Images

Ide tulisan ini saya dapat saat mimpi. Sebetulnya sudah lama saya mimpi tentang kisah ini. Menulisnya pun juga sudah lama, namun 'mandeg' di tengah jalan. Untung saja saya tidak lupa tentang mimpinya. Plot dalam tulisan ini tak ada yang beda dengan yang ada dalam mimpi saya. Hanya saja endingnya saya ubah dikit. Oke, selamat membaca dan komennya jangan pelit ya.




==========

"Selamat Datang di Penginapan Hutan Pinus."

Aku melihat papan selamat datang di tepi jalanan. Dan di balik papan itu, tampak sebuah bangunan kecil bagaikan pondok yang didominasi oleh kayu, baik itu pintu, dinding, ambang jendela, dan atapnya. Di tengah hutan pinus begini, pasti ini penginapan satu-satunya di sini. Mungkin, aku bisa menginap di sini semalam hanya untuk melepas lelah. Besoknya, aku bisa siap melanjutkan petualanganku menuju puncak gunung sana.

Aku melangkahkan kaki dengan tenang memasuki kawasan halaman penginapan itu. Suasananya begitu sejuk. Tampaknya, penginapan ini cukup sepi. Aku lihat, hanya ada satu buah mobil jip di halaman. Mungkin itu milik wisatawan, sama denganku.

Aku kaget tatkala di depanku melintas sesosok lelaki sedang menuntun singa. Sesaat, singa itu menatapku dengan mata yang tajam. Seolah telah menemukan mangsanya. Aku agak takut juga. Namun tampaknya, singa itu jinak. Dan untung saja, singa itu diikat tali. Meskipun tampak jinak, singa tetaplah singa, masih ada kebuasan di dalamnya. Lelaki dan singa itu menghilang di balik pepohonan.

"Ah, selamat datang, Tuan. Mau menginap?" sambut lelaki tambun dengan kepala botak mendatangiku.

Lamunanku tentang singa tadi menjadi lenyap. Aku menoleh ke lelaki di hadapanku. Tampaknya, dia penjaga penginapan ini. Sebab, dia mengenakan pakaian ala petugas hotel, hanya saja sudah sangat usang.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau menginap di sini semalam saja."

"Ayo, silakan masuk," ucap lelaki itu sopan.

Aku pun mengikuti langkah lelaki itu masuk ke dalam penginapan. Aku langsung takjub ketika sudah ada di dalam. Bagaimana tidak, benda-benda yang ada di dalam penginapan ini semuanya dibuat dengan bahan kayu. Meja, bangku, hiasan, lampu, jendela, dan lain-lain. Semuanya mengingatkanku pada film-film ala koboy.

Penginapan ini lumayan kecil, sebab di sini aku bisa melihat lima buah pintu langsung, beda dengan hotel-hotel atau motel-motel yang lumayan luas. Tampaknya, di balik pintu itu memang tempat untuk tamu-tamu yang hendak menginap di sini.

"Tempat Anda di bilik 1, Mas," ucap lelaki botak tadi yang tampak sibuk mengisi blangko.

"Bilik?" ulangku.

"Iya, bilik. Nanti juga Anda paham. Silakan tanda tangan di sini, biayanya sekian, dan ini kuncinya," sahut lelaki tambun itu.

Aku pun membubuhkan tanda tangan dan sejumlah uang di blangko itu. Kuncinya kuambil, lalu melangkah menuju pintu yang paling pojok dan ada angka 1 di daun pintunya. Cuma lima langkah saja langsung sampai.

Aku masuk ke dalam tempat yang oleh lelaki itu disebut 'bilik'. Tampaknya, aku mulai paham kenapa tempat ini disebut 'bilik', yakni sempit. Buka pintu langsung disambut oleh tempat melepas lelah. Tak ada sela dengan dinding. Paling hanya pintu ini saja yang masih ada sisa sela. Pantas saja biayanya tidak mahal. Kuletakkan tas di lantai.

Belum sempat gumamanku selesai tentang bilik ini, telingaku menangkap suatu pekikan dan auman.

"Singa lepas! Singa lepas!"

Aku kembali ke tempat lelaki pemilik penginapan tadi untuk melihat ada kejadian apa. Namun, tampaknya lelaki tadi sudah tak ada di tempatnya. Ke mana dia? Apakah dia sudah angkat kaki dengan cepat akibat ada singa?

GHAOOO!

Aku melonjak kaget tatkala melihat sesosok singa di depan pintu penginapan. Gigi-giginya yang tajam begitu menakutkan di mataku. Apalagi, tatapan singa itu begitu tajam kepadaku, seolah ada dendam yang mesti dibalas. Apakah itu singa yang kulihat tadi? Tanpa basa-basi lagi, aku langsung hengkang menuju bilikku demi keselamatan.

Sudah kuduga, singa itu mencegatku. Cepat-cepat aku masuk dan menutup pintunya.

Duaaak!

Hentakan singa yang menghantam pintu begitu dahsyat. Akibatnya, aku langsung jatuh ke lantai. Sialnya, pintu bilik belum kukunci.

GHAOOO!

Singa buas itu masuk ke dalam bilikku dengan leluasa. Mulutnya dibuka menampilkan gigi-gigi tajam yang siap mengoyak mangsanya. Aku tak bisa mengelak lagi. Di dalam bilik sempit ini, aku tak bisa ke mana-mana. Jalan satu-satunya cuma melalui pintu itu.

Namun, aku tidak mudah putus asa. Kutemukan akal supaya tidak dimangsa oleh singa buas itu. Kuambil bantal yang ada di sebelahku.

Tiba-tiba, singa itu melompat dengan mulut menganga. Langsung saja kumasukkan bantal ke dalam mulutnya. Singa itu pun menggigit bantalnya.

Ini kesempatan. Selagi singa itu sibuk untuk melepaskan bantal di mulutnya, cepat-cepat aku menjauhi bilik. Dengan tenaga yang lemas akibat takut dimakan, aku menuju pintu depan.

"Singa sialan! Kenapa ada singa di sini?!" pekik sang pemilik penginapan yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia membawa sebuah senapan. Astaga, senapan aslikah itu? Atau senapan angin?

Dia maju mendekati singa yang tengah sibuk melepaskan bantal yang menancap di giginya. Busa isi bantal membuncah ke mana-mana. Lelaki itu menyokang senapannya hingga menimbulkan bunyi 'ceklek'.

Tak disangka, sebelum si pemilik penginapan melepaskan tembakannya, sang singa melompat duluan ke depannya. Si pemilik penginapan jatuh dan membuat tembakannya meleset. Senapannya jatuh di dekatnya. Kini dia tengah ditindih oleh singa yang sudah melepaskan bantal yang menancap di gigi-gigi tajamnya.

"Celaka!" pekikku.

Tanpa ampun, sang singa mengoyak tubuh tambun si pemilik penginapan, giginya pun ikutan mengoyak tubuh lelaki botak itu dengan ganasnya. Ingin sekali aku menolong lelaki itu, tapi nyaliku seketika ciut. Aku tak punya cukup tenaga untuk melawan singa yang tubuhnya dua kali lipat tubuhku ini. Aku juga tak sanggup menatap pemandangan ini. Lebih baik aku cepat-cepat angkat kaki saja.

Tubuh ini membalik lalu melangkah cepat menuju pintu depan. Sungguh tak bisa dibayangkan kejadian tak diduga ini. Aku sama sekali belum melihat hal ini selama hidupku. Singa buas mengoyak tubuh manusia langsung di depan mataku. Sebetulnya, aku sudah biasa melihat singa di televisi. Singa-singa itu pun hanya memangsa hewan-hewan biasa yang dimangsa oleh singa. Itu sudah tidak aneh sebab sudah hukum alam. Meskupun aku juga sempat deg-degan ketika menontonnya. Tapi hal ini sangat beda dengan di televisi. Kejadian ini live di depan mata.

Cepat-cepat aku meninggalkan penginapan yang didominasi oleh kayu itu. Aku sudah tak peduli sama tas bawaanku yang maaih ketinggalan di dalam bilik. Nyawa lebih penting. Nanti kalau singa itu sudah tak ada, aku bisa kembali lagi untuk mengambil tas.

Tapi, bagaimana jika nanti ada petugas polisi datang akibat kejadian tadi dan aku nanti ditanya-tanya?

Belum sempat menjauh, tiba-tiba singa itu mencegatku dan melompat hingga aku jatuh. Ah, tubuh ini langsung guling-guling di atas tanah dan dedaunan hutan pinus. Kemudian kepala menghantam sebuah batang pohon di depanku.

Ah, kepala ini sakit sekali. Pandangan mulai tak jelas dan memusingkan. Tampaknya ada luka di dahi. Bisa kucium bau amis yang mulai meleleh membasahi pipi.

Celaka, singa tadi kini menindih tubuhku yang tengah telentang, sama ketika yang dia lakukan kepada pemilik penginapan. Di mulutnya ada bau amis dan bekas lelehan. Apakah si pemilik penginapan itu sudah tewas digigit singa? Celaka, aku tak bisa apa-apa lagi! Beban singa ini sungguh tak diduga. Tubuh bagaikan membatu. Tampaknya tulang igaku ada yang patah akibat ditindih. Apakah dia akan memakanku? Apakah aku akan tamat di sini?

"Hahaha, makanlah yang banyak, Leo. Nanti kita temukan tempat lain lagi buat makan kamu," ucap sesosok lelaki di sampingku. Begitu kutengok, dia adalah lelaki yang tadi kulihat sedang menuntun singa ini di depan penginapan. Di tangannya ada sebuah tali yang sebelumnya dia gunakan untuk mengikat singa ini.

"Kau ...!" kesalku.

"Selamat makan, Leo," ucapnya lalu melangkah meninggalkanku.

Singa yang dipanggil Leo itu membuka mulutnya di depan mukaku, lalu mulai mencabik-cabik dan menggigit tubuhku. Entah aku tak bisa melukiskan apa yang kualami saat ini. Seakan tubuh ini bagaikan tanah yang sedang digali. Dikoyak, dicabik, digigit, dimakan. Aku hanya bisa diam saja, hingga kegelapan menyambutku.

-tamat-

Images

Penginapan Hutan Pinus


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."



Images

Ide tulisan ini saya dapat saat mimpi. Sebetulnya sudah lama saya mimpi tentang kisah ini. Menulisnya pun juga sudah lama, namun 'mandeg' di tengah jalan. Untung saja saya tidak lupa tentang mimpinya. Plot dalam tulisan ini tak ada yang beda dengan yang ada dalam mimpi saya. Hanya saja endingnya saya ubah dikit. Oke, selamat membaca dan komennya jangan pelit ya.




==========

"Selamat Datang di Penginapan Hutan Pinus."

Aku melihat papan selamat datang di tepi jalanan. Dan di balik papan itu, tampak sebuah bangunan kecil bagaikan pondok yang didominasi oleh kayu, baik itu pintu, dinding, ambang jendela, dan atapnya. Di tengah hutan pinus begini, pasti ini penginapan satu-satunya di sini. Mungkin, aku bisa menginap di sini semalam hanya untuk melepas lelah. Besoknya, aku bisa siap melanjutkan petualanganku menuju puncak gunung sana.

Aku melangkahkan kaki dengan tenang memasuki kawasan halaman penginapan itu. Suasananya begitu sejuk. Tampaknya, penginapan ini cukup sepi. Aku lihat, hanya ada satu buah mobil jip di halaman. Mungkin itu milik wisatawan, sama denganku.

Aku kaget tatkala di depanku melintas sesosok lelaki sedang menuntun singa. Sesaat, singa itu menatapku dengan mata yang tajam. Seolah telah menemukan mangsanya. Aku agak takut juga. Namun tampaknya, singa itu jinak. Dan untung saja, singa itu diikat tali. Meskipun tampak jinak, singa tetaplah singa, masih ada kebuasan di dalamnya. Lelaki dan singa itu menghilang di balik pepohonan.

"Ah, selamat datang, Tuan. Mau menginap?" sambut lelaki tambun dengan kepala botak mendatangiku.

Lamunanku tentang singa tadi menjadi lenyap. Aku menoleh ke lelaki di hadapanku. Tampaknya, dia penjaga penginapan ini. Sebab, dia mengenakan pakaian ala petugas hotel, hanya saja sudah sangat usang.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau menginap di sini semalam saja."

"Ayo, silakan masuk," ucap lelaki itu sopan.

Aku pun mengikuti langkah lelaki itu masuk ke dalam penginapan. Aku langsung takjub ketika sudah ada di dalam. Bagaimana tidak, benda-benda yang ada di dalam penginapan ini semuanya dibuat dengan bahan kayu. Meja, bangku, hiasan, lampu, jendela, dan lain-lain. Semuanya mengingatkanku pada film-film ala koboy.

Penginapan ini lumayan kecil, sebab di sini aku bisa melihat lima buah pintu langsung, beda dengan hotel-hotel atau motel-motel yang lumayan luas. Tampaknya, di balik pintu itu memang tempat untuk tamu-tamu yang hendak menginap di sini.

"Tempat Anda di bilik 1, Mas," ucap lelaki botak tadi yang tampak sibuk mengisi blangko.

"Bilik?" ulangku.

"Iya, bilik. Nanti juga Anda paham. Silakan tanda tangan di sini, biayanya sekian, dan ini kuncinya," sahut lelaki tambun itu.

Aku pun membubuhkan tanda tangan dan sejumlah uang di blangko itu. Kuncinya kuambil, lalu melangkah menuju pintu yang paling pojok dan ada angka 1 di daun pintunya. Cuma lima langkah saja langsung sampai.

Aku masuk ke dalam tempat yang oleh lelaki itu disebut 'bilik'. Tampaknya, aku mulai paham kenapa tempat ini disebut 'bilik', yakni sempit. Buka pintu langsung disambut oleh tempat melepas lelah. Tak ada sela dengan dinding. Paling hanya pintu ini saja yang masih ada sisa sela. Pantas saja biayanya tidak mahal. Kuletakkan tas di lantai.

Belum sempat gumamanku selesai tentang bilik ini, telingaku menangkap suatu pekikan dan auman.

"Singa lepas! Singa lepas!"

Aku kembali ke tempat lelaki pemilik penginapan tadi untuk melihat ada kejadian apa. Namun, tampaknya lelaki tadi sudah tak ada di tempatnya. Ke mana dia? Apakah dia sudah angkat kaki dengan cepat akibat ada singa?

GHAOOO!

Aku melonjak kaget tatkala melihat sesosok singa di depan pintu penginapan. Gigi-giginya yang tajam begitu menakutkan di mataku. Apalagi, tatapan singa itu begitu tajam kepadaku, seolah ada dendam yang mesti dibalas. Apakah itu singa yang kulihat tadi? Tanpa basa-basi lagi, aku langsung hengkang menuju bilikku demi keselamatan.

Sudah kuduga, singa itu mencegatku. Cepat-cepat aku masuk dan menutup pintunya.

Duaaak!

Hentakan singa yang menghantam pintu begitu dahsyat. Akibatnya, aku langsung jatuh ke lantai. Sialnya, pintu bilik belum kukunci.

GHAOOO!

Singa buas itu masuk ke dalam bilikku dengan leluasa. Mulutnya dibuka menampilkan gigi-gigi tajam yang siap mengoyak mangsanya. Aku tak bisa mengelak lagi. Di dalam bilik sempit ini, aku tak bisa ke mana-mana. Jalan satu-satunya cuma melalui pintu itu.

Namun, aku tidak mudah putus asa. Kutemukan akal supaya tidak dimangsa oleh singa buas itu. Kuambil bantal yang ada di sebelahku.

Tiba-tiba, singa itu melompat dengan mulut menganga. Langsung saja kumasukkan bantal ke dalam mulutnya. Singa itu pun menggigit bantalnya.

Ini kesempatan. Selagi singa itu sibuk untuk melepaskan bantal di mulutnya, cepat-cepat aku menjauhi bilik. Dengan tenaga yang lemas akibat takut dimakan, aku menuju pintu depan.

"Singa sialan! Kenapa ada singa di sini?!" pekik sang pemilik penginapan yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia membawa sebuah senapan. Astaga, senapan aslikah itu? Atau senapan angin?

Dia maju mendekati singa yang tengah sibuk melepaskan bantal yang menancap di giginya. Busa isi bantal membuncah ke mana-mana. Lelaki itu menyokang senapannya hingga menimbulkan bunyi 'ceklek'.

Tak disangka, sebelum si pemilik penginapan melepaskan tembakannya, sang singa melompat duluan ke depannya. Si pemilik penginapan jatuh dan membuat tembakannya meleset. Senapannya jatuh di dekatnya. Kini dia tengah ditindih oleh singa yang sudah melepaskan bantal yang menancap di gigi-gigi tajamnya.

"Celaka!" pekikku.

Tanpa ampun, sang singa mengoyak tubuh tambun si pemilik penginapan, giginya pun ikutan mengoyak tubuh lelaki botak itu dengan ganasnya. Ingin sekali aku menolong lelaki itu, tapi nyaliku seketika ciut. Aku tak punya cukup tenaga untuk melawan singa yang tubuhnya dua kali lipat tubuhku ini. Aku juga tak sanggup menatap pemandangan ini. Lebih baik aku cepat-cepat angkat kaki saja.

Tubuh ini membalik lalu melangkah cepat menuju pintu depan. Sungguh tak bisa dibayangkan kejadian tak diduga ini. Aku sama sekali belum melihat hal ini selama hidupku. Singa buas mengoyak tubuh manusia langsung di depan mataku. Sebetulnya, aku sudah biasa melihat singa di televisi. Singa-singa itu pun hanya memangsa hewan-hewan biasa yang dimangsa oleh singa. Itu sudah tidak aneh sebab sudah hukum alam. Meskupun aku juga sempat deg-degan ketika menontonnya. Tapi hal ini sangat beda dengan di televisi. Kejadian ini live di depan mata.

Cepat-cepat aku meninggalkan penginapan yang didominasi oleh kayu itu. Aku sudah tak peduli sama tas bawaanku yang maaih ketinggalan di dalam bilik. Nyawa lebih penting. Nanti kalau singa itu sudah tak ada, aku bisa kembali lagi untuk mengambil tas.

Tapi, bagaimana jika nanti ada petugas polisi datang akibat kejadian tadi dan aku nanti ditanya-tanya?

Belum sempat menjauh, tiba-tiba singa itu mencegatku dan melompat hingga aku jatuh. Ah, tubuh ini langsung guling-guling di atas tanah dan dedaunan hutan pinus. Kemudian kepala menghantam sebuah batang pohon di depanku.

Ah, kepala ini sakit sekali. Pandangan mulai tak jelas dan memusingkan. Tampaknya ada luka di dahi. Bisa kucium bau amis yang mulai meleleh membasahi pipi.

Celaka, singa tadi kini menindih tubuhku yang tengah telentang, sama ketika yang dia lakukan kepada pemilik penginapan. Di mulutnya ada bau amis dan bekas lelehan. Apakah si pemilik penginapan itu sudah tewas digigit singa? Celaka, aku tak bisa apa-apa lagi! Beban singa ini sungguh tak diduga. Tubuh bagaikan membatu. Tampaknya tulang igaku ada yang patah akibat ditindih. Apakah dia akan memakanku? Apakah aku akan tamat di sini?

"Hahaha, makanlah yang banyak, Leo. Nanti kita temukan tempat lain lagi buat makan kamu," ucap sesosok lelaki di sampingku. Begitu kutengok, dia adalah lelaki yang tadi kulihat sedang menuntun singa ini di depan penginapan. Di tangannya ada sebuah tali yang sebelumnya dia gunakan untuk mengikat singa ini.

"Kau ...!" kesalku.

"Selamat makan, Leo," ucapnya lalu melangkah meninggalkanku.

Singa yang dipanggil Leo itu membuka mulutnya di depan mukaku, lalu mulai mencabik-cabik dan menggigit tubuhku. Entah aku tak bisa melukiskan apa yang kualami saat ini. Seakan tubuh ini bagaikan tanah yang sedang digali. Dikoyak, dicabik, digigit, dimakan. Aku hanya bisa diam saja, hingga kegelapan menyambutku.

-tamat-

Images

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.