Images

Tulisan ini saya buat demi memenuhi tantangan komunitas di Line, dan sempat diposting di Facebook. Awalnya, tulisan ini dipenuhi oleh alfabet cadel itu. Jadi, untuk diposting di sini, saya buang alfabet hina dina itu. Selamat membaca dan komennya jangan lupa.



==========
Mungkin siapa pun kagak ada yang peduli kisah gue. Bisa jadi kagak ada yang mau tahu, ingin tahu, dan kagak bakal tahu. Apalah, gue ini selalu dipandang sebelah mata sama yang lainnya. Semua memandang sepele, tak ada apa-apanya. Lantas untuk apa gue hidup?

Walau gue hidup dengan koloni gue, tapi yang namanya buat hidup ya masing-masing. Apalagi kalau udah yang namanya makanan, anak, calon anak, bahkan nyawa pun tak ada yang peduli.

Ah, andaikan gue ditetaskan menjadi semut, pasti hidup gue penuh dengan kepedulian dan saling bahu membahu untuk membantu sesama. Bahkan katanya semut bisa mengangkat benda yang bebannya lebih gede ketimbang tubuhnya. Sungguh fantastis.

"Woy, Aelf! Ngelamun melulu, sih!"

Bentakan itu sangat bikin gue kaget. Jantung kayak mau copot. Eh, tapi tunggu dulu, makhluk kayak gue memangnya punya jantung?

"Apaan sih lo, Tuk? Bikin kaget aja!" kesal gue. Yang datang itu adalah Si Utuk alias Si Gendon.

"Halah, kayak manusia aja lo kaget segala," tepis makhluk dengan tubuh gede itu.

"Ya sekali-kali manusiawi boleh, kan. Manusia aja boleh kayak binatang, masa binatang kagak boleh manusiawi," bela gue.

Spesies satu itu tampak bingung dengan ucapan gue. Mungkin dia ingin menggosok kepalanya, layaknya manusia. Hahaha! Tapi jelas itu mustahil.

Dia keliling, lalu naik sedikit ke helaian di sebelahnya. "Pantas aja lo dijauhin sama koloni. Songong amat, sih. Cepet makan sana! Supaya tambah gede tuh badan lo, lalu meledak. Hahaha!" ejeknya.

"Tempat pijakan kita ini udah makanan. Kagak usah ingetin gue segala. Nanti juga gue makan," sahut gue. Memang sih badan gue ini agak ceking akibat melamun hal-hal yang kagak penting. Makan saja gue kalau mau saja.

Utuk menunjukkan wajah kesalnya. Dia kembali ke bawah, keliling-keliling sejenak, lalu menggigit pijakannya. Si Gendon itu sangat lahap.

Dunia pun mulai goyang. Ah, tapi ini sudah hal biasa bagi gue. Kagak kayak manusia yang bisa pusing kalau goyang-goyang begini. Bahkan kalau goyangannya kayak goyangan Inul sekalipun, tetep kagak ada efeknya.

Utuk tiba-tiba langsung hengkang begitu saja meninggalkan gue. Dia cengengesan dengan mulut belepotan makanan. Apa maksudnya itu? Gue kagak paham.

Biasa, ada tangan-tangan manusia yang mencoba mengacak-acak habitat kami. Tapi tampaknya Tuhan Maha Adil. Koloni kami sama sekali tak bisa diganggu dengan ulah tangan-tangan manusia itu. Calon-calon anak kami tetap pada tempatnya, tak goyah sedikit pun. Dan aku juga sangat aman. Ada untungnya juga punya badan ceking. Jadi, kagak bisa dijangkau oleh tangan manusia.

Cahaya menyilaukan tiba-tiba mendatangi kami. Oh, celaka! Manusia-manusia itu mulai membayangi kami.

"Semuanya sembunyi!" pekik salah satu spesies kami.

Semuanya tunggang-langgang menjauhi cahaya, masuk ke helaian-helaian yang paling padat. Gue pun ikutan. Jangan sampai tangan-tangan itu menggapai gue. Hidup gue ini sangat penting walaupun tak penting di mata lainnya.

Tampaknya masalah belum selesai sampai di situ. Sebuah benda yang gede banget dan panjang mulai datang. Benda itu bagaikan menyapu habitat kami. Gue jadi kalang kabut, kayak di film Titanic ketika mau tenggelam.

"Aaahhh!!!"

Spesies-spesies lain mulai memekik akibat disapu benda itu. Bahkan si Utuk juga kena. Celaka! Gue juga ikut kena!

"Aaahhh!!!" pekik gue.

Kami yang kena benda itu pun jatuh ke sebuah tempat putih. Meskipun tempat jatuhnya sangat tinggi, namun kami tidak mati sebab tak punya tulang. Tak ada kata patah tulang dalam kamus kehidupan kami.

Koloni gue yang sudah jatuh kembali kalang kabut. Satu-satu ditindih oleh tangan-tangan manusia hingga mati. Gue tak bisa apa-apa sama sekali. Tak sanggup menatap kepiluan di depan mata. Mayat di mana-mana. Ini pembantaian namanya.

Tubuh gue tiba-tiba diangkat tinggi-tinggi oleh tangan manusia itu. Bisa gue lihat wajahnya yang jelek itu menatap gue tajam.

Mungkin ini penghujung kisah hidup gue, yang tak ada siapa pun mau tahu dan kagak bakal tahu, yang selalu dipandang sebelah mata. Gue hanya bisa ikhlas saja menyambut kematian ini.

"Kutu sialan! Bikin gatel kepala aja!" pekik manusia itu mendekatkan kukunya ke tubuh gue.

Claaak!!!

Ya, inilah kisah gue, Si Aelf, alias Flea.


-tamat-


Image

Si Aelf


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Images

Tulisan ini saya buat demi memenuhi tantangan komunitas di Line, dan sempat diposting di Facebook. Awalnya, tulisan ini dipenuhi oleh alfabet cadel itu. Jadi, untuk diposting di sini, saya buang alfabet hina dina itu. Selamat membaca dan komennya jangan lupa.



==========
Mungkin siapa pun kagak ada yang peduli kisah gue. Bisa jadi kagak ada yang mau tahu, ingin tahu, dan kagak bakal tahu. Apalah, gue ini selalu dipandang sebelah mata sama yang lainnya. Semua memandang sepele, tak ada apa-apanya. Lantas untuk apa gue hidup?

Walau gue hidup dengan koloni gue, tapi yang namanya buat hidup ya masing-masing. Apalagi kalau udah yang namanya makanan, anak, calon anak, bahkan nyawa pun tak ada yang peduli.

Ah, andaikan gue ditetaskan menjadi semut, pasti hidup gue penuh dengan kepedulian dan saling bahu membahu untuk membantu sesama. Bahkan katanya semut bisa mengangkat benda yang bebannya lebih gede ketimbang tubuhnya. Sungguh fantastis.

"Woy, Aelf! Ngelamun melulu, sih!"

Bentakan itu sangat bikin gue kaget. Jantung kayak mau copot. Eh, tapi tunggu dulu, makhluk kayak gue memangnya punya jantung?

"Apaan sih lo, Tuk? Bikin kaget aja!" kesal gue. Yang datang itu adalah Si Utuk alias Si Gendon.

"Halah, kayak manusia aja lo kaget segala," tepis makhluk dengan tubuh gede itu.

"Ya sekali-kali manusiawi boleh, kan. Manusia aja boleh kayak binatang, masa binatang kagak boleh manusiawi," bela gue.

Spesies satu itu tampak bingung dengan ucapan gue. Mungkin dia ingin menggosok kepalanya, layaknya manusia. Hahaha! Tapi jelas itu mustahil.

Dia keliling, lalu naik sedikit ke helaian di sebelahnya. "Pantas aja lo dijauhin sama koloni. Songong amat, sih. Cepet makan sana! Supaya tambah gede tuh badan lo, lalu meledak. Hahaha!" ejeknya.

"Tempat pijakan kita ini udah makanan. Kagak usah ingetin gue segala. Nanti juga gue makan," sahut gue. Memang sih badan gue ini agak ceking akibat melamun hal-hal yang kagak penting. Makan saja gue kalau mau saja.

Utuk menunjukkan wajah kesalnya. Dia kembali ke bawah, keliling-keliling sejenak, lalu menggigit pijakannya. Si Gendon itu sangat lahap.

Dunia pun mulai goyang. Ah, tapi ini sudah hal biasa bagi gue. Kagak kayak manusia yang bisa pusing kalau goyang-goyang begini. Bahkan kalau goyangannya kayak goyangan Inul sekalipun, tetep kagak ada efeknya.

Utuk tiba-tiba langsung hengkang begitu saja meninggalkan gue. Dia cengengesan dengan mulut belepotan makanan. Apa maksudnya itu? Gue kagak paham.

Biasa, ada tangan-tangan manusia yang mencoba mengacak-acak habitat kami. Tapi tampaknya Tuhan Maha Adil. Koloni kami sama sekali tak bisa diganggu dengan ulah tangan-tangan manusia itu. Calon-calon anak kami tetap pada tempatnya, tak goyah sedikit pun. Dan aku juga sangat aman. Ada untungnya juga punya badan ceking. Jadi, kagak bisa dijangkau oleh tangan manusia.

Cahaya menyilaukan tiba-tiba mendatangi kami. Oh, celaka! Manusia-manusia itu mulai membayangi kami.

"Semuanya sembunyi!" pekik salah satu spesies kami.

Semuanya tunggang-langgang menjauhi cahaya, masuk ke helaian-helaian yang paling padat. Gue pun ikutan. Jangan sampai tangan-tangan itu menggapai gue. Hidup gue ini sangat penting walaupun tak penting di mata lainnya.

Tampaknya masalah belum selesai sampai di situ. Sebuah benda yang gede banget dan panjang mulai datang. Benda itu bagaikan menyapu habitat kami. Gue jadi kalang kabut, kayak di film Titanic ketika mau tenggelam.

"Aaahhh!!!"

Spesies-spesies lain mulai memekik akibat disapu benda itu. Bahkan si Utuk juga kena. Celaka! Gue juga ikut kena!

"Aaahhh!!!" pekik gue.

Kami yang kena benda itu pun jatuh ke sebuah tempat putih. Meskipun tempat jatuhnya sangat tinggi, namun kami tidak mati sebab tak punya tulang. Tak ada kata patah tulang dalam kamus kehidupan kami.

Koloni gue yang sudah jatuh kembali kalang kabut. Satu-satu ditindih oleh tangan-tangan manusia hingga mati. Gue tak bisa apa-apa sama sekali. Tak sanggup menatap kepiluan di depan mata. Mayat di mana-mana. Ini pembantaian namanya.

Tubuh gue tiba-tiba diangkat tinggi-tinggi oleh tangan manusia itu. Bisa gue lihat wajahnya yang jelek itu menatap gue tajam.

Mungkin ini penghujung kisah hidup gue, yang tak ada siapa pun mau tahu dan kagak bakal tahu, yang selalu dipandang sebelah mata. Gue hanya bisa ikhlas saja menyambut kematian ini.

"Kutu sialan! Bikin gatel kepala aja!" pekik manusia itu mendekatkan kukunya ke tubuh gue.

Claaak!!!

Ya, inilah kisah gue, Si Aelf, alias Flea.


-tamat-


Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.