Image


Sesuai dengan temanya, kali ini saya membuat kisah tentang Valentine Day. Konsep awal tulisan ini sudah saya buat lama setahun yang lalu. Niatnya waktu itu untuk mengikuti sebuah event, dan membuatnya juga saat tengah malam. Namun, tampaknya belum lolos akibat ada miss logic. Jadi, untuk diposting di sini, saya edit semuanya, namun tidak mengubah plot. Well, silakan membaca dan ditunggu komen pedasnya.



==========
"Wanita sialan! Tukang selingkuh!" bentakku sambil menudingnya. Kilatan mataku menatap tajam padanya

"Sumpah aku sama sekali enggak selingkuh. Lelaki yang kamu lihat makan denganku itu klienku," sahut wanita itu.

"Bohong! Klien apaan? Kamu ini bukan sales atau apapun! Kamu hanya mahasiswa biasa, mau alasan apaan emang?!"

"Maaf, aku belum bilang sama kamu kalau aku belum lama ini sudah menjadi SPG mobil. Aku belum siap bilang ke kamu. Takut kamunya enggak setuju dengan keputusanku ini. Soalnya, aku lagi butuh uang buat biaya kuliah sama pengobatan ayah."

"Itu pasti bohong! Aku enggak yakin sama kamu!"

Emosi ini sudah tak bisa ditahankan lagi. Aku memaki-maki saja dia sepuasnya. Entah sudah umpatan apa saja yang dimuntahkan oleh lidahku. Mungkin aku mengabsen isi kebun binatang. Otak ini sudah gelap dan tak bisa lagi mengingat. Walaupun kepuasannya itu hanya semu, tetap tak bisa menyembuhkan hati yang sudah sakit ini.

"Kita putus!" bentakku sambil menjauhinya.

Dia menangis-nangis sambil tetap mencoba menahanku dan memohon maaf. Tapi, aku menepisnya dan menghempaskannya ke tanah. Sungguh wanita yang tak bisa dimaafkan.

Telingaku kini sudah kebal saat dia memanggil-manggil namaku. Peduli setan kelakuan kami yang menjadi bahan tontonan.

***

Esoknya, Valentine pun tiba. Biasanya kekasihku menghadiahi sebuah coklat. Tapi, suasana kali ini tak lagi sama dengan tahun lalu. Aku mesti bisa membiasakan kehidupanku tanpanya. Enaknya, apa yang mesti aku lakukan saat ini?

Pintu depan tiba-tiba diketuk. Aku pun membukanya.

"Anda siapa?" tanyaku begitu tahu di depanku ini ada sesosok lelaki tua sambil membawa bingkisan. Dia mengenakan pakaian agak lusuh.

Lelaki tua itu mengatakan padaku bahwa dia hanyalah tukang becak. Dia menjelaskan bahwa dia menemukan sebuah bingkisan di jok becaknya. Selain itu, ada sejumlah uang dan ada memo yang isinya adalah pesan supaya bingkisan itu dibawa ke alamat tempat tinggalku. Sedangkan uang itu untuk ongkosnya. Makanya, langsung saja tukang becak itu membawanya ke sini.

"Bapak kenal siapa yang ngasih bingkisan ini?" tanyaku bingung sambil membolak-balikkan bingkisan kotak itu. Aku menduga isinya agak lunak.

"Tidak tahu, Mas. Saya ini cuma mau dapetin uang dengan halal saja. Toh, kalau ada yang meminta saya bawakan sesuatu lalu ada upahnya, ya saya mau saja," sahut tukang becak tua itu sopan.

"Lalu, apa Bapak melihat dia?" tanyaku.

Dia hanya menggeleng lemah saja. Kemudian, tukang becak itu meminta untuk pamit pulang.

Sepeninggal tukang becak tua itu, aku mengecek bingkisannya. Tampaknya ini adalah kado Valentine untukku. Lantas, siapa yang menghadiahiku kado ini? Apakah kekasihku? Huh, mustahil. Kalau memang iya, maka lebih baik langsung kubuang saja.

Tapi, tampaknya wajah tukang becak tadi sangat tidak asing bagiku. Apa aku sudah ketemu dia sebelumnya? Lagipula, aku tidak melihat becaknya. Di mana dia menyimpan becaknya? Lagipula becak boleh masuk ke komplek ini. Apa dia meninggalkannya di pos satpam? Ah, entahlah. Aku tak peduli.

Bingkisan ini dihiasi pita pink dan membentuk bunga. Sangat disayangkan jika diusik. Tapi, aku sangat ingin tahu apa isinya. Semoga saja di dalamnya ada pesan yang isinya identitas tentang sosok yang menghadiahiku bingkisan ini. Dengan sangat hati-hati, aku membukanya. Dan sesuai dugaan, di situ sebuah memo. Aku pun membacanya.

'Hai, Lelaki Bodoh. Saya adalah tukang becak tadi alias mafia penjual anggota tubuh manusia. Atau mungkin bisa dibilang saya adalah calon kliennya yang tiba-tiba menjadi malaikat mautnya. Maaf, kekasihmu sudah tewas dan semua isi di dalam tubuhnya sudah saya jual. Saya hanya menyisakan hatinya yang khusus untuk dihadiahi kepada kau. Tampaknya kau memang spesial sekali di matanya, sampai-sampai kekasihmu yang juga bodoh itu meminta saya untuk menyisakan hatinya untuk kau saat saya hendak mengeksekusinya. Awalnya, saya tidak mau menyisakan apapun. Tapi, mengingat itu adalah wasiat calon mangsa saya, jadi saya kabulkan saja, hahaha!'

Aku kaget begitu melihat isi memo itu. Langsung saja aku menatap ke dalam bingkisan. Bola mata membulat tatkala melihat isinya, yakni sebongkah hati manusia yang penuh koyakan! Apakah itu milik mantan kekasihku?! Aku memekik ketakutan.

'PS: Dia meminta saya mengoyaknya dahulu sebelum dihadiahkan kepada kau untuk menunjukkan suasana hatinya. Sungguh malang sekali. SPG yang bodoh, kekasihnya juga bodoh! Hahaha!'

-tamat-

Image

Kado Valentine Untukku


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image


Sesuai dengan temanya, kali ini saya membuat kisah tentang Valentine Day. Konsep awal tulisan ini sudah saya buat lama setahun yang lalu. Niatnya waktu itu untuk mengikuti sebuah event, dan membuatnya juga saat tengah malam. Namun, tampaknya belum lolos akibat ada miss logic. Jadi, untuk diposting di sini, saya edit semuanya, namun tidak mengubah plot. Well, silakan membaca dan ditunggu komen pedasnya.



==========
"Wanita sialan! Tukang selingkuh!" bentakku sambil menudingnya. Kilatan mataku menatap tajam padanya

"Sumpah aku sama sekali enggak selingkuh. Lelaki yang kamu lihat makan denganku itu klienku," sahut wanita itu.

"Bohong! Klien apaan? Kamu ini bukan sales atau apapun! Kamu hanya mahasiswa biasa, mau alasan apaan emang?!"

"Maaf, aku belum bilang sama kamu kalau aku belum lama ini sudah menjadi SPG mobil. Aku belum siap bilang ke kamu. Takut kamunya enggak setuju dengan keputusanku ini. Soalnya, aku lagi butuh uang buat biaya kuliah sama pengobatan ayah."

"Itu pasti bohong! Aku enggak yakin sama kamu!"

Emosi ini sudah tak bisa ditahankan lagi. Aku memaki-maki saja dia sepuasnya. Entah sudah umpatan apa saja yang dimuntahkan oleh lidahku. Mungkin aku mengabsen isi kebun binatang. Otak ini sudah gelap dan tak bisa lagi mengingat. Walaupun kepuasannya itu hanya semu, tetap tak bisa menyembuhkan hati yang sudah sakit ini.

"Kita putus!" bentakku sambil menjauhinya.

Dia menangis-nangis sambil tetap mencoba menahanku dan memohon maaf. Tapi, aku menepisnya dan menghempaskannya ke tanah. Sungguh wanita yang tak bisa dimaafkan.

Telingaku kini sudah kebal saat dia memanggil-manggil namaku. Peduli setan kelakuan kami yang menjadi bahan tontonan.

***

Esoknya, Valentine pun tiba. Biasanya kekasihku menghadiahi sebuah coklat. Tapi, suasana kali ini tak lagi sama dengan tahun lalu. Aku mesti bisa membiasakan kehidupanku tanpanya. Enaknya, apa yang mesti aku lakukan saat ini?

Pintu depan tiba-tiba diketuk. Aku pun membukanya.

"Anda siapa?" tanyaku begitu tahu di depanku ini ada sesosok lelaki tua sambil membawa bingkisan. Dia mengenakan pakaian agak lusuh.

Lelaki tua itu mengatakan padaku bahwa dia hanyalah tukang becak. Dia menjelaskan bahwa dia menemukan sebuah bingkisan di jok becaknya. Selain itu, ada sejumlah uang dan ada memo yang isinya adalah pesan supaya bingkisan itu dibawa ke alamat tempat tinggalku. Sedangkan uang itu untuk ongkosnya. Makanya, langsung saja tukang becak itu membawanya ke sini.

"Bapak kenal siapa yang ngasih bingkisan ini?" tanyaku bingung sambil membolak-balikkan bingkisan kotak itu. Aku menduga isinya agak lunak.

"Tidak tahu, Mas. Saya ini cuma mau dapetin uang dengan halal saja. Toh, kalau ada yang meminta saya bawakan sesuatu lalu ada upahnya, ya saya mau saja," sahut tukang becak tua itu sopan.

"Lalu, apa Bapak melihat dia?" tanyaku.

Dia hanya menggeleng lemah saja. Kemudian, tukang becak itu meminta untuk pamit pulang.

Sepeninggal tukang becak tua itu, aku mengecek bingkisannya. Tampaknya ini adalah kado Valentine untukku. Lantas, siapa yang menghadiahiku kado ini? Apakah kekasihku? Huh, mustahil. Kalau memang iya, maka lebih baik langsung kubuang saja.

Tapi, tampaknya wajah tukang becak tadi sangat tidak asing bagiku. Apa aku sudah ketemu dia sebelumnya? Lagipula, aku tidak melihat becaknya. Di mana dia menyimpan becaknya? Lagipula becak boleh masuk ke komplek ini. Apa dia meninggalkannya di pos satpam? Ah, entahlah. Aku tak peduli.

Bingkisan ini dihiasi pita pink dan membentuk bunga. Sangat disayangkan jika diusik. Tapi, aku sangat ingin tahu apa isinya. Semoga saja di dalamnya ada pesan yang isinya identitas tentang sosok yang menghadiahiku bingkisan ini. Dengan sangat hati-hati, aku membukanya. Dan sesuai dugaan, di situ sebuah memo. Aku pun membacanya.

'Hai, Lelaki Bodoh. Saya adalah tukang becak tadi alias mafia penjual anggota tubuh manusia. Atau mungkin bisa dibilang saya adalah calon kliennya yang tiba-tiba menjadi malaikat mautnya. Maaf, kekasihmu sudah tewas dan semua isi di dalam tubuhnya sudah saya jual. Saya hanya menyisakan hatinya yang khusus untuk dihadiahi kepada kau. Tampaknya kau memang spesial sekali di matanya, sampai-sampai kekasihmu yang juga bodoh itu meminta saya untuk menyisakan hatinya untuk kau saat saya hendak mengeksekusinya. Awalnya, saya tidak mau menyisakan apapun. Tapi, mengingat itu adalah wasiat calon mangsa saya, jadi saya kabulkan saja, hahaha!'

Aku kaget begitu melihat isi memo itu. Langsung saja aku menatap ke dalam bingkisan. Bola mata membulat tatkala melihat isinya, yakni sebongkah hati manusia yang penuh koyakan! Apakah itu milik mantan kekasihku?! Aku memekik ketakutan.

'PS: Dia meminta saya mengoyaknya dahulu sebelum dihadiahkan kepada kau untuk menunjukkan suasana hatinya. Sungguh malang sekali. SPG yang bodoh, kekasihnya juga bodoh! Hahaha!'

-tamat-

Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.