Image

Kisah ini dibuat sebagai jawaban atas tantangan Sufyan, yang namanya banyak saya pakai sebagai nama tokoh di tulisan-tulisan saya. Tujuannya, hanya untuk iseng-isengan dan diposting di salah satu komunitas Facebook. Sebetulnya, saya cukup stuck dalam menulis ini, tapi semakin dilanjutkan semakin menemukan jalannya. So, selamat membaca dan tinggalkan komennya.




==========
Malam Minggu adalah malam yang sangat mencekam bagi Indah. Hal itu tidaklah aneh mengingat status jomblo yang disandangnya sejak awal baligh. Gadis itu menilai jika malam itu lebih menakutkan ketimbang melewati pemakaman di samping kampusnya saat malam Jumat Kliwon. Dia pasti kelabakan dan bingung apa yang mesti dilakukan saat malam Minggu tiba. Apalagi gadis asal Jawa Tengah ini masih belum mengenal lingkungan kosannya.

Saat ini dia sedang menjalani aktivitas sebagai mahasiswa fakultas ekonomi di salah satu kampus swasta di ibu kota. Belum lama ini dia menginjakkan kakinya di tanah kota yang paling padat penduduknya di Indonesia itu, makanya dia masih awam. Untung saja ada teman satu kampusnya yang mau membantunya.

Dan malam mencekam ini pun dia kembali untung. Teman kampusnya itu mengajaknya menonton bioskop demi menghilangkan suntuk di kosan. Tapi sialnya, teman yang mengajaknya itu sudah dijemput dahulu oleh kekasihnya. Otomatis, Indah mesti menyusul temannya langsung ke tempat bioskop. Dan yang pastinya, hatinya akan langsung 'jleb' jika melihat temannya asyik dengan kekasihnya nanti.

"Hei, Say. Aku naik apa ke sananya?" tanya Indah menelepon.

"Maaf ya gue kagak bisa jemput lo, Say. Lo naik ojek aja dulu di depan kosan sampai pengkolan komplek, abis itu lo naik busway. Abis itu bla ... bla ... bla ...," vokal temannya yang sumbang di telepon semakin tidak jelas. Indah semakin bingung. Tapi, dia tak ambil pusing. Dia bisa tanya-tanya tentang bioskop itu ke tukang ojeknya.

Tampaknya petunjuk tukang ojek pun tidak jelas. Tapi, bukan Indah namanya jika selalu pusing. Dengan modal nekat, dia mencoba naik busway, kemudian menumpang angkutan umum lainnya demi menemukan bioskop. Tak bosan dia tanya-tanya ke penumpang lainnya. Tapi jawabannya tidak sama satu dengan yang lainnya. Walaupun begitu, dia tetap tidak ambil pusing.

Dengan semangat juang dan kegigihannya yang tinggi hingga kakinya lecet-lecet, dia pun tiba di sebuah gedung bioskop setelah naik angkot. Dia cukup kaget juga sebab gedung bioskop itu dekat dengan kampusnya. Padahal dia tahu letak kampusnya tidak jauh dengan kosannya, tapi tadi dia menghabiskan waktu selama sejam lebih di jalan. Jam di tangannya kini sudah menunjukkan angka sepuluh. Dia pun mulai bingung saat temannya tak bisa dihubungi.

"Anak itu lagi ngapain, sih?! Dibutuhin malah gak aktif!" kesalnya.

Dia kembali tak mau ambil pusing lagi. Mumpung sudah tiba di sini, meskipun tak ada temannya pun dia masih bisa nonton. Toh, bioskopnya masih buka dan banyak pengunjungnya.

Indah membeli tiket lalu langsung masuk ke sebuah studio. Dia memilih film dengan judul Mati Digantung Setan. Entah apa yang ada di benaknya sehingga dia memilih menonton film itu. Padahal dia sangat penakut.

Sesuai dugaan, Indah mulai ketakutan saat awal-awal film. Apalagi ada adegan saat tokoh utama tewas digantung, lalu menjadi hantu gentayangan. Dia mulai kedinginan, tak ada yang bisa mendekapnya, menghangatkannya, menenangkannya, atau menemaninya saat itu. Sungguh gadis jomblo yang mengenaskan.

Ponsel Indah di kantong tiba-tiba bunyi. Dia kaget dan langsung mengangkatnya.

"Halo, siapa ya?" tanyanya dengan pandangan tetap tegang menatap ke bioskop.

"Indah, lo amnesia ya pake nanya gue siapa? Lo sebetulnya jadi nonton kagak, sih? Gue nungguin sama cowok gue sampe filmnya abis lo kagak nongol-nongol. Gue telepon lo tapi kagak aktif. Nih gue udah pulang. Lo masih di kosan?" sahut jawaban di telepon.

"Eh, kamu udah pulang? Aku malah masih nonton, loh."

"Nonton apaan? Lagian jam segini mana ada bioskop yang masih buka?" tanya temannya bingung.

"Yang dekat kampus, Say. Ini kan masih jam ...," bola mata Indah membulat tatkala melihat jam tangannya menunjukkan angka dua belas.

Dia mulai panik saat sebuah tali melilit di bawah dagunya, kemudian mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Ponsel di tangannya lepas. Gadis itu menggelinjang sambil memegang tali yang mencekik itu. Tapi, usahanya untuk melepaskan tali itu sia-sia. Napasnya mulai sesak. Mulutnya pun sulit memekik. Tak lama kemudian dia pun diam tak lagi menggelinjang.

"Indah? Lo kenapa? Setahu gue di deket kampus kita tuh cuma ada pemakaman doang. Kagak ada bioskopnya," sahut temannya panik di telepon. Ponsel Indah kini jatuh di samping sebuah makam.

Di bioskop tiba-tiba menampilkan sosok Indah yang mati tengah digantung di sebuah dahan pohon kamboja.


-tamat-


Image

Nonton Bioskop


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."


Image

Kisah ini dibuat sebagai jawaban atas tantangan Sufyan, yang namanya banyak saya pakai sebagai nama tokoh di tulisan-tulisan saya. Tujuannya, hanya untuk iseng-isengan dan diposting di salah satu komunitas Facebook. Sebetulnya, saya cukup stuck dalam menulis ini, tapi semakin dilanjutkan semakin menemukan jalannya. So, selamat membaca dan tinggalkan komennya.




==========
Malam Minggu adalah malam yang sangat mencekam bagi Indah. Hal itu tidaklah aneh mengingat status jomblo yang disandangnya sejak awal baligh. Gadis itu menilai jika malam itu lebih menakutkan ketimbang melewati pemakaman di samping kampusnya saat malam Jumat Kliwon. Dia pasti kelabakan dan bingung apa yang mesti dilakukan saat malam Minggu tiba. Apalagi gadis asal Jawa Tengah ini masih belum mengenal lingkungan kosannya.

Saat ini dia sedang menjalani aktivitas sebagai mahasiswa fakultas ekonomi di salah satu kampus swasta di ibu kota. Belum lama ini dia menginjakkan kakinya di tanah kota yang paling padat penduduknya di Indonesia itu, makanya dia masih awam. Untung saja ada teman satu kampusnya yang mau membantunya.

Dan malam mencekam ini pun dia kembali untung. Teman kampusnya itu mengajaknya menonton bioskop demi menghilangkan suntuk di kosan. Tapi sialnya, teman yang mengajaknya itu sudah dijemput dahulu oleh kekasihnya. Otomatis, Indah mesti menyusul temannya langsung ke tempat bioskop. Dan yang pastinya, hatinya akan langsung 'jleb' jika melihat temannya asyik dengan kekasihnya nanti.

"Hei, Say. Aku naik apa ke sananya?" tanya Indah menelepon.

"Maaf ya gue kagak bisa jemput lo, Say. Lo naik ojek aja dulu di depan kosan sampai pengkolan komplek, abis itu lo naik busway. Abis itu bla ... bla ... bla ...," vokal temannya yang sumbang di telepon semakin tidak jelas. Indah semakin bingung. Tapi, dia tak ambil pusing. Dia bisa tanya-tanya tentang bioskop itu ke tukang ojeknya.

Tampaknya petunjuk tukang ojek pun tidak jelas. Tapi, bukan Indah namanya jika selalu pusing. Dengan modal nekat, dia mencoba naik busway, kemudian menumpang angkutan umum lainnya demi menemukan bioskop. Tak bosan dia tanya-tanya ke penumpang lainnya. Tapi jawabannya tidak sama satu dengan yang lainnya. Walaupun begitu, dia tetap tidak ambil pusing.

Dengan semangat juang dan kegigihannya yang tinggi hingga kakinya lecet-lecet, dia pun tiba di sebuah gedung bioskop setelah naik angkot. Dia cukup kaget juga sebab gedung bioskop itu dekat dengan kampusnya. Padahal dia tahu letak kampusnya tidak jauh dengan kosannya, tapi tadi dia menghabiskan waktu selama sejam lebih di jalan. Jam di tangannya kini sudah menunjukkan angka sepuluh. Dia pun mulai bingung saat temannya tak bisa dihubungi.

"Anak itu lagi ngapain, sih?! Dibutuhin malah gak aktif!" kesalnya.

Dia kembali tak mau ambil pusing lagi. Mumpung sudah tiba di sini, meskipun tak ada temannya pun dia masih bisa nonton. Toh, bioskopnya masih buka dan banyak pengunjungnya.

Indah membeli tiket lalu langsung masuk ke sebuah studio. Dia memilih film dengan judul Mati Digantung Setan. Entah apa yang ada di benaknya sehingga dia memilih menonton film itu. Padahal dia sangat penakut.

Sesuai dugaan, Indah mulai ketakutan saat awal-awal film. Apalagi ada adegan saat tokoh utama tewas digantung, lalu menjadi hantu gentayangan. Dia mulai kedinginan, tak ada yang bisa mendekapnya, menghangatkannya, menenangkannya, atau menemaninya saat itu. Sungguh gadis jomblo yang mengenaskan.

Ponsel Indah di kantong tiba-tiba bunyi. Dia kaget dan langsung mengangkatnya.

"Halo, siapa ya?" tanyanya dengan pandangan tetap tegang menatap ke bioskop.

"Indah, lo amnesia ya pake nanya gue siapa? Lo sebetulnya jadi nonton kagak, sih? Gue nungguin sama cowok gue sampe filmnya abis lo kagak nongol-nongol. Gue telepon lo tapi kagak aktif. Nih gue udah pulang. Lo masih di kosan?" sahut jawaban di telepon.

"Eh, kamu udah pulang? Aku malah masih nonton, loh."

"Nonton apaan? Lagian jam segini mana ada bioskop yang masih buka?" tanya temannya bingung.

"Yang dekat kampus, Say. Ini kan masih jam ...," bola mata Indah membulat tatkala melihat jam tangannya menunjukkan angka dua belas.

Dia mulai panik saat sebuah tali melilit di bawah dagunya, kemudian mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Ponsel di tangannya lepas. Gadis itu menggelinjang sambil memegang tali yang mencekik itu. Tapi, usahanya untuk melepaskan tali itu sia-sia. Napasnya mulai sesak. Mulutnya pun sulit memekik. Tak lama kemudian dia pun diam tak lagi menggelinjang.

"Indah? Lo kenapa? Setahu gue di deket kampus kita tuh cuma ada pemakaman doang. Kagak ada bioskopnya," sahut temannya panik di telepon. Ponsel Indah kini jatuh di samping sebuah makam.

Di bioskop tiba-tiba menampilkan sosok Indah yang mati tengah digantung di sebuah dahan pohon kamboja.


-tamat-


Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.