Image

Flash fiction ini saya tulis sudah lama, yakni tahun 2014 bulan 11 lalu. Saya membuatnya untuk diposting di salah satu komunitas kepenulisan Facebook. Inilah tulisan awal-awal saya yang tanpa alfabet cadel. Niatnya mau saya masukkan ke dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun akibat sangat sedikit, jadi dibatalkan. Well, saya posting di sini juga hanya untuk nambah-nambah saja, hahaha. Semoga saja 'disetujui' sama Mbah. Selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========
Gelap malam mulai menyelimuti bumi. Embusan angin dingin menusuk-nusuk hingga ke tulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku cepat-cepat menutup toko kelontongku sebab sudah sangat lelah dan mengantuk. Ingin sekali cepat-cepat memeluk bantal dan guling.

Kakiku melangkah di jalanan yang mulai sepi. Begitu hening hingga ketukan langkahku menggema. Tak ada satupun mobil yang lewat. Semua aktivitas manusia seolah mati. Suasananya juga tampak mencekam.

Untung saja letak tempat tinggalku dengan toko begitu dekat. Tidak sampai lima menit, aku sudah tiba di depan pintu. Aku memilah-milih kunci untuk membuka pintu. Namun, begitu hendak memasukkan kunci ke lubangnya, satu timpukkan batu mengenai kepalaku.

Bletak!

"Aw!" pekikku mengaduh. Kunci yang ada di genggamanku pun jatuh, hingga menimbulkan bunyi yang membelah keheningan jalanan.

Aku langsung menoleh ke sekeliling sambil mengusap-usap kepala yang kena timpukkan. Siapa yang melakukannya?

Pandangan menyapu di tiap sudut jalanan. Anehnya, tak ada siapa-siapa di situ. Kalaupun ada, pasti telingaku bisa menangkap bunyi ketukan langkah kakinya. Bunyi embusan angin dingin saja ada, masa langkah manusia tak ada?

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku jongkok untuk mengambil kunci. Begitu bangkit kembali, tiba-tiba di depanku ada sesosok yang memakai tudung jaket menatap dingin. Tentu saja hal itu membuatku kaget setengah mati. Dengan cepat, sosok itu langsung membekap mulut dan hidungku dengan semacam sapu tangan.

Aku pun menggelinjang supaya bekapan itu lepas. Tapi tampaknya, tangan yang membekapku itu begitu kuat. Tenagaku yang sudah lelah ini tak mampu melepaskannya. Kemudian, aku pun jatuh lemas. Dalam pandanganku yang mulai tidak jelas, sosok yang membekapku tadi mengambil kunciku.

"Akan saya ambil semua uangmu di dalam," ucapnya sambil melengos masuk.

Aku tak mampu melawan. Mataku semakin lama semakin menutup. Kegelapan menyapaku dengan dinginnya. Entah sampai kapan hal ini akan usai.


-tamat-

Image

Silent Night


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."


Image

Flash fiction ini saya tulis sudah lama, yakni tahun 2014 bulan 11 lalu. Saya membuatnya untuk diposting di salah satu komunitas kepenulisan Facebook. Inilah tulisan awal-awal saya yang tanpa alfabet cadel. Niatnya mau saya masukkan ke dalam kumpulan naskah yang hendak dibukukan. Namun akibat sangat sedikit, jadi dibatalkan. Well, saya posting di sini juga hanya untuk nambah-nambah saja, hahaha. Semoga saja 'disetujui' sama Mbah. Selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========
Gelap malam mulai menyelimuti bumi. Embusan angin dingin menusuk-nusuk hingga ke tulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku cepat-cepat menutup toko kelontongku sebab sudah sangat lelah dan mengantuk. Ingin sekali cepat-cepat memeluk bantal dan guling.

Kakiku melangkah di jalanan yang mulai sepi. Begitu hening hingga ketukan langkahku menggema. Tak ada satupun mobil yang lewat. Semua aktivitas manusia seolah mati. Suasananya juga tampak mencekam.

Untung saja letak tempat tinggalku dengan toko begitu dekat. Tidak sampai lima menit, aku sudah tiba di depan pintu. Aku memilah-milih kunci untuk membuka pintu. Namun, begitu hendak memasukkan kunci ke lubangnya, satu timpukkan batu mengenai kepalaku.

Bletak!

"Aw!" pekikku mengaduh. Kunci yang ada di genggamanku pun jatuh, hingga menimbulkan bunyi yang membelah keheningan jalanan.

Aku langsung menoleh ke sekeliling sambil mengusap-usap kepala yang kena timpukkan. Siapa yang melakukannya?

Pandangan menyapu di tiap sudut jalanan. Anehnya, tak ada siapa-siapa di situ. Kalaupun ada, pasti telingaku bisa menangkap bunyi ketukan langkah kakinya. Bunyi embusan angin dingin saja ada, masa langkah manusia tak ada?

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku jongkok untuk mengambil kunci. Begitu bangkit kembali, tiba-tiba di depanku ada sesosok yang memakai tudung jaket menatap dingin. Tentu saja hal itu membuatku kaget setengah mati. Dengan cepat, sosok itu langsung membekap mulut dan hidungku dengan semacam sapu tangan.

Aku pun menggelinjang supaya bekapan itu lepas. Tapi tampaknya, tangan yang membekapku itu begitu kuat. Tenagaku yang sudah lelah ini tak mampu melepaskannya. Kemudian, aku pun jatuh lemas. Dalam pandanganku yang mulai tidak jelas, sosok yang membekapku tadi mengambil kunciku.

"Akan saya ambil semua uangmu di dalam," ucapnya sambil melengos masuk.

Aku tak mampu melawan. Mataku semakin lama semakin menutup. Kegelapan menyapaku dengan dinginnya. Entah sampai kapan hal ini akan usai.


-tamat-

Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.