-->

Cinta Putih


Tulisan ini saya buat sudah sangat lama, entah waktu kapan. Tapi yang pasti, inilah tulisan awal saya yang tanpa alfabet sialan itu. Niat saya, tulisan ini mau disatukan dengan tulisan lainnya dan dijadikan buku. Saking niatnya, tulisan ini saya panjangkan dan edit puluhan kali. Tapi entahlah mungkin niat itu mesti tenggelam.

Ide tulisan ini saya dapat ketika saya sedang gila-gilanya membuat tulisan dengan tema psikopat. Sehingga saat itu, sempat melintas di benak, apakah saya memang psikopat atau tidak. Entahlah kalau saat ini, hahahaha. Selamat membaca saja.



==========

Cinta memang buta. Dia akan selalu datang pada jiwa-jiwa yang lemah, yang siap dihinggapi olehnya. Dia akan menancapkan kuku-kuku kekuasaannya pada hati setiap manusia yang kosong. Tak peduli apapun keadaannya, di manapun, dan siapapun. Dia bahkan bisa mengubah siapapun menjadi sesuatu yang lain. Bahkan mungkin saling tolak belakang dengan sebelumnya. 

Cinta memang telah mengubahku menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang sulit dijelaskan oleh kata-kata. Sesuatu yang penuh kasih sayang dan sepenuh hati. Sesuatu yang penuh ikatan tali kasih. Sesuatu yang bahkan tega mengoyak jiwa-jiwa yang lemah, polos, dan tanpa daya. Dan sesuatu yang telah membangkitkan iblis dalam palung hati ini. Hingga kemudian, sang iblis akan sombong dengan kemenangannya. 

Cinta ini telah membutakan hati, jiwa, dan akal sehatku.

***

Aku mengenal gadis itu lewat situs Facebook yang memang banyak penggunanya. Usianya masih 20 tahun. Awalnya aku dan dia tampak biasa-biasa saja. Hingga kemudian, kami saling balas pesan. Seolah aku dan dia sudah saling kenal selama puluhan tahun.

Meskipun aku melihat wajahnya hanya dalam foto, ada sesuatu yang menggelitik hatiku. Pose-pose manisnya bak foto model membuatku tak bisa lagi menahan untuk melihatnya langsung. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Ingin sekali kubelai wajahnya yang cantik dan manis, sehingga membuat jiwaku semakin teduh.

Aku juga sangat ingin menggenggam tangannya, dan membawanya ke padang ilalang yang ditumbuhi bunga-bunga cinta yang indah dan wangi. Kemudian aku akan mencoba memasuki hatinya, dan menguak isi di dalamnya. Tampaknya aku mulai jatuh cinta kepadanya.

Aku semakin senang begitu mengetahui kalau dia tinggal sekota denganku. Aku pun mengadakan janji untuk menjumpainya. Inilah yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba.

Awal mula menatapnya langsung, aku bagaikan melihat malaikat. Lengkungan senyum indahnya yang menampakkan gigi-gigi putihnya begitu memukau mataku. Bola mata hitam lentiknya menatapku dengan nakal. Mahkota kepalanya begitu hitam legam dengan panjang hingga sepunggung dan agak gelombang di ujungnya. Tubuh sintalnya begitu indah dibalut dengan kaos pink lengan pendek dan celana jeans panjang, sangat pas dengan kulit sawo matangnya. Wangi tubuhnya membelai lembut penciumanku. Aku sampai dibuatnya mabuk kepayang.

Apa yang kulihat ini semuanya beda dengan yang ada di foto Facebook miliknya. Bagiku, dia jauh lebih cantik aslinya ketimbang di foto. Kemungkinan, dia mengedit fotonya supaya lain dengan aslinya. Mungkin juga dia dandan sebelumnya supaya tampil lebih memukau ketimbang yang ada di foto. Atau mungkin juga ada sebab lain, entahlah.

Yang pasti, apa yang ada di depanku ini begitu mempesona. Malaikatkah yang ada di depanku ini? Ataukah iblis yang mencoba menggodaku? Apakah ini mimpi? Apakah aku sedang mengkhayal yang tidak-tidak?

Ah, aku tak peduli dengan semua itu. Aku mesti menjalankan agenda yang sudah kubuat sebelumnya. Kuputuskan untuk mengajaknya ke kafe langgananku hanya untuk bincang-bincang dan mencoba kenal lebih dekat.

Dengan hanya memesan dua gelas jus, aku mengisahkan tentang masa lalu, tentang kisah cintaku, dan mantan kekasih yang kian sombong. Dia menyimak ucapanku dengan tatapan yang lembut, membuat degup jantungku semakin kencang.

“Aku enggak nyangka kita bisa ketemuan begini,” ucapnya lembut. Senyum di wajahnya tak bisa dihilangkan.

“Aku sangat senang. Memang, kita punya kesibukan masing-masing di dunia nyata. Namun, hal itu tidak mampu mencegah kita untuk bisa tatap muka langsung,” sahutku sambil membalas senyuman.

Kupandangi lekat-lekat wajah cantik gadis di depanku. Segala macam bentuk keindahan tentang cinta melintas di otakku. Apapun bisa kulakukan dengannya. Aku tak tahu bagaimana isi hatinya. Dia sudah bagaikan lautan yang paling dalam, sulit diselami dan ditebak. Sebab, banyak hal yang pastinya tak kuketahui tentangnya. Namun, aku mesti bisa menyibak hatinya itu. Yang paling utama, mengetahui apa impiannya.

"Gaya bahasamu baku banget, sih. Gugup, ya?" tanyanya dengan senyuman menggoda.

Ah, sialan! Lagi-lagi aku dibuat mati kutu begini. Entah kenapa tatapan matanya itu selalu membuatku semakin gugup. Tapi, aku mencoba untuk tenang. Jangan sampai apa yang di depan mata ini menjadi tidak nyaman dengan tingkahku.

“Tahukah kamu," sahutku mencoba tenang, "apa yang kamu lihat di depanmu ini adalah aku yang sesungguhnya. Yang penuh kepedulian dan penuh cinta. Yang akan siap melindungi apa yang disayanginya,” ucapku mencoba mengenalkan siapa aku sesungguhnya.

“Ah ...,” sahutnya, “gombalan itu kan selalu kamu tunjukkin kalau suka chat di Facebook,” senyumnya sambil mengaduk pelan minumannya dengan sedotan.

Aku menghela napas panjang saja. Memang betul jika ada pepatah bahwa tatapan wanita selalu membuat gugup. Dan hal itu dialami olehku saat ini, dan detik ini pula. Sial, degupan jantungku semakin kencang.

Kini di depanku telah duduk sang gadis yang sangat kuidamkan sejak lama, meskipun ini awal mula aku melihatnya langsung. Dia adalah gadis yang mungkin bisa mendampingi hidupku. Yang bisa mengisi hatiku yang telah lama kosong ini. Namun, aku yakin dia juga pasti tidak bisa memahami kegelisahan yang kualami ini.

Aku menatap ke sekeliling kafe. Kesibukan pegawai-pegawai kafe yang melayani tamu-tamunya membuatku tenggelam menatapnya. Dengan senyum mengembang, pegawai itu begitu semangat melakukan tugasnya. Bau masakan di tiap-tiap meja memainkan penciumanku dengan nakalnya. Alunan lembut musik jazz yang dimainkan oleh band kafe membuat suasana kafe menjadi lebih nyaman dan tenang meskipun di tengah kesibukan.

“Kenapa melamun?”

Aku melonjak kaget saat gadis itu menepuk bahuku. Aku menjadi gelagapan bagai kehilangan sesuatu. Tatapan aneh yang ditunjukkan gadis itu padaku membuatku semakin gugup. Padahal, ingin sekali aku mengatakan kalau aku suka padanya sejak mengenalnya.

Sial, aku kehabisan kata-kata. Lidahku kelu. Aku tak kuasa menatap matanya yang indah itu. Matanya itu penuh makna. Seolah, dia menungguku mengucapkan sesuatu, entah apa itu.

Aku membuang napas panjang. Kegugupan ini sebisa mungkin mesti dihilangkan. Jangan sampai agenda yang sebelumnya kususun dengan susah payah itu menjadi gagal.


“Tahukah kamu, apa cinta putih itu?” tanyaku mencoba basa-basi.

Gadis itu tampak sedang menemukan jawabannya. Bola mata hitamnya menatap ke atas, dan dia memainkan mulut manisnya yang dibalut lipstik itu.

“Cinta putih, ya? Mungkin itu adalah cinta yang tulus. Cinta sejati. Cinta yang sama sekali enggak ada kesedihan dan kesenjangan di dalamnya. Putih kan melambangkan kesucian, jadi punya makna yang indah dan suci. Bisa saja maknanya itu cinta yang sama sekali enggak ada kebohongan, di mana kedua pasangan itu akan bahagia menikmati keindahan cinta itu,” jelasnya.

Aku sunggingkan senyum, kagum pada penjelasan panjang gadis itu tentang cinta putih. “Memang, yang kamu jawab itu tidak ada yang salah. Semuanya tepat. Namun, pemahamanku tentang cinta putih itu mengatakannya lain. Bagiku, cinta putih adalah cinta kepada sesuatu yang putih, atau menyukai hal-hal tentang putih.”

“Sesimpel itukah? Kamu memangnya suka yang putih-putih?” tanyanya penuh selidik.

Aku mengangguk pelan, “Iya. Sama dengan yang kamu katakan tadi, putih itu melambangkan kesucian dan keindahan. Tak ada noda satupun. Kamu lihat, baju yang kukenakan ini juga putih. Itu menandakan bahwa aku menyukai putih. Dan tahukah kamu, bukankah setiap wanita juga menyukai putih? Apalagi kalau menyangkut masalah kulit tubuh,” ucapku.

Kini aku sudah mulai bisa santai dan menguasai kegugupanku. Kutatap kedua bola matanya yang indah.

Bukannya menatap balik, gadis itu menatap kedua tangannya. Kemudian dia melayangkan senyuman manis sambil memegangi kedua pipinya. “Kamu tahu aja, sih. Aku memang mendambakan pengen punya kulit putih dan halus kayak bayi. Aku udah banyak pakai lotion pelembab dan pemutih kulit. Tapi sama aja bohong, hasilnya masih nihil. Kulitku tetap saja belang,” ucapnya dengan nada manja, sambil mengusap tangannya.

Aku kembali layangkan senyuman kepadanya. “Bagaimana jika aku bisa mewujudkan mimpimu? Kamu pastinya akan semakin cantik jika memiliki kulit seputih kapas.”

“Ah, masa? Wah, aku senang banget kalau kamu bisa mewujudkan impianku ini,” sahutnya antusias.

Senyumku mengembang, “Jika aku bisa mewujudkan mimpimu, maka maukah kamu menjadi kekasihku?” tanyaku langsung ke intinya.

Dia menjadi diam sejenak. Kemungkinan, dia sedang menelaah ucapanku tadi, dan mencoba mengambil keputusan yang tepat.

“Kamu mencintaiku kalau kulitku putih?” tanyanya dengan nada memastikan.

Aku kembali layangkan senyuman hangat kepadanya. “Sejak awal melihatmu, aku sudah jatuh cinta. Kulitmu putih itu hanya bonus. Lagipula, bukankah itu impianmu? Maka aku bisa mewujudkannya untuk gadis yang kucintai ini.”

Wajah gadis itu menjadi senang bagai menemukan melihat emas. “Kamu so sweet banget, sih.”

Tampaknya, sesaat lagi dia akan kudapatkan. Dia akan mengisi kekosongan hatiku ini. Tak lama lagi, hati ini akan semakin bahagia, dengan dipenuhi bunga-bunga dan dibalut cahaya yang hangat.

“Jadi, maukah kamu menjadi kekasihku?” tanyaku lagi memastikan.

Gadis itu mengangguk mantap, “Mau banget. Apalagi kalau kamu bisa mewujudkan impianku ini.”

Senyumku semakin mengembang. Kuminum habis jus yang ada di gelasku. Sisa yang menempel di mulut kuusap dengan punggung tangan. Ada sebuah misi yang menunggu. Misi yang akan melengkapi cintaku. Inilah cinta, yang mau melakukan apa saja deminya. Tiba-tiba, mataku menatap tajam kepadanya bagai singa yang memantau calon mangsanya.


***

Dengan langkah tenang, aku memasuki sebuah gudang yang dipenuhi oleh peti-peti balok kayu. Suasana lembab dan pengap memenuhi tempat ini. Debu-debu selalu ditemui di tiap jengkal tempat ini. Kudekati sebuah peti balok yang ada di pojok. Kutiup bagian atasnya untuk menghilangkan debu yang menempel. Dengan hati-hati, kubuka penutupnya.

Tampak di dalam situ ada sesosok gadis muda usia 20 tahun memakai kaos pink lengan pendek dan celana jeans panjang. Wajah dan semua tubuhnya pucat pasi. Matanya menutup dan ada sebilah pisau menancap di dadanya. Bau pengawet mayat memenuhi peti balok itu dan menghantam penciumanku.

“Sayang, sudah seminggu lamanya kamu ada di sini. Keinginanmu untuk memiliki kulit putih sudah kupenuhi. Lihatlah, tubuhmu kini sudah seputih kapas. Kini lekaslah bangun dan jadilah kekasihku. Aku ingin cepat-cepat menikahimu,” ucapku santai.

Aku menyapu pandangan tiap jengkal tubuh kekasihku ini. Tubuh pucat itu tetap diam kaku tak menyahut. Dia tak ubahnya bagai seonggok es dalam peti. Kini kecantikannya sudah tak lagi sama ketika awal aku melihatnya. Pesonanya sudah hilang, bagai batu yang tenggelam ke dalam lautan.

“Jika kamu tidak mau bangun juga, aku akan memilih gadis lain sebagai penggantimu, yang kelak akan dijadikan kekasihku. Tapi kamu akan tetap tinggal di gudang ini, sebagai tanda bahwa kamu adalah mantan kekasihku. Sama dengan mantan-mantan kekasihku sebelumnya yang juga ada di sini, di dalam peti-peti balok lainnya. Semoga kamu betah di sini, Sayang,” ucapku.

Penutup peti balok itu lalu kututup. Sebelum meninggalkan tempat ini, aku mengambil ponselku untuk membuka Facebook milikku. Ya, di situ tampak foto gadis manis dan cantik dengan senyum mengembang. Aku hanya diam saja memandangnya.

“Gadis pujaan hatiku selanjutnya. Gombalan 'Cinta Putih' untuk menaklukkannya mungkin ide yang bagus,” gumamku, lalu meninggalkan gudang itu dan mengunci pintunya.


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER