Image

Flash fiction ini saya buat demi mengikuti salah satu agenda komunitas kepenulisan di Facebook. Tulisan ini didedikasikan bagi ibu-ibu yang ada di Indonesia, sesuai dengan tema yang diusung di komunitas itu, walaupun isinya sangat tidak sesuai ekspektasi, hahaha. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Sudah lima belas tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki di tanah desa tempat aku tumbuh. Suasananya masih tetap sama dengan dulu ketika usiaku masih enam tahun. Andai saja jika ayahku tidak dipanggil dinas ke Bandung, pasti aku masih tinggal di sini.

Mumpung masuk kuliah masih lama, aku menyempatkan untuk datang ke desa ini dulu. Aku sangat ingin jumpa dengan teman masa kecil, Sufyan. Apakah sifatnya masih sama kayak dulu lagi, yakni nakal dan tidak mau mengalah? Ah, masa itu sangat tidak bisa dilupakan.

Tempat yang kusinggahi lebih dulu tidak lain adalah kediaman Sufyan. Setelah itu, aku mau melihat tempat tinggalku yang dulu yang kini sudah kosong. Setelah itu ke penginapan untuk semalam. Aku memandang tempat tinggal Sufyan yang cukup bagus. Tampaknya tempat ini masih sama dengan yang dulu. Tak ada yang diutak-atik sama sekali. Ah, tempat ini mungkin lebih cocok disebut villa di desa ketimbang sebagai tempat tinggal. Maklum saja, ayah dan ibunya sangat kaya. Walaupun begitu, Sufyan masih mau main dengan anak-anak di desa.

Di depan pintu ada sesosok wanita yang sangat tak asing bagiku. Ah, dia adalah Tante Winda, ibunya Sufyan.

"Alan, kamu datang juga. Tante udah lama nunggu, loh," sapanya sambil memelukku.

"Loh, Tante kok tahu aku mau ke sini?" tanyaku sambil kesulitan napas akibat dekapannya yang lumayan kencang.

Tawanya lepas, "Jangan menyepelekan kekuatan gosip ibu-ibu. Ayo, masuk."

Aku hanya mengiyakan saja sambil bingung. Ah, dia tampak muda sekali dan cantik, sama kayak seleb-seleb sana. Padahal aku tahu semestinya dia udah usia 50-an, tapi masih tampak bagaikan wanita usia 30-an.

"Ayo, duduk dulu. Tante panggilin Sufyannya. Maklum, jam segini dia masih belum bangun," ucapnya sambil layangkan senyuman manis. Dia pun melenggang masuk ke dalam, lalu menaiki tangga menuju lantai dua.

Aku pun duduk di sofa. Ah, lelah selama di bis cukup menyita tenagaku. Untungnya sofa empuk begini sangat nyaman diduduki. Tampaknya sofa ini belum lama diganti, sebab desainnya beda sewaktu aku masih ada di sini. Sisanya tak ada yang beda sama sekali.

"Alan?!"

Tiba-tiba ada yang memanggilku. Ah, vokal lelaki lembut itu tampak tidak asing bagiku. Dia kini sudah ada di tangga. "Sufyan, habis bangun ya?" tanyaku antusias.

"Kamu kok bisa masuk ke sini, sih?" tanyanya tampak bingung.

"Kan ibumu yang menyambutku," kataku santai.

"Hah? I-ibuku sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Lan," sahutnya yang disambut dengan kekagetanku.


-tamat-


Image

Tante Winda


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."


Image

Flash fiction ini saya buat demi mengikuti salah satu agenda komunitas kepenulisan di Facebook. Tulisan ini didedikasikan bagi ibu-ibu yang ada di Indonesia, sesuai dengan tema yang diusung di komunitas itu, walaupun isinya sangat tidak sesuai ekspektasi, hahaha. Selamat membaca dan tinggalkan komen.


==========
Sudah lima belas tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki di tanah desa tempat aku tumbuh. Suasananya masih tetap sama dengan dulu ketika usiaku masih enam tahun. Andai saja jika ayahku tidak dipanggil dinas ke Bandung, pasti aku masih tinggal di sini.

Mumpung masuk kuliah masih lama, aku menyempatkan untuk datang ke desa ini dulu. Aku sangat ingin jumpa dengan teman masa kecil, Sufyan. Apakah sifatnya masih sama kayak dulu lagi, yakni nakal dan tidak mau mengalah? Ah, masa itu sangat tidak bisa dilupakan.

Tempat yang kusinggahi lebih dulu tidak lain adalah kediaman Sufyan. Setelah itu, aku mau melihat tempat tinggalku yang dulu yang kini sudah kosong. Setelah itu ke penginapan untuk semalam. Aku memandang tempat tinggal Sufyan yang cukup bagus. Tampaknya tempat ini masih sama dengan yang dulu. Tak ada yang diutak-atik sama sekali. Ah, tempat ini mungkin lebih cocok disebut villa di desa ketimbang sebagai tempat tinggal. Maklum saja, ayah dan ibunya sangat kaya. Walaupun begitu, Sufyan masih mau main dengan anak-anak di desa.

Di depan pintu ada sesosok wanita yang sangat tak asing bagiku. Ah, dia adalah Tante Winda, ibunya Sufyan.

"Alan, kamu datang juga. Tante udah lama nunggu, loh," sapanya sambil memelukku.

"Loh, Tante kok tahu aku mau ke sini?" tanyaku sambil kesulitan napas akibat dekapannya yang lumayan kencang.

Tawanya lepas, "Jangan menyepelekan kekuatan gosip ibu-ibu. Ayo, masuk."

Aku hanya mengiyakan saja sambil bingung. Ah, dia tampak muda sekali dan cantik, sama kayak seleb-seleb sana. Padahal aku tahu semestinya dia udah usia 50-an, tapi masih tampak bagaikan wanita usia 30-an.

"Ayo, duduk dulu. Tante panggilin Sufyannya. Maklum, jam segini dia masih belum bangun," ucapnya sambil layangkan senyuman manis. Dia pun melenggang masuk ke dalam, lalu menaiki tangga menuju lantai dua.

Aku pun duduk di sofa. Ah, lelah selama di bis cukup menyita tenagaku. Untungnya sofa empuk begini sangat nyaman diduduki. Tampaknya sofa ini belum lama diganti, sebab desainnya beda sewaktu aku masih ada di sini. Sisanya tak ada yang beda sama sekali.

"Alan?!"

Tiba-tiba ada yang memanggilku. Ah, vokal lelaki lembut itu tampak tidak asing bagiku. Dia kini sudah ada di tangga. "Sufyan, habis bangun ya?" tanyaku antusias.

"Kamu kok bisa masuk ke sini, sih?" tanyanya tampak bingung.

"Kan ibumu yang menyambutku," kataku santai.

"Hah? I-ibuku sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Lan," sahutnya yang disambut dengan kekagetanku.


-tamat-


Image

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.