Image

Tulisan ini saya buat demi mengikuti kegiatan yang diadakan di salah satu komunitas Facebook. Tampaknya kegiatan itu ada hadiahnya bagi yang tulisannya bagus. Dan tak menyangka saya yang mendapatkannya. Lumayan walau hanya sebuah buku novel, hahaha. Lumayan juga untuk menambah koleksi. Dan inilah penampakannya.


Images



Well, tulisan ini saya edit lagi sedikit. Oke selamat membaca dan tinggalkan jejak ya.



==========
"Tuhan, tolong hidupkan dia kembali. Aku masih ingin hidup dengannya. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku mohon. Aku ingin kesempatan kedua yang lebih baik lagi," pinta Izam di depan makam sang kekasih. Tangisannya tiada henti hingga menganak sungai.

Senja mulai menampakkan lukisan jingganya yang mengagumkan. Alunan bunyi sungai di dekat pemakaman begitu indah, bagaikan di alam pegunungan. Pelayat lain sudah angkat kaki semua sejak tadi. Kini hanya Izam yang masih di pemakaman, menemani jasad Hani yang sudah dipendam di bawah tanah. Dia melakukannya sebab Izam masih belum bisa melepas kematian kekasihnya.

Yang paling tak bisa memaafkannya adalah ayah dan ibunya Hani. Keduanya yang petugas Puskesmas ini masih belum bisa mengikhlaskan kematian Hani, anak semata wayang. Bahkan keduanya menganggap kalau kematian Hani akibat ulah Izam. Izam mesti tanggung jawab atas ulahnya itu. Namun, yang bisa dilakukan keduanya hanya diam dan diam.

Lima jam sebelumnya, Hani mendapati Izam tengah mendekap lelaki lain di sebuah kafe. Dalam benaknya, gadis itu tak menyangka jika selama ini kekasihnya itu penyuka sesama jenis. Dan selama ini Hani menjalin kasih dengan Izam hanyalah kedok semata untuk menunjukkan bahwa Izam itu sehat dan tidak 'belok'. Tapi nyatanya, dia memang sakit dan menyukai lelaki lain. Hati Hani langsung patah seketika.

Tanpa basa-basi lagi, Hani langsung hengkang menjauh saat keduanya tengah saling memagut kecupan. Izam masih belum tahu ada sosok Hani di situ. Sedetik kemudian, ada bunyi klakson, sesuatu yang dihantam, dan decitan ban. Suasana langsung heboh seketika. Tak disangka Hani dihantam angkot saat hendak melewati jalan sambil menangis, dan dia kini tengah geletak di aspal jalanan. Luka di kepalanya cukup fatal. Nyawanya tak bisa ditolong lagi. Izam dan yang lainnya mulai mendekat dan menyaksikan pemandangan memilukan itu.

"Haniii!!!" pekik lelaki itu.

Setelah kejadian itu, Izam tidak bisa memaafkan kelakuannya itu. Dia sudah melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan nyawa kekasihnya melayang. Bahkan dia pun masih bingung apakah Hani itu memang kekasihnya atau bukan. Sebab, dia memang 'belok'. Tapi, dengan melihat kematian di depannya langsung, seolah menjadi pukulan telak baginya. Izam sangat menyesali semua yang dilakukannya kepada Hani. Dia ingin sekali menebusnya. Dan kini, dia masih ingin menemani jasad Hani walaupun di pemakaman. Tetesan tangisnya mulai membasahi sebagian bunga yang ada di atas makam Hani.

Sayup-sayup kabut tipis mulai muncul saat gelap menggantikan senja. Izam tak mempedulikannya, bahkan ketika sekelebat bayangan melintas di belakangnya. Dia masih tetap ingin di samping makam Hani dan enggan pulang. Lama-kelamaan, kantuk mulai datang dan dia tak bisa menahannya lagi. Kini, dia pun mulai memejamkan mata dan lelap di atas gundukan tanah makam.

***

"Izam, bangunlah."

"Izamku sayang, bukalah matamu."

Sayup-sayup telinga Izam menangkap bisikan yang sangat lembut, bagaikan musik yang meninabobokan. Dia membuka matanya pelan-pelan.

Izam mengumpulkan nyawanya sesaat. Dia tampak pulas sekali hingga tidak tahu jika malam sudah datang. Dia yang tadinya memeluk gundukan tanah makam, kini mulai bangkit pelan-pelan. Matanya yang masih setengah mengantuk itu dikucek-kucek. Kepalanya sedikit pusing. Pandangannya menyapu sekeliling pemakaman. Meskipun cahaya bulan membantunya untuk melihat, tapi dia tidak menemukan apapun di situ. Yang ada hanya makam-makam dan bunyi sungai dekat pemakaman.

"Izamku sayang, mendekatlah."

Bisikan itu datang lagi. Bunyinya tepat di telinga lelaki itu. Izam kaget setengah mati. Di mana asalnya bisikan itu? Kepalanya menoleh ke sana ke sini. Matanya kembali menyapu pemakaman. Degup jantungnya mulai kencang. Peluh dingin menetes di wajah, menggantikan tetesan tangisan yang telah hilang sebelumnya. Sialnya, lelaki itu tidak menemukan siapa-siapa di situ.

"Siapa itu?!" pekik Izam, masih sambil memandang tanpa tujuan.

"Ini Hani, Izamku sayang. Aku kekasihmu," bisikan itu membalas.

Izam kaget dengan balasan bisikan itu. "Hani? Kamukah itu?" tanyanya tidak yakin dengan telinganya.

"Iya, Izamku sayang. Ayo temani aku di sini. Aku kesepian."

Balasan bisikan itu bagaikan menghipnotis Izam. Dengan sigap, dia langsung menggali gundukan tanah makam Hani dengan tangannya. Dia tak peduli tangannya mengalami luka-luka saat menggali. Yang penting, kekasihnya bisa diselamatkan.

"Jangan kau lakukan itu, Izamku sayang," bisikan lembut itu kembali membalas, membuat Izam menghentikan penggaliannya, "kamu hanya akan mengacak-acak makamku saja. Aku tidak suka itu, Izamku sayang."

Izam kembali bingung, "Lalu, aku mesti apa, Hani? Apapun akan aku lakukan demi bisa menebus dosa-dosaku sama kamu. Aku ingin ada kesempatan kedua untuk kita memulai hubungan lagi. Aku janji, Hani," pintanya pada makam Hani.

"Aku ada di sini, Izamku sayang. Ikutilah bisikanku."

"Kamu di mana, Hani? Apapun akan aku lakukan demi kamu," sahut Izam mantap.

"Melangkahlah ke kananmu, Izamku sayang. Jalanlah tanpa ada kebimbangan. Aku menunggumu di sini. Kamu bisa lihat kan, Izamku sayang?"

Mata Izam menoleh, dia ingin tahu apa yang ditunjukkan oleh bisikkan Hani itu. Dalam bantuan cahaya bulan, dia memicingkan matanya supaya bisa melihat dengan jelas. Sialnya, dia tidak menemukan apapun di situ. Hanya ada pepohonan melambai saja yang ditiup angin di tepian pemakaman.

Walaupun begitu, dia tak boleh bimbang sedikitpun. Dia mesti yakin jika Hani memang ada di situ dan menunggunya. Izam mesti menyelamatkan kekasihnya itu dan kembali menjalankan hubungan yang lebih baik. Dia tak ingin menyia-nyiakannya lagi. Sudah cukup masa lalunya yang kelam dengan lelaki lain.

"Aku datang, Hani," gumamnya mantap.

Dia melangkah menuju kanannya. Matanya tetap ke depan. Apapun yang dilaluinya tak dipedulikan. Bahkan saat ada makam-makam lain yang menghalangi langkahnya, dia tidak mengambil jalan lain dan malah menginjaknya. Yang penting, tujuannya hanya satu, yakni menuju ke tempat Hani menunggu.

"Tetaplah melangkah, Izamku sayang. Aku menunggumu di sini."

Bisikan itu memang telah menghipnotis Izam. Dia menginjak tiap-tiap makam yang menghalangi. Begitu sampai di tepian pemakaman, dia menghentikan langkahnya. Dia kaget sebab di balik pepohonan ini ada tebing menghadangnya. Dan di bawah tebing itu ada sungai membentang. Dia bisa menangkap bunyi gelombang sungai yang cukup kencang. Dia kesulitan untuk melanjutkan langkahnya.

Images

"Ada apa, Izamku sayang? Janganlah bimbang. Tetaplah melangkah dan temui aku di sini," bisikan lembut itu datang lagi.

"Hani, a-aku sesungguhnya mau melanjutkan. Tapi bagaimana aku mau lanjut, ada tebing dan sungai di sini. Lagipula, kamu menunggu di mana?" tanyanya agak takut. Dia menyapu sekeliling untuk menemukan sosok Hani. Tapi, cahaya bulan tak cukup mampu membantunya akibat ditutupi pepohonan.

Dia melongok sedikit ke bawah. Bulu kuduknya langsung geli akibat takut. Tebingnya lumayan tinggi juga.

"Aku menunggumu di balik sungai ini, Izamku sayang. Datanglah dan temui aku. Jangan bimbang, Izamku sayang," balas bisikan itu.

"I-iya, Hani. Aku pasti akan menemuimu. Ta-tapi, kamu kan tahu kalau aku ini nggak bisa ...."

Belum sempat Izam melanjutkan kata-katanya, dia langsung melompati tebing itu dengan mantap lalu jatuh ke dalam sungai. Dia panik, napasnya megap-megap. Kepalanya timbul-tenggelam akibat hanyut. Kemudian, tubuhnya tidak muncul lagi.

Di atas tebing, ada dua sosok dengan senyum yang menakutkan. Yang satu tampak membawa dua benda yang menampilkan cahaya, lalu dimasuki ke dalam kantong.

"Kelamaan basa-basi jadi aku tendang saja sekalian lelaki tolol itu ke sungai," ucap salah satunya.

"Apa dia sudah mati?"

"Semestinya."

"Huh, tak kusangka dia sangat tolol hingga tidak tahu kalau ada headset bluetooth yang kutempel di pundak bajunya. Jadi, dia bisa aku bodohi dengan mudahnya."

"Ya, vokalmu memang lembut sekali, Bu. Untung saja aku masih punya stok obat bius di Puskesmas. Dengan begini, aku bisa ikhlas melepas kematian anak kita. Sejak awal aku memang tidak setuju anak kita menjalin hubungan dengan lelaki tolol dan sakit macam itu."

"Iya, Pak. Semoga anak kita tenang di alam sana."


-tamat-


Image

Bisikan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image

Tulisan ini saya buat demi mengikuti kegiatan yang diadakan di salah satu komunitas Facebook. Tampaknya kegiatan itu ada hadiahnya bagi yang tulisannya bagus. Dan tak menyangka saya yang mendapatkannya. Lumayan walau hanya sebuah buku novel, hahaha. Lumayan juga untuk menambah koleksi. Dan inilah penampakannya.


Images



Well, tulisan ini saya edit lagi sedikit. Oke selamat membaca dan tinggalkan jejak ya.



==========
"Tuhan, tolong hidupkan dia kembali. Aku masih ingin hidup dengannya. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku mohon. Aku ingin kesempatan kedua yang lebih baik lagi," pinta Izam di depan makam sang kekasih. Tangisannya tiada henti hingga menganak sungai.

Senja mulai menampakkan lukisan jingganya yang mengagumkan. Alunan bunyi sungai di dekat pemakaman begitu indah, bagaikan di alam pegunungan. Pelayat lain sudah angkat kaki semua sejak tadi. Kini hanya Izam yang masih di pemakaman, menemani jasad Hani yang sudah dipendam di bawah tanah. Dia melakukannya sebab Izam masih belum bisa melepas kematian kekasihnya.

Yang paling tak bisa memaafkannya adalah ayah dan ibunya Hani. Keduanya yang petugas Puskesmas ini masih belum bisa mengikhlaskan kematian Hani, anak semata wayang. Bahkan keduanya menganggap kalau kematian Hani akibat ulah Izam. Izam mesti tanggung jawab atas ulahnya itu. Namun, yang bisa dilakukan keduanya hanya diam dan diam.

Lima jam sebelumnya, Hani mendapati Izam tengah mendekap lelaki lain di sebuah kafe. Dalam benaknya, gadis itu tak menyangka jika selama ini kekasihnya itu penyuka sesama jenis. Dan selama ini Hani menjalin kasih dengan Izam hanyalah kedok semata untuk menunjukkan bahwa Izam itu sehat dan tidak 'belok'. Tapi nyatanya, dia memang sakit dan menyukai lelaki lain. Hati Hani langsung patah seketika.

Tanpa basa-basi lagi, Hani langsung hengkang menjauh saat keduanya tengah saling memagut kecupan. Izam masih belum tahu ada sosok Hani di situ. Sedetik kemudian, ada bunyi klakson, sesuatu yang dihantam, dan decitan ban. Suasana langsung heboh seketika. Tak disangka Hani dihantam angkot saat hendak melewati jalan sambil menangis, dan dia kini tengah geletak di aspal jalanan. Luka di kepalanya cukup fatal. Nyawanya tak bisa ditolong lagi. Izam dan yang lainnya mulai mendekat dan menyaksikan pemandangan memilukan itu.

"Haniii!!!" pekik lelaki itu.

Setelah kejadian itu, Izam tidak bisa memaafkan kelakuannya itu. Dia sudah melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan nyawa kekasihnya melayang. Bahkan dia pun masih bingung apakah Hani itu memang kekasihnya atau bukan. Sebab, dia memang 'belok'. Tapi, dengan melihat kematian di depannya langsung, seolah menjadi pukulan telak baginya. Izam sangat menyesali semua yang dilakukannya kepada Hani. Dia ingin sekali menebusnya. Dan kini, dia masih ingin menemani jasad Hani walaupun di pemakaman. Tetesan tangisnya mulai membasahi sebagian bunga yang ada di atas makam Hani.

Sayup-sayup kabut tipis mulai muncul saat gelap menggantikan senja. Izam tak mempedulikannya, bahkan ketika sekelebat bayangan melintas di belakangnya. Dia masih tetap ingin di samping makam Hani dan enggan pulang. Lama-kelamaan, kantuk mulai datang dan dia tak bisa menahannya lagi. Kini, dia pun mulai memejamkan mata dan lelap di atas gundukan tanah makam.

***

"Izam, bangunlah."

"Izamku sayang, bukalah matamu."

Sayup-sayup telinga Izam menangkap bisikan yang sangat lembut, bagaikan musik yang meninabobokan. Dia membuka matanya pelan-pelan.

Izam mengumpulkan nyawanya sesaat. Dia tampak pulas sekali hingga tidak tahu jika malam sudah datang. Dia yang tadinya memeluk gundukan tanah makam, kini mulai bangkit pelan-pelan. Matanya yang masih setengah mengantuk itu dikucek-kucek. Kepalanya sedikit pusing. Pandangannya menyapu sekeliling pemakaman. Meskipun cahaya bulan membantunya untuk melihat, tapi dia tidak menemukan apapun di situ. Yang ada hanya makam-makam dan bunyi sungai dekat pemakaman.

"Izamku sayang, mendekatlah."

Bisikan itu datang lagi. Bunyinya tepat di telinga lelaki itu. Izam kaget setengah mati. Di mana asalnya bisikan itu? Kepalanya menoleh ke sana ke sini. Matanya kembali menyapu pemakaman. Degup jantungnya mulai kencang. Peluh dingin menetes di wajah, menggantikan tetesan tangisan yang telah hilang sebelumnya. Sialnya, lelaki itu tidak menemukan siapa-siapa di situ.

"Siapa itu?!" pekik Izam, masih sambil memandang tanpa tujuan.

"Ini Hani, Izamku sayang. Aku kekasihmu," bisikan itu membalas.

Izam kaget dengan balasan bisikan itu. "Hani? Kamukah itu?" tanyanya tidak yakin dengan telinganya.

"Iya, Izamku sayang. Ayo temani aku di sini. Aku kesepian."

Balasan bisikan itu bagaikan menghipnotis Izam. Dengan sigap, dia langsung menggali gundukan tanah makam Hani dengan tangannya. Dia tak peduli tangannya mengalami luka-luka saat menggali. Yang penting, kekasihnya bisa diselamatkan.

"Jangan kau lakukan itu, Izamku sayang," bisikan lembut itu kembali membalas, membuat Izam menghentikan penggaliannya, "kamu hanya akan mengacak-acak makamku saja. Aku tidak suka itu, Izamku sayang."

Izam kembali bingung, "Lalu, aku mesti apa, Hani? Apapun akan aku lakukan demi bisa menebus dosa-dosaku sama kamu. Aku ingin ada kesempatan kedua untuk kita memulai hubungan lagi. Aku janji, Hani," pintanya pada makam Hani.

"Aku ada di sini, Izamku sayang. Ikutilah bisikanku."

"Kamu di mana, Hani? Apapun akan aku lakukan demi kamu," sahut Izam mantap.

"Melangkahlah ke kananmu, Izamku sayang. Jalanlah tanpa ada kebimbangan. Aku menunggumu di sini. Kamu bisa lihat kan, Izamku sayang?"

Mata Izam menoleh, dia ingin tahu apa yang ditunjukkan oleh bisikkan Hani itu. Dalam bantuan cahaya bulan, dia memicingkan matanya supaya bisa melihat dengan jelas. Sialnya, dia tidak menemukan apapun di situ. Hanya ada pepohonan melambai saja yang ditiup angin di tepian pemakaman.

Walaupun begitu, dia tak boleh bimbang sedikitpun. Dia mesti yakin jika Hani memang ada di situ dan menunggunya. Izam mesti menyelamatkan kekasihnya itu dan kembali menjalankan hubungan yang lebih baik. Dia tak ingin menyia-nyiakannya lagi. Sudah cukup masa lalunya yang kelam dengan lelaki lain.

"Aku datang, Hani," gumamnya mantap.

Dia melangkah menuju kanannya. Matanya tetap ke depan. Apapun yang dilaluinya tak dipedulikan. Bahkan saat ada makam-makam lain yang menghalangi langkahnya, dia tidak mengambil jalan lain dan malah menginjaknya. Yang penting, tujuannya hanya satu, yakni menuju ke tempat Hani menunggu.

"Tetaplah melangkah, Izamku sayang. Aku menunggumu di sini."

Bisikan itu memang telah menghipnotis Izam. Dia menginjak tiap-tiap makam yang menghalangi. Begitu sampai di tepian pemakaman, dia menghentikan langkahnya. Dia kaget sebab di balik pepohonan ini ada tebing menghadangnya. Dan di bawah tebing itu ada sungai membentang. Dia bisa menangkap bunyi gelombang sungai yang cukup kencang. Dia kesulitan untuk melanjutkan langkahnya.

Images

"Ada apa, Izamku sayang? Janganlah bimbang. Tetaplah melangkah dan temui aku di sini," bisikan lembut itu datang lagi.

"Hani, a-aku sesungguhnya mau melanjutkan. Tapi bagaimana aku mau lanjut, ada tebing dan sungai di sini. Lagipula, kamu menunggu di mana?" tanyanya agak takut. Dia menyapu sekeliling untuk menemukan sosok Hani. Tapi, cahaya bulan tak cukup mampu membantunya akibat ditutupi pepohonan.

Dia melongok sedikit ke bawah. Bulu kuduknya langsung geli akibat takut. Tebingnya lumayan tinggi juga.

"Aku menunggumu di balik sungai ini, Izamku sayang. Datanglah dan temui aku. Jangan bimbang, Izamku sayang," balas bisikan itu.

"I-iya, Hani. Aku pasti akan menemuimu. Ta-tapi, kamu kan tahu kalau aku ini nggak bisa ...."

Belum sempat Izam melanjutkan kata-katanya, dia langsung melompati tebing itu dengan mantap lalu jatuh ke dalam sungai. Dia panik, napasnya megap-megap. Kepalanya timbul-tenggelam akibat hanyut. Kemudian, tubuhnya tidak muncul lagi.

Di atas tebing, ada dua sosok dengan senyum yang menakutkan. Yang satu tampak membawa dua benda yang menampilkan cahaya, lalu dimasuki ke dalam kantong.

"Kelamaan basa-basi jadi aku tendang saja sekalian lelaki tolol itu ke sungai," ucap salah satunya.

"Apa dia sudah mati?"

"Semestinya."

"Huh, tak kusangka dia sangat tolol hingga tidak tahu kalau ada headset bluetooth yang kutempel di pundak bajunya. Jadi, dia bisa aku bodohi dengan mudahnya."

"Ya, vokalmu memang lembut sekali, Bu. Untung saja aku masih punya stok obat bius di Puskesmas. Dengan begini, aku bisa ikhlas melepas kematian anak kita. Sejak awal aku memang tidak setuju anak kita menjalin hubungan dengan lelaki tolol dan sakit macam itu."

"Iya, Pak. Semoga anak kita tenang di alam sana."


-tamat-


Image
Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.