Puisi ini saya buat untuk mengikuti lomba puisi yang diadakan oleh Pemkot asal saya. Setelah jadi, puisi ini mengalami puluhan kali edit. Namun sayang sekali, puisi ini tidak masuk dalam Top 5. Lalu, saya upload saja di sini sebagai kenang-kenangan, sesuai dengan judul puisinya. Selamat menikmati.


==========

Kota inilah dengan sejuta kisah kepahlawanan
Kota yang wangi dengan pusat agama, adat, dan kebudayaan
Banyak suku bangsa datang dan kumpul menjadi kesatuan
Selamat datang di Kota Wali dan Kota Udang sebagai julukan

Oase di sinilah dibangun istana-istana kesultanan
Kemegahan dan kekuatannya mampu membuat siapapun segan
Penduduknya hidup dalam naungan kebahagiaan
Tawa, senyuman, dan sopan santun akan mudah ditemukan

Tapi semua itu dengan mudahnya dihempaskan
Oleh tangan-tangan kejam kaum penjajahan
Oleh pengabdi bangsa yang haus dan tamak akan kekuasaan
Dan juga oleh penduduk-penduduknya yang sudah dibutakan

Apakah kota ini hanyalah tinggal kenangan?
Sebab tak ada lagi kisah-kisah kejayaan dan kemegahan
Tak ada lagi kisah-kisah semangat juang kepahlawanan
Piala-piala kebanggaan mulai lepas dalam genggaman

Kebahagiaan dan tawa di sudut kota hanya tinggal kenangan
Kaum-kaum jelata memekik pilu dengan mahalnya pangan
Nyanyian kedamaian saat malam datang hanya tinggal kenangan
Semuanya membisu dan dibungkam oleh ketakutan

Elok dan megahnya kota tua hanya tinggal kenangan
Sampah-sampah busuk dengan mudahnya dibuang ke jalanan
Sejuk dan teduhnya jalanan kota hanya tinggal kenangan
Sengatannya panas kota sebagai buah ketidakseimbangan

Nama adat, budaya, dan kesopanan hanya tinggal kenangan
Tak ada lagi pemuda-pemudi yang patuh pada omongan
Apapun kini yang ada di kota ini hanyalah tinggal kenangan
Maka pantaslah kota ini dijuluki kota sejuta kenangan

Apakah Kota Wali hanyalah sebutan?
Apakah Kota Wali hanyalah ungkapan?
Apakah Kota Wali hanyalah sebuah nama kebanggaan?
Padahal dalamnya sama sekali tak sepadan

Niatku ini, Wahai Tuhan
Bisakah kita mengambil semua kenangan?
Bisakah kita mengambil kembali kejayaan kota ini dalam genggaman?
Bisakah kita menanggalkan semua beban di badan?
Demi jelata-jelata yang sudah dihempas semua kebahagiaan
Dan demi Kota Wali yang kucinta ini untuk masa depan?

Gundahku melihat semua kepedihan dan kesedihan
Sebab di kota inilah aku tumbuh menjadi insan
Menapaki hidup di setiap sudut-sudut jalanan
Mencoba melukis titik-titik pencapaian
Demi setetes asa untuk melangkah ke depan

Aku yakin kepada Tuhan
Kenangan tetaplah menjadi kenangan
Masa depan tetap akan menjadi pilihan
Kota Wali akan tetap melangkah dan menatap ke depan
Menjadi oase yang lebih baik, indah, dan menjanjikan

Nanti Tuhan pun akan membuka jalan
Kebahagiaan dan tawa kelak akan kita dapatkan
Semua itu akan ada dalam genggaman
Di dalam jiwa insan Kota Wali di masa depan

130919



[Puisi] Kota Wali Sejuta Kenangan


"Baca juga cerita lainnya di Daftar Isi."



Puisi ini saya buat untuk mengikuti lomba puisi yang diadakan oleh Pemkot asal saya. Setelah jadi, puisi ini mengalami puluhan kali edit. Namun sayang sekali, puisi ini tidak masuk dalam Top 5. Lalu, saya upload saja di sini sebagai kenang-kenangan, sesuai dengan judul puisinya. Selamat menikmati.


==========

Kota inilah dengan sejuta kisah kepahlawanan
Kota yang wangi dengan pusat agama, adat, dan kebudayaan
Banyak suku bangsa datang dan kumpul menjadi kesatuan
Selamat datang di Kota Wali dan Kota Udang sebagai julukan

Oase di sinilah dibangun istana-istana kesultanan
Kemegahan dan kekuatannya mampu membuat siapapun segan
Penduduknya hidup dalam naungan kebahagiaan
Tawa, senyuman, dan sopan santun akan mudah ditemukan

Tapi semua itu dengan mudahnya dihempaskan
Oleh tangan-tangan kejam kaum penjajahan
Oleh pengabdi bangsa yang haus dan tamak akan kekuasaan
Dan juga oleh penduduk-penduduknya yang sudah dibutakan

Apakah kota ini hanyalah tinggal kenangan?
Sebab tak ada lagi kisah-kisah kejayaan dan kemegahan
Tak ada lagi kisah-kisah semangat juang kepahlawanan
Piala-piala kebanggaan mulai lepas dalam genggaman

Kebahagiaan dan tawa di sudut kota hanya tinggal kenangan
Kaum-kaum jelata memekik pilu dengan mahalnya pangan
Nyanyian kedamaian saat malam datang hanya tinggal kenangan
Semuanya membisu dan dibungkam oleh ketakutan

Elok dan megahnya kota tua hanya tinggal kenangan
Sampah-sampah busuk dengan mudahnya dibuang ke jalanan
Sejuk dan teduhnya jalanan kota hanya tinggal kenangan
Sengatannya panas kota sebagai buah ketidakseimbangan

Nama adat, budaya, dan kesopanan hanya tinggal kenangan
Tak ada lagi pemuda-pemudi yang patuh pada omongan
Apapun kini yang ada di kota ini hanyalah tinggal kenangan
Maka pantaslah kota ini dijuluki kota sejuta kenangan

Apakah Kota Wali hanyalah sebutan?
Apakah Kota Wali hanyalah ungkapan?
Apakah Kota Wali hanyalah sebuah nama kebanggaan?
Padahal dalamnya sama sekali tak sepadan

Niatku ini, Wahai Tuhan
Bisakah kita mengambil semua kenangan?
Bisakah kita mengambil kembali kejayaan kota ini dalam genggaman?
Bisakah kita menanggalkan semua beban di badan?
Demi jelata-jelata yang sudah dihempas semua kebahagiaan
Dan demi Kota Wali yang kucinta ini untuk masa depan?

Gundahku melihat semua kepedihan dan kesedihan
Sebab di kota inilah aku tumbuh menjadi insan
Menapaki hidup di setiap sudut-sudut jalanan
Mencoba melukis titik-titik pencapaian
Demi setetes asa untuk melangkah ke depan

Aku yakin kepada Tuhan
Kenangan tetaplah menjadi kenangan
Masa depan tetap akan menjadi pilihan
Kota Wali akan tetap melangkah dan menatap ke depan
Menjadi oase yang lebih baik, indah, dan menjanjikan

Nanti Tuhan pun akan membuka jalan
Kebahagiaan dan tawa kelak akan kita dapatkan
Semua itu akan ada dalam genggaman
Di dalam jiwa insan Kota Wali di masa depan

130919



Bagikan

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan isi cerita, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.