Images

Tulisan ini awalnya mau saya ikutkan dalam lomba blog. Namun, saya membatalkannya sebab masih belum bisa mendapatkan hal yang mesti dipenuhi, yakni jumlah halaman. Jadi, naskahnya mengendap di file dan saya galau mau dikemanakan tulisannya. Dan saya memutuskan untuk dipostingnya di sini saja. Gampang bikin lagi kalau mau ikut lomba, hahahaha! Dan oh iya, makasih kepada Demia atas bantuannya untuk mengedit tulisan ini. Oke selamat membaca dan komen saja kalau mau komen.


========== 

Pak Tua membawa mobil butut miliknya dengan senyum mengembang. Upayanya malam ini membuahkan hasil. Tak sia-sia juga dia menggunakan teknik yang ditemukan di Google. Memang, dunia maya mempunyai info tiada batas.

Sesosok wanita cantik dengan mata mengatup duduk di sebelahnya. Wajah polosnya menandakan kalau dia sudah lama pulas. Pakaian minimnya tak membuatnya kedinginan. Padahal, suhu malam itu sangat dingin.

"Siap-siaplah, Nona Cantik," gumam Pak Tua saat mobil memasuki jalanan yang sepi.

***

Sebuah Vespa melaju pelan di jalanan yang ditumbuhi pepohonan di tepiannya. Si pengemudinya adalah lelaki dengan kumis, jambang, dan jenggot lebat. Anak kecil mungkin akan takut melihatnya. Ditambah dengan kacamata hitam yang hinggap di atas hidungnya, menambah kesan bengis. Dia memboncengi sesosok wanita cantik dengan pakaian minim yang tampak seksi.

"Di sini saja kayaknya, Bang," pinta sang wanita sambil menepuk-nepuk bahu si pengemudi.

Lelaki itu menghentikan laju vespanya tepat di depan sebuah pohon. Tempat itu lumayan gelap. Cahaya lampu jalan yang agak jauh tak mampu menjangkau tempat itu. Suasananya membuat bulu kuduk menjadi tegang.

"Yakin di sini?" tanya si pengemudi.

"Iya, mudah-mudahan saja cocok," sahut sang wanita sambil membetulkan posisi bajunya.

Setelah wanita cantik itu memijakkan kedua kaki sepenuhnya ke tanah, lelaki jenggot langsung memacu vespanya dan meninggalkan si wanita cantik. Bunyi mesinnya memecah keheningan malam.

Kini hanya si wanita cantik yang mengisi kekosongan tempat itu. Wajahnya yang putih cantik bagaikan malaikat pembawa cinta. Pakaian seksi dan wangi tubuhnya yang membuat kaum Adam takluk. Meskipun embusan angin malam cukup kencang, hal itu tidak membuatnya kedinginan. Padahal, tubuhnya hanya dibalut tangtop kecil sepinggang, celana hotpans ketat yang menampilkan paha putihnya yang mulus, dan sepatu boot yang membungkus kaki indahnya. Tas kulit kesayangan diselempangkan di ke bahunya.

Setengah jam lamanya dia diam di situ, bagaikan penumpang di halte yang menanti bus yang tak kunjung datang. Entah apa yang ditunggu. Jalanan sepi ini sudah tak ada yang lewat. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Tampak di kejauhan, ada cahaya menyilaukan yang mendekat, sehingga dia menyipitkan matanya. Dia tahu kalau ada mobil yang melintasi jalanan itu. Dan tak disangka, mobil itu menghentikan lajunya tepat di depannya.

Tampak sesosok lelaki tua yang tak lain adalah si pengemudi. Mobil sedan itu cukup tua, sama dengan usia pemiliknya yang juga sudah tua. Uban tumbuh lebat di kepala dan kumisnya yang tipis. Melihat kondisi mobil, sang pemilik sangat tampak tidak menjaganya. Cat hijaunya yang sudah usang penuh dengan sayatan di sana sini, bagian depan dan samping sudah agak penyok, dan asap knalpotnya sangat menyesakkan. Mobil itu sepantasnya dimuseumkan ketimbang dipakai.

"Saya tidak menyangka akan menemukan wanita cantik di sini," sapa lelaki tua itu dengan menyunggingkan senyum.

Sang wanita cantik membalas senyuman, "Iya, Tuan."

"Ayo, masuk," pinta lelaki tua itu menghentakkan kepalanya ke samping sebagai tanda.

Si wanita cantik pun takluk. Dia membuka pintu di samping bangku kemudi, lalu masuk. Senyuman manis nan menggoda selalu melekat di wajah manisnya.

"Saya siap dibawa ke mana saja, Tuan," ucap wanita itu dengan nada genit menggoda.

Tawa lelaki itu pecah, "Jangan panggil saya tuan. Panggil saja saya Pak Tua. Siapa namamu, Nona Cantik?"

Sang wanita mengedutkan keningnya. Dia agak aneh dengan lelaki asing di sampingnya ini. Namun kemudian, senyumnya kembali menghiasi wajah cantiknya. "Iya, Pak Tua. Nama saya Ningsih."

"Hoh, Ningsih. Wanita dengan nama Ningsih memang cantik-cantik," puji Pak Tua.

"Ah, Pak Tua bisa saja."

"Kita ke tempat tinggal saya, ya," ajak Pak Tua sambil menjalankan mobil sedan bututnya.

"Ke mana saja saya siap, Pak Tua," sahut Ningsih dengan senyuman genit.

Mobil sedan butut kemudian melaju pelan meninggalkan tempat Ningsih menunggu tadi. Kedua manusia itu tidak mengetahui sama sekali jika ada dua pasang mata menatap tajam yang mengawasi aktivitasnya di balik pepohonan. Senyuman mencekam tampak di masing-masing wajah. Kemudian, kedua sosok itu menghilang di balik kegelapan malam.

***

Pak Tua membawa mobilnya dengan pelan. Ban yang agak kempes membuat jalannya mobil agak goyang. Ningsih duduk sangat tidak nyaman. Bangku mobil sudah penuh sobekan. Tangannya selalu menggenggam tepian bangku supaya keseimbangannya tidak goyah. Apalagi, bunyi mesinnya yang agak aneh di telinga. Hidungnya mencium bau sesuatu yang sudah usang. Bau ini sangat tidak asing baginya, namun dia tidak begitu ingat bau apa itu.

"Maafkan mobil saya yang nakal ini, Ningsih. Maklum mobil tua," ucap Pak Tua kala melihat kegelisahan Si Cantik.

"Iya, tidak apa-apa, Pak Tua," sahut Ningsih dengan senyum agak dipaksakan. Dia mesti tahan dengan keadaan ini.

"Ningsih, kamu tidak takut 'dinas' malam ini? Kasusnya sedang kencang, loh," kata Pak Tua dengan mata fokus menatap ke depan. Meskipun sudah memasuki usia senja, tapi dia bisa mengemudi tanpa menggunakan kacamata, bahkan saat malam. Tubuhnya juga lumayan masih tegap walau sudah tua. Hal itu menandakan dia sangat menjaga kesehatan selama mudanya.

"Kasus hilangnya 'kupu-kupu malam' di kota ini ya, Pak Tua?" tanya Ningsih yang disambut dengan anggukan Pak Tua, "memang sih saya agak takut juga. Tapi, kalau saya tidak melakukan apa-apa, saya tidak bisa dapat uang buat makan. Lagipula, dengan semakin sedikitnya jumlah kupu-kupu malam, ada untungnya juga. Peluang saya mendapatkan pelanggan kayak Pak Tua kan semakin memungkinkan. Kalau banyak saingan, maka saya susah mendapatkan pelanggan."

Tawa Pak Tua pecah, "Kamu bisa saja, Ningsih. Memang apa yang ada di kepalamu itu tidak salah. Tapi, kamu tidak usah cemas. Wanita cantik kayak kamu tidak akan sulit mendapatkan pelanggan," gombalnya sambil mengusap dagu Ningsih yang mulus.

Ningsih hanya bisa menyunggingkan senyum yang menampilkan gigi putihnya. Sesekali matanya menatap pemandangan pada spion mobil yang sedikit pecah.

***

Mobil sedan butut memasuki halaman sebuah bangunan kayu yang sudah tua. Bangunan itu bagaikan sebuah gudang. Suasana di sekeliling sangat gelap. Hanya bangunan itu saja yang menampilkan cahaya lampu. Ningsih paham jika dia kini ada di tengah hutan. Di benaknya agak aneh juga mengapa Pak Tua ini tinggal di tengah hutan begini.

"Ayo duduk, saya ambilkan minum dulu," pinta sang pemilik sambil melenggang ke belakang yang dihalangi oleh sebuah sekat kayu. Langkah kakinya memantul akibat lantainya hanya menggunakan kayu.

Ningsih sedikit bimbang untuk duduk. Pasalnya, kondisi sofa di situ sama dengan bangku mobil, penuh sobekan. Busanya membuncah dan dipenuhi debu. Dia mengusap-usap bagian yang hendak diduduki.

Pandangan mata lentik wanita itu tiba-tiba menuju ke sebuah foto-foto yang ditempel di dinding. Dia tidak jadi duduk dan memilih mendekati foto-foto itu. Dahinya menekuk akibat pemandangan yang disuguhkan di depan matanya ini.

Ningsih tahu kalau semua yang ada di foto itu adalah 'kupu-kupu malam' yang menghilang. Kenapa Pak Tua bisa memiliki foto-foto itu? Di benaknya timbul sejuta tanya. Dia tak bisa membayangkan apa yang menimpa wanita-wanita malang itu.

"Jangan-jangan, Pak Tua itu ...," Ningsih belum sempat melanjutkan kata-katanya, sebab mulut dan hidungnya dibekap.

Wanita cantik itu menggelinjang supaya mencoba melepas bekapan. Namun, lama-kelamaan tenaganya melemas, dan dia pun jatuh pingsan di atas lantai kayu.

"Wanita memang banyak mau tahu," ucap si pembekap yang tak lain adalah Pak Tua.

Dia memanggul tubuh Ningsih yang langsing di bahunya. Dia memasukkan wanita cantik itu ke dalam mobil, kemudian mendudukkannya di bangku samping kemudi. "Saya sudah salah menghitung. Tampaknya masih ada sisa satu kupu-kupu malam lagi yang mesti dilenyapkan, yaitu Ningsih. Padahal saya sudah meneliti jumlah kupu-kupu malam di kota ini. Makanya saya tadi tidak membawa obat bius di mobil. Bikin susah saja. Sebetulnya masih ada lagi tidak ya kupu-kupu malam di kota ini? Saya sudah muak melihatnya. Bikin ganggu kehidupan saja. Akibat wanita-wanita macam ini, anak lelaki kesayangan saya meninggal akibat HIV. Sungguh tak bisa dimaafkan," gumamnya sambil menatap tajam ke Ningsih.

Dia pun menjalankan mobil sedan bututnya dan meninggalkan tempat tinggalnya.

***

Jalanan itu sangat sepi dan belum diaspal. Pak Tua menepikan mobilnya di sebuah tanah luas dekat hutan. Dia memanfaatkan lampu mobil sebagai cahaya demi membantu penglihatannya. Senyum di wajahnya mengembang dan tampak puas.

"Tunggu di sini ya, Cantik. Saya mau siapkan dulu tempatnya untukmu," ucap Pak Tua sambil membelai dagu Ningsih yang masih pingsan. Dia mengambil sekop di bangku belakang.

Tubuh tuanya melangkah menuju sebuah tempat yang masih dalam jangkauan cahaya lampu mobil. Dia mulai menggali tanah.

Kini tampaklah di sekeliling tempat Pak Tua itu, ada banyak gundukan tanah layaknya pemakaman. Dan kini, dia sedang membuatnya satu lagi, sebuah lubang sepanjang manusia dewasa, dan kedalamannya sama dengan tinggi badannya.

"Tempat untuk Ningsih sudah jadi," gumamnya sambil mengusap peluh yang mulai membasahi wajah. Satu jam lamanya dia menggali. "Pemakaman buatan saya ini akan semakin memilukan," lanjutnya dengan tawa.

Dia naik ke atas, hendak membawa Ningsih ke dalam lubang. Namun, saat mengecek ke dalam mobil, dia kaget sebab Ningsih sudah tak ada. Pak Tua pun kelabakan. Dia kembali ke dekat lubang yang digalinya. Ada kebingungan dalam benaknya, apakah Ningsih sudah siuman dan lolos?

"Tidak mungkin, efek obat bius itu cukup hingga 12 jam. Tak mungkin wanita itu siuman," gumamnya panik.

Cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul di samping cahaya mobilnya. Dia pun kesulitan melihat.

"Siapa itu?" pekik Pak Tua sambil menyipitkan mata.

Dalam bayangan cahaya yang menyilaukan itu, muncul tiga sosok makhluk yang tengah melangkah. Semuanya kompak mengenakan gaun putih panjang dengan dua buah sayap menghiasi punggungnya. 

"Kami adalah malaikat yang hendak menuntut balas," ucap salah satu sosok yang kini hanya lima langkah di depan Pak Tua.

"Kami adalah wanita-wanita yang kau bunuh dan dipendam di pemakaman ini," sahut yang lainnya.

Pak Tua ketakutan setengah mati. Dia tidak menyangka sama sekali jika wanita 'kupu-kupu malam' yang sudah dibunuh dan dipendam di pemakaman buatannya itu bangkit dan menuntut balas. Apalagi menjadi sosok malaikat.

"Tidak, tidak, ampuni aku!" pekiknya ketakutan sambil jongkok. Nyalinya seketika menciut. Nafsu membunuhnya menjadi hilang.

Di tengah-tengah dua sosok malaikat tadi, muncul sosok Ningsih. Penampilannya sudah beda dengan sebelumnya. Sama dengan yang lain, dia mengenakan gaun putih panjang dan memiliki sayap di punggungnya, bak malaikat yang sedang menuntut keadilan di dunia.

"Anda mencoba membunuh saya, Pak Tua?" tanya Ningsih dengan tatapan kosong.

"Ningsih? Maafkan aku!" pekik Pak Tua sambil mencoba menjauh. Namun, dia tidak tahu jika di belakangnya ada lubang galian. Tak ayal lagi, dia pun jatuh ke dalamnya. Tulang kaki dan iganya patah.

Dia menggelinjang di dalam lubang akibat kesakitan. Apalagi, kini ada tanah-tanah yang menghujani tubuhnya. Pak Tua tak mampu melawan. Dia melengking kesakitan. Semakin lama tubuhnya semakin dipendam tanah. Lengkingannya pun lenyap ditelan tanah.

"Selesai?" tanya Ningsih.

"Sudah," sahut sosok di sebelahnya sambil melepas 'sayap' buatan. Dia membuang sekop milik Pak Tua ke tanah.

"Bulu-bulu sayap ini bikin aku pilek aja. Untung aku bisa tahan," sahut yang satunya.

"It's okey, guys. Akting kalian cukup bagus. Akting pingsanku juga lumayan. Untung saja aku sempat tahan napas saat dibekap lelaki tua itu. Dengan begini, kita bisa menangkap pelaku penculikan dan pembunuhan kupu-kupu malam di kota," sahut Ningsih.

"Hei, Ladies. Ayo siap-siap. Ada kasus lain menanti untuk kita pecahkan," ucap sesosok lelaki dengan kumis, jambang, dan janggut yang lebat. Dia mematikan lampu tembak mobil dan vespa miliknya.

-tamat-


Images

Malaikat Penuntut Keadilan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."

Images

Tulisan ini awalnya mau saya ikutkan dalam lomba blog. Namun, saya membatalkannya sebab masih belum bisa mendapatkan hal yang mesti dipenuhi, yakni jumlah halaman. Jadi, naskahnya mengendap di file dan saya galau mau dikemanakan tulisannya. Dan saya memutuskan untuk dipostingnya di sini saja. Gampang bikin lagi kalau mau ikut lomba, hahahaha! Dan oh iya, makasih kepada Demia atas bantuannya untuk mengedit tulisan ini. Oke selamat membaca dan komen saja kalau mau komen.


========== 

Pak Tua membawa mobil butut miliknya dengan senyum mengembang. Upayanya malam ini membuahkan hasil. Tak sia-sia juga dia menggunakan teknik yang ditemukan di Google. Memang, dunia maya mempunyai info tiada batas.

Sesosok wanita cantik dengan mata mengatup duduk di sebelahnya. Wajah polosnya menandakan kalau dia sudah lama pulas. Pakaian minimnya tak membuatnya kedinginan. Padahal, suhu malam itu sangat dingin.

"Siap-siaplah, Nona Cantik," gumam Pak Tua saat mobil memasuki jalanan yang sepi.

***

Sebuah Vespa melaju pelan di jalanan yang ditumbuhi pepohonan di tepiannya. Si pengemudinya adalah lelaki dengan kumis, jambang, dan jenggot lebat. Anak kecil mungkin akan takut melihatnya. Ditambah dengan kacamata hitam yang hinggap di atas hidungnya, menambah kesan bengis. Dia memboncengi sesosok wanita cantik dengan pakaian minim yang tampak seksi.

"Di sini saja kayaknya, Bang," pinta sang wanita sambil menepuk-nepuk bahu si pengemudi.

Lelaki itu menghentikan laju vespanya tepat di depan sebuah pohon. Tempat itu lumayan gelap. Cahaya lampu jalan yang agak jauh tak mampu menjangkau tempat itu. Suasananya membuat bulu kuduk menjadi tegang.

"Yakin di sini?" tanya si pengemudi.

"Iya, mudah-mudahan saja cocok," sahut sang wanita sambil membetulkan posisi bajunya.

Setelah wanita cantik itu memijakkan kedua kaki sepenuhnya ke tanah, lelaki jenggot langsung memacu vespanya dan meninggalkan si wanita cantik. Bunyi mesinnya memecah keheningan malam.

Kini hanya si wanita cantik yang mengisi kekosongan tempat itu. Wajahnya yang putih cantik bagaikan malaikat pembawa cinta. Pakaian seksi dan wangi tubuhnya yang membuat kaum Adam takluk. Meskipun embusan angin malam cukup kencang, hal itu tidak membuatnya kedinginan. Padahal, tubuhnya hanya dibalut tangtop kecil sepinggang, celana hotpans ketat yang menampilkan paha putihnya yang mulus, dan sepatu boot yang membungkus kaki indahnya. Tas kulit kesayangan diselempangkan di ke bahunya.

Setengah jam lamanya dia diam di situ, bagaikan penumpang di halte yang menanti bus yang tak kunjung datang. Entah apa yang ditunggu. Jalanan sepi ini sudah tak ada yang lewat. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Tampak di kejauhan, ada cahaya menyilaukan yang mendekat, sehingga dia menyipitkan matanya. Dia tahu kalau ada mobil yang melintasi jalanan itu. Dan tak disangka, mobil itu menghentikan lajunya tepat di depannya.

Tampak sesosok lelaki tua yang tak lain adalah si pengemudi. Mobil sedan itu cukup tua, sama dengan usia pemiliknya yang juga sudah tua. Uban tumbuh lebat di kepala dan kumisnya yang tipis. Melihat kondisi mobil, sang pemilik sangat tampak tidak menjaganya. Cat hijaunya yang sudah usang penuh dengan sayatan di sana sini, bagian depan dan samping sudah agak penyok, dan asap knalpotnya sangat menyesakkan. Mobil itu sepantasnya dimuseumkan ketimbang dipakai.

"Saya tidak menyangka akan menemukan wanita cantik di sini," sapa lelaki tua itu dengan menyunggingkan senyum.

Sang wanita cantik membalas senyuman, "Iya, Tuan."

"Ayo, masuk," pinta lelaki tua itu menghentakkan kepalanya ke samping sebagai tanda.

Si wanita cantik pun takluk. Dia membuka pintu di samping bangku kemudi, lalu masuk. Senyuman manis nan menggoda selalu melekat di wajah manisnya.

"Saya siap dibawa ke mana saja, Tuan," ucap wanita itu dengan nada genit menggoda.

Tawa lelaki itu pecah, "Jangan panggil saya tuan. Panggil saja saya Pak Tua. Siapa namamu, Nona Cantik?"

Sang wanita mengedutkan keningnya. Dia agak aneh dengan lelaki asing di sampingnya ini. Namun kemudian, senyumnya kembali menghiasi wajah cantiknya. "Iya, Pak Tua. Nama saya Ningsih."

"Hoh, Ningsih. Wanita dengan nama Ningsih memang cantik-cantik," puji Pak Tua.

"Ah, Pak Tua bisa saja."

"Kita ke tempat tinggal saya, ya," ajak Pak Tua sambil menjalankan mobil sedan bututnya.

"Ke mana saja saya siap, Pak Tua," sahut Ningsih dengan senyuman genit.

Mobil sedan butut kemudian melaju pelan meninggalkan tempat Ningsih menunggu tadi. Kedua manusia itu tidak mengetahui sama sekali jika ada dua pasang mata menatap tajam yang mengawasi aktivitasnya di balik pepohonan. Senyuman mencekam tampak di masing-masing wajah. Kemudian, kedua sosok itu menghilang di balik kegelapan malam.

***

Pak Tua membawa mobilnya dengan pelan. Ban yang agak kempes membuat jalannya mobil agak goyang. Ningsih duduk sangat tidak nyaman. Bangku mobil sudah penuh sobekan. Tangannya selalu menggenggam tepian bangku supaya keseimbangannya tidak goyah. Apalagi, bunyi mesinnya yang agak aneh di telinga. Hidungnya mencium bau sesuatu yang sudah usang. Bau ini sangat tidak asing baginya, namun dia tidak begitu ingat bau apa itu.

"Maafkan mobil saya yang nakal ini, Ningsih. Maklum mobil tua," ucap Pak Tua kala melihat kegelisahan Si Cantik.

"Iya, tidak apa-apa, Pak Tua," sahut Ningsih dengan senyum agak dipaksakan. Dia mesti tahan dengan keadaan ini.

"Ningsih, kamu tidak takut 'dinas' malam ini? Kasusnya sedang kencang, loh," kata Pak Tua dengan mata fokus menatap ke depan. Meskipun sudah memasuki usia senja, tapi dia bisa mengemudi tanpa menggunakan kacamata, bahkan saat malam. Tubuhnya juga lumayan masih tegap walau sudah tua. Hal itu menandakan dia sangat menjaga kesehatan selama mudanya.

"Kasus hilangnya 'kupu-kupu malam' di kota ini ya, Pak Tua?" tanya Ningsih yang disambut dengan anggukan Pak Tua, "memang sih saya agak takut juga. Tapi, kalau saya tidak melakukan apa-apa, saya tidak bisa dapat uang buat makan. Lagipula, dengan semakin sedikitnya jumlah kupu-kupu malam, ada untungnya juga. Peluang saya mendapatkan pelanggan kayak Pak Tua kan semakin memungkinkan. Kalau banyak saingan, maka saya susah mendapatkan pelanggan."

Tawa Pak Tua pecah, "Kamu bisa saja, Ningsih. Memang apa yang ada di kepalamu itu tidak salah. Tapi, kamu tidak usah cemas. Wanita cantik kayak kamu tidak akan sulit mendapatkan pelanggan," gombalnya sambil mengusap dagu Ningsih yang mulus.

Ningsih hanya bisa menyunggingkan senyum yang menampilkan gigi putihnya. Sesekali matanya menatap pemandangan pada spion mobil yang sedikit pecah.

***

Mobil sedan butut memasuki halaman sebuah bangunan kayu yang sudah tua. Bangunan itu bagaikan sebuah gudang. Suasana di sekeliling sangat gelap. Hanya bangunan itu saja yang menampilkan cahaya lampu. Ningsih paham jika dia kini ada di tengah hutan. Di benaknya agak aneh juga mengapa Pak Tua ini tinggal di tengah hutan begini.

"Ayo duduk, saya ambilkan minum dulu," pinta sang pemilik sambil melenggang ke belakang yang dihalangi oleh sebuah sekat kayu. Langkah kakinya memantul akibat lantainya hanya menggunakan kayu.

Ningsih sedikit bimbang untuk duduk. Pasalnya, kondisi sofa di situ sama dengan bangku mobil, penuh sobekan. Busanya membuncah dan dipenuhi debu. Dia mengusap-usap bagian yang hendak diduduki.

Pandangan mata lentik wanita itu tiba-tiba menuju ke sebuah foto-foto yang ditempel di dinding. Dia tidak jadi duduk dan memilih mendekati foto-foto itu. Dahinya menekuk akibat pemandangan yang disuguhkan di depan matanya ini.

Ningsih tahu kalau semua yang ada di foto itu adalah 'kupu-kupu malam' yang menghilang. Kenapa Pak Tua bisa memiliki foto-foto itu? Di benaknya timbul sejuta tanya. Dia tak bisa membayangkan apa yang menimpa wanita-wanita malang itu.

"Jangan-jangan, Pak Tua itu ...," Ningsih belum sempat melanjutkan kata-katanya, sebab mulut dan hidungnya dibekap.

Wanita cantik itu menggelinjang supaya mencoba melepas bekapan. Namun, lama-kelamaan tenaganya melemas, dan dia pun jatuh pingsan di atas lantai kayu.

"Wanita memang banyak mau tahu," ucap si pembekap yang tak lain adalah Pak Tua.

Dia memanggul tubuh Ningsih yang langsing di bahunya. Dia memasukkan wanita cantik itu ke dalam mobil, kemudian mendudukkannya di bangku samping kemudi. "Saya sudah salah menghitung. Tampaknya masih ada sisa satu kupu-kupu malam lagi yang mesti dilenyapkan, yaitu Ningsih. Padahal saya sudah meneliti jumlah kupu-kupu malam di kota ini. Makanya saya tadi tidak membawa obat bius di mobil. Bikin susah saja. Sebetulnya masih ada lagi tidak ya kupu-kupu malam di kota ini? Saya sudah muak melihatnya. Bikin ganggu kehidupan saja. Akibat wanita-wanita macam ini, anak lelaki kesayangan saya meninggal akibat HIV. Sungguh tak bisa dimaafkan," gumamnya sambil menatap tajam ke Ningsih.

Dia pun menjalankan mobil sedan bututnya dan meninggalkan tempat tinggalnya.

***

Jalanan itu sangat sepi dan belum diaspal. Pak Tua menepikan mobilnya di sebuah tanah luas dekat hutan. Dia memanfaatkan lampu mobil sebagai cahaya demi membantu penglihatannya. Senyum di wajahnya mengembang dan tampak puas.

"Tunggu di sini ya, Cantik. Saya mau siapkan dulu tempatnya untukmu," ucap Pak Tua sambil membelai dagu Ningsih yang masih pingsan. Dia mengambil sekop di bangku belakang.

Tubuh tuanya melangkah menuju sebuah tempat yang masih dalam jangkauan cahaya lampu mobil. Dia mulai menggali tanah.

Kini tampaklah di sekeliling tempat Pak Tua itu, ada banyak gundukan tanah layaknya pemakaman. Dan kini, dia sedang membuatnya satu lagi, sebuah lubang sepanjang manusia dewasa, dan kedalamannya sama dengan tinggi badannya.

"Tempat untuk Ningsih sudah jadi," gumamnya sambil mengusap peluh yang mulai membasahi wajah. Satu jam lamanya dia menggali. "Pemakaman buatan saya ini akan semakin memilukan," lanjutnya dengan tawa.

Dia naik ke atas, hendak membawa Ningsih ke dalam lubang. Namun, saat mengecek ke dalam mobil, dia kaget sebab Ningsih sudah tak ada. Pak Tua pun kelabakan. Dia kembali ke dekat lubang yang digalinya. Ada kebingungan dalam benaknya, apakah Ningsih sudah siuman dan lolos?

"Tidak mungkin, efek obat bius itu cukup hingga 12 jam. Tak mungkin wanita itu siuman," gumamnya panik.

Cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul di samping cahaya mobilnya. Dia pun kesulitan melihat.

"Siapa itu?" pekik Pak Tua sambil menyipitkan mata.

Dalam bayangan cahaya yang menyilaukan itu, muncul tiga sosok makhluk yang tengah melangkah. Semuanya kompak mengenakan gaun putih panjang dengan dua buah sayap menghiasi punggungnya. 

"Kami adalah malaikat yang hendak menuntut balas," ucap salah satu sosok yang kini hanya lima langkah di depan Pak Tua.

"Kami adalah wanita-wanita yang kau bunuh dan dipendam di pemakaman ini," sahut yang lainnya.

Pak Tua ketakutan setengah mati. Dia tidak menyangka sama sekali jika wanita 'kupu-kupu malam' yang sudah dibunuh dan dipendam di pemakaman buatannya itu bangkit dan menuntut balas. Apalagi menjadi sosok malaikat.

"Tidak, tidak, ampuni aku!" pekiknya ketakutan sambil jongkok. Nyalinya seketika menciut. Nafsu membunuhnya menjadi hilang.

Di tengah-tengah dua sosok malaikat tadi, muncul sosok Ningsih. Penampilannya sudah beda dengan sebelumnya. Sama dengan yang lain, dia mengenakan gaun putih panjang dan memiliki sayap di punggungnya, bak malaikat yang sedang menuntut keadilan di dunia.

"Anda mencoba membunuh saya, Pak Tua?" tanya Ningsih dengan tatapan kosong.

"Ningsih? Maafkan aku!" pekik Pak Tua sambil mencoba menjauh. Namun, dia tidak tahu jika di belakangnya ada lubang galian. Tak ayal lagi, dia pun jatuh ke dalamnya. Tulang kaki dan iganya patah.

Dia menggelinjang di dalam lubang akibat kesakitan. Apalagi, kini ada tanah-tanah yang menghujani tubuhnya. Pak Tua tak mampu melawan. Dia melengking kesakitan. Semakin lama tubuhnya semakin dipendam tanah. Lengkingannya pun lenyap ditelan tanah.

"Selesai?" tanya Ningsih.

"Sudah," sahut sosok di sebelahnya sambil melepas 'sayap' buatan. Dia membuang sekop milik Pak Tua ke tanah.

"Bulu-bulu sayap ini bikin aku pilek aja. Untung aku bisa tahan," sahut yang satunya.

"It's okey, guys. Akting kalian cukup bagus. Akting pingsanku juga lumayan. Untung saja aku sempat tahan napas saat dibekap lelaki tua itu. Dengan begini, kita bisa menangkap pelaku penculikan dan pembunuhan kupu-kupu malam di kota," sahut Ningsih.

"Hei, Ladies. Ayo siap-siap. Ada kasus lain menanti untuk kita pecahkan," ucap sesosok lelaki dengan kumis, jambang, dan janggut yang lebat. Dia mematikan lampu tembak mobil dan vespa miliknya.

-tamat-


Images

Bagikan

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.