Images

Awalnya, flash fiction ini banyak mengandung alfabet hina dina itu, lalu saya membuangnya dan diedit total. Tulisan ini sebetulnya hasil duet saya dengan teman saya. Namun, saya edit total dan sempat diposting di Facebook dengan judul yang beda. Kemudian, saya edit total lagi dan diposting lagi. Dan kini, tulisan ini sudah mengalami empat kali editing. Oke, selamat membaca dan tinggalkan komennya, sebab komen kalian sangat membantu saya.





==========


Evan menatap makam kekasihnya dengan sedih. Sudah sejam lamanya dia mematung di situ dengan luapan emosi yang bisa dilukiskan. Dia sangat kehilangan wanita yang dicintainya itu. Apalagi, kematiannya begitu cepat, yakni kecelakaan mobil taksi yang ditumpanginya ketika hendak pulang kuliah. Ini tentu pukulan telak bagi Evan.

Malam semakin pekat. Angin mengembus kencang membuat nuansa dingin hingga menembus tulang. Bulan malam menampakkan kekuasaannya dengan gagah, menyulutkan cahaya nan indah. Suasana pemakaman saat malam memanglah menakutkan. Butuh nyali segunung untuk bisa mendatanginya saat malam. Namun, Evan tidaklah demikian. Hanya kesedihan yang melandanya. Di kejauhan sana, bunyi lolongan panjang hewan malam begitu memilukan. Seolah-olah sedang mengamini apa yang dialami oleh Evan.

Pemuda itu menggenggam sebuah cangkul. Akal sehatnya sudah dibutakan oleh cintanya yang begitu mendalam. Dia tak ikhlas sang kekasih tidak ada yang menemaninya di dalam liang lahat, kedinginan, dan tentunya sangat banyak hewan menjijikan di tanah. Sejak awal dia memang tak ingin jenazah sang kekasih dimakamkan. Dia ingin kalau jenazah itu disimpan saja di kediamannya. Namun, jelas saja ayah dan ibu sang kekasih menolak mentah-mentah. Apalagi status Evan itu belum menikah dengan kekasihnya, dan hak jenazah masih ada di tangan ayah dan ibunya. Evan pun tak bisa apa-apa.

Timbul penyesalan kenapa dia tidak cepat-cepat menikahinya saja. Mengapa mesti menunggu hingga kekasihnya itu lulus kuliah? Padahal Evan sudah cukup mapan dan siap menikah. Dia tidak ingin dipisahkan oleh sang kekasih.

Dengan cintanya yang begitu mendalam, dia ingin kembali melanjutkan niat awalnya, yaitu menyimpan jenazah kekasihnya di tempat tinggalnya. Dengan begitu, dia bisa setiap saat menemani sang kekasih. Meskipun begitu, jangan sampai ada yang mengetahui hal ini.

Evan kemudian mulai menggali tanah makam kekasihnya. Gundukan tanah bekas galian itu tentunya mudah untuk digali lagi. Dia tidak mengalami kesulitan apapun, hingga penggaliannya tiba pada papan-papan kayu penutup jenazah.

Dalam menggali, dia tak menggunakan cahaya apapun. Dia hanya dibantu oleh cahaya bulan. Evan tak ingin aksinya itu diketahui oleh siapapun akibat cahaya yang dibawanya. Pemakaman itu tentunya sepi saat malam. Namun, dia tetap mesti jaga-jaga supaya tidak ketahuan.

Dia membuka salah satu penutup papan di atas kepala jenazah. Untuk sesaat, kegundahannya sedikit lega ketika melihat wajah sang kekasih yang pucat yang dibungkus kain kafan dengan mata memejam. Tiap lubang di kepala jenazah ditutupi oleh kapas.

"Aku tak ingin pisah denganmu," gumamnya.

Tangannya yang belepotan tanah itu mengusap-usap pipi jenazah. Sebelum kematiannya, Evan sempat mengusap pipi kekasihnya itu akibat menangis. Ya, dia menangis sebab Evan tak bisa menemaninya pulang kuliah. Jadi, Evan meminta supaya kekasihnya itu pulang naik taksi saja dan diongkosi olehnya. Setelah tahu apa yang dialami oleh kekasihnya, pemuda itu sangat menyesalinya. Andai aja Evan mau menemaninya pulang. Pelupuk matanya mulai sembab.

Evan mulai melepaskan papan-papan penutup jenazah lainnya kemudian disimpan di atas tanah gundukan dekat lubang makam. Namun, akibat tidak hati-hati, tanah-tanah yang menempel di papan kayu itu luluh dan mengenai kedua mata Evan yang ada di bawahnya. Dia pun menggelinjang di dalam lubang makam. Tangannya mengucek-ucek matanya yang pedih. Dia mulai kesulitan melihat.

"Aaah!!!" pekiknya.

Dengan mata yang tetap memejam, tangannya mencoba menjangkau gundukan tanah galian di atas makam. Dia ingin naik demi mengobati matanya yang pedih dan sakit. Namun sial, tangannya malah menggapai cangkul yang dia simpan di situ. Akibat genggaman yang lemah, cangkul itu lepas dan jatuh ke dalam lubang makam. Tak ayal lagi, kepala Evan yang tepat di bawah itu pun dihantam besi cangkul hingga membuatnya pusing. Muncul lelehan kental dan pekat di pelipisnya. Sedangkan cangkul itu melanjutkan jatuhnya ke dalam lubang makam dan mengenai jenazah di dalamnya.

Evan kembali menggelinjang akibat sakit di pelipisnya. Dia mulai hilang keseimbangan, lalu jatuh. Celakanya, posisi kepalanya yang jatuh itu mengenai ujung besi cangkul yang mencuat ke atas. Dahinya pun menancap dan tembus hingga ke otak. Untuk sesaat, ada bunyi tulang yang patah. Lelehan kental pekat semakin banyak dan menetes membasahi kain kafan jenazah di bawahnya. Evan pun tewas seketika di atas jenazah kekasihnya.

Angin kembali mengembus kencang. Tiba-tiba, di dekat lubang makam ada sesosok wanita mengenakan pakaian putih-putih, wajahnya pucat, dan pandangannya sayu. Dia menatap dingin ke dalam lubang makam.

"Kematian tak akan mampu memisahkan kita, Kekasihku Evan. Kita akan jumpa kembali di alam baka. Kita akan menikah di sana," ucapnya pelan.

Sosok itu lalu menghilang, diikuti oleh embusan angin yang cukup dingin.



-tamat-



Images

Tak Dapat Dipisahkan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Images

Awalnya, flash fiction ini banyak mengandung alfabet hina dina itu, lalu saya membuangnya dan diedit total. Tulisan ini sebetulnya hasil duet saya dengan teman saya. Namun, saya edit total dan sempat diposting di Facebook dengan judul yang beda. Kemudian, saya edit total lagi dan diposting lagi. Dan kini, tulisan ini sudah mengalami empat kali editing. Oke, selamat membaca dan tinggalkan komennya, sebab komen kalian sangat membantu saya.





==========


Evan menatap makam kekasihnya dengan sedih. Sudah sejam lamanya dia mematung di situ dengan luapan emosi yang bisa dilukiskan. Dia sangat kehilangan wanita yang dicintainya itu. Apalagi, kematiannya begitu cepat, yakni kecelakaan mobil taksi yang ditumpanginya ketika hendak pulang kuliah. Ini tentu pukulan telak bagi Evan.

Malam semakin pekat. Angin mengembus kencang membuat nuansa dingin hingga menembus tulang. Bulan malam menampakkan kekuasaannya dengan gagah, menyulutkan cahaya nan indah. Suasana pemakaman saat malam memanglah menakutkan. Butuh nyali segunung untuk bisa mendatanginya saat malam. Namun, Evan tidaklah demikian. Hanya kesedihan yang melandanya. Di kejauhan sana, bunyi lolongan panjang hewan malam begitu memilukan. Seolah-olah sedang mengamini apa yang dialami oleh Evan.

Pemuda itu menggenggam sebuah cangkul. Akal sehatnya sudah dibutakan oleh cintanya yang begitu mendalam. Dia tak ikhlas sang kekasih tidak ada yang menemaninya di dalam liang lahat, kedinginan, dan tentunya sangat banyak hewan menjijikan di tanah. Sejak awal dia memang tak ingin jenazah sang kekasih dimakamkan. Dia ingin kalau jenazah itu disimpan saja di kediamannya. Namun, jelas saja ayah dan ibu sang kekasih menolak mentah-mentah. Apalagi status Evan itu belum menikah dengan kekasihnya, dan hak jenazah masih ada di tangan ayah dan ibunya. Evan pun tak bisa apa-apa.

Timbul penyesalan kenapa dia tidak cepat-cepat menikahinya saja. Mengapa mesti menunggu hingga kekasihnya itu lulus kuliah? Padahal Evan sudah cukup mapan dan siap menikah. Dia tidak ingin dipisahkan oleh sang kekasih.

Dengan cintanya yang begitu mendalam, dia ingin kembali melanjutkan niat awalnya, yaitu menyimpan jenazah kekasihnya di tempat tinggalnya. Dengan begitu, dia bisa setiap saat menemani sang kekasih. Meskipun begitu, jangan sampai ada yang mengetahui hal ini.

Evan kemudian mulai menggali tanah makam kekasihnya. Gundukan tanah bekas galian itu tentunya mudah untuk digali lagi. Dia tidak mengalami kesulitan apapun, hingga penggaliannya tiba pada papan-papan kayu penutup jenazah.

Dalam menggali, dia tak menggunakan cahaya apapun. Dia hanya dibantu oleh cahaya bulan. Evan tak ingin aksinya itu diketahui oleh siapapun akibat cahaya yang dibawanya. Pemakaman itu tentunya sepi saat malam. Namun, dia tetap mesti jaga-jaga supaya tidak ketahuan.

Dia membuka salah satu penutup papan di atas kepala jenazah. Untuk sesaat, kegundahannya sedikit lega ketika melihat wajah sang kekasih yang pucat yang dibungkus kain kafan dengan mata memejam. Tiap lubang di kepala jenazah ditutupi oleh kapas.

"Aku tak ingin pisah denganmu," gumamnya.

Tangannya yang belepotan tanah itu mengusap-usap pipi jenazah. Sebelum kematiannya, Evan sempat mengusap pipi kekasihnya itu akibat menangis. Ya, dia menangis sebab Evan tak bisa menemaninya pulang kuliah. Jadi, Evan meminta supaya kekasihnya itu pulang naik taksi saja dan diongkosi olehnya. Setelah tahu apa yang dialami oleh kekasihnya, pemuda itu sangat menyesalinya. Andai aja Evan mau menemaninya pulang. Pelupuk matanya mulai sembab.

Evan mulai melepaskan papan-papan penutup jenazah lainnya kemudian disimpan di atas tanah gundukan dekat lubang makam. Namun, akibat tidak hati-hati, tanah-tanah yang menempel di papan kayu itu luluh dan mengenai kedua mata Evan yang ada di bawahnya. Dia pun menggelinjang di dalam lubang makam. Tangannya mengucek-ucek matanya yang pedih. Dia mulai kesulitan melihat.

"Aaah!!!" pekiknya.

Dengan mata yang tetap memejam, tangannya mencoba menjangkau gundukan tanah galian di atas makam. Dia ingin naik demi mengobati matanya yang pedih dan sakit. Namun sial, tangannya malah menggapai cangkul yang dia simpan di situ. Akibat genggaman yang lemah, cangkul itu lepas dan jatuh ke dalam lubang makam. Tak ayal lagi, kepala Evan yang tepat di bawah itu pun dihantam besi cangkul hingga membuatnya pusing. Muncul lelehan kental dan pekat di pelipisnya. Sedangkan cangkul itu melanjutkan jatuhnya ke dalam lubang makam dan mengenai jenazah di dalamnya.

Evan kembali menggelinjang akibat sakit di pelipisnya. Dia mulai hilang keseimbangan, lalu jatuh. Celakanya, posisi kepalanya yang jatuh itu mengenai ujung besi cangkul yang mencuat ke atas. Dahinya pun menancap dan tembus hingga ke otak. Untuk sesaat, ada bunyi tulang yang patah. Lelehan kental pekat semakin banyak dan menetes membasahi kain kafan jenazah di bawahnya. Evan pun tewas seketika di atas jenazah kekasihnya.

Angin kembali mengembus kencang. Tiba-tiba, di dekat lubang makam ada sesosok wanita mengenakan pakaian putih-putih, wajahnya pucat, dan pandangannya sayu. Dia menatap dingin ke dalam lubang makam.

"Kematian tak akan mampu memisahkan kita, Kekasihku Evan. Kita akan jumpa kembali di alam baka. Kita akan menikah di sana," ucapnya pelan.

Sosok itu lalu menghilang, diikuti oleh embusan angin yang cukup dingin.



-tamat-



Images

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.