Image

Tulisan ini saya buat demi memenuhi tantangan Demia, yang juga sempat duet dengan saya dalam tulisan Cinta (kepada) Buta. Dan menulis ini pun sangat ditekan tenggat waktu. Tapi, tak apalah, toh saya juga sudah biasa menulis dalam tenggat waktu, hahaha! Oh iya, salah satu video musik lagu Within Temptation-lah ide tulisan ini didapat, meskipun ada sedikit kesamaan. Tapi tetap saja, kisah ini saya tulis dengan gaya saya. So, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komennya. Dan untuk Demia, silakan bantai tulisan ini.




==========
Alice anakku sayang, 

Bagaimana kamu di sana, Alice? Semoga kamu baik-baik saja dan bisa menjalani kehidupanmu walau tanpa ibu. Ibu kangen sama kamu, Nak. Maafkan kalau ibu tidak bisa menjadi ibu yang pantas untukmu, tidak bisa kasih contoh yang baik. Ibu mohon supaya Alice jangan menjadi kayak ibu ini. 

Alice sayang, temuilah ibu di sini. Ibu sangat ingin melihat wajahmu. Ibu tunggu ya, Nak. 

Ibumu, Samantha.


Aku melipat-lipat pesan itu lalu memasukkannya ke dalam amplop. Untung saja ada penjaga yang baik hati mau meminjamiku fasilitas untuk menulis pesan kepada anakku.

Kubikel kecil yang agak gelap ini begitu pengap dan dingin. Pakaianku mulai lembab. Cahaya lilin di meja penjaga hanya menembus masuk melalui sela-sela kisi-kisi besi. Menulis pun aku agak kesusahan. Tapi, aku mesti mengetahui keadaan anakku. Lagipula, sudah sebulan dia tidak menengokku dan tahu keadaannya. Ada apa dengan dia? Semoga dia baik-baik saja dengan kekayaan lelaki sialan itu. Tangisan pun menetes akibat tak sanggup menahan sesak di dada.

***

Southampton, 12 Juli 1833

Sama sekali tak kusangka dalam hidup jika aku akan menikah dengan walikota di kota ini. Janda muda miskin dan hanya memiliki anak satu ini kadang sangat tak pantas dinikahi oleh sang walikota yang jelas mempunyai kedudukan tinggi di kota ini. Entah apa alasan dia menikahiku, meskipun siapapun tahu kalau dia adalah duda.

Awalnya aku sedikit bimbang untuk mengiyakan pinangannya. Apalagi suamiku belum lama meninggal. Tapi, aku melihat anakku, Alice, yang usianya masih 10 tahun. Masa depan dia jangan sampai hilang akibat tak ada kasih sayang ayah. Jadi, aku setuju menikah dengan lelaki itu walau agak menanggung beban di hati. Tapi, ini semua demi Alice.

Di awal-awal menjalani kehidupan dengannya sangat biasa-biasa saja. Bahkan entah mengapa aku sangat tidak nyaman dengannya. Begitu banyak ketentuan yang mesti kupatuhi sejak menikah dengannya. Tapi, sisi positifnya aku jadi bisa mengetahui bagaimana walikota memimpin kotanya dengan langsung. Aku selalu dilibatkan dalam meeting di balai kota yang biasa dilakukan oleh pejabat, meskipun yang bisa aku lakukan hanya diam dan menyimak, itu pun atas pinta suamiku. 

Entah apa maksudnya dia mengajakku ikut duduk dengan pejabat-pejabat dan bangsawan penting kota ini. Hal ini sama sekali belum sempat aku alami. Tapi, aku sempat mengetahui info kalau memang ada pejabat-pejabat yang melibatkan langsung salah satu sanak familinya untuk ikut meeting. Namun kini, tampaknya hanya aku saja yang bukan pejabat atau bangsawan yang dilibatkan langsung. Memang agak canggung juga, tapi aku sangat menikmatinya. Mungkin suamiku memang ingin mengenalkan bagaimana memimpin sebuah kota padaku.

"Jadi, tanah yang ada di selatan Eastleigh yang diwacanakan masuk ke dalam wilayah Southampton akan langsung dilaksanakan. Paksa saja penduduk di situ untuk menjual tanah-tanahnya kepada kita," ucap suamiku yang usianya sudah setengah baya itu. Dia tampak wibawa sekali.

"Saya setuju, pasti Buckingham Palace akan mendukung kita. Selama ini, Eastleigh masih belum jelas status wilayahnya," sahut pejabat yang lain.

Semua yang ada di sini begitu wibawa, seolah menunjukkan 'inilah kekuasaanku'. Aku yang memang tak tahu apa-apa hanya ikut gabung saja. Pakaian ala bangsawan yang kukenakan ini masih sangat asing bagiku. Kehalusan bahannya yang dibalut oleh hiasan-hiasan ala bunga di tiap jahitannya, juga gaun panjang hingga menyentuh tanah, hingga membuatku sedikit kesulitan melangkah. Selain itu, topi camping yang dihiasi bulu angsa di atasnya, pewangi-pewangi yang entah aku tak tahu namanya, kipas dengan motif yang sama dengan punggawa istana di London, kalung emas motif logo Southampton yang menempel, dan juga gelang cincin yang menghiasi tangan ini, entah mengapa semua ini membuatku sangat tidak nyaman. Apakah aku memang tidak pantas hidup di tengah kalangan bangsawan?

"Tapi, apa tidak sebaiknya kita membebaskan wilayah itu saja untuk menjadikan Eastleigh sebagai kota yang beda dengan Southampton?" tanyaku tiba-tiba. Entah mengapa lidah ini mengucapkan kata-kata itu.

Semua mata menatap kepadaku, sehingga membuatku kesulitan menelan ludah. Yang membuatku takut, tatapan suamiku yang duduk di ujung meja tampak beda dengan yang lainnya. Tatapan itu bagaikan tatapan singa yang hendak mengintai mangsa.

"Wanita tahu apa soal politik?" celetuk salah satu pejabat, yang diikuti oleh tawa pejabat lainnya.

Ah, tawa-tawa itu membuat tatapan suamiku semakin menakutkan. Dia hanya diam dan membuatku malu. Kuputuskan untuk meninggalkan tempat meeting itu tanpa pamit dahulu.

***

Malamnya, suamiku pulang. Kali ini mimik wajahnya lain ketimbang biasanya. Dia melepas jubahnya,  mengambil sebotol koktail di meja, lalu menenggaknya.

"Sam! Siapkan makan malam!" bentaknya tanpa menoleh kepadaku.

Aku yang sedang menemani Alice, langsung mengajaknya menyiapkan makanan. Entah mengapa suamiku yang cukup kaya ini tidak menggunakan pembantu. Tapi, itu tak jadi soal. Lagipula aku sudah biasa melakukan tugasku sejak masih ada William, yang tak lain adalah ayah Alice. Meskipun begitu, ada hal tak mengenakkan yang melintas di benakku. Entah apa itu.

Tak lama kemudian, makanan sudah siap disajikan di meja. Ada sup kentang jagung, steak sapi panggang, dan tak lupa juga koktail yang menjadi menu wajib suamiku. Aku dan Alice duduk di salah satu sisi meja, sedangkan sisi ujungnya adalah suamiku. Dia tidak senang jika ada yang mendekatnya selagi makan.

Belum juga mengambil makanan yang ada di meja, dia memukul meja dengan telapak tangan. Aku dan anakku sontak kaget. Kenapa dia?

"Wanita sialan! Bukankah sudah kubilang kalau kamu cukup diam saja dan menyimak! Apa kamu tuli, hah?!" bentaknya melotot.

Alice ketakutan, lalu mendekat ke pelukanku. Suasana menjadi tegang. Aku dibuat bingung untuk menjawabnya.

"A-aku hanya menyampaikan apa yang ada di kepala saja. Lagipula, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk disahuti," belaku agak gugup.

Suamiku kembali memukul mejanya, "Jadi kini kamu sudah mulai lancang denganku, hah?! Wanita miskin macam kamu tahu apa? Bikin malu saja!"

Kata-kata itu seolah menusuk langsung ke hatiku. Suamiku yang aku banggakan ini kini mengucapkan kata-kata yang tak pantas. Apalagi di sini ada anakku.

"Ke-kenapa kamu tega mengatakan itu? Apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanyaku dengan hati menahan sakit.

Tanpa menyahut, dia mendekatiku dengan cepat. Alice semakin ketakutan dan memeluk pinggangku kencang. Tapi tampaknya, tenaga suamiku sangat kuat. Hanya sekali hentakan saja, dia bisa membuatku bagaikan boneka yang hendak dibuang. Pelukan Alice lepas. Suamiku membawaku paksa ke dalam.

"Ibu!" pekik Alice.

"Alice, tetap di situ!" pekikku saat dibawa ke dalam tempat kami melepas lelap. Entah mengapa yang ada di kepalaku ini hanya Alice saja. Aku tak peduli jika akan disiksa oleh lelaki yang menikahiku ini.

Lelaki itu menutup pintu, lalu mulai membekap mulutku. Wajahnya didekatkan ke wajahku. "Pasang telinga baik-baik, Wanita Jalang! Apa kamu menyangka jika aku menikahimu adalah akibat aku mencintaimu? Apakah kamu menyangka aku memiliki belas kasihan padamu, hah? Kamu salah!" katanya dengan senyum menakutkan.

Aku sama sekali tak bisa menyahut akibat bekapan tangannya sangat kuat.

"Kamu tahu, mengapa mantan suamimu bisa mati?" tanyanya masih dengan senyum menakutkan.

Aku tetap tak bisa menjawab apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya menggumam tanpa bisa membuka mulut.

"Aku paham kenapa kamu menyeletuk saat meeting di balai kota tadi. Eastleigh adalah tempat asal kalian, bukan? Makanya kamu ingin wilayah itu menjadi kota yang beda dengan Southampton. Mungkin suamimu tidak mengatakannya padamu kalau kami pejabat kota sudah negosiasi dengannya untuk menjual tanah ladang jagungnya yang cukup luas. Tapi dia menolak mentah-mentah. Jadi, aku meminta anak buahku untuk membunuhnya saja meskipun dia belum mengatakan di mana dia menyimpan dokumen tanah itu. Dan mumpung kamu masih polos dan tak tahu apa-apa dalam hal itu, jadi aku menikahimu demi mendapatkan kuasa atas tanah itu."

Aku kaget dengan pengakuannya. Jadi, penyebab kematian mantan suamiku adalah dibunuh oleh suamiku ini?

***

Eastleigh, 5 Mei 1833

"Sam!"

Aku yang tengah memisahkan biji-biji jagung di belakang kemudian masuk ke dalam gubuk tempat tinggal kami. Tumben sekali suamiku sudah pulang siang ini. Padahal kan ini musim panen.

"Ada apa, Will?"

William, lelaki yang menikahiku 11 tahun silam ini memasang wajah gelisah. "Sam, aku minta kamu jaga Alice anak kita."

Aku yang masih sibuk mengelap tangan akibat biji-biji jagung menjadi kaget. Apa maksud ucapannya?

William lalu sibuk menggeledah menggeledah sebuah laci. "Aku tahu kamu akan kaget, Sam," lanjutnya tanpa sempat menyahutku. Dia masih sibuk melihat isi di dalam laci.  "Alice membutuhkanmu. Masa depannya masih panjang. Dan juga, aku minta jaga ladang jagung peninggalan Nyonya Thomson ini. Jangan sampai jatuh ke tangan siapapun."

"Kamu mau ke mana, Will? Kenapa dengan ladangnya?" tanyaku mulai cemas.

"Aku tak bisa menjelaskannya saat ini. Nanti aku akan menjelaskannya. Aku pinjam dulu kudamu, ya. Aku mau ke Dom St. Louis di Southampton dulu menemui temanku," sahutnya cepat tanpa menunggu jawabanku. Tampaknya dia sudah menemukan apa yang digeledahnya tadi.

Aku hanya bisa menatap punggung suamiku yang tengah memacu kuda membelah ladang jagung, kemudian menghilang di balik pepohonan di tepian ladang. Entah mengapa dadaku sangat sesak. Pelupuk mata mulai sembab tanpa penyebab pasti. Di sampingku tiba-tiba muncul Alice yang tengah memeluk bonekanya.

"Bu, ayah mau ke mana?" tanyanya.

Aku hanya menggeleng, "Entahlah, Nak. Ibu tidak tahu."

Mungkin inilah jawaban mengapa dadaku sangat sesak, sebab William tidak pulang semalaman. Dan, ada kenyataan yang sangat menusuk, bahwa suamiku ditemukan tewas keesokannya di dalam katakombe Dom St. Louis akibat ditembak kepalanya. Siapa yang tega melakukannya? Aku hanya bisa mendekap Alice saja tanpa bisa melukiskan sakit yang amat sangat. Tangisan tak henti-hentinya menetes.

Image


***

Aku kesulitan napas akibat bekapan itu. Dada mulai megap-megap.

"Kami sangat menginginkan tanah milik Nyonya Thomson yang tak lain adalah bibi suamimu. Jadi, aku menikahimu supaya dengan mudah mendapatkan dokumen tanah itu. Selama ini anak buahku menggeledah gubuk lamamu di ladang jagung itu untuk menemukan dokumen tanah. Makanya, jangan senang dulu kalau kunikahi!" bentaknya kemudian.

Napasku semakin sesak. Entah apapun yang dia katakan aku tak peduli. Yang ada di benakku saat ini hanyalah Alice saja. Semoga dia baik-baik saja.

"Untuk itu, aku mengajakmu meeting untuk menunjukkan supaya aku mempunyai wanita yang bisa kubodohi. Wanitaku sebelumnya mati juga akibat kebodohannya. Dia punya tanah cukup luas di selatan Southampton bekas peninggalan mantan suaminya. Kini wilayah kekuasaanku semakin luas," tawanya mulai lepas, "apa kamu mau menyusulnya?"

Dia lalu melepas bekapannya. Langsung aja aku mengambil napas dalam-dalam. Otak sudah mulai pusing akibat tak ada napas. Badanku lemas tak mampu melawan. Padahal, aku tahu apapun yang dikatakannya itu mengancam nyawaku, bahkan mungkin saja Alice.

Lelaki yang kini sudah muak kupanggil 'suami' itu meninggalkanku. Entah mau ke mana dia. Alice tiba-tiba saja datang. Dia tampak menangis.

"Ibu, Alice takut. Ibu tadi kenapa?" tanyanya sambil memelukku.

"Ibu tidak apa-apa, Nak," sahutku sambil mengusapnya, "hanya saja pemilik istana megah ini sudah dimasuki setan."

***

Southampton, 13 Juli 1833

"Sam!"

Pagi-pagi begini telingaku sudah menangkap bentakan. Ah, lelaki sialan itu sudah datang setelah semalaman tak kunjung pulang. Tapi, itu lebih baik jadi aku bisa menghabiskan malam dengan Alice tanpanya.

"Ada apa?" tanyaku yang cepat-cepat menyahutnya. Wajah ini jangan sampai kelihatan mengantuk. Bisa-bisa aku diamuknya akibat tidak becus meladeninya.

"Buatkan aku kopi!" pekiknya sambil duduk membaca sebuah media massa cetak. Entah apa yang dia baca.

Aku pun mematuhinya dan melangkah menuju belakang. Dia dengan entengnya mengatakan itu seolah tak ada apa-apa dengan kejadian semalam. Memang sialan lelaki itu. Sesosok setan kemudian melintas di otakku. Ingin sekali kumasukkan toksin tikus ke dalam kopinya. Tapi, aku agak bingung, botol toksinnya kusimpan di mana? Ah, aku mengecek semua tempat yang menjadi kemungkinan disimpannya botol itu. Bahkan di kolong tempat memasak pun kucek. Ah, tak ada. Di mana aku menyimpannya?

Ah, tampaknya usahaku tak sia-sia. Aku menemukannya tepat di dekat toples gula. Mengapa aku bisa tidak mengeceknya di atas meja? Ah, mungkin akibat detak jantung yang cukup cepat ini, sehingga tidak fokus. Aku masukkan bubuk dalam botol itu ke dalam kopinya, kemudian siap untuk dihidangkan. Aku langsung membawanya ke lelaki setan itu yang duduk di depan kediaman kami.

"Lama sekali kamu bikin kopinya!" bentaknya sesaat, lalu lanjut membaca.

"Maaf, tadi ada masalah sedikit. Tapi sudah bisa kuatasi. Ini kopinya," kataku sambil meletakkan gelas kopi di dekatnya.

Tanpa bimbang sedikit pun, lelaki sialan itu menyesap kopinya. Dan, apa yang aku inginkan dimulai. Dia memegang dadanya dengan wajah aneh. Mungkin agak sesak. Yah, aku tak tahu pasti. Dia mulai memekik kesakitan, lalu jatuh ke lantai. Senang sekali melihat wajahnya yang sedang di ambang kematian. Dia menggeliat sejenak, lalu diam dengan mulut menganga.

Aku sangat puas. Dendam William suamiku pun dibalas. Lelaki ini tak pantas menjadi suamiku dan ayah bagi Alice, walaupun dia kaya dan tinggi kedudukannya. Tawaku lepas.

Pintu depan tiba-tiba dibuka paksa. Siapa itu yang masuk? Ah, petugas keamanan?

"Tuan Walikota?" pekik salah satunya yang kuketahui sebagai pejabat yang sempat ikut meeting di balai kota. "Tangkap wanita itu!" pekiknya.

Ah, kenapa petugas keamanan datang di saat yang tidak pas ini? Mengapa? Kedua tanganku langsung dibelenggu petugas dengan sangat kuat. Aku tak bisa mengelak lagi. Posisiku sudah ketangkap basah dan dengan bukti yang kuat. Aku pun hanya bisa menangis saja saat langsung dibawa menuju sel tahanan.

Yang ada di otakku kini hanya Alice. Aku belum melihatnya pagi ini. Ke mana dia? Semoga dia baik-baik saja. Tuhan, tolong jaga Alice.

***

Southampton, 15 Agustus 1833

"Tolong titipkan amplop ini untuk anakku, Pak. Dia ada di kediaman walikota," ucapku kepada penjaga sel tahanan yang hanya dipisahkan oleh kisi-kisi besi yang kokoh denganku.

Penjaga dengan tubuh gemuk itu menoleh sesaat kepadaku, lalu memandang ke kanannya. "Untuk anakmu? Untuk apa menulis pesan? Lebih baik kamu mengatakannya langsung."

Aku tak paham dengan apa yang diucapkannya. Tapi, kode yang ditunjukkan oleh penjaga itu membuatku mengikuti ke mana pandangannya.

Tiba-tiba bola mataku membulat. Di ujung sel-sel tahanan ada Alice datang dengan si walikota setan itu! Kenapa dia masih hidup?

"Samantha, Samantha, wanitaku yang malang. Bagaimana keadaanmu di dalam gelap dan dinginnya sel tahanan?" sapanya bak kekasih yang sudah lama tak jumpa.

Aku memegang kedua kisi-kisi besi sambil mendelik tajam ke lelaki itu, "Apa yang mau kamu lakukan kepada anakku?! Mengapa kamu masih hidup?!" bentakku.

"Ibu," ucap Alice memelas yang tangan mungilnya digenggam kuat oleh lelaki sialan itu. Bisa kutangkap ada tangisan yang ditahan di matanya.

Lelaki sialan itu sunggingkan senyum menakutkan, "Kamu tahu, aku memang sengaja menjebakmu. Aku tahu kalau waktu itu kamu mau membunuhku. Toksin yang kamu masukkan ke dalam kopiku itu hanya gula biasa. Bodoh tetap saja bodoh. Sewaktu kamu mengecek bagian kolong tempat memasak, aku menyimpan botol yang isinya gula itu di dekat toples gula. Mestinya kamu tahu kalau di situ memang tak ada botol sejak awal. Bodoh tetap saja bodoh, tak bisa kamu menolaknya. Untung saja aku sudah sekongkol dengan polisi dan membahas agenda mulus ini sewaktu malam. Akting matiku sangat hebat, bukan?" tanyanya, sambil menoleh sesaat ke penjaga gendut itu.

"Kata teman-teman petugas keamanan yang ikut ke tempat tinggal Anda waktu itu, akting Anda hebat sekali, Tuan," sahut si penjaga sambil mengacungkan jempolnya.

"Bajingan! Apa yang mau kamu lakukan?!" bentakku sambil mencoba menendang kisi-kisi besi. Namun, besi itu memang kokoh dan tak bisa ditembus.

Lelaki sialan itu mengelus pipi mulus Alice yang mulai menangis ketakutan, "Kini tanah Nyonya Thomson sudah jadi milikku. Anak buahku sudah menemukan dokumen yang disembunyikan mantan suamimu. Tak disangka dia menyembunyikannya bukan di dalam gubuk, tapi di bawah tanah dekat pohon di tepian ladang. Butuh waktu lama hingga kini buat menemukannya. Kini, tugasmu sudah selesai, Samantha. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Dan, kamu pastinya tahu kalau Alice anakku juga, kan? Maka dia pastinya sudah menjadi milikku. Lima puluh pounds mungkin cukup untuk yang mau memilikinya juga. Kau pasti tahu maksudku, kan?" sahutnya dengan senyum menakutkan.

"Bangsat kau!" makiku. Aku tahu dia punya niat busuk kepada Alice.

Tanpa sempat menyahut, lelaki sialan itu mulai menjauhiku sambil tetap menggandeng Alice. Ya Tuhan, Alice!

"Alice!" pekikku.

"Ibu!" sahut Alice menangis. Dia tak bisa melakukan apa-apa lagi.

Aku tak kuasa lagi saat lelaki sialan dan Alice sudah menghilang. Penjaga itu juga ikut meninggalkanku, dan memilih mengikuti lelaki sialan itu. Dia mematikan lilinnya sehingga membuat tempat ini kembali gelap.

Ya, Tuhan. Apa yang mesti kulakukan? Alice dalam bahaya.

'Ibu, tolong aku.'


-tamat-


Image

Pesan Untuk Anakku


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."


Image

Tulisan ini saya buat demi memenuhi tantangan Demia, yang juga sempat duet dengan saya dalam tulisan Cinta (kepada) Buta. Dan menulis ini pun sangat ditekan tenggat waktu. Tapi, tak apalah, toh saya juga sudah biasa menulis dalam tenggat waktu, hahaha! Oh iya, salah satu video musik lagu Within Temptation-lah ide tulisan ini didapat, meskipun ada sedikit kesamaan. Tapi tetap saja, kisah ini saya tulis dengan gaya saya. So, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komennya. Dan untuk Demia, silakan bantai tulisan ini.




==========
Alice anakku sayang, 

Bagaimana kamu di sana, Alice? Semoga kamu baik-baik saja dan bisa menjalani kehidupanmu walau tanpa ibu. Ibu kangen sama kamu, Nak. Maafkan kalau ibu tidak bisa menjadi ibu yang pantas untukmu, tidak bisa kasih contoh yang baik. Ibu mohon supaya Alice jangan menjadi kayak ibu ini. 

Alice sayang, temuilah ibu di sini. Ibu sangat ingin melihat wajahmu. Ibu tunggu ya, Nak. 

Ibumu, Samantha.


Aku melipat-lipat pesan itu lalu memasukkannya ke dalam amplop. Untung saja ada penjaga yang baik hati mau meminjamiku fasilitas untuk menulis pesan kepada anakku.

Kubikel kecil yang agak gelap ini begitu pengap dan dingin. Pakaianku mulai lembab. Cahaya lilin di meja penjaga hanya menembus masuk melalui sela-sela kisi-kisi besi. Menulis pun aku agak kesusahan. Tapi, aku mesti mengetahui keadaan anakku. Lagipula, sudah sebulan dia tidak menengokku dan tahu keadaannya. Ada apa dengan dia? Semoga dia baik-baik saja dengan kekayaan lelaki sialan itu. Tangisan pun menetes akibat tak sanggup menahan sesak di dada.

***

Southampton, 12 Juli 1833

Sama sekali tak kusangka dalam hidup jika aku akan menikah dengan walikota di kota ini. Janda muda miskin dan hanya memiliki anak satu ini kadang sangat tak pantas dinikahi oleh sang walikota yang jelas mempunyai kedudukan tinggi di kota ini. Entah apa alasan dia menikahiku, meskipun siapapun tahu kalau dia adalah duda.

Awalnya aku sedikit bimbang untuk mengiyakan pinangannya. Apalagi suamiku belum lama meninggal. Tapi, aku melihat anakku, Alice, yang usianya masih 10 tahun. Masa depan dia jangan sampai hilang akibat tak ada kasih sayang ayah. Jadi, aku setuju menikah dengan lelaki itu walau agak menanggung beban di hati. Tapi, ini semua demi Alice.

Di awal-awal menjalani kehidupan dengannya sangat biasa-biasa saja. Bahkan entah mengapa aku sangat tidak nyaman dengannya. Begitu banyak ketentuan yang mesti kupatuhi sejak menikah dengannya. Tapi, sisi positifnya aku jadi bisa mengetahui bagaimana walikota memimpin kotanya dengan langsung. Aku selalu dilibatkan dalam meeting di balai kota yang biasa dilakukan oleh pejabat, meskipun yang bisa aku lakukan hanya diam dan menyimak, itu pun atas pinta suamiku. 

Entah apa maksudnya dia mengajakku ikut duduk dengan pejabat-pejabat dan bangsawan penting kota ini. Hal ini sama sekali belum sempat aku alami. Tapi, aku sempat mengetahui info kalau memang ada pejabat-pejabat yang melibatkan langsung salah satu sanak familinya untuk ikut meeting. Namun kini, tampaknya hanya aku saja yang bukan pejabat atau bangsawan yang dilibatkan langsung. Memang agak canggung juga, tapi aku sangat menikmatinya. Mungkin suamiku memang ingin mengenalkan bagaimana memimpin sebuah kota padaku.

"Jadi, tanah yang ada di selatan Eastleigh yang diwacanakan masuk ke dalam wilayah Southampton akan langsung dilaksanakan. Paksa saja penduduk di situ untuk menjual tanah-tanahnya kepada kita," ucap suamiku yang usianya sudah setengah baya itu. Dia tampak wibawa sekali.

"Saya setuju, pasti Buckingham Palace akan mendukung kita. Selama ini, Eastleigh masih belum jelas status wilayahnya," sahut pejabat yang lain.

Semua yang ada di sini begitu wibawa, seolah menunjukkan 'inilah kekuasaanku'. Aku yang memang tak tahu apa-apa hanya ikut gabung saja. Pakaian ala bangsawan yang kukenakan ini masih sangat asing bagiku. Kehalusan bahannya yang dibalut oleh hiasan-hiasan ala bunga di tiap jahitannya, juga gaun panjang hingga menyentuh tanah, hingga membuatku sedikit kesulitan melangkah. Selain itu, topi camping yang dihiasi bulu angsa di atasnya, pewangi-pewangi yang entah aku tak tahu namanya, kipas dengan motif yang sama dengan punggawa istana di London, kalung emas motif logo Southampton yang menempel, dan juga gelang cincin yang menghiasi tangan ini, entah mengapa semua ini membuatku sangat tidak nyaman. Apakah aku memang tidak pantas hidup di tengah kalangan bangsawan?

"Tapi, apa tidak sebaiknya kita membebaskan wilayah itu saja untuk menjadikan Eastleigh sebagai kota yang beda dengan Southampton?" tanyaku tiba-tiba. Entah mengapa lidah ini mengucapkan kata-kata itu.

Semua mata menatap kepadaku, sehingga membuatku kesulitan menelan ludah. Yang membuatku takut, tatapan suamiku yang duduk di ujung meja tampak beda dengan yang lainnya. Tatapan itu bagaikan tatapan singa yang hendak mengintai mangsa.

"Wanita tahu apa soal politik?" celetuk salah satu pejabat, yang diikuti oleh tawa pejabat lainnya.

Ah, tawa-tawa itu membuat tatapan suamiku semakin menakutkan. Dia hanya diam dan membuatku malu. Kuputuskan untuk meninggalkan tempat meeting itu tanpa pamit dahulu.

***

Malamnya, suamiku pulang. Kali ini mimik wajahnya lain ketimbang biasanya. Dia melepas jubahnya,  mengambil sebotol koktail di meja, lalu menenggaknya.

"Sam! Siapkan makan malam!" bentaknya tanpa menoleh kepadaku.

Aku yang sedang menemani Alice, langsung mengajaknya menyiapkan makanan. Entah mengapa suamiku yang cukup kaya ini tidak menggunakan pembantu. Tapi, itu tak jadi soal. Lagipula aku sudah biasa melakukan tugasku sejak masih ada William, yang tak lain adalah ayah Alice. Meskipun begitu, ada hal tak mengenakkan yang melintas di benakku. Entah apa itu.

Tak lama kemudian, makanan sudah siap disajikan di meja. Ada sup kentang jagung, steak sapi panggang, dan tak lupa juga koktail yang menjadi menu wajib suamiku. Aku dan Alice duduk di salah satu sisi meja, sedangkan sisi ujungnya adalah suamiku. Dia tidak senang jika ada yang mendekatnya selagi makan.

Belum juga mengambil makanan yang ada di meja, dia memukul meja dengan telapak tangan. Aku dan anakku sontak kaget. Kenapa dia?

"Wanita sialan! Bukankah sudah kubilang kalau kamu cukup diam saja dan menyimak! Apa kamu tuli, hah?!" bentaknya melotot.

Alice ketakutan, lalu mendekat ke pelukanku. Suasana menjadi tegang. Aku dibuat bingung untuk menjawabnya.

"A-aku hanya menyampaikan apa yang ada di kepala saja. Lagipula, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk disahuti," belaku agak gugup.

Suamiku kembali memukul mejanya, "Jadi kini kamu sudah mulai lancang denganku, hah?! Wanita miskin macam kamu tahu apa? Bikin malu saja!"

Kata-kata itu seolah menusuk langsung ke hatiku. Suamiku yang aku banggakan ini kini mengucapkan kata-kata yang tak pantas. Apalagi di sini ada anakku.

"Ke-kenapa kamu tega mengatakan itu? Apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanyaku dengan hati menahan sakit.

Tanpa menyahut, dia mendekatiku dengan cepat. Alice semakin ketakutan dan memeluk pinggangku kencang. Tapi tampaknya, tenaga suamiku sangat kuat. Hanya sekali hentakan saja, dia bisa membuatku bagaikan boneka yang hendak dibuang. Pelukan Alice lepas. Suamiku membawaku paksa ke dalam.

"Ibu!" pekik Alice.

"Alice, tetap di situ!" pekikku saat dibawa ke dalam tempat kami melepas lelap. Entah mengapa yang ada di kepalaku ini hanya Alice saja. Aku tak peduli jika akan disiksa oleh lelaki yang menikahiku ini.

Lelaki itu menutup pintu, lalu mulai membekap mulutku. Wajahnya didekatkan ke wajahku. "Pasang telinga baik-baik, Wanita Jalang! Apa kamu menyangka jika aku menikahimu adalah akibat aku mencintaimu? Apakah kamu menyangka aku memiliki belas kasihan padamu, hah? Kamu salah!" katanya dengan senyum menakutkan.

Aku sama sekali tak bisa menyahut akibat bekapan tangannya sangat kuat.

"Kamu tahu, mengapa mantan suamimu bisa mati?" tanyanya masih dengan senyum menakutkan.

Aku tetap tak bisa menjawab apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya menggumam tanpa bisa membuka mulut.

"Aku paham kenapa kamu menyeletuk saat meeting di balai kota tadi. Eastleigh adalah tempat asal kalian, bukan? Makanya kamu ingin wilayah itu menjadi kota yang beda dengan Southampton. Mungkin suamimu tidak mengatakannya padamu kalau kami pejabat kota sudah negosiasi dengannya untuk menjual tanah ladang jagungnya yang cukup luas. Tapi dia menolak mentah-mentah. Jadi, aku meminta anak buahku untuk membunuhnya saja meskipun dia belum mengatakan di mana dia menyimpan dokumen tanah itu. Dan mumpung kamu masih polos dan tak tahu apa-apa dalam hal itu, jadi aku menikahimu demi mendapatkan kuasa atas tanah itu."

Aku kaget dengan pengakuannya. Jadi, penyebab kematian mantan suamiku adalah dibunuh oleh suamiku ini?

***

Eastleigh, 5 Mei 1833

"Sam!"

Aku yang tengah memisahkan biji-biji jagung di belakang kemudian masuk ke dalam gubuk tempat tinggal kami. Tumben sekali suamiku sudah pulang siang ini. Padahal kan ini musim panen.

"Ada apa, Will?"

William, lelaki yang menikahiku 11 tahun silam ini memasang wajah gelisah. "Sam, aku minta kamu jaga Alice anak kita."

Aku yang masih sibuk mengelap tangan akibat biji-biji jagung menjadi kaget. Apa maksud ucapannya?

William lalu sibuk menggeledah menggeledah sebuah laci. "Aku tahu kamu akan kaget, Sam," lanjutnya tanpa sempat menyahutku. Dia masih sibuk melihat isi di dalam laci.  "Alice membutuhkanmu. Masa depannya masih panjang. Dan juga, aku minta jaga ladang jagung peninggalan Nyonya Thomson ini. Jangan sampai jatuh ke tangan siapapun."

"Kamu mau ke mana, Will? Kenapa dengan ladangnya?" tanyaku mulai cemas.

"Aku tak bisa menjelaskannya saat ini. Nanti aku akan menjelaskannya. Aku pinjam dulu kudamu, ya. Aku mau ke Dom St. Louis di Southampton dulu menemui temanku," sahutnya cepat tanpa menunggu jawabanku. Tampaknya dia sudah menemukan apa yang digeledahnya tadi.

Aku hanya bisa menatap punggung suamiku yang tengah memacu kuda membelah ladang jagung, kemudian menghilang di balik pepohonan di tepian ladang. Entah mengapa dadaku sangat sesak. Pelupuk mata mulai sembab tanpa penyebab pasti. Di sampingku tiba-tiba muncul Alice yang tengah memeluk bonekanya.

"Bu, ayah mau ke mana?" tanyanya.

Aku hanya menggeleng, "Entahlah, Nak. Ibu tidak tahu."

Mungkin inilah jawaban mengapa dadaku sangat sesak, sebab William tidak pulang semalaman. Dan, ada kenyataan yang sangat menusuk, bahwa suamiku ditemukan tewas keesokannya di dalam katakombe Dom St. Louis akibat ditembak kepalanya. Siapa yang tega melakukannya? Aku hanya bisa mendekap Alice saja tanpa bisa melukiskan sakit yang amat sangat. Tangisan tak henti-hentinya menetes.

Image


***

Aku kesulitan napas akibat bekapan itu. Dada mulai megap-megap.

"Kami sangat menginginkan tanah milik Nyonya Thomson yang tak lain adalah bibi suamimu. Jadi, aku menikahimu supaya dengan mudah mendapatkan dokumen tanah itu. Selama ini anak buahku menggeledah gubuk lamamu di ladang jagung itu untuk menemukan dokumen tanah. Makanya, jangan senang dulu kalau kunikahi!" bentaknya kemudian.

Napasku semakin sesak. Entah apapun yang dia katakan aku tak peduli. Yang ada di benakku saat ini hanyalah Alice saja. Semoga dia baik-baik saja.

"Untuk itu, aku mengajakmu meeting untuk menunjukkan supaya aku mempunyai wanita yang bisa kubodohi. Wanitaku sebelumnya mati juga akibat kebodohannya. Dia punya tanah cukup luas di selatan Southampton bekas peninggalan mantan suaminya. Kini wilayah kekuasaanku semakin luas," tawanya mulai lepas, "apa kamu mau menyusulnya?"

Dia lalu melepas bekapannya. Langsung aja aku mengambil napas dalam-dalam. Otak sudah mulai pusing akibat tak ada napas. Badanku lemas tak mampu melawan. Padahal, aku tahu apapun yang dikatakannya itu mengancam nyawaku, bahkan mungkin saja Alice.

Lelaki yang kini sudah muak kupanggil 'suami' itu meninggalkanku. Entah mau ke mana dia. Alice tiba-tiba saja datang. Dia tampak menangis.

"Ibu, Alice takut. Ibu tadi kenapa?" tanyanya sambil memelukku.

"Ibu tidak apa-apa, Nak," sahutku sambil mengusapnya, "hanya saja pemilik istana megah ini sudah dimasuki setan."

***

Southampton, 13 Juli 1833

"Sam!"

Pagi-pagi begini telingaku sudah menangkap bentakan. Ah, lelaki sialan itu sudah datang setelah semalaman tak kunjung pulang. Tapi, itu lebih baik jadi aku bisa menghabiskan malam dengan Alice tanpanya.

"Ada apa?" tanyaku yang cepat-cepat menyahutnya. Wajah ini jangan sampai kelihatan mengantuk. Bisa-bisa aku diamuknya akibat tidak becus meladeninya.

"Buatkan aku kopi!" pekiknya sambil duduk membaca sebuah media massa cetak. Entah apa yang dia baca.

Aku pun mematuhinya dan melangkah menuju belakang. Dia dengan entengnya mengatakan itu seolah tak ada apa-apa dengan kejadian semalam. Memang sialan lelaki itu. Sesosok setan kemudian melintas di otakku. Ingin sekali kumasukkan toksin tikus ke dalam kopinya. Tapi, aku agak bingung, botol toksinnya kusimpan di mana? Ah, aku mengecek semua tempat yang menjadi kemungkinan disimpannya botol itu. Bahkan di kolong tempat memasak pun kucek. Ah, tak ada. Di mana aku menyimpannya?

Ah, tampaknya usahaku tak sia-sia. Aku menemukannya tepat di dekat toples gula. Mengapa aku bisa tidak mengeceknya di atas meja? Ah, mungkin akibat detak jantung yang cukup cepat ini, sehingga tidak fokus. Aku masukkan bubuk dalam botol itu ke dalam kopinya, kemudian siap untuk dihidangkan. Aku langsung membawanya ke lelaki setan itu yang duduk di depan kediaman kami.

"Lama sekali kamu bikin kopinya!" bentaknya sesaat, lalu lanjut membaca.

"Maaf, tadi ada masalah sedikit. Tapi sudah bisa kuatasi. Ini kopinya," kataku sambil meletakkan gelas kopi di dekatnya.

Tanpa bimbang sedikit pun, lelaki sialan itu menyesap kopinya. Dan, apa yang aku inginkan dimulai. Dia memegang dadanya dengan wajah aneh. Mungkin agak sesak. Yah, aku tak tahu pasti. Dia mulai memekik kesakitan, lalu jatuh ke lantai. Senang sekali melihat wajahnya yang sedang di ambang kematian. Dia menggeliat sejenak, lalu diam dengan mulut menganga.

Aku sangat puas. Dendam William suamiku pun dibalas. Lelaki ini tak pantas menjadi suamiku dan ayah bagi Alice, walaupun dia kaya dan tinggi kedudukannya. Tawaku lepas.

Pintu depan tiba-tiba dibuka paksa. Siapa itu yang masuk? Ah, petugas keamanan?

"Tuan Walikota?" pekik salah satunya yang kuketahui sebagai pejabat yang sempat ikut meeting di balai kota. "Tangkap wanita itu!" pekiknya.

Ah, kenapa petugas keamanan datang di saat yang tidak pas ini? Mengapa? Kedua tanganku langsung dibelenggu petugas dengan sangat kuat. Aku tak bisa mengelak lagi. Posisiku sudah ketangkap basah dan dengan bukti yang kuat. Aku pun hanya bisa menangis saja saat langsung dibawa menuju sel tahanan.

Yang ada di otakku kini hanya Alice. Aku belum melihatnya pagi ini. Ke mana dia? Semoga dia baik-baik saja. Tuhan, tolong jaga Alice.

***

Southampton, 15 Agustus 1833

"Tolong titipkan amplop ini untuk anakku, Pak. Dia ada di kediaman walikota," ucapku kepada penjaga sel tahanan yang hanya dipisahkan oleh kisi-kisi besi yang kokoh denganku.

Penjaga dengan tubuh gemuk itu menoleh sesaat kepadaku, lalu memandang ke kanannya. "Untuk anakmu? Untuk apa menulis pesan? Lebih baik kamu mengatakannya langsung."

Aku tak paham dengan apa yang diucapkannya. Tapi, kode yang ditunjukkan oleh penjaga itu membuatku mengikuti ke mana pandangannya.

Tiba-tiba bola mataku membulat. Di ujung sel-sel tahanan ada Alice datang dengan si walikota setan itu! Kenapa dia masih hidup?

"Samantha, Samantha, wanitaku yang malang. Bagaimana keadaanmu di dalam gelap dan dinginnya sel tahanan?" sapanya bak kekasih yang sudah lama tak jumpa.

Aku memegang kedua kisi-kisi besi sambil mendelik tajam ke lelaki itu, "Apa yang mau kamu lakukan kepada anakku?! Mengapa kamu masih hidup?!" bentakku.

"Ibu," ucap Alice memelas yang tangan mungilnya digenggam kuat oleh lelaki sialan itu. Bisa kutangkap ada tangisan yang ditahan di matanya.

Lelaki sialan itu sunggingkan senyum menakutkan, "Kamu tahu, aku memang sengaja menjebakmu. Aku tahu kalau waktu itu kamu mau membunuhku. Toksin yang kamu masukkan ke dalam kopiku itu hanya gula biasa. Bodoh tetap saja bodoh. Sewaktu kamu mengecek bagian kolong tempat memasak, aku menyimpan botol yang isinya gula itu di dekat toples gula. Mestinya kamu tahu kalau di situ memang tak ada botol sejak awal. Bodoh tetap saja bodoh, tak bisa kamu menolaknya. Untung saja aku sudah sekongkol dengan polisi dan membahas agenda mulus ini sewaktu malam. Akting matiku sangat hebat, bukan?" tanyanya, sambil menoleh sesaat ke penjaga gendut itu.

"Kata teman-teman petugas keamanan yang ikut ke tempat tinggal Anda waktu itu, akting Anda hebat sekali, Tuan," sahut si penjaga sambil mengacungkan jempolnya.

"Bajingan! Apa yang mau kamu lakukan?!" bentakku sambil mencoba menendang kisi-kisi besi. Namun, besi itu memang kokoh dan tak bisa ditembus.

Lelaki sialan itu mengelus pipi mulus Alice yang mulai menangis ketakutan, "Kini tanah Nyonya Thomson sudah jadi milikku. Anak buahku sudah menemukan dokumen yang disembunyikan mantan suamimu. Tak disangka dia menyembunyikannya bukan di dalam gubuk, tapi di bawah tanah dekat pohon di tepian ladang. Butuh waktu lama hingga kini buat menemukannya. Kini, tugasmu sudah selesai, Samantha. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Dan, kamu pastinya tahu kalau Alice anakku juga, kan? Maka dia pastinya sudah menjadi milikku. Lima puluh pounds mungkin cukup untuk yang mau memilikinya juga. Kau pasti tahu maksudku, kan?" sahutnya dengan senyum menakutkan.

"Bangsat kau!" makiku. Aku tahu dia punya niat busuk kepada Alice.

Tanpa sempat menyahut, lelaki sialan itu mulai menjauhiku sambil tetap menggandeng Alice. Ya Tuhan, Alice!

"Alice!" pekikku.

"Ibu!" sahut Alice menangis. Dia tak bisa melakukan apa-apa lagi.

Aku tak kuasa lagi saat lelaki sialan dan Alice sudah menghilang. Penjaga itu juga ikut meninggalkanku, dan memilih mengikuti lelaki sialan itu. Dia mematikan lilinnya sehingga membuat tempat ini kembali gelap.

Ya, Tuhan. Apa yang mesti kulakukan? Alice dalam bahaya.

'Ibu, tolong aku.'


-tamat-


Image

Bagikan
  1. Alurnya ini enak. Plotnya juga lancar jaya. Ada beberapa kalimat yang tak efektif (pada paragraf southampton 12 juli 1833). Ada juga bagian2 yang terkesan terburu2 (ditangkapnya si aku). Aku suka penggambaranmu pas bagian ending. Itu sebenernya bisa makin hidup lagi jika kamu kasih sedikit gesture pada walikota. Misalnya kalau si walkot ini mau niat nikahin Alice, misalnya. Bikin dia menggandeng tangan Alice sambil menyeringai meninggalkan ibu dalam sel. Biar ibunya ini makin histeris dan makin menyayat di ending.
    .
    Lalu mengenai logika. Alasan si Aku selalu dilibatkan dalam meeting bersama para pejabat, karena suaminya ingin menunjukkan bagaimana memimpin sebuah kota. Trus alih2 ternyata ingin mamerin bahwa ia bisa membodohi wanita (istrinya). Ini kok gak masuk akal ya. Pertama, dalam sistem rapat walikota dengan para pejabat, rasanya sulit sekali untuk memasukkan orang yang bukan anggota rapat. Beda dengan perusahaan. Perusahaan milik eyang2nya sendiri boleh2 aja misal si suami ini ngajakin istri atau anak ngikutin rapat. Tapi dalam rapat perkotaan, saya rasa tidak.
    .
    Lalu saat si aku ditangkap. Ini polisinya oon atau apa ya? Masa gak dicek dulu itu toksin beneran apa palsu? Oke, misal mereka bersengkokol dengan walikota, itu bisa dimaklumi dan disiasati. Sayangnya eksekusimu kurang mulus di sini. Lalu kedatangan polisi waktu melihat walikota keracunan kok bisa langsung nuduh si aku, menurutku itu lebay. Periksa2 kondisi walikota dulu kek, periksa juga botol toksin yang dipegang si aku kek. Narasi kamu kecepetan di sini Pret.
    .
    Ada beberapa kalimat yg nggak pas;
    Tidak bisa mencontoh yang baik--> tidak bisa ngasih contoh yang baik
    .
    Tak sanggup menanggung sesak di dada--> tak sanggup menahan sesak di dada
    Kalo 'Menanggung beban di hati' (ini baru benar)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya nongol juga kau.

      Oke, terima kasih atas komennya. Saranmu tentang gesture itu biarlah menjadi misteri sendiri buat pembaca, gimana nasib Alice selanjutnya.

      Dari miss logic yang kamu jelaskan, ini kan settingnya zaman dulu di mana masih ada gelar-gelar bangsawan. Biasanya, orang yang mempunyai jabatan tinggi kerap mengajak istrinya untuk ikut dalam pertemuan penting, terlepas dari alasan-alasannya. Jadi, itu akan terlihat aneh di zaman sekarang.

      Tentang toksin itu, si walikota memang sekongkol dengan polisi, dan audah dijelaskan dengan kata 'akting' sewaktu walikota itu datang ke penjara. Jadi, tujuannya memang untuk menangkap si Samantha.

      Delete

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.