Images

Ide tulisan ini saya dapat saat sedang jongkok di WC (you know what I mean), hahaha! Kebetulan, sudah lama saya tidak membuat tulisan semacam ini. Ya, hitung-hitung latihan. Tulisan ini sempat saya posting di salah satu komunitas Facebook. Namun, belum ada yang paham. Ya sudah, semoga dengan diposting di sini jadi lebih paham. Oke, selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========

"Tahukah kalian apa yang aku sesalkan?" tanyaku memohon penuh iba.

Sosok hitam tinggi semampai menatapku dingin. Wajahnya yang tiada bentuk, tiada bola mata, tiada mulut, hanya lubang-lubang tikus yang menganga saja, seolah hendak melahapku. Tangan-tangannya yang juga tiada bentuk mengalung di kepalaku. Dingin melapisi salah satu sisi bagian tubuh. Dia seolah sudah tak tahan lagi untuk mengajakku, ikut ke dalam pinangannya yang siapapun tak mau.

Sedangkan sesosok putih menatapku penuh senyum kehangatan. Tak jauh beda dengan pelukan ibu saat meninabobokanku. Tak jauh beda juga dengan pelukan sang kekasih saat awal jumpa. Tapi, kehangatan kekasih itu kini susah usang. Tak ubahnya malam yang menggantikan siang. Tak ubahnya juga saat mendung digantikan hujan. Tapi, sosok putih itu memiliki tingkat kehangatan yang beda dengan ibu dan kekasih. Wajahnya sangat meneduhkan. Layaknya cahaya pagi yang siap menyambut aktivitas.

"Kamu jumpa dengan dia," ucap sosok putih itu sambil menunjuk di sebelahnya.

Ya, di sebelahnya itu ada sesosok makhluk tak kasat mata, yang selalu membuat siapapun sakit. Wajahnya menunjukkan kesenduan, tapi sangat menyebalkan. Dia datang, maka ada kesedihan, kegalauan, kudukaan, kejatuhan, dan lain-lain di situ. Sama dengan apa yang aku alami kini.

"Kenapa dia mesti datang di saat aku tak ingin dia datang?" tanyaku gundah.

"Sebab aku ada di setiap jiwa dan hatimu," sahut sosok tak kasat mata itu sambil lepaskan tawa kemenangan. Meskipun lepas tawa, wajahnya selalu sendu, bagai mendung menyelimuti bumi tiada ujung. Sialan, dia selalu menang di saat muncul.

***

Aku mengenal malaikat satu ini tak sengaja. Awalnya, aku yang tengah dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata yang menyebalkan itu, di bawah sebuah tebing kegundahan yang paling dalam, tak mampu lagi naik ke atas. Aku tak tahu mesti apa lagi.

Tapi, malaikat tampan itu datang dengan kepakan sayapnya yang indah. Dengan tali cintanya yang tulus, dia menolongku, kemudian mengangkatku sedikit demi sedikit ke atas. Meskipun aku melihat kepayahannya, bisa kulihat sebuah ketulusan di matanya yang lentik. Ah, inikah yang dinamakan pelangi?

Aku melihat sebuah malaikat kecil lain di dekatnya. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Bagaikan balita yang sangat imut. Dia lalu menembakkan sebuah panah yang sangat kubutuhkan saat ini. Lihatlah, dia mengejutkanku.

"Dengan disaksikan oleh jutaan bintang di langit, dan dibuktikan oleh embusan napas cinta di dalam tubuhku, aku ingin kamu menjadikan kekasihku," ucap malaikat penolong itu dengan wajahnya yang mempesona. Bunga di tangannya sangat wangi, mengalahkan wewangian paling mahal di dunia sekalipun.

Ah, hatinya yang membentuk tanda cinta mulai muncul. Hati itu mendatangi dan mengelilingiku. Dia tampak bahagia sekali, bagaikan anak yang menemukan induknya setelah lama menghilang. Hati itu kemudian mengubah bentuknya menjadi bunga-bunga, sama bentuknya dengan bunga yang ada di tangan malaikat itu.

Ah, hatiku mulai ikut muncul. Dia mengelilingiku. Hatiku ikut mengubah bentuknya juga menjadi bunga. Hatiku dan hatinya kini saling dansa bagaikan sedang pesta. Aku bisa tahu apa maksud kedua makhluk mungil nan lucu ini.

"Iya, aku mau," jawabku malu-malu.

"Asyik!" pekik sang malaikat senang.

Tempat ini kemudian menjadi padang bunga yang indah. Ah, di mana-mana wangi yang tak bisa kuduga. Betapa indahnya sejauh mata memandang. Kelembutan, kehangatan, kenyamanan, semuanya menjadi satu.

Ah, aku mulai dimabuk kepayang dengan kekasihku. Bahkan, aku sudah lupa apakah aku sempat jatuh dan ada di bawah tebih kegundahan. Tali cintanya yang sangat kuat untuk mengangkatku, kini sudah mengikatku. Tak peduli beban yang kubawa itu sulit. Tapi, aku mampu membuang beban itu.

Namun, tampaknya aku mesti menelan pil pahit di depan mata. Ya, kekasih malaikatku tampak asyik dengan boneka. Apa maksudnya itu? Kenapa dia memainkan boneka? Apakah dia lupa kalau ada aku? Bahkan, yang mengejutkan, dia mengatakan akan menikahi boneka itu.

Seketika hatiku muncul, lalu mengubah bentuk menjadi kaca, jatuh, kemudian pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak ada apa-apanya. Tubuhku pun lambat laun mulai ikut pecah. Bahkan tempat ini sudah bagaikan kotak kaca yang dipecahkan. Hanya ada aku, yang menatap bayanganku saja, lalu dipecahkan semua. Aku tak mampu menghitung kepingan-kepingan ini.

Apakah aku bisa menyatukan kepingan-kepingan tubuhku? Bahkan, hatiku mulai menghilang. Ke mana dia? Ke mana makhluk kecil nan lucu yang sempat menghiasi kehidupanku itu?

Aku mulai kecewa dengan malaikat yang sempat menolongku itu. Pantas saja dia tidak langsung mendatangiku ke bawah saat aku tengah kegundahan di bawah tebing, padahal dia punya sayap yang membentang dengan indahnya. Sayap itu mampu membawa siapapun melayang jauh ke langit awan penuh cinta. Tapi dia menggunakan tali dengan dibalut cinta penuh kepalsuan.

Seketika, makhluk tak kasat mata dengan wajah sendu muncul kembali. Dia yang menemaniku sewaktu di bawah tebing kegundahan, kini menampakkan lagi. Kenapa dia selalu muncul di kehidupanku? Kenapa?

***

Meja kayu bulat ini seolah menjadi tempat yang sangat menegangkan. Lebih kalah menegangkan ketimbang mahasiswa yang menghadapi dosen saat sidang. Lebih menakutkan juga ketimbang napi yang duduk di bangku pesakitan menanti ketukan vonis. Setahun? Dua tahun? Sepuluh tahun? Masih belum cukup untuk menggantikan apa yang aku alami ini.

Ketiga sosok aneh ini menanti apa yang aku lakukan selanjutnya. Hawa panas dan dingin menusuk-nusuk dengan sadis ke tubuh. Keduanya sangat menikmatinya, tak peduli apa yang aku alami ini.

"Bisakah kalian menjauhiku?" tanyaku bimbang. Aku menatap ketiga sosok itu satu-satu, dan melabuhkan pandangan kepada si sosok tak kasat mata. Dialah penyebab semua ini.

"Tak bisa. Kedua makhluk ini selalu ada di dalam jiwamu. Apalagi aku. Kamu mesti membuat sebuah keputusan. Ingat, aku selalu ada di saat kapanpun," ucap sosok tak kasat mata dengan angkuhnya. Seolah, dialah yang memiliki kekuasaan di situ.

"Tujuan kamu hanya memilih aku atau dia. Itu saja, tidak sulit," sahut sosok hitam dengan wajah tak jelas sambil menuding sosok putih di depannya. Ah, baunya sangat memuakkan. Tak bisakah tangannya yang dingin ini menjauhi kepalaku?

"Aku tidak mau memilih siapa-siapa!" bentakku sambil menggebuk meja, menimbulkan bunyi dentuman gendang yang memekakkan telinga. Tak peduli ini meja milik siapa. Bahkan gelas-gelas kopi yang sudah menampilkan wajah dinginnya tak mampu membuatku tenang.

Detak jam menandakan jika aku sudah lama duduk di meja panas kafe ini. Jam itu menjadi saksi bisu kegundahanku di meja ini, yang kini tengah dikelilingi makhluk aneh. Ah, bahkan meja ini sudah sangat kepanasan akibat hawa aneh yang ditimbulkan oleh tiga sosok dalam waktu cukup lama. Peluhnya membasahi di mana-mana. Kasihan juga aku sama meja ini, apalagi setelah aku gebuk. Dia selalu gagah menopang setiap beban apapun di atasnya, tak peduli bebannya begitu sulit. Tapi, dia tetap diam kokoh, tiada goyah sedikitpun.

Andai aku sekuat dia. Tapi, apa daya. Aku hanyalah seonggok kaca yang mudah pecah, dan tak bisa disatukan lagi.

"Aku tak mampu menyatukan pecahan-pecahan tubuhku lagi. Bahkan, hatiku sudah menghilang entah ke mana," gumamku menahan tangis.

Bisa kulihat, tubuhku yang awalnya pecah tak menentu, mencoba untuk disatukan kembali. Sayangnya, aku tak tahu bagaimana menyatukan tubuh yang sudah pecah ini. Apalagi, hatiku yang dulunya membentuk bunga, kini menghilang entah ke mana. Kini tubuhku memiliki lubang menganga, yakni sebuah tempat hati yang sudah kosong.

Sosok hitam menatap tubuhku dengan detail. Mungkin dia ketawa penuh kemenangan melihat pecahan-pacahan tubuhku yang mulai jatuh ke lantai. Menimbulkan bunyi kesedihan.

"Kalau begitu, sama saja kamu memilihku," sahut sosok putih itu dengan tetap senyum.

"Aku tidak memilih kamu!" bentakku.

"Lantas, namanya apa?" tanya si putih. Entah mengapa dia sangat tegas saat mengucapkan hal itu.

Sosok tak kasat mata di hadapanku ketawa panjang. Lonceng kemenangan sudah dia bunyikan. Tampaknya, apapun yang aku pilih, bujukannya tetaplah membuahkan hasil. Dia tetap menang.

"Kau yakin tidak memilihku? Yakin tidak mau ikut denganku? Bukankah kekasihmu sudah lama meninggalkanmu? Bahkan makhluk macam dia bisa muncul akibat ulah kekasihmu. Lalu, untuk apa lagi kamu di sini?" tanya sosok hitam. Meskipun wajahnya tak jelas, tapi aku bisa menangkap ada tatapan menakutkan di situ. Hawanya semakin dingin di sebelah sini. Dinginnya mengalahkan hawa panas suasana kafe. Apakah aku akan ikut dengannya?

"Betul apa yang dikatakannya. Lebih baik, kamu ikut dia saja. Kalau kamu ikut si putih, aku akan selalu muncul lagi. Tapi, kalau ikut si hitam, aku tidak akan muncul," bujuk si makhluk tak kasat mata itu. Sialan, wajah sendunya itu ingin membuatku menghantamnya.

Tapi apa yang dikatakannya memang tepat. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah muak dengan senyuman palsu malaikat itu, talinya palsu, sayapnya palsu, semuanya palsu. Bahkan hatinya palsu, hasil duplikasi masa lalunya yang kelam. Tak peduli apa yang dia hadapi kemudian.

Aku ingin sekali sosok tak kasat mata ini lenyap secepatnya. Aku tak ingin dia muncul kembali. Dia selalu membuat masalah. Lalu, apakah aku mesti mengikuti ucapannya? Ah, sialan. Bujukannya memang manis.

Aku menatap ke meja. Ah, di situ sudah ada benda yang sudah menungguku sejak tadi. Tatapannya sangat manja. Seolah dia ingin diistimewakan. Bagaikan anak yang ingin dipeluk sang ibu. Sungguh manjanya. Kenapa dia bisa semanja itu? Kini dia melambai seolah mengetahui maksudku.

Aku pun luluh. Benda lucu satu itu sangat menggemaskan. Aku lantas mengambilnya yang masih melambai di atas meja. Benda itu sunggingkan senyuman padaku, setelah sekian lama diabaikan. Tanpa basa-basi, aku langsung melahap saja benda putih nan halus ke dalam mulutku. Ah, sangat panasnya. Bagaikan memakan sup yang mendidih.

"Kamu akan menyesal," ucap sosok putih di sampingku pelan. Senyumannya yang sehangat cahaya pagi itu lenyap seketika. Sama ketika sang kekasih mencampakkanku.

Aku tak mampu melakukan apa-apa lagi. Sosok hitam yang tangannya mengalungi kepalaku itu semakin kencang. Aku kini dibawanya melayang ke atas, menuju tempat yang tak kuketahui. Di bawah sana, sosok tak kasat mata melambai penuh kemenangan. Tak henti-hentinya lonceng kemenangan di tangannya bunyi. Dan sang putih menampilkan wajah kecewanya.

-tamat-


Images

Bujukan Manis Sang Luka


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Images

Ide tulisan ini saya dapat saat sedang jongkok di WC (you know what I mean), hahaha! Kebetulan, sudah lama saya tidak membuat tulisan semacam ini. Ya, hitung-hitung latihan. Tulisan ini sempat saya posting di salah satu komunitas Facebook. Namun, belum ada yang paham. Ya sudah, semoga dengan diposting di sini jadi lebih paham. Oke, selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========

"Tahukah kalian apa yang aku sesalkan?" tanyaku memohon penuh iba.

Sosok hitam tinggi semampai menatapku dingin. Wajahnya yang tiada bentuk, tiada bola mata, tiada mulut, hanya lubang-lubang tikus yang menganga saja, seolah hendak melahapku. Tangan-tangannya yang juga tiada bentuk mengalung di kepalaku. Dingin melapisi salah satu sisi bagian tubuh. Dia seolah sudah tak tahan lagi untuk mengajakku, ikut ke dalam pinangannya yang siapapun tak mau.

Sedangkan sesosok putih menatapku penuh senyum kehangatan. Tak jauh beda dengan pelukan ibu saat meninabobokanku. Tak jauh beda juga dengan pelukan sang kekasih saat awal jumpa. Tapi, kehangatan kekasih itu kini susah usang. Tak ubahnya malam yang menggantikan siang. Tak ubahnya juga saat mendung digantikan hujan. Tapi, sosok putih itu memiliki tingkat kehangatan yang beda dengan ibu dan kekasih. Wajahnya sangat meneduhkan. Layaknya cahaya pagi yang siap menyambut aktivitas.

"Kamu jumpa dengan dia," ucap sosok putih itu sambil menunjuk di sebelahnya.

Ya, di sebelahnya itu ada sesosok makhluk tak kasat mata, yang selalu membuat siapapun sakit. Wajahnya menunjukkan kesenduan, tapi sangat menyebalkan. Dia datang, maka ada kesedihan, kegalauan, kudukaan, kejatuhan, dan lain-lain di situ. Sama dengan apa yang aku alami kini.

"Kenapa dia mesti datang di saat aku tak ingin dia datang?" tanyaku gundah.

"Sebab aku ada di setiap jiwa dan hatimu," sahut sosok tak kasat mata itu sambil lepaskan tawa kemenangan. Meskipun lepas tawa, wajahnya selalu sendu, bagai mendung menyelimuti bumi tiada ujung. Sialan, dia selalu menang di saat muncul.

***

Aku mengenal malaikat satu ini tak sengaja. Awalnya, aku yang tengah dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata yang menyebalkan itu, di bawah sebuah tebing kegundahan yang paling dalam, tak mampu lagi naik ke atas. Aku tak tahu mesti apa lagi.

Tapi, malaikat tampan itu datang dengan kepakan sayapnya yang indah. Dengan tali cintanya yang tulus, dia menolongku, kemudian mengangkatku sedikit demi sedikit ke atas. Meskipun aku melihat kepayahannya, bisa kulihat sebuah ketulusan di matanya yang lentik. Ah, inikah yang dinamakan pelangi?

Aku melihat sebuah malaikat kecil lain di dekatnya. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Bagaikan balita yang sangat imut. Dia lalu menembakkan sebuah panah yang sangat kubutuhkan saat ini. Lihatlah, dia mengejutkanku.

"Dengan disaksikan oleh jutaan bintang di langit, dan dibuktikan oleh embusan napas cinta di dalam tubuhku, aku ingin kamu menjadikan kekasihku," ucap malaikat penolong itu dengan wajahnya yang mempesona. Bunga di tangannya sangat wangi, mengalahkan wewangian paling mahal di dunia sekalipun.

Ah, hatinya yang membentuk tanda cinta mulai muncul. Hati itu mendatangi dan mengelilingiku. Dia tampak bahagia sekali, bagaikan anak yang menemukan induknya setelah lama menghilang. Hati itu kemudian mengubah bentuknya menjadi bunga-bunga, sama bentuknya dengan bunga yang ada di tangan malaikat itu.

Ah, hatiku mulai ikut muncul. Dia mengelilingiku. Hatiku ikut mengubah bentuknya juga menjadi bunga. Hatiku dan hatinya kini saling dansa bagaikan sedang pesta. Aku bisa tahu apa maksud kedua makhluk mungil nan lucu ini.

"Iya, aku mau," jawabku malu-malu.

"Asyik!" pekik sang malaikat senang.

Tempat ini kemudian menjadi padang bunga yang indah. Ah, di mana-mana wangi yang tak bisa kuduga. Betapa indahnya sejauh mata memandang. Kelembutan, kehangatan, kenyamanan, semuanya menjadi satu.

Ah, aku mulai dimabuk kepayang dengan kekasihku. Bahkan, aku sudah lupa apakah aku sempat jatuh dan ada di bawah tebih kegundahan. Tali cintanya yang sangat kuat untuk mengangkatku, kini sudah mengikatku. Tak peduli beban yang kubawa itu sulit. Tapi, aku mampu membuang beban itu.

Namun, tampaknya aku mesti menelan pil pahit di depan mata. Ya, kekasih malaikatku tampak asyik dengan boneka. Apa maksudnya itu? Kenapa dia memainkan boneka? Apakah dia lupa kalau ada aku? Bahkan, yang mengejutkan, dia mengatakan akan menikahi boneka itu.

Seketika hatiku muncul, lalu mengubah bentuk menjadi kaca, jatuh, kemudian pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak ada apa-apanya. Tubuhku pun lambat laun mulai ikut pecah. Bahkan tempat ini sudah bagaikan kotak kaca yang dipecahkan. Hanya ada aku, yang menatap bayanganku saja, lalu dipecahkan semua. Aku tak mampu menghitung kepingan-kepingan ini.

Apakah aku bisa menyatukan kepingan-kepingan tubuhku? Bahkan, hatiku mulai menghilang. Ke mana dia? Ke mana makhluk kecil nan lucu yang sempat menghiasi kehidupanku itu?

Aku mulai kecewa dengan malaikat yang sempat menolongku itu. Pantas saja dia tidak langsung mendatangiku ke bawah saat aku tengah kegundahan di bawah tebing, padahal dia punya sayap yang membentang dengan indahnya. Sayap itu mampu membawa siapapun melayang jauh ke langit awan penuh cinta. Tapi dia menggunakan tali dengan dibalut cinta penuh kepalsuan.

Seketika, makhluk tak kasat mata dengan wajah sendu muncul kembali. Dia yang menemaniku sewaktu di bawah tebing kegundahan, kini menampakkan lagi. Kenapa dia selalu muncul di kehidupanku? Kenapa?

***

Meja kayu bulat ini seolah menjadi tempat yang sangat menegangkan. Lebih kalah menegangkan ketimbang mahasiswa yang menghadapi dosen saat sidang. Lebih menakutkan juga ketimbang napi yang duduk di bangku pesakitan menanti ketukan vonis. Setahun? Dua tahun? Sepuluh tahun? Masih belum cukup untuk menggantikan apa yang aku alami ini.

Ketiga sosok aneh ini menanti apa yang aku lakukan selanjutnya. Hawa panas dan dingin menusuk-nusuk dengan sadis ke tubuh. Keduanya sangat menikmatinya, tak peduli apa yang aku alami ini.

"Bisakah kalian menjauhiku?" tanyaku bimbang. Aku menatap ketiga sosok itu satu-satu, dan melabuhkan pandangan kepada si sosok tak kasat mata. Dialah penyebab semua ini.

"Tak bisa. Kedua makhluk ini selalu ada di dalam jiwamu. Apalagi aku. Kamu mesti membuat sebuah keputusan. Ingat, aku selalu ada di saat kapanpun," ucap sosok tak kasat mata dengan angkuhnya. Seolah, dialah yang memiliki kekuasaan di situ.

"Tujuan kamu hanya memilih aku atau dia. Itu saja, tidak sulit," sahut sosok hitam dengan wajah tak jelas sambil menuding sosok putih di depannya. Ah, baunya sangat memuakkan. Tak bisakah tangannya yang dingin ini menjauhi kepalaku?

"Aku tidak mau memilih siapa-siapa!" bentakku sambil menggebuk meja, menimbulkan bunyi dentuman gendang yang memekakkan telinga. Tak peduli ini meja milik siapa. Bahkan gelas-gelas kopi yang sudah menampilkan wajah dinginnya tak mampu membuatku tenang.

Detak jam menandakan jika aku sudah lama duduk di meja panas kafe ini. Jam itu menjadi saksi bisu kegundahanku di meja ini, yang kini tengah dikelilingi makhluk aneh. Ah, bahkan meja ini sudah sangat kepanasan akibat hawa aneh yang ditimbulkan oleh tiga sosok dalam waktu cukup lama. Peluhnya membasahi di mana-mana. Kasihan juga aku sama meja ini, apalagi setelah aku gebuk. Dia selalu gagah menopang setiap beban apapun di atasnya, tak peduli bebannya begitu sulit. Tapi, dia tetap diam kokoh, tiada goyah sedikitpun.

Andai aku sekuat dia. Tapi, apa daya. Aku hanyalah seonggok kaca yang mudah pecah, dan tak bisa disatukan lagi.

"Aku tak mampu menyatukan pecahan-pecahan tubuhku lagi. Bahkan, hatiku sudah menghilang entah ke mana," gumamku menahan tangis.

Bisa kulihat, tubuhku yang awalnya pecah tak menentu, mencoba untuk disatukan kembali. Sayangnya, aku tak tahu bagaimana menyatukan tubuh yang sudah pecah ini. Apalagi, hatiku yang dulunya membentuk bunga, kini menghilang entah ke mana. Kini tubuhku memiliki lubang menganga, yakni sebuah tempat hati yang sudah kosong.

Sosok hitam menatap tubuhku dengan detail. Mungkin dia ketawa penuh kemenangan melihat pecahan-pacahan tubuhku yang mulai jatuh ke lantai. Menimbulkan bunyi kesedihan.

"Kalau begitu, sama saja kamu memilihku," sahut sosok putih itu dengan tetap senyum.

"Aku tidak memilih kamu!" bentakku.

"Lantas, namanya apa?" tanya si putih. Entah mengapa dia sangat tegas saat mengucapkan hal itu.

Sosok tak kasat mata di hadapanku ketawa panjang. Lonceng kemenangan sudah dia bunyikan. Tampaknya, apapun yang aku pilih, bujukannya tetaplah membuahkan hasil. Dia tetap menang.

"Kau yakin tidak memilihku? Yakin tidak mau ikut denganku? Bukankah kekasihmu sudah lama meninggalkanmu? Bahkan makhluk macam dia bisa muncul akibat ulah kekasihmu. Lalu, untuk apa lagi kamu di sini?" tanya sosok hitam. Meskipun wajahnya tak jelas, tapi aku bisa menangkap ada tatapan menakutkan di situ. Hawanya semakin dingin di sebelah sini. Dinginnya mengalahkan hawa panas suasana kafe. Apakah aku akan ikut dengannya?

"Betul apa yang dikatakannya. Lebih baik, kamu ikut dia saja. Kalau kamu ikut si putih, aku akan selalu muncul lagi. Tapi, kalau ikut si hitam, aku tidak akan muncul," bujuk si makhluk tak kasat mata itu. Sialan, wajah sendunya itu ingin membuatku menghantamnya.

Tapi apa yang dikatakannya memang tepat. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah muak dengan senyuman palsu malaikat itu, talinya palsu, sayapnya palsu, semuanya palsu. Bahkan hatinya palsu, hasil duplikasi masa lalunya yang kelam. Tak peduli apa yang dia hadapi kemudian.

Aku ingin sekali sosok tak kasat mata ini lenyap secepatnya. Aku tak ingin dia muncul kembali. Dia selalu membuat masalah. Lalu, apakah aku mesti mengikuti ucapannya? Ah, sialan. Bujukannya memang manis.

Aku menatap ke meja. Ah, di situ sudah ada benda yang sudah menungguku sejak tadi. Tatapannya sangat manja. Seolah dia ingin diistimewakan. Bagaikan anak yang ingin dipeluk sang ibu. Sungguh manjanya. Kenapa dia bisa semanja itu? Kini dia melambai seolah mengetahui maksudku.

Aku pun luluh. Benda lucu satu itu sangat menggemaskan. Aku lantas mengambilnya yang masih melambai di atas meja. Benda itu sunggingkan senyuman padaku, setelah sekian lama diabaikan. Tanpa basa-basi, aku langsung melahap saja benda putih nan halus ke dalam mulutku. Ah, sangat panasnya. Bagaikan memakan sup yang mendidih.

"Kamu akan menyesal," ucap sosok putih di sampingku pelan. Senyumannya yang sehangat cahaya pagi itu lenyap seketika. Sama ketika sang kekasih mencampakkanku.

Aku tak mampu melakukan apa-apa lagi. Sosok hitam yang tangannya mengalungi kepalaku itu semakin kencang. Aku kini dibawanya melayang ke atas, menuju tempat yang tak kuketahui. Di bawah sana, sosok tak kasat mata melambai penuh kemenangan. Tak henti-hentinya lonceng kemenangan di tangannya bunyi. Dan sang putih menampilkan wajah kecewanya.

-tamat-


Images

Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.