Image

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti sebuah event yang diadakan oleh salah satu komunitas Facebook. Dan hasilnya, lumayan pemenang ke 4, hahaha. Ide tulisan ini sebetulnya sudah lama ada, sejak tahun 2014. Saya ingin selalu melanjutkan menulisnya, namun sangat malas. Ketika ada event ini, semangat saya untuk melanjutkannya muncul kembali. Saat dipostingkan untuk mengikuti event, ada alinea yang sengaja dipotong akibat jumlah katanya melebihi maksimum ketentuan event. Jadi, untuk diposting di sini, tak ada yang dipotong dan full. 

Image
Penampakan pengumuman hasil event



Oke, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komennya kalau memang niat, hahaha.





==========
Bunyi hentakan kaki yang menapaki tanah begitu cepat. Napas Novi kian tak menentu. Wajahnya yang elok diselimuti kepucatan dan ketakutan. Peluh dingin membasahi tiap jengkal tubuhnya. Puluhan kali dia menoleh ke belakang.

Gelapnya pematang sawah yang dilewati membuat dia kesulitan untuk melihat. Apalagi ditambah keadaan sawah yang becek dan licin. Akibatnya, dia jatuh ke dalam sebuah kubangan di depannya. Sakit mulai melanda tubuhnya yang kini belepotan tanah basah.

Tap ... tap ... tap ...!

Bunyi langkah kaki lain yang mencegat si gadis semakin mendekat. Sedangkan si gadis tak bisa lagi mengelak.

"AAAHHH!!!" pekik Novi.

***

Desa Pasta adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh pegunungan dan pesawahan yang indah. Hawanya sangat sejuk. Namun, keelokan itu kini menjadi sesuatu yang menakutkan saat pagi menjelang. Salah satu gadis penduduk desa ditemukan tewas di pematang sawah milik Pak Jaka yang mulai menguning. Gadis itu hanya tinggal kepalanya saja, sedangkan tubuhnya lenyap entah ke mana.

"Ini sudah yang ketiga kalinya," keluh sang Kepala Desa Pasta.

Penduduk desa tak tahu lagi mesti melakukan apa. Sejuta tanya menyelimuti benak masing-masing, apa yang kini tengah melanda kampung halamannya? Siapa yang tega melakukannya? Seakan, desa itu tengah dikutuk.

"Apa kita mesti memanggil polisi?" tanya Pak Jaka, si pemilik sawah tempat ditemukannya kepala Novi.

"Jangan. Hal itu hanya bikin nama baik desa kita menjadi jelek. Lebih baik, kita penduduk desa saja yang memecahkan masalah ini," sahut Kepala Desa. Penduduk desa mengamini saja ucapannya. Tak tahu mesti melakukan apa lagi.

Alka, sang kekasih gadis itu sangat sedih. Dia tak mampu membendung lagi kepiluannya akibat tewasnya sang kekasih. Apalagi, keduanya akan naik pelaminan dua bulan mendatang.

Sebelum menghilang, Novi meminta izin kepada Alka kalau ada yang SMS dan ingin menemuinya di sawah Pak Jaka. Dia menjelaskan kalau itu adalah hal penting yang menyangkut masa depannya. Tentu saja Alka tidak mengizinkannya, sebab tidak jelas siapa yang ingin menemuinya itu, dan waktunya sudah malam. Namun, Novi tetap memaksa dan cepat-cepat ke sawah untuk mengetahui siapa yang ingin menemuinya.

Alka menyesal. Kalau saja dia cepat-cepat mencegat Novi, pasti gadis itu masih hidup. Jiwa mudanya mengalami gejolak. Dengan mengajak temannya, Sufyan, dia ingin menangkap pembunuh sang kekasih. Dia tak peduli pembunuhnya itu manusia atau bangsa dedemit sekali pun.

Maka, mulailah dua pemuda itu melakukan pelacakan di sawah milik Pak Jaka saat malam menjelang demi menemukan si pembunuh. Alka ingin membalaskan dendamnya. Dia tak bisa memaafkan pembunuh itu dengan mudah.

"Alka, tidak apa-apa nih kita malam-malam begini di sawah milik Pak Jaka? Kenapa enggak siang aja, sih? Nanti kalau ada hantu bagaimana? Apalagi Pak Jaka itu galak," keluh Sufyan ketakutan saat melewati pematang sawah yang mulai menguning. Dia menggenggam sebuah pentungan.

"Aku enggak peduli. Yang penting kita mesti menangkap pembunuhnya. Selama ini, kejadian pembunuhan itu selalu ada di sawah. Pasti dia sembunyi di sini. Kalau siang, maka kita akan ketahuan. Jadi mending malam-malam saja. Siapa tahu dia sedang melakukan aksinya, jadi kita bisa menangkapnya," jelas Alka yang juga membawa pentungan. "Pasang matamu baik-baik. Manfaatkan cahaya bulan sebagai penglihatan."

Kedua pemuda itu melangkah pelan melewati pematang sawah. Alka yang di depan, sedangkan Sufyan di belakang dengan agak ketakutan. Dinginnya angin malam tak mengikiskan keinginan Alka untuk menemukan sang pembunuh. Keadaan sawah sangat becek dan licin akibat hujan tadi siang. Tiba-tiba, Sufyan jatuh ke dalam kubangan akibat tidak hati-hati. Lututnya patah.

"Alka, ban- ...," Sufyan tak mampu melanjutkan kata-kata akibat mulutnya dibekap. Dia menggelinjang dengan mata melotot mencoba melepaskan bekapan. Namun, tenaganya semakin melemas. Di depannya kini ada sesosok menakutkan dengan tatapan penuh nafsu membunuh.

Celakanya, Alka tidak melihat kejadian tadi. Kekasih Novi itu tetap melangkah maju. Beda dengan Sufyan, dia melangkah sangat hati-hati. Sesekali dia menoleh ke bawah.

"Suf, hati-hati jalannya. Sawah ini agak becek dan licin," ucap Alka. Namun, ucapannya itu lama tak ada sahutan.

Alka menoleh ke belakang. Dia kaget sebab sosok temannya telah lenyap ditelan kegelapan sawah, "Sufyan? Kamu ke mana?"

Matanya menyapu sekeliling sawah yang gelap. Cahaya bulan tak mampu membantunya untuk melihat lebih jauh. Tak ada apapun di situ selain bunyi padi yang ditiup embusan angin malam. Dia melangkah kembali ke tempat Sufyan menghilang. Alka mulai panik.

Jantung pemuda itu bagaikan mau copot, sebab tiba-tiba ada sesosok boneka sawah yang tengah mematung menghadang di depannya. Dia mengucek-kucek matanya seakan tidak yakin dengan penglihatannya.

"Kayaknya tadi di sini enggak ada boneka sawah. Kok ini bisa ada, ya?" gumamnya sambil mendekat.

Sosok boneka sawah itu setinggi manusia dewasa. Memakai topi khas petani, mengenakan kaos dan celana compang-camping, dan tubuhnya diselubungi oleh dedaunan padi yang diikat tali. Boneka itu biasanya digunakan oleh petani-petani untuk mencegah hewan-hewan supaya tidak mengganggu sawah. Alka memandang lekat-lekat boneka yang tengah geming itu. Bau amis memainkan hidungnya.

Kakinya tiba-tiba menyentuh sesuatu di tanah. Mata pemuda itu membulat tatkala ada sesosok tubuh tanpa kepala yang geletak di tanah. Dia mengenali siapa pemilik tubuh itu. Alka kembali menatap boneka sawah itu dengan panik.

Mata boneka itu tiba-tiba membuka dan melotot.

"WAAA!!!" pekik Alka kaget.

Boneka sawah itu tiba-tiba menghunus sebuah sabit yang disembunyikan dengan cepat, lalu menebas kepala Alka hingga putus. Tak pelak, tubuh pemuda itu tumbang dan kepalanya menggelinding entah ke mana. Bau amis mulai menyapa penciuman.

Sosok boneka sawah itu jongkok di dekat tubuh Alka, "Lumayan, satu malam dapat dua tumbal. Kini sawahku ini akan cepat panen dan aku akan cepat kaya, hahaha!"


-tamat-


Image

Pematang Sawah Desa Pasta


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Image

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti sebuah event yang diadakan oleh salah satu komunitas Facebook. Dan hasilnya, lumayan pemenang ke 4, hahaha. Ide tulisan ini sebetulnya sudah lama ada, sejak tahun 2014. Saya ingin selalu melanjutkan menulisnya, namun sangat malas. Ketika ada event ini, semangat saya untuk melanjutkannya muncul kembali. Saat dipostingkan untuk mengikuti event, ada alinea yang sengaja dipotong akibat jumlah katanya melebihi maksimum ketentuan event. Jadi, untuk diposting di sini, tak ada yang dipotong dan full. 

Image
Penampakan pengumuman hasil event



Oke, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komennya kalau memang niat, hahaha.





==========
Bunyi hentakan kaki yang menapaki tanah begitu cepat. Napas Novi kian tak menentu. Wajahnya yang elok diselimuti kepucatan dan ketakutan. Peluh dingin membasahi tiap jengkal tubuhnya. Puluhan kali dia menoleh ke belakang.

Gelapnya pematang sawah yang dilewati membuat dia kesulitan untuk melihat. Apalagi ditambah keadaan sawah yang becek dan licin. Akibatnya, dia jatuh ke dalam sebuah kubangan di depannya. Sakit mulai melanda tubuhnya yang kini belepotan tanah basah.

Tap ... tap ... tap ...!

Bunyi langkah kaki lain yang mencegat si gadis semakin mendekat. Sedangkan si gadis tak bisa lagi mengelak.

"AAAHHH!!!" pekik Novi.

***

Desa Pasta adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh pegunungan dan pesawahan yang indah. Hawanya sangat sejuk. Namun, keelokan itu kini menjadi sesuatu yang menakutkan saat pagi menjelang. Salah satu gadis penduduk desa ditemukan tewas di pematang sawah milik Pak Jaka yang mulai menguning. Gadis itu hanya tinggal kepalanya saja, sedangkan tubuhnya lenyap entah ke mana.

"Ini sudah yang ketiga kalinya," keluh sang Kepala Desa Pasta.

Penduduk desa tak tahu lagi mesti melakukan apa. Sejuta tanya menyelimuti benak masing-masing, apa yang kini tengah melanda kampung halamannya? Siapa yang tega melakukannya? Seakan, desa itu tengah dikutuk.

"Apa kita mesti memanggil polisi?" tanya Pak Jaka, si pemilik sawah tempat ditemukannya kepala Novi.

"Jangan. Hal itu hanya bikin nama baik desa kita menjadi jelek. Lebih baik, kita penduduk desa saja yang memecahkan masalah ini," sahut Kepala Desa. Penduduk desa mengamini saja ucapannya. Tak tahu mesti melakukan apa lagi.

Alka, sang kekasih gadis itu sangat sedih. Dia tak mampu membendung lagi kepiluannya akibat tewasnya sang kekasih. Apalagi, keduanya akan naik pelaminan dua bulan mendatang.

Sebelum menghilang, Novi meminta izin kepada Alka kalau ada yang SMS dan ingin menemuinya di sawah Pak Jaka. Dia menjelaskan kalau itu adalah hal penting yang menyangkut masa depannya. Tentu saja Alka tidak mengizinkannya, sebab tidak jelas siapa yang ingin menemuinya itu, dan waktunya sudah malam. Namun, Novi tetap memaksa dan cepat-cepat ke sawah untuk mengetahui siapa yang ingin menemuinya.

Alka menyesal. Kalau saja dia cepat-cepat mencegat Novi, pasti gadis itu masih hidup. Jiwa mudanya mengalami gejolak. Dengan mengajak temannya, Sufyan, dia ingin menangkap pembunuh sang kekasih. Dia tak peduli pembunuhnya itu manusia atau bangsa dedemit sekali pun.

Maka, mulailah dua pemuda itu melakukan pelacakan di sawah milik Pak Jaka saat malam menjelang demi menemukan si pembunuh. Alka ingin membalaskan dendamnya. Dia tak bisa memaafkan pembunuh itu dengan mudah.

"Alka, tidak apa-apa nih kita malam-malam begini di sawah milik Pak Jaka? Kenapa enggak siang aja, sih? Nanti kalau ada hantu bagaimana? Apalagi Pak Jaka itu galak," keluh Sufyan ketakutan saat melewati pematang sawah yang mulai menguning. Dia menggenggam sebuah pentungan.

"Aku enggak peduli. Yang penting kita mesti menangkap pembunuhnya. Selama ini, kejadian pembunuhan itu selalu ada di sawah. Pasti dia sembunyi di sini. Kalau siang, maka kita akan ketahuan. Jadi mending malam-malam saja. Siapa tahu dia sedang melakukan aksinya, jadi kita bisa menangkapnya," jelas Alka yang juga membawa pentungan. "Pasang matamu baik-baik. Manfaatkan cahaya bulan sebagai penglihatan."

Kedua pemuda itu melangkah pelan melewati pematang sawah. Alka yang di depan, sedangkan Sufyan di belakang dengan agak ketakutan. Dinginnya angin malam tak mengikiskan keinginan Alka untuk menemukan sang pembunuh. Keadaan sawah sangat becek dan licin akibat hujan tadi siang. Tiba-tiba, Sufyan jatuh ke dalam kubangan akibat tidak hati-hati. Lututnya patah.

"Alka, ban- ...," Sufyan tak mampu melanjutkan kata-kata akibat mulutnya dibekap. Dia menggelinjang dengan mata melotot mencoba melepaskan bekapan. Namun, tenaganya semakin melemas. Di depannya kini ada sesosok menakutkan dengan tatapan penuh nafsu membunuh.

Celakanya, Alka tidak melihat kejadian tadi. Kekasih Novi itu tetap melangkah maju. Beda dengan Sufyan, dia melangkah sangat hati-hati. Sesekali dia menoleh ke bawah.

"Suf, hati-hati jalannya. Sawah ini agak becek dan licin," ucap Alka. Namun, ucapannya itu lama tak ada sahutan.

Alka menoleh ke belakang. Dia kaget sebab sosok temannya telah lenyap ditelan kegelapan sawah, "Sufyan? Kamu ke mana?"

Matanya menyapu sekeliling sawah yang gelap. Cahaya bulan tak mampu membantunya untuk melihat lebih jauh. Tak ada apapun di situ selain bunyi padi yang ditiup embusan angin malam. Dia melangkah kembali ke tempat Sufyan menghilang. Alka mulai panik.

Jantung pemuda itu bagaikan mau copot, sebab tiba-tiba ada sesosok boneka sawah yang tengah mematung menghadang di depannya. Dia mengucek-kucek matanya seakan tidak yakin dengan penglihatannya.

"Kayaknya tadi di sini enggak ada boneka sawah. Kok ini bisa ada, ya?" gumamnya sambil mendekat.

Sosok boneka sawah itu setinggi manusia dewasa. Memakai topi khas petani, mengenakan kaos dan celana compang-camping, dan tubuhnya diselubungi oleh dedaunan padi yang diikat tali. Boneka itu biasanya digunakan oleh petani-petani untuk mencegah hewan-hewan supaya tidak mengganggu sawah. Alka memandang lekat-lekat boneka yang tengah geming itu. Bau amis memainkan hidungnya.

Kakinya tiba-tiba menyentuh sesuatu di tanah. Mata pemuda itu membulat tatkala ada sesosok tubuh tanpa kepala yang geletak di tanah. Dia mengenali siapa pemilik tubuh itu. Alka kembali menatap boneka sawah itu dengan panik.

Mata boneka itu tiba-tiba membuka dan melotot.

"WAAA!!!" pekik Alka kaget.

Boneka sawah itu tiba-tiba menghunus sebuah sabit yang disembunyikan dengan cepat, lalu menebas kepala Alka hingga putus. Tak pelak, tubuh pemuda itu tumbang dan kepalanya menggelinding entah ke mana. Bau amis mulai menyapa penciuman.

Sosok boneka sawah itu jongkok di dekat tubuh Alka, "Lumayan, satu malam dapat dua tumbal. Kini sawahku ini akan cepat panen dan aku akan cepat kaya, hahaha!"


-tamat-


Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.