Image


Ide awal tulisan ini sempat saya tulis dan diposting di salah satu komunitas Facebook. Namun, tulisan itu masih dijangkiti oleh alfabet hina dina itu. Bentuknya pun masih flash fiction. Jadi, untuk diposting di sini saya ubah semuanya namun tetap memegang ide dan konsepnya. Oke, selamat membaca dan tinggalkan komen kalau memang niat.




==========
Sial sekali aku belakangan ini. Hasil penjualan selama seminggu ini sedang kusut. Itu disebabkan oleh stok yang habis dan belum bisa menemukan bahan mentah lagi. Apalagi uang sudah mulai menipis. Padahal, semestinya bahan-bahan mentah itu mudah didapat. Tapi, aku masih sangat malas menyuplainya. Jika sudah begini, bagaimana aku bisa makan dan membiayai kuliah? Belum untuk membeli paket data untuk menonton Youtube dan shopping. Ah, andai aku bisa menghemat.

Tapi, bukan Salsa namanya jika mudah putus asa begini. Aku mesti bisa membuat kaki di kepala dan kepala di kaki supaya penjualanku naik. Ini bisnis namanya.

"Aku gak guna!"

Ada angin apa, di saat aku sedang pusing akibat uang yang menipis, tiba-tiba dikejutkan dengan pekikan yang melengking di kelas. Apalagi di kelas ini sudah kosong melompong. Maklum, jam kosong. Yang lain memilih untuk pulang dan main, sedangkan aku masih kebingungan, jadi memilih tetap di kelas. Walaupun begitu, pekikan tadi cukup mengganggu telinga. Lantas kutengokkan kepala ke belakang untuk melihat siapa biang keladi itu.

Tampaknya yang masih di kelas selain aku adalah si Nabila, mahasiswi dengan kulit putih dan tinggi sebahu aku. Tumben sekali dia belum pulang. Biasanya dia sudah dijemput cowoknya kalau jam kosong atau ketika pulang. Ah, bukan hal penting juga buatku. Tapi, kalau diingat-ingat agak aneh juga, sebab setahuku belakangan ini dia selalu mengeluh begitu. Apakah dia sudah putus dengan cowoknya? Atau memang sudah hobinya? Ah, aku tak tahu pasti juga hal apa yang selalu membuatnya selalu mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Untuk itu, aku jadi ingin tahu penyebabnya. Ke-kepo-an ini muncul tiba-tiba saja. Lantas kudekati dia yang letaknya hanya dua meja di belakangku.

"Kamu kenapa, Bil?" tanyaku sambil duduk di meja kosong di depannya.

Gadis itu mengucek-ucek matanya yang sembab. Dia sambil menangis juga?

"Eh kamu, Sa," sahutnya sambil sunggingkan senyum. Aku tahu kalau senyuman itu agak dipaksakan.

"Kamu kenapa, Bil? Kok belum pulang? Kayaknya kamu sedang sedih gitu. Kenapa, Bil?" tanyaku mencoba membujuknya.

Nabila hanya menggeleng-gelengkan kepala saja sambil mengusap matanya dengan tisu. Kepalanya menunduk. Sesekali isakannya membuat aku agak jijik. Itu ingus akibat tangisan atau dia memang sedang flu? Anak cewek tapi begini amat.

"Nabila, kamu pasti punya banyak masalah. Soalnya belakangan ini kamu selalu mengeluh dan bilang 'gak ada gunanya, gak ada gunanya' melulu. Ayo, kasih tahu ke aku. Aku pasti nyimak, kok," bujukku lagi sambil menggenggam tangannya.

Nabila kembali mengusap matanya dengan tisu, lalu mengusap ingus yang meleleh di bawah hidung. Ini cewek atau bukan, sih? Dia mendongak pelan-pelan kemudian menatapku. Kulihat, matanya basah sekali, bagaikan habis dicolok lusinan cabai pedas.

"Salsa," panggilnya pelan.

"Iya, Bil," sahutku.

"Apa kamu sempat mengalami yang namanya putus cinta?" tanyanya sesenggukan.

"Hmmm, belum. Kenapa memangnya, Bil?"

"Aku diputusin sama cowok aku minggu lalu. Dan aku sampai saat ini masih gak bisa move on, Sa," sahutnya.

Oh my God! Dugaanku memang tepat, bukan? Jadi belakangan ini dia selalu mengeluh akibat putus sama cowoknya? Kok cemen amat anak ini? Diputus oleh cowoknya dan susah untuk move on? Memangnya tidak ada cowok lain di dunia ini selain dia?

Ah, aku ingin sekali mengatakan hal itu kepadanya. Tapi aku lebih baik menahannya supaya Nabila tidak semakin sedih. Dalam hati aku menyayangkan, mengapa aku tidak kenalan saja sama cowoknya Nabila. Andai aku tahu, pasti sudah kumanfaatkan cowok sialan itu. Lumayan, bukan?

Aku menggenggam salah satu tangannya di atas meja, "Bil, kalau kamu mau menangis ya gak apa-apa, menangis saja. Tapi jangan lama-lama juga menangisnya. Memang sakit jika dimainkan oleh cinta, walaupun aku masih belum mengalaminya. Maklum jomblo akut dan gak laku-laku," tawaku kemudian lepas.

Aku mendadak diam begitu Nabila semakin menangis. Astaga! Tampaknya pendekatanku salah. Mungkin aku mesti mencoba taktik lainnya untuk menenangkan Nabila.

"Sebetulnya bukan hanya itu saja sih, Sa," ucap Nabila sesenggukan. Dia kembali menunduk. Satu tangannya memegangi dahi, seakan di situlah pusat bebannya. Sesekali tangisannya menetes jatuh ke bawah. Aku ingin sekali mengusap tangisannya itu. Tapi apa daya, aku tidak punya tisu dan tisu Nabila disimpan di dalam tas di atas pangkuannya. Aku sulit mengambilnya. Lagipula, aku masih jijik dengan ingusnya yang meleleh itu. Ah payah, cewek macam apa aku ini, tisu saja tidak punya.

"Apa emangnya, Bil?" sahutku dengan mencoba melupakan keinginan untuk meminta tisu.

"Sebetulnya aku ini gak guna banget, Sa. Untuk apa aku hidup kalau gak ada gunanya sama sekali? Punya cowok, tapi malah diputusin. Itu tandanya aku udah gak ada gunanya lagi buat dia. Lalu, mama dan papa aku pisah. Aku gak bisa menyatukan keduanya lagi. Apakah aku ada gunanya sebagai anak? Enggak, Sa. Enggak. Entah nasibku bagaimana selanjutnya. Aku hanya anak tunggal. Kini aku tinggal dengan nenek yang selalu menganakemaskan sepupuku yang juga tinggal dengannya. Aku udah kayak anak buangan saja. Papa dan mama udah lepas tanggung jawab. Keduanya hidup dengan kekasihnya masing-masing. Keduanya hanya kasih aku duit, duit, dan duit saja. Aku udah kayak seonggok daging yang hanya butuh diawetkan saja dengan uang supaya tidak cepat membusuk. Tidak peduli apa yang jadi bebanku. Aku memang gak ada gunanya. Selain itu, nilai-nilai kuliahku pun jadi anjlok. Memang gak ada gunanya," jelasnya sambil menangis.

Ya, ampun. Masalah yang dia alami sangat komplek. Beban kehidupan Nabila memang tidak gampang. Di usianya yang masih muda begini dia mesti menanggung beban yang tak mungkin dipikul, sehingga dia menyebut hidupnya itu tidak guna.

"Padahal," lanjutnya, "ekspektasi aku menjalin hubungan dengan mantan cowok aku adalah supaya aku bisa kuat menjalani kehidupan ini. Tapi, tampaknya aku memang tidak kuat. Gak guna banget ya, Sa?"

Waduh, ini masalah yang komplek sekali. Aku sama sekali belum mengalami ini. Hal yang paling akut yang sempat kualami hanyalah kehabisan uang akibat penjualan yang lesu. Selain itu tidak ada. Jadi, apakah bisa aku menenangkannya supaya lebih kuat menjalani kehidupannya? Takutnya taktik aku salah lagi kayak tadi.

Genggaman tangan kulepas. Ah, andai saja aku ini cowok, maka sudah pasti akan kujadikan Nabila ini kekasih. Pastinya dia akan kubahagiakan dan tak disia-siakan. Kasihan dia.

Aku agak bingung mau mengatakan apa padanya, "Eh, hmmm, oh, eh, Na ... Nabila. Maaf nih ya jika aku tidak bisa membantu atau apa yang aku lakukan ini salah ...."

"Gak apa-apa kok, Sa," potongnya sambil senyum menatapku, "aku sedang tidak butuh bantuan, kok. Aku hanya ingin meluapkan keluhanku saja," dia menunduk kembali. Satu tangannya memegang dahinya lagi.

"Eh, enggak. Bukan gitu maksudku, Bil. A ... aku cuma mau tanya saja, a ... apa yang kamu butuhin saat ini tuh?" tanyaku agak gugup.

Nabila kembali mengusap ingus dan tangisannya dengan tisu yang dia ambil di tas. Eh, maksudku mengusap matanya dulu lalu ingusnya. Aku tak begitu jelas melihatnya akibat kepalanya yang menunduk. Tapi, kalau ditelaah, jika dia mengusap ingus dulu lalu mata, yang ada ingusnya malah menempel di mata. Ah, meskipun sedang galau aku yakin otaknya masih punya akal sehat.

Dia kembali mengangkat kepalanya pelan-pelan lalu menatapku lagi. Kedua tangannya kini di atas meja semua, salah satunya menggenggam tisu yang sedikit basah. Bisa kutangkap ada keputusasaan di balik senyuman wajahnya.

"Yang aku butuhkan saat ini cuma aku ingin dianggap ada oleh siapapun. Aku ingin ada gunanya bagi siapa saja. Bahkan aku tak mau dilecehkan, diinjak-injak, dihina lagi oleh cinta. Aku juga gak mau dianggap hanya seonggok daging yang diam saja jika dicucuk oleh uang. Tapi, kayaknya hal itu mustahil. Aku gak yakin bisa mendapatkan semua itu. Aku hanya bisa tenggelam dalam ketidakgunaan abadi," jelasnya sambil mengusap pelupuk matanya.

Aku diam saja menyimak penjelasannya. Agak bingung juga mau menyahutnya. Lagipula, usaha apa yang mesti dilakukan supaya sosok Nabila bisa menjadi penting di sekelilingnya. Walaupun begitu, aku tak tahu bagaimana sosok Nabila di mata teman-teman sekelas. Yah, selama ini di kelas, teman-teman di sini bagiku memang tidak penting, sih. Aku hanya kenal, kenal, dan kenal sebatas teman sekelas saja. Tidak ada yang menjadi sahabat atau apalah itu namanya. Dengan Nabila pun hanya sebatas kenal saja. Namun, ini adalah awal kalinya aku menyimak kisah salah satu teman kelas. Tampaknya aku memang lebih suka menyepi ketimbang kumpul dengan yang lainnya. Yang lebih senang aku lakukan adalah menjalankan bisnis yang belum lama ini aku geluti. Sebuah bisnis yang pasti tak ada yang mau menjalaninya.

Nabila lalu bangkit sambil mengenakan tasnya, "Makasih ya, Sa. Kamu udah mau nemenin aku yang hanya seonggok daging gak guna ini."

"Loh, kamu mau ke mana?" tanyaku.

"Kalau dikatakan mau pulang, tapi aku gak punya tempat tinggal. Aku hanya menumpang saja. Jadi, apa sebutannya yang pas, Sa?" sahutnya pilu.

Aku agak kasihan juga dengan dia. Aku ingin ikut menangis tapi tak bisa. Aku ini memang tipe cewek yang tak mudah menangis dan let it flow saja. Beban hidup yang dia tanggung lebih banyak ketimbang aku. Kalau begini, aku mesti bisa menolongnya. Ah, tiba-tiba saja aku mendapat ide. Pas sekali dengan keadaanku saat ini.

"Nabila, aku bisa membantumu supaya kamu ada gunanya," kataku.

Nabila yang sudah melangkah menuju pintu kelas pun diam. Dia menggeleng dan memunggungiku. "Makasih atas bantuan kamu, Sa. Tapi, aku sedang gak butuh bantuan apa-apa saat ini."

Aku mendekatinya hingga wajah kami saling hadap-hadapan, "Nabila, aku paham apa yang kamu alami. Makanya, aku mau membantumu. Aku jamin, kamu tidak akan menyesal."

Dia agak diam sejenak. Entah apa yang ada di benaknya. Matanya masih sembab. Untung saja ingusnya sudah tidak meleleh.

"Tapi, aku gak mau nyusahin kamu buat bela-belain bantuin aku, Sa. Aku ...," sahutnya pelan.

Aku langsung memeluknya, "Udah, nyantai aja, Bil. Aku ikhlas bantu kamu, kok. Malah aku senang."

Tangisan Nabila kembali membasahi bola matanya, "Makasih ya, Sa."

"Woles aja, Bil. Ayo ikut aku," ajakku.

Image

***

Aku sangat senang. Kali ini dompetku pasti akan tebal kembali. Lihat saja, aku kembali singgah ke tempat ini untuk menjual hasil suplaiku setelah seminggu lamanya absen. Kini semuanya sedang dalam pengecekan. Ah, tapi kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hati, ya? Entah apa itu.

Di depanku ada sesosok lelaki setengah baya yang tugasnya sebagai pengecek sekaligus penadah hasil penjualanku. Tapi, mimik wajahnya tampak tidak suka saat membuka bungkusan-bungkusan yang kubawa.

"Kamu bodoh atau bego, sih?!" bentak lelaki itu sambil menghempaskan bungkusan di depannya.

Aku kaget dengan bentakannya itu, "Loh, kenapa memangnya, Pak? Apa ada yang salah dengan penjualan saya kali ini?"

"Ya jelas! Mengapa kamu masukin semuanya ke dalam kantong plastik? Bukannya minggu lalu kamu masih mengemasnya sesuai yang saya minta?! Kamu lupa apa pikun?!"

Ya ampun. Tadi aku ditanya bodoh atau bego. Kini aku kembali ditanya lupa atau pikun. Bukankah dua kata itu maknanya sama?

"Eh, anu, Pak," sahutku gelagapan, "uang saya gak cukup buat beli kemasannya. Jadi, saya cuma bungkus pakai plastik saja."

"Goblok! Ini mah gak ada gunanya yang kamu jual ini! Bawa lagi sana!" bentaknya.

Ah, sialan! Apes sekali! Aku gagal mendapatkan uang. Kalau begini, bagaimana aku makan nanti? Ah, kenapa kotak es khusus untuk mengemas isi tubuh dalam manusia itu mesti mahal sekali? Apalagi mendapatkannya sangat susah.

Nabila yang malang. Bahkan hati, ginjal, jantung, usus, dan lain-lain yang ada di dalam tubuhnya yang hendak aku jual ke penadah itu sudah tidak ada gunanya. Pasti tak lama lagi akan membusuk. Meskipun begitu, setidaknya beban hidupnya sudah hilang. Semoga dia tenang di alam sana. Maafkan aku, Nabila.


-tamat-

Image

Tak Ada Gunanya


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image


Ide awal tulisan ini sempat saya tulis dan diposting di salah satu komunitas Facebook. Namun, tulisan itu masih dijangkiti oleh alfabet hina dina itu. Bentuknya pun masih flash fiction. Jadi, untuk diposting di sini saya ubah semuanya namun tetap memegang ide dan konsepnya. Oke, selamat membaca dan tinggalkan komen kalau memang niat.




==========
Sial sekali aku belakangan ini. Hasil penjualan selama seminggu ini sedang kusut. Itu disebabkan oleh stok yang habis dan belum bisa menemukan bahan mentah lagi. Apalagi uang sudah mulai menipis. Padahal, semestinya bahan-bahan mentah itu mudah didapat. Tapi, aku masih sangat malas menyuplainya. Jika sudah begini, bagaimana aku bisa makan dan membiayai kuliah? Belum untuk membeli paket data untuk menonton Youtube dan shopping. Ah, andai aku bisa menghemat.

Tapi, bukan Salsa namanya jika mudah putus asa begini. Aku mesti bisa membuat kaki di kepala dan kepala di kaki supaya penjualanku naik. Ini bisnis namanya.

"Aku gak guna!"

Ada angin apa, di saat aku sedang pusing akibat uang yang menipis, tiba-tiba dikejutkan dengan pekikan yang melengking di kelas. Apalagi di kelas ini sudah kosong melompong. Maklum, jam kosong. Yang lain memilih untuk pulang dan main, sedangkan aku masih kebingungan, jadi memilih tetap di kelas. Walaupun begitu, pekikan tadi cukup mengganggu telinga. Lantas kutengokkan kepala ke belakang untuk melihat siapa biang keladi itu.

Tampaknya yang masih di kelas selain aku adalah si Nabila, mahasiswi dengan kulit putih dan tinggi sebahu aku. Tumben sekali dia belum pulang. Biasanya dia sudah dijemput cowoknya kalau jam kosong atau ketika pulang. Ah, bukan hal penting juga buatku. Tapi, kalau diingat-ingat agak aneh juga, sebab setahuku belakangan ini dia selalu mengeluh begitu. Apakah dia sudah putus dengan cowoknya? Atau memang sudah hobinya? Ah, aku tak tahu pasti juga hal apa yang selalu membuatnya selalu mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Untuk itu, aku jadi ingin tahu penyebabnya. Ke-kepo-an ini muncul tiba-tiba saja. Lantas kudekati dia yang letaknya hanya dua meja di belakangku.

"Kamu kenapa, Bil?" tanyaku sambil duduk di meja kosong di depannya.

Gadis itu mengucek-ucek matanya yang sembab. Dia sambil menangis juga?

"Eh kamu, Sa," sahutnya sambil sunggingkan senyum. Aku tahu kalau senyuman itu agak dipaksakan.

"Kamu kenapa, Bil? Kok belum pulang? Kayaknya kamu sedang sedih gitu. Kenapa, Bil?" tanyaku mencoba membujuknya.

Nabila hanya menggeleng-gelengkan kepala saja sambil mengusap matanya dengan tisu. Kepalanya menunduk. Sesekali isakannya membuat aku agak jijik. Itu ingus akibat tangisan atau dia memang sedang flu? Anak cewek tapi begini amat.

"Nabila, kamu pasti punya banyak masalah. Soalnya belakangan ini kamu selalu mengeluh dan bilang 'gak ada gunanya, gak ada gunanya' melulu. Ayo, kasih tahu ke aku. Aku pasti nyimak, kok," bujukku lagi sambil menggenggam tangannya.

Nabila kembali mengusap matanya dengan tisu, lalu mengusap ingus yang meleleh di bawah hidung. Ini cewek atau bukan, sih? Dia mendongak pelan-pelan kemudian menatapku. Kulihat, matanya basah sekali, bagaikan habis dicolok lusinan cabai pedas.

"Salsa," panggilnya pelan.

"Iya, Bil," sahutku.

"Apa kamu sempat mengalami yang namanya putus cinta?" tanyanya sesenggukan.

"Hmmm, belum. Kenapa memangnya, Bil?"

"Aku diputusin sama cowok aku minggu lalu. Dan aku sampai saat ini masih gak bisa move on, Sa," sahutnya.

Oh my God! Dugaanku memang tepat, bukan? Jadi belakangan ini dia selalu mengeluh akibat putus sama cowoknya? Kok cemen amat anak ini? Diputus oleh cowoknya dan susah untuk move on? Memangnya tidak ada cowok lain di dunia ini selain dia?

Ah, aku ingin sekali mengatakan hal itu kepadanya. Tapi aku lebih baik menahannya supaya Nabila tidak semakin sedih. Dalam hati aku menyayangkan, mengapa aku tidak kenalan saja sama cowoknya Nabila. Andai aku tahu, pasti sudah kumanfaatkan cowok sialan itu. Lumayan, bukan?

Aku menggenggam salah satu tangannya di atas meja, "Bil, kalau kamu mau menangis ya gak apa-apa, menangis saja. Tapi jangan lama-lama juga menangisnya. Memang sakit jika dimainkan oleh cinta, walaupun aku masih belum mengalaminya. Maklum jomblo akut dan gak laku-laku," tawaku kemudian lepas.

Aku mendadak diam begitu Nabila semakin menangis. Astaga! Tampaknya pendekatanku salah. Mungkin aku mesti mencoba taktik lainnya untuk menenangkan Nabila.

"Sebetulnya bukan hanya itu saja sih, Sa," ucap Nabila sesenggukan. Dia kembali menunduk. Satu tangannya memegangi dahi, seakan di situlah pusat bebannya. Sesekali tangisannya menetes jatuh ke bawah. Aku ingin sekali mengusap tangisannya itu. Tapi apa daya, aku tidak punya tisu dan tisu Nabila disimpan di dalam tas di atas pangkuannya. Aku sulit mengambilnya. Lagipula, aku masih jijik dengan ingusnya yang meleleh itu. Ah payah, cewek macam apa aku ini, tisu saja tidak punya.

"Apa emangnya, Bil?" sahutku dengan mencoba melupakan keinginan untuk meminta tisu.

"Sebetulnya aku ini gak guna banget, Sa. Untuk apa aku hidup kalau gak ada gunanya sama sekali? Punya cowok, tapi malah diputusin. Itu tandanya aku udah gak ada gunanya lagi buat dia. Lalu, mama dan papa aku pisah. Aku gak bisa menyatukan keduanya lagi. Apakah aku ada gunanya sebagai anak? Enggak, Sa. Enggak. Entah nasibku bagaimana selanjutnya. Aku hanya anak tunggal. Kini aku tinggal dengan nenek yang selalu menganakemaskan sepupuku yang juga tinggal dengannya. Aku udah kayak anak buangan saja. Papa dan mama udah lepas tanggung jawab. Keduanya hidup dengan kekasihnya masing-masing. Keduanya hanya kasih aku duit, duit, dan duit saja. Aku udah kayak seonggok daging yang hanya butuh diawetkan saja dengan uang supaya tidak cepat membusuk. Tidak peduli apa yang jadi bebanku. Aku memang gak ada gunanya. Selain itu, nilai-nilai kuliahku pun jadi anjlok. Memang gak ada gunanya," jelasnya sambil menangis.

Ya, ampun. Masalah yang dia alami sangat komplek. Beban kehidupan Nabila memang tidak gampang. Di usianya yang masih muda begini dia mesti menanggung beban yang tak mungkin dipikul, sehingga dia menyebut hidupnya itu tidak guna.

"Padahal," lanjutnya, "ekspektasi aku menjalin hubungan dengan mantan cowok aku adalah supaya aku bisa kuat menjalani kehidupan ini. Tapi, tampaknya aku memang tidak kuat. Gak guna banget ya, Sa?"

Waduh, ini masalah yang komplek sekali. Aku sama sekali belum mengalami ini. Hal yang paling akut yang sempat kualami hanyalah kehabisan uang akibat penjualan yang lesu. Selain itu tidak ada. Jadi, apakah bisa aku menenangkannya supaya lebih kuat menjalani kehidupannya? Takutnya taktik aku salah lagi kayak tadi.

Genggaman tangan kulepas. Ah, andai saja aku ini cowok, maka sudah pasti akan kujadikan Nabila ini kekasih. Pastinya dia akan kubahagiakan dan tak disia-siakan. Kasihan dia.

Aku agak bingung mau mengatakan apa padanya, "Eh, hmmm, oh, eh, Na ... Nabila. Maaf nih ya jika aku tidak bisa membantu atau apa yang aku lakukan ini salah ...."

"Gak apa-apa kok, Sa," potongnya sambil senyum menatapku, "aku sedang tidak butuh bantuan, kok. Aku hanya ingin meluapkan keluhanku saja," dia menunduk kembali. Satu tangannya memegang dahinya lagi.

"Eh, enggak. Bukan gitu maksudku, Bil. A ... aku cuma mau tanya saja, a ... apa yang kamu butuhin saat ini tuh?" tanyaku agak gugup.

Nabila kembali mengusap ingus dan tangisannya dengan tisu yang dia ambil di tas. Eh, maksudku mengusap matanya dulu lalu ingusnya. Aku tak begitu jelas melihatnya akibat kepalanya yang menunduk. Tapi, kalau ditelaah, jika dia mengusap ingus dulu lalu mata, yang ada ingusnya malah menempel di mata. Ah, meskipun sedang galau aku yakin otaknya masih punya akal sehat.

Dia kembali mengangkat kepalanya pelan-pelan lalu menatapku lagi. Kedua tangannya kini di atas meja semua, salah satunya menggenggam tisu yang sedikit basah. Bisa kutangkap ada keputusasaan di balik senyuman wajahnya.

"Yang aku butuhkan saat ini cuma aku ingin dianggap ada oleh siapapun. Aku ingin ada gunanya bagi siapa saja. Bahkan aku tak mau dilecehkan, diinjak-injak, dihina lagi oleh cinta. Aku juga gak mau dianggap hanya seonggok daging yang diam saja jika dicucuk oleh uang. Tapi, kayaknya hal itu mustahil. Aku gak yakin bisa mendapatkan semua itu. Aku hanya bisa tenggelam dalam ketidakgunaan abadi," jelasnya sambil mengusap pelupuk matanya.

Aku diam saja menyimak penjelasannya. Agak bingung juga mau menyahutnya. Lagipula, usaha apa yang mesti dilakukan supaya sosok Nabila bisa menjadi penting di sekelilingnya. Walaupun begitu, aku tak tahu bagaimana sosok Nabila di mata teman-teman sekelas. Yah, selama ini di kelas, teman-teman di sini bagiku memang tidak penting, sih. Aku hanya kenal, kenal, dan kenal sebatas teman sekelas saja. Tidak ada yang menjadi sahabat atau apalah itu namanya. Dengan Nabila pun hanya sebatas kenal saja. Namun, ini adalah awal kalinya aku menyimak kisah salah satu teman kelas. Tampaknya aku memang lebih suka menyepi ketimbang kumpul dengan yang lainnya. Yang lebih senang aku lakukan adalah menjalankan bisnis yang belum lama ini aku geluti. Sebuah bisnis yang pasti tak ada yang mau menjalaninya.

Nabila lalu bangkit sambil mengenakan tasnya, "Makasih ya, Sa. Kamu udah mau nemenin aku yang hanya seonggok daging gak guna ini."

"Loh, kamu mau ke mana?" tanyaku.

"Kalau dikatakan mau pulang, tapi aku gak punya tempat tinggal. Aku hanya menumpang saja. Jadi, apa sebutannya yang pas, Sa?" sahutnya pilu.

Aku agak kasihan juga dengan dia. Aku ingin ikut menangis tapi tak bisa. Aku ini memang tipe cewek yang tak mudah menangis dan let it flow saja. Beban hidup yang dia tanggung lebih banyak ketimbang aku. Kalau begini, aku mesti bisa menolongnya. Ah, tiba-tiba saja aku mendapat ide. Pas sekali dengan keadaanku saat ini.

"Nabila, aku bisa membantumu supaya kamu ada gunanya," kataku.

Nabila yang sudah melangkah menuju pintu kelas pun diam. Dia menggeleng dan memunggungiku. "Makasih atas bantuan kamu, Sa. Tapi, aku sedang gak butuh bantuan apa-apa saat ini."

Aku mendekatinya hingga wajah kami saling hadap-hadapan, "Nabila, aku paham apa yang kamu alami. Makanya, aku mau membantumu. Aku jamin, kamu tidak akan menyesal."

Dia agak diam sejenak. Entah apa yang ada di benaknya. Matanya masih sembab. Untung saja ingusnya sudah tidak meleleh.

"Tapi, aku gak mau nyusahin kamu buat bela-belain bantuin aku, Sa. Aku ...," sahutnya pelan.

Aku langsung memeluknya, "Udah, nyantai aja, Bil. Aku ikhlas bantu kamu, kok. Malah aku senang."

Tangisan Nabila kembali membasahi bola matanya, "Makasih ya, Sa."

"Woles aja, Bil. Ayo ikut aku," ajakku.

Image

***

Aku sangat senang. Kali ini dompetku pasti akan tebal kembali. Lihat saja, aku kembali singgah ke tempat ini untuk menjual hasil suplaiku setelah seminggu lamanya absen. Kini semuanya sedang dalam pengecekan. Ah, tapi kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hati, ya? Entah apa itu.

Di depanku ada sesosok lelaki setengah baya yang tugasnya sebagai pengecek sekaligus penadah hasil penjualanku. Tapi, mimik wajahnya tampak tidak suka saat membuka bungkusan-bungkusan yang kubawa.

"Kamu bodoh atau bego, sih?!" bentak lelaki itu sambil menghempaskan bungkusan di depannya.

Aku kaget dengan bentakannya itu, "Loh, kenapa memangnya, Pak? Apa ada yang salah dengan penjualan saya kali ini?"

"Ya jelas! Mengapa kamu masukin semuanya ke dalam kantong plastik? Bukannya minggu lalu kamu masih mengemasnya sesuai yang saya minta?! Kamu lupa apa pikun?!"

Ya ampun. Tadi aku ditanya bodoh atau bego. Kini aku kembali ditanya lupa atau pikun. Bukankah dua kata itu maknanya sama?

"Eh, anu, Pak," sahutku gelagapan, "uang saya gak cukup buat beli kemasannya. Jadi, saya cuma bungkus pakai plastik saja."

"Goblok! Ini mah gak ada gunanya yang kamu jual ini! Bawa lagi sana!" bentaknya.

Ah, sialan! Apes sekali! Aku gagal mendapatkan uang. Kalau begini, bagaimana aku makan nanti? Ah, kenapa kotak es khusus untuk mengemas isi tubuh dalam manusia itu mesti mahal sekali? Apalagi mendapatkannya sangat susah.

Nabila yang malang. Bahkan hati, ginjal, jantung, usus, dan lain-lain yang ada di dalam tubuhnya yang hendak aku jual ke penadah itu sudah tidak ada gunanya. Pasti tak lama lagi akan membusuk. Meskipun begitu, setidaknya beban hidupnya sudah hilang. Semoga dia tenang di alam sana. Maafkan aku, Nabila.


-tamat-

Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.