Images

Tulisan ini awalnya mau saya bikin duet dengan salah satu teman kepenulisan. Saya bagian opening hingga tengah, dan dia bagian tengah hingga ending. Saya menantangnya supaya bikinnya tanpa alfabet hina dina itu. Dia pun menyanggupi. Jadinya, saya menulis duluan. Tapi, begitu tulisan saya sudah selesai, dia mengatakan kalau tidak bisa melanjutkan akibat ada kendala. Dan jadilah tulisan ini 'mandeg' di tengah jalan. Tulisan ini saya simpan selama 2 tahun. Dan kini, saya posting saja di blog ini ketimbang membusuk di file. Jadi, yang saya posting ini sebetulnya masih bagian opening hingga tengah. Tapi, akibat sudah lupa dengan plotnya, jadi saya sesuaikan endingnya. Well, ada yang saya tambahkan juga sedikit. Oke, selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========
Memiliki sahabat memang kenikmatan yang tiada duanya. Sahabat selalu ada di saat susah, bahagia, senang, sedih, canda, tawa, suka, maupun duka. Sahabat bisa membalut luka dan membasuh tandusnya jiwa kita. Dan kita akan sangat kehilangan tanpa adanya sahabat di sisi kita.

Namun, tak selamanya sahabat itu teman yang baik. Kadang-kadang, ada sesuatu di dalamnya yang siap membuat kita kaget. Sahabat bahkan bisa mengoyak jiwa kita tanpa diketahui.

Sahabat adalah iblis bagi jiwa yang tak tenang.

***

Ketika jam pulang sekolah tiba, aku dan sahabatku, Mitha, tidak langsung pulang. Kami singgah dulu di kantin hanya untuk melepas penat setelah sekolah dan tugas-tugasnya yang memusingkan. Mungkin dengan begini, otakku tidak pusing.

Aku dan dia sama-sama membeli bakso. Dengan ditemani oleh segelas es jus membuat siang itu tidak begitu panas. 

"Winda, gue pengen ngomong sesuatu, nih," ucap Mitha yang sudah menghabiskan baksonya.

"Ngomong apaan?" sahutku masih asyik dengan bakso di mangkok.

"Gue lagi suka sama salah satu anak di sekolah ini," ucap gadis itu sambil senyum-senyum.

Aku melonjak kaget dengan ucapan Mitha. "Hah, yakin lo? Siapa dia? Ganteng kagak?"

"Ganteng sih kagak. Gue dan dia udah lama kenal, lah. Sejak awal gue masuk sekolah ini, mata gue selalu menatapnya. Tatapan matanya itu telah memanah hati gue," sahut Mitha menatapku dengan seksama.

Aku mencoba menebak-nebak, siapa yang dimaksud oleh Mitha itu. Memang, lelaki tampan dan ganteng di sekolah ini bisa aku hitung. Tapi, yang dia katakan tadi bahwa lelaki itu tidak ganteng. Apakah dia menyukai tipe lelaki yang biasa-biasa saja?

"Siapa sih cowok itu, Mith?" tanyaku.

"Ada deh," ucap Mitha.

Aku menghela napas saja. Mungkin dia malu-malu mengatakannya. Tapi, ini suatu kemajuan buat dia. Pasalnya, sejak awal masuk sekolah dan mengenalnya, dia sama sekali tidak menyinggung tentang suka sama sesosok lelaki. Dia memang pemalu.

Sesosok lelaki melintas di benakku. Dia adalah Dani. Dia juga sahabatku dan Mitha. Sejak awal masuk sekolah ini, apalagi semasa MOS, kami sudah dekat. Jangan-jangan, lelaki yang dimaksud oleh Mitha itu adalah Dani. Memang pas dengan yang diucapkan oleh Mitha, Dani tidak begitu ganteng, dan juga Mitha selalu menatapnya.

Oke, ini misiku. Aku mesti membuat Mitha dan Dani menjadi sepasang kekasih. Aku juga pasti akan senang melihat keduanya bahagia. Kini, aku mesti mengatakan hal ini pada Dani.

***

"Masa sih Mitha suka sama gue?" tanya Dani kaget begitu aku mengajaknya ngomong empat mata di belakang sekolah.

"Iya, Dan. Dia bilang kalau cowok itu adalah cowok yang udah dekat sama dia sejak awal masuk sekolah. Siapa lagi kalau bukan elo?" jelasku.

Dani menghela napas panjang, lalu senyumnya mengembang, "Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mungkin ini yang namanya jodoh kali ya, Win. Aku juga sebetulnya udah suka sama dia," sahutnya senang.

"Pas! Ayo, tembak dia. Sebagai sahabat kalian, gue senang kalau kalian jadian."

"Oke, Win. Gue bakal nembak dia. Makasih ya makasih," sahutnya sambil menyalamiku, seolah aku ini adalah sesepuhnya.

"Ih, apaan, sih. Lebay!" sungutku.

Image

***

Seminggu lamanya, aku tidak mendapatkan info tentang Dani mengatakan cinta kepada Mitha. Kenapa lagi dengan anak itu? Mau kapan menembaknya? Tiap kali aku tanya ke Dani, dia selalu bilang menunggu waktu yang tepat.

Suasana pagi ini sangat sejuk. Tidak biasanya sekolah sudah banyak yang datang saat pagi. Aku melihat Mitha mendekatiku. Kami memang duduk sebangku.

"Winda, Dani nembak gue tadi malam," bisik Mitha sambil duduk di bangkunya. Matanya menoleh tak lepas ke Dani yang duduk di meja pojok.

Aku menjadi senang. Tak kusangka Dani menembak Mitha juga, "Oh ya? Lalu gimana? Lo dan dia jadian?" tanyaku. Kulihat, Dani yang menangkap ucapan aku dan Mitha menjadi menatap kami dengan tatapan aneh dan tak suka. Aku pun menjadi aneh. "Jangan-jangan, lo ...."

"Iya, dia gue tolak. Lagian, gue kan emang kagak suka sama dia," sahut Mitha santai.

Aku pun menjadi kaget. Tampaknya, aku salah menduga jika yang disukai oleh Mitha adalah Dani. Aku jadi punya dosa sama Dani. Pasti hatinya sakit sekali. Dani pasti akan membenciku. Aku sama sekali tak kuasa menatap matanya yang tajam melihatku. Seolah ada dendam dan emosi kepadaku. Aku mesti minta maaf kepadanya.

"Pasti lo yang minta Dani buat nembak gue ya, Win? Maaf ya, Win. Bukan dia yang gue maksud," ucap Mitha kemudian.

"Lalu, siapa dia?" keingintahuanku begitu menggebu-gebu.

"Kan udah gue bilang, dia kagak ganteng. Jadi, alias dia cantik dan anak kelas ini."

"Hah? Maksudnya?"

"Gue suka sama elo, Winda."

"Apa?!" pekikku kaget.


-tamat-

Image

Cinta Sang Sahabat


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."


Images

Tulisan ini awalnya mau saya bikin duet dengan salah satu teman kepenulisan. Saya bagian opening hingga tengah, dan dia bagian tengah hingga ending. Saya menantangnya supaya bikinnya tanpa alfabet hina dina itu. Dia pun menyanggupi. Jadinya, saya menulis duluan. Tapi, begitu tulisan saya sudah selesai, dia mengatakan kalau tidak bisa melanjutkan akibat ada kendala. Dan jadilah tulisan ini 'mandeg' di tengah jalan. Tulisan ini saya simpan selama 2 tahun. Dan kini, saya posting saja di blog ini ketimbang membusuk di file. Jadi, yang saya posting ini sebetulnya masih bagian opening hingga tengah. Tapi, akibat sudah lupa dengan plotnya, jadi saya sesuaikan endingnya. Well, ada yang saya tambahkan juga sedikit. Oke, selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========
Memiliki sahabat memang kenikmatan yang tiada duanya. Sahabat selalu ada di saat susah, bahagia, senang, sedih, canda, tawa, suka, maupun duka. Sahabat bisa membalut luka dan membasuh tandusnya jiwa kita. Dan kita akan sangat kehilangan tanpa adanya sahabat di sisi kita.

Namun, tak selamanya sahabat itu teman yang baik. Kadang-kadang, ada sesuatu di dalamnya yang siap membuat kita kaget. Sahabat bahkan bisa mengoyak jiwa kita tanpa diketahui.

Sahabat adalah iblis bagi jiwa yang tak tenang.

***

Ketika jam pulang sekolah tiba, aku dan sahabatku, Mitha, tidak langsung pulang. Kami singgah dulu di kantin hanya untuk melepas penat setelah sekolah dan tugas-tugasnya yang memusingkan. Mungkin dengan begini, otakku tidak pusing.

Aku dan dia sama-sama membeli bakso. Dengan ditemani oleh segelas es jus membuat siang itu tidak begitu panas. 

"Winda, gue pengen ngomong sesuatu, nih," ucap Mitha yang sudah menghabiskan baksonya.

"Ngomong apaan?" sahutku masih asyik dengan bakso di mangkok.

"Gue lagi suka sama salah satu anak di sekolah ini," ucap gadis itu sambil senyum-senyum.

Aku melonjak kaget dengan ucapan Mitha. "Hah, yakin lo? Siapa dia? Ganteng kagak?"

"Ganteng sih kagak. Gue dan dia udah lama kenal, lah. Sejak awal gue masuk sekolah ini, mata gue selalu menatapnya. Tatapan matanya itu telah memanah hati gue," sahut Mitha menatapku dengan seksama.

Aku mencoba menebak-nebak, siapa yang dimaksud oleh Mitha itu. Memang, lelaki tampan dan ganteng di sekolah ini bisa aku hitung. Tapi, yang dia katakan tadi bahwa lelaki itu tidak ganteng. Apakah dia menyukai tipe lelaki yang biasa-biasa saja?

"Siapa sih cowok itu, Mith?" tanyaku.

"Ada deh," ucap Mitha.

Aku menghela napas saja. Mungkin dia malu-malu mengatakannya. Tapi, ini suatu kemajuan buat dia. Pasalnya, sejak awal masuk sekolah dan mengenalnya, dia sama sekali tidak menyinggung tentang suka sama sesosok lelaki. Dia memang pemalu.

Sesosok lelaki melintas di benakku. Dia adalah Dani. Dia juga sahabatku dan Mitha. Sejak awal masuk sekolah ini, apalagi semasa MOS, kami sudah dekat. Jangan-jangan, lelaki yang dimaksud oleh Mitha itu adalah Dani. Memang pas dengan yang diucapkan oleh Mitha, Dani tidak begitu ganteng, dan juga Mitha selalu menatapnya.

Oke, ini misiku. Aku mesti membuat Mitha dan Dani menjadi sepasang kekasih. Aku juga pasti akan senang melihat keduanya bahagia. Kini, aku mesti mengatakan hal ini pada Dani.

***

"Masa sih Mitha suka sama gue?" tanya Dani kaget begitu aku mengajaknya ngomong empat mata di belakang sekolah.

"Iya, Dan. Dia bilang kalau cowok itu adalah cowok yang udah dekat sama dia sejak awal masuk sekolah. Siapa lagi kalau bukan elo?" jelasku.

Dani menghela napas panjang, lalu senyumnya mengembang, "Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mungkin ini yang namanya jodoh kali ya, Win. Aku juga sebetulnya udah suka sama dia," sahutnya senang.

"Pas! Ayo, tembak dia. Sebagai sahabat kalian, gue senang kalau kalian jadian."

"Oke, Win. Gue bakal nembak dia. Makasih ya makasih," sahutnya sambil menyalamiku, seolah aku ini adalah sesepuhnya.

"Ih, apaan, sih. Lebay!" sungutku.

Image

***

Seminggu lamanya, aku tidak mendapatkan info tentang Dani mengatakan cinta kepada Mitha. Kenapa lagi dengan anak itu? Mau kapan menembaknya? Tiap kali aku tanya ke Dani, dia selalu bilang menunggu waktu yang tepat.

Suasana pagi ini sangat sejuk. Tidak biasanya sekolah sudah banyak yang datang saat pagi. Aku melihat Mitha mendekatiku. Kami memang duduk sebangku.

"Winda, Dani nembak gue tadi malam," bisik Mitha sambil duduk di bangkunya. Matanya menoleh tak lepas ke Dani yang duduk di meja pojok.

Aku menjadi senang. Tak kusangka Dani menembak Mitha juga, "Oh ya? Lalu gimana? Lo dan dia jadian?" tanyaku. Kulihat, Dani yang menangkap ucapan aku dan Mitha menjadi menatap kami dengan tatapan aneh dan tak suka. Aku pun menjadi aneh. "Jangan-jangan, lo ...."

"Iya, dia gue tolak. Lagian, gue kan emang kagak suka sama dia," sahut Mitha santai.

Aku pun menjadi kaget. Tampaknya, aku salah menduga jika yang disukai oleh Mitha adalah Dani. Aku jadi punya dosa sama Dani. Pasti hatinya sakit sekali. Dani pasti akan membenciku. Aku sama sekali tak kuasa menatap matanya yang tajam melihatku. Seolah ada dendam dan emosi kepadaku. Aku mesti minta maaf kepadanya.

"Pasti lo yang minta Dani buat nembak gue ya, Win? Maaf ya, Win. Bukan dia yang gue maksud," ucap Mitha kemudian.

"Lalu, siapa dia?" keingintahuanku begitu menggebu-gebu.

"Kan udah gue bilang, dia kagak ganteng. Jadi, alias dia cantik dan anak kelas ini."

"Hah? Maksudnya?"

"Gue suka sama elo, Winda."

"Apa?!" pekikku kaget.


-tamat-

Image

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.