Ah, sungguh membingungkan Melinda itu.

Kulihat di jam tangan, sidang sesaat lagi akan dimulai. Lagipula tampaknya semua sudah kumpul di tempat sidang. Banyak juga awak media di pintu masuk. Kasus begini memang akan menjadi gosip panas media massa. Aku mesti menyelesaikan sidang ini. Ya, sidang yang sudah bosan kutangani, kasus suap anggota dewan. Ujung-ujungnya pasti uang. Tapi aku anti suap.

Aku pun meminta izin kepada Melinda untuk pamit. Dia mengangguk dan memilih untuk tetap di kantin menanti suaminya.

Ponselku tiba-tiba bunyi. Angka-angka yang muncul di situ tak kuketahui. Siapa yang menelepon?

"Halo, dengan siapa ini?" tanyaku sambil melangkah memasuki Gedung Pengadilan.

"Apakah ini Maelani Loen?"


"Iya, ini saya. Ada apa, ya? Dan, Anda siapa?" tanyaku.

"Mae, saya sudah lama membahasnya dengan mama dan papamu. Mungkin ... keduanya belum mengenalkan dia padamu. Tapi, saya tidak menyangka akan be ... gini jadinya. Saya mohon ... demi ... ma ... sa ... de ... pan ...."

Ah, teleponnya mulai putus-putus. Tampaknya yang menelepon itu lelaki. Siapa dia memangnya? Masa depan? Kalau tidak salah dia tadi mengatakan tentang masa depan. Masa depan siapa? Apa maksudnya? Ah, lagipula sinyal dalam gedung sini mulai susah. Nanti bisa kutelepon balik saat pulang. Lebih baik fokus ke sidang ini dahulu.

***


Images

Sidang selama lima jam cukup menyita waktu dan tenagaku. Sungguh sidang yang melelahkan. Aku sangat benci dengan kasus suap-menyuap ini, yang melibatkan anggota dewan. Semuanya sok suci di hadapan publik, tapi dalamnya sangat penuh noda.

Mungkin, hukuman sel tahanan selama lima tahun itu tak bisa membuatnya kapok. Bahkan hukumannya bisa dikatakan sangat enteng untuk kejahatan suap-menyuap. Aku maunya dia dihukum selama belasan atau mungkin puluhan tahun. Tapi apa daya, di atas hakim masih ada pasal dan undang-undang. Aku tak bisa memutuskan seenaknya.

Yang aku butuhkan saat ini adalah cepat-cepat pulang dan melepas lelah. Malam sudah mulai pekat. Kepala ini ingin sekali ditempelkan ke bantal, dan dibuai dalam mimpi indah. Mungkin saja di dalam mimpi aku bisa menikah. Ah mobil, melajulah cepat supaya tiba.

Begitu pulang, aku disambut mama dan papa. Aneh, tidak biasanya keduanya ini menyambut kedatangan anak semata wayangnya yang sudah tak muda lagi ini.

"Mae, gimana sidangnya? Sampai malam begini pasti capek," kata mama sambil menuntunku ke sofa.

"Capek sih, Ma. Tapi ada apa, nih? Tumben Mama sama Papa menyambut aku datang. Kayak punya hadiah saja," tanyaku sambil meletakkan tas kesayangan di samping.

"Kami memang punya hadiah buatmu, Mae," sahut papa yang juga duduk di sofa, "sebetulnya kami mau kasih tahu ke kamu sudah lama. Tapi, kamu masih ada hubungan sama Dede, jadi kami membatalkannya."

"Oh, jadi kalian punya calon pengganti Dede untuk Mae?" tanyaku menebak-nebak. Entah mengapa lelahku menjadi lenyap.

"Tepat sekali!" sahut mama antusias, "begitu tahu kamu putus sama Dede, kami langsung hubungin temen papa yang anggota dewan buat melanjutkan niat kami. Ya walaupun itu sangat menyakiti pihak sana, sebab menganggap kayak mainan aja, tapi kami tetap mau melanjutkan. Lagipula, anak teman papa itu juga masih belum dapat jodoh. Dia sepadan dengan kamu."

Selalu begini. Kenapa mama dan papa hanya melihat kedudukannya saja untuk jodohku? Padahal, aku menikah dengan lelaki biasa saja tidak apa-apa. Yang penting dia bisa mencintaiku apa adanya. Dulu sempat aku dijodohkan ketika lulus S2. Tapi aku lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan dulu di London. Dan keduanya tak bisa menolaknya.

Tapi, aku mengingat kembali ucapan Melinda sewaktu di kantin Gedung Pengadilan tadi. Setelah menimbang-nimbang lagi, aku sudah mantap untuk tidak akan meninggalkan jabatan sebagai hakim. Ini sudah menjadi dunia dan pilihanku. Jika aku memilih yang biasa-biasa saja, maka yang ada lelaki-lelaki itu akan menjauh lagi. Dan akan selalu tetap begitu.

Mungkin aku memang mesti memilih yang kedudukannya sama atau lebih tinggi.

"Apa dia udah telepon kamu? Katanya dia mau telepon sebab ada hal penting," tanya papa.

Otakku kembali mengingat kejadian yang dialami tadi. Ah iya, memang ada yang menelepon saat aku hendak memasuki Gedung Pengadilan. Apakah memang itu temannya papa? Ah, aku melupakan telepon itu akibat sidang yang melelahkan ini.

Aku pun menunjukkan angka-angka di log panggilan masuk kepada papa untuk memastikan. Dia mengangguk mantap. Tak kusangka itu adalah telepon penting. Apakah masa depan yang dimaksud itu masa depan untukku?

Sebuah pesan tiba-tiba masuk. Tampaknya itu memang yang menelepon tadi siang.

'Mae, tampaknya kamu belum bisa menjadi menantu saya. Padahal sudah saya katakan di telepon tadi siang untuk menangguhkan tahanan. Lelaki yang kamu vonis itu anak saya. Calon suami kamu.'

-tamat-
Image

Sebuah Pesan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."



Image

Tulisan ini saya buat demi memenuhi tantangan di sebuah komunitas kepenulisan Facebook. Tak lupa, saya edit bagian yang dikomen paling pedas dan memang ada kesalahan di situ. Tampaknya, ini adalah tulisan finalku di komunitas itu. Sebab, tak lama setelah itu saya memutuskan untuk cabut akibat tak bisa membagi waktu. Yah, mungkin saya akan selalu ingat dengan komunitas yang membuatku semangat menulis itu. Kelak suatu saat saya akan gabung kembali. Tulisan ini niatnya mau saya masukkan ke media cetak, tapi saya lebih baik mempostingnya di sini saja. Oke, selamat membaca dan tinggalkan jejak.



==========
Aku sudah lelah dengan semua ini. Tak ada satu lelaki pun yang mau menikah denganku. Kenapa? Apa yang salah padaku? Apa yang tak kumiliki? Jabatan? Lumayan tinggi sebab aku adalah hakim di pengadilan. Semua kasus akan tunduk padaku hanya dengan ketukan palu. Uang? Sudah pasti sebab gajiku tinggi. Aku sudah memiliki semua yang ingin dicapai semasa muda dulu. Yang kuinginkan saat ini adalah menikah dengan lelaki yang mencintaiku apa adanya.


Usiaku bisa dikatakan tak lagi muda. Tapi bukan sudah tua juga. Di usia segini memang sudah sepantasnya aku menimang anak, melayani suami, dan lain-lain. Semua itu ingin sekali kulakukan.

Yang membuatku malu tentulah jika ditanyai oleh teman-teman. Kapan menikah? Kok belum menikah? Mana calonnya? Tak sanggup kujawab semua itu.

Ketika sedang tak ada sidang, aku selalu melamun. Apa yang salah denganku sehingga payah dalam cinta? Apakah aku sibuk dengan jabatan ini sehingga melupakan soal cinta? Apakah nafsuku sangat menggebu-gebu untuk mendapatkan jabatan ini sehingga mengesampingkan cinta? Tapi nyatanya aku tidak begitu. Aku sempat menjalin kasih dengan lelaki-lelaki yang kucintai. Baik itu sejak SMA, selama kuliah, hingga kini, aku masih menjadikan cinta sebagai tujuan hidup. Tapi, lelaki-lelaki itu langsung meninggalkanku tanpa sebab jelas. Yang lebih menyakitkan, ada yang mengatakan kalau usiaku lebih tua ketimbang dia. Bahkan ada yang mengatakan jika sifat dan kelakuanku ini masih kekanakan, layaknya ABG-ABG labil. Tidak sesuai dengan usia dan jabatannya sebagai hakim. Ah, sungguh membuatku kesal.

Sempat melintas kegilaan di benak, aku bisa membebaskan semua tuduhan salah satu lelaki yang duduk di bangku pesakitan saat sidang, asalkan dia mau menikahiku. Ah, bodoh sekali!

"Jadi, Dede memutuskanmu? Padahal kalian jadian belum seminggu, loh," tanya Melinda saat aku menunggu sebuah sidang di kantin Gedung Pengadilan. Kami kebetulan ketemu saat dia sedang menunggu suaminya yang memang pengelola gedung. Setelah itu, keduanya akan menjemput anaknya di sekolah.

Ah, aku sangat ingin menjadi layaknya dia. Kehidupannya sangat mulus. Melinda dan aku adalah teman semasa kuliah dulu. Kami satu fakultas, yakni hukum. Dia tidak melanjutkan kuliah lagi ke S2 setelah lulus, sebab ada yang meminangnya. Sungguh bagus sekali nasibnya. Sedangkan aku? Tak ada yang mau meminang, sebab kekasihku semasa kuliah langsung memutuskan hubungan akibat aku ingin melanjutkan kuliah S2 dan S3 di London. Apa hubungannya?

"Dia memutuskanku begitu aku bilang kalau aku ini hakim di pengadilan," jawabku.

Melinda layangkan senyuman. Ah, ibu satu anak itu memang sangat bahagia tampaknya. "Sayang sekali. Padahal Dede itu baik, walaupun cuma anak pengusaha tempe. Mae, aku kasih tahu satu hal."

"Apa itu?"

"Lelaki itu jika mempunyai wanita yang kedudukannya lebih tinggi akan sangat menyakitkan. Tanggung jawab lelaki jelas mesti menafkahi. Tapi bagaimana jika pendapatan wanitanya itu lebih tinggi ketimbang lelaki itu? Itu jelas akan menyakitkan. Makanya, lelaki-lelaki itu memilih menjauhimu."

Aku kaget. Ucapan itu seakan menghantam kepalaku. Melinda tidak salah, kata-katanya memang masuk akal. Aku tahu sebagai hakim memang tinggi penghasilannya. Dan mantan-mantan kekasihku dulu, paling tinggi jabatannya hanya polisi. Sisanya pedagang, pengusaha, dan pegawai biasa. Kenapa aku bisa tidak tahu tentang hal ini? Apakah aku selalu diselubungi oleh kesibukan selama ini?

Andaikan aku tahu jika alasan lelaki-lelaki itu meninggalkanku hanya akibat kedudukanku sebagai hakim, aku bisa mengambil keputusan untuk memilih salah satunya. Aku hanya ingin bahagia dengan pasangan. Walau begitu, apa aku bisa meninggalkan jabatan ini?

"Jadi, apa aku mesti meninggalkan kewajibanku sebagai hakim?" tanyaku bimbang.

"Ikuti apa kata hatimu saja, Mae. Jika memang kamu sudah mantap meninggalkan posisi sebagai hakim demi lelaki biasa yang menikahimu, silakan saja. Keputusan ada di tanganmu. Tapi jika kamu tidak mau meninggalkannya, lebih baik pilihlah lelaki yang sama atau lebih tinggi kedudukannya."

Aku hanya mengangguk saja. Entah apa yang mesti dilakukan. Melinda selalu membuat pilihan yang sulit buatku. Sama dengan ketika aku mau melanjutkan kuliah S2 ke London, dia menanyakan apakah lebih memilih ke pendidikan atau cinta. Ah, sungguh membingungkan Melinda itu.

Kulihat di jam tangan, sidang sesaat lagi akan dimulai. Lagipula tampaknya semua sudah kumpul di tempat sidang. Banyak juga awak media di pintu masuk. Kasus begini memang akan menjadi gosip panas media massa. Aku mesti menyelesaikan sidang ini. Ya, sidang yang sudah bosan kutangani, kasus suap anggota dewan. Ujung-ujungnya pasti uang. Tapi aku anti suap.

Aku pun meminta izin kepada Melinda untuk pamit. Dia mengangguk dan memilih untuk tetap di kantin menanti suaminya.

Ponselku tiba-tiba bunyi. Angka-angka yang muncul di situ tak kuketahui. Siapa yang menelepon?

"Halo, dengan siapa ini?" tanyaku sambil melangkah memasuki Gedung Pengadilan.

"Apakah ini Maelani Loen?"


"Iya, ini saya. Ada apa, ya? Dan, Anda siapa?" tanyaku.

"Mae, saya sudah lama membahasnya dengan mama dan papamu. Mungkin ... keduanya belum mengenalkan dia padamu. Tapi, saya tidak menyangka akan be ... gini jadinya. Saya mohon ... demi ... ma ... sa ... de ... pan ...."

Ah, teleponnya mulai putus-putus. Tampaknya yang menelepon itu lelaki. Siapa dia memangnya? Masa depan? Kalau tidak salah dia tadi mengatakan tentang masa depan. Masa depan siapa? Apa maksudnya? Ah, lagipula sinyal dalam gedung sini mulai susah. Nanti bisa kutelepon balik saat pulang. Lebih baik fokus ke sidang ini dahulu.

***


Images

Sidang selama lima jam cukup menyita waktu dan tenagaku. Sungguh sidang yang melelahkan. Aku sangat benci dengan kasus suap-menyuap ini, yang melibatkan anggota dewan. Semuanya sok suci di hadapan publik, tapi dalamnya sangat penuh noda.

Mungkin, hukuman sel tahanan selama lima tahun itu tak bisa membuatnya kapok. Bahkan hukumannya bisa dikatakan sangat enteng untuk kejahatan suap-menyuap. Aku maunya dia dihukum selama belasan atau mungkin puluhan tahun. Tapi apa daya, di atas hakim masih ada pasal dan undang-undang. Aku tak bisa memutuskan seenaknya.

Yang aku butuhkan saat ini adalah cepat-cepat pulang dan melepas lelah. Malam sudah mulai pekat. Kepala ini ingin sekali ditempelkan ke bantal, dan dibuai dalam mimpi indah. Mungkin saja di dalam mimpi aku bisa menikah. Ah mobil, melajulah cepat supaya tiba.

Begitu pulang, aku disambut mama dan papa. Aneh, tidak biasanya keduanya ini menyambut kedatangan anak semata wayangnya yang sudah tak muda lagi ini.

"Mae, gimana sidangnya? Sampai malam begini pasti capek," kata mama sambil menuntunku ke sofa.

"Capek sih, Ma. Tapi ada apa, nih? Tumben Mama sama Papa menyambut aku datang. Kayak punya hadiah saja," tanyaku sambil meletakkan tas kesayangan di samping.

"Kami memang punya hadiah buatmu, Mae," sahut papa yang juga duduk di sofa, "sebetulnya kami mau kasih tahu ke kamu sudah lama. Tapi, kamu masih ada hubungan sama Dede, jadi kami membatalkannya."

"Oh, jadi kalian punya calon pengganti Dede untuk Mae?" tanyaku menebak-nebak. Entah mengapa lelahku menjadi lenyap.

"Tepat sekali!" sahut mama antusias, "begitu tahu kamu putus sama Dede, kami langsung hubungin temen papa yang anggota dewan buat melanjutkan niat kami. Ya walaupun itu sangat menyakiti pihak sana, sebab menganggap kayak mainan aja, tapi kami tetap mau melanjutkan. Lagipula, anak teman papa itu juga masih belum dapat jodoh. Dia sepadan dengan kamu."

Selalu begini. Kenapa mama dan papa hanya melihat kedudukannya saja untuk jodohku? Padahal, aku menikah dengan lelaki biasa saja tidak apa-apa. Yang penting dia bisa mencintaiku apa adanya. Dulu sempat aku dijodohkan ketika lulus S2. Tapi aku lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan dulu di London. Dan keduanya tak bisa menolaknya.

Tapi, aku mengingat kembali ucapan Melinda sewaktu di kantin Gedung Pengadilan tadi. Setelah menimbang-nimbang lagi, aku sudah mantap untuk tidak akan meninggalkan jabatan sebagai hakim. Ini sudah menjadi dunia dan pilihanku. Jika aku memilih yang biasa-biasa saja, maka yang ada lelaki-lelaki itu akan menjauh lagi. Dan akan selalu tetap begitu.

Mungkin aku memang mesti memilih yang kedudukannya sama atau lebih tinggi.

"Apa dia udah telepon kamu? Katanya dia mau telepon sebab ada hal penting," tanya papa.

Otakku kembali mengingat kejadian yang dialami tadi. Ah iya, memang ada yang menelepon saat aku hendak memasuki Gedung Pengadilan. Apakah memang itu temannya papa? Ah, aku melupakan telepon itu akibat sidang yang melelahkan ini.

Aku pun menunjukkan angka-angka di log panggilan masuk kepada papa untuk memastikan. Dia mengangguk mantap. Tak kusangka itu adalah telepon penting. Apakah masa depan yang dimaksud itu masa depan untukku?

Sebuah pesan tiba-tiba masuk. Tampaknya itu memang yang menelepon tadi siang.

'Mae, tampaknya kamu belum bisa menjadi menantu saya. Padahal sudah saya katakan di telepon tadi siang untuk menangguhkan tahanan. Lelaki yang kamu vonis itu anak saya. Calon suami kamu.'

-tamat-
Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.