-->

Social Distancing



Setelah sekian lama, kini saya kembali menulis di blog ini lagi. Kali ini saya menulis flash fiction dulu. Ide tulisan ini saya buat sesuai dengan keadaan saat ini, yakni masa pandemi Covid-19. Saya buat kisahnya dengan ditambah bumbu khas saya selama ini.

Ketimbang bikin kepo, lebih baik baca saja, dan silakan komennya kalau niat.


==========

"Lihatlah, social distancing apanya? Pada bejubel gitu di toko!" keluh kawanku di bangku penumpang ketika kami melewati toko-toko di pusat kota.

Aku hanya mendesah napas saja di bangku kemudi mobil. Kulihat sekilas toko-toko yang dikeluhkan kawanku, yang memang dipadati pengunjung. Namun, kedua mata yang sudah mulai minus ini kembali menatap ke depan, fokus mengemudi.

Dia memang tak salah, di masa pandemi Covid-19 ini, social distancing memang sangat diwajibkan. Sebab konon katanya, bisa menekan laju Covid-19 yang semakin menggila. Namun kenyataan di lapangan, seolah tidak ada yang peduli.

"Lihatlah, kini malah macet. Social distancing apanya!" keluhnya lagi ketika mobil kami kena kemacetan lalu lintas, setelah melewati kawasan toko-toko tadi.

Aku juga sempat dibuat bingung, kemacetan apakah ini? Apakah ada kecelakaan atau hal lain?

"Ya sudahlah, namanya juga manusia, makhluk sosial. Susah kalau dipaksa-paksa gitu," balasku yang juga ikutan kesal. Tetapi bukan ke kawanku, melainkan ke kemacetan yang tiba-tiba ini. Semuanya seolah tidak mengindahkan SOP pandemi Covid-19 ini, dan melakukan hal apapun semaunya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga makhluk sosial.

Kawanku menoleh menghadapku, "Ya walaupun manusia itu makhluk sosial, tapi kalau keadaannya lagi begini ya mesti paham lah. Ikuti semua SOP pencegahan Covid-19. Salah satunya ya social distancing itu. Tapi ini mah bukan social distancing namanya. Tau gitu aku mending gak usah ikut kamu saja!" keluhnya lagi untuk yang ke sekian kalinya sejak awal naik mobil.

"Hehehe ... maaf. Soalnya ada yang mau aku tunjukkin ke kamu, ketimbang kamu bete melulu di kosan saja," jawabku.

"Iya sih bete juga dua bulan di kosan melulu. Mudik gak boleh, ke mana-mana gak boleh. Pusing aku! Memangnya apa sih yang mau kamu tunjukkin ke aku?" tanyanya.

"Ada deh, lihat aja nanti," jawabku santai sambil memajukan mobil pelan-pelan, sebab mobil di depan sudah mulai maju, meskipun hanya sedikit.

Kulihat dia semakin kesal dan mengoceh tidak jelas. Lumayan lucu juga wajahnya ketika sedang kesal begitu. Entah, sudah sejak kapan dia kesal begitu. Maklum saja, dia pasti sangat bosan dengan kehidupan di kota ini. Kuliah ditiadakan selama pandemi, lalu tidak boleh mudik, tidak boleh ke mana-mana, maka hal itu membuatnya semakin kesal. Dan mungkin bukan hanya dia saja, pasti banyak juga yang mengalami nasib sama.

Untung saja, aku masih mempunyai kegiatan lain selain kuliah yang memang sedang ditiadakan. Sehingga, meskipun tempat tinggalku di kota ini, aku sama sekali tidak mengalami kebosanan. Untuk itulah, aku mengajak kawan kuliahku dan menunjukkan kegiatanku selama ini, ketimbang dia bosan.

Setelah setengah jam lamanya di tengah kemacetan, aku melajukan mobilku menuju sudut kota. Tampaknya kemacetan tadi diakibatkan mall yang masih buka. Apalagi saat ini sudah memasuki weekend, tentunya mall sangat padat dikunjungi. Jadi, bagaimanakah nasib social distancing itu?

Setengah jam kemudian, kami tiba sebuah pemukiman yang mungkin tidak akan disinggahi oleh pejabat dan petinggi kota ini, walaupun itu hanya untuk lewat. Padahal, kawasan pemukiman ini masih ada dalam wilayah kekuasaan pejabat-pejabat itu, meskipun penduduknya tidak banyak. Tapi entah mengapa sama sekali tak ada yang menjamahnya.

Sekalinya datang, hanyalah pada waktu pelaksanaan Pilkada saja, dan itupun hanya sesekali waktu. Setelah itu, tak ada lagi yang datang. Alhasil, penduduk di sini semakin leluasa melakukan apapun. Tempat ini pun menjadi kumuh, dan tanpa pengawasan sama sekali.

"Kamu ngapain ngajak aku ke tempat beginian?" tanya kawanku begitu aku selesai menepikan mobil di halaman sebuah bangunan tua dua lantai yang sudah usang. Ilalang tumbuh di halaman. Tembok bangunan ini mulai ditumbuhi lumut, dan ada juga yang sudah jebol.

"Ketimbang kepo, ayo ikut ke dalam," ajakku.

"Iya iya," jawabnya sambil membuntutiku di belakang.


***


"Bagaimana, Paman? Cocok?" tanyaku ketika aku melihat sosok Paman Edi, lelaki setengah baya adik ayahku, yang kini tinggal di sebuah bangunan tua di sudut kota.

"Kamu payah!" jawabnya singkat, sambil melanjutkan membaca sebuah buku di atas sofa usang.

Mataku membelalak, lalu mencoba mendekati lelaki itu. "Loh, kenapa, Paman?" tanyaku.

Lelaki itu mengambil sebuah buku nota kecil di atas meja kecil di samping sofa, kemudian dikasihkan kepadaku. Di samping buku nota itu ada sebuah pisau. "Di masa pandemi ini, saya mesti lebih hati-hati lagi. Makanya, saya memintamu untuk dibelikan alat test Covid-19 dua Minggu yang lalu sebagai pengaman. Dan kamu tau? Kawanmu yang kamu bawa seminggu lalu, yang katanya suka kesal gak jelas akibat di kosan saja, itu positif. Itu bikin saya shock!"

Mataku kembali membelalak, "Apa? Positif, Paman?!"

"Di buku nota itu ada catatan hasil yang menunjukkan kalau dia positif, namun tanpa menunjukkan gejala. Cek saja," jawabnya.

Aku langsung membuka buku nota kecil itu. Tiap halamannya ada nama-nama yang ditulis. Aku jadi ingat jika nama-nama ini adalah kawan-kawan kuliah yang kuajak ke sini tiga Minggu yang lalu. Ya, aku menjadikannya sebagai hidangan pamanku.

Sejak mengetahui kalau paman punya kelainan yang sangat membahayakan, dia jadi dikucilkan oleh sanak famili dan penduduk di tempat tinggalnya. Kemudian, aku yang sangat iba dengannya pun mencoba membantunya menemukan tempat tinggal lain. Untung saja, kami menemukan bangunan tua tanpa penghuni ini di sudut kota. Lambat laun, aku dan paman menjadikannya sebagai tempat tinggal paman, sebab paman sudah tak mungkin lagi kembali ke tempat tinggal yang lama. Untung saja penduduk di sini tak ada yang mengusik sejak paman tinggal. Sebab, penduduk di sini mengaku jika bangunan tua ini ada hantu pemakan daging.

Aku hanya ketawa geli saja jika mengingat pengakuan penduduk di sini.

Kini tibalah mataku di halaman di mana di situ ditulis sebuah nama kawanku yang kuajak ke sini seminggu yang lalu. Meskipun aku tidak paham tentang tes Covid-19 dan pencatatan hasilnya, tapi dengan jelas di buku ini ditulis 'positif'.

"Lalu dia bagaimana, Paman?"

"Ya saya buang. Saya lupa udah memotong-motong tubuhnya duluan sebelum dites, supaya kelihatan social distancing gitu. Niatnya mau langsung saya makan saat itu juga bagian tangan dan kaki, dan sisanya untuk stok. Tapi, saya langsung ingat dan langsung menjalani tes Covid-19 walaupun tubuhnya sudah social distancing. Dan hasilnya mengejutkan, yaitu posisif. Jadi, dagingnya gak jadi saya makan," jawabnya santai.

Aku menggeleng-geleng kepala, "Jadi Paman belum makan sama sekali?" tanyaku panik.

"Iya betul. Dan sebagai gantinya, dagingmu yang akan menjadi makanan saya. Sebab, dahaga akan daging ini sangat menyiksa. Saya gak mungkin memakan penduduk sini, sebab saya sudah mengandalkanmu sebagai penyuplai makanan. Kini setelah seminggu menunggu, kamu yang akan jadi makanan saya," jawabnya santai sambil mengambil sebilah pisau di atas meja samping sofanya. Pisau itu ditusuknya dengan cepat ke dahiku tanpa sempat mengelak.

Aku pun langsung mengalami sesak napas dalam sekejap, pandangan mulai menghilang, dan sakit yang amat sangat mulai melanda di bagian kepala. Tampaknya pisau itu menembus otakku. Kemudian dalam hitungan detik, semuanya menjadi gelap gulita dan tubuhku jatuh ke lantai.

Aku pun tak tahu lagi apa yang akan dilakukan Paman selanjutnya.


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER